Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Utilization of Polyurethane with Bentonite-Chitosan Filler As an Anti-Corrosion Paint Izzati, Isra Adelya; Rihayat, Teuku; Putra, Alfian
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 22, No 02 (2024): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v22i02.6148

Abstract

ABSTRACTIn this study, the manufacture of polyurethane uses bentonite-chitosan filler materials to improve the ability of heat resistance. The characteristics carried out were assessed in terms of functional group analysis, heat resistance analysis, morphological structure analysis, corrosion test and paint thickness test. The coating process has the advantage of being able to protect the iron surface from environmental influences that result in corrosion of the metal. This study aims to see the effect of mixing polyurethane with Bentonite-Chitosan filler. The sample formulation used was polyurethane with variations of bentonite and chitosan of 2%, 4%, 6%, 8%. The results of the Fourier Transform Infra Red (FT-IR) test showed that there were functional groups N-H, C-H, C=O. Based on the results of the Thermogravimetry Analysis (TGA) test, the Polyurethane sample with 8% bentonite modification : chitosan 8% b/b had the best thermal stability among other samples where the sample began to degrade (on set) at a temperature of 307.04 (oC) and stopped degrading (end set) at a temperature of 399.50 (oC). In the Polyurethane sample with 2% bentonite modification/8% chitosan b/b had lower thermal stability where the sample began to degrade (onset) 293.09(oC) and stopped degrading (end set) at 348.32(oC). The results of the morphological test using SEM tools showed that the chitosan chain was well dispersed into the bentonite interlayer. The corrosion test showed that the addition of bentonite and chitosan affected the corrosion rate, the greater the composition of bentonite and chitosan, which could reduce the corrosion rate. The best sample with a ratio of Polyurethane/Bentonite/Chitosan 8:8 % b/b experienced the smallest corrosion rate of 5.79 mpy and mass loss of 0.10 grams.Keywords : Biodegradable, Corrosion, Polyurethane, Bentonite, Chitosan
Pembuatan Teh Herbal Dari Daun Sukun (Artocarpus Altilis) dan Bunga Melati (Jasminum Sambac) Humairah, Amanda; Putra, Alfian; Nahar, Nahar
Jurnal Riset, Inovasi, Teknologi & Terapan Vol 3, No 1 (2024): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/ristera.v3i1.6158

Abstract

Herbal tea is a mixture of flowers, leaves, seeds, roots, or dried fruits used as a medicinal drink. Breadfruit leaf jasmine flower herbal tea is an herbal drink made in the form of tea powder using breadfruit leaves jasmine flowers which have many benefits including, Lowering cholesterol levels, lowering high blood pressure, kidney failure, treating heart disease, stomach acid, diabetes. Herbal tea makers use variations of the withering process for (4 days, 5 days, and 6 days) and the drying method using an oven for 10 minutes at a temperature of 75 ℃. The tests carried out include yield tests, water content, ash content, antioxidant activity tests using the DPPH method, tannin tests, flavonoids and organoleptic tests. The results showed the best herbal tea at 6 days of withering and compared its composition with sample 3 (TH3). The yield obtained was very low, although there was a reduction in raw materials to the product, the quality of the tea was the best because the air obtained was in accordance with the provisions of SNI No. 3.4%. 3836. 2013 and knowing the quality of life of herbal tea which was 10.6%. antioxidants contained in herbal tea breadfruit leaves have strong antioxidant content, has been proven in the IC50 equation as much as 4.865 in accordance with the provisions of less than 50 indicating the amount of antioxidant content In herbal tea made from jasmine leaves and flowers, the tannin content is 112 mg / kg body weight per day. Testing of flavonoid samples changed color to yellow which indicates positive flavonoids in herbal breadfruit jasmine leaves.
Peningkatan Ekonomi Kreatif Masayarakat Desa Alue Lim Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe Melalui Pelatihan Pembuatan Sabun Cair Putra, Alfian; Intan, Syarifah Keumala; Majuar, Edi; Helmi, Helmi
Jurnal Vokasi Vol 2, No 1 (2018): April
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.943 KB) | DOI: 10.30811/vokasi.v2i1.671

Abstract

Salah satu bentuk peningkatan ekonomi masyarakat dilakukan dengan memberikan pelatihan yang mudah dan murah, seperti halnya pada desa Alue Liem Kecamatan Blang Mangat. Dengan tingkat perekeomian yang cukup memmadai keberadaan desa ini dilintasi oleh jalan Line Pipa dan Jalan menuju Simpang keramat sangat potensi untuk pengembangan usaha kreatif seperti pembuatan sabun cair. Pealtihan ini dilakukan oleh Tim Politeknik Negeri Lhokseumawe yang diikuti oleh ibu-ibu dan remaja putrid desa tersebut. Dari hasil pelatihan para peserta dapat melakukan pembuatan sabun caiar secara mandiri dan direncanakan adanya pemasaran dengan harga yang bersaing dengan sabun kemasan namun dengan kualitas yang sesuai dengan standar sabun yang digunakan pada umumnya. Langkah selanjutnya adalah melakukan bimbingan terhadap pengembangan usaha melalui pendampingan terhadap perijinan dan bantuan pemsaran.Kata kunci: Ekonomi, Sabun cair, Pelatihan, KreatifPENDAHULUANDesa Alu Lim Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe dengan jarak hanya lebih kuang 6 Km dari kampus Politeknik Negeri Lhokseumawe memiliki jumlah penduduk sebanyak 2939 jiwa. Sebagian besar mata pencarian penduduk-nya adalah Tukang, Buruh, Petani dan Pedagang dan rata-rata tingkat pendidikan masyarakatnya adalah Tingkat SD dan SMP. Lokasi desa ini berada pada lintasan jalan Line pipa antara Exxon Mobil ke Petra Arun Gas (PAG), sehingga ini menjadi salah satu potensi dalam pengembangan perekonomian dan peningkatan tarap hidup masyarakat.Potensi ini belum termanfaatkan secara maksimal
ROBUST SPECTRAL MODEL FOR LOW METAL CONCENTRATION MEASUREMENT IN AQUEOUS SOLUTION REVEALS THE IMPORTANCE OF WATER ABSORBANCE BANDS Putra, Alfian; Wijaya, Nanang Rahmat
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 22, No 01 (2024): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v22i01.6332

Abstract

ABSTRACT In this study, we focused on detection of metal ions at low concentration in aqueous solution by using NIRS. New “aquaphotomics” concept (Tsenkova, 2007) has become a powerful strategy to understand the spectral changes related to small concentration of solutes in aqueous solution. To improve the model accuracy it is important to understand why it is possible to detect the object of interest using NIRS. Although detectable, metals have no absorption in NIR region (Sakudo,et,al, 2007). However it is perhaps due to their vibrational modes that are modulated by forming complexes with organic molecules containing C-H, N-H and O-H bonds. Therefore, alteration of the vibrational mode of water matrix caused by metal can be detected by NIRS. In this study, we present NIR spectroscopy link to aquaphotomics as a tool to predict low concentration (0-10.mg L-1) of Mg(II), Zn(II), Mn(II) and Cd(II).Keywords : NIR spectroscopy, spectral changes, absorbance
PENANGKAPAN IKAN HIAS DENGAN MEMANFAATKAN LARUTAN DAUN TEMBAKAU (Nicotiana Tabacum L) SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI POTASIUM SIANIDA Putra, Alfian
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 22, No 01 (2024): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v22i01.6342

Abstract

ABSTRACT Penangkapan ikan dengan menggunakan senyawa beracun sudah lama dilakukan orang. Biasanya racun tersebut digunakan untuk menangkap ikan-ikan yang hidup di sekitar karang (coral reef) seperti ikan kerapu (serranidae), napoleon (cheilinius undulatus) dan berbagai jenis ikan hias. Jenis-jenis racun ikan (ichthyotoxic materials) yang digunakan berasal dari tumbuhan (ichtyotoxic plants), hewan dan bahan kimia sintesis. Diantara racun-racun tersebut, racun Sianida merupakan bahan yang paling populer dalam kegiatan penangkapan ikan karang hidup. Larutan tembakau komersial ternyata bisa digunakan untuk membius benih ikan-ikan karang di perairan sehingga dapat menggantikan peran Sianida. Dari hasil penelitian, larutan tembakau komersial dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembius ikan klon dari bahan alami, karena memiliki kandungan senyawa bioaktif nikotin. Pada penelitian ini larutan tembakau dimanfaatkan untuk penangkapan ikan melalui metode pembiusan (chemical stupefying). Konsentrasi larutan ekstrak tembakau optimum yang digunakan adalah 1.500 mg/l (ppm) dengan waktu pingsan rata- rata 1,32 menit dan mortalitas 0 %. Kata kunci : Potasium Sianida, konsentrasi, dan tembakau
PERANCANGAN ALAT PENJERNIHAN AIR GAMBUT MENJADI AIR BERSIH Putra, Alfian; Ridwan, R; Nasir, Muhammad
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 22, No 02 (2024): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v22i02.6349

Abstract

ABSTRAKAlat penjernihan air gambut ini dirancang dengan menggunakan media filter yang terdiri dari kerikil yang berdiameter rata-rata 0,5-1,5 cm setebal 15 cm di bagian bawah, pasir dengan diameter rata-rata 0,2 mm – 0,4 mm setebal 70 cm di bagian tengah dan kerikil yang berdiameter rata-rata 0,5-1,5 cm setebal 15 cm di bagian atas dapat digunakan untuk menurunkan kesadahan, Total Dissolved Solid (TDS), menetralisasikan pH dan menjernihkan warna air gambut. Berdasarkan hasil analisa sampel yang telah diolah dengan alat penjernihan air gambut, efesiensi penurunan kesadahan sebesar 24,7%, Total Dissolved Solid (TDS) sebesar 9,76% dengan tanpa koagulan dan dengan menggunakan koagulan sebesar 74%. Untuk efesiensi penetralan pH air gambut dengan menggunakan koagulan sebesar 98,4% sedangkan tanpa menggunakan koagulan sebesar 96,4% sedangkan pada perubahan warna air gambut, dengan tanpa menggunakan koagulan warna kuning-kecoklatan berubah menjadi putih, dengan menggunakan koagulan warna kuning- keclokatan menjadi putih bening.Kata kunci : Air gambut, alat penjernih air gambut ,kesadahan ,TDS, pH.
MINYAK NILAM : ARTIKEL REVIEW Rihayat, Teuku; Putra, Alfian; Elwina, E
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 22, No 02 (2024): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v22i02.6363

Abstract

ABSTRAK Minyak nilam komersial diperoleh dengan penyulingan uap daun kering tanaman herba, Pogostemon cablin Benth., milik keluarga Labiatae. Tanaman ini dikenal juga dengan nama P.patchouli Pellet.var. suavis Kait. F. Tanaman ini tumbuh liar di beberapa belahan dunia, namun praktik yang biasa dilakukan adalah membudidayakannya untuk tujuan penyulingan. Tanaman ini dibudidayakan secara luas di Indonesia, Malaysia, Cina dan Brazil untuk diambil minyaknya. Aroma nilam telah dikenal di dunia Timur selama berabad-abad. Pada suatu waktu, memberikan aroma melalui daun kering merupakan hal yang biasa dilakukan. Meskipun hal ini masih berlaku di satu atau dua daerah penghasil nilam untuk aplikasi tertentu, namun di luar negara produksinya, minyak atsiri sulingan uap merupakan media universal. Minyak nilam memiliki profil bau yang sangat kaya yang ditandai dengan hangat, manis, herba, pedas, berkayu, dan balsamic. Harganya relatif murah untuk produk alami dan biasanya tersedia dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, minyak nilam sangat banyak digunakan dalam berbagai jenis parfum. Konstituen utama penyumbang bau adalah sekelompok alkohol polisiklik. Yang paling terkenal adalah alkohol nilam, norpatchoulenol, dan nortetrapatchoulol.Kata kunci : minyak nilam, alkohol nilam, norpatchoulenol, dan nortetrapatchoulo
PEMBUATAN MEMBRAN SELULOSA ASETAT DARI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT Putra, Alfian; Irwan, I
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 22, No 01 (2024): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v22i01.6343

Abstract

ABSTRACT Membran selulosa asetat dapat dibuat dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), dengan mengkonversi TKKS menjadi pulp, dilanjutkan dengan pembentukan selulosa asetat yang akan dibuat menjadi membran. Proses pembuatan selulosa asetat dari pulp TKKS adalah dengan melakukan reaksi asetilasi selulosa, yaitu menggunakan asetat anhidrat dan asetat glasial. Metode yang digunakan adalah dengan cara inversi fasa. Kondisi optimum pada proses asetilasi didapat pada suhu 1000C dengan kadar selulosa asetat 61,4% dan kadar asetil 36,39%. Temperatur dan waktu pengadukan berpengaruh terhadap kekuatan tarik dan elongasi membran. Kekuatan tarik dan elongasi membran terbaik didapat pada kadar asetil 36,32% dengan kekuatan tarik 4,61 kgf/cm2 dan elongasi 5,23%.Kata Kunci: Pulp, asetil, inversi fasa, membran selulosa asetat.
APPLICATION OF KAOLIN-ZEOLITE CERAMIC FILTER MEMBRANE IN RECOVERING WASTE OIL INTO USABLE OIL Zaky, Muhammad; Putra, Alfian; Rahmawati, Cut Aja
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 23, No 02 (2025): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v23i02.8861

Abstract

Several membrane materials are continuously being developed to produce efficient and environmentally friendly filtration media. This study examines the application of kaolin-zeolite-based ceramic filter membranes in the process of refining used cooking oil into usable oil. The main materials used are kaolin, zeolite, and PVA as a binder. The variations in the kaolin:zeolite composition used are 50%:50%, 60%:40%, 70%:30%, 80%:20%, and 100%:0% with sintering times of 1, 2, and 3 hours at a temperature of 1000°C. Membrane characterization includes density, porosity, flux, morphology tests using a Scanning Electron Microscope (SEM), as well as the removal of Free Fatty Acids (FFA) in used cooking oil. The results showed that the composition of 50% kaolin and 50% zeolite with a sintering time of 3 hours produced the best performance with a density of 1.32 g/cm³, porosity of 56.00%, flux of 143.93 L/m².hour, and the removal capacity of ALB up to 70.6%, reducing the ALB content from 4.56% to 1.34% according to SNI standards. SEM analysis showed a macroporous structure (0.57–3.02 µm) that supports filtration, while the adsorptive properties of zeolite play a role in reducing polar compounds. These results prove that kaolin-zeolite ceramic membranes have the potential as an alternative technology in used cooking oil recovery. Keywords: Ceramic Membrane, Kaolin, Zeolite, Sintering, Flux, Free Fatty Acid, SEM.