Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Representasi Tindak Tutur Negosiasi Penjual-Pembeli di Pasar Maricayya di Kota Makassar Siti Suwadah Rimang; Maria Ulviani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.5942

Abstract

This study aims to explain variations in the use of seller refusal strategies and politeness of refusal speech acts in the context of negotiation. To realize the above objectives, this study was designed using a language functional approach with a qualitative descriptive research type. The research location was carried out in traditional markets in Makassar City. The research data is in the form of utterances. The techniques used in data collection were (1) recording and (2) interviews. Data analysis in this study used an interactive model which included the following stages: (1) data collection, (2) data reduction, (3) data presentation, and (4) verification and concluding. This method is expected to produce new theories related to the language of rejection at TKT 1-3 levels. The results of the study show that (1) the speech patterns of sellers and buyers in traditional markets in Makassar City found four patterns. Namely, call-answer patterns, request-information patterns, offer-rejection patterns, and offer-accept patterns, and (2) the forms of speech used by sellers and buyers, namely assertive speech which functions to state. Directive speech is divided into four purposes or objectives. Namely, command, beg, invite, and ask. Meanwhile, expressive speech is divided into three purposes or objectives. Namely, thanking, praising, and satirizing. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan variasi penggunaan strategi penolakan penjual dan kesantunan tindak tutur penolakan dalam konteks negosiasi. Untuk merealisasikan tujuan tersebut di atas maka, penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan fungsional bahasa dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian dilaksanakan di Pasar Maricayya Kota Makassar. Data penelitian ini berupa tuturan. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah (1) perekaman dan (2) wawancara. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif yang meliputi tahap: (1) pengumpulan data (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) verifikasi serta penarikan kesimpulan. Dengan metode tersebut, maka dapat menghasilkan teori baru yang berkenaan dengan bahasa penolakan pada level TKT 1-3. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa (1) pola tuturan penjual dan pembeli di pasar Maricayya Kota Makassr ditemukan empat pola, yaitu: pola panggilan-jawaban, pola permintaan informasi-pemberian, pola tawaran-penolakan, dan pola tawaran-penerimaan dan (2) bentuk tuturan yang digunakan oleh penjual dan pembeli, yaitu tuturan asertif yang berfungsi menyatakan. Tuturan direktif terbagi atas empat maksud atau tujuan. Yakni, memerintah, memohon, mengajak, dan meminta. Adapun, tuturan ekspresif terbagi atas tiga maksud atau tujuan, yaitu: berterima kasih, memuji, dan menyindir.
Strategi Tindak Tutur dan Kesantunan Berbahasa dalam Interaksi Digital: Analisis Pragmatik Pada Percakapan Media Sosial Siti Suwadah Rimang; Haslinda Haslinda; Maria Ulviani; Andi Adam
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8595

Abstract

This study is motivated by the complexity of language use in digital interactions, particularly on social media, where variations of meaning, politeness strategies, and pragmatic failures frequently occur. The main problem addressed in this study concerns how speech act and politeness strategies are employed in social media conversations and how context influences meaning interpretation in digital interaction. This study aims to identify types of speech acts, describe politeness and impoliteness strategies, and explain the role of context in constructing meaning in social media discourse. This research employs a descriptive qualitative approach with a pragmatic perspective. The data consist of 120 utterances collected from Instagram and Twitter/X through documentation and non-participant observation techniques conducted from January to March 2025. Data analysis was carried out through speech act identification, politeness strategy analysis, contextual interpretation, and conclusion drawing. The findings reveal that directive speech acts are the most dominant with 46 data (38.3%), followed by expressive speech acts with 34 data (28.3%) and representative speech acts with 25 data (20.8%). The politeness strategies identified include both positive and negative politeness, as well as the use of multimodal elements such as emojis to reinforce pragmatic meaning and reduce threats to the interlocutor’s face. In addition, impoliteness strategies were also found to function as expressions of emotion, criticism, and group solidarity. The study further indicates that limited contextual cues and the absence of nonverbal signals in digital communication may lead to pragmatic failure, including both pragmalinguistic failure and sociopragmatic failure. Therefore, this study highlights the importance of pragmatic competence in achieving effective, polite, and contextual communication in the digital era. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kompleksitas penggunaan bahasa dalam interaksi digital, khususnya pada media sosial yang memungkinkan terjadinya variasi makna, strategi kesantunan, dan kegagalan pragmatik. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana strategi tindak tutur dan kesantunan digunakan dalam percakapan media sosial serta bagaimana konteks memengaruhi interpretasi makna dalam interaksi digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tindak tutur, mendeskripsikan strategi kesantunan dan ketidaksantunan, serta menjelaskan peran konteks dalam membentuk makna ujaran di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif pragmatik. Data berupa 120 tuturan yang diperoleh dari Instagram dan Twitter/X melalui teknik dokumentasi dan observasi non-partisipatif selama Januari–Maret 2025. Analisis data dilakukan melalui tahap identifikasi tindak tutur, analisis strategi kesantunan, interpretasi konteks, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur yang dominan adalah direktif sebanyak 46 data (38,3%), ekspresif sebanyak 34 data (28,3%), dan representatif sebanyak 25 data (20,8%). Strategi kesantunan yang ditemukan meliputi kesantunan positif dan negatif, serta penggunaan unsur multimodal seperti emoji untuk memperkuat makna pragmatik dan mengurangi ancaman terhadap face mitra tutur. Selain itu, ditemukan pula strategi ketidaksantunan (impoliteness) yang berfungsi sebagai ekspresi emosi, kritik, dan solidaritas kelompok. Penelitian ini juga menemukan bahwa keterbatasan konteks dan minimnya isyarat nonverbal dalam komunikasi digital dapat menyebabkan kegagalan pragmatik, baik dalam bentuk pragmalinguistic failure maupun sociopragmatic failure. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya kompetensi pragmatik dalam membangun komunikasi yang efektif, santun, dan kontekstual di era digital.
Transformasi Nilai Siri' Na Pacce dalam Sastra Digital: Kritik Sastra Interdisipliner Maria Ulviani; Siti Suwadah Rimang; Haslinda Haslinda; Ruhaliah Ruhaliah
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4995.355-366

Abstract

This study aims to analyze the representation and transformation of Siri’ na Pacce values in digital literature through the perspective of interdisciplinary literary criticism. The research employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach because the object of study consists of digital literary texts containing cultural representation, social identity, and meaning transformation within digital media contexts. The research data comprise 12 digital literary texts, including digital short stories, online poetry, and literary narratives on social media platforms published between 2020 and 2025. Data collection techniques were conducted through documentation studies and digital tracing using keywords related to Siri’ na Pacce, digital literature, and Bugis-Makassar culture. Data analysis employed content analysis, social semiotics, and hermeneutic interpretation by integrating perspectives from literary studies, cultural studies, and digital media. The findings reveal that Siri’ na Pacce values continue to be represented in digital literature, although they experience transformations in meaning due to the influence of digital culture and social media. The value of siri’, which traditionally emphasized collective honor, shifts toward representations of personal identity and digital existence, while pacce transforms from direct social solidarity into virtual empathy expressed through online interactions. In addition, digital literature presents cultural representations that are more multimodal, interactive, and contextual than conventional literature. This study demonstrates that local wisdom is dynamic and adaptable to technological developments. Therefore, digital literature functions not only as a medium of contemporary literary expression but also as a space for reinterpretation and preservation of local cultural identity in a global society. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi dan transformasi nilai Siri’ na Pacce dalam sastra digital melalui perspektif kritik sastra interdisipliner. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis karena objek kajian berupa teks sastra digital yang mengandung representasi budaya, identitas sosial, dan transformasi makna dalam konteks media digital. Data penelitian berupa 12 teks sastra digital yang terdiri atas cerpen digital, puisi daring, dan narasi sastra media sosial yang dipublikasikan pada berbagai platform digital periode 2020–2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan penelusuran digital (digital tracing) dengan menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan Siri’ na Pacce, sastra digital, dan budaya Bugis-Makassar. Analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis), semiotika sosial, dan interpretasi hermeneutik dengan mengintegrasikan perspektif sastra, studi budaya, dan media digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Siri’ na Pacce tetap direpresentasikan dalam sastra digital, tetapi mengalami transformasi makna akibat pengaruh budaya digital dan media sosial. Nilai siri’ yang sebelumnya berorientasi pada kehormatan kolektif berubah menjadi representasi identitas personal dan eksistensi digital, sedangkan nilai pacce mengalami pergeseran dari solidaritas sosial langsung menjadi empati virtual melalui interaksi daring. Selain itu, sastra digital menghadirkan bentuk representasi budaya yang lebih multimodal, interaktif, dan kontekstual dibandingkan sastra konvensional. Penelitian ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bersifat dinamis dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Dengan demikian, sastra digital tidak hanya menjadi media ekspresi sastra kontemporer, tetapi juga menjadi ruang reinterpretasi dan pelestarian identitas budaya lokal dalam masyarakat global.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PENGAJARAN BAHASA INDONESIA (BIPA) DENGAN PENDEKATAN INTERAKTIF UNTUK MAHASISWA Munirah; Ratnawati; Siti Suwadah Rimang; Suhaila Binsamaae; Ananda Aulia
Masyarakat: Jurnal Pengabdian Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Pendidikan Dan Pengembangan Harapan Ananda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58740/m-jp.v3i1.700

Abstract

Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) memerlukan pendekatan yang komunikatif dan kontekstual agar mampu meningkatkan kompetensi berbahasa dan kepercayaan diri pembelajar. Namun, pembelajaran BIPA di beberapa perguruan tinggi luar negeri masih cenderung berfokus pada hafalan kosakata dan tata bahasa, sehingga kurang mengembangkan kemampuan komunikatif mahasiswa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia mahasiswa BIPA tingkat pemula melalui pelatihan dan pendampingan pengajaran dengan pendekatan interaktif. Program dilaksanakan di Yala Rajabhat University, Thailand, selama empat minggu dengan delapan kali pertemuan dan melibatkan 20–25 mahasiswa. Metode pelaksanaan meliputi pengenalan bahasa dasar, penguatan keterampilan berbicara dan menyimak, integrasi pembelajaran budaya, pengembangan literasi membaca dan menulis, serta peningkatan motivasi belajar melalui media digital dan pembelajaran berbasis proyek. Evaluasi dilakukan melalui observasi terstruktur dengan membandingkan kondisi awal dan akhir peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pada seluruh aspek kemampuan berbahasa, terutama penguasaan kosakata dan keterampilan berbicara, serta meningkatnya pemahaman budaya dan motivasi belajar mahasiswa. Program ini disimpulkan efektif dalam meningkatkan kompetensi komunikatif mahasiswa BIPA dan berpotensi direplikasi pada konteks pembelajaran BIPA lainnya.
Representasi Feminisme dalam Film Level 16 Karya Danishka Esterhazy Kajian Semiotika Stuart Hall Nurhidayat Alip Alawi; Siti Suwadah Rimang; Abdul Munir
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8319

Abstract

This study aims to identify the dominant, negotiating, and oppositional positions in the film Level 16 in representing women's struggles against patriarchal power. The method used is qualitative content analysis with observation techniques and visual documentation of scenes, dialogues, and symbols that appear in the film. Primary data is the film Level 16, while secondary data is obtained from feminist theory literature and media studies. Stuart Hall's representation theory is used to identify three positions of reading meaning, namely dominant, negotiating, and oppositional. The results of the study show that the dominant position is displayed through institutional control over the bodies and behavior of girls in the academy. The negotiating position is seen from the main character's doubts about the system, while the oppositional position is manifested in acts of resistance and escape. This study confirms that Level 16 symbolically conveys criticism of the patriarchal and capitalist systems through the construction of a dystopian narrative. These findings reinforce the relevance of social feminism theory and media representation in shaping gender awareness. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi posisi dominan, negosiasi, dan oposisi dalam film Level 16 dalam merepresentasikan perjuangan perempuan terhadap kekuasaan patriarkal. Metode yang digunakan adalah analisis isi kualitatif dengan teknik observasi dan dokumentasi visual terhadap adegan, dialog, serta simbol-simbol yang muncul dalam film. Data primer berupa film Level 16, sementara data sekunder diperoleh dari literatur teori feminisme dan kajian media. Teori representasi Stuart Hall digunakan untuk mengidentifikasi tiga posisi pembacaan makna, yakni dominan, negosiasi, dan oposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi dominan ditampilkan melalui kontrol institusi terhadap tubuh dan perilaku perempuan-perempuan dalam akademi. Posisi negosiasi terlihat dari keraguan karakter utama terhadap sistem, sedangkan posisi oposisi terwujud dalam tindakan perlawanan dan pelarian. Penelitian ini menegaskan bahwa film Level 16 secara simbolik menyampaikan kritik terhadap sistem patriarki dan kapitalistik melalui konstruksi narasi distopia. Temuan ini memperkuat relevansi teori feminisme sosial dan representasi media dalam membentuk kesadaran gender.
Aru Makassar: Pergeseran Makna dari Sumpah Kesetiaan Prajurit ke Seremonial Sosial Kontemporer Haslinda Haslinda; Maria Ulviani; Siti Suwadah Rimang
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1712

Abstract

This study aims to analyze the transformation of the meaning of Aru, a traditional symbolic oath in Makassar culture, and to identify the socio-cultural factors influencing its shift from a sacred warrior’s pledge of loyalty to a contemporary ceremonial symbol. The research employs a qualitative descriptive approach with an ethnographic orientation. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with traditional leaders, cultural practitioners, and academics, as well as document analysis. The data were analyzed using thematic analysis, involving data familiarization, coding, categorization of themes, interpretation based on cultural symbolic theory, and conclusion drawing. The findings indicate that the meaning of Aru has undergone significant transformation due to modernization, changes in social structure, declining cultural literacy, and the commodification of cultural symbols. Consequently, Aru is increasingly positioned as an aesthetic and ceremonial element rather than a sacred cultural symbol rooted in historical and spiritual values. This study emphasizes the importance of cultural revitalization through education, documentation, and community-based cultural preservation to maintain the symbolic integrity of Aru in contemporary Makassar society. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi makna Aru, yaitu sumpah simbolik dalam budaya Makassar, serta mengidentifikasi faktor-faktor sosial budaya yang memengaruhi pergeserannya dari sumpah kesetiaan sakral prajurit kepada raja menjadi simbol seremonial dalam praktik budaya kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan orientasi etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, budayawan, dan akademisi, serta studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tahapan familiarisasi data, proses pengkodean, pengelompokan tema, interpretasi berdasarkan teori simbolik budaya, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergeseran makna Aru dipengaruhi oleh modernisasi, perubahan struktur sosial, rendahnya literasi budaya, serta komodifikasi simbol budaya. Akibatnya, Aru lebih banyak berfungsi sebagai elemen estetis dan seremonial dibandingkan sebagai simbol sakral yang mengandung nilai historis dan spiritual. Penelitian ini menegaskan pentingnya revitalisasi nilai budaya melalui pendidikan, dokumentasi, dan pelestarian berbasis komunitas untuk menjaga keutuhan makna simbol Aru dalam masyarakat Makassar kontemporer.
KECERDASAN BUATAN DAN LITERASI KRITIS: REFLEKSI HUMANIORA PADA LAYANAN UPT PERPUSTAKAAN DAN PENERBITAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Maria Ulviani; Siti Suwadah Rimang
Pustakaloka Vol. 18 No. 1 (2026): Pustakaloka
Publisher : UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v18i1.13277

Abstract

This study examines the integration of Artificial Intelligence (AI) into university library services from a humanities perspective, with a focus on critical literacy development. It analyzes how AI technologies—such as generative AI, recommendation systems, and interactive chatbots—support students' and librarians' abilities at Universitas Muhammadiyah Makassar to critically interpret, evaluate, and reflect on information. Employing a qualitative descriptive approach with content analysis, this study draws on literature analysis, document analysis, and semi-structured interviews to identify practices, opportunities, and challenges in implementing AI within library services. The findings indicate that integrating AI with a humanistic approach supports the development of students' critical thinking, ethical reasoning, and evaluative skills while transforming information-seeking and utilization processes from passive activities into reflective learning experiences. The study highlights that AI serves not merely as a technological tool but also as a pedagogical medium that supports critical, ethical, and humanistic literacy. This study contributes by formulating strategies for integrating AI with critical literacy and humanities values while providing practical guidance for academic libraries in balancing technological innovation with educational ethics and reflective learning.
KRITIK MORAL DALAM KARYA PUISI SISWA SEBAGAI MEDIA PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA Maria Ulviani; Siti Suwadah Rimang; Haslinda Haslinda
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 2 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JULI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i2.22733

Abstract

This study aims to describe the forms of moral criticism found in students’ poems and explain their function as a medium for strengthening the values of the Pancasila Student Profile. The research employed a descriptive qualitative approach with a content analysis method on 25 poems written by students of SMP Unismuh Makassar, South Sulawesi. Data were collected through documentation studies, interviews, and classroom observations during literature learning activities. The results indicate that students’ poems contain three main types of moral criticism: criticism of social behavior, personal morality, and environmental ethics. The moral values expressed in these poems reflect the core dimensions of the Pancasila Student Profile, including critical reasoning, faith in God Almighty, and mutual cooperation. Through their poems, students express sensitivity toward social realities while fostering moral awareness and national character. Thus, students’ poetry serves as an effective educational medium to cultivate Pancasila-based character values.