I Gusti Ayu Putu Eka Pratiwi
Department Of Child Health, Medical Faculty, Udayana University

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Karakteristik malnutrisi rumah sakit pada pasien anak di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia Hanzelina Hanzelina; I Gusti Lanang Sidiartha; I Gusti Ayu Putu Eka Pratiwi
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 2 (2021): (Available Online: 1 August 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.682 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i2.1079

Abstract

Background: Hospital Malnutrition (HM) is malnutrition diagnosed while being treated at the hospital either when admitted to the hospital, during treatment or even when discharged from the hospital, which is closely related to hospital care. The incidence of HM is still quite high and can increase morbidity and mortality among inpatient children. This study aims to determine the characteristics of in-hospital malnutrition cases in children undergoing treatment at Sanglah Hospital.Methods: This study used a prospective cohort design using primary data obtained from interviews and anthropometry of 120 children hospitalized at Sanglah Hospital in the 2019-2020 period. HM was defined as a decrease in a Z-score of Weight/Height (W/H) > 0.5 Standard Deviation (SD) at the time of hospital discharge. Data were analyzed using SPSS version 20 for Windows.Results: The incidence of HM was 47.1%, of which 54.0% of patients were female. The incidence of in-hospital malnutrition was primarily found in patients aged 1-3 years (50.0%) and >5 years (42.0%). Approximately 64.0% of children with HM were malnourished before being admitted to the hospital and 14.0% got parenteral nutrition. It was found that 72% of children with HM had a hospital stay length of > 7 days. More than half of children with HM (56.0%) have parents with low levels of education (less than secondary education) and 58.0% have more than 3 siblings.Conclusion: The incidence of hospital malnutrition is more often found in girls, age >5 years old, malnutrition before admitted, get parenteral nutrition, had parents with low education levels, number of siblings > 3, had a single diagnosis and length of stay > 7 days.  Latar Belakang: Malnutrisi rumah sakit (MRS) adalah malnutrisi yang didiagnosis saat dirawat di Rumah Sakit (RS) baik saat masuk RS, selama perawatan atau bahkan saat pasien keluar dari rumah sakit yang erat kaitannya dengan perawatan di RS. Kejadian MRS masih cukup tinggi dan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada anak yang dirawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dari kasus MRS pada anak yang menjalani perawatan di RSUP Sanglah.Metode: Studi ini menggunakan desain kohort prospektif dengan menggunakan data primer dari wawancara dan pemeriksaan antropometri terhadap 120 anak yang dirawat inap di RSUP Sanglah pada periode 2019-2020. MRS didefinisikan sebagai penurunan Z-score Berat Badan/Tinggi Badan (BB/TB) > 0,5 Standard Deviation (SD) pada saat keluar RS. Data dianalisis dengan SPSS versi 25 untuk Windows.Hasil: Kejadian MRS ditemukan sebanyak 47,1% dengan 54,0% sampel berjenis kelamin perempuan. Insidens MRS paling banyak ditemukan pada pasien kelompok usia 1-3 tahun (50,0%) dan >5 tahun (42,0%). Sebanyak 64,0% anak dengan MRS sudah mengalami malnutrisi sebelum masuk RS dan 14,0% mendapatkan nutrisi parenteral. Ditemukan bahwa 72,0% anak dengan MRS memiliki lama rawat di RS >7 hari. Lebih dari separuh anak dengan MRS (56,0%) memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan rendah (<SMP) dan 58,0% memiliki jumlah saudara lebih dari > 3.Kesimpulan: Insiden MRS lebih sering ditemukan pada anak perempuan, kelompok usia >5 tahun, malnutrisi sebelum masuk RS, mendapatkan nutrisi parenteral, memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan rendah, jumlah saudara kandung > 3, serta memiliki diagnosis tunggal serta lama rawat > 7 hari. 
Angka insiden dan faktor risiko malnutrisi rumah sakit pada anak rawat inap di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia Anak Agung Ratna Purnama Santhi; I Gusti Lanang Sidiartha; I Gusti Ayu Putu Eka Pratiwi
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 3 (2021): (Available online: 1 December 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.56 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i3.1107

Abstract

Background: Nutritional support is an important aspect of the clinical management of hospitalized children. Several factors contribute to prevalence of malnutrition in hospitalized children and it can led to deterioration of nutritional status. Research on factors related to malnutrition in pediatric hospitalized patients is still limited, especially in Indonesia. This study aims to evaluate the incidence rate and risk factors of malnutrition in hospitalized children at Sanglah General Hospital, Bali, Indonesia.Methods: This study was a prospective analytic observational study in children who underwent hospitalization in class II and III inpatient rooms for the period August 2020-February 2021. Inclusion criteria were pediatric patients aged 1 to 18 years who were hospitalized for at least 48 hours and had complete medical records. Samples were taken by consecutive sampling until the number of subjects was met. A significant variable is a variable that has a p-value <0.05. Data were analyzed using SPSS version 20 for Windows.Results: A total of 95 subjects who met the inclusion and exclusion criteria. The incidence of hospital malnutrition was 28%. The risk factors associated with hospital malnutrition were fever, diarrhea and vomiting. Multiple diagnosis, acute and chronic malnutrition, low maternal education, surgical and medical departments also contribute to hospital malnutrition. The results of multivariate analysis were acute malnutrition and length of stay as independent risk factors for hospital malnutrition (OR, 3.843; 95% CI, 1.762-5.431; p=0.005) and length of stay (OR, 5.791; 95% CI, 2.157-6.491; p=0.026)Conclusion: The incidence of patients with hospital malnutrition in children at Sanglah Hospital Denpasar is 28%. Acute malnutrition and length of stay are independent risk factors for malnutrition during hospitalization. Latar belakang: Dukungan nutrisi adalah aspek penting dalam manajemen klinis anak yang dirawat di rumah sakit. Beberapa faktor berkontribusi terhadap meluasnya malnutrisi pada anak yang dirawat di rumah sakit dan menyebabkan eksaserbasi status gizi.  Penelitian mengenai faktor-faktor yang berkaitan dengan malnutrisi pada pasien pediatri yang menjalani rawat inap masih sangatlah terbatas khususnya di Indonesia meskipun memiliki urgensi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi angka insiden dan faktor risiko malnutrisi rumah sakit pada anak rawat inap di RSUP Sanglah, Bali, IndonesiaMetode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik pada anak dengan metode penelitian kohort prospektif yang menjalani rawat inap di ruang rawat inap kelas II dan III periode bulan Agustus 2020-Februari 2021. Kriteria inklusi yaitu pasien anak berusia 1 hingga 18 tahun, menjalani rawat inap di RS minimal 48 jam, dan memiliki catatan medis yang lengkap. sampel diambil secara konsekutif sampai jumlah subyek terpenuhi. Variabel yang signifikan adalah variabel yang mempunyai nilai p<0,05. Data dianalisis dengan SPSS versi 20 untuk Windows.Hasil: Sebanyak 95 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Insiden malnutrisi rumah sakit didapatkan sebesar 28%. Faktor RISIKO yang berhubungan dengan malnutrisi rumah sakit adalah demam, diare dan muntah. Diagnosis multipel, kurang gizi akut dan kronis, lama rawat,pendidikan ibu rendah, dan departemen rawat juga sebagai faktor RISIKO malnutrisi rumah sakit. Hasil analisis multivariat dilakukan dengan hasil kurang gizi akut dan lama rawat sebagai faktor risiko independen terjadinya malnutrisi rumah sakit (OR, 3.843; 95% CI, 1.762-5.431; p=0.005) dan lama rawat (OR, 5.791; 95% CI, 2.157-6.491; p=0.026)Simpulan: Insiden pasien dengan malnutrisi rumah sakit pada anak di RSUP Sanglah Denpasar adalah sebesar 28%. Kondisi kurang gizi akut dan lama rawat merupakan faktor risiko independen terjadinya malnutrisi selama perawatan di rumah sakit.
Fatty Liver and Liver Malondialdehyde Expression in Severe Malnourished Wistar Rats that given Virgin Coconut oil Compared to Corn Oil in World Health Organization Formula I Gusti Ayu Putu Eka Pratiwi; Soetjiningsih .; I N. Mantik Astawa; I Gusti Ayu Trisna Windiani; I Gede Ngurah Harry Wijaya Surya
Journal of Global Pharma Technology Vol. 9 Issue 7 : 2017
Publisher : Journal of Global Pharma Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: There is a lack of antioxidant in severe malnutrition, and it may lead to increase oxidative stress. Fatty liver is one of severe malnutrition (SM) cardinal features. Virgin coconut oil (VCO) contains high antioxidant capacity and medium chain triglyceride. It is supposed to improve those problems. Methods: Posttest only control group design study was done to observe whether VCO could decrease fatty liver and liver malondialdehyde (MDA) expression in 38 male wistar rat with SM. The rats were divided into two group which were VCO Group (Group A) and Control Group (corn oil (Group B)). They were given feeding World Health Organization (WHO) Formula for SM (Formula 75 and Formula 100) that contained VCO or corn oil. After being SM, this formula was fed until 28 days. In the 29th day, they were sacrificed, and liver samples were obtained for fatty liver analysis and MDA expression. Results: Fatty liver was less in Group A (mean 13.74 cell in 5 view field (SD 1.32) than Group B (mean 20.74 cell in 5 view field (SD 2.01), and it was statistically significant (p=0.000). Cut off point for determining low and high liver MDA expression based on o ROC curve were <2.9% (low) and ≥2.9% (high). Low MDA expression (<2.9%) was higher in Group A than Group B (p <0.05). Conclusions: This study found less fatty liver and low liver MDA expression in severe malnourished rat given VCO than corn oil.  Keywords: Virgin coconut oil, Fatty liver, Malondialdehyde, Severe malnutrition.
GAMBARAN STATUS GIZI SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 5 TONJA TAHUN 2020 Indrayanti, Ni Luh Gede Ari; Pratiwi, I Gusti Ayu Putu Eka; Artana, I Wayan Dharma
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i8.P09

Abstract

Upaya peningkatan status gizi untuk mencapai sumber daya manusia yang berkualitas di masa mendatang harus dimulai sejak dini, salah satunya pada anak sekolah dasar sebagai generasi penerus bangsa. Anak sekolah dasar adalah kelompok usia yang rentan terhadap masalah gizi. Masalah gizi yang dapat terjadi, yakni gizi buruk, gizi kurang, gizi lebih, dan obesitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran status gizi siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 5 Tonja tahun 2020. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 5 Tonja yang berjumlah 65 orang. Data tinggi badan dan berat badan responden yang telah mengisi kuisioner digunakan untuk mengidentifikasi status gizi berdasarkan IMT dan tinggi badan. Hasil penelitian yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 5 Tonja menunjukkan status gizi berdasarkan IMT/U diketahui bahwa 3 subjek (4,6%) dengan gizi buruk, 5 subjek (7,7%) dengan gizi kurang, 37 subjek (56,9%) dengan gizi baik, 8 subjek (12,3%) dengan gizi lebih, dan 12 subjek (18,5%) dengan obesitas. Status gizi berdasarkan TB/U didapatkan bahwa sebagian besar subjek berperawakan normal, yaitu sebanyak 59 subjek (90,8%) serta subjek berperawakan sangat pendek, pendek, dan tinggi didapatkan hasil yang sama, yaitu masing-masing sebanyak 2 subjek (3,1%). .
PROFIL STATUS NUTRISI ANAK PALSI SEREBRAL DI POLIKLINIK RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH, DENPASAR, BALI Pratiwi, I Gusti Ayu Putu Eka; Sidiartha, I Gusti Lanang; Mahalini, Dewi Sutriani
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i03.P01

Abstract

Pendahuluan: Anak dengan palsi serebral (PS) memiliki risiko tinggi mengalami malnutrisi. Malnutrisi yang terjadi menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan fungsi otak, pengurangan potensi perkembangan, gangguan kekebalan tubuh, gangguan penyembuhan luka, dan menurunkan kekuatan dari otot-otot pernapasan sehingga akan memudahkan untuk terjadinya infeksi. Suatu penelitian yang menggambarkan status nutrisi anak PS yang dapat memetakan kondisi nutrisi anak PS penting untuk dilakukan sehingga dapat dipergunakan untuk tata laksana selanjutnya yang lebih baik. Tujuan: untuk mengetahui profil status nutrisi anak dengan palsi serebral (PS) di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali. Metode: penelitian ini merupakan penelitian deskriptif potong lintang menggunakan sampel anak dengan PS. Kriteria inklusi: pasien PS < 18 tahun yang berkunjung ke Poliklinik Anak RSUP Sanglah pada periode 1 Maret 2022 sampai 30 Agustus 2022. Kriteria eksklusi: usia < 1 tahun dan orangtua tidak bersedia menandatangani informed consent. Sampel dianalisis secara deskriptif untuk melihat profil status nutrisinya. Hasil: penelitian ini mendapatkan sebanyak 60 sampel penelitian dengan median usia 3,79 (rentang 1-17,89) tahun. yang terdiri dari 26 (43,3%) laki-laki dan 34 (56,7%) perempuan. Sebanyak 21 (35%) anak didapatkan dengan gizi baik, 13 (21,7%) anak dengan gizi kurang, 21 (35%) anak dengan gizi buruk, 2 (3,3%) anak berisiko gizi lebih, 2 (3,3%) anak gizi lebih, dan 1 (1,7%) anak obes. Severely stunted terdapat pada 27 (45%) anak, stunted sebanyak 12 (20%) anak, dan normal terdapat pada 21 (35%) anak. Simpulan: kejadian malnutrisi akut dan kronis cukup tinggi pada pasien anak dengan PS di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali.
GAMBARAN STATUS KONTROL ASMA DAN KUALITAS HIDUP ANAK DENGAN ASMA DI RSUP PROF. DR. I.G.N.G NGOERAH DENPASAR DAN RSUD WANGAYA DENPASAR TAHUN 2020-2021 Nurliandari, Nia; Witarini, Komang Ayu; Mayangsari, Ayu Setyorini Mestika; Pratiwi, I Gusti Ayu Putu Eka
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i12.P03

Abstract

Asthma is a chronic and emergency disease in children. Uncontrolled asthma in children can affect the quality of life of children and even lead to death. Bali is the province with the third highest prevalence of asthma after the Special Region of Yogyakarta and East Kalimantan. However, data regarding the description of asthma control status and quality of life of children with asthma in Bali, especially in Denpasar, are still limited. Therefore, the authors want to know the overview of asthma control status and quality of life of children with asthma at Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Hospital Denpasar and Wangaya Hospital Denpasar in 2020-2021. The design of this research is descriptive observational with a cross-sectional approach. After the approval of the constitutional ethics committee, all children aged 6-11 years with asthma at the Outpatient and Inpatient Respirology Pediatric Clinic Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Hospital Denpasar and Wangaya Hospital Denpasar in 2020-2021 which is recorded in a complete medical record and has approval for participation in the study by parents/guardians (n=32) will be given a questionnaire containing the child and parent’s biodata, Childhood Asthma Control Test (C-ACT) to assess asthma control status, and Pediatric Quality of Life (PedsQL) to assess children's quality of life through an electronic form. Based on asthma control status, the results showed that 27 children (84.4%) had fully controlled asthma control status and 5 children (15.6%) had partially controlled asthma control status. In controlled asthma control status, all children were male. The majority of children (3 children) have poor nutritional status and some (2 children) have obese nutritional status. All children have a family history of asthma. Most of the children's parents have the latest education in college (3 children), senior high school (1 child), and elementary school (1 child). All parents of children have jobs and most of them (3 parents of children) have salaries above the minimum wage. Based on the quality of life, there were 4 children (12.5%) with a disturbed quality of life and 28 (87.5%) children with an undisturbed quality of life. In terms of quality of life, there were 2 children, male and female, respectively. The majority of these children had good nutritional status (2 children) and did not have a family history of asthma (3 children). The parents of the 2 children have the last education in elementary school, while the other 2 parents have the last education in college. All of the children's parents have jobs and the majority (3 parents of children) have salaries above the minimum wage. Further research is needed with a larger sample size and should be carried out prospectively so that the data obtained is more complete.
Disease-related malnutrition in children and role of oral nutrition supplement: - Sidiartha, I Gusti Lanang; Pratiwi, I Gusti Ayu Putu Eka; Subanada, Ida Bagus
Paediatrica Indonesiana Vol. 63 No. 6 (2023): November 2023
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi63.6.2023.450-5

Abstract

Background Disease-related malnutrition (DRM) is a common complication in chronic diseases. An oral nutrition supplement (ONS) is a formula with high energy density which is commonly used to treat malnutrition. Objective To identify the prevalence of DRM in children with chronic disease and evaluate the benefits of ONS. Methods A retrospective study was conducted at Prof. IGNG Ngoerah Hospital, Denpasar, Bali. Data were collected from medical records of patients who were admitted from January to December 2021. Inclusion criteria were patients aged 1-18 years with chronic diseases. Patients with organomegaly, edema, and incomplete medical record data were excluded. Disease-related malnutrition was defined as weight-for-height (for < 5 years of age) or BMI-for-age < -2SD (for > 5 years of age), according to the WHO growth charts. Subjects who received ONS for more than 80% of total energy during hospitalization were classified as part of the ONS group and the rest as standard group. Several variables between ONS and standard group were analyzed and considered significant if P value < 0.05. Results Of 313 subjects with chronic disease, 139 (44.4%) were diagnosed with DRM. Among of 139 subjects with DRM, a total of 64 subjects were analyzed in the ONS and standard feeding groups. No significant difference was found between groups with regards to age, gender, weight, height, white blood cell count, and lymphocyte cell count. Subjects with severe malnutrition significantly more classified as an ONS group than subjects with moderate malnutrition (P=0.001). Mean length of hospital stay was significantly shorter in the ONS group [11.8 (SD 6.7) days] than in the standard group [16.1 (SD 6.6) days]; (P=0.012). Conclusion Malnutrition related to chronic disease in children is prevalent. Use of ONS is associated with a shorter length of hospital stay. Thus, routine nutritional status assessment to identify malnutrition in children with chronic disease is needed to treat with ONS in order to improve prognoses.
CHARACTERISTICS OF BODY WEIGHT CHANGES IN PEDIATRIC TUBERCULOSIS RECEIVING ANTI-TUBERCULOSIS DRUGS AT PROF. DR. I.G.N.G. NGOERAH GENERAL HOSPITAL FROM 2021 TO 2024 Dewi, Ni Komang Ayu Renita; Mayangsari, Ayu Setyorini Mestika; Pratiwi, I Gusti Ayu Putu Eka; Gustawan, I Wayan
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.47819

Abstract

Penurunan berat badan merupakan salah satu gejala klinis yang umum pada anak penderita tuberkulosis (TB). Pemberian obat antituberkulosis (OAT) diharapkan tidak hanya menekan infeksi tetapi juga mendorong penambahan berat badan pada anak. Efektivitas pengobatan TB pada anak dapat dievaluasi melalui perbaikan gejala klinis dan penambahan berat badan. Namun, literatur tentang perubahan berat badan pada anak selama pengobatan TB masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik perubahan berat badan pada pasien TB anak yang menerima OAT di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang. Data dikumpulkan secara retrospektif menggunakan teknik total sampling melalui rekam medis dan registri pasien TB anak dari tahun 2021 hingga 2024. Analisis univariat dan bivariat digunakan dalam penelitian ini. Sebanyak 26 pasien TB anak berusia 0–18 tahun diikutsertakan, dengan mayoritas berusia 10–18 tahun dan proporsi perempuan yang sedikit lebih tinggi. Semua anak mengalami penambahan berat badan selama terapi OAT. Berat badan rata-rata meningkat secara signifikan di seluruh tahapan pengobatan (dari 28,75±11,94 kg menjadi 36,54±14,28 kg; p<0,001), dengan pertambahan tertinggi diamati selama fase intensif. Status gizi juga membaik secara signifikan, sebagaimana ditunjukkan oleh pergeseran skor-z rata-rata IMT/U dari rentang kurus parah menjadi normal (p<0,001). Terdapat peningkatan berat badan yang signifikan dan perbaikan status gizi pada akhir fase intensif dan fase lanjutan dibandingkan dengan awal pengobatan.
Prevalensi Gangguan Serum Elektrolit pada Anak Usia Bawah Lima Tahun dengan Gizi Buruk di Rumah Sakit Ngoerah Sidiartha, I Gusti Lanang; Pratiwi, I Gusti Ayu Putu Eka; Sindhughosa, Wega Upendra; Sidiartha, I Gusti Ayu Dian Noviyani
Sari Pediatri Vol 26, No 6 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.6.2025.364-9

Abstract

Latar belakang. Gizi buruk pada anak bawah lima tahun (balita) masih menjadi beban di negara berkembang. Anak balita gizi buruk perlu menjalani pemeriksaan lengkap secara klinis dan laboratoris untuk mengidentifikasi ada tidaknya tanda bahaya atau komplikasinya. Tujuan. Untuk mengetahui prevalens gangguan serum elektrolit anak balita dengan gizi buruk dan karakteristiknya.Metode. Penetilian retrospektif dengan rancangan cross-sectional menggunakan data rekam medis pasien. Kriteria gizi buruk adalah berat menurut panjang atau tinggi badan < -3 SD menurut standar WHO. Hubungan antara variabel diuji dengan uji chi-square.Hasil. Jumlah pasien yang memenuhi kriteria adalah 94 pasien, terdiri dari 56 laki (59,6%) dan 38 perempuan (40,4%), 22,3% usia dibawah 6 bulan dan 77,7% usia 6 bulan keatas. Prevalensi hiponatremia, hipokalemia, hipokalsemia dan hipokloridemia masing-masing 64,9%, 26,6%, 52,1% dan 60,6%. Gangguan elektrolit kalium signifikans lebih tinggi pada usia dibawah 6 bulan (p=0,011), sedangkan gangguan elektrolit kalsium signifikans lebih tinggi pada usia 6-59 bulan (p=042).Kesimpulan. Anak balita dengan gizi buruk mayoritas mengalami hiponatremia dan hipokalsemia. Gangguan kalium signifikans lebih tinggi pada anak gizi buruk usia dibawah 6 bulan, sedangkan gangguan kalsium signifikans lebih tinggi pada usia 6-59 bulan.