p-Index From 2021 - 2026
3.833
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Hukum Progresif Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Ulul Albab: Jurnal Studi Islam El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Analisis: Jurnal Studi Keislaman IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan Jurnal Dakwah Risalah MUSLIM HERITAGE: JURNAL DIALOG ISLAM DENGAN REALITAS Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Journal of Islamic Studies and Humanities Sawwa: Jurnal Studi Gender Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Jurnal Politik Profetik Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Jurnal Orientasi Baru Journal of Islamic Architecture community: Pengawas Dinamika Sosial Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial JURNAL PENELITIAN MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender RELIGIA Jurnal Ilmu Dakwah Forum Tarbiyah Kebudayaan Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Aceh Anthropological Journal Riwayah : Jurnal Studi Hadis Al-Adyan: Journal of Religious Studies Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Prabayaksa: Journal of History Education Jurnal Islam Nusantara Muslim Heritage Religia : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Community Development: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Journal of Demography, Etnography, and Social Transformation Jurnal Hukum dan Pembangunan Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman TILA (Tarbiyah Islamiyah Lil Athfaal) Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan
Claim Missing Document
Check
Articles

Menggugah peran hukum humaniter internasional Islam dalam mengurai konflik etnis perspektif sejarah Rosyid, Moh
IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The defamation of minority ethnics and groups by the authority and the majority has been exposed by the media throughout history. This condition is contrary to the Islamic concept of rahmatan lil’alamin. The concept will not be materialized if the expert of humanitarian law does not involve in the formulation of Islamic humanitarian law. This topic is proposed by the author to persuade the expert of Islamic law to be more active in exploring the concept of prosperous life according to Islam. The author does not explore the topic from legal point of view but rather from historical point of view that crime and genocide has colored global life. If this condition is not addressed immediately and appropriately, we should concern that misguidance will be always characterized our life. Persuading humanitarian law expert is a scientist contribution to create a prosperous life and prevent a conflict. International humanitarian law is a part of international law consisting of diplomatic law, maritime law, law of international treaty, and space law. Due to its significance, it necessitates Islam to coloring humanitarian law. Islam may contribute to humanitarian law through the expert of Islamic law. Islam may be used as a frame of humanitarian law because it establishes a world full of compassion without any form of discrimination.
MENDUDUKKAN PERSOALAN ANTARA PERTAHANAN AJARAN AGAMA DENGAN HAK PENDIDIKAN ANAK Rosyid, Moh.
Sawwa: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Sawwa: Jurnal Studi Gender dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.477 KB) | DOI: 10.21580/sa.v9i2.632

Abstract

Hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki setiap jiwa sejak dalam kandungan hingga mati. Naskah ini mendalami HAM bagi anak warga Samin di Kudus yang harus dilindungi khususnya aspek pendidikan formal. Dipilihnya komunitas Samin karena sebagian masih mempertahankan ajaran leluhurnya yang tidak me­ngenyam sekolah formal, wujud penolakan kebijakan Kolonial Belanda, meskipun kini sebagian sekolah formal dan mayoritas taat peraturan pemerintah lainnya. Fokus naskah ini pada hak anak Samin bila tidak sekolah formal dalam perspektif perundangan. Metode riset untuk mendapatkan data dengan wawancara dan observasi langsung dengan objek penelitian. Analisisnya deskriptif kualitatif. Kajian ditemukan: 1) harus di­sedia­kan guru agama Adam dalam proses pembelajaran pen­didikan formal bagi warga Samin. Di sisi lain, negara ber­anggap­an bahwa agama Adam bagi warga Samin dikategorikan aliran ke­percayaan, 2) Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik terutama hak non-derogable (hak absolut) khususnya hak atas kebebasan beragama harus dipenuhi negara terhadap warga Samin. Hal ini sebagai modal untuk memahami ajaran agama warga Samin dalam wadah pendidikan formal, 3) Ke­mendikbud RI harus segera menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Sekolah Rumahan karena amanat UU Sisdiknas, 4) Bagi warga Samin yang anaknya tidak sekolah formal, pemerintah harus melakukan pendekatan persuasif agar menjadi warga yang taat peraturan di bidang pendidikan, sebagaimana amanat PP 48 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar Pasal 15 (1), (2), dan (3).
Memotret Agama Adam: Studi Kasus pada Komunitas Samin Rosyid, Mohammad
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 23, NOMOR 02, OKTOBER 2014
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.94 KB)

Abstract

Interreligious tolerance in this nation may be achieved through the understanding of local religions’ concept on tolerance, which is practiced by indigenous community. The understanding is expected to gradually reduce religious prejudice. Once, the understanding of other religion is reached, religious difference will not triggered conflict among people from different religious background, in contrary the difference will be treated as a gift of God. This paper attempts to open Pandora box of Samin community perceived to be atheist. Understanding God in the religion of Adam (Samin people’s religion) is the foundation of awareness that Samin people also believe in God and perform their own religious obligations, such as pray and fasting. Meanwhile, the government categorizes the religion of Adam as belief system, not religion. There is difference between belief system and religion.
FORMULASI PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS BAGI PEMELUK AGAMA LOKAL Rosyid, Moh.
Jurnal Penelitian Vol 5 No 2: Nopember 2008
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.636 KB) | DOI: 10.28918/jupe.v5i2.243

Abstract

Hak pelayanan pendidikan bagi warga negara yang memiliki kebutuhan khusus dilindungi oleh negara. UU nomor 20 tahun 2003 pasal 5 (2) warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif noninteraktif ini mengkaji formulasi pendidikan layanan khusus bagi pemeluk agama lokal, masyarakat Samin Kudus. Kajian ini menunjukkan bahwa praktik pendidikan belum mengakomodir formulasi pendidikan khusus bagi pemeluk agama lokal. Praktik pendidikan rumahan (homeschooling) pada dasarnya pendidikan mengakomodir kebutuhan masyarakat Samin, akan tetapi, produk hukum tentang homeschooling belum ada. Dengan demikian, pendidikan formal adalah solusi yang harus dipenuhi untuk pelayanan pendidikan bagi pemeluk agama Samin.
NARKOBA DAN HUKUMAN MATI AKIBAT KORBAN PERDAGANGAN PEREMPUAN Rosyid, Moh.
MUWAZAH Vol 7 No 1: Juni 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.266 KB)

Abstract

Narcotics are substances causing change of consciousness. Psychotropic is a substance that causes changes in mental activity and behaviour. There is negative impacts on its users. Surprisingly, the demand for narcotics is increasing. Some starts it as trial and error, to have fun, be used under certain conditions such as sadness, tense and disappointed, abuse / deviation and addicts. With the increasing demand, drug sellers attempt to increase their market in various ways including using women as couriers, although the death penalty confronting. The issue needs to be discussed further is the reasons these women becoming drug couriers. Data shows some women are trapped by drug sellers and they are victims of human trafficking promised to be married.Poverty is one factor of this problem. Thus, among the solutions is to fight against poverty by means of entrepreneurship education facilitated by government to become independent generation. Poverty is one of casualties in war against drug. Parents awareness to monitor and educate their children needs to be strengthen in order to prevent becoming targets of drugs' mafia, both becoming user or dealers. Meningkatnya animo konsumen, produsen terhadap narkotoka dan psikotropika, mengakibatkan mereka melakukan pemasaran dengan berbagai cara, antara lain, memanfaatkan perempuan menjadi pemasok/pengedar, meski hukuman mati menghadangnya. Persoalan yang perlu diurai adalah apa yang menjadi penyebab mau menjadi pengedar? Para perempuan yang menjadi pemasok/pengedar terjadi karena korban perdagangan manusia oleh oknum tertentu yang memanfaatkan celah kelemahan perempuan, yakni dinikah untuk dijadikan tumbal pengedar narkoba. Kemiskinan menjadi faktor penyebab menjadi korban. Dengan demikian, jalan awal yang harus dicari solusi adalah memerangi kemiskinan warga dengan cara pendidikan kewirausahaan agar menjadi generasi yang mandiri dan pemerintah memfasilitasinya. Bila kemiskinan masih akut, memerangi korban pengedar narkoba menghadapi jalan terjal. Perlunya kesadaran orangtua dalam mengawasi dan mendidik anaknya untuk dioptimalkan agar tidak menjadi target mafia narkoba, baik menjadi pengonsumsi, pengedar atau pemroduk narkoba. Ketegasan pemerintah dalam menindak kejahatan narkoba dengan hukuman mati yang prosedural jangan surut di tengah pro-kontra dari publik.
Mengurangi Animo Pekerja Imigran Rosyid, Moh.
MUWAZAH Vol 9 No 1: Juni 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.918 KB) | DOI: 10.28918/muwazah.v9i1.1112

Abstract

This research discusses on the issue of reducing Indonesian migrant workers by cultivating local and natural sources. Data were collected from interview and participative observation. This is a case study based on qualitative approach. In Kudus, some Indonesian migrant workers faced problems in the countries where they worked. In some cases families are lost contact with the workers, some workers were sent back home dying or in critical health condition while some other are sent back home in a coffin. Those who came back healthy faced other problems such as adultery, divorce, or father raped his daughters. There are also who came back in a good health and wealth. Discussing this matter, the government together with the society need to identify and cultivate local sources to help and empower those immigrant workers to find and establish their economic sources in their home town.    
Potret Organisasi Tarekat Indonesia dan Dinamikanya Rosyid, Moh.
RELIGIA Vol 21 No 1: April 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.559 KB) | DOI: 10.28918/religia.v21i1.1507

Abstract

Riset ini bertujuan menggambarkan secara singkat dinamika organisasi tarekat di Indonesia sejak adanya Jam’iyyah Ahl al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Indonesi (JATMI, 1957)  dan Jam’iyyah al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah (JATMAN, 1979) di Jawa, yang disusul dengan berdirinya Dewan Ulama Tarekat Indonesia di Solok Sumatera Barat (2016). Metode riset ini adalah telaah pustaka dengan menggunakan teknik analisis isi. Hasil riset menunjukkan, pertama, bahwa kriteria kemuktabarahan tarekat dibutuhkan dalam keorganisasian tarekat. Temuan kedua menunjukkan bahwa organisasi tasawuf (tarekat) Nusantara JATMI tahun 1957 dimotori oleh Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Sementara itu, konflik internal antar tokoh Jatmi maka menyebabkan didirikannya lembaga baru dengan muatan gerakan serupa yakni JATMAN pada 20 Rabiul Awal 1337 H/10 Oktober 1985 M di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Temuan ketiga menunjukkan bahwa dinamika organisasi tersebut juga memberi warna pada kelembagaan ulama di Indonesia.
MENGEVALUASI ULANG DAKWAH PADA PEMELUK AGAMA LOKAL (STUDI KASUS PADA KOMUNITAS SAMIN) Rosyid, Moh.
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 34, No 1 (2014)
Publisher : Da'wa and Communication Faculty State Islamic University Walisongo, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v34.1.41

Abstract

Indonesia has a variety of cultures, ethnicity, race, creed, and religion. Unfortunately, between people and the state have different views toward religions and faiths. The state does not categorize Samin as a religion but a cult that is a part of cultures. Accordingly, Samin people likely become the target of da’wah. If we refer to the Presidential Decree No. 1/PNPS /1965, the legitimate religions accepted in Indonesia include Islam, Christianity, Catholicism, Hinduism, Buddhism and Confucianism (Confucius). In other words, the State does not restrict particular religions as long as they do not conflict with the law. Thus, Samin might live in Indonesia as an Adam’s religion because it does not conflict with the law. As well, Samin people have a legitimate religion and they should not become a target of da’wah again because they are a part of religious groups.***Bangsa Indonesia memiliki berbagai budaya, suku, ras, kepercayaan, dan agama. Terdapat perbedaan cara pandang negara dan warganya terhadap agama dan aliran kepercayaan. Agama Adam yang dipeluk masyarakat Samin oleh negara dikategorikan aliran kepercayaan yang merupakan bagian dari budaya, bukan agama. Imbasnya warga Samin dijadikan obyek dakwah. Akan tetapi, bila memahami Perpres Nomor 1/PNPS/1965 bahwa yang dimaksud dengan “agama yang dianut di Indonesia” adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu (Confusius). Dengan demikian, Negara tidak membatasi agama tertentu saja, prinsip dasar agama yang boleh eksis di Indonesia adalah agama yang tidak bertentangan dengan UU. Dengan demikian, agama Adam yang dipeluk warga Samin pun boleh hidup di Indonesia karena agama Adam tidak bertentangan dengan UU. Dengan demikian, warga Samin telah beragama dan sah keberadaannya maka warga Samin tidak boleh didakwahi karena telah beragama.
MENGIDENTIFIKASI KEMUKTABARAHAN TAREKAT SYAHADATAIN Rosyid, Moh
ULUL ALBAB Jurnal Studi Islam Vol 19, No 1 (2018): Islamic Philosophy and Mysticism
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.361 KB) | DOI: 10.18860/ua.v19i1.4811

Abstract

This article discusses about Shahadatayn tarîqah, one of lesser-known tarîqah in Indonesia. The writer explores it from a primary source written by Abah ‘Umar, the founder of this tarîqah and other supporting references. To be a member of Shahadatayn tarîqah, one is acknowledged through an inaugural ceremony (bay‘at), ḍuhâ and tahajjud praying in fourty days, reciting ṣalawât tunjînâ, wirid, Asmâ’ Nûr al-Îmân, and Asmâ’ al-Ḥusnâ. Shahadatayn is known for its uniqueness such as implementing the meaning of shahâdat in daily life, wearing white attire and turban when performing prayer, chanting after the obligatory prayers, ḍuhâ, tahajud, and other sunna prayers. Shahadatayn tarîqah is not as famous as the other tarîqah as it has not been listed in the JATMAN as mu‘tabar version. This is because there is no murshid transformation from the Prophet Muhammad and continues through the path of the ṣâlih to the murshid. JATMAN version can not be an absolute reference for it is within the circle of NU and not all tarekat residents are NU members. Furthermore, the actual Shahadatayn has a murshid lineage, i.e. from Prophet Muhammad, Sharif Hidayatullah, and Abah ‘Umar who is now passed on by his descendants. Although it is realized that the genealogy is not as many other tarîqahs, but the content of his teachings is in line with the guidance of the Prophet Muhammad.
TAREKAT ASY-SYAHADATAIN: SEJARAH, AKTIFITAS, DAN AJARAN Rosyid, Moh
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 3, No 2 (2018): Journal of Islamic Studies and Humanities
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.622 KB) | DOI: 10.21580/jish.32.2932

Abstract

Tarekat Asy-Syahadatain was established in Panguragan, Cirebon, West Java in 1947. It, then, expanded to Central Java. In most cases, tarekat was established in the Middle East and then spreaded to Nusantara. Asy-Syahadatain was founded by Habib Umar, firstly as a religious congregation (pengajian) which later on developed into a tarekat. The name was taken from its teachings which focused on the implementation of syahadat in daily life. This article employed a library research method. The results are the specificity of this tariqa to recite syahadat, shalawat tunjina, and to wear white clothes during canonical prayers and supplementary prayers. AbstrakTarekat Asy-Syahadatain tumbuh di Panguragan, Cirebon, Jawa Barat tahun 1947 hingga kini berkembang di Jawa Tengah. Lazimnya, tarekat tumbuh di Timur Tengah dan berkembang hingga di Nusantara. Tarekat ini dideklarasikan oleh Habib Umar yang awalnya mendirikan kelompok pengajian syahadatain hingga nama ini diabadikan menjadi nama tarekat. Penamaan syahadatain karena mendalami makna kata syahadat dan diwujudkan dalam perilaku. Penelitian ini, menggunakan metode library research. Hasil dari penelitian didapat bahwa, Kekhasan tarekat ini yaitu mentradisikan membaca syahadatain, membaca salawat tunjina, dan berpakaian serba putih (surban dan sejenisnya) bagi perempuan dan lelaki tatkala salat maktubah dan salat sunah.