Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

PENGARUH KOMPOS CAMPURAN SAMPAH ORGANIK DENGAN BERBAGAI KOTORAN TERNAK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL WORTEL (Daucus carrota L.) KULTIVAR LOKAL CIPANAS Arrin Rosmala; Tino Mutiarawati; Anne Nuraini
Hexagro Journal Vol. 1 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/hexagro.v1i2.97

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompos campuran sampahorganik dengan berbagai kotoran ternak terhadap pertumbuhan dan hasil wortel kultivarlokal Cipanas. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimen berdasarkanRancangan Acak Kelompok yang terdiri 8 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Kedelapankombinasi perlakuan tersebut adalah tanpa kompos; kompos sampah organik; komposkotoran sapi; kompos kotoran kuda; kompos kotoran ayam; kompos campuran sampahorganik: kotoran sapi (1:1); kompos campuran sampah organik: kotoran kuda (1:1);kompos campuran sampah organik: kotoran ayam (1:1). Hasil percobaan menunjukkanbahwa semua kombinasi perlakuan tidak memberikan perbedaan pengaruh yang nyataterhadap jumlah daun, tinggi tanaman, bobot kotor tanaman per plot, bobot umbi per plot,shoot-root ratioKata kunci: kompos kotoran ternak, kompos sampah organik, wortel
PENGARUH APLIKASI KOMPOS CAMPURAN SAMPAH ORGANIK DENGAN BERBAGAI KOTORAN TERNAK TERHADAP KUALITAS WORTEL (Daucus carrota L.) KULTIVAR LOKAL CIPANAS Arrin Rosmala; Tino Mutiarawati; Anne Nuraini
Hexagro Journal Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/hexagro.v2i2.127

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kualitas wortel kultivar lokalCipanas yang diberi perlakuan kompos campuran sampah organik dengan berbagaikotoran ternak. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri 8kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Kedelapan kombinasi perlakuan tersebut adalahtanpa kompos; kompos sampah organik; kompos kotoran sapi; kompos kotoran kuda;kompos kotoran ayam; kompos campuran sampah organik : kotoran sapi (1:1); komposcampuran sampah organik : kotoran kuda (1:1); kompos campuran sampah organik :kotoran ayam (1:1). Hasil penelitian menunjukkan semua kombinasi perlakuan tidakmemberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap persentase jumlah dan bobot umbikualitas A, persentase jumlah dan bobot umbi kualitas B, persentase jumlah umbi yangterkena hama, panjang dan diameter umbi rata-rata kualitas A, dan persentase susutbobot setelah 22 hari penyimpanan. Perlakuan tanpa pemberian kompos, kompos sampahorganik, dan kompos yang mengandung kotoran sapi menghasilkan persentase jumlahumbi bercabang lebih sedikit. Kompos kotoran ayam dan kompos campuran sampahorganik dengan semua kotoran ternak menghasilkan persentase jumlah umbi kecil lebihsedikit, sedang kompos campuran sampah organik dengan kotoran sapi dan dengankotoran kuda menghasilkan umbi dengan ketahanan simpan umbi yang lebih lamadibandingkan perlakuan lainnya.Kata kunci: kompos kotoran ternak, kompos sampah organik, kualitas, wortel
Analisis Pertumbuhan Padi Lokal Aksesi PH 1 Menggunakan Penambahan Pupuk Silika Padat pada Kondisi Salin Nasrudin Nasrudin; Arrin Rosmala
Agroteknika Vol 3 No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/agroteknika.v3i2.71

Abstract

Analisis pertumbuhan padi penting diketahui untuk menggambarkan kondisi tumbuh kembang tanaman sehingga dapat berproduksi secara optimal utamanya pada kondisi sub-optimal. Tujuan penelitian yaitu mengetahui proses fisiologi dan produksi biomasa padi lokal aksesi PH 1 pada kondisi salin dengan penambahan pupuk silika padat. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama tingkat cekaman salinitas dengan empat taraf yaitu non salin, 4 dS m-1, 8 dS m-1, dan 12 dS m-1. Faktor kedua penambahan dosis silika padat per kg tanah dengan tiga taraf yaitu 300 mg, 450 mg, dan 600 mg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi cekaman salinitas dengan dosis silika yang mempengaruhi luas daun 4 minggu setelah tanam. Dosis silika berpengaruh nyata terhadap bobot segar akar 4 minggu setelah tanam, biomassa 4 minggu setelah tanam, dan laju asimilasi bersih. Cekaman salinitas berpengaruh nyata terhadap biomassa 4 minggu setelah tanam. Peningkatan cekaman salinitas sampai 8 dS m-1 akan menurunkan luas daun dan biomasa tanaman sedangkan peningkatan cekaman salinitas sampai 12 dS m-1 dikombinasikan dengan dosis silika memperbaiki luas daun dan biomasa tanaman. Dosis optimum silika pada kondisi cekaman salinitas adalah 450 mg karena mampu meningkatkan biomasa dan laju asimilasi bersih. Sebaliknya peningkatan dosis silika sampai 600 mg menyebabkan penurunan biomasa dan laju asimilasi bersih, tetapi dapat meningkatkan bobot segar akar.
Pengaruh Frekuensi Fermentasi Urine Kelinci dan Air Kelapa terhadap Pertumbuhan, Hasil, dan Kualitas Hasil Bayam Merah (Amaranthus gangeticus L.) Didin Sihabudin; Arrin Rosmala; Selvy Isnaeni
AGROSCRIPT: Journal of Applied Agricultural Sciences Vol. 4 No. 2 (2022): December
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/agroscript.v4i2.970

Abstract

Pupuk organik mampu menyediakan unsur hari bagi tanaman serta dapat membantu pembentukan struktur tanah yang baik. Fermentasi urine kelinci dan air kelapa memiiki kandungan unsur hara yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh frekuensi fermentasi urine kelinci dan air kelapa terhadap pertumbuhan, hasil, dan kualitas hasil bayam merah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2021 di Kebun Percobaan Universitas Perjuangan Tasikmalaya. Bahan yang diuji yaitu tanaman bayam merah, dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial 2 faktor dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu fermentasi urine kelinci dan air kelapa dengan 6 taraf yaitu kontrol, 25% fermentasi urine kelinci, 30% fermentasi urine kelinci, 25% air kelapa, 25% fermentasi urine kelinci kelinci + 25% air kelapa, dan 50% fermentasi urine kelinci + 25% air kelapa. Faktor kedua adalah frekuensi pemberian fermentasi kelinci dan air kelapa, yang terdiri dari dua taraf, yaitu 1 minggu satu kali dan 1 minggu dua kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pemberian air kelapa 25% berpengaruh terhadap parameter jumlah daun. Perlakuan frekuensi pemberian fermentasi kelinci dan air kelapa berpengaruh terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, warna daun, diameter batang batang, jumlah akar, bobot basah tajuk, bobot kering tajuk, bobot basah akar, bobot kering akar dan jumlah akar. Adapun interaksi keduanya berpengaruh terhadap panjang daun.
Hubungan Karakter Morfofisiologi dan Hasil Panen Dua Varietas Padi Tercekam Salinitas Menggunakan Penambahan Hara Silika Padat Nasrudin Nasrudin; Arrin Rosmala
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 15, No 2 (2022): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v15i2.19005

Abstract

AbstrakPenggunaan varietas toleran dengan penambahan hara silika merupakan upaya untuk meningkatkan ketahanan padi terhadap cekaman salinitas sehingga dapat memperbaiki hasil panen. Penelitian bertujuan untuk mengkaji hubungan karakter morfofisiologi dengan hasil panen pada dua varietas padi tercekam salinitas dengan penambahan hara silika padat. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial. Faktor pertama, yaitu padi varietas Dendang dan IPB 4S serta faktor kedua, yaitu dosis silika padat per kg tanah antara lain 300 mg, 450 mg, dan 600 mg. Tinggi padi varietas Dendang lebih rendah dibandingkan tinggi tanaman padi varietas IPB 4S. Namun, padi varietas Dendang memiliki jumlah anakan, bobot kering tajuk, jumlah malai per rumpun, persentase gabah isi, dan produktivitas lebih tinggi. Interaksi padi varietas Dendang dengan penambahan 300 mg dosis silika menghasilkan jumlah malai per rumpun dan produktivitas tertinggi. Jumlah anakan dan bobot kering tajuk berkorelasi positif terhadap jumlah malai per rumpun (R²= 0,85; R²= 0,81), persentase gabah isi (R²= 0,75; R²= 0,60), dan produktivitas (R²= 0,65; R²= 0,70). Padi varietas Dendang mampu tumbuh dan berproduksi lebih optimal pada kondisi salin dibandingkan padi varietas IPB 4S. Penambahan silika sebanyak 300 mg mampu memperbaiki beberapa karakter morfofisiologi dan hasil panen.AbstractThe use of tolerant varieties with the addition of silica nutrients is an effort to increase rice resistance to saline conditions, thus improving the crop yields. The objective of the study was to examine the relationship between morphophysiological characters and crop yields of two rice varieties under salinity stress with the addition of solid silica nutrients. The study applied a completely randomized factorial design. The first factor was rice of Dendang and IPB 4S varieties, and the second factor was the dosage of silica per kg of soil, namely 300 mg, 450 mg, and 600 mg. In terms of plant height, Dendang variety was lower than IPB 4S, however Dendang produced higher number of tillers, canopy dry weight, number of panicles, percentage of filled grain, and productivity. Interaction between Dendang variety and the addition of 300 mg silica nutrients resulted in the highest number of panicles and productivity. The number of tillers and canopy dry weight had a positive correlation to number of panicles (R²= 0.85; R²= 0.81), to percentage of filled grain (R²= 0.75; R²= 0.60), and to productivity (R²= 0.65; R²= 0.70). The rice of Dendang variety was able to grow and optimally produce yield compared to IPB 4S under saline conditions. The addition of 300 mg solid silica nutrients was able to improve several morphophysiological characters and crop yield.
Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Mawar Bodas dalam Perhitungan Kelayakan Usaha Stik dan Keripik Bayam Siti Nurhidayah; Ulpah Jakiyah; Arrin Rosmala; Yusep Yustiana
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 7 NOMOR 1 MARET 2023 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jppm.v7i1.9735

Abstract

Pemberdayaan wanita tani menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan indeks pembangunan manusia. Pemberdayaan dalam mengolah sayuran menjadi bahan pembuatan keripik dan stik agar dapat meningkatkan nilai tambah bagi anggota kelompok wanita tani khususnya kelompok. Pengabdian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 – Januari 2021 di Kelompok Wanita Tani Mawar Bodas dibawah naungan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Hurip Jaya, Kelurahan Kahuripan Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah (1) untuk mendorong tumbuhnya kreatifitas kelompok wanita tani dalam olahan produk makanan ringan (2) untuk meningkatkan nilai tambah produk keripik dan stik bayam 3) meningkatkan pendapatan kelompok. Hasil kegiatan pengabdian adalah perbaikan label kemasan produk stik dan keripik bayam menggunakan label stiker. Masyarakat mengetahui dan menerapkan strategi batas minimal produksi agar dapat memperoleh keuntungan. Kelompok memanfaatkan pasar kamis pagi untuk menjual hasil produknya. Hasil R/C ratio > 1,07 dan B/C artio 0,06 menunjukkan bahwa usaha keripik dan stik bayam dikatakan layak diusahakan.
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Caisim (Brassica juncea L.) pada Jenis dan Konsentrasi POC yang Berbeda Indra Nugraha; Selvy Isnaeni; Arrin Rosmala
Jurnal Agroteknologi Merdeka Pasuruan Vol 5, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Merdeka Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemupukan merupakan penambahan unsur-unsur hara dalam tanah yang dapat meningkatkan produksi kesuburan tanah dan mutu hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis POC serta untuk mengetahui konsentrasi POC yang optimal terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman caisim (Brassica juncea L.).Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2020 – Desember 2020 di lahan Rusunawa Universitas Perjuangan Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Bahan yang diuji yaitu benih caisim. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 10 perlakuan dan 8 ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian jenis dan konsentrasi POC yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman caisim (Brassica juncea L.) berpengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman, berat segar, dan produktivitas sedangkan pada parameter lainnya tidak berpengaruh nyata. Konsentrasi POC yang optimal yaitu POC dedaunan dengan konsentrasi 1 ml/polybag yang memberikan tinggi tanaman 29,66 cm, POC dedaunan dengan konsentrasi 2 ml/polybag yang memberikan berat segar 128,75g, dan POC dedaunan dengan konsentrasi 2 ml/polybag yang memberikan produktivitas 14,3 ton/ha.
Optimizing the Growth of Tasikmalaya Honje (Etlingera elatior) Accession Seeds by Implementing Fermentation of Rabbit Urine and Coconut Water Arrin Rosmala; Selvy Isnaeni; Roza Yunita
JERAMI : Indonesian Journal of Crop Science Vol 6 No 1 (2023): JIJCS
Publisher : Department of Crop Science, Faculty of Agriculture, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jijcs.6.1.14-20.2023

Abstract

Organic matter has an important role besides providing macro and micro nutrients to plants, it can also improve environmental quality. The fermentation of rabbit urine and coconut water is expected to optimise the growth of honje seedlings. The aim of this study was to determine the concentration of fermented rabbit urine and coconut water that can optimise the growth of honje seedlings of Tasikmalaya accession. The study used a completely randomised design with seven treatments, namely A = control, B = 25% rabbit urine fermentation, C = 50% rabbit urine fermentation, D = 25% coconut water, E = 25% rabbit urine fermentation + 25% coconut water, F = 50% rabbit urine fermentation + 25% coconut water, G = 50% rabbit urine fermentation + 50% coconut water. The results showed that the treatments gave significantly different results on shoot emergence, seedling height, seedling diameter, and root crown ratio. Treatment G produced the fastest shoot emergence (6 days), and plant height (10.4 cm). Meanwhile, the widest seedling diameter was produced by treatment B (4.4cm), C (3.9 cm), and treatment G (3.9cm). Treatment C produced the highest root crown ratio of 0.5.
The Effectivity Of 150 g/L Metamifop Herbicide To Identify And Control Weeds In Paddy Field Cultivation (Oryza Sativa L) Dewi Hernawati; Diah Ika Putri; Dita Febriany; Arrin Rosmala
JERAMI : Indonesian Journal of Crop Science Vol 6 No 1 (2023): JIJCS
Publisher : Department of Crop Science, Faculty of Agriculture, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jijcs.6.1.26-30.2023

Abstract

Weeds are one of the obstacles to the growth of lowland rice cultivation which can reduce the quantity of rice yields so that weeds need to be controlled. This study aims to determine the effect of metamifop 150 g/L herbicide to control weeds in lowland rice cultivation. The experiment was carried out on paddy rice cultivation land in Langansari Village, Tarogong Kaler Cipanas District, Garut Regency, West Java, from November 2022 to February 2023. The experiment used a Randomized Block Design (RBD) with six treatments and four replications. The experiment consisted of four treatments with the active ingredient metamifop 150 g/L at a dose of A: 5.4 ml, B: 7.2 ml, C: 9.0 ml, D: 10.80 ml, E: manual weeding treatment and F : control treatment with no weed control. The results showed that the application of the herbicide with the active ingredient metamifop 150 g/L at a dose of D: 10.80 ml was able to suppress weed growth but the results were not significantly different from the dose of 5.4 ml which was the lowest dose to reduce weed resistance and plant residues so that dose A : 5.4 ml able to suppress the growth of weeds Echinochloa crusgalli, Monochoria vaginalis, Cyperus rotundus, Spenochlea zeylanica, Panicum repens, Cyperus difformis and total weeds.
Pengaruh Berbagai Jenis Aplikasi Auksin Dan Bahan Setek Daun Terhadap Pertumbuhan Tanaman Peperomia (Peperomia argyreia) Aini, Nurul; Isnaeni, Selvy; Rosmala, Arrin
Jurnal Agro Wiralodra Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal Agro Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/agrowiralodra.v7i1.112

Abstract

Peperomia watermelon (Peperomia argyreia)  ornamental plant, its existence is still quite rare, due to the long propagation time, so efforts are needed to help the growth of Peperomia plants to be faster. This study aims to determine the growth response of peperomia plant leaf cuttings to various types of auxin application treatments with the leaf cutting materials. This research was conducted at the Screen House of Agrotechnology, Faculty of Agriculture, Universitas Perjuangan Tasikmalaya in January – April 2022. The design used to be a Completely Randomized Design (CRD) with two factors. The first factor giving synthetic auxin application consisted of 4 levels, namely: control, solution, paste, flour, and the second factor was the type of leaf cuttings consisting of 3 levels, namely: intact leaves, half lower part of leaves, half top part of leave (S3). There were 12 treatment combinations, repeat 3 times, each experimental unit consisting of 3 plants so that the total plants were 108 plants. The results of this research show that there is a significantly different interaction between the treatment of the variable percentage of survival and the percentage of cuttings sprouting. Auxin treatment and the type of leaves cuttings each gave a significant effect on the variable length of the root, that is in the treatment of the type of solution application (R1) by showing the longest root value of 6,26 cm and the treatment of the intect leaves (S3) is by showing the root value of 6,49 cm. While the treatment did not give significantly different results for the number of leaves, the number of main roots, root branches, and shoots