Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

RELASI SOSIAL EKONOMI TERHADAP PERILAKU PEMUDA MINUMAN TRADISIONAL MOKE Damianus Tola; Nong Hoban; Herman Reo
Juremi: Jurnal Riset Ekonomi Vol. 4 No. 6: Mei 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/juremi.v4i6.10165

Abstract

Moke berasal dari sadapan pohon enau yang diiris dari tangkai muda dan air irisan di isi dengan seruas bambu yang diikat bersama tangkai muda. Pengerajin akan datang mengangkat dan menurunkan air irisan dan kemuudian ditampung dalam satu periuk tanah, dan air irisan direndam dalam periuk tanah dengan berbagai ramuan-ramuan tradisional, dimasak sampai mendidi dan mengeluarkan uapan lalu disalurkan melalui bambu sepanjang 3 meter dari hasil penyulingan untuk mendapatkan moke arak. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan kualitatif, penelitian ini akan memperoleh data berbentuk angka, peristiwa, kejadian yang dapat menjelaskan secara khusus yang dialami populasi. Fokus penelitian ini adalah pemuda yang aktif mengkonsumsi moke dan dipilih secara random sampling untuk diwawancara guna mendapatkan data riil. Lokasi yang ditetapkan dalam penelitian ini dimana tempat yang biasanya pemuda berkumpul untuk mengkonsumsi moke sebanyak 84 pemuda dari 4 RT/RW dua desa dan dua kelurahan di Kecamatan Ndona Kabupaten Ende. Konsumsi berlebihan menyebabkan mabuk berat, kehilangan kesadaran, cendrung berbuat onar. Faktor penyebab yang dialami pemuda tentang masalah hidup, stress, beban akademik, masalah keluarga atau bujukan teman, rasa penasaran, ingin tahu rasanya atau ingin merasakan efek minum moke, dengan minum moke melambangkan kebebasan atau kedewasaan dalam menghadapi tekanan sosial
INOVASI PRODUK MIE BERBAHAN DASAR UMBI TALAS ALTERNATIF PANGAN LOKAL DI EKOLETA Damianus Tola; Yuliana Maria D’Karamel Kara; Sayful Amrin; Nong Hoban; Selfyana Ngguwa; Susi Angriany
Juremi: Jurnal Riset Ekonomi Vol. 5 No. 3 (2025): Nopember 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/juremi.v5i3.11593

Abstract

Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan pemahaman masyarakat melalui praktek pengolahan umbi talas menjadi mie talas, sehingga anggota kelompok masyarakat lebih cepat memahami dan mengadopsi secara tepat. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan edukatif partisipasi dengan megabungkan antara pemaparan materi, pelatihan dan praktek. Langkah pembuatan dijelaskan secara detail oleh ketua tim kelompok dengan bahan dan ukurannya antara lain: umbi talas sebanyak 240 gram, tepung terigu 300 gram, 2 sendok makan tepung tapioka, air 150 ml, ½ sendok makan garam halus, cabai keriting 1 gram, baking powder sebanyak 0,5 gram, minyak bimoli 1 tutup botol dan kuning telur. proses dapat menghasilkan mie sebanyak 5 gulungan setelah mie sudah jadi siap dijemur hingga memakan waktu selama 3 hari (maksimal) benar-benar kering, kita melakukan pengempak dengan ukuran mie talas akan menghasilkan 3 bungkus mie talas yang siap di pasarkan. kepedulian masyarakat desa ekoleta menunjukkan adanya semangat dan kemauan dalam berwirausaha dalam kegiatan ini mencapai 90% aktivitas yang dicapai. Secara ketrampilan masih sangat minim dan perlu dikembangkan secara terus menerus tetapi hasil yang didapat juga masih dikategori layak dan berhasil sesuai program terencana.
PANCASILA DI TENGAH INDAHNYA KEANEKARAGAMAN Hoban, Nong
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 5 No 1 (2020): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v5i1.1360

Abstract

Tujuan dari artikel ilmiah ini adalah untuk mendeskripsikan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa di tengah indahnya keanekaragaman. Penulisan karya tulis ini menggunakan metode (historical method). Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam  penulisan ini adalah sebagai berikut: Pertama, mengumpulkan sumber (heuristik), Kedua  adalah kritik sumber atau verifikasi, langkah Ketiga adalah interpretasi, langkah Keempat  adalah rekonstruksi historiografi (penulisan) sejarah. Hasil Penulisan menunjukkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia artinya Pancasila itu dijadikan dasar dalam mengatur penyelenggaraan pemerintahan negara. Pancasila sebagai pandangan hidup berkenaan dengan sikap manusia di dalam memandang diri dan lingkungannya. Sikap manusia ini dibentuk oleh adanya  kekuatan yang bersemayam pada diri manusia, yakni iman, cipta, rasa dan karsa, yang membentuk pandangan hidup perorangan yang kemudian beradaptasi dengan pandangan hidup perorangan lainnya menjadi pandangan hidup kelompok. Hubungan antara kehidupan kelompok yang satu dengan kelompok lainnya melahirkan suatu pandangan hidup bangsa. Praksis budaya yang beranekaragam yang tersebar di seluruh pelosok nusantara.  Keberagaman budaya Indonesia menjadi ciri yang melandasi terbentuknya negara kesatuan Indonesia. Indonesia terdiri dari lima agama besar yaitu Islam, Hindu, Budha, Katolik,  Kongfutzu dan aliran kepercayaan serta adat istiadat yang berbeda-beda antara satu pulau dengan pulau yang lain. Pembauran dalam keberbedaan baik agama, suku, ras, bahasa, adat istiadat saling berinteraksi. Dalam perjalanan sejarah bangsa budaya asli dan filsafat Hindu, Budha, Islam, Kristen berkolaborasi dan kristalisasi tumbulah peradaban luhur bangsa yang walaupun beranekaragam suku bangsa, adat istiadat dan agama tetapi satu. Satu dalam cara pandang melihat keberbedaan maka tumbulah semangat solidaitas dan rasa kesetiakawan karena cita-cita dan tujuan bersama yang memancarkan sinar sakti persatuan dalam panji ideologi Pancasila.
MENELUSURI JEJAK-JEJAK SEJARAH PEMUDA HARAPAN BANGSA Hoban, Nong; Fredimento, Aurelius
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 7 No 1 (2022): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v7i1.1951

Abstract

Masalah dalam tulisan ini adalah bagaimana peran pemuda dalam perjalanan hidup bangsa Indonesia. Adapun tujuan penulisan untuk mengetahui peran pemuda dalam perjalanan hidup bangsa Indonesia. Methode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah (Historical Methods). Metode sejarah merupakan proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau atau rekonstruksi yang imajinatif berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses yang disebut historiografi. Dalam rangka memaparkan jejak sejarah pemuda harapan bangsa Indonesia penulis melakukan empat langkah penelitian, yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Kenapa pemuda berperan? Pertama Data BPS (2021), jumlah pemuda di Indonesia mencapai 64,92 juta jiwa. Data penduduk di atas sesungguhnya pemuda adalah kekuatan potensial dalam menggerakkan perubahan sosial. Kedua, pemuda punya peran historis dalam melahirkan bangsa ini. Kalau kita tengok dalam sejarah perjuangan bangsa, pemuda-pemuda yang melahirkan Boedi Oetomo itu rata-rata di bawah 30 tahun. Ketiga, pemuda adalah kelompok sosial terdidik. Menurut data BPS tahun 2011-2021 data pemuda 39,80% penduduk berada direntang 19-24. Sebanyak 39,33% pemuda berumur 25-30 tahun.Sementara pemuda berusia 16-18 tahun sebanyak 20,87%. Keempat, pemuda itu sejatinya progressif-revolusioner.
FUNGSI RITUS GEWU DALAM TATA BERLADANG TRADISIONAL PADA MASYARAKAT DESA TENDAKINDE KECAMATAN WOLOWAE KABUPATEN NAGEKEO Sepu, Benediktus; Hoban, Nong; Kusi, Josef
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 7 No 2 (2022): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v7i2.2442

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa fungsi ritual Gewu di Desa Tendakinde Kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo?.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi ritus Gewu di Desa Tendakinde Kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitaif dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut: observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, panarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa fungsi ritus Gewu adalah (a) Fungsi religi: menunjukan bahwa masyarakat Tendakinde yakin dan percaya kepada wujud tertinggi (Dewa Rheta) dan leluhur (Ghae Rhade) yang telah memberi rejeki bagi masyarakat terhadap hasil panennya. (b) Fungsi persatuan: Kehadiran warga suku menyukseskan ritus Gewu merupakan ungkapan rasa persatuan dan kesatuan warga suku. (c) Fungsi solidaritas: Keterlibatan masyarakat dalam mengambil bagian pada saat upacara tu pa’a (sesajian) merupakan ungkapan atas kebersamaan. (d) Fungsi budaya: Pelaksanaan ritus Gewu seperti tu pa’a (acara sesajian) dan hiburan misalnya siram menyiram antara laki-laki dan perempuan sebagai tanda syukuratas hasil panen yang melimpah.
TENUN IKAT MOTIF BURUNG SESE WE’OR DI DESA WATUGONG KECAMATAN ALOK TIMUR KABUPATEN SIKKA Nurak, Maria; Hoban, Nong; Wasa, Damianus R. Sumbi
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 1 (2023): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v8i1.2893

Abstract

Rumusan masalah dalam tulisan ini sebagai berikut (1) Bagaimana proses pembuatan kain tenun ikat motif burung sese we’or di Desa Watugong Kecamatan Alok Timur Kabupaten Sikka? (2) Apa nilai-nilai yang terkandung dalam kain tenun ikat motif burung sese we’or di Desa Watugong Kecamatan Alok Timur Kabupaten Sikka ? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Teknik dan instrument penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian (1) menunjukan Proses Pembuatan Tenun Ikat Motif Burung Sese We’or sebagai berikut (a) Alat dan bahan dasar pembuatan kain tenun ikat motif burung sese we’or Peralatan tenun ikat Kabupaten Sikka pada dasarnya terbuat dari kayu dan bambu. (b) Pembuatan tenun ikat motif burung sese we’or Proses produksi kain tenun ika dt Desa Watugong sebenarnya cukup sederhana, asalkan tersedia bahan baku utama yaitu benang dan pewarna, bahkan cara pembuatanya juga sangat sederhana karena hanya memerlukan keterampilan tangan dan ketekunan. Tahap pertama yaitu penggulungan benang, tahap kedua pembuatan motif, tahap ketiga pewarnaan benang, tahap keempat proses tenun. (2) Nilai yang terkandung dalam kain tenun ikat motif burung sese weor di Desa Watugong Kecamatan Alok Timur Kabupaten Sikka sebagai berikut (a) nilai budaya tenun ikat motif burung sese we’or digunakan untuk urusan adat baik adat perkawinan atau saat keluargga mengalami kedukaan (b) nilai history tenun ikat motif burung sese we’or tenun ikat yang hidup dan berkembang sampai sekarang diterima dari leluhur terdahulu. Leluhur telah mengatakan kepada kaum perempuan ata dua naha loru rana artinya kaum perempuan harus pandai tenun dan merajut.(c) nilai estetika tenun ikat motif burung sese we’or bisa digunakan untuk kegiatan fashion show dengan tujuan agar berbagai wilaya bisa melihat keunikan dan keindahan motif tersebut.
SUKSESI ZAMAN SINGOSARI DAN MAJAPAHIT Hoban, Nong
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun. Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3621

Abstract

Permasalahan yang diangkat dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut: bagaimana sukzesi zaman Singosari dan Mojapahit. Tujuan penulisan adalah untuk mengetahui sukzesi zaman Singosari dan Majapahit. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan  dengan methode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah (Historical Methods). Dalam rangka memaparkan jejak sejarah pemuda harapan bangsa Indonesia penulis melakukan empat langkah penelitian, yaitu Heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kisah Singosari diawali dengan berlangsungnya “keakuwuan” (akuwu = sering diartikan bupati). Daerah ini diperintah oleh akuwu Tunggal Ametung mangawani Ken Dedes. Pada masa pemerintahan Tunggal Ametung di Tumapel ada seorang pereman bernama Ken Angrok sehingga Angrokpun menjadi kenal akan Ken Dedes yang cantik itu. Pada suatu saat Ken Dedes turun dari kereta dilihat Ken Angrok pada pangkuan Ken Dedes yang memancarkan “cahaya bersinar”. Kata Ken Angrok kepada Lohgawe, apa arti sinar itu. Maka kata Lahgawe  bahwa perempuan macam itu adalah “putri pilihan” (ardhanaricwari) dan barang siapa mengawininya akan menjadi raja besar. Mendengar jawaban itu timbullah tekadnya untuk mebunuh Ametung dan mengawini Ken Dedes (Pitano, 1965:26). Keberhasilan mendirikan Majapahit yang didahului dengan membuka hutan dan mengalakan Daha (Kediri) serta memukul mundur pasukan Tartar, membuktikan Raden Wijaya orang yang kuat. Peresmian penobatannya ditandai dengan abhisekanya yakni Kertarajasa Jayawardhana. Sejak awal ia sudah melihat kemungkinan munculnya konlik suksesi dalam kerajaannya. Maka dari itu, puteri Kertanegara berjumlah empat orang (catur Kertanegara-duhita) dinikahinya (Mulyana, 1970:253).  Tampaknya garis keturunan Kertanegara masih sangat kuat. Sepeninggalan Kertarajasa, suaminya Rajapatni sudah memutuskan untuk menjauhi masalah duniawi dengan menjadi bhiksuni, maka pemerintahan Majapahit diwakilkan pada puterinya Tribhuwanatunggadewi yang kelak menjadi ibu Hayam Wuruk. Demi menyiapkan pengganti Hayam Wuruk diangkat menjadi Ratu Jiwana, menggantikan ibunya. Jadi kenaikan Hayam Wuruk diatas takhta telah dipersiapkan. Maka dengan mudah dapat dipahami sepeninggal Rajapatni tahun 1350, maka Tribhuwanatunggadewi lengser keprabon sebagai “raja pemangku” (pejabat raja) dan naiklah Hayam Waruk di atas takhta Majapahit dengan nama abhiseka “Rajasanegara” artinya Raja dari seluruh kerajaan. Tanda-tanda merosotnya kejayaan Majapahit suda terlihat. Hal yang relevan dengan masalah suksesi Nampak dalam konflik antara Kusumawardani – Wikramawardhana dan Bhre Wirabhuni.
PEMENFAATAN SUMBER DAYA ADAT DAN MINAT KUNJUNGAN WISATAWAN DALAM MENINGKATKAN EKONOMI DESA WOLOGAI TENGAH Tola, Damianus; Amrin, Sayful; Hoban, Nong
JURNAL EQUILIBRIUM Vol. 5 No. 2 (2025): VOLUME 5 NOMOR 2 TAHUN 2025
Publisher : Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/jeq.v5i2.6986

Abstract

This study aims to determine the utilization of indigenous resources and tourist interest in improving the economy of Central Wologai Village. Data collection was conducted by distributing questionnaires. The researchers selected 100 respondents using a proposed random sampling technique. The analysis tool used was simple regression analysis, processed using SPSS.21. The r-value of 0.569 was obtained from 25 questionnaire items, which was deemed valid. The reliability test showed a Cronbach's Alpha value of 0.839, indicating a significance level of 0.05. A Cronbach's Alpha value of 0.569 is greater than the r-value, indicating that the questionnaire items are considered reliable and categorized as good. The results of the study, with a constant value of 0.487, indicate that the variables of indigenous resource utilization and tourist interest have changed, indicating a significant relationship between the economy of Central Wologai Village. The correlation analysis showed an R-square value of 0.608, indicating that the contribution of the variables of customary resource utilization and tourist interest to the village's visit was 60.8%. It was concluded that customary resource utilization and tourist interest can significantly support the village economy.
Tracking the Historical Track of Java Woe (Java Tribe) in Bei Wali Village, Bajawa District, Nagafa Regency, Flores NNT Nong Hoban; Agustinus Bhara; Damianus Rikardo Sumbi Wasa
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 6 No 2 (2022): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v6i2.4657

Abstract

The problem raised in this paper is as follows: how is the origin of Woe Jawa (Javanese) in Beiwali Village, Bajawa District, Ngada Regency, NTT. The purpose of writing is to describe the history of Woe Jawa (Javanese) in Beiwali Village, Bajawa District, Ngada Regency, NTT. The research method used is qualitative research. Data collection techniques are interviews, observation, and documentation. Data analysis techniques are as follows: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results show that the historical traces of Woe Jawa (Javanese) in Beiwali Village, Bajawa District, Ngada Regency, NTT are told on a long journey from their ancestral land, woe Jawa (Javanese) came from the Back Indies (Yunan). At that time it was estimated that the ancestors of Woe Jawa (Javanese) were pressured by other tribes so that they looked for a better life. On the way, they broke through the wilderness and crossed the ocean and stopped at several places before entering the island of Flores, the land of Ngada, among others: Sumatra, Java in the land of Java, the ancestors of the Javanese woe lived a long time and had children and grandchildren and then migrated to Sumbawa. then they go to Wio (Sumba) in Sumba they live sedentary for a while then they go to tiwa lina (calm and shady beach) Aimere beach (wae mokel) Flores Island, when the wae mokel river overflows the ancestors of woe Jawa (Javanese) moved to the east settled in Bo Jawa Meze (location of Aimere) and then they moved to Tana Dua (fertile land). The fertile land in question is the land of Ngada.