Optimalisasi Kinerja Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Studi Kasus Pada Sub Bagian Umum Dan Kepegawaian dapat di ukur menggunakan tingkat pencapaian kinerja dalam menganalisis hasil kerja. Dimana tingkat pencapaian hasil yang diukur berdasarkan indikator kinerja yang telah ditetapkan meliputi kuantitas kerja, kualitas kerja dan kemampuan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan bagaimanan Optimalisasi Kinerja Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Pada Sub Bagian Umum Dan Kepegawaian beserta faktor-faktor yang menghambat dan mendukung pengaruh tersebut. Adapun hasil penelitian yang dilakukan peneliti dengan menggunakan indikator berdasarkan kuantitas kerja, kualitas kerja dan kemampuan kerja yang telah ditetapkan sudah layak mendapatkan predikat “BAIK”. Berdasarkan kuantitas kerja menunjukan bawah target pencapaian pekerjaan yang dilakukan seluruh pegawai pada Sub Bagian Umum dan Kepegawaian sudah sangat baik, walaupun dari segi kebutuhan pegawai dengan jumlah beban kerja yang ada masih kurang dan masih memerlukan penambahan pegawai agar terdapat keseimbangan antara beban kerja dengan jumlah pegawai yang ada. Kuantitas kerja pegawai yang sudah cukup baik tersebut berpengaruh pula terhadap laporan SKP secara elektronik yang dibuat pegawai setiap harinya, dan hal tersebut dapat dimonitor langsung sehingga pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai tersebut dapat terlihat dan diukur hasil pekerjaannya oleh pimpinannya. Kemudian dari kualitas kerja diukur berdasarkan tiga aspek, yaitu aspek ketepatan, aspek kelengkapan dan aspek kerapian yang menunjukkan aspek pertama ketepatan pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan arahan atau SOP yang merupakan pedoman tugas pegawai, aspek kedua kelengkapan adalah ketelitian pegawai dalam menyelesaikan tugas tepat pada waktunya karena telah ditunjang dengan sarana dan prasarana pendukung seperti komputer dan jaringan internet (wifi), aspek ketiga kerapian pegawai dalam melaksanakan tugas dinilai telah memuaskan karena dapat di lihat dari segi kreatifitas dalam mengelola tugas terutama pada pekerjaan yang sesuai dengan target, dan dari kemampuan kerja adalah untuk mengukur keterampilan serta pengetahuan yang dimiliki seorang pegawai untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Sedangkan kinerja pegawai dapat diartikan sebagai kemampuan pegawai dalam melakukan sesuatu keahlian tertentu, sebab dengan kinerja ini akan diketahui seberapa jauh kemampuan pegawai dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya Berdasarkan hal tersebut, pegawai mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik sesuai dengan kemampuannya dalam melaksanakan tugas yang diberikan, dengan catatan dukungan sarana dan prasarana harus dipenuhi agar kinerja dapat berjalan optimal. Sedangkan jika dilihat dari faktor pendukung antara lain penempatan kerja pegawai pada posisi yang tepat tujuan agar pegawai lebih optimal kinerjanya dalam melaksanakan tugpegawaiya disesuaikan dengan latar belakang dan tingkat pendidian, kompetensi, keterampilan, keahlian dan pengalaman dengan formasi yang tersedia. Kemudian sarana prasarana penunjang juga menjadi prioritas agar pelaksanaan pekerjaan seorang pegawai dapat berjalan dengan optimal sesuai kinerjanya. Namun tetap ada yang harus diperhatikan karena adanya faktor penghambat antara lain kurangnya sumber daya manusia (SDM), kurangnya tingkat kompetensi dan kualifikasi pendidikan beberapa pegawai, kurangnya pelatihan-pelatihan untuk peningkatan pegawai yang diadakan baik oleh pemerintah maupun swasta.