Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

EFISIENSI PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT Caulerpa sp. DENGAN PERBEDAAN JARAK TANAM DI TAMBAK CAGE CULTURE Firman Ardiansyah; Hadi Pranggono; Benny Diah Madusari
Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Vol 34, No 2 (2020): PENA SEPTEMBER 2020
Publisher : LPPM Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/jurnalpena.v34i2.1232

Abstract

The objectives of this study are to understand the effect of planting space towardsCaulerpa spseaweedgrowth, and to understand the best planting space towards Caulerpa sp seaweed growth. This research did on October until December 2018 in thefishpond of Brackish and Sea Aquaculture Laboratory PekalonganUniversity. This research used complete randomized design (CRD) which consists of three treatment and three repetition. The treatment that applied are 15 cm, 30 cm, and 45 cm of planting space. The Parameter that observed was an absolute weight growth, and water quality. Based on the result of the research showed that the highest absolute weight growth obtained on the treatment of 30 cm planting space that is 73,23gr, followed bythetreatment of 45 cm planting space that is 58,37 gr, and the last, the treatment of 15 cm planting space that is 52,43 gr. The water quality of maintenance media are, salinity ranges from 25-30 ppt, temperature ranges 29-31oC, DO ranges from 3-6, 7 mg/L, PH ranges from (6-8,5), and the brightness is 30 cm. The quality of water during research is good enough to support Caulerpa spseaweed growth.
PENGARUH PENGGUNAAN PASIR MALANG SEBAGAI FILTER DALAM MEDIA AIR LIMBAH BATIK TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP IKAN KOI (Cyprinus carpio Linn) Noviana Viadolo R.L; Hadi Pranggono; M Bahrus Syakirin
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 14, No 1 (2016): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v14i1.507

Abstract

Batik Indonesia became more famous after gaining recognition from the United Nations Edutional, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Batik-making is certainly generate waste and pollution , many batik industry that drain effluent wastewater to flow - the flow of water around, causing the flow of polluted water, declining water quality and damage aquatic life (fish, microorganisms , and others). Water is an important medium in the operational activities of aquaculture , this is because the water functions as the survival of fish . The use of poor sand as a filter in an aqueous medium batik waste koi care also determine the effect the survival of fish in the media proficiency level with the treatment of poor sand different, and knowing the poor sand capable of being a substrate that is able to purify water because it has a composition of CaO , Al2O3 and FeO. In testing the media by way of poor sand substrate put the aquarium bottom (sedimentation), clearly visible color change that occurs at the beginning of batik waste water colored dark red to green translucent (for 5 -day precipitation) . Treatment with the best survival percentage in C is 86.76 % (800 g) and D (1000 g) percentage of 93.33 % , while in treatment A (control) fish dying and treatment D percentage of fish life is very low at 13 , 33 % with poor sand 600gr . The test results stated poor sand able to be purifying (demineralization) water.Keywords : poor sand, batik waste water, koi fish
SUPLEMENTASI PROBIOTIK BERBEDA PADA PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Diana Rachmawati; Istiyanto Samidjan; Hadi Pranggono; Muhamad Agus
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 18, No 2 (2019): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.318 KB) | DOI: 10.31941/penaakuatika.v18i2.812

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah pengkaji pengaruh suplementasi probiotik berbeda pada pakan buatan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus).Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan nila dengan bobot rata-rata 2,54±0,53 g/ekor diperoleh dari Balai Benih Ikan Air Tawar Muntilan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, Rancangan Acak Lengkap (RAL), empat perlakuan, dan empat kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah suplementasi probiotik berbeda pada pakan buatan yaitu P1 (tanpa probiotik), P2 (probiotik A), P3 (Probiotik B) dan P4 (Probiotik C). Parameter yang diamati selama penelitian terdiri dari efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio efisiensi protein (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi probiotik berbeda pada pakan buatan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap EPP, PER, RGR dan SR ikan nila. Suplementasi  probiotik B pada pakan buatan menunjukkan efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan tertinggi ikan nila. Parameter kualitas air selama penelitian masih dalam kisaran yang layak untuk budidaya ikan nila. Kata kunci : Suplementasi, pakan buatan, pertumbuhan, kelulushidupan
PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN BANDENG (Chanos chanos FORKSAL) Ayuda Septiana M; Muhamad Agus; Hadi Pranggono
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 15, No 1 (2017): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.732 KB) | DOI: 10.31941/penaakuatika.v15i1.512

Abstract

Milkfish is one commodity that has high economic value because it is important in the fulfillment of community nutrition. This study aims to determine the provision of probiotics from banana stumps, with different doses in artificial feed on the growth of milkfish seed (Chanos chanos Forskal). The study used a completely randomized design with 4 treatments and 3 replications. The treatments were 3 cc / kg of feed, 6 cc / kg of feed, 9 cc / kg of feed and 12 cc / kg of feed. The research was conducted from 23rd May – 21st June 2015 at the Brackish Water Laboratory of Slamaran. The results showed that the highest average biomass growth in the treatment of doses of 12 cc / kg of feed reached 14.75 grams. The lowest yield was obtained in the treatment of 3 cc / kg of feed about 10.00 grams. The growth response to the proportional dose rate showed a linear form and the survival rate of larvae reached 100%. The water quality range during research is still appropriate to support growth, where temperatures range from 23 to 31 C. pH ranges from 6.5 to 7.5, dissolved oxygen content ranges from 5.5 to 5.6 ppm and salinity of 8-12 ppt.Key Word : Probiotics, growth, Milkfish
REKAYASA TEKNOLOGI BUDIDAYA KEPITING BAKAU (Scylla paramaosain) MELALUI REKAYASA PAKAN DAN LINGKUNGAN UNTUK PERCEPATAN PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN Istiyanto Samidjan; Diana Rachmawati; Hadi Pranggono
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 18, No 2 (2019): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.278 KB) | DOI: 10.31941/penaakuatika.v18i2.818

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peran rekayasa pakan dan lingkungan terhadap percepatan pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau, dengan memanfaatkan pakan dari berbagai jenis pakan segar (limbah ikan dan wideng) dan rekayasa lingkungan dengan kombinasi biofilter system menggunakan daun mangrove, dimana masing masing dari kepiting bakau diperlihara dengan sistem batery. Metode penelitian dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan pemberian jenis pakan yang berbeda. Ulangan dilakukan pemeliharaan terhadap sepuluh ekor kepiting bakau. Dosis pemberian pakan tiap perlakuan sebanyak 5 % . Perlakuan ”A”, pemberian pakan ikan rucah, perlakuan ”B” pemberian pakan wideng sebanyak 5 % dari berat biomassa perhari dan perlakuan ”C”, pemberian pakan pelet sebanyak 5 % dari berat biomassa perhari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan terbaik untuk budidaya kepiting bakau dengan sistem batery adalah pakan pelet.Sedangkan Perbedaan pakan (Segar, Pelet) berupa ikan rucah, wideng dan pelet memberi pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap pertumbuhan biomassa mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (SGR) kepiting bakau. Pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian (SGR) tertinggi dihasilkan oleh perlakuan pakan C sebesar 60.58 g ± 2.140 dan 0.81 % ± 0.022. Sedangkan terhadap kelulushidupan perbedaan pakan segar maupun pelet tidak memberi pengaruh yang nyata (p>0,05). Kualitas air untuk budidaya kepiting bakau relatif layak. Kata Kunci : Ikan rucah, Wideng dan Pelet, Scylla paramaosain 
KAJIAN TEHNIK BUDIDAYA UDANG VANAMEI (Litopenaeus vannanamei) PADA TAMBAK BUSMETIK SUPM NEGERI TEGAL DENGAN TAMBAK TUVAMI 16 UNIVERSITAS PEKALONGAN Lutfi Mardi Untara; Muhamad Agus; Hadi Pranggono
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 17, No 1 (2018): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.398 KB) | DOI: 10.31941/penaakuatika.v17i1.619

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan teknologi budidaya yang ada pada Tambak Busmetik SUPM Negeri Tegal dan Tambak Tuvami16 Universitas Pekalongan. Penelitian ini bersifat eksploratif yaitu menampilkan data sesuai data lapangan yang asli, dianalisis secara diskriptif dengan metode observasi, wawancara dan partisipasi aktif.Parameter yang diukur meliputi suhu, pH, DO, salinitas, FCR,SR,ABW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanyaperbedaan kualitas air pada salinitas air di tambak TUVAMI 16 Universitas Pekalongan 0 – 2 ppt di bawah kisaran optimum untuk pertumbuhan namun masih layak untuk kehidupan sedangkan pada suhu, pH dan DO pada kisaran optimum pertumbuhan. Perbedaan tehnik budidaya udang vannamai pada tambak Busmetik SUPM Negeri Tegal dengan tambak Tuvami 16 yaitu pada type kincir, pengelolaan kualitas air dan manajemen pemberian pakan. Hasil produksi di lakukan dengan perhitungan terukur menunjukan bahwa pada tambak SUPM Negeri Tegal FCR 1,29, SR, 99% dan ABW 16 g sedangkan pada tambak Tuvami 16Universitas Pekalongan FCR 1,04, SR 93 % dan ABW 16,3 g.Keyword : Tehnik budidaya, Udang vannamai, Hasil poduksi, kualitas air.
PENAMBAHAN Saccharomyces cerevisiae PADA PAKAN BUATAN KOMERSIAL BENIH LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus Var. Sangkuriang) TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN, DAN KELULUSHIDUPAN Diana Rachmawati; Johannes Hutabarat; Titik Susilowati; Istiyanto Samidjan; Hadi Pranggono
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 19, No 2 (2020): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v19i2.1177

Abstract

ABSTRAK            Permasalahan yang dihadapi saat ini oleh pembudidaya lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var Sangkuriang) pada umumnya adalah efisiensi pemanfaatan pakan yang belum maksimal dari pakan komersil yang diberikan sehingga biaya pakan tinggi.Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan penambahan Saccharomyces cerevisiae pada pakan buatan komersil.S. cerevisiae merupakan salah satu jenis ragi yang berpotensi sebagai imunostimulan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan dan mempercepat pertumbuhan  ikan.Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh S. cerevisiae dalam pakan buatan komersial terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan benih lele Sangkuriang.Ikan uji yang digunakan adalah benih lele Sangkuriang dengan bobot rata-rata 6,20±0,28 g sebanyak 300 ikan.Parameter yang diamati selama penelitian meliputi parameter efisiensi pakan terdiri dari efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR) dan rasio efisiensi protein (PER), parameter pertumbuhan terdiri dari laju pertumbuhan relatif (RGR), dan kelulushidupan (SR).Hasil penelitian menunjukkan penambahan S. cerevisiae dalam pakan buatan komersial meningkatkan EPP, FCR, PER, dan RGRnamun tidak berpengaruh terhadap SR benih lele Sangkuriang.Dosis S. cerevisiae sebesar 1,5%/kg pakan merupakan dosis terbaik dikarenakan menghasilkan nilai tertinggi EPP,  PER, FCR dan RGR sebesar 78,47%; 3,08; 1,39 dan 3,20 %/hari. Kata Kunci :Saccharomyces cerevisiae,pertumbuhan, lele Sangkuriang, kelulushidupan  ABSTRACT                Common problem faced by fish farmers of Sangkuriang catfish (Clarias gariepinus var Sangkuriang) is an inefficiency of feed utilization that causes high cost of production. One of the solution to solve the problem is by enriching the feed with Saccharomyces cerevisiae. S. cerevisiaeis one of yeast types that has potential as an imunostimulant to increase efficiency of feed utilizationand growth. The objective of the study was to analyze the effects of S. cerevisiaesupplemented feed on efficiency of feed utilization, growthand survival rate of Sangkuriang catfish juveniles.  The 300 test fish used in the study was Sangkuriang juveniles catfish having mean weight of 6.20±0.28 g. Parameters observed during study were efficiency of feed utilization (EFU), feed conversion ratio (FCR) protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), and survival rate (SR). The results of the study showed that S. cerevisiaesupplemented feed could increase EFU, FCR, PER, and RGR, but it did not affect SR of Sangkuriang catfish juveniles.The dose of S. cerevisiaeas much as1.5%/kg feed was the best dose that generated the greatest values of 78.47%, 3.08, 1.39 and 3.20 %/day respectively for EFU, FCR, PER, and RGR. Keywords : Saccharomyces cerevisiae, growth, Sangkuriang catfish, survival rate
PENGARUH PEMBERIAN AKAR TUBA (DERRIS ELLIPTICA) DAN SAPONIN DENGAN KOMBINASI DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP MORTALITAS IKAN KAKAP PUTIH (LATES CALCARIFER) Lilis Handayani; Hadi Pranggono; Linayati Linayati
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 19, No 1 (2020): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v19i1.729

Abstract

Pengaruh Pemberian Akar Tuba (Derris elliptica) dan Saponin dengan Kombinasi Dosis Yang Berbeda Terhadap Mortalitas Ikan Kakap Putih  (Lates calcarifer) Lilis Handayani, Hadi Pranggono, LinayatiProgram Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan Universitas PekalonganEmail : hadipranggono17@gmail.com ABSTRAKIkan kakap (Lates calcarifer) adalah merupakan salah satu komoditas budidaya laut unggulan di Indonesia karena memiliki pertumbuhan yang relatif cepat dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan budidaya. Ikan kakp putih salah satu hama di dalam tambak udang, diantara kegagalan budidaya ialah disebabkan oleh masuknya hama kedalam tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi dosis akar tuba dan saponin terhadap mortalitas ikan kakap putih dan untuk mengetahui kombinasi dosis akar tuba dan saponin yang optimum terhadap mortalitas ikan kakap putih. Penelitian ini menggunakan metode RAL dan dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi dosis akar tuba dan saponin dapat mempercepat mortalitas ikan kakap putih. Data mortalitas perlakuan C menunjukan nilai LC 50 dengan rata-rata yaitu 39,58 menit dan pada LC 100 yaitu 43,28 menit, perlakuan B menunjukan nilai LC 50 dengan rata-rata yaitu 49,45 menit dan pada LC 100 yaitu 49,57 menit dan perlakuan A menunjukan nilai LC 50 dengan rata-rata yaitu 75,86 menit dan pada LC 100 yaitu 80,66 menit. Sehingga diketahui pemberian akar tuba dan saponin dengan kombinasi dosis yang berbeda berpengaruh terhadap mortalitas ikan kakap putih dan dosis yang optimum adalah perlakuan C yaitu 25% akar tuba dan 75% saponin. Kualitas air selama penelitian masih dalam kisaran optimum dan layak untuk kehidupan ikan kakap putih.  Kata kunci : Ikan kakap putih, akar tuba dan saponin, mortalitas, kualitas air ABSTRACTSeabass is one of the leading marine aquaculture commodities in Indonesia because it has a relatively fast growth and easily adjust to the cultivation environment. Seabass  pheasant fish one of the pests in the shrimp pond, among the failure of the cultivation is caused by the entry of pests into the pond. This study aims to determine the effect of combination of tubal and saponin root dose to mortality of seabass  and to determine the optimum combination of tuba root and saponin doses of seabass  mortality. This research uses RAL method and qualitative analysis. The results showed that combination of tubal doses and saponins could accelerate mortality of seabass . The data of C treatment mortality showed LC 50 value with mean of 39,58 minute and at LC 100 that was 43,28 minutes, B treatment showed the value of LC 50 with average that is 49,45 minutes and at LC 100 that is 49,57 min and A treatment showed the value of LC 50 with average that is 75,86 minutes and at LC 100 that is 80,66 minutes. So it is known to give the tuba root and saponin with a combination of different doses effect on mortality of seabass and the optimum doses is C treatment that is 25% tubal root and 75% saponin. The water quality during research is still within the optimum and feasible range for the life of seabass.  Keywords : Seabass, tuba root and saponin, mortality, water quality
SISTEM BUDIDAYA BIOFILTER KEPITING BAKAU (S. Paramamosain) DENGAN RUMPUT LAUT (Caulerpa racemosa) YANG DIBERI PAKAN BUATAN DIPERKAYA VITAMIN E Istiyanto Samidjan; Diana Rachmawati; Hadi Pranggono; Heryoso Heryoso
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 20, No 1 (2021): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v20i1.1327

Abstract

AbstrakTujuan penelitian untuk mengkaji rekayasa teknologi budidaya kepiting bakau yang dipelihara di wadah basket ditambak dengan diberipakan buatan diperkaya vitamin E dengan dosis berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau Scylla paramamosain. Metode penelitian menggunakan hewan uji kepiting bakau ukuran 145,5g±0.61 Metode yang digunakan adalah metode eksperimental yang dilakukan di lapangan, dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu A: diberi vit E dosis 0 g/100g pakan buatan dan tanpa rumput laut Caulerpa racemosa), B= diberi vit E 0,2g/100 g pakan pakan dan diberi 100 g rumput laut Caulerpa racemosa), C =diberi vit E dosis 0,4g/100g dan 100 g rumput laut Caulerpa racemosa), D=diberi vit E 0,6g/100g pakan dan diberi rumput laut Caulerpa racemosa bobot 100 g), selanjutnya lingkungan media biofilter system dari rumput laut di inlet air masuk tambak sebagai biofilter system dan diberi pakan sesuai perlakuan sebanyak 5% perbiomas perhari dan masing-masing kepiting dipelihara dalam wadah basket plastik ukuran 30x30x30 cm dan dipelihara selama 42 hari. Data yang diperoleh adalah data pertumbuhan biomassa mutlak, kelulushidupan, FCR dan data kualitas air (suhu, salinitas, amoniak, nitrit, nitrat, oksigen). Penelitian dilakukan di tambak milik petani Bp H.Chambali kelurahan Mangkang Wetan sebagai biofilter system manipulasi lingkungan menggunakan rumput laut Caulerpa racemosa kepiting soft shell seluas ± 1500 m2, dengan teknik budidaya monokultur sistem intensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pakan buagtan yhang diperkaya dengan vit E pada  dosis berbeda dengan berbasis rumput laut sebagai biofilter system  memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau. Pertumbuhan bobot mutlak tertinggi diperoleh dari perlakuan C (58.75±1.010gr) dan kelulushidupan kepiting bakau perlakuan C (90.3333±2.309%%). Peran rumput laut Caulerpa racemosa sebagai biofilter system dapat memperbaiki kualitas air media pemeliharaan kepiting bakau, sehingga dapat meningkatkan kehidupan kepiting bakau yang ramah lingkungan. Kata kunci: biofilter system, mangrove, pakan buatan, Scylla paramamosain , Vit.E. AbstractThe aim of this research was to study the engineering technology of mud crab cultivation reared in basketry containers in a pond with artificial graft enriched with vitamin E with different doses on the growth and survival of Scylla paramamosain mud crab. The method used in this study was a test animal of mud crab size 145.5 g ± 0.61. The method used was an experimental method in the field, using a completely randomized design with 4 treatments and 3 replications, namely A: given vitamin E dose of 0 g / 100g artificial feed and seaweed Caulerpa racemosa), B = given vitamin E 0.2g / 100 g of feed and given 100 g of Caulerpa racemosa seaweed), C = given vitamin E dose of 0.4g / 100g and 100 g of Caulerpa racemosa seaweed), D = given 0.6g / 100g vit E feed and given 100 g of Caulerpa racemosa seaweed), then the environment of the biofilter system media from seaweed in the water inlet enters the pond as a biofilter system and is given feed according to treatment as much as 5% per per day and respectively. Each crab was kept in a plastic basket measuring 30x30x30 cm and reared for 42 days. The data obtained are absolute biomass growth data, survival, FCR and water quality data (temperature, salinity, ammonia, nitrite, nitrate, oxygen). The research was conducted in a farm owned by Bp H. Chambali, Mangkang Wetan sub-district as a biofilter system for environmental manipulation using seaweed Caulerpa racemosa soft shell crabs covering an area of ± 1500 m2, with an intensive system cultivation technique. The results showed that the use of buagtan feed enriched with vitamin E at different doses from seaweed based as a biofilter system had a highly significant effect (P <0.01) on the growth and survival of mud  crabs. The highest absolute weight growth was obtained from treatment C (58.75 ± 1.010gr) and the survival rate of mud crabs in treatment C (90.33 ± 2.309 %%). The role of Caulerpa racemosaseaweed as a biofilter system can improve the water quality of the mud crab maintenance media, so that it can improve the life of the mangrove crab which is environmentally friendly. Keyword: biofilter system, mud crab, artificial feed, Scylla paramamosain, vitaminet E
REKAYASA TEKNOLOGI POLIKULTUR UDANG VANAME DAN RUMPUT LAUT CAULERPA RACEMOSA YANG DIBERI PAKAN BUATAN YANG DIPERKAYA DENGAN ENZIM PROTEASE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN Istiyanto Samidjan; Heryoso Heryoso; Vivi Endar Herawati; Hadi Pranggono
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 19, No 1 (2020): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v19i1.1148

Abstract

AbstrakPermasalahan yang sering muncul pada budidaya udang vanname di tambak adalah mortalitas yang tinggi disebabkan oleh faktor lingkungan dan penggunaan kolom air tambak atau petakan tambak kultivan yang dipelihara lebih dari 2 jenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji  pengaruh sistem polikultur pada udang vanname (Litopenaeus vannamei) dan rumput laut (Caulerpa racemosa) dengan bobot rumput laut yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan serta perbaikan kualitas air tambak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Pebruari sd Maret 2020 di Tambak mitra Pokdakan Sidomulyo, Kelurahan Krapyak Lor, Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan. Bahan uji yang digunakan adalah  udang vanname  yang berukuran 6,45 ± 0,05 gr dan rumput laut (Caulerpa racemosa) dengan bobot 0, 75, 150, 225 gr. Rancangan penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu T1 (udang vanname 20 ekor), T2 (udang vanname 20 ekor + rumput laut 75 gr), T3 (udang vanname 20 ekor + rumput laut 150 gr), dan T4 (udang vanname 20 ekor + rumput laut 225 gr). Hasil penelitian menunjukkan bahwa polikultur udang vanname dengan rumput laut berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak, kelulushidupan dan konversi pakan (P<0.05). Pertumbuhan bobot mutlak pada udang vannamei tertinggi  pada T3 (20V+150 CR g RL) =udang vanname20 ekor + bobot rumput laut 150 g dengan bobot mutlak udang vanamei 19.60±3.42b g), kelushidupan 90±0.05b%, 1.65±0.09b, dan pertumbuhan bolbot mutlak C.racemosa T3 (932±2,73b g), kelulushidupan C.racemosa (90.25±4.25b%).Kata kunci: Polikultur, udang vaname, Caulerpa racemosa, pertumbuhan  AbstractThe problems that often arise of white shrimp vanname culture in ponds are high mortality caused by environmental factors and the use of pond water columns or pond plots that are maintained of more than 2 types. This study aims to examine the effect of the polyculture system on white shrimp vanname (Litopenaeus vannamei) and seaweed (Caulerpa racemosa) on different seaweed weights on growth and survival and improvement of pond water quality. The research was carried out from February to March 2020 in Pokkdakan Sidomulyo partner ponds, Krapyak Lor Village, Pekalongan Utara District, Pekalongan City. The test materials used were white shrimp vanname  measuring 6.45 ± 0.05 gr and seaweed (C. racemosa) with a weight of 0, 75, 150, 225 gr. The research design was carried out by experimental method using completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications, namely T1 (20 white shrimp vanname ), T2 (20 white shrimp vanname + 75 gr seaweed), T3 (20 white shrimp vanname + grass. sea 150 gr), and T4 (20 white shrimp vanname + 225 gr seaweed). The results showed that white shrimp vanname polyculture with seaweed had a significant effect (P <0.05) on absolute weight growth, survival and feed conversion (P <0.05). The highest absolute weight growth in white shrimp vanname was at T3 (20V + 150 CR g RL) = 20 vannamei shrimp + 150 g seaweed weight with 19.60 ± 3.42bg absolute weight of white shrimp vanname ), 90 ± 0.05b%, 1.65 ± 0.09b, survival rate and the absolute bolbot growth of C.racemosa T3 (932 ± 2.73b g), survival rate of C.racemosa (90.25 ± 4.25b%). Keyword: Polyculture, white shrimp Vannamei, Caulerpa Racemosa, growth