Claim Missing Document
Check
Articles

Digital media research: Will it continue to be a trend in the future? Rianto, Puji
Jurnal Komunikasi Vol. 19 No. 2 (2025): VOLUME 19 NO 2 APRIL 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/komunikasi.vol19.iss2.editorial

Abstract

The articles published in Jurnal Komunikasi Vol. 19 No. 2 April 2025 continue the trend observed in studies featured in recent editions of Jurnal Komunikasi. These studies reflect a growing interest in new media or digital media research across various objects, approaches, and perspectives amidst a steady decline in attention toward traditional media such as radio, television, and newspapers. Although television remains an important source of information and entertainment in Indonesia and was even highly popular several decades ago (Heryanto, 2015), researchers now appear more inclined to focus on internet-based digital media studies. This interest is inseparable from the increasingly prominent presence of digital media platforms over recent years not only in Indonesia but also globally (Twenge et al., 2019). For illustration, data released by the Pew Research Center indicate that the majority of Americans use YouTube and Facebook; meanwhile Instagram, Snapchat, and TikTok are predominantly used by those under thirty years old
Kajian Media Digital dan Media Sosial Akankah Terus Berlanjut? Rianto, Puji
Jurnal Komunikasi Vol. 18 No. 1 (2023): VOLUME 18 NO 1 OKTOBER 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/komunikasi.vol18.iss1.editorial

Abstract

Sudah beberapa edisi Jurnal Komunikasi menerbitkan artikel dengan mengambil objek kajian media baru, media digital, ataupun media sosial. Aneka penyebutan kajian media ini mengindikasikan kompleksitas masalah. Dalam kajian-kajian akademik, beberapa penulis menyebutnya sebagai media digital seperti kajian Kaul (2012), Thumim & Chouliaraki (2010), Utomo (2022), dan Habibi (2010) untuk menyebutkan beberapa penelitian. Penelitian lainnya menggunakan istilah atau terminologi media baru (Asmar, 2020; Ataman & Çoban, 2018; Baber, 2003; Van Couvering, 2017). Berikutnya, kajian-kajian yang secara khusus memfokuskan analisis pada media sosial yang merupakan bagian dari media baru atau media digital. Dalam satu dekade belakangan, media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, ataupun TikTok telah menjadi bahan kajian penting. Kajian-kajian itu mempunyai latar belakang keilmuwan yang sangat beragam. Ini berimplikasi pada teori, pendekatan, perspektif yang digunakan juga sangat beragam. Di Indonesia, sebagai ilustrasi, para sarjana dan pengamat Indonesia dari luar negeri telah menempatkan media sosial sebagai objek kajian yang sangat penting. Baulch & Pramiyanti (2018), misalnya, mengkaji bagaimana media sosial Instagram digunakan untuk membangun citra diri sebagai muslimah. Sementara itu, banyak kajian lainnya mengenai media sosial di Indonesia menggunakan perspektif digital activism (Lim, 2017; Saud & Margono, 2021; Suwana, 2020), dan lainnya menggunakan perspektif demokrasi dan pengawasan (surveilance) seperti dikerjakan, misalnya, Masduki (2021), Nurhayati & Suryadi (2017), Putri (2022), dan juga (Saud & Margono (2021).
Digital Activism, Bahasa, dan Politik Representasi Film Rianto, Puji
Jurnal Komunikasi Vol. 18 No. 2 (2024): VOLUME 18 NO 2 APRIL 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/komunikasi.vol18.iss2.editorial

Abstract

Artikel-artikel yang terbit di Jurnal Komunikasi Volume 18, Nomor 2, 2024 masih melanjutkan kecenderungan kajian-kajian sebelumnya yang terbit di Jurnal Komunikasi edisi sebelumnya. Kajian tersebut memberikan perhatian pada kehadiran media digital atau secara khusus media sosial. Penetrasi internet dan media sosial yang semakin luas di masyarakat (APJII, 2022) tampaknya menarik perhatian lebih banyak peneliti di Indonesia untuk mengkaji fenomena tersebut. Menariknya, kajian-kajian itu lebih memberikan perhatian pada kontribusi penting kehadiran media digital bagi pemberdayaan dan juga perlawanan masyarakat atau yang sering dikenal luas sebagai netizen dalam mendorong perubahan. Kajian ini bukanlah sama sekali baru karena banyak peneliti sebelumnya telah memberikan perhatian pada media digital dalam mendorong perubahan (Lim, 2017; Rianto, 2023; Suwana, 2020; Valera-Ordaz & López-García, 2019), tetapi luasnya bidang ini telah membuka area-area penelitian yang baru. Digital activsm tidak hanya masuk dalam ranah politik (Saud & Margono, 2021; Suwana, 2020), tetapi juga mencakup gerakan-gerakan yang lebih luas, termasuk meluasnya budaya pembatalan (Driessen, 2023; Rutledge, 2021; Verga et al., 2021) atau gerakan berorientasi pada pola hidup berkelanjutan (Cahyaningtyas et al., 2021). Hasil-hasilnya pun tergantung pada banyak faktor (Lim, 2017; Rianto et al., 2024). Pada edisi ini, hanya satu artikel yang tidak membahas kajian media digital, yakni kajian yang dilakukan oleh Ismail & Wijaksono. Fokusnya pada voluntarisme masyarakat dalam menanggulangi pandemi Covid-19.
Melihat krisis sebagai ”ruang belajar” Rianto, Puji
Jurnal Komunikasi Vol. 19 No. 1 (2024): VOLUME 19 NO 1 OKTOBER 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis senantiasa “berwajah ganda”. Pada satu sisi, krisis menciptakan ketidakstabilan, kecemasan, dan kerugian baik material maupun immaterial. Namun, krisis juga menciptakan peluang (Ioannides & Gyimóthy, 2020) dan pelajaran berharga bagi organisasi dan, dalam banyak kasus, umat manusia. Pandemi Covid-19 yang dideklarasikan sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) pada 30 Januari 2020 dan baru dinyatakan berakhir pada 05 Mei 2023 menyebabkan kematian antara 13,3-16,6 juta orang (dalam kurun 1 Januari 2020 hingga 31 Desember 2021) (Rahadian, 2022). Tidakberbeda dengan krisis dan bencana lainnya, pandemi Covid-19 juga telah memberikan banyak pelajaran berharga. Pandemi Covid-19 tidak hanya menguji sistem kesehatan, tetapi juga menguji sistem-sistem lainnya seperti sistem jaminan sosial, sistem politik, kapital sosial masyarakat, dan yang tidak dapat diabaikan adalah sistem komunikasi publik. Oleh karena itu, yang terpenting dari pandemi covid adalah bagaimana mengambil pelajaran dari krisis tersebut. Dalam hal ini, Dirjen WHO, TedrosAdhanom Ghebreyesus (Dinkes Aceh, 2023) mengemukakan,”Covid telah mengubah dunia, mengubah kita. Seperti apa yang seharusnya terjadi. Jika kita kembali seperti dulu sebelum Covid, kita gagal untuk belajar dan bersalah ke generasi masa depan”. Dengan demikian, kegagalan dalam mengambil pelajaran bukan saja sebuah kesalahan, tetapi juga”dosa” untuk generasi yang akan datang.
Between Old and New Media: Continuity, Transformation, and Research Challenges Rianto, Puji; Desmalinda
Jurnal Komunikasi Vol. 19 No. 3 (2025): VOLUME 19 NO 3 OKTOBER 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/komunikasi.vol19.iss3.editorial

Abstract

Communication media have under-gone profound transformations since the emergence of the Internet in the 1990s, the rise of social media in the 2000s, and the launch of YouTube in 2005. By the 2010s, digital media had become firmly established as the dominant mode of communication and content consumption (Han, 2024). Several critical shifts can be identified as a result of the rise of new media. First, the role of professional media institutions as “gatekeepers” has significantly diminished. Users themselves have increasingly become the new “gatekeepers” of information (Rianto, 2016). Second, the long-standing idea of the active audience found its most radical expression in the digital media era (Rianto, 2016), characterized by the principles of interactivity and participation inherent in user-generated content (Lister et al., 2009). This participatory turn has blurred the boundaries between professional and user-generated content (Yu et al., 2024).
Peningkatan Kapasitas Komunikasi dan Berorganisasi Siswa Melalui Pelatihan Komunikasi dan Manajemen Organisasi Rianto, Puji; Nurtjahjo, Fani Eka
PARAHITA : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal (Jurnal Ilmiah Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/parahita.v4i2.108

Abstract

Organisasi siswa mempunyai peran yang sangat penting dalam membantu perkembangan siswa. Kegiatan berorganisasi umumnya dilihat secara positif karena kontribusinya dalam membantu siswa untuk belajar berbagai hal. Kontribusi positif tersebut di antaranya adalah melatih kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan juga meningkatkan prestasi belajar. Meskipun organisasi siswa mempunyai kontribusi positif, tetapi banyak kendala yang dihadapi seperti kemampuan komunikasi, merancang kegiatan dan proposal kegiatan, dan kerja sama dengan pihak lain. Pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas berorganisasi siswa di SMU Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Metode pengabdian adalah ceramah, diskusi, dan praktik. Ada enam materi pelatihan, yakni strategic thinking, planning & organizing, flexibility & adaptability, kepemimpinan dan komunikasi kelompok pemecahan masalah, public speaking & perencanaan program dan penulisan proposal. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian secara subjektif mengenai dampak pelatihan pada peningkatan kemampuan diri siswa terhadap 24 orang peserta, sebanyak 20,8% menjawab pelatihan ini cukup berdampak signifikan pada kemampuan dirinya. Sebanyak 45,8% menjawab signifikan, serta 33,3% menjawab pelatihan ini berdampak sangat signifikan terhadap peningkatan kemampuan dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum, keseluruhan materi pelatihan ini dirasa membawa dampak positif pada kemampuan diri peserta.
SEKSUALITAS CYBER: SEX SEBAGAI KESENANGAN DAN KOMODITAS Rianto, Puji
Informasi Vol. 45 No. 2 (2015): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.24 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v45i2.7991

Abstract

This paper wants to explore further how sexuality is present in the cyber world. Although the construction of human sexuality age as the man himself, the construction or representation will be largely determined by the social context. Different characters from the cyber world where political authority and the gatekeeper do not contribute significantly will influence the construction of sexuality. The study found that sex is understood as a pleasure and commodities. Various reports of sexual offenders describe how the pleasure of sexual intercourse highly revered. Along with the cult of sexuality as pleasure is sex as a commodity, which is manifested in the form of an offer or advertisement to sell sexual services they provide.Tulisan ini ingin mengeksplorasi lebih jauh bagaimana seksualitas hadir dalam dunia cyber. Meskipun konstruksi seksualitas manusia seumuran manusia itu sendiri, tapi konstruksi atau representasinya akan sangat ditentukan oleh konteks sosialnya. Karakter-karakter yang berbeda dari dunia cyber dimana otoritas politik dan gatekeeper tidak berperan secara signifikan akan mempengaruhi konstruksi atas seksualitas. Studi ini menemukan bahwa seks lebih dipahami sebagai sebuah kesenangan dan komoditas. Berbagai reportasi pelaku seksual menggambarkan bagaimana kesenangan akan hubungan seksual dipuja sedemikian rupa. Seiring pemujaan seksualitas sebagai kesenangan itu, adalah seks sebagai komoditas, yang diwujudkan dalam bentuk berbagai penawaran atau iklan untuk menjual layanan seks yang mereka sediakan.
Dari Khalayak pengguna ke Interaksi: Strategi Content Creator Kuliner di Yogyakarta dalam Membangun Engagement Falha Kaysa; Puji Rianto
Jurnal Mahasiswa Komunikasi Cantrik Vol. 4 No. 1 (2024): Volume 4, No. 1, May, 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi UII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/cantrik.vol4.iss1.art4

Abstract

The popularity of social media has led to professions in the field of communication, including content creators. A content creator is a profession within the digital media sphere that plays a crucial role in conveying messages through visual and audio-visual products. This research aims to identify strategies to increase engagement on the Instagram platform used by culinary content creators in Yogyakarta. The study uses a case study approach on the culinary accounts @kulineryogya, @javafoodie, @mahasiswakulineran, and @riderkulineran on Instagram. Data was collected using observation, interviews, and documentation methods. The results show that all four content creators meet all the dimensions of effective message packaging on social media according to Majid et al. (2019) and use almost identical strategies. The commonality among these content creators is building the dimensions of interactivity, credibility, and infotainment on their Instagram pages. The difference lies in their levels of personal branding, resulting in varying follower counts.
Perbandingan Efektivitas Audio Advertising Spotify dan Social Media Advertising sebagai Media Komunikasi Pemasaran Digital Dharmawan , Dito Dzaki; Rianto, Puji
Jurnal Mahasiswa Komunikasi Cantrik Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4, No. 2, November, 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi UII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/cantrik.vol4.iss2.art4

Abstract

This research aims to evaluate the effectiveness of Spotify Audio Advertising and Social Media Advertising as digital marketing communication media and to identify the differences in effectiveness between the two digital marketing communication media. This research was conducted at the Faculty of Psychology and Social and Cultural Sciences, Universitas Islam Indonesia. A total of 92 respondents were purposively selected. Data analysis was performed using the EPIC Model, focusing on data description and independent two-sample t-tests to examine the difference in effectiveness between the two digital marketing media. The results indicate that the respondents considered Spotify Audio Advertising fairly effective, while Social Media Advertising was regarded as effective. The independent t-test between the two media revealed a significance value (2-tailed) of 0.000, smaller than the α value set at 0.05. This indicates that the difference in the average effectiveness between the two digital marketing media is significant.