Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hidup di Antara Dua Budaya: Makna Integrasi Identitas Bikultural (IIB) Pada Dewasa Muda Hasil Perkawinan Campur di Indonesia Riawaty, Erni; Kartin, Ria Handayani; Rahmania, Tia
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 3 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i3.5561

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman Integrasi Identitas Bikultural (IIB) pada dewasa muda hasil perkawinan campur di Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologis, yang berfokus pada pemahaman makna subjektif pengalaman hidup individu bikultural. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur guna memperoleh gambaran mendalam mengenai proses integrasi identitas, dinamika emosional, serta konteks sosial budaya yang memengaruhinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua dimensi utama IIB, yaitu persepsi keharmonisan (perceived harmony) dan persepsi perpaduan (perceived blendedness), berkembang secara relatif independen. Individu dapat memaknai dua identitas budaya secara damai tanpa harus meleburkannya menjadi satu identitas yang sepenuhnya menyatu, sementara perpaduan identitas dapat muncul dalam bentuk fleksibilitas peran dan perilaku lintas konteks tanpa selalu disertai konflik emosional. Pembentukan IIB dipengaruhi oleh interaksi antara faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi regulasi emosi, fleksibilitas kognitif, dan penerimaan diri yang berfungsi sebagai fondasi dalam mengelola kompleksitas identitas ganda. Faktor eksternal mencakup dukungan keluarga, penerimaan sosial, pengalaman akulturasi, serta minimnya tekanan untuk memilih salah satu identitas budaya, yang dapat memperkuat atau melemahkan proses integrasi identitas. Integrasi identitas bikultural yang harmonis memungkinkan individu merasa nyaman dengan dirinya serta membangun relasi interpersonal yang sehat. Sebaliknya, konflik identitas berpotensi menimbulkan stres sosial, perasaan terasing, dan kebingungan nilai. Dalam konteks perkembangan dewasa muda, IIB berkaitan erat dengan tugas perkembangan psikososial, seperti pembentukan relasi intim, komitmen jangka panjang, dan stabilitas diri. Temuan penelitian menegaskan bahwa IIB merupakan proses adaptif penting bagi kesejahteraan psikologis dan pembentukan identitas dewasa muda, serta berkontribusi pada pengembangan psikologi lintas budaya dan psikologi perkembangan.
The Role of Self-Efficacy in Predicting Academic Buoyancy Among Working Students in Higher Education Evi Safitri; Kus Candra Gunawan; Tia Rahmania
Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP) STKIP Kusuma Negara Vol 18 No 1 (2026): Advancing Learning Innovation, Educational Technology, and Character Development
Publisher : LPPM STKIP Kusuma Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37640/jip.v18i1.2853

Abstract

Students who work while pursuing higher education face dual demands that potentially induce academic stress and affect their capacity to navigate daily scholastic challenges. In this context, academic buoyancy emerges as a crucial aspect that helps students maintain academic engagement and adaptively overcome learning barriers. However, research examining academic buoyancy among working students in Indonesia remains relatively limited. This study aims to analyze the influence of self-efficacy on academic buoyancy among working students at a private university in Indonesia. Utilizing a quantitative approach, this study employed a correlational design and simple linear regression analysis. Participants consisted of 103 working students selected through a purposive sampling technique. Self-efficacy was measured using the General Self-Efficacy Scale, while academic buoyancy was assessed based on the Martin and Marsh framework. The results demonstrated that self-efficacy has a positive and significant effect on academic buoyancy (beta = 0.399; p < .001). The coefficient of determination (R² = 0.159) indicates that self-efficacy explains 15.9% of the variance in academic buoyancy. These findings confirm that belief in one's capabilities plays a vital role in helping working students manage academic pressures; Therefore, efforts to enhance academic buoyancy should prioritize strengthening self-efficacy while reinforcing social support through peer support and university counseling programs, thereby enabling working students to better cope with academic challanges.
Pengaruh Teori Motivasi Dua Faktor Herzberg Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Tetap Departemen Central Inbound PT Tiki JNE Jakarta Bagas Jaka Pradana; Zafiratul Hasanah; Tia Rahmania
EduInovasi:  Journal of Basic Educational Studies Vol. 5 No. 3 (2025): EduInovasi:  Journal of Basic Educational Studies
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/edu.v5i3.9288

Abstract

Job satisfaction is a crucial element in maintaining employee productivity and loyalty, particularly in a dynamic logistics sector like PT Tiki JNE. Motivation and hygiene factors from Herzberg's Two-Factor Theory are believed to significantly influence job satisfaction. This study aims to analyze the influence of these two factors on job satisfaction of permanent employees in the Central Inbound Department of PT Tiki JNE Jakarta, while also addressing the gap in the literature regarding the application of this theory in the context of the Indonesian logistics industry. This research method uses a quantitative descriptive-correlational approach. It was conducted in the Central Inbound Division of PT Tiki JNE, Garuda Kemayoran branch, Central Jakarta. A total sample of 40 permanent employees (saturated sample) was selected. Data were collected through a closed-ended questionnaire based on Herzberg's Two-Factor Theory. Data analysis was conducted using SPSS with validity, reliability, normality, multicollinearity, heteroscedasticity, and multiple linear regression testing techniques to determine the effect of motivational and hygiene factors on job satisfaction, both partially and simultaneously. The results of the study showed that motivational and hygiene factors, as outlined in Herzberg's Two-Factor Theory, simultaneously had a positive and significant effect on job satisfaction for permanent employees in the Central Inbound Department of PT Tiki JNE Jakarta. Motivational factors such as achievement, recognition, responsibility, and self-development contribute to increasing job satisfaction, while hygiene factors such as company policies, supervision, and working conditions help prevent dissatisfaction. A strategic combination of increasing motivation and fulfilling hygiene factors is considered essential for creating a productive and sustainable work environment. These findings confirm the relevance of Herzberg's theory in the logistics context and the importance of a holistic approach to human resource management.
Pelatihan Pengembangan Pemahaman dan Sikap Keberagamaan Moderat Berbasis Nilai Keislaman-Keindonesiaan Husain Heriyanto; Taufik Hidayatullah; Aan Rukmana; Tia Rahmania; Emil Radhiansyah; Ibnu Rusyd
Dimasejati: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70095/dimasejati.v4i1.10818

Abstract

Program ini didasarkan atas hasil sebuah penelitian yang berjudul “Studi Pengaruh Pembelajaran Kuliah Nilai Hidup Paramadina (NHP) terhadap Karakter dan Perilaku Mahasiswa”. Penelitian ini didorong oleh keprihatinan terhadap meningkatnya intoleransi dan radikalisme serta ketegangan kontraproduktif antara paham keislaman dan kebangsaan di kalangan anak muda dan mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis statistic deskriptif. Program pengabdian masyarakat ini dirancang dengan mengadakan training dan workshop terhadap sejumlah guru agama yang peran mereka sangat strategis dan penting dalam pembentukan pemahaman dan sikap keberagamaan yang moderat. Workshop ini diikuti oleh 26 guru dari Jakarta, Tangerang dan Serang selama 3 hari. Testimoni dan saran dari peserta menggambarkan program ini cukup berhasil menginspirasi mereka untuk lebih mendalami nilai keislaman-keindonesiaan. Diseminasi gagasan moderasi beragama ini dilakukan, diantaranya, melalui pelatihan dan pengembangan nilai-nilai keislaman yang satu tarikan napas dengan nilai-nilai kebangsaan (keindonesiaan). Penelitian ini dilakukan kepada 156 mahasiswa yang mengikuti kuliah NHP. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat korelasi yang kuat dan pengaruh yang signifikan antara pembelajaran kuliah NHP dengan persepsi dan sikap mahasiswa terhadap nilai keislaman dan keindonesiaan.