Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

Analisis Faktor dan Variabel Kualitas Gambar Perencanaan yang Berpengaruh terhadap Keterlambatan Proyek Apartemen MN Wachid Tristanto; Jack Widjajakusuma
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.105 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i7.8487

Abstract

Dalam kegiatan proyek konstruksi, sering terjadi keterlambatan waktu pelaksanaan yang menyebabkan mundurnya proses serah terima bangunan. Pada proyek apartemen, hal ini mengakibatkan kerugian bagi perusahaan pengembang karena mundurnya serah terima unit apartemen. Keterlambatan yang terjadi disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kualitas gambar perencanaan. Dalam penelitian ini, akan dibahas mengenai faktor-faktor kualitas gambar perencanaan yang mempengaruhi penyelesaian proyek. Penelitian ini didasarkan pada jurnal dan literatur yang relevan serta penelitian langsung pada proyek apartemen MN yang ditangani oleh konsultan G menggunakan metode kuantitatif kuesioner. Kuesioner didistribusikan kepada pelaku proyek seperti pemberi tugas, konsultan manajemen konstruksi, konsultan perencana, konsultan QS, dan kontraktor. Selain berdasarkan kelompok pelaku proyek, penyebaran kuesioner juga melihat posisi atau jabatan responden di proyek tersebut. Kuesioner dipaparkan dengan menggunakan skala likert yang kemudian diolah dan dianalisis dengan metode relative importance index (RII) untuk menilai faktor yang paling mempengaruhi keterlambatan proyek. Dari hasil analisis tersebut, faktor gambar perencanaan yang mempengaruhi keterlambatan proyek apartemen MN di konsultan G yaitu gambar tapak dan tampak yang tidak jelas, gambar detail yang sulit dimengerti, gambar detail yang sulit dilaksanakan, gambar detail antara disiplin yang masih banyak perbedaan, dan gambar yang tidak konsisten. Untuk dapat memperbaiki kualitas gambar perencanaan, konsultan perencana perlu memahami standar detil gambar yang berlaku dan sudah dikeluarkan oleh kementerian PUPR dengan menerapkan sistim kontrol terhadap semua dokumen gambar perencanaan. Oleh karena hal yang penting lainnya, pada tahap perencanaan proyek, perlu ditunjuk satu koordinator perencana agar dapat memperkecil risiko perbedaan gambar antar disiplin dalam proses produksi gambar perencanaan.
Evaluasi Kinerja dengan Penerapan Metode Earned Value Analysis Terhadap Waktu dan Biaya Proyek (Studi Kasus Gedung Showroom Mobil Mewah Di Jakarta) Krishna A. Perdana; Jack Widjajakusuma
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.607 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i9.9365

Abstract

Pada proyek pembangunan showroom mobil mewah di Jakarta terjadi keterlambatan pada pekerjaan pemasangan lantai, dimana pada minggu ke 10 telah direncanakan sebelumnya bahwa kinerja pekerjaan akan mencapai mampu 100% namun pada aktualnya hanya berada pada 70,87%. Pembangunan proyek showroom mobil mewah ini direncanakan akan selesai dalam waktu 10 minggu dengan biaya sebesar Rp. 3.108.807.011 dan dengan keterbatasan waktu dan biaya tersebut mutlak dibutuhkan pengendalian yang tepat, efisien dan matang. Dengan merujuk pada knowledge base management yaitu project integration management dari referensi PMBOK sixth edition dan juga dari jurnal-jurnal yang relevan, penelitian ini bertujuan untuk membedah dan mengetahui kinerja atau performa waktu dan biaya, prediksi waktu dan estimasi biaya hingga proyek selesai dengan menggunakan metode Earned Value Analysis yang diterapkan berbasis pada data-data yang didapat dari proyek seperti jadwal pekerjaan, rencana anggaran biaya, laporan pencapaian pekerjaan, serta biaya aktual yang telah dikeluarkan. Dari hasil analisa didapati bahwa nilai CPI adalah sebesar 1,276 yang dengan CPI>1 berarti menunjukan tidak terjadinya pembengkakan biaya dan nilai SPI sebesar 0,996 yang dengan SPI<1 mengindikasikan terjadinya keterlambatan. Namun metode EVA ini tidak tepat digunakan untuk mengevaluasi pekerjaan yang meliputi pengadaan dan pemasangan dikarenakan perbedaan bobot antara kedua jenis pekerjaan yang terlampau besar.