Sinta Sari Ratunanda
Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok - Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Penatalaksanaan Aktinomikosis Oroservikofasial dengan Berbagai Faktor Risiko Tita Puspitasari; Sinta Sari Ratunanda; Ratna Anggraeni Poerwana; Wijana Wijana
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 5, No 4 (2020): Volume 5 Nomor 4 Juni 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsk.v5i4.31289

Abstract

Aktinomikosis merupakan penyakit kronis granulomatosa yang jarang terjadi, berkembang lambat, dan disebabkan bakteri Gram positif anaerob famili Actinomycetaceae. Tujuan penelitian untuk melaporkan dan menganalisis kasus penatalaksanaan aktinomikosis oroservikofasial dengan berbagai faktor risiko. Metode penelitian laporan kasus pasien aktinomikosis oroservikofasial yang berobat ke poliklinik THT-KL, RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung pada tahun 2016 dan 2017 serta dilakukan telaah kritis literatur mengenai penatalaksanaan aktinomikosis oroservikofasial. Pencarian literatur melalui situs Pubmed, Clinical Key, Proquest, Google Scholar. Berdasarkan kriteria tertentu, didapatkan lima artikel yang dilakukan penilaian critical appraisal. Dilaporkan 3 kasus dengan hasil biopsi ketiga pasien berupa peradangan kronis disebabkan Actinomyces. Antibiotik yang digunakan adalah Amoksisilin, kombinasi Amoksisilin dengan Klavulanat per oral, serta Seftriakson intra vena. Penatalasanaan  faktor risiko sebagian besar berupa pembedahan selain pemberian anti retroviral pada pasien HIV. Terdapat perbaikan pada pasien yang dievaluasi pada minggu ke-2 paska pengobatan, berupa berkurangnya keluhan dan tidak ditemukannya jaringan patologis pada pemeriksaan rinolaringoskopi serat lentur. Sebagai kesimpulan penatalaksanaan pasien aktinomikosis oroservikofasial mendapatkan hasil yang baik dengan pemberian antibiotik golongan Penisilin, kombinasi Penisilin dengan Anti Beta Laktamase atau dengan antibiotik golongan Sefalosporin disertai  penatalaksanaan terhadap faktor risiko yang melatarbelakangi. Penatalaksanaan  faktor risiko sebagian besar berupa pembedahan.Kata kunci: Aktinomikosis oroservikofasial, faktor risiko, Penisilin, pembedahan
Sinekia Palatum Molle dan Pilar Tonsil ke Dinding Faring Posterior pada Pasien Tuberkulosis Paru Desno Marbun; Sinta Sari Ratunanda; Nur Akbar Aroeman; Agung Dinasti Permana
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.428 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1802

Abstract

Tuberkulosis paru masih merupakan penyakit infeksi yang sering dijumpai dan masalah kesehatan di dunia. Sinekia yang disebabkan oleh infeksi kronik tuberkulosis pada daerah faring merupakan kasus yang jarang terjadi. Pembentukan sinekia ini menyebabkan obstruksi saluran napas bagian atas dan dapat menyebabkan gangguan menelan. Laporan kasus ini dimaksudkan untuk memaparkan penatalaksanaan pasien tuberkulosis paru disertai kelainan sinekia palatum molle dan pilar tonsil ke dinding faring posterior. Seorang pasien laki-laki usia 40 tahun terdiagnosis tuberkulosis milier yang telah mendapatkan pengobatan antituberkulosis 4 bulan datang dengan keluhan hidung tersumbat, suara sengau, dan gangguan menelan sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit. Dilakukan pelepasan sinekia dengan cara reseksi dan insisi palatum molle pendekatan intraoral dengan panduan endoskopi, didapatkan massa jaringan granuloma pada tepi sinekia tersebut. Hasil pemeriksaan histopatologi berupa jaringan granuloma tuberkulosis. Pascaoperasi pasien dapat bernapas lancar melalui hidung dan gangguan menelan menghilang. Simpulan, operasi pelepasan sinekia diputuskan mengingat gangguan obstruksi saluran napas atas. Penatalaksanaan sinekia palatum molle dan pilar tonsil ke dinding faring posterior dengan operasi memberikan hasil yang baik untuk patensi jalan napas dan fungsi menelan. SINECHIA OF SOFT PALATE AND TONSILLAR PILLAR TO THE POSTERIOR PHARYNGEAL WALL AT PATIENT WITH PULMONARY TUBERCULOSISPulmonary tuberculosis is still a common infection and world health problem. Sinechia at the pharyngeal region due to chronic infection of tuberculosis is a rare case. The sinechial formation causes upper airway obstruction and difficulty of swallowing. This case report was ment to present management of pulmonary tuberculosis with sinechia of soft palate and tonsilar pillar to the posterior pharyngeal wall. A 40-year-old man was diagnosed with milliary tuberculosis that had been undergone four months antituberculosis therapy complained nasal obstruction, hot potato voice and difficulty of swallowing since 2 months ago. Sinechia release had been performed with ressection and incission of soft palate transoral approach guiding endoscopy. We founded masses of granuloma at the edge of sinechia with histopatology result as tuberculosis granuloma. After the procedure, patient can breathed and swallowed normally. In conclusion, operational procedure had been decided due to upper airway obstruction. Operatif management for sinechia of soft palate and tonsillar pillar to the posterior pharyngeal wall brings a good result for upper airway pattency and swallow function.
Non-Powder gunshot injury of the parapharynx space Raden Ayu Hardianti Saputri; Annika Famiasti; Nur Akbar Aroeman; Agung Dinasti Permana; Sinta Sari Ratunanda
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 51, No 2 (2021): VOLUME 51, NO. 2 JULY - DECEMBER 2021
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v51i2.402

Abstract

ABSTRACTBackground: Non-powder firearm is a weapon which used compressed air or CO2 gas to propel lead or steel ball pellets. Trauma caused by non-powder firearm has the potential for significant morbidity and mortality. Head and neck wounds account for 13.8%-30% of all non-powder firearm injuries. Bullets from gunshots often nest in the parapharyngeal space. Purpose: To present a case of non-powder firearm trauma in parapharyngeal space and its management. Case Report: A 13 years-old boy came with non-powder firearm trauma on the left cheek and bleeding from the left nostril. Upon physical examination there was a vulnus sclopetorum sized 0.5x0.5 cm without active bleeding in the left zygoma area. Three dimensional CTscan showed a hyperdense metal lesion in the left parapharyngeal space with 42.6 cm distance from penetrating site to the bullet location. The bullet was then extracted with transparotid approach surgery guided by C-arm imaging. Clinical Question: How is the management of trauma from a non-powder gunshot in the parapharyngeal space? Review method: Literature search through Pubmed, Cochrane Library, and Wiley using non-powder firearm injury in parapharyngeal space and its management as keywords. Result: The search obtained 11 articles. Based on inclusion and exclusion criteria, one article was found relevant with the topic i.e. one case report of non-powder firearm injury in parapharyngeal space and its surgical management. Conclusion: The safe procedure for retrieving bullets from the parapharyngeal space is in the form of surgery with the help of C-arm imaging to pinpoint the bullet’s location and to prevent further complication.Keywords: non-powder firearm, gunshot injury, parapharynx space, C-armABSTRAKLatar belakang: Senapan angin merupakan senjata yang menggunakan tenaga penggerak berjenis gas CO2 untuk melontarkan peluru. Trauma akibat senapan angin dapat berpotensi fatal. Sebanyak 13,8-30% luka tembak senapan angin terjadi pada daerah kepala dan leher. Salah satu ruang leher yang kerap menjadi tempat bersarangnya peluru adalah ruang parafaring. Tujuan: Melaporkan kasus dan penanganan trauma tembak senapan angin pada parafaring. Laporan kasus: Anak laki-laki berusia 13 tahun dengan riwayat tertembak senapan angin di pipi kiri dan perdarahan dari hidung kiri. Pada pemeriksaan fisis didapatkan vulnus sklopetorum berukuran 0,5 x 0,5 cm tanpa perdarahan aktif di area zigoma kiri. Hasil CT scan 3D didapatkan lesi hiperdens dengan densitas metal pada parafaring kiri, berjarak 42,6 mm dari luka. Benda asing peluru kemudian diekstraksi melalui tindakan operatif menggunakan pendekatan transparotid dengan bantuan C-Arm. Pertanyaan klinis: Bagaimana penatalaksanaan trauma tembak senapan angin pada ruang parafaring? Telaah literatur: Penelusuran literatur melalui Pubmed, Cochrane Library, dan Wiley menggunakan kata kunci luka tembak senapan angin pada ruang parafaring dan penatalaksanaannya. Ditemukan 11 artikel, dan pemilihan artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, terdapat satu penelitian yang relevan. Hasil: Didapat satu laporan kasus tentang luka tembak senapan angin di ruang parafaring dengan tindakan bedah sebagai penanganannya. Kesimpulan: Tatalaksana pengambilan peluru yang aman adalah dengan pendekatan pembedahan dengan bantuan C-Arm untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.Kata kunci: senapan angin, luka tembak, trauma, ruang parapfaring, C-arm
Makrolid menurunkan IL-8 sekret hidung dan meningkatkan fungsi penghidu pada rinosinusitis kronik tanpa polip Edo Wira Candra; Teti Madiadipoera; Iwin Sumarman; Sinta Sari Ratunanda
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 43, No 1 (2013): Volume 43, No. 1 January - June 2013
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.084 KB) | DOI: 10.32637/orli.v43i1.18

Abstract

Latar belakang: Rinosinusitis kronik (RSK) merupakan inflamasi kronik dengan etiologi multifaktorial.Interleukin-8 (IL-8) adalah sitokin proinflamasi yang dominan pada RSK tanpa polip. Penurunan fungsi penghidumerupakan suatu gejala yang sering dikeluhkan pada RSK. Klaritromisin merupakan antibiotik makrolid yang efektifkarena memiliki efek antibakteri dan antiinflamasi. Tujuan: Untuk mengetahui perbaikan gejala klinis, fungsipenghidu dan kadar IL-8 sekret mukosa hidung, serta mencari korelasi antara IL-8 dengan fungsi penghidu pada RSKtanpa polip. Metode: Penelitian ini merupakan randomized clinical trial open labeled pre and posttest design. Datadianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon, Mann Whitney, dan korelasi Rank Spearman. Penelitian berlangsung dipoliklinik Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin pada 26subjek yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberikan klaritromisin dan kelompok kedua diberikanamoksisilin/klavulanat. Diagnosis berdasarkan penilaian skor gejala dengan visual analogue scale (VAS),nasoendoskopi, fungsi penghidu dengan sniffin sticks test, dan dilakukan pengukuran kadar IL-8 sekret mukosa hidungdengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil: Didapatkan perbaikan VAS, fungsi penghidu,dan kadar IL-8 yang signifikan (p=0,001) pada kedua kelompok pascaterapi, dan penurunan skor VAS total yangsignifikan pada kelompok klaritromisin (p=0,036). Terdapat korelasi signifikan antara penurunan IL-8 denganpeningkatan fungsi penghidu (p=0,05) dan dengan gejala hidung tersumbat (p=0,022) hanya pada kelompokklaritromisin. Kesimpulan: Pemberian klaritromisin efektif menurunkan gejala klinis terutama hidung tersumbat,menurunkan kadar IL-8 sekret hidung, dan meningkatkan fungsi penghidu pada RSK tanpa polip.Kata kunci: Interleukin-8, klaritromisin, rinosinusitis kronik tanpa polip, sniffin sticks test.ABSTRACTBackground: Chronic rhinosinusitis (CRS) is a chronic inflammatory disease with multifactorial etiology.Interleukin-8 (IL-8) plays an important role as a major proinflammatory cytokine in CRS without nasal polyp.The common symptom is of olfactory function impairment. Claritrhomycin as macrolide antibiotic is effective forCRS because of their antibacterial and antiinflamatory activity. Purpose: To observe improvement of clinicalsymptoms, olfactory function, IL-8 level of nasal secretion and correlation between IL-8 with olfactory functionin CRS without nasal polyp. Method: This was a randomized controlled trial open labeled pre and posttestdesign. Data was analysed using Wilcoxon, Mann Whitney, and Rank Spearman correlation test. This study wasconducted in Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Department Dr. Hasan Sadikin hospital. There were26 subjects divided in two groups, the first group was given clarithromycin and the second group was givenamoxicillin/clavulanate. The two groups underwent visual analogue scale (VAS), nasoendoscopy, sniffin stickstest and nasal secretion of IL-8 by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Result: The two groups had asignificant improvement VAS score after therapy (p=0.001) and clarithromycin group showed statisticallysignificant (p=0.036) on decreasing total VAS score than amoxcicillin/clavulanate group. There was significantcorrelations between reduction of IL-8, improvement of olfactory function (p=0.05) and nasal obstructionsymptom in VAS (p=0.022) only in clarithromycin group.Conclussion: Clarithromycin was effective in clinicalsymptoms reduction especially in nasal obstruction, IL-8 reduction in nasal secretion, and improvement ofolfactory function in chronic rhinosinusitis without nasal polyp.Keywords: Clarithromycin, interleukin-8, chronic rhinosinusitis without nasal polyp, sniffin sticks test.
Refluks Helicobacter pylori di mukosa hidung penderita rinosinusitis kronik disertai refluks laringofaring Sinta Sari Ratunanda; Billy Talakua; Teti Madiadipoera; Thaufiq Boesoirie; Ratna Anggraeni; Rovina Ruslami
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 2 (2018): Volume 48, No. 2 July - December 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.808 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i2.272

Abstract

Latar belakang: Rinosinusitis kronik masih menjadi problema di seluruh dunia. Faktor yang berasosiasi dengan Rinosinusitis Kronik (RSK) diduga multifaktorial, salah satunya adalah refluks laringofaring (RLF). Isi refluks cairan lambung antara lain adalah bakteri Helicobacter pylori (H. pylori) yang dengan patomekanisme refluks, diduga dapat mencapai mukosa laringofaring bahkan sampai mukosa sinonasal, dan menyebabkan RSK. Tujuan: Mendeteksi  H. pylori di mukosa hidung akibat refluks pada penderita RSK disertai RLF. Bila terdeteksi H. pylori, tata laksana harus lebih komprehensif, sehingga diharapkan RSK menjadi terkontrol. Metode: Penelitian deskriptif untuk mengetahui ada tidaknya H. pylori di mukosa sinonasal penderita RSK dengan RLF. Deteksi H. pylori menggunakan teknik quantitative Real Time-Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR) dari bahan penyikatan mukosa hidung. Hasil: Didapatkan 86 orang penderita RSK disertai RLF, terdiri dari 30 (35%) pasien laki-laki dan 56 (65,0%) pasien wanita, dengan rerata usia 43,25±6,30 tahun. Keluhan RSK terbanyak adalah hidung tersumbat dengan skor VAS > 7 sebesar 76,8%. Skor nasoendoskopi RSK terbesar pada skor 2 untuk edema mukosa sebesar 65,3% dan skor 2 untuk sekret hidung sebesar 58,2%. Rata-rata skor gejala refluks (SGR) adalah 26,43±4,03 dan rata-rata total skor temuan refluks (STR) adalah 11,28±1,21. Hasil pemeriksaan deteksi H. pylori dengan qRT-PCR, 100% tidak menemukan H. pylori dari penyikatan mukosa hidung. Kesimpulan: Refluks berupa H. pylori tidak ditemukan pada mukosa hidung  penderita RSK disertai RLF. Penelitian lebih lanjut diperlukan dengan menggunakan gabungan beberapa metode pemeriksaan  bersamaan untuk deteksi H. pylori akibat refluks di mukosa sinonasal  penderita RSK disertai RLF.  Background: Chronic rhinosinusitis is presently still a worldwide problem. Assosiating factors  to chronic rhinosinusitis (CRS) are multifactorial, one of them is laryngopharyngeal reflux (LPR). The gastric juice contains Helicobacter pylori (H. pylori), which by pathologic reflux could reach laryngopharyngeal and sinonasal area causing CRS. Purpose: To detect H. pylori in nasal mucosa caused by reflux, which suspected of causing CRS with LPR disease. Should H. pylori be found in nasal mucosa, the management of the disease must be comprehensive to enable  controlling CRS. Methods: A descriptive study to detect H. pylori in nasal mucosa CRS with LPR patients, using Quantitative Real Time-Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR) through nasal brushing. Results: Eighty-six CRS with LPR patients as study objects consisted of 30 (35%) male, and 56 (65%) female, the age mean was 43.25±6.3 years old. Visual Analoque Scale (VAS) score for nasal obstruction more than 7 was the highest complaint (76.8%). Nasal endoscopic score of mucosal edema (65.3%) and nasal discharge (58,2%) had score 2. The average total score reflux symptom index (RSI) was 26.43±4.03 and the total score reflux finding score (RFS) was 11.28±1.21. H. pylori detection found negative 100% in CRS with LPR specimens. Conclusion: This study did not find reflux containing H. pylori in nasal mucosa of CRS with LPR patients.    Suggesting further study using simultaneously several methods to detect H. pylori in nasal mucosa  CRS with LPR patients.
Peningkatan functional oral intake scale dan kualitas hidup pada miastenia gravis pasca rehabilitasi menelan Erlina Julianti; Teti Madiadipoera; Ratna Anggraeni; Bambang Purwanto; Sinta Sari Ratunanda
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 46, No 1 (2016): Volume 46, No. 1 January - June 2016
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.474 KB) | DOI: 10.32637/orli.v46i1.150

Abstract

Latar belakang: Miastenia gravis (MG) merupakan penyakit autoimun yang mengganggu transmisineuromuskular karena berkurangnya reseptor asetilkolin di tautan saraf otot sehingga dapat menyebabkandisfagia orofaring. Disfagia pada MG dapat menyebabkan aspirasi yang meningkatkan morbiditas,mortalitas, dan menurunnya kualitas hidup.Tujuan: Menganalisis perbaikan disfagia orofaring padapasien MG dengan melihat peningkatan functional oral intake scale (FOIS) pada pemeriksaan fiberopticendoscopic evaluation of swallowing (FEES) dan untuk mengetahui perbaikan kualitas hidup denganmenggunakan swallowing quality of life (SWAL-QoL) pasca program rehabilitasi menelan.Metode:Penelitian ini merupakan quasi experimental open label pre and post-test design dan data dianalisisdengan menggunakan uji Wilcoxon. Penelitian berlangsung di Poliklinik Ilmu Kesehatan Telinga HidungTenggorok Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung sejak Januari − April 2013 pada10 subjek penelitian. Diagnosis dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, penilaian FOIS denganmelihat konsistensi makanan yang aman ditelan berdasarkan temuan pemeriksaan FEES sebelum dansesudah mengikuti program rehabilitasi menelan selama 6 minggu dan penilaian kualitas hidup dengankuesioner SWAL-QoL.Hasil: Didapatkan perbedaan bermakna (p=0,002) pada hasil FOIS dan perbedaanbermakna pada seluruh domain kuesioner SWAL-QoL setelah program rehabilitasi menelan (p<0,05).Kesimpulan: Terdapat peningkatan FOIS sebagai perbaikan disfagia orofaring, serta peningkatan kualitashidup pada pasien MG sesudah program rehabilitasi menelan. Kata kunci: Disfagia, miastenia gravis (MG), functional oral intake scale (FOIS), fiberoptic endoscopicevaluation of swallowing (FEES), kualitas hidup ABSTRACTBackground: Myasthenia gravis (MG) is an autoimmune disorder of neuromuscular transmissionassociated with acetylcholine receptor deficiency at the neuromuscular junction which may causeoropharyngeal dysphagia. Oropharyngeal dysphagia in MG patients can cause aspiration which result inmorbidity, mortality, and decreased quality of life. Objective: To analyze the improvement of oropharyngealdysphagia in MG patients by evaluating the functional oral intake scale (FOIS) on fiberoptic endoscopicevaluation of swallowing (FEES) examination and to determine the improvement of quality of life byswallowing quality of life (SWAL-QoL). Method: This study was an open label quasi experimental pre andpost-test design and the data was analyzed using the Wilcoxon statistical test. This study was conductedin Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Department Dr. Hasan Sadikin General Hospital duringJanuary until April 2013 towards 10 subjects. Diagnosis based on anamnesis, physical examination,FOIS assessment in order to describe the consistency of safe food ingested during FEES examinationand SWAL-QoL questionnaire assessment before and after swallowing rehabilitation programme for 6weeks. Results: There were significant differences (p=0.002) in FOIS result and significant differencesin all domains SWAL-QoL questionnaire after swallowing rehabilitation program (p<0.05). Conclusion:There was an improvement of oropharyngeal dysphagia as seen in increased FOIS score and improvementof quality of life after swallowing rehabilitation program. Keywords: Dysphagia, myasthenia gravis (MG), functional oral intake scale (FOIS), fiberoptic endoscopyevaluation of swallowing (FEES), quality of life Alamat korespondensi: Dr. Erlina Julianti, Sp.THT-KL.,M.Kes. RSUD Kabupaten Bekasi, CibitungBekasi. Email: erlina.julianti@gmail.com.
Impact of Pharmacotherapy to decrease Interleukin-6 in patients with chronic rhinosinusitis without nasal polyp Lina Marlina; Sinta Sari Ratunanda; Teti Madiadipoera
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 50, No 1 (2020): Volume 50, No. 1 January - June 2020
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.035 KB) | DOI: 10.32637/orli.v50i1.350

Abstract

Background: Chronic rhinosinusitis (CRS) is an inflammation of the nasal and paranasal sinuses mucosa, ongoing for more than 12 weeks. Even now it still creates socioeconomic problem in both developed and developing countries. Pharmacotherapy administration is essential for decreasing the severity of symptom, improving quality of life, and decreasing interleukin (IL)-6 level. Objective: To find out the effect of pharmacotherapy on severity of the symptom, quality of life, and IL-6 level. Method: Randomized clinical trial with pre and posttest design, on 20 CRS without polyp patients, divided into two groups based on skin prick test results. Both groups were equally treated with nasal irrigation, nasal corticosteroid, and antibiotic amoxicillin clavulanate for 14 days. All subjects were assessed for Visual Analog Scale (VAS) score, nasoendoscopy (NE) score, Sinonasal Outcome test (SNOT)-22, and IL-6 level. Statistical analysis was performed with Mann Whitney and Wilcoxon methods. Result: There were significant differences in total analysis results on VAS scores, NE scores, SNOT-22, and IL-6 levels in both groups, with values p<0.05. There was improvement in all variables after pharmacotherapy, but there was no significant difference between the case and control groups, with values p>0.05. Conclusion: Pharmacotherapy in both groups resulte’ in reduced severity of symptoms, improved quality of lives, and decreased IL-6 levels.Keywords: Interleukin-6, pharmacotherapy, chronic rhinosinusitis without polyp, quality of life ABSTRAK Latar belakang: Rinosinusitis kronik (RSK) merupakan inflamasi pada mukosa hidung dan sinus paranasal, yang berlangsung selama lebih dari 12 minggu. Hingga saat ini masih memengaruhi sosioekonomi di negara maju maupun negara berkembang. Pemberian farmakoterapi sangat penting untuk memperbaiki derajat gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan menurunkan kadar interleukin (IL)-6. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian farmakoterapi terhadap perbaikan derajat gejala, peningkatan kualitas hidup, dan penurunan kadar IL-6. Metode: Penelitian kuasi eksperimental, label terbuka pra dan pascaterapi, pada 20 penderita RSK tanpa polip, dibagi dua kelompok berdasarkan hasil uji tusuk kulit. Perlakuan pada kedua kelompok sama, diberikan irigasi hidung, kortikosteroid intranasal, dan antibiotik amoksisilin klavulanat selama 14 hari. Penelitian dilakukan dengan menilai skor Visual Analog Scale (VAS) gejala hidung, skor nasoendoskopi (NE), Sinonasal Outcome test (SNOT)-22, dan kadar IL-6. Analisis statistik menggunakan metode Mann Whitney dan Wilcoxon. Hasil: Didapati perbedaan bermakna pada hasil analisis total pada skor VAS gejala hidung, skor NE, SNOT-22, dan kadar IL-6 pada kedua kelompok dengan nilai p<0,05. Didapati perbaikan pada semua variabel setelah 14 hari pemberian medikamentosa maksimal, namun tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok dengan nilai p>0,05. Kesimpulan: Pemberian farmakoterapi pada kedua kelompok memberikan hasil berupa perbaikan derajat gejala, peningkatan kualitas hidup, dan penurunan kadar IL-6.
Tuberkulosis hidung primer Fitri Heryanti; Teti Madiadipoera; Lina Lasminingrum; Sinta Sari Ratunanda
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 45, No 1 (2015): Volume 45, No. 1 January - June 2015
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1713.991 KB) | DOI: 10.32637/orli.v45i1.109

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis (TBC) hidung primer sangat jarang terjadi. Dalam dua dekade terakhir, TBC paru maupun ekstraparu muncul kembali sebagai masalah besar dalam bidang kesehatan di dunia.Penegakkan diagnosis TBC hidung juga tidak mudah baik secara klinis maupun dalam pemeriksaanlaboratorium. Gejala dan tanda klinisnya bervariasi dan tidak spesifik, menyerupai lesi granuloma akibatinfeksi lainnya, non-infeksi, atau keganasan. Tujuan: Kasus ini diajukan untuk  mengingatkan kembalipara dokter umum dan spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala dan Leher mengenai kasusTBC hidung primer yang jarang dijumpai sehingga tidak terjadi keterlambatan penegakan diagnosisdan penanganan kasus tersebut jika ditemukan lesi granuloma di hidung. Kasus: Dilaporkan satu kasusTBC hidung primer pada pasien perempuan usia 28 tahun. Penatalaksanaan: Pada pasien ini, dilakukanprosedur untuk mendiagnosis TBC hidung primer, kemudian diberikan terapi obat anti tuberkulosis kombinasi dosis tetap (KDT)kategori Isesuai panduan nasionaldanWHO,serta larutan pencuci hidung. Kesimpulan:TBC hidung primer harus dipertimbangkan sebagai salah satu diagnosis banding untuk setiap pasien dengan lesi granuloma di daerah kepala dan leher.Diagnosisdinidan penanganan yangtepatdapat menghasilkan kesembuhan total dari penyakit yang jarang ini. Kata kunci: tuberkulosis hidung, lesi granuloma, obat antituberkulosis.ABSTRACT Background: Primary nasal tuberculosis (TB) is an extremely rare case. In the last two decades, tuberculosis both pulmonary and extrapulmonary reemerged as a major health problem worldwide. Thediagnosis of nasal tuberculosis is also not easy, both clinically and in the laboratory. The symptoms andsigns are various and nonspecific, similar to other granulomatous lesions due to infection, non-infectionand malignancy. This condition may cause treatment delays of the desease. Objective: To remind thegeneral practitioner and otorhinolaryngologist about the primary nasal tuberculosis cases which extremelyrare so there is no delay in the diagnosis and treatment of those cases when granulomatous lesionsappeared in the nose. Case: We reported one case of primary nasal tuberculosis in female patients 28years old. Management: We performed diagnostic procedures to this patient and found primary nasaltuberculosis and the patient was given antituberculosis drugs-fixed dose combination (FDC) categoryI based on national guidelines and WHO as well as nasal wash solution. Conclusion: Primary nasaltuberculosis should be considered as one of differential diagnoses for each patient with unusual lesionsappeared in the head and neck region. Early diagnosis and proper treatment could bring about totalcure of this rare disease. Keywords: nasal tuberculosis, granulomatous lesion, antituberculosis drugs
Efektivitas Pelargonium sidoides terhadap penurunan gejala rinosinusitis kronik alergi tanpa polip disertai gangguan tidur Ahmad Juwaeni; Teti Madiadipoera; Iwin Soemarman; Sinta Sari Ratunanda
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 44, No 1 (2014): Volume 44, No. 1 January - June 2014
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.604 KB) | DOI: 10.32637/orli.v44i1.80

Abstract

Latar Belakang: Rinosinusitis kronik tanpa polip adalah inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal lebih dari 12 minggu. Etiologinya multifaktorial, terbanyak alergi. Gejala utamanya kongesti hidung, hidung berair, nyeri wajah, gangguan penciuman, dan menyebabkan gangguan tidur. Gangguan tidur disebabkan kongesti hidung dan peningkatan mediator inflamasi IL-1, IL-6, dan TNF-α. Tujuan: Membuktikan efektivitas terapi adjuvan rinosinusitis kronik alergi tanpa polip disertai gangguan tidur menggunakan ekstrak Pelargonium sidoides. Perbaikan gejala dan tanda klinis, serta penurunan kadar IL-1, IL-6, dan TNF- α sekret hidung sebagai indikator. Metode: Quasi-experimental open labelledpre and posttest design pada 20 sampel, dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diterapi larutan cuci hidung NaCl isotonis, semprot hidung kortikosteroid dan ekstrak Pelargonium sidoides. Kelompok kedua (kontrol) tidak diberikan ekstrak Pelargonium sidoides. Gejala klinis dinilai dengan Total Nasal Score Symptoms (TNSS), Visual Analog Scale (VAS), dan nasoendoskopi. Kualitas hidup dengan Rhinoconjuntivitis Quality of Life Questionnaires (RQLQ), dan Sinonasal Outcame Test-20 (SNOT-20). Hasil: Penurunan skor Total Nasal Score Symptoms (TNSS) (p=0,001), Visual Analog Scale (VAS) hidung tersumbat (p=0.018), VAS hidung berair (p=0,02), VAS nyeri wajah (p=0,008),skor nasoendoskopi (p=0,03), dan Rhinoconjuntivitis Quality of Life Questionnaires (RQLQ) activity (p=0,003), sleep (p=0,001), non-nose/eye symptoms (p=0,005), dan emotional (p=0,01) pada kelompok perlakuan berbeda bermakna dibandingkan kelompok kontrol berdasarkan uji Mann-Whitney. Tidak ada perbedaan bermakna pada skor SNOT-20 (p=0,096), penurunan kadar IL-1 (p=0,529), IL-6 (p=0,529), dan TNF-α (p=0,971). Kesimpulan: ekstrak Pelargonium sidoides secara klinis efektif sebagai terapiadjuvan rinosinusitis kronik alergi tanpa polip disertai gangguan tidur, namun tidak didukung penurunan kadar IL-1, IL-6, dan TNF-α sekret hidung. Kata kunci: gangguan tidur, IL-1, IL-6, TNF-α, Pelargonium sidoides, rinosinusitis kronik alergi tanpa polip.  ABSTRACTBackground: Chronic rhinosinusitis without nasal polyps is inflammation of the nasal and paranasal sinus mucosa that lasts more than 12 weeks. It has multifactorial etiologies, and allergy is the most common. Its main symptoms are nasal congestion, runny nose, facial pain, smell disturbance, and can cause sleep disturbances. Sleep disturbances caused by nasal congestion and increased of inflammatory mediators IL-1, IL-6, and TNF-α. Purpose: To prove effectiveness of Pelargonium sidoides extract as adjuvant therapy in allergic chronic rhinosinusitis without nasal polyps accompanied by sleep disturbances. The indicators are improvement of clinical signs and symptom, and decreased level of IL-1, IL-6, and TNF-α nasal secretions. Methods: Quasi-experimental design with 20 samples, dividedinto two groups. First group treated with isotonic nasal saline solution, corticosteroid nasal spray, and extract of Pelargonium sidoides. Second group (control) were not given extract of Pelargonium sidoides. Clinical symptoms were measured with TNSS, VAS, and nasoendoscopy. Qualityof Life measured by RQLQ and SNOT-20. Results: TNSS (p= 0.001), nasoendoscopy score, VAS nasal congestion (p=0,018), rinorrhea (p=0,02) facial pain (0,008), and improving RQLQ activity (p= 0.003), sleep (p=0.001), non-nose/eye symptoms (p=0,005), and emotional (p=0,01) in the treated group significanly difference compare to the control group based on Mann-Whitney tes. No significant difference in SNOT-20 score , and decreased levels of IL-1, IL-6, and TNF-α. Conclusion: Pelargonium sidoides extract can be used as adjuvant therapy of chronic allergic rhinosinusitis without nasal polyps with sleep disturbance, but not supported by decrease of IL-1, IL-6, and TNF-α.nasal secretion.Keywords: IL-1, IL-6, TNF-α, Pelargonium sidoides, allergic chronic rhinosinusitis without nasal polyps, sleep disturbance.
Aktinomikosis di tonsil lingualis dan supraglotis sebagai manifestasi klinis pertama pada pasien imunokompromais Raden Isma Nurul Aini; Sinta Sari Ratunanda; W. Wijana; Agung Dinasti Permana; Sally Mahdiani
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 47, No 1 (2017): Volume 47, No. 1 January - June 2017
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.928 KB) | DOI: 10.32637/orli.v47i1.199

Abstract

Latar belakang: Aktinomikosis merupakan infeksi bakteri kronis yang jarang ditemukan (1:300.000orang per tahun). Berbagai faktor risiko dapat mengakibatkan infeksi tersebut, sehingga pengobatan perludilakukan berdasarkan etiologi dan faktor risiko.Tujuan: Melaporkan dan menganalisis kasus yangjarang, yaitu aktinomikosis di hipofaring dan laring pada penderita dengan HIV-positive, yang menutupidua-pertiga inlet laring dan sfingter esofagus atas.Kasus: Laki-laki berusia 21 tahun datang dengankeluhan sulit menelan dan rasa mengganjal di tenggorok sejak 2 bulan. Pada pemeriksaan rinolaringoskopididapatkan massa berbenjol pada tonsil lingualis dan supraglotis. Hasil biopsi menunjukkan peradangankronis karena Actinomyces sp. Metode: Pencarian literatur dilakukan melalui Pubmed, Proquest, ClinicalKey, dan Google Scholar, dengan tidak membatasi tahun pencarian jurnal. Berdasarkan kriteria inklusi daneksklusi, didapatkan tiga artikel yang telah dilakukan critical appraisal. Hasil: Tidak ditemukan publikasimengenai kasus aktinomikosis servikofasial pada pasien dengan human immunodeficiency virus (HIV)positif. Tiga artikel yang ditemukan menunjukkan bahwa aktinomikosis dapat timbul pada pasien yangimunokompromais dalam jangka waktu lama. Pada tiga artikel yang dianalisis, manajemen aktinomikosisdapat dilakukan dan memberikan hasil yang baik karena telah diketahui faktor risiko sebelumnya. Namunpada kasus ini, infeksi HIV (+) sebagai faktor risiko baru ditemukan setelah manajemen aktinomikosis,dengan tindakan pembedahan dan medikamentosa sehingga memengaruhi outcome dari manajemen pasientersebut.Kesimpulan: Analisis faktor risiko pada aktinomikosis, seperti keadaan defisiensi imun akibatinfeksi HIV, perlu diinvestigasi secara mendalam sehingga dapat memperbaiki outcome manajemen pasien.Kata kunci: Aktinomikosis, disfagia, faktor risiko, defisiensi imun, human immunodeficiency virus ABSTRACTSBackground: Actinomycosis is a rare chronic bacterial infection that could be found in humans(incidence rate is 1 per 300,000 per year). There are various risk factors which can promote infection,and the treatment should be based on etiology and risk factors. Purpose: To present and analyse a caseof HIV-positive 21-year-old man with cervicofacial actinomycosis in hypopharynx and larynx, closingtwo-third of laryngeal inlet and upper esophageal sphincter. Case: A 21-years old man came with chiefcomplain of swallowing difficulty and blocking sensation in the throat. Rhinolaryngoscopy revealedcauliflower-like masses on lingual tonsil and supraglottic. Biopsy result showed chronic inflammation dueto Actinomyces sp. Method: Search of literatures was conducted on Pubmed, Proquest, Clinical Key, andGoogle Scholar without limiting years of journals. Based on the inclusion and exclusion criteria, threearticles were obtained as full texts and considered useful for the authors to be analysed. Result: Authorsdid not find any case reports and other papers discussing cervicofacial actinomycosis with HIV-positivein national and international journals. Three articles revealed that infection due to Actimomyces sp. wasrelated with long-term immunosuppressed conditions. In these articles, actinomycosis managementsshowed good response since their risk factors were known. However in our case, HIV as a predisposingfactor was discovered postoperatively, and after pharmacological treatment of actinomycosis had beenadministerred, affecting outcome and next management of this patient. Conclusion: In-depth analysisof actinomycosis predisposing factors, HIV infection should be included in order to improve the patientmanagement outcome. Keywords: Actinomycosis, risk factor, immunocompromised, human immunodeficiency virus