Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH MEDIA SOSIAL DAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA TERHADAP TRANSFORMASI BUDAYA BADUY LUAR Arya Aditya Natayuda; Hanindyalaila Pienrasmi
Jurnal Komunikasi Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Komunikasi
Publisher : ADISAM PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.20205855

Abstract

This study examines the influence of social media and intercultural communication on cultural transformation within the Outer Baduy community. The research departs from concerns regarding the tension between technological modernization and the preservation of indigenous cultural identity. Using a quantitative survey approach, data were collected from 390 respondents through structured questionnaires. Social media and intercultural communication were treated as independent variables, while cultural transformation served as the dependent variable. Data were analyzed using validity and reliability testing, classical assumption tests, multiple linear regression, t-tests, and F-tests. The findings indicate that social media significantly affects cultural transformation (t = 7.374; p < 0.05), while intercultural communication also has a significant effect (t = 6.640; p < 0.05). Simultaneously, both variables show significant influence on cultural transformation (F = 12.743; p < 0.05). The study reveals that technological openness and intercultural interaction contribute to shifts in identity, values, and social behavior among the Outer Baduy community. However, these transformations tend to occur through adaptive cultural negotiation rather than through erosion of traditional identity. This research contributes to communication studies by demonstrating that digital media can function not only as a driver of modernization but also as a medium for cultural adaptation.
Persuasive Communication Of The Ruang Pangan Community In Food Rescue Programs Rosa Destriani; Hanindyalaila Pienrasmi; Noning Verawati
Dharmawangsa: International Journal of the Social Sciences, Education and Humanitis Vol 7, No 1 (2026): Social Sciences, Education and Humanities
Publisher : Universitas Dharmawangsa Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/ijsseh.v7i1.8170

Abstract

Food waste has become a serious environmental and social issue in Indonesia, encouraging the emergence of community-based initiatives focused on food rescue. This study was conducted to examine how persuasive communication is implemented by the Ruang Pangan community in the Food rescue program to build awareness and understanding among partners and beneficiaries. The research employed a qualitative descriptive approach. Data were collected through in-depth interviews with key informants, including founders, campaign teams, partners, and beneficiaries, as well as observation and documentation. The findings show that persuasive communication in the Food rescue program is carried out through a gradual and contextual process that emphasizes clarity of messages, audience-oriented language, and direct interaction. Communication with partners focuses on introducing the program’s concept, work mechanism, and social benefits, supported by the use of social media as an initial communication medium and followed by direct meetings to strengthen understanding and trust. Meanwhile, communication with beneficiaries is conducted through face-to-face interaction accompanied by simple educational messages that explain the purpose of food rescue, the origin of surplus food, and its environmental impact. As a result, beneficiaries do not merely receive food assistance but also gain awareness of the value of food and the importance of reducing food waste. Overall, the study concludes that persuasive communication plays a significant role in shaping shared understanding and meaningful participation in community-based food rescue initiatives, contributing to the development of communication studies in the context of social and environmental campaigns.
Tipologi Komunikasi Orang Tua-Anak Pasca Perceraian pada Remaja Perempuan Fanesa Melifika; Budhi Waskito; Hanindyalaila Pienrasmi
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 3 (2026): EduTIK : Juni 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i3.405

Abstract

ABSTRAK              Perceraian orang tua tidak hanya mengubah struktur keluarga, tetapi juga membentuk ulang sistem komunikasi antara orang tua dan anak. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengalaman remaja perempuan dalam mengelola komunikasi dengan orang tua setelah perceraian serta merumuskan tipologi komunikasi keluarga pasca perceraian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap tiga remaja perempuan dari keluarga bercerai di sebuah sekolah menengah kejuruan di Pringsewu, Lampung, serta didukung wawancara dengan orang tua/wali dan guru bimbingan konseling. Hasil penelitian menunjukkan tiga pola utama, yaitu komunikasi terjaga, komunikasi terbatas, dan komunikasi terputus. Komunikasi terjaga memperlihatkan keberlanjutan akses kepada kedua orang tua, tetapi berisiko menempatkan anak sebagai perantara pesan. Komunikasi terbatas menunjukkan hubungan yang masih ada tetapi cenderung fungsional dan selektif. Komunikasi terputus ditandai minimnya kontak dengan salah satu orang tua, disertai penarikan diri emosional. Temuan ini menegaskan bahwa remaja bukan korban pasif, melainkan pengelola batas privasi dalam perubahan sistem keluarga. ABSTRACT               Parental divorce does not only change family structure, but also reorganizes the communication system between parents and children. This study aims to analyze how adolescent girls manage communication with parents after divorce and to formulate a typology of post-divorce family communication. The study employs a qualitative phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews with three adolescent girls from divorced families at a vocational high school in Pringsewu, Lampung, Indonesia, supported by interviews with parents/guardians and a school counselor. The findings indicate three main patterns: maintained communication, limited communication, and disrupted communication. Maintained communication shows continued access to both parents, but may place the child as a message mediator. Limited communication refers to contact that remains available but becomes functional, selective, and emotionally uneven. Disrupted communication is characterized by minimal contact with one parent, emotional withdrawal, and unmet support. The study argues that adolescents are not merely passive victims of divorce, but active managers of privacy boundaries within changing family systems.
Komunikasi Penanggulangan Bencana Banjir dan Pengaruhnya Terhadap Perilaku Tanggap Bencana Masyarakat Desa Tangguh Bencana di Kabupaten Pringsewu Naswa Rahmadita; Budhi Waskito; Hanindyalaila Pienrasmi
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 3 (2026): EduTIK : Juni 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i3.430

Abstract

ABSTRAK Bencana banjir yang sering terjadi di Kabupaten Pringsewu menuntut tingkat kesiapsiagaan masyarakat yang tinggi, di mana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berperan aktif melalui Program Desa Tangguh Bencana (Destana). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh komunikasi penanggulangan bencana, yang mencakup komunikator (X1), isi pesan (X2), media (X3), dan karakteristik masyarakat (X4), terhadap perilaku tanggap bencana masyarakat (Y) yang dikaji melalui aspek kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan penyebaran kuesioner berskala Likert kepada 63 responden yang dipilih melalui simple random sampling dari populasi anggota Destana di tiga desa (Kresnomulyo, Kresnomulyo Barat, dan Yogyakarta Selatan). Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial hanya isi pesan (X2) dan karakteristik masyarakat (X4) yang berpengaruh signifikan terhadap perilaku tanggap bencana, sedangkan komunikator (X1) dan media (X3) tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Secara simultan, keempat variabel memberikan kontribusi sebesar 65,1% terhadap variasi perilaku tanggap bencana (R²=0,651). Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi kebencanaan lebih ditentukan oleh kejelasan, relevansi, dan daya persuasif isi pesan serta karakteristik internal masyarakat. Implikasi praktis penelitian ini memberikan rekomendasi strategi komunikasi berbasis lokalitas dan kebutuhan masyarakat bagi BPBD Kabupaten Pringsewu. ABSTRACT Flood disasters that frequently occur in Pringsewu Regency demand a high level of community preparedness, with the Regional Disaster Management Agency (BPBD) playing an active role through the Disaster-Resilient Village Program (Destana). This study analyzes the influence of disaster communication, comprising communicator credibility (X1), message content (X2), media (X3), and community characteristics (X4), on community disaster response behavior (Y), assessed through cognitive, affective, conative, and psychomotor aspects. A quantitative approach was employed using Likert-scale questionnaires distributed to 63 respondents selected via simple random sampling from Destana members in three villages (Kresnomulyo, Kresnomulyo Barat, and Yogyakarta Selatan). Data were analyzed using multiple linear regression with SPSS 25. Results indicate that only message content (X2) and community characteristics (X4) have a significant partial influence on disaster response behavior, while communicator (X1) and media (X3) show no significant effect. Simultaneously, all four variables account for 65.1% of the variance in disaster response behavior (R²=0.651). These findings suggest that the effectiveness of disaster communication is primarily determined by the clarity, relevance, and persuasiveness of message content and the internal characteristics of the community. Practical implications include recommendations for locality-based and community-needs-oriented communication strategies for BPBD Pringsewu Regency.
Makna Warna Oranye pada Logo E-Commerce Shopee dari Perspektif Semiotika Komunikasi Visual Ferdinand de Saussure M. Denu Poyo; M. Haikal Junior; Hanindyalaila Pienrasmi
JUSTICE: Journal of Social and Political Science Vol 5 No 2 (2026): JUSTICE: Journal of Social and Political Science
Publisher : JUSTICE Journal Of Social and Political Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51792/w5xtj458

Abstract

The rapid development of digital technology has positioned visual communication as a crucial instrument in building brand identity, particularly within the highly competitive e-commerce industry. As one of the largest ecommerce platforms in Indonesia, Shopee utilizes orange as the dominant element of its visual identity, serving as a medium for conveying messages and shaping brand image. This study aims to analyze the meaning of the orange color in the Shopee logo from the perspective of Ferdinand de Saussure’s visual communication semiotics. The theoretical framework employed includes visual communication theory, Ferdinand de Saussure’s semiotic theory focusing on the relationship between the signifier and the signified, as well as visual color theory and color psychology. This research adopts an interpretive paradigm with a qualitative descriptive approach and semiotic analysis as its primary method. Data were collected through visual document observation of the official Shopee logo, in-depth interviews with informants consisting of graphic design practitioners, branding practitioners, visual communication academics, and active Shopee users, and were supported by relevant literature studies. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing, with validity ensured through source triangulation, technique triangulation, and member checking. The findings indicate that the orange color in the Shopee logo functions as a signifier representing energy, enthusiasm, warmth, creativity, optimism, and closeness to users. These meanings contribute to establishing a strong visual identity, enhancing brand recall, and reinforcing Shopee’s image as a modern, dynamic, accessible, and consumer-oriented e-commerce platform. 
Komunikasi Inovasi Pelayanan Kunjungan Simpatik Pasien Ortotik Prostetik (Studi Kasus Hubungan Masyarakat Rumah Sakit Imanuel Way Halim) Ephytania Malau; Budhi Waskito; Hanindyalaila Pienrasmi
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 4 (2026): EduTIK : Agustus 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i4.500

Abstract

ABSTRAK  Penelitian ini mengkaji proses komunikasi inovasi dalam Program Pelayanan Kunjungan Simpatik Pasien Ortotik dan Prostetik di RS Imanuel Bandar Lampung. Program ini merupakan inovasi layanan kesehatan yang bertujuan menjaga komunikasi serta memperkuat hubungan antara rumah sakit dan pasien pengguna alat ortotik dan prostetik. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis penelitian mengacu pada Teori Difusi Inovasi Rogers dan Model Komunikasi Simetris Dua Arah Grunig. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komunikasi inovasi berlangsung melalui tahapan pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Pasien memberikan persepsi positif terhadap program karena mampu menyediakan informasi, dukungan emosional, serta pemantauan berkelanjutan penggunaan alat ortotik dan prostetik. Program ini juga memenuhi karakteristik inovasi berupa keunggulan relatif, kesesuaian, kemudahan penerapan, kemampuan diuji coba, dan mudah diamati. Selain itu, komunikasi dua arah antara rumah sakit dan pasien memungkinkan terjadinya umpan balik yang mendukung perbaikan layanan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Program Pelayanan Kunjungan Simpatik merupakan inovasi komunikasi kesehatan yang efektif dalam meningkatkan kualitas pelayanan yang berpusat pada pasien melalui komunikasi yang kolaboratif dan responsif. ABSTRACT  This study examines the innovation communication process of the Sympathetic Visit Service Program for Orthotic and Prosthetic Patients at Imanuel Hospital Bandar Lampung. The program was developed as an innovative healthcare service aimed at maintaining communication and strengthening relationships between the hospital and patients using orthotic and prosthetic devices. This research employed a qualitative case study approach, with data collected through in-depth interviews, observations, and documentation. The analysis was guided by Rogers’ Diffusion of Innovations Theory and Grunig’s Two-Way Symmetrical Communication Model. The findings reveal that the innovation communication process followed the stages of knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. Patients generally perceived the program positively because it provided information, emotional support, and continuous monitoring of orthotic and prosthetic device use. The program also demonstrated innovation characteristics, including relative advantage, compatibility, simplicity, trialability, and observability. Furthermore, two-way communication between the hospital and patients facilitated feedback exchange and service improvement. The study concludes that the Sympathetic Visit Service Program is an effective healthcare communication innovation that contributes to enhancing patient-centered service quality through collaborative and responsive communication practices.
Pengaruh Identitas Digital dan Kehidupan Nyata terhadap Pembentukan Opini Publik (Studi Kasus pada Media Sosial Komunitas Putri Hijabfluencer Lampung) Della Natalia; Wawan Hernawan; Hanindyalaila Pienrasmi
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 4 (2026): EduTIK : Agustus 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i4.529

Abstract

ABSTRAK  Pertumbuhan pesat media sosial telah mengubah cara individu berinteraksi dan bertukar informasi, yang pada gilirannya memengaruhi proses pembentukan opini publik. Dalam lingkungan digital ini, influencer telah muncul sebagai figur penting yang mampu membentuk persepsi audiens melalui konten yang mereka bagikan. Studi ini bertujuan untuk meneliti pengaruh identitas digital dan identitas kehidupan nyata terhadap pembentukan opini publik berdasarkan persepsi audiens terhadap akun media sosial komunitas Putri HijabFluencer Lampung. Identitas digital mengacu pada cara influencer menampilkan diri, berkomunikasi dengan audiens mereka, dan membangun citra mereka melalui platform media sosial. Sementara itu, identitas kehidupan nyata mengacu pada konsistensi antara citra yang ditampilkan secara online dan perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang melibatkan 398 responden yang dipilih menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling (PRS). Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas digital memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pembentukan opini publik. Identitas kehidupan nyata juga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pembentukan opini publik. Secara simultan, identitas digital dan identitas kehidupan nyata ditemukan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pembentukan opini publik. Nilai koefisien determinasi (R Kuadrat) sebesar 0,642 menunjukkan bahwa 64,2% variasi dalam pembentukan opini publik dapat dijelaskan oleh identitas digital dan identitas kehidupan nyata, sedangkan sisanya 35,8% dipengaruhi oleh faktor lain di luar cakupan penelitian ini. Selain itu, identitas digital ditemukan memiliki pengaruh yang lebih dominan daripada identitas kehidupan nyata dalam membentuk opini publik di kalangan pengikut komunitas Putri HijabFluencer Lampung. ABSTRACT  The rapid growth of social media has transformed the way individuals interact and exchange information, which in turn influences the process of public opinion formation. In this digital environment, influencers have emerged as important figures capable of shaping audience perceptions through the content they share. This study aimed to examine the influence of digital identity and real-life identity on public opinion formation based on audience perceptions of the social media accounts of the Putri HijabFluencer Lampung community. Digital identity refers to the way influencers present themselves, communicate with their audiences, and construct their image through social media platforms. Meanwhile, real-life identity refers to the consistency between the image displayed online and the behavior demonstrated in everyday life. This study employed a quantitative approach involving 398 respondents selected using the Proportionate Stratified Random Sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using multiple linear regression analysis. The results showed that digital identity had a positive and significant effect on public opinion formation. Real-life identity also had a positive and significant effect on public opinion formation. Simultaneously, digital identity and real-life identity were found to have a positive and significant effect on public opinion formation. The coefficient of determination (R Square) value of 0.642 indicated that 64.2% of the variation in public opinion formation could be explained by digital identity and real-life identity, while the remaining 35.8% was influenced by other factors outside the scope of this study. In addition, digital identity was found to have a more dominant influence than real-life identity in shaping public opinion among followers of the Putri HijabFluencer Lampung community.
Makna Komunikasi Nonverbal pada Tari Sekar Wawai Dwi Ayu Saraswati; Hanindyalaila Pienrasmi; M. Denu Poyo
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 4 (2026): EduTIK : Agustus 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i4.536

Abstract

ABSTRAK Tari Sekar Wawai merupakan seni tari yang menggambarkan akulturasi budaya Bali dan Lampung sekaligus bertindak sebagai media komunikasi nonverbal melalui ragam gerak, busana, ekspresi, dan musik. Namun, makna yang terkandung dalam gerak tarian tersebut belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat sehingga memunculkan perbedaan pemaknaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna komunikasi nonverbal yang terdapat dalam ragam gerak Tari Sekar Wawai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang dilandasi oleh Teori Interaksi Simbolik dan konsep komunikasi nonverbal. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara bersama informan yang dipilih secara purposive serta dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna komunikasi nonverbal pada ragam gerak Tari Sekar Wawai merupakan wujud nyata dari akulturasi, kerukunan, keharmonisan, dan toleransi antarbudaya Bali dan Lampung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tarian ini mampu menjadi jembatan perdamaian yang membuktikan bahwa keberagaman etnis di Lampung dapat bersatu dan hidup berdampingan secara rukun melalui inovasi seni. ABSTRACT The Sekar Wawai dance reflects the cultural acculturation of Bali and Lampung while serving as a medium of nonverbal communication. However, the meanings conveyed through its dance movements are not yet fully understood by the community. This study aims to uncover the nonverbal communication meanings embedded in the movement variety of the Sekar Wawai dance. A qualitative approach with a descriptive method was employed, using purposive sampling to select informants including the choreographer, music arranger, dancers, cultural figures, and audience members. Data were collected through interviews and documentation, then analyzed using qualitative descriptive techniques. The results show that the nonverbal communication in the dance movements is a tangible manifestation of acculturation, harmony, and tolerance between Balinese and Lampung cultures. This study concludes that art possesses the innovative power to maintain harmony by turning cultural differences into a shared wealth to be preserved together.
Analisis Umpan Balik Pesan Promosi pada Media Sosial (Studi Kasus di Pringsewu Ranch and Resto (PRINCHSTO)) Liniya Jihan Azzahra; Hanindyalaila Pienrasmi; Budhi Waskito
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 4 (2026): EduTIK : Agustus 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i4.544

Abstract

ABSTRAK               Penelitian ini mengkaji umpan balik audiens terhadap pesan promosi yang di sampaikan melalui media social Pringsewu Ranch and Resto (Princhsto). Media sosial telah menjadi media promosi yang penting karena memungkinkan pelaku usaha pariwisata tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga menerima umpan balik secara langsung dari audiens. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon audiens terhadap pesan promosi yang disampaikan melalui Instagram, TikTok, dan Facebook. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang melibatkan satu informan utama, satu informan kunci, dan enam informan pendukung yang merupakan pengikut akun media sosial Princhsto. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umpan balik audiens terhadap pesan promosi Princhsto cenderung positif. Pesan informatif mengenai fasilitas, aktivitas, event, dan promo dinilai mudah dipahami, sedangkan pesan visual yang menampilkan aktivitas berkuda, memanah, pengalaman pengunjung, serta suasana lokasi menjadi bentuk pesan yang paling menarik perhatian audiens. Konten promosi aktivitas berkuda menjadi pesan yang paling dominan memperoleh umpan balik karena dianggap unik dan menjadi daya tarik utama Princhsto. Secara keseluruhan, media sosial memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan promosi dan membangun umpan balik positif dari audiens terhadap Princhsto. ABSTRACT               This study examines audience feedback on promotional messages delivered through the social media platforms of Pringsewu Ranch and Resto (Princhsto). Social media has become an important promotional medium that enables tourism businesses not only to disseminate information but also to receive direct feedback from audiences. This research aims to analyze audience responses to promotional messages conveyed through Instagram, TikTok, and Facebook. The study employed a qualitative descriptive approach. Data were collected through interviews, observation, and documentation involving one key informant, one main informant, and six supporting informants who follow Princhsto’s social media accounts. The findings indicate that audience feedback toward Princhsto’s promotional messages was generally positive. Horse-riding promotional content emerged as the most dominant message receiving audience feedback because it was perceived as unique and represented the main attraction of Princhsto. Overall, social media plays a significant role in delivering promotional messages and fostering positive audience feedback toward Princhsto.
Partisipasi Siswa Dalam Kegiatan Ekstrakulikuler (Studi Kasus Komunikasi Sekolah Pada Sekolah Menegah kejuruan Palapa Bandar Lampung) Abdul Rohman; Hanindyalaila Pienrasmi; Wawan Hernawan
Interaction Communication Studies Journal Vol. 3 No. 2 (2026): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/interaction.v3i2.6238

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana komunikasi sekolah berkontribusi dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler di SMK Palapa Bandar Lampung. Penelitian ini dimotivasi oleh tingkat partisipasi siswa yang relatif rendah meskipun sekolah telah menerapkan beberapa strategi komunikasi, termasuk Program Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), orientasi anggota baru, penilaian ekstrakurikuler, dan penggunaan media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi, dan dianalisis menggunakan model analisis data kualitatif interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi sekolah diimplementasikan melalui empat strategi utama: sosialisasi selama Program Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), orientasi anggota baru, penilaian ekstrakurikuler sebagai bentuk apresiasi, dan pemanfaatan media sosial untuk menyebarluaskan informasi. Selain itu, komunikasi interpersonal antara Wakil Kepala Sekolah Bidang Kemahasiswaan, pembimbing ekstrakurikuler, pelatih, anggota komite siswa, dan siswa memperkuat pemahaman, motivasi, dan kepercayaan siswa, yang mendorong partisipasi yang lebih besar dalam kegiatan ekstrakurikuler. Studi ini menyimpulkan bahwa komunikasi sekolah berkelanjutan yang mengintegrasikan komunikasi formal, komunikasi interpersonal, dan media sosial memainkan peran penting dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler di SMK Palapa Bandar Lampung.