Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Fostering Religious Moderation in Pesantren: Cultivating Tolerance and Peace through Khilafiyah Fiqh in South Kalimantan’s Multicultural Context Nadiyah, Nadiyah; Rahmi, Diana; Hafidzi, Anwar
Kawanua International Journal of Multicultural Studies Vol 5 No 1 (2024)
Publisher : State Islamic Institute of Manado (IAIN) Manado, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/kijms.v5i1.1001

Abstract

Pesantren, traditional Islamic boarding schools in Indonesia, play a crucial role in fostering religious moderation and promoting tolerance and peace in multicultural contexts. This study explores the teaching of Khilafiyah Fiqh, or jurisprudential disagreement, in Pesantren in South Kalimantan and its impact on cultivating an inclusive and peaceful environment. The concept of khilafiyah, derived from the Islamic legal tradition, reflects the diversity of interpretations of Islamic law and is respected as a sign of dynamism and flexibility. Pesantren teach khilafiyah through various methods, including the recitation of classic Islamic texts, discussion, and debate, which encourage critical thinking and openness to different opinions. The implementation of khilafiyah fiqh in Pesantren involves teaching differences of opinion in various aspects of Islamic practice, such as prayer, zakat, and fasting. Kyai and Pesantren scholars emphasize the importance of respecting different views and avoiding fanaticism. Understanding khilafiyah has a positive impact on supporting religious moderation, as it encourages santri (students) to be inclusive and open to diversity, both within the Muslim community and in interfaith relations. Case studies in South Kalimantan demonstrate the successful application of khilafiyah fiqh in promoting tolerance and peace. However, challenges exist, including internal differences among teachers and santri, resistance to changes in traditional teaching methods, and external resistance from the community and other Islamic organizations. To overcome these challenges, Pesantren employ various approaches, including interfaith and cross-cultural dialogue, which strengthen the understanding of khilafiyah and its role in fostering a harmonious society.
Strategi Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kerupuk Sagu Di Desa Pulau Banjar Kari,Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi Daffa Hauzan Nabil; Nindia Nindia; Putri Anjeli; Habib Duanda; Lili Gusnita; Nurhasanah Nurhasanah; Annisa Dwi Elsa Refina; Julesfa Nursesmita; Diana Rahmi; Halvy Gilang Kurniawan
ALKHIDMAH: Jurnal Pengabdian dan Kemitraan Masyarakat Vol. 1 No. 4 (2023): Oktober : Jurnal Pengabdian dan Kemitraan Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59246/alkhidmah.v1i4.546

Abstract

Sago cracker MSMEs still produce sago to the extent of the household industry, simple processing technology and lack of promotion of sago crackers. The research objective was to analyze the internal and external environment of sago cracker MSMEs, formulate and determine technical strategies and policies for the development of sugo cracker MSMEs in Kuanta Singingi Regency. This research was conducted by survey with quantitative and qualitative descriptive analysis. Qualitative descriptive using IFE and EFE matrix while qualitative descriptive wing SWOT method. The total internal factor evaluation (IFE) score was 2.6694 and the total external factor evaluation (EFE) score was 2.9857. The GE matrix results in sago cracker MSMEs located in quadrant (hold and maintain), namely market and product development. The resulting strategies for the development of sago cracker MSMEs are a MSMEs have a long-term development strategy by The experience of MSM owners has been on busmess for a long time, c) Policy and political support for the development of MSMEX d) MSMEs get guidance from the government, dy Participate in exhibitions and expus organized by the government both inside and outside the area. e) Product diversification and innovation by utilizing trend models in the community Marketing strategies to communities, inibes religions and other segments of society. ) Carrying out product mapping so that the product innovations produced cannot be imitated, h) Product penetration marketing strategies through discounts and price reductions, i) Digitalization strategy for marketing MSME products to reach a wider market. Develop partnerships between business actors in product and market development andk) Establishing partnerships with raw material suppliers
Review Of Islamic Law Regarding Placing Piduduk During Walimah Events Due To Hereditary Traditions In The Banjar Community Diana Rahmi; Anwar Hafidzi; Novita, Novita; Norjannah; Emiril Rozaq
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 2 (2023): The Development of Islamic Law and Culture in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i2.13

Abstract

ABSTRACT Piduduk is a custom from our ancestors that is still practiced by the Banjar community at every walimah. Piduduk is not an offering in general, but as a guard to avoid the disturbance of spirits. Piduduk contains rice, coconut fruit, brown sugar, chicken eggs and also money. Piduduk is generally placed in the lower corner of the aisle, in the bride's room, or in other special places. Some people consider that piduduk is part of shirk because it asks for protection from other than God. And there is also an assumption that some people put piduduk because they follow customs, not believing in it as a guardian. The research method used in this research is field research method and analyzed descriptively qualitative, namely the discussion obtained by collecting data from interviews and literature sources about shirk. From the results of this study it can be concluded that the piduduk tradition according to the review of Islamic law is `urf, namely custom or habit, which is to preserve Banjar cultural customs, but the negative side of this tradition is feared to shift religious beliefs. Keywords: Piduduk, Banjar cultural customs, custom or habit ABSTRAK Piduduk adalah adat istiadat dari nenek moyang terdahulu yang masih dilakukan oleh masyarakat Banjar pada setiap pelaksanaan walimah. Piduduk bukan sesajen pada umumnya, melainkan sebagai penjagaan agar terhindar dari gangguan makhluk halus. Piduduk berisi beras, buah kelapa, gula merah, telur ayam dan juga uang. Piduduk pada umumnya diletakkan di sudut bawah pelaminan, di kamar pengantin, atau di tempat khusus lainnya. Sebagian orang menganggap bahwa piduduk bagian dari syirik karena meminta penjagaan kepada selain Allah. Dan ada juga anggapan sebagian orang meletakkan piduduk karena mengikuti adat istiadat saja bukan mempercayai sebagai penjagaan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan dan dianalisis secara deskriptif kualitatif yaitu pembahasan yang diperoleh dengan mengumpulkan data dari wawancara dan sumber-sumber kepustakaan tentang kesyirikan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tradisi piduduk menurut tinjauan hukum islam merupakan `urf yaitu adat atau kebiasaan, yang mana untuk melestarikan adat kebudayaan Banjar, namun sisi negatif dari tradisi ini adalah ditakutkan menggeser keyakinan dalam beragama. Kata Kunci : Piduduk, adat kebudayaan Banjar, adat atau kebiasaan.
Analisis Hukum Kebiasaan Masyarakat Banjar Menyiapkan Piduduk Ketika Ingin Melakukan Perkawinan Perspektif Ulama (Studi Kasus Kota Pelaihari) Cahaya Inayah; Diana Rahmi
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.882

Abstract

Tradisi piduduk dalam perkawinan adat Banjar merupakan suatu tradisi yang bertujuan untuk menghormati leluhur dan memohon perlindungan agar pernikahan berlangsung lancar. Namun, tradisi ini kerap dipandang bertentangan dengan ajaran Islam karena adanya unsur meminta pertolongan kepada selain Allah SWT. Penelitian ini berfokus pada analisis tradisi piduduk dalam pernikahan adat Banjar dari sudut pandang pendapat Ulama. Penelitian dilakukan di Kota Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dan kajian pustaka, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menurut Ustadz H menunjukkan Jika piduduk dilaksanakan dengan niat untuk menghindari gangguan makhluk halus, tradisi ini termasuk `Urf Fasid tradisi yang harus dihindari. Sebaliknya, jika tradisi piduduk dilaksanakan dengan niat untuk permohonan berkah dan perlindungan kepada Allah SWT, sebagai ungkapan syukur atas nikmat pernikahan yang akan dilangsungkan serta memohon kelancaran dan keberkahan bagi pasangan pengantin maka tradisi ini boleh dilaksanakan dan termasuk ‘Urf Shohih.
Analisis Hukum Pelaksanaan Akad Nikah Dua Kali Terhadap Perkawinan Anak Di Luar Nikah Di Kota Banjarbaru Haifa Muniba Rahmah; Diana Rahmi
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.1004

Abstract

Wali nikah adalah salah satu syarat utama yang harus dipenuhi agar sebuah pernikahan dianggap sah. Dalam kasus pernikahan anak di luar nikah, sering kali muncul persoalan mengenai siapa yang berhak menjadi wali nikah. Ketiadaan hubungan perdata antara anak diluar nikah kepada ayah biologisnya, membuat seorang anak perempuan yang berstatus anak di luar nikah yang ingin melaksanakan pernikahan harus menggunakan wali hakim. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh praktik pelaksanaan akad nikah sebanyak dua kali di Kota Banjarbaru di mana pihak perempuan merupakan anak di luar nikah. Umumnya, akad nikah dilaksanakan sekali dengan menggunakan wali hakim. Namun, dalam kasus ini, akad nikah dilakukan dua kali dengan wali yang berbeda, bertujuan untuk menutupi aib salah satu pasangan. Jika tujuan utama adalah menyembunyikan status sebagai anak di luar nikah, pendekatan yang lebih tepat adalah dengan menggunakan taukil wali atau tetap melibatkan wali hakim tanpa mengungkapkan latar belakang tersebut. Penelitian bertujuan untuk menganalisis dasar hukum pelaksanaan akad nikah dua kali terhadap perkawinan anak di luar nikah serta alasan diperbolehkannya pelaksanaan praktik tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan sosiologi hukum. Untuk mengumpulkan data dilakukan melalui wawancara langsung dengan lima Kepala KUA di Kota Banjarbaru. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua pendapat berbeda terkait pelaksanaan akad nikah dua kali. Sebagian pihak menyatakan bahwa hal ini dilakukan untuk memenuhi kebijakan KUA, sementara pihak lain tidak setuju karena dianggap dapat merusak keabsahan akad pertama
Judges’ Opinion in Accepting Divorce Cases with Time Limits (Study of Judges of Balikpapan, Banjarmasin, and Pelaihari Religious Court) Rahmawati; Diana Rahmi
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 1 No. 3 (2023): "Exploring the Wisdom Integration of Multidisciplinary Approaches in Higher Edu
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v1i3.416

Abstract

Abstract This research aims to find out the opinions of Balikpapan, Banjarmasin, and Pelaihari Religious Court Judges regarding considerations for accepting divorce cases with a time limit and the reasons underlying these opinions. This type of research is empirical legal research. The data extracted in this research are the opinions and reasons of the Balikpapan, Banjarmasin, and Pelaihari Religious Court Judges regarding divorce with a time limit. The data sources or informants for this research were nine judges. This research is empirical legal research with a sociological approach. Data was collected using interview techniques. After collecting the data, it is processed by editing and matriculation. The data was then analyzed using qualitative descriptive methods. The research results show that the judge stated that divorce with a time limit is a rule that can be negotiated in severe divorce cases. Thus, the judge must make ijtihad with other laws. This is based on Article 50 of Law No. 48 of 2009 and the rules of fiqh, namely, the judge's decision can eliminate differences. Three judges thought that the 6-month time limit for reasons of continuous disputes and quarrels or separation of residence is cumulative, where both reasons must reach the minimum time if they are to be submitted to the court. Six other judges thought that the six-month time limit was an alternative. This is required for reasons of separation of residence. All Judges relied on Supreme Court Circular Letter Number 1 of 2022. Some others added Article 19 of Government Regulation Number 9 of 1975 and Article 116 of Presidential Instruction Number 1 of 1991 on the Compilation of Islamic Law. Keywords: Divorce, Time Limits, Judge's Considerations Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapat Hakim Pengadilan Agama Balikpapan, Banjarmasin, dan Pelaihari tentang pertimbangan menerima perkara perceraian dengan batas waktu serta alasan yang mendasari pendapat tersebut. Jenis penelitian ini ialah penelitian hukum empiris. Data yang digali pada penelitian ini adalah pendapat dan alasan Hakim Pengadilan Agama Balikpapan, Banjarmasin, dan Pelaihari mengenai perceraian dengan batas waktu. Sumber data atau informan penelitian ini adalah sembilan orang Hakim. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris dengan pendekatan sosiologis. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara. Setelah terkumpul data diolah dengan editing dan matrikasi. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan Hakim menyatakan perceraian dengan batas waktu adalah peraturan yang bisa dinegosiasikan pada perkara perceraian yang berat. Dengan demikian Hakim harus berijtihad dengan hukum lain. Hal ini dilandasi oleh Pasal 50 UU No. 48 Tahun 2009 dan kaidah fiqih yaitu keputusan Hakim dapat menghilangkan perbedaan. Tiga orang Hakim berpendapat batas waktu 6 bulan pada alasan perselisihan dan pertengkaran terus-menerus atau berpisah tempat tinggal bersifat kumulatif, yang dimana kedua alasan tersebut haruslah mencapai waktu minimal tersebut jika ingin diajukan ke Pengadilan. Enam orang Hakim lainnya berpendapat bahwa batas waktu 6 bulan ini bersifat alternatif. Yaitu diharuskan pada alasan berpisah tempat tinggal. Semua Hakim bersandar pada Surat Edaran Mahkamh Agung Nomor 1 Tahun 2022 dan sebagian lain menambahkan Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 dan Pasal 116 Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 Kompilasi Hukum Islam. Kata Kunci: Perceraian, Batas Waktu, Pertimbangan Hakim.
Praktik Pemenuhan Nafkah Dalam Rumah Tangga (Studi Kasus di Kecamatan Anjir Pasar Kabupaten Barito Kuala) Wati, Kurnia; Rahmi, Diana
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v2i2.634

Abstract

ABSTRACT The provision of maintenance has been regulated in Islamic law and positive law.  However, not all households are able to implement it according to the provisions. This causes the Anjir Pasar community to use many other methods in fulfilling household maintenance so that they can continue to meet all the needs of their household. The purpose of this study is to describe the implementation of the fulfillment of household maintenance in the Anjir Pasar community and its impact. This research is an empirical legal research using a descriptive approach. Data were collected through observations and interviews with eight informants who came from different families and applied a variety of methods of fulfilling livelihoods that were not the husband as the sole breadwinner. Data processing techniques used editing and descriptive, and data analysis using qualitative. The results showed that there were case variations in the method of fulfilling the Anjir Pasar community's livelihood. The variations in methods in question include husbands being assisted by their wives voluntarily to fulfill their livelihoods by sharing their duties and roles, husbands and wives sharing their duties and roles towards livelihoods under the coercion of their husbands, alternating every month using the husband's and wife's income, purely using the wife's income, using children's income, using the results of joint efforts of husband and wife, using fees from the husband's parents, and using the income of each husband and wife. The impact of these methods is that three families have fulfilled their right to maintenance and the household is harmonious, three families have not fulfilled their right to maintenance and the household is not harmonious, one family has not fulfilled their right to maintenance but the family remains harmonious and one family is divorced. Keywords: Fulfillment, Maintenance, Household   Abstrak Ketentuan nafkah telah diatur dalam hukum Islam dan hukum positif.  Tetapi, tidak semua rumah tangga mampu melaksanakannya sesuai ketentuan. Hal ini menyebabkan masyarakat Anjir Pasar menggunakan banyak metode lain dalam pemenuhan nafkah rumah tangga agar bisa tetap memenuhi segala kebutuhan dalam rumah tangganya. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan pelaksanaan pemenuhan nafkah dalam rumah tangga pada masyarakat Anjir Pasar beserta dampaknya. Penelitian ini adalah penelitian hukum empiris dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara kepada delapan orang informan yang berasal dari keluarga yang berbeda dan menerapkan variasi metode pemenuhan nafkah yang bukan suami sebagai pemenuh nafkah satu-satunya. Teknik pengolahan data menggunakan editing dan deskriptif, serta analisis data menggunakan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kasus dalam metode terhadap pemenuhan nafkah masyarakat Anjir Pasar. Variasi metode yang dimaksud seperti suami dibantu istri dengan sukarela untuk memenuhi nafkah dengan cara berbagi tugas dan peran masing-masing, suami istri berbagi tugas dan peran terhadap nafkah atas paksaan suami, bergantian setiap bulan menggunakan penghasilan suami dan istri, murni menggunakan penghasilan istri, menggunakan penghasilan anak, atas hasil usaha bersama suami istri, menggunakan biaya dari orang tua suami, dan menggunakan penghasilan masing-masing suami istri. Dampak yang dihasilkan dari metode-metode tersebut adalah tiga keluarga hak nafkahnya terpenuhi dan rumah tangga harmonis, tiga keluarga hak nafkahnya tidak terpenuhi dan rumah tangganya tidak harmonis, satu keluarga hak nafkahnya tidak terpenuhi tetapi kelurga tetap harmonis dan satu keluarga bercerai. Kata Kunci : Pemenuhan, Nafkah, Rumah Tangga        
Dialektika Adat Dan Islam Pada Pamali: Analisis Wacana Tokoh Masyarakat Banjar Dan Ushul Fiqih Madani, Muhammad Taha; rahmi, Diana
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v4i1.1599

Abstract

Pamali merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang hidup dan mengakar dalam masyarakat Banjar sebagai mekanisme pengendalian sosial, pendidikan moral, dan perlindungan sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, dalam praktiknya pamali sering kali dipahami secara tekstual dan mistis sehingga berpotensi bertentangan dengan prinsip tauhid dalam Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dialektika antara adat dan Islam dalam praktik pamali masyarakat Banjar melalui analisis wacana tokoh masyarakat serta pendekatan ushul fiqih. Penelitian ini menggunakan metode empiris kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat Desa Galam Rabah Kabupaten Banjar, observasi non-partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menggunakan konsep 'urf dan maslahah mursalah sebagai kerangka analisis normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pamali tidak dipahami secara tunggal oleh tokoh masyarakat, melainkan mengalami proses reinterpretasi dari makna mistis menuju makna rasional, etis, dan edukatif. Pamali yang mengandung nilai kemaslahatan sosial dan tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dapat diterima sebagai 'urf shahih dan bagian dari maslahah mursalah, sementara pamali yang mengandung keyakinan terhadap kekuatan selain Allah dikategorikan sebagai 'urf fasid dan perlu ditinggalkan. Penelitian ini menegaskan bahwa dialektika adat dan Islam dalam pamali Banjar bersifat adaptif dan selektif, di mana adat direkonstruksi agar selaras dengan tujuan syariat (maqasid al-syariah).