Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peran Kader Jumantik Dalam Pemberantasan DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Kampar Syafriani Syafriani; Afiah Afiah; Nia Aprilla
Excellent Health Journal Vol. 1 No. 2 (2023): Juni 2023
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/excellent.v1i2.20

Abstract

Peran jumantik di bidang kesehatan berarti keikutsertaan seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan secara mandiri. Peran jumantik memiliki kedudukan yang demikian penting, sehingga peran diharapkan dapat semakin bermutu sesuai dengan proses dan tingkat kemajuan yang terjadi dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peran para kader Jumantik terhadap pemberantasan DBD. Ini merupakan penelitian kuantitatif cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 40 responden, keseluruhan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dalam pemberantasan DBD. dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang bermakna antara pendidikan, penghasilan, dan jenis pekerjaan dengan peran kader jumantik dalam pemberantasan penyakit DBD dengan nilai (p value 0,000, 0,039 dan 0,030 ) sedangkan faktor ketersediaan fasilitas tidak mempengaruhi dengan nilai p value 0,719. Adapun saran bagi peneliti melakukan penelitian dengan variabel yang berbeda dan melakukan penelitian sampai ke analisis multivariat sehingga kita akan mengetahui seberapa besar nilai-nilai dalam setiap variabel yang diteliti tentang pengaruh antar variabel.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Pada Bayi 6-12 Bulan Di Pulau Tinggi Wilayah Kerja Puskesmas Kampar Afiah Afiah; Syafriani Syafriani; Nia Aprilla
Excellent Health Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Desember 2023
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/excellent.v2i1.38

Abstract

Di provinsi Riau data gizi buruk dan gizi kurang pada bayi tahun 2018 yaitu sebesar 18,2%. Data gizi buruk dan gizi kurang pada bayi terdapat diwilayah kerja Puskesmas Kampar dengan persentase sebesar 15,2%. Desa Pulau Tinggi merupakan salah satu Desa diwilayah kerja Puskesmas Kampar dengan kasus gizi kurang dengan prevalensi 6,2% sesuai dengan standar WHO. Suatu wilayah dikatakan mengalami masalah gizi kurang akut bila prevalensi bayi kurus sebanyak 5% atau lebih, sehingga Desa Pulau Tinggi dikatakan mengalami masalah status gizi kurang. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi pada bayi usia 6-12 bulan di Pulau Tinggi wilayah kerja Puskesmas Kampar tahun 2023. Jenis penelitian ini kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional. Dilakukan pada tanggal 01 sampai dengan 20 Juni 2023, dengan jumlah populasi 62 sampel menggunakan teknik sampel total sampel 62 sampel. Hasil analisis bivariat diperoleh p value sebesar 0,000 (p ≤ 0,05). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat asupan konsumsi energi dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan. Hasil analisis bivariat diperoleh p value sebesar 0,000 (p ≤ 0,05). Ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat asupan konsumsi protein dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan. Hasil analisis bivariat diperoleh p value sebesar 0,000 (p ≤ 0,005). Ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara penyakit infeksi dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan. Diharapkan ibu-ibu bayi di Desa Pulau Tinggi dapat melakukan pengendalian faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi bayi diantaranya :faktor asupan makan ( asupan energi dan asupan protein), penyakit infeksi dan riwayat pemberian ASI ekslusif melalui kegiatan konseling gizi di Posyandu atau Puskesmas serta mengikuti penyuluhan tentang gizi dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hubungan Riwayat Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Underweight Pada Balita Wilayah Kerja Puskesmas Purnama Syafriani Syafriani; Afiah Afiah; Nia Aprilla
Excellent Health Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Desember 2023
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/excellent.v2i1.39

Abstract

Underweight merupakan masalah gizi yang ditandai dengan indikator status gizi BB/U < - 2 SD. Penyebab langsung terjadinya underweight diakibatkan asupan gizi yang tidak adekuat serta adanya infeksi yang tidak diobati. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis hubungan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian underweight di wilayah kerja Puskesmas Purnama. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada tanggal 15 November-29 Desember 2023 dengan jumlah sampel 279 ibu dengan teknik stratified random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil analisa univariat diperoleh 68 responden mengalami underweight, 155 responden memiliki asupan energi kurang, 144 responden memiliki asupan protein kurang, 184 responden memiliki asupan lemak cukup dan 155 responden memiliki riwayat penyakit infeksi. Hasil uji Chi-square ada hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian underweight (p value = 0,023). Kesimpulan terdapat hubungan yang signifikan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian underweight di wilayah kerja Puskesmas Purnama. Diharapkan agar Puskesmas Purnama terus mengupayakan pencegahan kejadian underweight dengan memberikan penyuluhan serta konseling bagi ibu balita tentang gizi dan kesehatan.
Hubungan Sosial Budaya Dengan Pemberian Makanan Pendamping ASI Dini Di Desa Sungai Jalau Wilayah Kerja UPT Puskesmas Sawah Tahun 2024 Elvira Harmia; Afiah Afiah
Excellent Health Journal Vol. 2 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/excellent.v2i2.50

Abstract

Masalah sosial budaya merupakan faktor yang melatarbelakangi perilaku pemberian MP (Makanan Pendamping) ASI dini, pola perilaku yang dilakukan turun temurun yang didasari nilai-nilai budaya masyarakat setempat menyebabkan ibu-ibu tidak bisa memberikan ASI secara eksklusif. Bayi yang mendapatkan MP ASI dini saat bayi berusia kurang dari 6 bulan akan lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk pilek dan deman dibandingkan bayi yang mendapat ASI eksklusif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan sosial budaya dengan pemberian makanan pendamping ASI dini. Penelitian ini menggunakan desain pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh bayi berusia < 6 bulan pada Mei 2024 sebanyak 34 bayi, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 34 bayi usia < 6 bulan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik total populasi. Penelitian ini dilakukan di Desa Sungai Jalau Wilayah Kerja UPT Puskesmas Sawah, instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner. Analisis data digunakan uji chi square dengan CI 95%. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara sosial budaya dengan pemberian makanan pendamping ASI dini dengan nilai p value = 0,002. Diharapkan tenaga kesehatan lebih meningkatkan edukasi tentang bahaya pemberian MP ASI pada bayi berusia < 6 bulan dan sebaiknya mulai memberikan MP ASI pada saat bayi memasuki usia 6 bulan untuk menghindari masalah kesehatan yang tidak diinginkan
Hubungan Pengetahuan Dan Pendidikan Dengan Kepatuhan Masyarakat Dalam Mengonsumsi Obat Filariasis Di Desa Bangko Pusaka Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2024 Syafriani Syafriani; Afiah afiah
Excellent Health Journal Vol. 2 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/excellent.v2i2.52

Abstract

Filariasis merupakan penyakit terabaikan di dunia, diperkirakan penyakit ini telah menginfeksi sekitar 120 juta orang di 80 negara, terutama di daerah tropis dan beberapa daerah subtropis. Kasus filariasis tersebar hampir di seluruh Indonesia dari tahun ke tahun. Jumlah provinsi yang melaporkan kasus filariasis terus meningkat, bahkan di beberapa daerah mempunyai tingkat endemis yang cukup tinggi. Efektivitas program sangat tergantung pada sikap pengetahuan dan pendidikan masyarakat dalam mengonsumsi obat filariasis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat filariasis di Desa Bangko Pusaka Kabupaten Rokan Hilir. Sedangkan tujuan umumnya untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan pendidikan dengan kepatuhan masyarakat dalam mengonsumsi obat filariasis di Desa Bangko Pusaka Kabupaten Rokan Hilir. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dengan sistem random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 94 orang. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan dengan kepatuhan masyarakat dalam minum obat filariasis di Desa Bangko Pusaka Kabupaten Rokan Hilir dan tidak terdapat hubungan antara pendidikan dengan kepatuhan masyarakat dalam minum obat filariasis di Desa Bangko Pusaka Kabupaten Rokan Hilir . Saran dalam penelitian ini adalah masyarakat diharapkan lebih peduli dan sadar akan bahaya penyakit filariasis serta bersedia meminum obat filariasis pada program POMP filariasis yang telah ditentukan oleh Dinas Kesehatan guna mencegah terjadinya penyakit filariasis.
Hubungan Pengetahuan Dan Pendidikan Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Bangkinang Kota Afiah Afiah; Syafriani Syafriani; Erlinawati Erlinawati
Excellent Health Journal Vol. 2 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/excellent.v2i2.53

Abstract

Masa balita sering disebut golden age atau masa keemasan. Pada masa ini daya tahan tubuh balita belum terbentuk sempurna sehingga mudah terkena berbagai macam penyakit, salah satunya diare. Diare merupakan penyakit yang masih perlu diwaspadai menyerang balita, karna jika terjadi diare berkepanjangan maka akan dapat menyebabkan kematian. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan Pendidikan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Bangkinang Kota. Desain penelitian Cross Sectional, penelitian ini dilaksanakan pada 04-12 Juli 2024 di wilayah kerja puskesmas Bangkinang Kota. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita yang berjumlah 314 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita di wilayah kerja puskesmas Bangkinang Kota yang berjumlah 176 orang. Teknik sampel yang digunakan Simple Random Sampling. Instrument yang digunakan berupa kuesioner. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji chi square, tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan pendidikan ibu dengan diare pada balita diperoleh p value = 0.002, menunjukkan ada hubungan pengetahuan ibu dengan diare pada balita diperoleh p value = 0,00. Bagi Puskesmas Bangkinang Kota dapat dijadikan bahan masukan bagi pengelola program pencegahan dan pemberantasan penyakit khususnya sebagai pertimbangan dalam penentuan strategi pencegahan dan pemberantasan diare. Diharapkan perbaikan perilaku pada masyarakat di wilayah kerja puskesmas Bangkinang Kota terhadap kejadian diare semakin meningkat.
Hubungan Pola Makan Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Sondang LM Pakpahan; Muhammad Nurman; Afiah Afiah
Excellent Health Journal Vol. 4 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/excellent.v4i2.248

Abstract

Pola makan yang salah akan menyebabkan kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 meningkat, sehingga faktor diet atau perencanaan makan sangat penting dalam pengendalian kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan terhadap kadar gula darah pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam Aulia Hospital. Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien DM yang berobat di Poliklinik Penyakit Dalam Aulia Hospital yang berjumlah 106 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien DM yang berobat di Poliklinik Penyakit Dalam Aulia Hospital yang berjumlah 96 orang dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner  menggunakan kuesioner pola makan, kuisioner pola makan  terdiri dari 25 pertanyaan menggunakan kuisioner dengan skala likert maka uji validitas yang digunakan uji cronbach’ Alpha sebesar 0.873 dan  kuisioner untuk mengukur kadar gula darah yaitu menggunakan glucometer. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa sebagian besar pola makan responden pada kategori  buruk sebanyak 55 orang (57,3 %) dan sebagian besar responden mengalami hiperglikemia yaitu sebanyak 59 orang (61,5 %). Hasil penelitian juga menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pola makan terhadap kadar gula darah pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2 dengan P value 0,000. Diharapkan pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2  dan keluarga  untuk dapat memperbaiki pola makan, mengendalikan berat badan dan meeningkatkan aktivitas fisik agar kadar gula darah dapat dikendalikan dengan baik.
PKM Petani Tanaman Salak Dalam Upaya Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Masyarakat di Desa Muara Danau Kabupaten Kampar Syafriani Syafriani; Afiah Afiah; Nia Aprilla
Jurnal Medika: Medika Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/30kvpr16

Abstract

Salak (Salacca zalacca) merupakan salah satu komoditi tanaman buah-buahan yang dibudidayakan. Buah salak mengandung banyak karbohidrat dan memiliki antidioksidan yang tinggi. Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati, khususnya tumbuhan. Tanaman salak di Indonesia sudah banyak dijadikan produk pangan, namun masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui manfaat mengonsumsi salak. Terdapat aktivitas dari daging salak adalah antidioksidan, menurukan kadar kolesterol, pemutih kulit, antihiperurekemia, pewangi dan antibakteri. Kulit buah salak memiliki aktivitas antidioksidan, meningkatkan system immune, antidiabetic dan menurunkan kadar kolesterol. Biji buah salak memiliki aktivitas antidioksidan, menghambat pertumbuhan sel kanker, sebagai adsorben dan antibakteri. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menggali ide-ide inovatif, meningkatkan produktivitas hasil produksi produk dari olahan buah salak, guna meningkatkan imunologi masyarakat dengan berbagai olahannya. Ada beberapa kendala yang dihadapi yaitu (1) keterbatasan modal. (2) Rendahnya motivasi wirausaha dengan bahan utama salak. (3) Tidak ada keragaman produk olahan salak. (4) Tidak adanya pengemasan dan pemasaran salak. Kegiatan yang akan dilakukan dalam program PKM ini antara lain upaya pengembangan  
PKM Ubi Jalar (Ipomme Batatas) Dalam Upaya Pertumbuhan Tulang dan Gigi pada Anak-Anak di Indragiri Hilir Afiah Afiah; Syafriani Syafriani; Nia Aprilla
Jurnal Medika: Medika Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/26zc1606

Abstract

Produksi ubi jalar di Provinsi Riau mengalami peningkatan dari tahun ke tahun disertai dengan jumlah penanaman yang juga meningkat. Tahun 2016 dengan produktivitas 4.904 ton, sedangkan pada tahun 2017 dengan produktifitas 4.802 ton, dan pada tahun 2018 dengan produktifitas 3.780 ton. Dengan penghasil ubi jalar di Provinsi Riau meliputi 10 kabupaten/ kota yaitu Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Pelalawan, Siak, Kampar, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Bengkalis, Pekanbaru dan Dumai. (Provinsi Riau, 2019). Untuk mengatasi masalah limbah umbi-umbian horticultural seperti ubi jalar ini dapat kital akukan dengan membuat cemilan sehat seperti keripik Ubi jalar, dan Tepung ubi jalar ini dibuat sebagai bentuk upaya pertumbuhan tulang dan gigi pada anak-anak karena Ubi jalar merupakan sumber kalsium yang baik untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menggali ide-ide inovatif, meningkatkan kreatifitas, menanamkan jiwa berwirausaha, melatih mental dan mengajarkan untuk bekerja keras dan bertanggung jawab. Selain itu, tujuan lainnya yaitu untuk upaya pertumbuhan tulang dan gigi pada anak-anak di indragiri hilir denganhadirnya varian olahan ubi jalar ini serta mengurangi limbah yang dihasilkan dengan mengolahnya menjadi keripik ubi jalar, dan tepung ubi jalar. Ada beberapa kendala yang dihadapi yaitu (1) keterbatasan modal. (2) Rendahnya motivasi wirausaha dengan bahan utama ubi jalar. (3) Tidak ada keragaman produk olahan ubi jalar. (4) Tidak adanya pengemasan dan pemasaran ubi jalar. Kegiatan yang akan dilakukan dalam program PKM ini antara lain upaya pengembangan
PKM Olahan Bayam dalam Upaya Peningkatan Imunologi pada Anak-Anak di Desa Muara Danau Afiah Afiah; Syafriani Syafriani; Dwi Viora
Jurnal Medika: Medika Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/arz4qg48

Abstract

Terdapat beberapa varietas bayam, antara lain bayam hijau biasa, bayam merah, bayam kakap, bayam duri, dan bayam Kotok atau bayam Tanah. Jenis bayam yang sering dibudidayakan adalah Amaranthus tricolor dan Amaranthus hybridus. Tujuan untuk kegiatan ini adalah untuk membantu petani bayam untuk berinovasi dalam melestarikan kreasi makanan dalam berbahan bayam dalam upaya peningkatan imunologi pada anak-anak di desa muara danau. Kreasi pengolahan makanan berbahan utama bayam ini diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang membuat beberapa olahan makanan dari bayam menjadi makanan yang enak dan memilki nilai jual guna meningkatkan perekonomian petani bayam, meningkatkan pendampingan mitra produk-produk makanan olahan bayam dengan memperhatikan kualitas dan kuantitas olahan makanan. Kendala yang dihadapi petani bayam ini adalah minimnya partisipasi dan inovasi masyarakat serta pengetahuan masyarakat dalam cara melestarikan dan memelihara tanaman bayam, sehingga tanaman ini sulit dikembangkan di daerah kita.  Kegiatan yang akan dilakukan pada Program Kemitraan Masyarakat ini ada beberapa upaya pengembangan yaitu: 1. Memberikan motivasi kepada petani bayam untuk berwirausaha. 2. Pelatihan / praktek pengolahan makanan dari bayam karena banyak sekali produk makanan yang bisa dibuat dari bayam seperti keripik bayam, nugget bayam dan stik bayam. 3. Packing / pengemasan produk hingga siap di jual. 4. Strategi penjualan dengan menjual hasil pengolahan dari bayam yang berupa makanan ke masyarakat sekitar atau bisa langsung ke pasar tradisional di Kabupaten Kampar atau bisa membuka akun media sosial khusus menjual hasil makanan dari bayam tersebut.