Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

ANALISIS PEMBENARAN INTERNAL (INTERNAL JUSTIFICATION) PADA TINDAKAN MENYONTEK DI KALANGAN MAHASISWA Idawati, Kurnia; Fitriani, Nurul; Sulaeman, Karina Adinda
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 7, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v7i1.4329

Abstract

The aim of this research is to reveal justifications the students made when they cheated on their academic tasks as well as the analysis in the aspects of educational psychology and collectivism culture on those justifications. The research method is qualitative interpretive on quantitative data obtained through a written survey. From the research results, various motives or reasons as justifications for the students to cheat can be grouped into two categories, namely the "lazy" motive which includes the "not learning" and "in a tight spot" motives; and the “out of ideas” motive which includes “lack of confidence”, “fear of bad grades”, “needs instant grades”, and “forgetting the material being studied”. The two categories can be seen from the psychological point of view, especially educational psychology. The first category is motivated by, among others, a lack of self-concept and lack of self-determination, while the second category is due to a lack of self-efficacy. Almost all types of cheating motives refer to internal justifications. Internal justification is the hallmark of an interdependent collectivism culture. Four aspects of collectivism culture that can be used to analyse this internal justification are “harmony should always be maintained”, “relationship prevails over task”, "We–consciousness”, and “transgression of norms leads to shame feelings”.Keywords: academic cheating, internal justification, educational psychology, collectivism culture
REPRESENTASI KOGNITIF MAKNA VERBA NON-FINITE GERUND DAN TO-INFINITIVE DITINJAU DARI TEORI SEMANTIK LEONARD TALMY Idawati, Kurnia; Fitriani, Nurul
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v8i1.5416

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kognitif dari makna verba non-finite yang menggunakan imbuhan "-ing" (gerund) dan "to-infinitive" dalam bahasa Inggris. Fokus penelitian adalah untuk menjelaskan perbedaan dalam representasi kognitif antara dua konstruksi ini, dengan merujuk pada teori semantik Leonard Talmy. Metode penelitian melibatkan analisis kualitatif terhadap data yang diambil dari berbagai sumber, berupa kalimat yang menggunakan verba non-finite dengan “gerund” dan "to-infinitive". Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan makna antara verba non-finite to-infinitive dan gerund. Perbedaan itu secara jelas muncul bila konteks kalimatnya diperluas dengan frasa atau klausa adverba. Pemahaman yang lebih baik tentang representasi kognitif konstruksi bahasa dapat membantu pengajar dan pembelajar bahasa dalam memahami perbedaan makna dan penggunaan yang tepat antara verba non-finite “gerund” dan "to-infinitive". Kata Kunci: representasi kognitif, verba non-finite, gerund, to-infinitive, teori semantic kognitif, Leonard Talmy.
IMPLIKATUR PERCAKAPAN PADA DIALOG DALAM NOVEL THE KING’S CURSE KARYA PHILIPPA GREGORY Fitriani, Nurul; Pratama, Yoga; Fridolini, Fridolini
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 8, No 2 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v8i2.5711

Abstract

Dalam kehidupan sehari-hari, peran kita sebagai pengguna bahasa adalah hal yang tak bisa terlepas dari diri kita. Di segala lini kehidupan, kita membutuhkan bahasa guna berkomunikasi dengan orang lain: dengan keluarga, teman, tetangga, rekan kerja, dan lainnya. Kajian pragmatik selalu tertarik dalam menggali lebih dalam mengenai fenomena penggunaan bahasa tersebut. Salah satu hal yang disorot dalam kajian ilmu ini adalah mengenai ujaran yang kita sampaikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam suatu percakapan. Artinya, kita tidak selamanya menyampaikan sesuatu secara terang-terangan, bahwa dalam konteks tertentu, terdapat maksud tersembunyi yang kita sisipkan dalam ujaran. Pragmatik menyebut hal itu dengan implikatur. Studi ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif mengenai penggunaan implikatur dalam suatu karya sastra. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Teknik pemercontohan bertujuan digunakan sebagai teknik pengumpulan data, dan data yang digunakan untuk analisis adalah ujaran yang disampaikan tokoh dalam novel. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam novel The King’s Curse, yang ditulis oleh Gregory, ditemukan dua jenis implikatur yang digunakan oleh para tokoh di novel ini. Jenis implikatur tersebut adalah implikatur percakapan umum dan khusus. Dua jenis itu digunakan secara berbeda, bergantung kepada konteks situasi tertentu yang melatarbelakangi percakapan yang dilakukan tokoh dalam novel ini.Kata kunci: konteks, implikatur percakapan umum, implikatur percakapan khusus, novel. In daily life, our role as language user is something that is inseparable. In every part of our life, we need language to help us communicating to other people: to your family, friends, neighbors, co-workers, and others. Pragmatics is always interested to dig deeper on the phenomenon of the language use in our daily conversation. One of the things highlighted in this linguistics branch is that how people, in fact, utter something both directly and indirectly in their conversation. It means that, we do not only say something straightforward, but, in some particular context, our hidden intention is being inserted in our utterance. Pragmatics calls it implicature. This study aims to give a comprehensive outline of the use of implicature found in a literary work. The study used qualitative approach, with content analysis method. The researchers used purposive sampling as the data collection technique, and the data used in this study are utterances of the characters found in the novel. The result of the study shows that in The King’s Curse novel written by Gregory, there are two types of implicature used by the characters of the novel. They are generalized and particularized conversational implicature. Both types are used differently, as there is particular situational context as the backstory.Keywords: context, generalized conversational implicature, particularized conversational implicature, novel.