Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Lampu Colok sebagai Simbol Identitas Budaya: Studi Antropologis Tentang Keberlanjutan Tradisi di Kabupaten Siak Alparizi, Naufal; Siregar, Farhansyah; Cantika, Mikha Sevti; Dewi, Tike Murti Sari; Rasudin, Nurahim
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.27950

Abstract

Tradisi Lampu Colok di Kabupaten Siak, Riau, merupakan warisan budaya Melayu yang telah ada sejak zaman Kerajaan Siak. Awalnya berupa suluh damar, kemudian berkembang menjadi lampu minyak berbahan bambu yang digunakan khususnya selama bulan Ramadhan untuk menyambut Lailatul Qadar. Penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi ini mengungkap bahwa tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga mengandung nilai-nilai religius dan sosial yang memperkuat identitas budaya masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun menghadapi tantangan modernisasi, tradisi ini tetap bertahan melalui peran aktif masyarakat dalam kegiatan gotong royong dan dukungan dari lembaga adat. Keberlanjutan tradisi Lampu Colok di masa depan memerlukan inovasi dalam pelaksanaannya serta upaya pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Temuan ini menegaskan pentingnya pelestarian tradisi lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
Tradisi Togak Tonggol dalam Perspektif Antropologi Hukum pada Masyarakat Petalangan dalam Menyambut Ramadan Adelia, Nabila; Dwinov, Keizie Putri; Rasudin, Nurahim; Dewi, Tike Murti Sari
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.28430

Abstract

Tradisi lokal merupakan bagian penting dari sistem budaya yang merepresentasikan nilai, norma, dan identitas suatu komunitas. Tradisi Togak Tonggol dilaksanakan masyarakat adat Petalangan di Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, merupakan prosesi adat penegakan tonggol sebagai simbol kehormatan suku menjelang bulan Ramadan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi sosial, makna simbolik, serta bentuk adaptasi tradisi ini dalam konteks modern. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik studi pustaka dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini berfungsi sebagai mekanisme hukum adat yang mencerminkan kewajiban sosial, sanksi simbolik, dan hubungan timbal balik dalam masyarakat. Tradisi ini juga mengalami adaptasi melalui pelibatan generasi muda dan dukungan pemerintah. Kesimpulannya, Togak Tonggol memiliki fungsi strategis sebagai instrumen pelestarian nilai adat, penyelesaian konflik sosial, dan penguatan identitas budaya lokal.
Petang Megang dalam Perspektif Antropologi Hukum: Kajian atas Nilai, Makna Sosial, dan Regulasi Tradisi Arianto, Stello Farrel; Ivanne, Adriana; Pesturia, Glori; Rasudin, Nurahim; Dewi, Tike Murti Sari
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.28518

Abstract

Tradisi Petang Megang merupakan warisan budaya masyarakat Melayu di Pekanbaru, Riau, yang dilaksanakan sebagai bentuk penyucian diri menjelang bulan suci Ramadhan. Prosesi ini mencakup kegiatan mandi balimau,yaitu mandi dengan air yang dicampur jeruk limau dan rempah-rempah,serta diiringi dengan berbagai aktivitas sosial dan budaya seperti ziarah makam, pertunjukan seni, dan makan bersama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi partisipatif, di mana para peneliti terlibat dan melihat langsung dalam kegiatan Petang Megang di Pekanbaru. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan identitas budaya masyarakat Melayu. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi, Petang Megang tetap dilestarikan sebagai simbol harmonisasi antara adat dan agama dalam kehidupan masyarakat Riau.
Togak Tonggol dan Mandi Balimau Kasai Potang Mogang sebagai Tradisi Penyambutan Ramadhan di Kelurahan Langgam Pelalawan Martasari, Kesya Aprilia; Zein, Anggita Cahyani; Lathifa, Tyara Fitri; Pratama, Muhammad Afif; Demas, Anando Putra; Situmorang, Charissa Stepany; Fathoni, Ahmad Faiz; Putra, Farel Farizal; Rasudin, Nurahim
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Juni–Juli 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i2.915

Abstract

Tradisi Togak Tonggol dan Mandi Balimau Kasai Potang Mogang ialah bagian dari warisan budaya masyarakat setempat di Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, dalam rangka penyambutan bulan suci Ramadhan. Tradisi ini memiliki nilai sosial, religius, dan historis yang masih dijaga hingga kini. Studi kasus penelitian melalui pendekatan kualitatif, yang dimana data yang dikumpulkan berdasarkan pengalaman pribadi peneliti, studi pustaka, dan melakukan wawancara dengan ketua adat dan kelompok masyarakat. Hasil observasi menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya menjadi sarana penyucian diri secara fisik dan spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial dalam komunitas. Selain itu, kedua tradisi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sebagai bentuk pelestarian budaya. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk terus menjaga dan mengenalkan tradisi ini kepada generasi muda agar tetap lestari.
PELESTARIAN KAIN TENUN KAMPUNG BANDAR DALAM PERSPEKTIF HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL DAN BUDAYA Iqbal Adhiaksa Susanto; Gladis Patrisia Eugenia Br Sembiring; Tengku Arif Hidayat; Nurahim Rasudin
ANDREW Law Journal Vol. 4 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : ANDREW Law Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61876/alj.v4i1.40

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh modernisasi dan penguatan brandings melalui haki terhadap tradisi kain tenun di Kampung Bandar, Pekanbaru, serta dampaknya pada persepsi dan minat generasi muda terhadap budaya tenun. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan dokumentasi di Rumah Tenun Kampung Bandar serta butik penjualan kain tenun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi membawa tantangan berupa penurunan minat generasi muda dan perubahan proses produksi dari alat tenun tradisional ke mesin otomatis yang mengurangi nilai seni dan keaslian kain tenun. Namun, modernisasi juga membuka peluang inovasi melalui kolaborasi antara pengrajin dan desainer, serta pemasaran digital yang memperluas jangkauan pasar. Upaya pelestarian dilakukan melalui pengembangan pusat kerajinan, promosi budaya, dan pemanfaatan potensi wisata budaya. Dukungan kebijakan pemerintah dan peraturan daerah menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan budaya tenun. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk mengintegrasikan pelestarian budaya dengan inovasi modern agar kain tenun tetap relevan dan menjadi identitas budaya yang kuat bagi masyarakat Kampung Bandar.
Penguatan Peran Kader PKK dalam Pencegahan Kekerasan Rumah Tangga Separen, Separen; HZ, Evi Deliana; Rasudin, Nurahim; Erdiansyah, Erdiansyah; Artina, Dessy; Haryono, Dodi
SMART HUMANITY : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1: Maret 2025
Publisher : CV. Smart Scienti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70427/sh.v2i1.196

Abstract

Tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan permasalahan serius yang sangat berdampak luas terhadap korban, khususnya perempuan. Minimnya pemahaman hukum di masyarakat menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi korban KDRT. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman hukum kader PKK sebagai ujung tombak pencegahan KDRT di tingkat komunitas melalui sosialisasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Kegiatan dilaksanakan di Desa Pulau Busuk, Kabupaten Kuantan Singingi dengan melibatkan 20 kader PKK. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif dan edukatif yang terdiri dari observasi awal, penyuluhan hukum, diskusi kelompok, serta evaluasi akhir. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan pemahaman peserta terhadap hak-hak korban dan prosedur pelaporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), serta munculnya inisiatif pembentukan posko sahabat perempuan di desa. Pengabdian ini menegaskan bahwa dengan dukungan dan edukasi yang memadai, kader perempuan dapat berperan strategis dalam pencegahan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di tingkat lokal.
Tanggung Jawab Pembayaran Royalti Kepada Pemegang Hak Cipta Lagu Dan/Atau Musik Oleh Pelaku Usaha Kafe Di Kecamatan Sail Kota Pekanbaru Pertiwi, Winda; Firdaus, Firdaus; Rasudin, Nurahim
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i4.11024

Abstract

Pemanfaatan lagu dan musik secara komersial di kafe tanpa membayar royalti kepada pemegang hak cipta merupakan permasalahan yang banyak terjadi, termasuk di Kecamatan Sail, Kota Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tanggung jawab pembayaran royalti kepada pemegang hak cipta lagu dan/atau musik oleh pelaku usaha kafe di wilayah tersebut serta upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan melibatkan wawancara dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab pembayaran royalti belum terlaksana dengan baik karena minimnya pemahaman dan kesadaran pelaku usaha kafe tentang perlindungan hak cipta dan kewajiban membayar royalti. Upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan sosialisasi dan edukasi tentang hak cipta serta memberikan dukungan bagi para musisi dalam mengelola hak cipta atas ciptaan. Kesimpulannya, diperlukan komitmen dan sinergi dari berbagai pihak untuk mewujudkan kepatuhan pembayaran royalti demi menghormati karya intelektual dan mendukung keberlanjutan industri musik.
Penelitian Analisa Sejarah dan Dampak Hukum Adat Terhadap Perkawinan Sesuku Masyarakat Kec. Kuok Kab. Kampar Nurpasha, Amalia Ayu; Simarmata, Falentino; Nainggolan, Firmando Johannes; Devano, M Yora; Mude, Najma Ghaisani; Nova Aliza; Ayrum, Qisha Shafira; Rasudin, Nurahim
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19081

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam sejarah dan dampak hukum adat terhadap praktik perkawinan sesuku yang masih berlaku di masyarakat Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar. Perkawinan sesuku merupakan tradisi yang memiliki akar sejarah panjang dalam struktur sosial masyarakat adat di wilayah ini, namun keberadaannya seringkali berbenturan dengan perkembangan hukum positif dan nilai-nilai sosial modern. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini menggali narasi sejarah pembentukan dan evolusi aturan perkawinan sesuku, serta mengidentifikasi dampak hukum adat yang ditimbulkannya terhadap kehidupan sosial, hak-hak individu, dan penyelesaian sengketa dalam konteks perkawinan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai dinamika hukum adat dalam mengatur perkawinan sesuku, mengidentifikasi potensi konflik dengan sistem hukum nasional, dan memberikan kontribusi bagi upaya pelestarian nilai-nilai budaya yang selaras dengan prinsip-prinsip keadilan dan hak asasi manusia.
Peran Hukum Adat dan Islam dalam Dinamika Sosial Mesjid Raya Pekanbaru: Tinjauan Antropologi Hukum Ramadhani, Suci; Damanik, Anisa Mulyana; Trifanjani, Kencana; Dewi, Tike Murti Sari; Rasudin, Nurahim; Hasibuan, Nabila Shifa Ananta; Verderik, Verryani; Fadly, Najwa Izzatul; Reviadana, Greshanda; Sarijan, Hamid Fadilah; Maulana, Alfath Ridho
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19547

Abstract

Hukum adat dan hukum Islam saling berinteraksi dalam membentuk norma dan nilai sosial di masyarakat, terutama dalam aspek pernikahan, warisan, dan penyelesaian sengketa. Hukum adat mengatur proses pernikahan, sementara hukum Islam memberikan pedoman syarat dan rukun yang harus dipenuhi. Dalam penyelesaian sengketa, keduanya mendorong mediasi dan musyawarah, menciptakan mekanisme yang diterima masyarakat. Hukum Islam di Indonesia telah beradaptasi dengan budaya lokal, seperti terlihat dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang mengintegrasikan elemen hukum adat. Masjid Raya Pekanbaru, sebagai warisan sejarah, berfungsi sebagai tempat ibadah dan pusat budaya, mencerminkan identitas masyarakat Pekanbaru dengan arsitektur yang menggabungkan unsur Melayu dan Timur Tengah. Namun, revitalisasi pada 2009 mengakibatkan hilangnya keaslian bangunannya. Customary law and Islamic law interact closely in shaping social norms and values within society, particularly in areas such as marriage, inheritance, and dispute resolution. Customary law governs the ceremonial processes of marriage, while Islamic law provides guidelines for the essential conditions and legal requirements. In resolving disputes, both systems emphasize mediation and deliberation, fostering mechanisms that are widely accepted by the community. Islamic law in Indonesia has adapted to local cultures, as reflected in the Compilation of Islamic Law (Kompilasi Hukum Islam or KHI), which integrates elements of customary law. The Great Mosque of Pekanbaru, a historical landmark, functions as both a place of worship and a cultural center, representing the identity of the Pekanbaru community through its blend of Malay and Middle Eastern architectural styles. However, a revitalization project in 2009 led to a loss of authenticity in the structure.
Perayaan Hari Raya Enam dalam Perspektif Hukum Adat dan Sosial: Transformasi Pola Interaksi Masyarakat Kabupaten Kampar Elisa Fazira; Amanda, Putri; Saputra, Fadri Dwi; Eldino, Habib Mulia; Fania, Yunita; Ramadhani, Dwi Oktabella; Farizan, M. Ariiq; Azis, Abdul; Dewi, Tike Murti Sari; Rasudin, Nurahim
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19782

Abstract

Hari Raya Enam atau Aghi Ghayo Onam merupakan tradisi sakral masyarakat Melayu Kampar yang dilaksanakan setiap 8 Syawal setelah puasa sunnah enam hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna, sejarah, dan implementasi tradisi tersebut dalam perspektif hukum adat dan sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa Hari Raya Enam melambangkan penghormatan terhadap leluhur, mempererat silaturahmi, serta menjadi simbol sinergi antara nilai Islam dan adat. Hukum adat memainkan peran penting dalam mengatur pelaksanaan tradisi ini secara tertib dan berkesinambungan di tengah arus modernisasi. Hari Raya Enam or Aghi Ghayo Onam is a sacred tradition of the Kampar Malay community held on the 8th of Syawal after six days of Sunnah fasting. This study aims to analyze the meaning, history, and implementation of the tradition from an adat law and social perspective. The research used a qualitative case study approach through participatory observation, in-depth interviews, and documentation studies. The results show that Hari Raya Enam symbolizes ancestral respect, strengthens kinship ties, and represents the harmonious integration of Islamic and local traditions. Adat law plays a vital role in preserving and organizing the tradition in a sustainable and structured way amidst modernization.
Co-Authors Abdul Azis Adelia, Nabila AESHA MENTARI PUTRIA AFDELIA MUTIA FAHRANI Al Fatih Muhammad Azlan Alparizi, Naufal Amanda, Putri Arianto, Stello Farrel Ayrum, Qisha Shafira Azalia, Ashila Devta Bram William Amadeus Cantika, Mikha Sevti Damanik, Anisa Mulyana Darma, Shabrina Rika Demas, Anando Putra Dessy Artina Deswita Maharani Lumban Toruan Devano, M Yora Dewi, Tike Murti Sari Dodi Haryono Dwinov, Keizie Putri Eldino, Habib Mulia Elisa Fazira Elmayanti, Elmayanti Erdiansyah Erdiansyah Evi Deliana HZ Fadly, Najwa Izzatul Fania, Yunita Farizan, M. Ariiq Fathoni, Ahmad Faiz Filumena Hasugian Firdaus Firdaus Flora Tresia Br. Purba Gladis Patrisia Eugenia Br Sembiring Grace Shalomitha Lova Sibarani Hasibuan, Nabila Shifa Ananta Hengki Firmanda Iqbal Adhiaksa Susanto Ivanne, Adriana Lathifa, Tyara Fitri Lolyta Shalin Sihombing Mardalena Hanifah Maria Maya Lestari Martasari, Kesya Aprilia Maulana, Alfath Ridho Mude, Najma Ghaisani Muhammad Fathir MUHAMMAD IKHSAN HABIBIE Muhammad Raihan Ghafari Nabiilah Nurza Herlambang Nainggolan, Firmando Johannes Nova Aliza Nurpasha, Amalia Ayu pertiwi, winda Pesturia, Glori Pratama, Muhammad Afif Putra, Farel Farizal Ramadhani, Dwi Oktabella Reviadana, Greshanda Rika Lestari Samuel Siahaan Saputra, Fadri Dwi Sarijan, Hamid Fadilah Separen, Separen Simarmata, Falentino Siregar, Farhansyah Situmorang, Charissa Stepany Suci Ramadhani, Suci Syamsiar, Syamsiar Tara Yohana Panjaitan Tengku Arif Hidayat Trifanjani, Kencana Tufel Muhammad Verderik, Verryani VITO RADITYA Wira Michael Artiofi Simanjuntak Wiranto Zein, Anggita Cahyani Zulfikar Jayakusuma