Katriani Puspita Ayu
Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Palangka Raya

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

KONDISI KEHIDUPAN EKONOMI PETANI KARET: STUDI KASUS DI DESA TANJUNG JARIANGAU, KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR Nani Indrayanti; Katriani Puspita Ayu; Ester S.U. Lapalu
Journal SOSIOLOGI Vol. 1 No. 1 (2018): Journal SOSIOLOGI Volume 01, Edisi 01, Maret 2018
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.565 KB) | DOI: 10.59700/jsos.v1i1.864

Abstract

Rendahnya harga karet merupakan permasalahan yang ada di Desa Tanjung Jariangau dan rendahnya harga karet berdampak pada perekonomian masyarakat yang bekerja sebagai petani karet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kehidupan ekonomi petani karet yang ada di Desa Tanjung Jariangau dan upaya petani karet dalam mempertahankan ekonomi keluarga ketika harga karet rendah seperti yang terjadi sekarang ini.Fokus penelitian adalah meneliti tentang kondisi kehidupan ekonomi petani karet yang ada di Desa Tanjung Jariangau. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rendahnya harga karet saat ini membuat kondisi kehidupan ekonomi petani karet sangat memprihatinkan karena masyarakat desa yang mayoritasnya adalah petani karet sangat bergantung pada penghasilan bertani karet untuk memenuhi segala macam kebutuhan hidup sehari-hari. Jadi kesimpulan dari penelitia ini adalah dalam menghadapi kondisi tersebut, para petani karet melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan keberlangsungan penghidupan ekonomi keluarga yaitu dengan melakukan tindakan ekonomi, menghitung biaya bagi setiap pengeluaran, serta berusaha memaksimalkan pendapatan yang diperoleh agar dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Saran dari penelitian ini yaitu bahwa pemerintah harus memperhatikan tentang pembuatan kebijakan pengaturan harga karet yang tidak membuat perekonomian masyarakat yang berprofesi sebagai petani karet menjadi kesulitan.
EKSPANSI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI KALIMANTAN TENGAH: MEKANISME POLITIK DI BALIK KERUSAKAN EKOLOGI Katriani Puspita Ayu
Journal SOSIOLOGI Vol. 4 No. 2 (2021): RUANG HIDUP SOSIAL MASYARAKAT KALIMANTAN TENGAH
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1460.898 KB) | DOI: 10.59700/jsos.v4i2.4175

Abstract

The expansion of palm oil plantations creates various ecological problems in Central Kalimantan. Despite the fact that palm oil opening caused ecological damage, the mechanism behind palm oil expansion is vital to discuss. This study tries to identify the area expansion and investigate the political mechanism of palm oil development in Central Kalimantan. This research uses various literatures, articles and archives, which is organized and analysed to answer the research questions. The result shows that negative environmental impacts such as: forest loss, water pollutant, soil erosion, biodiversity loss and greenhouse gas emission occurred within the expansion of palm oil area. All ecological consequences are  indirectly caused by the ‘concession-trade’ mechanism which exist in every level of authority. Competition among level of government in permit awarding has been the significant driver for palm oil expansion. Head of district that grants permit without regard to procedures and regulations has trade the permit for support in Pilkada campaign. Clientelism and patrons’ relation between the palm oil company and district authority becomes the reason of palm oil expansion and contribute to the environment issues in Central Kalimantan.
Harmony and Moderation in Multireligious Society: Study of Interfaith Coexistence in Cigugur, Kuningan, West Java Syahid, Ahmad Habibi; Ade Jaya Suryani; Katriani Puspita Ayu; Masykur
Indonesian Journal of Islamic Religious Education Vol. 3 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Islamic Religious Education (INJIRE)
Publisher : ADPISI (Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam Se-Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63243/Injire.v3i2.09

Abstract

Indonesia is known for its diversity of religions, cultures, and ethnicities. Despite this diversity, peaceful and harmonious coexistence remains difficult due to interfaith hatred. Therefore, tolerance and moderation are essential pillars in building a peaceful social life. This harmonious coexistence is evident in Cigugur, Kuningan, West Java. All live side by side and reside in this area. Some of them even live in the same family. Most of the previous research focused on inter-religious tolerance, only a few emphasized the influence of local values ​​and the role of religious leaders in fostering harmony in multi-religious societies. This study seeks to elucidate the manifestation of religious harmony and moderation in Cigugur, focusing on the influence of religious leaders and communal social practices. This qualitative study, employing interviews, observation, and documentation, revealed that religious leaders in Cigugur possess varied perspectives; however, they concur that tolerance, mutual respect, and the appreciation of differences constitute the foundation of a peaceful existence. Interfaith dialogue, interfaith social activities, and local values ​​such as "Different Feelings, One Understanding" all contribute to a more harmonious society. This study demonstrates that harmony is not simply born from formal policies, but rather grows from cultural awareness and the behavior of religious leaders who can serve as role models, prioritizing humanity over differences.
Adaptive Co-Management Kearifan Lokal Dalam Tata Kelola Lingkungan Berkelanjutan Di Kabupaten Gunung Mas Desie Andreastuti; Katriani Puspita Ayu
Jurnal Masyarakat dan Desa Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Masyarakat dan Desa
Publisher : Program Studi Pembangunan Masyarakat Desa (D3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas integrasi kearifan lokal masyarakat Dayak dengan pendekatan Adaptive Co-Management (ACM) dalam tata kelola lingkungan berkelanjutan di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana nilai-nilai lokal seperti pahuni, tumbang, dan sistem ladang berputar dapat diadaptasikan ke dalam kebijakan dan praktik pengelolaan lingkungan modern yang cenderung top-down. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola lingkungan di Gunung Mas berada pada fase emerging collaboration, di mana kolaborasi antaraktor negara, komunitas adat, dan organisasi mitra mulai tumbuh, tetapi belum terinstitusionalisasi secara permanen. Pembelajaran sosial terbukti menjadi mekanisme penting dalam menjembatani pengetahuan ilmiah dan tradisional, menghasilkan peta tata kelola bersama yang memengaruhi kebijakan daerah. Kesimpulannya, integrasi ACM dan kearifan lokal memperkuat legitimasi sosial dan efektivitas ekologis pengelolaan lingkungan, namun keberlanjutannya memerlukan penguatan kelembagaan, mekanisme power sharing, dan feedback loop kebijakan yang adaptif. Kata Kunci: Kearifan Lokal, Adaptive Co-Management, Tata Kelola Lingkungan Berkelanjutan  
Adaptive Co-Management Kearifan Lokal Dalam Tata Kelola Lingkungan Berkelanjutan Di Kabupaten Gunung Mas Desie Andreastuti; Katriani Puspita Ayu
Jurnal Masyarakat dan Desa Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Masyarakat dan Desa
Publisher : Program Studi Pembangunan Masyarakat Desa (D3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas integrasi kearifan lokal masyarakat Dayak dengan pendekatan Adaptive Co-Management (ACM) dalam tata kelola lingkungan berkelanjutan di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana nilai-nilai lokal seperti pahuni, tumbang, dan sistem ladang berputar dapat diadaptasikan ke dalam kebijakan dan praktik pengelolaan lingkungan modern yang cenderung top-down. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola lingkungan di Gunung Mas berada pada fase emerging collaboration, di mana kolaborasi antaraktor negara, komunitas adat, dan organisasi mitra mulai tumbuh, tetapi belum terinstitusionalisasi secara permanen. Pembelajaran sosial terbukti menjadi mekanisme penting dalam menjembatani pengetahuan ilmiah dan tradisional, menghasilkan peta tata kelola bersama yang memengaruhi kebijakan daerah. Kesimpulannya, integrasi ACM dan kearifan lokal memperkuat legitimasi sosial dan efektivitas ekologis pengelolaan lingkungan, namun keberlanjutannya memerlukan penguatan kelembagaan, mekanisme power sharing, dan feedback loop kebijakan yang adaptif. Kata Kunci: Kearifan Lokal, Adaptive Co-Management, Tata Kelola Lingkungan Berkelanjutan  
PERSEPSI DAN PENGALAMAN MASYARAKAT DALAM MENGGUNAKAN APLIKASI SI DOI DISDUKCAPIL KOTA PALANGKA RAYA Nora Kristina Sitohang; Dwi Putri Ananda Simangunsong; Septian Samosir; Katriani Puspita Ayu; Ivan Borneva
e-JKPP Vol 12, No 2 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36448/ejkpp.v12i2.4899

Abstract

Transformasi digital pelayanan publik mendorong Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Palangka Raya mengimplementasikan Aplikasi SI DOI (Sistem Informasi Dokumen Online Identitas) untuk pengurusan dokumen kependudukan.Penelitian ini bertujuan untuk memahami persepsi dan pengalaman masyarakat dalam menggunakan aplikasi tersebut sebagai sarana pengurusan dokumen kependudukan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman langsung pengguna. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam sebagai instrumen utama, dilengkapi dengan kuesioner terstruktur sebagai instrumen pendukung, terhadap informan dan responden di wilayah Kota Palangka Raya yang telah menggunakan aplikasi SI DOI. Temuan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat mempersepsikan aplikasi ini sebagai solusi yang memudahkan akses layanan administrasi kependudukan, namun sebagian lain berpendapat sebaliknya karena terkendala jaringan dan menganggap penggunaan aplikasi relatif rumit. Faktor kemudahan penggunaan dan manfaat yang dirasakan menjadi determinan utama dalam keputusan adopsi. Disimpulkan bahwa keberhasilan adopsi SI DOI sangat bergantung pada peningkatan edukasi pengguna, infrastruktur digital yang memadai, serta responsivitas layanan pendukung dari pihak Dukcapil. 
Model Desa Sehat Berbasis Sungai: Intervensi Terpadu Air Bersih, Sanitasi, dan Lingkungan di Pelabuhan Rambang, Kelurahan Pahandut, Kota Palangka Raya Katriani Puspita Ayu; Imanuel Jaya; Edward Melio Bertho; Febriomico Griando Rasan; Dewi Klarita Fortuna
Journal of Community Development Vol. 6 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i2.1815

Abstract

Kawasan Pelabuhan Rambang di Kelurahan Pahandut merupakan permukiman padat penduduk di tepi Sungai Kahayan yang menghadapi permasalahan kompleks terkait kesehatan lingkungan, akses air bersih, dan sanitasi. Kondisi ini diperparah oleh budaya hidup di pinggiran sungai yang menciptakan kawasan kumuh dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya air bersih, sanitasi, dan lingkungan sehat melalui pendekatan berbasis sungai. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui penyuluhan kesehatan, Focus Group Discussion (FGD), dan paparan materi tentang pembentukan Kelompok Desa Sehat Sungai (KDS-S). Kegiatan diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari masyarakat, aparatur RT, perwakilan pemerintah kelurahan, dan kader Posyandu. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta sebesar 68% berdasarkan perbandingan pre-test dan post-test, teridentifikasinya permasalahan utama sanitasi dan air bersih di kawasan pelabuhan, serta kesepakatan pembentukan KDS-S sebagai motor penggerak perubahan perilaku hidup bersih dan sehat. Program ini berkontribusi nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tepian sungai sekaligus menjadi model replikasi untuk kawasan serupa di Kalimantan Tengah.
Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Tata Kelola Lahan Gambut Berkelanjutan Untuk Mitigasi Perubahan Iklim di Kelurahan Kalawa Kabupaten Pulang Pisau Imanuel Jaya Jaya; Jhon Retei Alfri Sandi; Katriani Puspita Ayu; Marvy Ferdian Agusta Sahay; Meilianna Devita Christina
Journal of Community Development Vol. 6 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i2.1863

Abstract

Lahan gambut memiliki peran vital dalam mitigasi perubahan iklim sebagai penyimpan karbon, namun degradasi ekosistem gambut akibat eksploitasi berlebihan telah menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca. Kelurahan Kalawan, Kabupaten Pulang Pisau menghadapi permasalahan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan lahan gambut berkelanjutan, keterbatasan akses teknologi, dan lemahnya kapasitas kelembagaan lokal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kapasitas masyarakat dalam tata kelola lahan gambut berkelanjutan untuk mitigasi perubahan iklim. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui sosialisasi, Focus Group Discussion (FGD), dan pelatihan teknik rewetting dengan melibatkan 30 peserta dari berbagai elemen masyarakat. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi partisipatif, serta kuesioner kepuasan. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat sebesar 39% dengan rata-rata skor akhir mencapai 83%, melampaui target minimal 70%. Melalui FGD berhasil diidentifikasi tujuh permasalahan utama dan dirumuskan lima solusi yang disepakati bersama, termasuk pembentukan Kelompok Tani Peduli Gambut dan pengembangan alternatif mata pencaharian berkelanjutan. Sebanyak 95% peserta menyatakan komitmen untuk menerapkan praktik tata kelola lahan gambut berkelanjutan. Kegiatan ini berkontribusi nyata dalam penguatan kapasitas dan peran aktif masyarakat untuk pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan sebagai upaya mitigasi perubahan iklim.