Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

EVALUASI KESESUAIAN HABITAT PENELURAN PENYU DI TAMAN KILI-KILI KECAMATAN PANGGUL KABUPATEN TRENGGALEK Dianita Kusuma Sari Riyanto; Agus Romadhon
Juvenil Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v2i2.10653

Abstract

ABSTRAKPenyu merupakan salah satu hewan perairan laut yang hidupnya mulai dari perairan laut dalam sampai perairan laut dangkal. Tempat bertelur penyu laut yaitu pantai pasir dengan kemiringan landai yang dapat ditemukan di pantai – pantai di Indonesia. Di dunia ada tujuh jenis penyu dan enam di antaranya terdapat di Indonesia. Kawasan konservasi penyu di Taman Kili – kili Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek merupakan daerah peneluran penyu dan menjadi kawasan penangkaran penyu. Kawasan tersebut termasuk POKMASWAS (kelompok masyarakat pengawas) yang sudah beraktifitas sejak tahun 2012. Pentingnya habitat bagi penyu menunjukkan bahwa pergerakan peneluran penyu hanya bersifat lokal artinya tidak terlalu jauh dari lokasi penelurannya, karena penyu bertelur di satu tempat akan kenbali lagi ketempat awal penelurannya. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut : Mengetahui kualitas perairan dan menginventarisir parameter habitat penyu di Taman Kili-kili Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek. Evaluasi kesesuaian habitat peneluran penyu di Taman Kili-kili Kecamatan Panggul Kabupaten penyu. Inventarisir dan Penilaian Parameter untuk habitat Penyu kategori pantai yang sesuai untuk habitat peneluran penyu berada di Taman Kili-kili. Strategi pengembangan habitat penyu di taman kili-kili trenggalek menggunakan perhitungan AHP didapatkan aspek yang  diprioritaskan aspek ekonomi (0,462) dengan alternatif pengembangan yang diprioritaskan peningkatan pendapatan (0,524), upaya konservasi (0,535), pelestarian Budaya (0,542), Peningkatan Lapangan Kerja (0,476), Menjaga Kualitas Lingkungan (0,465) dan Kelembagaan (0,458).Kata Kunci : Taman Kili-kili, Penyu, AHPABSTRACTThe turtle is one of the marine animals whose life ranging from deep sea waters to the shallow sea waters. Place egg-laying sea turtles i.e. sand beach with a slope of ramps that can be found on the Beach – the beach in Indonesia. In the world there are seven types of turtles and six of which are found in Indonesia. Turtle conservation area in the Park Kili-kili Trenggalek Regency is a subdistrict of the Panggul area are organised into captive turtles and turtle. The area including the POKMASWAS (community group supervisor) who have been active since the year 2012. The importance of habitat for turtles turtle spawning movements showed that only local meaning not too far from the location of the penelurannya, because the turtles lay eggs in one place will be back again to the beginning of the spawning. Therefore, this research has the objective as follows: Knowing the quality of the waters and habitat parameters turtles in Garden reel Trenggalek Regency Panggul  Subdistrict. An evaluation of spawning habitat suitability turtles in Garden reel Trenggalek Regency Panggul Subdistrict. Inventarisir and assessment parameters for Turtle habitat categories appropriate for Beach spawning habitat for turtles in reel. The strategy of the development of the habitat of turtles in Garden reel trenggalek using AHP calculations obtained aspects that prioritized economic aspects (0.462) and alternative development are prioritized increase in revenue (0.524), conservation efforts (0.535), Cultural preservation (0.542), an increase in employment (0.476), maintaining the quality of the environment (0.465) and institutional (0.458).Keywords: Kili-kili Park, Turtles, AHP
ANALISIS KESESUAIAN HABITAT PENELURAN PENYU DI PANTAI SABA, GIANYAR, BALI Joanna Grace Mansula; Agus Romadhon
Juvenil Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v1i1.6669

Abstract

KARAKTERISTIK HABITAT PENELURAN PENYU DI PANTAI TAMAN KILI-KILI KABUPATEN TRENGGALEK DAN PANTAI TAMAN HADIWARNO KABUPATEN PACITAN Arisna Aditya Pratama; Agus Romadhon
Juvenil Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v1i2.7574

Abstract

ABSTRACTTaman Kili-kili and Pelang Beaches are located in Bendogolor Village, Wonocoyo Village, Panggul Sub-district, Trenggalek District, East Java, while Taman Hadiwarno Beach is located in Hadiwarno Village, Ngadirojo Sub-district, Pacitan district, East Java. These three beaches are along the southern coastline of the island of Java. Taman Kili-kili Beach and Taman Hadiwarno Beach are beaches that are habitats for nesting of several types of sea turtles in Indonesia such as lekang turtles (Lepidochelys olivacea), hawksbill turtles (Eretmochelys imbricata) and green turtles (Chelonia mydas). This study aims to determine the quality of the waters, find out the characteristics of turtle nesting habitat and determine the inhibitory parameters of turtles to lay eggs in Taman Kili-kili Beach, Trenggalek Regency, Pelang Beach, Trenggalek Regency and Taman Hadiwarno Beach, Pacitan Regency. The method used is comparative, which compares the data obtained from the results of research with a range of existing quality standards. The results of this study are parameters of water quality in all three stations in the range of good for sea turtle habitat. Characteristics of sea turtle nesting habitats at station 1 are characterized by all parameters in the good range, at station 2 there are only 5 parameters which are in the good range and at station 3 there are 8 parameters which are in the good range for habitat sea turtle nesting. The inhibiting parameters that cause turtles not to lay eggs at station 2 are the length of the beach, sand temperature, coastal vegetation, distance of the beach with settlements and coastal atmosphere. Keywords: Taman Kili-kili Beach, Pelang Beach, Taman Hadiwarno Beach, Sea Turtle, Spawn HabitatABSTRAKPantai Taman Kili-kili dan Pantai Pelang terletak di Dusun Bendogolor, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, sedangkan Pantai Taman Hadiwarno terletak di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Ketiga pantai ini berada di sepanjang garis pantai selatan pulau jawa. Pantai Taman Kili-kili dan Pantai Taman Hadiwarno merupakan pantai yang menjadi habitat peneluran dari beberapa jenis penyu yang ada di Indonesia seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau (Chelonia mydas). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan, mengetahui karakteristik habitat peneluran penyu dan mengetahui parameter penghambat penyu untuk bertelur di Pantai Taman Kili-kili Kabupaten Trenggalek, Pantai Pelang Kabupaten Trenggalek dan Pantai Taman Hadiwarno Kabupaten Pacitan. Metode yang digunakan adalah komparasi yaitu membandingkan antara data yang di dapat dari hasil penelitian dengan kisaran baku mutu yang ada. Hasil dari penelitian ini adalah parameter kulitas perairan di ketiga stasiun berada pada kisaran baik untuk habitat penyu. Karakteristik habitat peneluran penyu di stasiun 1 dicirikan dengan seluruh parameter berada pada kisaran baik, pada stasiun 2 hanya terdapat 5 parameter yang berada pada kisaran baik dan pada stasiun 3 terdapat 8 parameter yang berada pada kisaran baik untuk habitat peneluran penyu. Parameter penghambat yang menyebabkan penyu tidak melakukan peneluran di stasiun 2 adalah panjang pantai, suhu pasir, vegetasi pantai, jarak pantai dengan pemukiman dan suasana pantai.Kata Kunci: Pantai Taman Kili-kili, Pantai Pelang, Pantai Taman Hadiwarno, Penyu, Habitat Peneluran.
ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN PERAIRAN UNTUK EKOWISATA SNORKELING DI DESA SAOBI (Pulau Saobi) KECAMATAN KANGAYAN, KABUPATEN SUMENEP Moh Wildanul Jannah; Agus Romadhon; Firman Farid Muhsoni
Juvenil Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v1i3.8553

Abstract

AbstrakDesa Saobi Pulau Saobi merupakan kawasan yang memiliki ekosistem terumbu karang. keberadaan ekosistem tersebut memiliki potensi di bidang ekowisata bahari. Potensi tersebut jika dikembangkan dengan baik, dapat memberikan dampak positif terhadap masyarakat Desa Saobi Pulau Saobi. Analisis tentang kesesuaian ekowisata snorkeling perlu dilakukan sehingga dalam pengembangannya dapat memperhatikan ketersediaan dan keberlanjutan dari semua ekosistem yang ada di Desa Saobi. Sehingga penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui Kesesuaian, Daya Dukung Kawasan dan Daya Dukung Pemanfaatan ekowisata snorkeling di Desa Saobi Pulau Saobi. Penelitian ini menganalisa kualitas air secara insitu, menganalisis ekosistem terumbu karang dengan LIT (Line Intercept Transect), menghitung indek kesesuaian wisata (IKW), menghitung Daya Dukung Kawasan (DDK), dan Daya Dukung Pemanfaatan (DDP). Hasil analisa dalam penelitian ini yaitu nilai kualitas perairan sesuai standart baku mutu untuk ekowisata dan kehidupan terumbu karang, nilai persentase tutupan karang berada pada kisaran 50,39 – 66,86 %, ikan karang 31 - 32 spesies, indeks keseuaian wisata (IKW) di Desa Saobi pada pulau saobi berada dalam kategori sesuai (S), Daya Dukung Kawasan dalam menyediakan ruang mencapai 1,169 – 1,684 orang/hari, dan Daya Dukung Pemanfaatan dengan mempertimbangkan persentase kawasan untuk konservasi sebesar 10 % mencapai 116 – 168 orang/hari. Kata Kunci : Ekowisata, Snorkeling, Pulau Saobi, Terumbu karang, IKW, DDK, DDP.AbstractSaobi Village (Sapapan Island, Saobi and Bungin Nyarat) is an area that has a coral reef ecosystem. the existence of these ecosystems has the potential in the field of marine ecotourism. If this potential is well developed, it can have a positive impact on the people of Saobi Village. An analysis of the suitability of snorkeling ecotourism needs to be done so that in its development it can pay attention to the availability and sustainability of all ecosystems in Saobi Village. So this research has the aim to find out the quality of the waters, coral reef ecosystems and the suitability of the snorkeling ecotourism area on Saobi Village. This study analyzes water quality in situ, analyzes coral reef ecosystems with LIT (Line Intercept Transect), calculates tourism suitability index (IKW), calculates Regional Carrying Capacity (DDK), and Capability of Utilization Utilization (DDP). The results of the analysis in this study are the quality of waters according to the quality standards for ecotourism and coral reef life, the percentage value of coral cover is in the range of 47.45 - 71.2%, reef fish 29 - 35 species, the tourism suitability index (IKW) in Saobi Village on Sapapan Island in 3 stations is in the conditional compliance category (SB), while in Saobi Island and Bungin Nyarat in 3 stations it is in the appropriate category (S), the Regional Capacity in providing space reaches 963 - 2,919 people / day, and Capability of Utilization by considering the percentage of areas for conservation of 10%, reaching 96 - 291 people / day.Keywords: Ecotourism, Snorkeling, Saobi Village, Coral Reef, IKW, DDK, DDP.
ANALISIS KESESUAIAN EKOWISATA MANGROVE DI PANTAI KUTANG KABUPATEN LAMONGAN Jamal Aprianto; Agus Romadhon
Juvenil Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v2i2.10654

Abstract

ABSTRAKWilayah Kabupaten Lamongan merupakan salah satu daerah yang telah ditetapkan sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Jawa Timur oleh Pemerintah Jawa Timur.  Salah  satu  distinasi wisata  yaitu  Pantai  Kutang  yang  memiliki  ekosistem  mangrove  yang  masih  alami.  Ekosistem mangrove di pantai kutang memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai salah satu obyek Ekowisata.  Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui potensi mangrove, Evaluasi kelayakan ekosistem mangrove bagi Ekowisata, dan arahan pengembangan ekowisata mangrove. Jenis  data  yang  digunakan  berupa  Ketebalan Mangrove,  kualitas  air,  dan  kerapatan  jenis,  dan untuk  pengolahan  data  menggunakan  Indeks  Nilai  Penting,  IKW,  dan  AHP.  Potensi  Ekowisata Mangrove  di Pantai  Kutang  pada  jenis Rh. Apiculata memiliki  kontribusi  yang  sedang  (101%  - 200%  ),  dengan  nilai  168,922%.  Kontribusi yang rendah didapatkan pada jenis Ceriops Tagal, (0%-100%) dengan nilai 41,088. Evaluasi kesesuaian ekowisata mangrove memiliki nilai rata-rata sebesar  57,42%,  masuk  dalam  kategori  S2  (Sesuai)  dengan  kisaran  50%-75%.  Arahan pengembangan  bagi  ekowisata  yang  paling  diprioritaskan  adalah  mangrove  tracking  (0,215), kelembagaan  pengelolaan  (0.215),  industri  kecil  mangrove  (0,199)  sarana  transportasi  (0,197), dan pusat  informasi mangrove  (0,175). Mangrove tracking sebagai sarana penunjang utama bagi kegiatan ekowisata, selain itu juga dapat membantu menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem mangrove.Kata Kunci: Kesesuaian, Ekowisata, dan Ekosistem Mangrove.  ABSTRACTLamongan District is one of the areas that have been designated as a Tourist Destination (DTW) in East Java by the Government of East Java. One of tourism disturbance is Kutang Beach which has mangrove ecosystem which is still natural. Mangrove ecosystems on kutang beach have considerable potential to be developed as one of ecotourism objects. The purpose of this study was to  determine  the  potential  of  mangroves,  evaluate  the  feasibility  of  mangrove  ecosystems  for ecotourism, and directives  for  the development of mangrove ecotourism. The type of data used is Mangrove Thickness, water quality, and type density, and for data processing using the Important Value Index, IKW, and AHP. Potential of Mangrove Ecotourism at Kutang Beach in Rh. Apiculata has a moderate contribution (101% - 200%), with a value of 168.922%. The low contribution was found on Ceriops Tagal type, (0% -100%) with 41,088 value. Suitability evaluation of mangrove ecotourism has an average value of 57.42%, included in the category of S2 (Appropriate) with a range of 50% -75%.  The  most  prioritized  development  directions  for  ecotourism  are  mangrove tracking (0.215), institutional management (0.215), small mangrove industry (0.199) transportation facilities  (0.197),  and  mangrove  information  centers  (0.175).  Mangrove tracking is the main supporting tool for ecotourism activities, besides that it can also help preserve the environment and mangrove ecosystems. Keywords: Suitability, Ecotourism, and Mangrove Ecosystem
ESTIMASI STOK KARBON PADA EKOSISTEM LAMUN DI PULAU RAAS KABUPATEN SUMENEP Achmad Rhomadhoni; Agus Romadhon
Juvenil Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v1i2.7570

Abstract

ABSTRACTRaas Island is one of the islands located in Sumenep. Raas island has a number of important ecosystems, one of which is the seagrass. This study aims to determine the water quality in Raas Island, knowing the density of seagrass in Raas Island, knows the value of biomass and carbon stock estimates on seagrass in Raas Island. Seagrass density was measured using the square of 1m x 1m transect, identify the types of seagrass see seagrass identification guide books. Sampling value of biomass is done on all points, whereas for carbon analysis using ashing method performed at a point 50 m which subsequently translated using the biomass at other points. Water quality in Raas Island feasible for seagrass growth. The identification results found 3 types of seagrass in Raas Island, namely E. acoroides, T. hemprichii, S. isoetifolium. The highest seagrass density value is 414 ind/m2 and lowest density at 42 ind/m2. Values below the substrate biomass from 13.96 to 450.21 gbk/m2 greater than the biomass on the substrate 7.14 to 212.99 gbk/m2. The estimated value of the carbon content below the substrate is 4.92 to 147.18 gC/m2 higher than the estimated value of the carbon content on the substrate is 2.35 to 71.41 gC/m2. Keywords : Raas Island, Stock Carbon, Seagrass Ecosystems ABSTRAKPulau Raas merupakan salah satu pulau yang terletak di Kabupaten Sumenep. Pulau Raas memiliki sejumlah ekosistem penting salah satunya adalah ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan di Pulau Raas, mengetahui kerapatan lamun di Pulau Raas, mengetahui nilai biomassa dan estimasi stok karbon pada lamun di Pulau Raas. Kerapatan lamun diukur dengan menggunakan transek kuadrat 1m x 1m, identifikasi jenis lamun melihat panduan buku identifikasi lamun. Sampling nilai biomassa dilakukan pada semua titik, sedangkan untuk analisa karbon menggunakan metode pengabuan yang dilakukan pada titik 50 m yang selanjutnya dikonversikan dengan nilai biomassa pada titik lainnya. Kualitas perairan di Pulau Raas layak untuk pertumbuhan lamun. Hasil identifikasi ditemukan 3 jenis lamun di Pulau Raas, yaitu E. acoroides, T. hemprichii, S. isoetifolium. Nilai kerapatan lamun tertinggi yaitu 414 ind/m2 dan kerapatan terendah yaitu 42 ind/m2. Nilai biomassa bawah substrat 13,96 – 450,21 gbk/m2 lebih besar dibandingkan dengan biomassa atas substrat 7,14 – 212,99 gbk/m2. Nilai estimasi kandungan karbon bawah substrat yaitu 4,92 – 147,18 gC/m2 lebih besar dibandingkan nilai estimasi kandungan karbon diatas substrat yaitu 2,35 – 71,41 gC/m2. Kata Kunci : Pulau Raas, Stok Karbon, Ekosistem Lamun
BEBAN PENCEMAR LIMBAH TERHADAP KEBERLANJUTAN EKOWISATA PANTAI DI PANTAI CAMPLONG, KABUPATEN SAMPANG Mohammad Syahrul; Agus Romadhon
Juvenil Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v1i3.8562

Abstract

ABSTRAKKabupaten Sampang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Pulau Madura.Kabupaten Sampang memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat menunjang kelangsungan hidup dan pertumbuhan kepariwisataan, salah satunya obyek wisata Pantai Camplong. Kondisi di Pantai Camplong saat ini dalam keadaan kurang baikkarenabanyaknya sampah atau limbah disekitar perairan.Penelitian tentang kualitas perairan dan beban pencemar ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui kondisi perairan di Pantai Camplong bagi keberlanjutan ekowisata. Metode yang digunakan untuk mengetahui kondisi perairan yaitu menggunakan metode Storet dan analisa beban pencemar untuk mengetahui jumlah beban pencemar yang ada di pantai camplong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pantai camplong dikategorikan tercemar sedang dengan skor sebesar -25 dan beban pencemar yang tertinggi adalah parameter COD sebesar 2.143,87 Kg/hari dan BOD sebesar 607,7 Kg/hari. Tingginya nilai COD dan BOD terdapat pada stasiun 1 tepatnya di wisata pantai camplong, hal itu dikarenakan adanya bahan organik dan anorganik disekitar pantai. Upaya dalam mengatasi kondisi tersebut dengan cara mengurangi pemasukan bahan organik dan anorganik dengan membuat suatu tempat untuk pembuangan akhir (TPA), sehingga masyarakat atau pengunjung tidak membuang sampah ke perairan.Kata Kunci : Beban Pencemar, Ekowisata, dan Pantai Camplong.ABSTRACTSampang Regency is a regency located on Madura Island. Sampang Regency has the potential of natural resources which greatly supports the survival and growth of tourism, one of which is Camplong beach tourism. The condition at Camplong beach is currently in poor condition due to the large amount of garbage of waste around the waters. Research on water quality and pollutant load is very important to be done to determine the condition of the waters on the Camplong beach for ecotourism sustainability. The method used to determine the condition of the waters is to use the storet method and pollutant load analysis to determine the amount of pollutant load on the Camplong bech. The results showed that Camplong beach was categorized as moderately polluted with a score of -25 and the highest pollutant load was a COD parameter of 2.143,87 Kg/day and a BOD of 607,7 Kg/day. The high value of COD and BOD is at station 1 precisely in Camplong beach tourism, it is due to the presence of organic and inorganic materials around the beach. Efforts to overcome these conditions by reducing the entry of organic and inorganic materials by making a place for final disposal (TPA), so that people or visitors do not throw garbage into the water.Keywords : Pollutant Load, Ecotourism, and Camplong Beach. 
Vulnerability Analysis of Sea Level Rise In The Southern Coast of Bawean Island Zainul Hidayah; Agus Romadhon; Yudha Witjarnoko
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1456.726 KB) | DOI: 10.22146/jfs.38026

Abstract

Bawean island is one of numerous small islands in East Java. This island is famous for its natural resources and high level of environmental services. However in the last few years, effects of sea level rises on the island have been reported. Objective of this research was to identify and determine parameters that have significant impact on the vulnerability of the island due to sea level rise events. This research was conducted from July untill September 2017. The method used for this study was a combination of spatial analysis using remote sensing and  Geographical Information System (GIS), field survey and interviews with local people. Vulnerability assesment was conducted for three parameters, namely Exposure, Sensitivity and Adaptive Capacity. The results showed that the vulnerability index in the southern part of the island is 3.381. It can be classified as low vulnerability.
Diseminasi Mesin Pencacah Sampah Plastik untuk Mengurangi Pencemaran Plastik dan Mempromosikan Ekonomi Sirkular yang Berkelanjutan di Desa Taddan Romadhon, Agus; Fansuri, Hamzah; AS, Fathor; Maflahah, Iffan; Putera, Aditya Januar; Mukoddimah, Lailatul
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i1.18041

Abstract

Pendahuluan: Pencemaran plastik telah menjadi permasalahan lingkungan yang serius di banyak negara, termasuk Indonesia. Sampah plastik yang terakumulasi di lingkungan berdampak buruk bagi ekosistem dan kesehatan masyarakat. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya pengolahan sampah plastik yang efektif dan berkelanjutan. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan mesin pencacah plastik di tingkat masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk mendeskripsikan diseminasi mesin pencacah plastik yang dilaksanakan di Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Metode: Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi selama kegiatan diseminasi. Hasil: Evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa mayoritas 84% peserta belum pernah mengikuti kegiatan sosialisasi pengolahan limbah dan 53% peserta sedikit familiar dengan mesin pencacah plastik. Lebih lanjut, sebanyak 74% peserta merasa kegiatan ini sangat berguna dan perlu dilakukan kegiatan serupa di masa depan. Namun, kendala utama masyarakat untuk merealisasikan usaha pengolahan sampah plastik terletak pada kurangnya pengetahuan teknis (68%) dan sangat penting nya peran pemerintah (89%) dalam mewujudkan usaha tersebut. Kesimpulan: Kegiatan diseminasi ini diharapkan dapat mempromosikan adopsi teknologi pengolahan sampah plastik berbasis masyarakat dan mendorong terwujudnya ekonomi sirkular yang berkelanjutan di Desa Taddan.
Pelatihan Fotografi Dasar bagi Pelaku UMKM Kabupaten Pamekasan Badrut Tamami, Novi Diana; Samlawi, Achmad K; Qur’ana, Nurul; Jufri, Jufri; Romadhon, Agus
Jurnal Ilmiah Pangabdhi Vol 11, No 1: April, 2025
Publisher : LPPM Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/pangabdhi.v11i1.22933

Abstract

In the industrial world or what we could call the modern world, it is not only factories or companies that are developing but also MSMEs. MSMEs are enterprises or businesses carried out by individuals, groups, small business entities, or households. Indonesia as a developing country makes MSMEs the main foundation of the community's economic sector, this is done to encourage the ability to be independent in development in society, especially in the economic sector. This MSME has also implemented technology in its business processes. In technological advances, society is required to be able to apply technology, especially the internet, such as electronic market share, e- market ethics, and e-market advertising. The core subjects of e-market advertising are product photography and product design. Because technology has developed nowadays, all the above processes can be done through it. This training is specifically designed for this purpose, namely to develop the skills of the MSME community in smartphone product photography and how to package their products so that they can compete and win the competition in the electronics market. This training was quite successful as shown by the enthusiasm of the training participants and resulted in some very good product photography. The result of this training is that more and more SME practitioners are going online and promoting their products in mass media.