Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

HUBUNGAN POLA MINUM OBAT DENGAN KEJADIAN KOMPLIKASI PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA MEDINI Umi Faridah; Muhammad Purnomo; Noor Hidayah; Aprillianto Kurniawan
(IJP) Indonesia Jurnal Perawat Vol 7, No 1 (2022): INDONESIA JURNAL PERAWAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijp.v7i1.1466

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Penyakit darah tinggi atau hipertensi merupakan suatu gangguan pada pembuluh darah dan jantung yang mengakibatkan suplay oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh. Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke, infak miokard, diabetes dan gagal ginjal. Salah satu kepatuhan yang harus ditaati penderita hipertensi adalah pola minum obat. Faktor pola minum obat merupakan hal yang penting untuk diperhatikan pada penderita hipertensi. Ketidakpatuhan dalam minum obat hipertensi secara teratur dapat meningkatkan resiko komplikasi pada penderita hipertensi. Metode: Jenis penelitian ini menggunakan studi korelasi (correlation study) dengan Desain observasional cross sectional. Teknik sampling penelitian ini adalah consecutive sampling. Dengan jumlah sampel 55 responden. Analisa data dilakukan menggunakan adalah Chi- Square.  Hasil: Hasil ini menunjukkan nilai p-value (0,000) (α = 0,05) yang artinya Terdapat Hubungan antara Hubungan Pola Minum Obat Dengan Kejadian Komplikasi Pada Penderita Hipertensi Di Desa Medini Kesimpulan: Berdasarkan pola minum obat Patuh yaitu sebanyak 40 pasien (75.8%). Kejadian komplikasi yang dialami responden tidak terjadi komplikasi sebanyak 39 responden (70.9%). Terdapat Hubungan antara Hubungan Pola Minum Obat Dengan Kejadian Komplikasi Pada Penderita Hipertensi.
HUBUNGAN PELAKSANAAN PENGAWAS MINUM OBAT DENGAN KEKAMBUHAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUANG CEMPAKA 1 RSUD DR LOEKMONOHADI KUDUS Sri Budiani; Fitriana Kartikasari; Noor Hidayah; Muhammad Purnomo
(IJP) Indonesia Jurnal Perawat Vol 5, No 2 (2020): INDONESIA JURNAL PERAWAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijp.v5i2.1346

Abstract

Abstrak Kekambuhan kembali penderita gangguan jiwa termasuk halusinasi sebagian besar disebabkan oleh kurangnya perhatian dari lingkungan dan bahkan keluarga sendiri sehingga berakibat pada lambatnya proses penyembuhan, kekambuhan klien skizofrenia menimbulkan dampak yang buruk bagi keluarga, klien dan rumah sakit. Pengobatan yang efektif pada pasien skizofrenia membutuhkan waktu jangka panjang oleh karena itu peran pelaksanan pengawas minum obat sangan penting. Pengawas minum obat merupakan orang yang mengawasi secara langsung terhadap penderita skizofrenia pada saat minum obat setiap harinya dengan menggunakan panduan obat jangka pendek. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pelaksanaan pengawas minum obat dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di Ruang Cempaka 1 RSUD dr Loekmonohadi Kudus. Adapun penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik korelasional dengan jumlah responden 28 responden. Hasil analisis statistik chi squere diperoleh p value = 0.001 lebih lebih besar dari nilai tingkat kemaknaan ɑ 0.05, maka Ho gagal ditolak. Hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan pelaksanaan pengawas minum obat dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di Ruang Cempaka 1 RSUD dr Loekmonohadi Kudus.  Kata kunci : pelaksanaan pengawas minum obat, kekambuhan pada pasien skizofrenia   Abstract Recurrence of mental disorders, including hallucinations, is mostly caused by a lack of attention from the environment and even the family itself, resulting in a slow healing process. Recurrence of schizophrenic clients has a negative impact on families, clients and hospitals. Effective treatment in schizophrenia patients takes a long time. Therefore, the role of supervisors to take medication is very important. Drug-taking supervisor is a person who directly supervises schizophrenics when taking medication every day using a short-term medication guide. This study is to determine the relationship between supervisors taking medication with recurrence in schizophrenia patients in Cempaka 1 Room at Dr. Loekmonohadi Kudus Hospital in 2020.This study used in this research is the type of this research is correlational analytic. With the number of respondents 28 respondents. The results of the chi square statistical analysis showed that p value = 0.001 was greater than the significance level value nilai 0.05. then Ho failed to be rejected. It can be concluded that there is a correlation between the implementation of supervisors taking medication with recurrence in schizophrenic patients in Cempaka 1 Room RSUD Dr. Loekmonohadi Kudus.Keywords: implementation of medication taking control, recurrence in schizophrenic patients
PENGEMBANGAN PENGELOLAAN SAMPAH KOTORAN SAPI DI DESA PUYOH KECAMATAN DAWE KUDUS Muhammad Purnomo; Ahmad Nur Syafiq; Noor Azizah
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 4, No 1 (2022): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v4i1.1496

Abstract

Abstrak Kegiatan penyuluhan dan kampaye penggunaan energi alternatif dilaksanakan pada tanggal 18 Januari tahun 2022 di Rumah perangkat desa Puyoh (Ka.Urkersa) dihadiri 41 orang. Metode yang digunkan adalah penyuluhan dan kampaye Bio Energi Perdesaan (BEP), yaitu suatu upaya pemenuhan engergi secara swadaya (selfproduction). Hasil dari kegiatan adalah adanya perubahan 1) Sikap adalah peserta menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi bahwa pengelolaan kotoran sapi masih bisa dikembangkang selain sebagai kompos, terjadi perubahan kesadaran untuk membuat reaktor, memperhatikan secara detail materi, mengarahkan perhatian kepada pemateri, merespon, meliputi menyampaikan pertanyaan. secara diam-diam menghitung kebutuhan untuk praktik, bersedia menjawab pertanyaan dan saling bertanya antar peserta, merasa puas dalam merespon, menghargai, meliputi menerima suatu nilai manfaat dari bioenergi, terbentuk komitmen terhadap untuk memanfaatkan energi alternatif antar anggota yang dimotori ketua Kelompok ternak. 2) Pengetahuan peserta bertambah dibuktikan dengan semua pertanyaan dari pemateri dapat dijawab seluruhnya, bila dibanding sebelum diberikan penyuluhan yang hanya bisa terjawab satu dari 5 pertanyaan.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Stres Kerja pada Perawat di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus Wiwik Dewi Mulyani; Muhammad Purnomo; Anny Rosiana Mashitoh
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3828

Abstract

Latar Belakang: Stres kerja merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh perawat dan dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas pelayanan kepada pasien. Berbagai faktor dapat memengaruhi tingkat stres kerja pada perawat yaitu, beban kerja yang berlebihan, lingkungan kerja yang tidak kondusif, konflik peran ganda, pola ketenagaan yang tidak tersusun rapi, konflik interpersonal, kurangnya dukungan sosial dan gaji yang tidak sesuai. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi stres kerja pada perawat di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus. Metode: Desain penelitian menggunakan deskriptif analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus pada bulan Agustus 2025, jumlah sampel sebanyak 114 responden dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup yang sudah diuji validitas dan reliablitasnya, yang hasilnya dianalisis menggunakan Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat stres kerja memiliki hubungan signifikan dengan beban kerja (p=0,001< 0,05) dan gaji (p=0,000< 0,05). Sedangkan lingkungan kerja, konflik peran, pola ketenagaan, komflik interpersonal, dan dukungan sosial tidak memiliki hubungan signifikan dengan tingkat stres kerja dengan nilai p >0,05. Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dan gaji dengan tingkat stres kerja. Sementara itu, lingkungan kerja, konflik peran, pola ketenagaan, konflik interpersonal, dan dukungan sosial tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan stres kerja. Diharapkan penelitian ini dapat mengidentifikasi dan memahami berbagai penyebab stres yang dialami oleh tenaga keperawatan.
Hubungan antara Pola Komunikasi dan Keharmonisan Keluarga dengan Kondisi Mental Emosional pada Anak Zulfia Ningrum; Muhammad Purnomo; Sri Karyati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.53766

Abstract

Meningkatnya kerentanan anak terhadap gangguan mental emosional dalam beberapa tahun terakhir  menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Fenomena ini diduga berkaitan dengan buruknya pola komunikasi dan keharmonisan dalam keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah guna menganalisis hubungan antara pola komunikasi dan keharmonisan keluarga dengan kondisi mental emosional pada anak. Penelitian kuantitatif korelasional ini melibatkan 57 siswa yang dipilih melalui penggunaan teknik two-stage cluster sampling. Instrumen penelitian memakai kuesioner skala Likert untuk mengukur tiga variabel penelitian: pola komunikasi keluarga, keharmonisan keluarga, dan kondisi mental emosional anak. Hasil penelitian memperlihatkan bahwasanya pola komunikasi dan keharmonisan keluarga mayoritas berada pada kategori sedang (70%), sedangkan kondisi mental emosional siswa berada pada kategori ambang (borderline) sebesar 75%. Uji korelasi memperlihatkan adanya hubungan signifikan antara pola komunikasi keluarga dengan kondisi mental emosional (p = 0,001; r = –0,419) dan antara keharmonisan keluarga dengan kondisi mental emosional (p < 0,001; r = –0,502). Karena skor tinggi pada variabel kondisi mental emosional menandakan keadaan yang lebih abnormal, maka skor rendah menunjukkan kondisi yang lebih baik. Oleh sebab itu, semakin baik pola komunikasi dan keharmonisan keluarga, semakin baik pula kondisi mental emosional pada anak.
Legal Analysis of Patient and Family Consent as a Form of Agreement in the Implementation of Medical Procedures in Hospitals Muhammad Purnomo; Rusnoto Rusnoto; Achmad Jumeri Pamungkas
JURNAL AKTA Vol 13, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Program Magister (S2) Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/akta.v13i2.52333

Abstract

Patient and family decision-making regarding medical procedures is a crucial process in health care that requires conscious and voluntary consent, known asinformed consentThis process is influenced by various multidimensional factors that are not yet fully understood, especially in private hospitals in Central Java. Objective:This study aims to identify and analyze factors that influence patient and/or family decision-making regarding medical procedures performed by doctors. Method: This quantitative research uses an approachanalytical descriptivewith designcross-sectional.A sample of 120 respondents was selected using the techniquepurposive samplingfrom six private hospitals in Kudus, Demak, and Jepara Regencies. Data were collected using a structured questionnaire that had been tested for validity and reliability, and analyzed using a multivariate analysis.Pearson Correlation And simple linear regression. Results:There is a significant relationship between knowledge (r=0.304; p=0.001), psychological (r=0.323; p=0.001), cultural-religious (r=0.336; p=0.001), economic conditions (r=0.925; p=0.001), and trust in medical personnel (r=0.334; p=0.001) factors with medical decision-making. Multivariate analysis shows thateconomic conditionsis the most dominant factor influencing patient decisions (R²=0.864; p=0.001).Conclusion:Patient and family decision-making regarding medical procedures is influenced by various factors, primarily economic conditions, followed by cultural-religious and psychological aspects. Interventions that strengthen psychological support, are sensitive to cultural values, and improve financial access are key to improving the process.informed consentwhich is more effective.
HUBUNGAN KEBIASAAN SARAPAN DAN PERAN ORANG TUA DALAM MENDORONG MAKANAN SEHAT TERHADAP STATUS BERAT BADAN PADA REMAJA DI MTS HASYIM ASY’ARI BANGSRI JEPARA Amelia Dwi Agustin; Diana Tri Lestari; Muhammad Purnomo
Nusantara Hasana Journal Vol. 6 No. 1 (2026): Nusantara Hasana Journal, June 2026
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v6i1.2184

Abstract

This study aims to determine the relationship between breakfast habits and the role of parents in encouraging healthy food consumption with weight status in adolescents at MTs Hasyim Asy'ari Bangsri Jepara. This study was conducted because adolescents are vulnerable to nutritional problems due to irregular eating patterns, the habit of skipping breakfast, and lack of family support in establishing healthy eating patterns. The study used an observational analytical method with a cross-sectional approach. The research sample was selected using a proportional random sampling technique. The independent variables in this study were breakfast habits and the role of parents in encouraging healthy food consumption, while the dependent variable was the adolescents' weight status. Data collection was carried out using questionnaires and weight and height measurements to determine BMI/U based on WHO standards. The results showed that the majority of respondents were female (64.7%) and most were 14 years old. The results of the Chi-Square test showed a significant relationship between breakfast habits and weight status in adolescents with a p-value of 0.001 (p<0.05). Furthermore, there was a significant correlation between parental involvement in encouraging healthy food consumption and weight status in adolescents, with a p-value of 0.000 (p<0.05). The study concluded that breakfast habits and parental involvement were significantly associated with weight status in adolescents.
Pengalaman Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Pasien Mancanegara di RSU Tipe B Lisna Novita Anggriani; Muhammad Purnomo; Ashri Maulida Rahmawati
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 5 No 2 (2026): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol5.Iss2.2595

Abstract

Multikulturalisme dalam pelayanan kesehatan menjadi tantangan bagi rumah sakit yang melayani pasien mancanegara, terutama terkait hambatan komunikasi dan perbedaan budaya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hambatan yang dialami tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan lintas budaya di salah satu RSU Tipe B di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan melibatkan tujuh tenaga kesehatan dan petugas lini depan yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan proses coding, kategorisasi, dan penarikan tema. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama, yaitu: (1) respons psikologis tenaga kesehatan berupa rasa percaya diri, takut, dan cemas saat menghadapi perbedaan budaya; (2) strategi adaptif melalui komunikasi verbal, nonverbal, dan penggunaan aplikasi penerjemah; serta (3) kendala bahasa dan keterbatasan penerjemah yang menyebabkan komunikasi kurang efektif, memperlambat pelayanan, dan meningkatkan risiko kesalahpahaman. Temuan menunjukkan bahwa hambatan pelayanan lintas budaya terutama disebabkan oleh rendahnya kompetensi budaya dan belum optimalnya dukungan sistem rumah sakit. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kompetensi budaya melalui pelatihan, penyediaan layanan penerjemah, dan kebijakan pelayanan yang lebih inklusif untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan bagi pasien mancanegara.
HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN KUALITAS PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH DEMAK Fitriana Kartikasari; Muhammad Imam Wakhidin; Muhammad Purnomo; Novy Kumalasari
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 16, No 1 (2025): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v16i1.2740

Abstract

Dokumentasi dalam pelayanan keperawatan merupakan elemen krusial untuk memastikan standar perawatan yang tinggi. Beban kerja berlebihan pada perawat dapat berdampak negatif pada kualitas dokumentasi, sehingga dapat mengurangi efektivitas layanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara beban kerja perawat dengan kualitas pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang rawat inap Rumah Sakit RS PKU Muhammadiyah Demak. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study, melibatkan 14 perawat sebagai responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Analisa data dilakukan dengan menggunakan rank Spearman untuk melihat korelasi antara variabel independen dan dependen. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki beban kerja berat (64,3%) dan kualitas pendokumentasian yang rendah (57,1%). Uji statistik memperoleh nilai p=0,000, yang lebih kecil dari 0,005, sehingga menunjukkkan adanya hubungan signifikan antara beban kerja perawat dan  kualitas pendokumentasian asuhan keperawatan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan beban kerja perawat cenderung mengakibatkan penurunan kualitas dokumentasi asuhan keperawatan. Oleh karena itu, diperlakukan strategi manajemen beban kerja yang efektif untuk meningkatkan kualitas dokumentasi, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada peningkatan mutu layanan keperawatan di rumah sakit.
DETERMINAN WAKTU TUNGGU PELAYANAN RAWAT JALAN DI FASILITAS LAYANAN KESEHATAN PRIMER Pingki Agit Setyasih; Muhammad Purnomo; Muhamad Jauhar; Edi Wibowo Suwandi; Novy Kumalasari; Ifa Nailatul Iza
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 16, No 2 (2025): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v16i2.3019

Abstract

Waktu tunggu merupakan durasi yang diperlukan pasien sejak pendaftaran hingga pemeriksaan oleh dokter. Standar ideal menurut Kementerian Kesehatan adalah ≤60 menit. Waktu tunggu yang lama dapat memperburuk kondisi pasien dan menurunkan mutu pelayanan di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kompetensi teknis petugas, ketepatan waktu pelayanan, ketersediaan sumber daya manusia (SDM), pelayanan administrasi, ketersediaan sarana dan prasarana, serta pelayanan pendaftaran dengan waktu tunggu pasien rawat jalan. Penelitian dilaksanakan di UPT Puskesmas Kaliwungu, Kabupaten Kudus, pada November 2023 hingga Mei 2024, menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif deskriptif dan rancangan cross sectional. Sampel sebanyak 96 responden dipilih dengan teknik purposive sampling, berdasarkan kriteria pasien yang pernah berkunjung ke Puskesmas untuk pelayanan rawat jalan serta mampu membaca dan menulis. Instrumen penelitian berupa kuesioner pelayanan rawat jalan dan lembar observasi waktu tunggu pasien. Pengumpulan data dilakukan secara langsung setelah mendapatkan informed consent, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi teknis petugas (p=0,003) dan ketepatan waktu pelayanan (p=0,004) memiliki hubungan signifikan terhadap waktu tunggu pasien. Sementara itu, ketersediaan SDM (p=0,070), pelayanan administrasi (p=0,130), ketersediaan sarana dan prasarana (p=0,484), dan pelayanan pendaftaran (p=0,014) tidak menunjukkan hubungan signifikan. Kesimpulannya, peningkatan kompetensi petugas dan ketepatan waktu pelayanan perlu menjadi prioritas. Disarankan agar Puskesmas Kaliwungu meningkatkan koordinasi antar petugas guna mempercepat proses pelayanan dan meminimalkan waktu tunggu pasien.