p-Index From 2021 - 2026
4.064
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Hukum Progresif Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Ulul Albab: Jurnal Studi Islam El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Analisis: Jurnal Studi Keislaman IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan Jurnal Dakwah Risalah MUSLIM HERITAGE: JURNAL DIALOG ISLAM DENGAN REALITAS Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Journal of Islamic Studies and Humanities Sawwa: Jurnal Studi Gender Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Jurnal Politik Profetik Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Jurnal Orientasi Baru Journal of Islamic Architecture community: Pengawas Dinamika Sosial Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial JURNAL PENELITIAN MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender RELIGIA Jurnal Ilmu Dakwah Forum Tarbiyah Kebudayaan Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Aceh Anthropological Journal Riwayah : Jurnal Studi Hadis Al-Adyan: Journal of Religious Studies Journal of Nahdlatul Ulama Studies Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Prabayaksa: Journal of History Education Jurnal Islam Nusantara Muslim Heritage Religia : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Community Development: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Journal of Demography, Etnography, and Social Transformation Jurnal Hukum dan Pembangunan Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman TILA (Tarbiyah Islamiyah Lil Athfaal) Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan
Claim Missing Document
Check
Articles

Formula Metode Pembelajaran Materi Ajar Tradisi Lisan Bagi Anak Usia Dini: Learning Method Formula for Teaching Oral Traditions to Young Children Rosyid, Moh
JURNAL TILA ( Tarbiyah Islamiyah Lil Athfaal ) Vol. 1 No. 1 (2021): Pendidikan Islam Anak Usia Dini
Publisher : Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal- Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/tila.v1i1.430

Abstract

Karakter anak didik yang berusia anak-anak sangat mengandalkan pembelajaran yang berbasis cerita di antara memanfaatkan tradisi lisan. Dengan demikian, pendidik dituntut piawai dalam mengemas pembelajaran dengan bahan ajar yang bersumber dari tradisi lisan. Pendidik dapat memanfaatkan analisis SWOT dalam evaluasi metode pembelajaran. Hal yang penting dari pembelajaran berbasis tradisi adalah kreatifitas mengembangkan sumber tradisi lisan, menggali fakta yang dilisankan, dan mempersiapkan perangkat dukung dalam berkunjung atau menyaksikan tradisi lisan yang dipertunjukkan. Hal ini dilakukan agar anak didik meyakini kebenaran tradisi lisan dan tidak jenuh hanya bertahan di ruang kelas (monoton). Efek positif tradisi lisan yang dipertunjukkan anak mampu menyaksikan secara langsung akan terpancing kreatifitasnya membuat model tradisi lisan khas anak terimajinasi. Kreatifitas sangat penting untuk mengembangkan potensi daya nalar anak. Masa anak-anak adalah masa berimajinasi dengan dimotivasi.
Symbolic Meaning of Buka Luwur: a Historical and Cultural Study of Sunan Kudus Grave Rosyid, Moh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.17130

Abstract

This article describes the symbolic meaning of Luwur (a covering cloth) of the grave of Sunan Kudus, the first preacher of Kudus in the annual tradition of Buka Luwur (replacement with new Luwur every month of Muharam/Sura). The tradition is performed by the Foundation Administrator of Mosque, Menara, and Sunan Kudus Grave (YM3SK) together with the residents of Kauman, Kudus, Central Java. The data of this study were obtained from observation, interview, and reference investigation with a qualitative descriptive analysis. The research result showed that the luwur of Sunan Kudus grave behind al-Aqsha Menara Mosque assigns various symbolic meanings. The event of Buka Luwur tradition is performed in every first to tenth of Sura/Muharam month, through the distribution of Asura porridge and jangkrik rice to the residents of Kauman village, Islamic art performance, learning about Islamic New Year (Muharram), and replacement of the old Luwur with the new one. The motif of Luwur consists of jasmine, unthuk banyu, kompol, and wiru, which symbolize honor to Sunan Kudus. The tradition has been conserved to honor the traces of dakwah of Sunan Kudus. Artikel ini menjelaskan makna simbolis dari Luwur makam Sunan Kudus, da'i pertama di Kudus dalam tradisi tahunan Buka Luwur (penggantian Luwur baru setiap bulan Muharam/Sura). Tradisi tersebut dilakukan oleh Pengurus Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) bersama warga Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus, Jawa Tengah. Data penelitian ini berasal dari observasi, wawancara dan investigasi referensi dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Luwur makam Sunan Kudus di belakang Masjid Al-Aqsha Menara memiliki berbagai makna simbolis. Rangkaian acara tradisi Buka Luwur dilakukan setiap bulan Sura/Muharam pertama hingga kesepuluh, yaitu pembagian bubur Asura dan nasi jangkrik kepada warga desa Kauman, pertunjukan atraksi Seni Islam, program pengajaran Tahun Baru Islam (Muharram), dan penggantian Luwur lama dengan yang baru. Motif Luwur terdiri dari melati, unthuk banyu, kompol, dan wiru, yang memiliki makna simbolis penghormatan terhadap Sunan Kudus. Tradisi tersebut dilestarikan untuk menghormati jejak-jejak dakwah Sunan Kudus.
Ritual, Theology, and Islamic Civilization: The Grebek Besar Tradition in Demak Regency Kurniawati, Dita; Rosyid, Moh.; Mas'udi, Mas'udi; Sopian, Achmad; Makki, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i2.37306

Abstract

Within the broader history of Islamic civilization in Java, ritual traditions such as Grebek Besar have functioned as key sites for the transmission, reinterpretation, and embodiment of Islamic ethical and theological values. This study examines the cultural and theological dimensions of the Grebek Besar festival in Demak Regency, Central Java, Indonesia, one of the most significant Islamic cultural events in Java. Rooted in the commemoration of Eid al-Adha, the festival embodies a dynamic synthesis between Islamic doctrine and Javanese cultural expression. Previous studies have largely treated Grebek Besar as a folkloric or historical tradition, without adequately examining its lived-theological meanings as articulated by local religious actors and enacted in everyday ritual practices. Using a qualitative ethnographic approach, this study is based on participant observation, in-depth interviews with religious leaders and community elders, and analysis of local archives and manuscripts. The findings are consolidated into a central thematic claim: Grebek Besar functions as a form of lived Islamic theology in which ritual performances, symbolic objects, and communal participation operate as interconnected mechanisms that sustain religious piety, social cohesion, and cultural continuity among Javanese Muslims. The study demonstrates that the festival is not merely a cultural celebration, but a ritualized space of Islamic devotion embedded in local custom. Processions, communal prayers, and food-sharing practices are shown to carry theological meanings that reinforce the community’s relationship with God while affirming collective historical memory and identity. This research makes a specific scholarly contribution by proposing an empirically grounded framework of “lived theology” in Javanese Islam, bridging normative Islamic theological concepts such as syukr and ukhuwah with anthropological analyses of ritual, symbolism, and collective memory, and thereby advancing interdisciplinary approaches to the study of Islam and local religiosity in Indonesia. Dalam sejarah panjang peradaban Islam di Jawa, tradisi ritual seperti Grebek Besar berfungsi sebagai ruang penting bagi transmisi, reinterpretasi, dan perwujudan nilai-nilai etika dan teologi Islam. Berfokus pada tradisi ini, penelitian ini mengkaji dimensi kultural dan teologis dari festival Grebek Besar di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang merupakan salah satu perayaan budaya Islam paling signifikan di Jawa. Berakar pada peringatan Iduladha, festival ini merepresentasikan sintesis dinamis antara ajaran Islam dan ekspresi budaya Jawa. Kajian-kajian sebelumnya umumnya memandang Grebek Besar sebagai tradisi folklorik atau peristiwa historis, tanpa menelaah secara memadai makna teoretis teologi yang hidup dalam praktik sosial dan ritual (lived theology) sebagaimana dimaknai oleh aktor-aktor keagamaan lokal dan diwujudkan dalam praktik ritual sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif etnografis, penelitian ini didasarkan pada observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh agama dan sesepuh masyarakat, serta analisis arsip dan manuskrip lokal. Temuan penelitian ini dirumuskan dalam satu klaim tematik utama, yaitu bahwa Grebek Besar berfungsi sebagai bentuk teologi Islam yang dihidupi, di mana pertunjukan ritual, objek simbolik, dan partisipasi komunal saling terhubung sebagai mekanisme yang menopang kesalehan religius, kohesi sosial, dan kesinambungan budaya di kalangan Muslim Jawa. Penelitian ini menunjukkan bahwa Grebek Besar bukan sekadar perayaan budaya, melainkan ruang ritual devosional Islam yang tertanam dalam adat lokal. Arak-arakan, doa bersama, dan praktik berbagi makanan mengandung makna teologis yang memperkuat relasi komunitas dengan Tuhan sekaligus meneguhkan memori historis dan identitas kolektif. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dengan mengajukan kerangka teoretis lived theology dalam konteks Islam Jawa yang berlandaskan data empiris, dengan menjembatani konsep-konsep teologi Islam normatif seperti syukr dan ukhuwah dengan analisis antropologis mengenai ritual, simbolisme, dan memori kolektif, sehingga memperkaya pendekatan interdisipliner dalam kajian Islam dan religiusitas lokal di Indonesia.
Degradasi Identitas Komunitas Samin Studi Kasus di Kudus Jawa Tengah Rosyid, Moh
DEMOS: Journal of Demography, Ethnography and Social Transformation Vol. 1 No. 1 (2021): Journal of Demography, Ethnography and Social Transformation
Publisher : LPPM UIN SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/demos.v1i1.993

Abstract

This article describes the changes in lifestyle Samin community in Kudus Central Java. Data collection by interview, observation, and literature was analyzed using a qualitative descriptive approach. Result, Samin is Javanese ethnic community the originally driven by Ki Samin Surosentiko against invaders in Blora, Central Java. Its existence extends to city Kudus, Central Java until now. Samin community in Kudus changes in lifestyle. The result (1) follow a lifestyle now and (2) become urban worker, and (3) some are no longer farmers. This is due to fulfilling a lifestyle consequently experienced degradation quantity and quality. Triggered by don't understand the teachings Samin, don't identity Samin.
Sustaining Layered Tolerance in Islam Nusantara: Sunan Kudus’s Legacy in Nahdliyin–Christian Relations in Kayuapu, Kudus Rosyid, Moh; Lina Kushidayati
Journal of Nahdlatul Ulama Studies Vol. 6 No. 2 (2025): Journal of Nahdlatul Ulama Studies
Publisher : Lakpesdam PCNU Kota Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35672/jnus.v6i2.114-129

Abstract

Islam–Christian relations at the village level are often shaped by a long history of coexistence, yet they remain vulnerable to identity anxiety, conversion concerns, and symbolic competition. In the context of Kudus, the legacy of Sunan Kudus commonly narrated as accommodative da‘wah and an ethic of respect toward other groups can function as cultural capital that stabilizes interfaith encounters. This article aims to explain how the historical context of colonialism, the development of zending/missionary activities and Islamic preaching, and the collective memory of Walisongo Islamization (particularly Sunan Kudus) have shaped patterns of Islam–Christian relations in Dukuh Kayuapu, as well as how Nahdliyin residents practice “layered tolerance” through NU/Aswaja cultural strategies (tahlil, berjanjen/shalawat, pengajian, and TPQ) within this contact zone. The study adopts a qualitative approach with a case study design in Dukuh Kayuapu, Gondangmanis Village, Bae Subdistrict, Kudus; data were collected through limited participant observation, semi-structured interviews with purposively selected informants (NU figures, cross-generational residents, church council/pastor, and village officials), and document analysis, and were analyzed thematically. The findings show that tolerance in Kayuapu operates as a governance of difference: social harmony is maintained through everyday contact (neighborly interaction, bereavement solidarity, and collective work), while theological boundaries are selectively managed through relatively subtle boundary maintenance. Aswaja traditions function as a “protective infrastructure” that strengthens internal cohesion and reduces conversion anxiety without provoking open conflict, while the legacy of Sunan Kudus serves as cultural legitimation for an ethic of interfaith respect. The study recommends strengthening cross-community humanitarian social-contact spaces, formulating mutually agreed codes of encounter for sensitive issues, reinforcing moderate religious literacy within each community, and activating the narrative of Sunan Kudus’s legacy as a public moral language to prevent the escalation of friction in interfaith contact zones.
PELAYANAN PENDIDIKAN PENGHAYAT SAPTA DARMA DI SEKOLAH FORMAL: STUDI KASUS DI KUDUS Rosyid, Moh.; Kushidayati, Lina
Jurnal Hukum Progresif Vol 8, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Doctoral of Law Program, Faculty of Law, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (970.144 KB) | DOI: 10.14710/hp.8.1.81-97

Abstract

Artikel ini ditulis bertujuan mendeskripsikan upaya warga penghayat di Kudus dalam pemenuhan pelajaran penghayat di sekolah dan respon atas putusan Mahkamah Konstitusi No 97/PUU-XIV/2016. Data riset dengan wawancara, observasi, dan kajian literatur dengan analisis deskriptif kualitatif. Ada delapan penghayat di Kudus, yang mengubah kolom agama menjadi penghayat yakni Sapto Darma dan Sikep Samin. Dalihnya, mengubah khawatir pemakaman di makam umum desa ditolak. Ada pula, penghayat sebagai organisasi rohani, tak terkait status agama dalam KTP. Penghayat Sapta Darma yang anaknya di SMAN 1 Kudus belum mendapat pelajaran penghayat di kelas, meski tersedia guru penghayat. Hal ini akibat Kepala SMAN 1 Kudus belum memfasilitasi ruang kelas dalam pembelajaran, hanya materi pelajaran dari guru penghayat Pada Siswa Dan Ujian Dinilai Gurunya.
HAK PENDIDIKAN ANAK DAN PENYEDIAAN GURU PENGHAYAT SAMIN Rosyid, Moh
Jurnal Hukum Progresif Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Doctoral of Law Program, Faculty of Law, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.584 KB) | DOI: 10.14710/jhp.9.1.64-73

Abstract

Naskah ini mendalami keberadaan anak warga Samin di Kudus dalam pendidikan formal yang sebagian tidak sekolah formal dan sebagian sekolah formal. Fokus naskah ini, hak anak Samin yang sekolah formal tapi tidak tersedia guru penghayat Samin. Data diperoleh dengan wawancara dan observasi di lokasi riset dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hail riset, (1) harus disediakan guru agama Adam dalam proses pembelajaran pendidikan nonformal bagi warga Samin yang tidak sekolah, (2) pemerintah harus melakukan pendidikan afirmatif pada warga Samin yang sekolah formal karena tidak ada warga Samin yang memenuhi kriteria sebagai guru dalam pembelajaran di kelas, (3) Kemendiknasristek harus menerbitkan aturan Sekolah Rumahan menaungi pemeluk agama lokal, (4) Pemkab Kudus tidak membiarkan warga Samin yang tidak sekolah formal dengan berupaya dengan pendekatan persuasif agar amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 dan PP Nomor 48 Tahun 2008 terlaksana.