Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Dampak Perubahan Hidrologis Dan Perkembangan Tata Guna Lahan Pada Permukiman Lahan Basah Di Kota Dumai Muhammad Rijal; Pedia Aldy
JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2012): Desember
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (933.674 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v3i1.313

Abstract

Berdasarkan fenomena-fenomena perubahan hidrologis dan perkembangan tata guna lahan pada kawasan permukiman lahan basah di Kota Dumai, telah mengakibatkan terjadinya percepatan aliran dan cadangan air yang ada diatas permukaan tanah menjadi berkurang. Jika tidak dikelola dengan hati-hati dan sesuai karakteristiknya akan menurunkan kualitas lingkungan dan menggangu keseimbangan hidrologis kawasan tropis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak perubahan hidrologis kawasan dan perkembangan tata guna lahan akibat perkembangan debit sungai harian sebelum dan sesudah kegiatan normalisasi sungai dalam rangka pemanfaatan lahan basah tropis sebagai fungsi lahan permukiman di Kota Dumai. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif untuk mengetahui dampak perubahaan hidrologis kawasan dan tata guna lahan yang ditimbulkan akibat pembangunan permukiman pada lahan basah tropis di Kota Dumai. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa perubahan tata guna lahan pada kawasan lahan tropis diwilayah penelitian dari tahun 2001 hingga 2010 menunjukan pergesaran dalam pola pemanfaatan lahan. Semakin berkembangnya lahan permukiman diikuti dengan menyusutnya wilayah lahan basah tropis. Hal ini dikarenakan perubahan hidrologis kawasan akibat pembangunan, sehingga terjadinya pengeringan lahan basah tropis disepanjang DAS, rusaknya kondisi biofisik lahan, hilangnya fungsi lahan basah sebagai penyimpan air dan memperlambat aliran air serta terganggunya ekosistem lahan basah yang sangat produktif dan mempunyai banyak manfaat yang penting sebagai pengendali banjir.
Glass Technology in Natural Light Glasses on Aperture Element in The Architecture World Muhammad Rijal; Pedia Aldy
International Conference on Engineering and Technology Development (ICETD) 2013: 2nd ICETD 2013
Publisher : Bandar Lampung University (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.93 KB)

Abstract

The glass is formed by element which during the time without you realize possible there are at your house backyard or your environment work. Glass material spread over above island in earth. This matter become in the world of architecture nusantara if we do not exploring existence of glass. In the west technological till in this time continue explored how in a moment wait glass to substitution element of especial structure ( which during the time only exploiting concrete and steel in the world of construction). This article only small explanation about glass from some important note pursuant to source of reference representing, in meaning glass material from the aspect of look into light natural at aperture element in the world of architecture. In this article, writer try to present synchronized simple explanation but about history attendance of glass started only as decorator till the part of construction. Writer present very famous aperture element buttonhole in architecture world, colaboration with glass material by presenting some environmental effect and into illumination systems innovation to load light natural maximally which framed in glass till attend again explore in architecture worl
BATA HIAS CANGKANG : WUJUD MATERIAL RAMAH LINGKUNGAN DALAM ARSITEKTUR HIJAU Muhammad Rijal; Ardiansyah Ardiansyah
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sudah banyak penelitian yang memanfaatkan limbah kelapa sawit sebagai bahan pengisi batako, dan hasilnya cukup memuaskan. Namun dalam proses nyata, usaha ini terbilang rumit, baik dari segi minimnya pemahaman tentang alur produksi, peraturan tentang batasan bahan baku, hingga upaya peningkatan nilai batako menjadi komoditi yang bisa diandalkan dalam dunia konstruksi selain batu bata. Akibatnya hanya segelintir pelaku usaha kecil yang ingin berkecimpung dalam upaya pemanfaatan limbah hasil pengolahan CPO, padahal limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan CPO ini sangat berlimpah. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan strategi yang tepat dalam upaya peningkatan nilai bata hias cangkang sebagai material ramah lingkungan dalam khazanah arsitektur hijau. Metode pendekatan penelitian yang dilakukan pada prinsipnya merupakan pendekatan kualitatif. Namun Instrumen yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut menggunakan analisis SWOT. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa faktor material baku, teknik dan teknologi pengolahan, pendistribusian dan pemasaran, kelembagaan, peruntukan dalam desain arsitektur, serta prinsip Arsitektur hijau, merupakan hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan strategi peningkatan nilai bata hias cangkang sebagai komoditi.
Perancangan Kawasan Masjid At-Taqwa Desa Aursati Kampar Dengan Pendekatan Arsitektur Islam Muhd Arief Al Husaini; Wahyu Hidayat; R. Lisa Suryani; Muhammad Rijal; Mashuri Mashuri
Journal of Community Engagement Research for Sustainability Vol. 1 No. 1 (2021): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.371 KB) | DOI: 10.31258/cers.1.1.11-18

Abstract

The mosque is an important element for Muslims both in performing worship and muamalah activities so that it is undeniably a religious center. The mosque experienced the dynamics of significant development ranging from general geometric shapes to modern architectural styles. At-Taqwa Mosque has not been maximized as a house of worship because muhrim privacy is not well achieved, does not accommodate worshippers at large events, lacks other facilities. The management cooperates in the service activities to realize the documents of the design of the Taqwa Aursati mosque area. This activity is descriptive qualitative by collecting data through observation and interview. An activity approach is a bottom-up approach that is with the smoothing of the user's interests and desires. The result of this activity is to obtain documents designing the At-Taqwa mosque area by applying the concept of Islamic architecture. The design provides facilities based on zoning i.e. transition zones, mosque zones, and educational zones. This document is useful for the committee for the development of the At-Taqwa mosque as a guide in the implementation of the construction of the mosque.
APPLICATION OF FOLDING ARCHITECTURE AT HALLYU CENTER IN PEKANBARU Tutilia Manalu; Muhammad Rijal; Yohannes Firzal
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 5, No 2 (2022): JAUR APRIL
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v5i2.4951

Abstract

Dalam beberapa tahun industry, budaya populer Korea Selatan berkembang sangat pesat dan menyebar ke berbagai negara di dunia salah satunya Indonesia. Fenomena ini dikenal dengan istilah “hallyu” yang merupakan istilah dari penyebaran budaya populer Korea, berupa musik, drama, film, fasion, kosmetik, destinasi wisata, kuliner dan lain sebagainya. Fenomena ini juga menyebar di wilayah Pekanbaru sehingga mendorong terbentuknya komunitas- komunitas  para penggemar Korea Seperti Komunitas Dance cover dan idol group. Serta ketertarikan masyarakat  untuk mengunjungi negera asal hallyu tersebut dan merasakan suasana disana. Tetapi belum adanya wadah khusus untuk menampung berbagai kegiatan dari komunitas tersebut Oleh karena itu, perancangan Hallyu Center  sebagai wadah untuk memperkenalkan budaya popular Korea  dengan berbagai fasilitas didalamnya yang dapat menampung aktifitas komunitas penggemar Korea diwilayah Pekanbaru dan sebagai media dalam berbagi dan bertukar informasi dengan menerapkan folding Architecture. Folding architecture adalah  metode pencarian bentuk yang memfokuskan pada bentuk eksploratif  dan visualitatif yang dapat mengkomunikasikan fungsi objek hallyu center.Kata-kunci : Budaya Populer, Hallyu Center, Folding Architecture.
PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP ARSITEKTUR EKSPRESIONIS DALAM PERANCANGAN THEATRE ART CENTER DI RENGAT aprilliya ningsih; Gun Faisal; Muhammad Rijal
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 5, No 2 (2022): JAUR APRIL
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v5i2.4959

Abstract

Dalam Kehidupan manusia saat ini erat kaitannya dengan yang namanya seni dan budaya. Terutama seni teater yang menampilkan pertunjukan yang berisi dialog, akting, tarian, dan nyanyian yang dilakukan oleh para pemainnya diatas panggung. Fasilitas penunjang dan pendidikan yang berfokus pada bakat dan minat generasi muda terutama pada bidang seni teater saat ini sangat kurang diperhatikan. Hal ini mempengaruhi penurunan aktivitas pada beberapa komunitas atau sanggar teater yang sudah ada. Kurangnya fasilitas yang memadai untuk pendidikan dan pertunjukan seni teater merupakan salah satu yang melatar belakangi perencanaan dan perancangan Theatre Art Center di Rengat. Rengat  merupakan kota yang kaya tentang adat istiadat serta kesenian teaternya, hal ini dapat dilihat dari sering diadakannya pementasan teater di beberapa gedung. Ditambah dengan banyaknya berdiri komunitas atau sanggar teater didaerah tersebut. Theatre Art Center menjadi wadah kegiatan seni teater yang berfungsi sebagai ruang edukasi dan pertunjukan, sehingga dapat mendukung minat dan bakat bagi masyarakat dalam pementasan seni teater. Tema Ekspresionis akan menerapkan ciri dan nilai dari ekspresionisme ke dalam rancangan. Tema akan diterapkan pada tapak, fasad maupun ruang di dalam bangunan.
Penerapan Arsitektur Regionalisme pada Perancangan Pusat Seni dan Budaya Melayu Indragiri di Kota Rengat Salsabila Rivani; Muhammad Rijal; Muhd Arief Al Husaini
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 5, No 1 (2021): JAUR OKTOBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v5i1.4901

Abstract

Kota Rengat merupakan ibukota Kabupaten Indragiri Hulu. Kota ini terkenal akan sejarahnya sehingga dijuluki “Rengat Kota Bersejarah”. Salah satu alasan Kota Rengat dijuluki demikian adalah karena kota ini memiliki banyak sejarah terutama di bidang seni dan budaya. Hal ini dibuktikan dengan adanya Kerajaan Melayu yang bernama Kerajaan Indragiri yang berada di tepi Sungai Indragiri. Akan tetapi, walaupun dijuluki sebagai kota bersejarah, pengembangan dalam bidang seni dan budaya di Kabupaten Indragiri Hulu belumlah terkoordinasi dengan baik. Untuk menampung segala bentuk seni dan budaya Melayu Indragiri, diperlukanlah wadah yang memadai.Perancangan Pusat Seni dan Budaya Melayu Indragiri ini berfungsi sebagai wadah untuk menampung segala seni dan budaya dari Melayu Indragiri itu sendiri, seperti seni tari, seni sastra, seni teater, dan sebagainya. Perancangan Pusat Seni dan Budaya Melayu Indragiri ini menerapkan prinsip-prinsip dari Arsitektur Regionalisme. Arsitektur Regionalisme merupakan gaya arsitektur yang mengambil karakteristik dari kebudayaan setempat. Arsitektur regionalisme sendiri merupakan penggabungan dari arsitektur tradisional dan arsitektur modern. Sehingga dalam perancangan ini akan mengambil karakteristik dari kebudayaan Melayu Indragiri sebagai acuan desain sekaligus menerapkan prinsip-prinsip arsitektur modern. Penggunaan arsitektur regionalisme sebagai prinsip dasar perancangan, diharapkan dapat menjadikan pusat seni dan budaya Melayu Indragiri menjadi salah satu ikon wisata budaya di Kabupaten Indragiri Hulu.Kata Kunci: Pusat Seni dan Budaya, Melayu Indragiri, Arsitektur Regionalisme
Pusat Penelitian dan Pengembangan Budidaya Perikanan dengan Pendekatan Arsitektur Biophilic Irma Dwiyanti; Muhammad Rijal; Wahyu Hidayat
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol. 6 No. 1 (2022): JAUR Oktober
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v6i1.5697

Abstract

Kampar Regency is one of the regencies with a quit spacious aquaculture area with pisciculture business activities as one of the livelihoods of most of the people. Freshwater fish farming in Kampar Regency includes the pisciculture of karamba or in ponds. The request for freshwater fish production in Riau province is also quite high, such as catfish, carp, tilapia, pomfret and baung fish for daily consumption or industrial needs. The high request for fish production in Kampar regency cannot always be fulfielld. This is due to the failure of aquaculture caused by various factors such as climate, environment, pests and diseases. So to avoid the occurrence of these failures required skilled human resources and adequate facilities. Research and Development Center for Aquaculture which functions as a center for development, research and public education in advancing the community's economy, which includes a research center, laboratory and also commercial functions in the fisheries sector. In designing the Center for Aquaculture Research and Development, the Biophilic architectural approach is used. Biophilic architecture is a good relationship between nature, humans and architecture. The concept of the building takes the concept of "River Water Flow" as an implementation of natural formations by considering the three aspects ofarchitecture Biophilic into a single unit.