Lily Tjahjandari
Department Of Literature, Faculty Of Humanities, Universitas Indonesia

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Konstruksi Spiritualitas Tokoh Utama dalam Adaptasi Novel ke Film Rembulan di Wajahmu (2019) Rifa Nurafia; Lily Tjahjandari
Deiksis : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 1 (2022): DEIKSIS: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/deiksis.v9i1.6117

Abstract

Abstrak. Spiritualitas sebagai sebuah kepercayaan sering kali sulit dipaparkan secara nyata bentuknya. Dalam upaya mengungkapkan spiritualitas, film sering dianggap sebagai media yang tepat karena memvisualisasikan sebuah kejadian yang hampir mirip dengan kehidupan nyata. Salah satu film yang bertema ajaran agama dan spiritualitas yakni film Rembulan Tenggelam di Wajahmu produksi Max Picture yang diadaptasi dari novel berjudul sama Tere Liye. Dalam proses adaptasi tersebut, terdapat perubahan latar yang dilakukan sutradara. Perubahan tersebut menimbulkan gambaran berbeda antara novel dan film dalam aspek spiritualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kontruksi spiritualitas tokoh utama dalam merefleksikan keadilan takdir. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teori adaptasi J Dudley Andrew dan konsep spiritualitas Viktor Frankl. Hasil analisis menemukan bahwa perubahan variasi latar dari novel ke film memengaruhi kontruksi spiritualitas tokoh utama yakni membentuk perenungan diri. Perubahan tersebut membuat hadirnya spiritualitas tokoh utama tergambar dengan pencarian jati diri dan pemaknaan hidup. Proses adaptasi memberikan gambaran aspek spiritualitas membangun refleksi keadilan takdir sebagai wujud membimbing diri untuk menerima hidup serta aktualisasi diri terhadap kepercayaan yang dianut. Spiritualitas membangun refleksi keadilan takdir dengan kesadaran atas keberadaan diri tokoh utama yang tidak memiliki kuasa apapun atas kehidupannya.Kata kunci: adaptasi, spiritualitas, keadilan takdir, aktualisasi.
Perubahan Imaji Maskulinitas pada Alih Wahana Novel Dia Angkasa (2021) ke Drama Seri Dia Angkasa (2024) Sagita, Dwi Mayang; Tjahjandari, Lily
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i3.6484

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana perubahan imaji maskulinitas dari novel Dia Angkasa (2021) ke drama seri Dia Angkasa (2024) merepresentasikan kritik terhadap maskulinitas toksik dalam narasi geng motor remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan alih wahana menggunakan teori maskulinitas dari Deborah David dan Robert Brannon (1976) yang mencakup empat prinsip utama: No Sissy Stuff, Be a Big Wheel, The Sturdy Oak, dan Give ’Em Hell. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada novel adanya maskulinitas yang dibentuk melalui intimidasi, dominasi, kekerasan verbal, represi perasaan, serta penyelesaian konflik melalui pertengkaran fisik. Sebaliknya, pada drama seri menampilkan pergeseran imaji maskulinitas yang lebih positif, ditandai dengan sikap peduli, penolakan terhadap perundungan, pengendalian diri dengan tidak besikap kasar, mengekspresikan emosi, keberanian yang diekspresikan melalui pengorbanan, dan penyelesaian konflik melalui jalur hukum. Temuan ini menunjukkan bahwa alih wahana dapat menjadi sarana untuk merekonstruksi nilai-nilai maskulinitas toksik dalam narasi geng motor remaja yang sering diasosiasikan dengan tindakan-tindakan negetif menuju ke bentuk yang lebih poisitif. Perubahan ini merepresentasikan kritik terhadap maskulinitas dalam geng motor remaja dan menunjukkan bahwa drama seri dapat merekonstruksi nilai-nilai maskulin agar tidak berorientasi pada kekerasan.  
Jejak antikolonial kesusastraan Balai Pustaka dalam novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai Tjaraka, Ajeng Rahayu; Tjahjandari, Lily
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v7i1.835

Abstract

In the creation of literary works, the author will always be influenced by the spirit of the times (Zeitgeist) that existed during the writing process. Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, a novel by Marah Rusli, is one of the literary works that is close to Minangkabau culture. It was first published in 1922 by Balai Pustaka. Balai Pustaka established strict regulations in publishing reading materials for people in the Dutch East Indies to stem the nationalism of indigenous peoples. This research aims to find the strategies used by Marah Rusli to convey the anticolonial discourse contained in the work. The method used in this study is a qualitative descriptive method with the sociology of literature approach and Stuart Hall’s concept of representation. The results that the researcher found in this study are the anticolonial traces conveyed by Marah Rusli using various strategies to escape the censorship of Balai Pustaka, namely (1) the construction of youth figures representing the modernity of the Dutch colonial government and the elderly representing the traditionality of indigenous people; (2) the portrayal of anticolonial attitudes through antagonistic characters; and (3) the use of the year of Hijri to deceive the Dutch colonial government.
Transformasi majalah Annida masa akhir cetak: nilai-nilai moderatisme Islam pada dua cerpen dekade 2000-an (tinjauan sosiologi sastra) Sayati, Lena; Tjahjandari, Lily
SULUK : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 5 No. 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/suluk.2023.5.2.131-153

Abstract

Majalah Annida merupakan majalah sastra yang banyak memuat cerpen-cerpen bernuansa Islam. Terbit antara 1991-2010, Annida banyak mengalami berbagai transformasi yang meliputi aspek tampilan maupun isi terutama pada masa-masa akhir cetak sebelum beralih ke platform digital. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (a) transformasi konsep dan strategi Annida pada masa akhir cetak, (b) manifestasi nilai-nilai moderatisme Islam dalam merespon isu-isu kontemporer yang dihadirkan pada dua cerpen Annida tahun 2000-an Afifah Si Sopir Angkot dan Kupu-Kupu Plastik. Metode penelitian ini bersifat kualitatif dalam bentuk kajian tekstual dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra Wellek-Warren. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Majalah Annida mengambil perannya dalam merespon isu-isu kontemporer di tahun 2000-an, baik domestik maupun internasional, dengan pendekatan sastra Islam yang luwes dan moderat. Hal tersebut terlihat dari perubahan yang terjadi pada tema-tema cerpen Annida di tahun-tahun sekitar itu. Para penulis Annida menggunakan cerpen sebagai strategi dalam merespon topik-topik aktual lewat penyisipan nilai-nilai moderatisme Islam baik pada aspek penokohan maupun alur cerita.
SOSIALISASI TRADISI PURNAMA DI KARANGREJO, DESA WISATA BOROBUDUR MAGELANG Setyani, Turita Indah; Tjahjandari, Lily
Bhakti: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of digital technology, while offering many conveniences, has also led the younger generation to become overly absorbed in their gadgets. Many young people today find it difficult to detach themselves from their devices. This situation can have negative effects on children's psychological development, as they need both motor and social stimulation. Traditional children's games offer significant benefits for physical and mental growth. Coinciding with the Summer Solstice event in Borobudur—when the Moon is positioned directly above Borobudur's coordinates—the Summer Solstice Festival was held in Karangrejo Tourism Village, Magelang. In support of this festival, a community service program was conducted to promote the “Full Moon Tradition. In Javanese society, the full moon tradition in the past was a time when communities would gather under the full moon and engage in various activities, such as playing traditional games, dancing, singing, and performing full moon meditation. This community service program involved students and residents of Karangrejo Tourism Village in presenting a variety of artistic activities during the full moon night. The goal of this initiative is to promote literacy about the full moon tradition, which has become increasingly rare in the era of digital technology.
The Public Space Management Strategy at the Bali Arts Centre during the Annual Bali Arts Festival I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani; Lily Tjahjandari; Turita Indah Setyani
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 14 No. 2 (2024): Reclaiming Cultural Heritage
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2024.v14.i02.p11

Abstract

The Bali Arts Festival, locally known as Pesta Kesenian Bali (PKB), is an annual colossal festival of performing arts intended to preserve and explore cultural arts, as can be observed from the variety of programs performed, the number of artists involved and the number of viewers. This study analyzes how the public space at the Bali Arts Centre is managed not only to perform a professional and high-quality festival but also to make artists, entrepreneurs and viewers feel comfortable in enjoying it. The data were obtained through interviews, library research, and observation of the 2023 PKB and analyzed using the theory of public space proposed by Gottdiener and Lefebvre. The study concludes that the government has realized that improving the public space and the Arts Centre supporting facilities proves that public space management is as important as the arts curatorial process to present the quality of the PKB and public viewing experiences.
The Good German? German Colonial Fantasies in Indonesia in Rudolf Utsch’s Trilogy Lisda Liyanti; S.M. Gietty Tambunan; Lily Tjahjandari
Journal of Language and Literature Vol 25, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/joll.v25i1.9408

Abstract

The relationship between Germany and Asia is characterized by its complexity and uniqueness. Unlike other European nations, Germany established close connections with Asia by drawing inspiration from its rich cultural heritage. Germany’s historical background, being overpowered and defeated by France at the beginning of its formation to nationhood, led German thinkers and philosophers to seek sources of national self-identity other than those imbued with antiquity and Western culture. Germany's perception of itself about the East (as well as other regions) can be understood through the lens of German colonial fantasies, which depict Germany as a benevolent colonizer capable of establishing harmonious colonies. This concept of colonial fantasy is dynamic and evolves in line with German historical stages. In this study, we will examine Rudolf Utsch's three-part series of German adolescent adventure texts set in Indonesia by employing a textual analysis approach and focusing on the concept of colonial fantasy by Susanne Zantop. The research outcomes suggest that both German characters were depicted as benevolent colonizers, yet their efforts to establish a harmonious colony proved unsuccessful. Several biases stemming from colonial fantasies are discovered, including gender bias, the marginalization of local characters, and an imbalance in the portrayal of space and location.
Rekonsiliasi Keluarga dalam Cerita Rakyat Purbasari Ayu Wangi Atawa Lutung Kasarung (2008) dan Iklan Marjan 2020: Kajian Alih Wahana Yuni Riyanti; Lily Tjahjandari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6648

Abstract

This study uses the folklore of Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung by Ajip Rosidi (2008) and its adaptation works in the form of an advertisement for Marjan's product which will be broadcast in 2020. It is interesting to study this work to see how a folktale undergoes multiple transformations and still experiences changes when used as a commercial tool in the form of advertisements on television today. This research examine how ride-hailing travels in two media, namely text and video advertisements. The method used in this study is a qualitative method  focuses on adaptation. Theories and concepts used in this study are A.J. Greimas' structural theory, the concepts of adaptation, folklore, and advertising media discourse. The purpose of this research is to find out the family reconciliation contained in both corpus. The results of the study show that changes in media result in ideological changes in the conflicts shown through video advertisements. The journey of conflict in Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung shows how the power of older siblings dominates younger siblings. Family reconciliation is shown by how women are weak and dependent on men. Meanwhile, in the advertisement for Marjan 2020, the character Purbasari is shown to have power over herself. The presence of a man, namely Lutung Kasarung, plays a role in helping family reconciliation, but Purbasari appears with her own strength in resolving internal family conflicts. This research helps show how re-direction can improve the position of women without changing the core story. AbstrakPenelitian ini menggunakan cerita rakyat Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung (2008) karya Ajip Rosidi dan karya adaptasinya berupa iklan produk Marjan yang tayang pada tahun 2020. Karya tersebut menarik diteliti untuk melihat sebuah cerita rakyat mengalami transformasi berkali-kali dan masih mengalami perubahan ketika dijadikan alat komersil dalam bentuk iklan di televisi pada masa kini. Penelitian ini mengkaji perjalanan alih wahana dalam dua media, yakni teks dan video iklan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan alih wahana yang berfokus pada adaptasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktural A.J. Greimas. Sementara itu, konsep yang digunakan berupa konsep adaptasi, folklor, dan wacana media iklan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui rekonsiliasi keluarga yang terdapat dalam kedua korpus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan wahana mengakibatkan perubahan ideologi dalam konflik yang ditampilkan melalui video iklan. Perjalanan konflik dalam Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung memperlihatkan kuasa kakak mendominasi adik, rekonsiliasi keluarga diperlihatkan perempuan sebagai sosok yang lemah dan bergantung kepada laki-laki. Sementara itu, dalam iklan Marjan 2020 tokoh Purbasari diperlihatkan mempunyai kuasa atas dirinya sendiri. Kehadiran laki-laki yakni Lutung Kasarung berperan membantu rekonsiliasi keluarga, tetapi Purbasari tampil dengan kekuatannya sendiri dalam menyelesaikan konflik internal keluarga. Penelitian ini membantu memperlihatkan alih wahana dapat membuat posisi perempuan menjadi lebih baik tanpa harus mengubah inti ceritanya.
Cyberbullying dalam Fenomena Bocil Nulis Wattpad: Analisis Komentar Negatif terhadap Cuitan Akun X @tanyarlfess Regita Maharani Wibisono; Lily Tjahjandari
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7682

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membuka ruang baru bagi generasi muda untuk berekspresi dan berkarya, salah satunya melalui platform menulis daring, seperti Wattpad. Fenomena menarik muncul ketika remaja, yang dikenal sebagai bocil nulis Wattpad, mulai aktif menulis dan mempublikasikan karya fiksi mereka secara terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena bocil nulis Wattpad sebagai bagian dari kebudayaan dan proses belajar bagi remaja. Dengan menggunakan pendekatan cultural studies melalui metode etnografi digital, penelitian ini melakukan wawancara dengan author dan pembaca Wattpad serta mengemukakan fakta-fakta melalui studi pustaka. Selain itu, teori Representasi (Stuart Hall), Participatory Culture (Henry Jenkins), serta Teori Psikologi Perkembangan (Hurlock) menjadi landasan teoritis penelitian. Hasil penelitian ini: (1) menunjukkan bahwa terdapat cyberbullying dalam fenomena bocil nulis wattpad, (2) memberikan pemahaman tentang faktor psikologis dan sosial yang membentuk minat remaja awal, dan (3) menyoroti bahwa fenomena bocil nulis Wattpad merupakan bentuk eksplorasi dan proses belajar author bocil yang patut diapresiasi.
The Public Space Management Strategy at the Bali Arts Centre during the Annual Bali Arts Festival I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani; Lily Tjahjandari; Turita Indah Setyani
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 14 No. 2 (2024): Reclaiming Cultural Heritage
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2024.v14.i02.p11

Abstract

The Bali Arts Festival, locally known as Pesta Kesenian Bali (PKB), is an annual colossal festival of performing arts intended to preserve and explore cultural arts, as can be observed from the variety of programs performed, the number of artists involved and the number of viewers. This study analyzes how the public space at the Bali Arts Centre is managed not only to perform a professional and high-quality festival but also to make artists, entrepreneurs and viewers feel comfortable in enjoying it. The data were obtained through interviews, library research, and observation of the 2023 PKB and analyzed using the theory of public space proposed by Gottdiener and Lefebvre. The study concludes that the government has realized that improving the public space and the Arts Centre supporting facilities proves that public space management is as important as the arts curatorial process to present the quality of the PKB and public viewing experiences.