Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The loss and damage fund as a site of global resistance: Power asymmetries and normative disruption in climate governance Abdul Halim; Sari Mutiara Aisyah; Erlisa Saraswaty; Roy Setiawan; Sri Mulya Pratiwi; Athira Nisrina; Wahyu Saputra
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42599

Abstract

The issue of loss and damage has long been sidelined in global climate governance, despite its increasing urgency for climate-vulnerable countries. This study examines the political, moral, and cultural dimensions of climate justice that shaped the negotiation and institutionalization of the Loss and Damage Fund (LDF) under the UNFCCC framework. Politically, the fund reflects enduring power asymmetries between developed and developing countries; morally, it embodies contested claims of historical responsibility; and culturally, it signals a shift in global norms toward reparative justice and transnational solidarity. Using a qualitative-descriptive approach, the research draws on official UNFCCC documents, COP decisions, and academic literature to trace the institutional dynamics and strategic negotiations that enabled the fund’s creation. The findings show that Global South actors, despite internal asymmetries, strategically reframed loss and damage from a technical concern into a moral and political demand. Indonesia’s diplomatic role within the G77 coalition at COP27 illustrates how procedural resistance and discursive realignment contributed to political recognition of irreversible climate harm. This study addresses a gap in the literature by moving beyond normative appeals to examine the institutional mechanisms and strategic agency that transformed a marginalized agenda into formal policy. Its academic contribution lies in synthesizing historical institutionalism and Global South dependency theory, while connecting institutional change to broader shifts in values, norms, and global solidarity. The Loss and Damage Fund is not merely a financial instrument; it is a contested site of political struggle and symbolic transformation in the architecture of global climate governance.   Isu kerugian dan kerusakan telah lama terpinggirkan dalam tata kelola iklim global, meskipun urgensinya semakin meningkat bagi negara-negara yang rentan terhadap dampak iklim. Studi ini menelusuri dimensi politik, moral, dan kultural dari keadilan iklim yang membentuk proses negosiasi dan pelembagaan Dana Kerugian dan Kerusakan (Loss and Damage Fund/LDF) di bawah kerangka UNFCCC. Secara politik, LDF mencerminkan ketimpangan kekuasaan antara negara maju dan berkembang; secara moral, ia memuat klaim tanggung jawab historis yang diperdebatkan; dan secara kultural, ia menandai pergeseran norma global menuju keadilan reparatif dan solidaritas transnasional. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini mengandalkan analisis dokumen resmi UNFCCC, keputusan COP, dan literatur akademik untuk menelusuri dinamika institusional dan strategi negosiasi yang memungkinkan pembentukan LDF. Temuan menunjukkan bahwa aktor-aktor Global South, meskipun memiliki asimetri internal. secara strategis mereformulasi isu kerugian dan kerusakan dari persoalan teknis menjadi tuntutan moral dan politik. Peran diplomatik Indonesia dalam koalisi G77 pada COP27 menjadi contoh bagaimana resistensi prosedural dan pergeseran wacana berhasil mendorong pengakuan politik atas kerugian iklim yang tidak dapat diadaptasi. Studi ini mengisi celah dalam literatur yang selama ini cenderung menekankan aspek normatif tanpa mengkaji mekanisme institusional dan strategi politik yang memungkinkan agenda terpinggirkan menjadi kebijakan global. Kontribusi akademik penelitian ini terletak pada sintesis teoritis antara institusionalisme historis dan teori ketergantungan Global South, serta analisis transformasi nilai dan solidaritas global. LDF bukan sekadar instrumen finansial, melainkan arena perjuangan politik dan simbol transisi kelembagaan dalam arsitektur tata kelola iklim dunia.
The Rise of the Loss and Damage Fund in a Fragmented International Political Landscape Halim, Abdul; Aisyah, Sari Mutiara; Setiawan, Roy
JURNAL TRIAS POLITIKA Vol 10, No 1 (2026): April 2026, Jurnal Trias Politika
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/jtp.v10i1.8312

Abstract

This study examines the international political dynamics and power asymmetries that shaped the negotiation and institutionalization of the Loss and Damage Fund (LDF) under the UNFCCC framework. While loss and damage has historically been marginalized within global climate governance, its elevation at COP27 reflects a significant shift driven by contestation between developed and developing countries. The research integrates historical institutionalism and Global South dependency theory to analyze how institutional legacies, path-dependent mechanisms, and structural inequalities have influenced the design and operationalization of the LDF. Methodologically, this study employs a qualitative-explanatory, process-tracing approach to capture the evolution of negotiations and institutional outcomes. Data are drawn from systematic analysis of UNFCCC negotiation texts, official COP decisions, and policy reports. The findings demonstrate that early institutional design choices shaped by the normative and financial dominance of developed countries generated path-dependent constraints that limited the redistributive and justice-oriented potential of the LDF. However, Global South actors exercised strategic agency by reframing loss and damage as a moral and political issue grounded in historical responsibility, rather than a purely technical concern. Through coalition diplomacy, discursive contestation, and procedural resistance, these actors were able to secure formal recognition of irreversible climate harm within the UNFCCC regime. This study advances climate justice scholarship by offering a theoretically integrated explanation of how structurally disadvantaged actors can reshape institutional outcomes within an unequal global governance system. The LDF thus emerges not merely as a financial mechanism, but as a contested site of institutional transformation, where future effectiveness will depend on governance arrangements, equitable access, and sustained political negotiation.
Peningkatan Keterampilan Hidup Dasar Pemuda dalam Komunikasi dan Resolusi Konflik sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Larassita Damayanti; Sari Mutiara Aisyah; Abdul Halim; Atrika Iriani
AKM Vol 7 No 1 (2026): AKM : Aksi Kepada Masyarakat Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat - Juli 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Syariah (STEBIS) Indo Global Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36908/akm.v7i1.1594

Abstract

Kekerasan dapat terjadi di berbagai Instansi Pendidikan, termasuk yang berbasis agama seperti Pesantren. Penguatan Keterampilan Komunikasi dan Resolusi Konflik bagi Pemuda untuk Pencegahan Kekerasan di lingkungan pesantren bertujuan untuk memberikan pemahaman mendasar bagi siswa untuk mampu merespons dan melakukan mitigasi konflik dengan baik. Selain itu, ekosistem belajar yang kondusif, humanis, dan inklusif diharapkan memberikan dampak positif bagi perkembangan akademik dan non akademik siswa. Program ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan role play untuk memberikan pengetahuan prinsip dasar komunikasi dan resolusi konflik kepada siswa. Materi pelatihan terbagi menjadi dua agenda utama yaitu praktek komunikasi non verbal dan mendengarkan aktif (active listening). Pelaksanaan program melibatkan sinergi antar instansi pendidikan. Adapun evaluasi kegiatan memperlihatkan capaian yang melampaui target.Pelatihan ini mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta dalam memahami serta menerapkan komunikasi nonverbal dan mendengarkan aktif sebagai strategi penyelesaian konflik yang konstruktif. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata capaian kompetensi peserta sebesar 81,93 persen dan tingkat kepuasan peserta mencapai 84,67 persen, keduanya melebihi standar keberhasilan Program.  Kegiatan ini diharapkan dapat terus dikembangkan dengan lebih inklusif, melalui sinergi antar Fakultas di lingkungan Universitas Sriwijaya. Sehingga dampak yang diciptakan juga lebih luas, baik dalam aspek edukasi dan sosial. Dalam hal ini, Siswa merasakan adanya peningkatan pengetahuan terkait pentingnya penguasaan atas teknik komunikasi dan implementasinya pada kehidupan sehari-hari. Selain itu siswa juga menilai rangkaian kegiatan bermanfaat bagi pengembangan karakter
Peningkatan literasi digital melalui pelatihan penggunaan Mendeley di SMA Negeri 14 Palembang Abdul Halim; Ahmad Mujaddid Fachrurreza; Larasati Larasati; Yuni Permatasari
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39225

Abstract

AbstrakKemajuan teknologi digital telah membawa dampak besar dalam dunia pendidikan, termasuk pada aspek literasi akademik. Namun, keterampilan literasi digital di kalangan siswa SMA masih tergolong rendah, khususnya dalam pengelolaan referensi ilmiah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi digital akademik melalui pelatihan penggunaan aplikasi Mendeley bagi guru dan siswa di SMA Negeri 14 Palembang. Metode kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan intensif, pendampingan teknis, dan evaluasi berbasis pre-test dan post-test. Kegiatan diikuti oleh 26 siswa kelas XII serta sejumlah guru pendamping. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 84,4% dalam penguasaan fungsi dasar Mendeley, di mana sebanyak 96% peserta telah mampu membuat sitasi otomatis secara mandiri dan seluruh peserta (100%) memahami fungsi dasar Mendeley sebagai alat bantu akademik. Selain itu, sebanyak 92% siswa menilai pelatihan ini sangat bermanfaat dan 81% guru pendamping berkomitmen untuk melanjutkan bimbingan literasi digital di sekolah. Kegiatan ini berkontribusi terhadap peningkatan literasi digital sekolah dan mendorong integrasi teknologi dalam pembelajaran. Hasil kegiatan ini diharapkan menjadi model replikasi untuk sekolah menengah lain dalam upaya memperkuat budaya literasi digital di era pendidikan 4.0. Kata kunci: pengabdian; pelatihan; literasi digital; mendeley; SMAN 14 Palembang. AbstractThe advancement of digital technology has significantly influenced education, particularly in academic literacy. However, digital literacy skills among high school students remain relatively low, especially in managing scientific references. This community service program aimed to enhance academic digital literacy through Mendeley training for teachers and students at SMA Negeri 14 Palembang. The methods included socialization, intensive workshops, technical assistance, and evaluation using pre-test and post-test instruments. The activity involved 26 twelfth-grade students and several teachers. The evaluation results showed an average improvement of 84.4% in mastering core Mendeley functions, with 96% of participants able to independently create automatic citations and all participants (100%) understanding the basic functions of Mendeley as an academic tool. Additionally, 92% of students rated the training as highly beneficial and 81% of accompanying teachers committed to continuing digital literacy guidance at school. This activity successfully enhanced the school’s digital literacy capacity and supported the integration of technology in learning. The results are expected to serve as a model for replication by other secondary schools in their efforts to strengthen digital literacy culture in the era of education 4.0. Keywords: community service; training; digital literacy; mendeley; SMAN 14 Palembang.