Claim Missing Document
Check
Articles

Gerakan Adaptasi Politik Komunitas Samin di Kudus Jawa Tengah Rosyid, Moh
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.12516

Abstract

The purpose of writing this paper is to description the form of political adaptation the Samin community in Kudus, Central Java at the married don’t written married in Civil Registry Service Office (Dukcapil) and don’t formal school. Data obtained by interview, literature review, and observation. The data was analyzed using a qualitative descriptive approach. Result, people non-Samin in Kudus City, formal school and married listed in Civil Registry Service Office (Dukcapil) stigmatization for people non-Samin. As a result, Samin community out from Samin. In order to continue to exist in Samin, two attempts were made by the Samin figure, (1) record mating and (2) have regular meetings about study teaching Samin. Local government Kudus positive respons attend the Samin marriage, make marriage certificate, and publish change ID-card colom, the first setrip (-) make indegeneous religion (penghayat).  Government Kudus have to explain married must be listed in Civil Registry Service Office in order to get married sertificate. If not, breaking married law and people administration.Abstrak: Artikel ini ditulis bertujuan mendedahkan adaptasi politik komunitas Samin di Kudus, Jawa Tengah atas peraturan negara bidang pencatatan perkawinan. Data didapatkan dengan observasi, kajian referensi, dan wawancara yang selanjutnya dianalisis dengan telaah kualitatif-deskriptif. Hasil riset, warga di Kudus ada yang masih mempertahankan Saminisme berupa tidak menyekolahkan anaknya di sekolah formal dan pernikahannya tak dicatatkan pada Dukcapil. Akibatnya menerima stigma dari warga non-Samin berdampak banyaknya warga Samin yang keluar dari Samin. Agar komunitas Samin eksis, upaya yang dilakukan tokoh Samin di Kudus (1) mencatatkan perkawinan warga Samin dengan diawali mendaftarkan komunitasnya berbadan hukum, dan (2) melakukan temu rutin warga Samin untuk mendalami ajaran Samin. Pemkab Kudus merespons positif upaya warga Samin dengan menghadiri perkawinan di rumah warga Samin ketika kawin perdana warga Samin dicatatkan, menerbitkan akta kawinnya, dan menerbitkan perubahan kolom agama warga Samin yang semula tertulis setrip (-) menjadi penghayat kepercayaan. Pemerintah Kabupaten Kudus harus melakukan upaya memberi pemahaman pada warga Samin bahwa tidak mencatatkan perkawinan adalah melanggar undang-undang Perkawinan dan Administrasi Kependudukan.
MENUNGGU KIPRAH NEGARA PADA SEKOLAH RUMAHAN ALA SAMIN: Studi Kasus di Kudus Rosyid, Moh
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 14 No 1 (2021)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v14i1.384

Abstract

This research was conducted to understand the home school model of Samin residents in Kudus, Central Java. Research data obtained through interviews, observations, and literature review. Data was analyzed using a qualitative descriptive approach. Samin’s home school was initially led by Ki Samin Surosentiko during the resistance against the Dutch colonial in Blora and has spread to Kudus until now. Samin residents do not go to formal schools, but form home schools with the aim of protecting their generation from being carried away by the current dynamics. The learning materials focus on the principles of life and to stay away from five taboos: bedok (accusing), colong (stealing), pethil; pinch; and nemu wae ora keno; taboo to find goods. Samin residents do not go to formal schools because they still maintain their ancestral teachings with speech traditions. The educators are parents and traditional leaders. The results of the evaluation are reflected in their behavior in life. The Samin people’s passions are to serve, care for, and protect Ki Samin’s teachings in terms of ordinances, manners, and dharma so that the roots of the noble tradition are maintained. The success of homeschooling is reflected when students behave according to the teachings of their parents and can be followed as examples. The state must be present to provide continuous enlightenment so that its curriculum leads to formal education or equality, while also maintaining that local wisdom is not uprooted from its cultural roots. The role of the state ideally is to explicate with a persuasive approach, so that the teaching material could integrate formal homeschooling. Penelitian ini dilakukan untuk memahami model sekolah rumahan warga Samin di Kudus Jawa Tengah. Data riset diperoleh melalui wawancara, observasi, dan kajian pustaka. Analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sekolah rumahan Samin awalnya dimotori oleh Ki Samin Surosentiko di masa perlawanan kolonial Belanda di Blora dan menyebar sampai Kudus hingga kini. Warga Samin tidak bersekolah formal, tetapi membentuk sekolah rumahan dengan tujuan memproteksi generasinya agar tidak terbawa dinamika kekinian. Materi pembelajarannya berfokus pada prinsip hidup dan menjauhi lima pantangan: bedok (menuduh), colong (mencuri), pethil; jumput; dan nemu wae ora keno; pantangan menemukan barang. Warga Samin tidak bersekolah formal karena masih mempertahankan ajaran leluhur dengan tradisi tutur. Pendidiknya adalah orang tua dan tokoh adat. Hasil evaluasi tercermin pada perilaku hidupnya. Obsesi orang Samin yaitu nglayani, ngrawat, nglindungi ajaran Ki Samin dalam hal tata cara, tata krama, dan tata darma agar akar tradisi adiluhung terawat. Keberhasilan sekolah rumahan tercermin ketika peserta didik berperilaku sebagaimana ajaran orang tua dan dapat diteladani. Negara harus hadir memberi pencerahan secara berkesinambungan agar kurikulumnya mengarah pada pendidikan formal atau kesetaraan dan kearifan lokalnya tak tercerabut dari akar budayanya. Peran negara idealnya menjelaskan agar materi ajarnya menjadi homeschooling formal dengan pendekatan persuasif.
SITUS HINDU PRA-ISLAM: MENCARI TITIK TEMU ANTARA TOLERAN ATAU INTOLERAN SUNAN KUDUS DAN GENERASI MUSLIM KUDUS Rosyid, Moh; Kushidayati, Lina
JURNAL ISLAM NUSANTARA Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Ta'lif wa An-Nasyr (LTN) PBNU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.319 KB) | DOI: 10.33852/jurnalnu.v5i2.229

Abstract

This study aims to explain that ancient buildings inherited by Hindus in pre-Islamic Kudus have been preserved until now as a form of tolerance that needs to be studied. This study uses a qualitative approach to the type of field. The data collection technique is done through interviews, observation, and literature deepening. The results showed that the Kudus City of Central Java has a specific site, namely the Langgar Bubrah building, in which there are phallus and yoni as temple characters. However, the perfect name of the building to be immortalized is Sanggar Bubrah, not Langgar Bubrah. Likewise, at the building point of the Al-Aqsa Mosque, Menara Kudus, there was a pure with evidence of two kori (pure entrances) in the foyer and inside Al-Aqsa Mosque. Sunan Kudus forbids Muslims from slaughtering cows (as a tribute to Hindus) which is still preserved today.
Potret Organisasi Tarekat Indonesia dan Dinamikanya Rosyid, Moh
Religia: Jurnal Ilmu-Ilmu KeIslaman Vol 21 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v21i1.1507

Abstract

The goal of this research was to briefly describe the dynamics of tarekat organizations in Indonesia since the establishment of Ahl al-Tariqah al-Mu'tabarah al-Indonesi (JATMI, 1957) and Jam'iyyah al-Thariqah al-Mu'tabarah al-Nahdliyah (JATMAN), 1979) in Java, which was followed by that of the Indonesian Tarekat Ulama Council in Solok, West Sumatra (2016). The method of the current research is a literature review using content analysis techniques. The main findings are threefold, with the first suggesting how the criteria for tarekat maturity are needed in the organization of the tarekat. The second finding shows that the Sufism organization (tarekat) of the JATMI Nusantara in 1957 was prompted by the Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Meanwhile, the internal conflict among Jatmi's leaders set into motion the establishment of a new institution which has a similar movement mission, i.e., JATMAN in 20 Early Rabbi of 1337 H / 10 October 1985 AD in Tegalrejo, Magelang, Central Java. The third finding shows that the dynamics of the organization have colored the Ulama institutions in Indonesia.
A GENDER INEQUALITY IN MOSQUE: An-Ethnographic Approach in Kudus, Central Java Rosyid, Moh; Kushidayati, Lina
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 18 No 1 (2023)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2023.18.1.77-92

Abstract

The mosque is a center of worship and a learning medium for Muslims. As a place of worship, according to the syariah there is no specific classification that mosques can only be dominated by one gender only. However, male dominance over the mosque as a religious public sphere occurred in the Baitussalam Kauman Mosque, Jekulo, Kudus, Central Java, Indonesia from 1923 until now. Therefore, this article seeks to analyze the factors of discrimination against females in using the mosque as a place of worship and other religious activities. Using an ethnographic approach, this article argues that discrimination against females has occurred since 1923. This happened at the same time as the establishment of the Pesantren Al-Qaumaniyah Islamic (only for male santri) and was followed by other pesantren around the mosque. The gender inequality discrimination argument relies on an unwritten rule that ideally females only pray in congregation at home. Furthermore, it is as if females are positioned as “trouble makers” because they are seen as disturbing the male congregation who are focusing on memorizing the al-Qur’an at the Baitussalam Mosque. This stereotype and discriminatory regulation is still perpetuated today under the pretext of respecting the old rules of the founders.
Komunitas Samin: Agama Adam dan Ajarannya Rosyid, Moh.
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol 6, No 2 (2023): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v6i2.16620

Abstract

Artikel ini mendedahkan agama Adam bagi komunitas Samin di Kudus Jawa Tengah. Tujuan terpublikasikannya agama Adam agar tidak lagi distigma publik pada warga Samin sebagai ateis, pembangkang, kolot, dsb karena publik memahami ajaran agama Adam sehingga terwujud toleransi. Data diperoleh dengan observasi, wawancara, dan mengkaji referensi. Hasil riset, Adam bagi warga Samin sebagai makhluk Tuhan (Yai) terlahir pertama di dunia agar ada kehidupan di alam raya. Agama Adam ajarannya yakni doa, semedi, berpuasa, dan berperilaku baik. Bersemedi tempatnya di rumahnya (sanggar pamujan), yang terbaik untuk berdoa pada tengah malam (tengah latri). Ajarannya diwariskan secara regenerasi dengan bahasa tutur. Kepatuhan atau ketidakpatuhan diri warga Samin atas ajaran agama Adam tergantung kualitas diri. Pemerintah mengategorikan agama Adam sebagai penghayat kepercayaan.
Benda Budaya Pra-Islam di Kota Kudus: Identifikasi dan Pemaknaan dalam Konteks Sejarah Rosyid, Moh; Kushidayati, Lina
MUSLIM HERITAGE Vol 9 No 2 (2024): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This paper identivication the Kuna Hindu in Kudus pra-Islam the Minaret. Data were qualitative-description by interview, observation, and literature. Result, condition minaret reserve relic Hindu in Kudus Old City (1) renovation colonial era at years of 1880, 1913, 1933 and BPCB Central Java 0f 1980, 2911, 2013, 2014. The condition now don’t original although the shape is still intact. The minaret is damaged because get rained on, weather, vibration due to the car, (2) two gate (kori) in the masque al-Aqsha good condition and intact, (3) Makala/kalla in ablution place. To preserve holy government Kudus need to schedule the city heritage.   Abstrak Naskah ini ditulis untuk mengidentifikasi jejak Hindu Kuno pra-Islam di Kawasan Kota Lama  Kudus, Jawa Tengah. Metode riset ini deskriptif kualitatif dengan mendedahkan dan menganalisis data berupa bangunan kuno berupa Menara, kala/makara, dan gapura kembar (kori) di Masjid al-Aqsha. Riset ini data dari observasi dan kajian pustaka. Hasilnya, benda cagar budaya yang serupa peninggalan Hindu pra-Islam di Kudus (1) Menara direnovasi masa kolonial (1880, 1913, 1933) dan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah pada 1980, 2011, 2013, dan 2014. Kondisi Menara tidak lagi genuine bahannya karena direnov dan bentuknya utuh, 80 % hasil renovasi BPCB Jateng. Perenovasian akibat terpaan angin, hujan, panas, dan getaran kendaraan yang melaju di depan Menara, (2) dua gapura (kori) di serambi dan di dalam Masjid kondisinya baik dan utuh, dan (3) kala/makara posisinya ada di tempat wudlu pun utuh. Untuk merawat Kawasan Kota Lama agar lestari, Pemda Kudus perlu merawat dan pencanangan Kota Pusaka. Keywords: pre-Islam; culture heritage; and city heritage
Benda Budaya Pra-Islam di Kota Kudus: Identifikasi dan Pemaknaan dalam Konteks Sejarah Rosyid, Moh; Kushidayati, Lina
MUSLIM HERITAGE Vol 9 No 2 (2024): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This paper identivication the Kuna Hindu in Kudus pra-Islam the Minaret. Data were qualitative-description by interview, observation, and literature. Result, condition minaret reserve relic Hindu in Kudus Old City (1) renovation colonial era at years of 1880, 1913, 1933 and BPCB Central Java 0f 1980, 2911, 2013, 2014. The condition now don’t original although the shape is still intact. The minaret is damaged because get rained on, weather, vibration due to the car, (2) two gate (kori) in the masque al-Aqsha good condition and intact, (3) Makala/kalla in ablution place. To preserve holy government Kudus need to schedule the city heritage.   Abstrak Naskah ini ditulis untuk mengidentifikasi jejak Hindu Kuno pra-Islam di Kawasan Kota Lama  Kudus, Jawa Tengah. Metode riset ini deskriptif kualitatif dengan mendedahkan dan menganalisis data berupa bangunan kuno berupa Menara, kala/makara, dan gapura kembar (kori) di Masjid al-Aqsha. Riset ini data dari observasi dan kajian pustaka. Hasilnya, benda cagar budaya yang serupa peninggalan Hindu pra-Islam di Kudus (1) Menara direnovasi masa kolonial (1880, 1913, 1933) dan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah pada 1980, 2011, 2013, dan 2014. Kondisi Menara tidak lagi genuine bahannya karena direnov dan bentuknya utuh, 80 % hasil renovasi BPCB Jateng. Perenovasian akibat terpaan angin, hujan, panas, dan getaran kendaraan yang melaju di depan Menara, (2) dua gapura (kori) di serambi dan di dalam Masjid kondisinya baik dan utuh, dan (3) kala/makara posisinya ada di tempat wudlu pun utuh. Untuk merawat Kawasan Kota Lama agar lestari, Pemda Kudus perlu merawat dan pencanangan Kota Pusaka. Keywords: pre-Islam; culture heritage; and city heritage
KAJIAN SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN BAHASA DI LINGKUNGAN PONDOK PESANTREN PUTRA AL ANWAR 3 SARANG REMBANG Anwar, Yusuf Khoiril; Rosyid, Moh
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2023): Language and Culture Studies
Publisher : LP2M IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v5i2.6258

Abstract

AbstrakBahasa merupakan salah satu alat komunikasi manusia. Melalui bahasa, manusia dapat menyampaiakn sesuatu yang dirasakan kepada lawan tutur. Penggunaan bahasa antara manusia satu dengan lainnya tidak dapat disamaratakan. Hal ini disebakan penggunaan bahasa dipengaruhi oleh bebrerapa faktor yang saling berkaitan. Untuk mengetahui ragam penggunaan bahasa dalam suatu lingkungan masyarakat maka diperlukan suatu kajian sosiolinguistik. Kajian sosiolinguitik mempunyai peranan sebagai bahan pertimbanagan dalam pemilihan bahasa yang akan digunakan dalam berkomunkasi dan berinteraksi dengan lawan tutur. Pondok pesantren merupakan salah satu lingkungan masyarakat yang memiliki kompleksitas berbahasa yang dibawa dan ditularkan oleh para santri dari berbagai macam daerah. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penggunaan bahasa di lingkungan Pondok Pesantren Putra Al Anwar 3 Sarang Rembang serta mengetahui faktor yang melatar belakangi penggunaan bahasa. Penelitian ini merupakan penelitian sosiolinguistik dengan menggunakan desain kualitatif-deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisi data dilakukan dengan merdeuksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah penggunaan bahasa dalam interaksi, komunikasi dan kegiatan sehari-hari di lingkungan Pondok Pesantren Putra Al Anwar 3 Sarang dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa jawa, bahasa daerah luar jawa dan bahasa campuran. Faktor yang melatarbelakangi penggunaan bahasa tersebut adalah status sosial dan latar belakang penutur serta kondisi lawan tutur.Kata Kunci: Bahasa, Sosiolinguistik, Pesantren  AbstractLanguage is one of the tools of human communication. Through language, humans can convey something they feel to the person they are speaking to. The use of language between humans cannot be generalized. This is because language use is influenced by several interrelated factors. To find out the variety of language uses in a society, a sociolinguistic study is needed. Sociolinguistic studies have a role as material for consideration in selecting the language to be used in communicating and interacting with interlocutors. Islamic boarding schools are a community environment that has complex languages brought and transmitted by students from various regions. This research aims to describe and analyze language use in the Putra Al Anwar 3 Sarang Rembang Islamic Boarding School environment and determine the factors behind language use. This research is sociolinguistic research using a qualitative-descriptive design. Data collection was carried out using observation, interview and documentation techniques. Data analysis is carried out by reducing data, presenting data and drawing conclusions. The results of this research are the use of language in interaction, communication and daily activities in the Putra Al Anwar 3 Sarang Islamic Boarding School environment using Indonesian, Javanese, regional languages outside Java and mixed languages. The factors behind the use of language are the social status and background of the speaker as well as the condition of the interlocutor.Keyword: Sociolinguistic, Language, Boarding School
Makna Sego Berkat Dalam Tradisi Buka Luwur Makam Sunan Kudus Perspektif Kebudayaan Rosyid, Moh; Kushidayati, Lina
Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sabda.20.1.13-28

Abstract

Artikel ini ditulis agar pembaca mengetahui makna ritual/tradisi sego berkat dalam acara Buka Luwur yang diadakan Pengurus Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus bersama warga se-Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus, Jateng. Lestarinya tradisi tiap bulan Muharram/Suro. Data riset dari observasi partisipan, mewawancarai warga dan panitia, dan mengkaji referensi. Terkumpulnya data dianalisa dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Sego Berkat merujuk UU No 5/2017 bermakna toleran, keragaman, lokalitas, lintas daerah, partisipan, kebermanfaatan, keberlanjutan, kebebasan ekspresi, kepaduan, sederajat, dan kegotongroyongan. Kandungan maknanya yakni material bahwa nasi bahan dikonsumsi dengan keyakinan bertuah bagi si penerima atau bermanfaat sesuai keyakinan, (2) nilai vital yaitu aspek guna hanya tiap bulan Sura/Muharam, (3) aspek rohani yaitu nilai guna sebagai pemantap tamu yang hadir untuk hormat pada Sunan Kudus. Nilai bermuatan religi yaitu kebutuhan Rohani/doa. Fungsi nilai dalam konteks tradisi (1) faktor berharap mendapat keberkahan dari Sunan Kudus dan (2) bertindak untuk melakukan penghormatan pada Sunan Kudus. Tradisi terlestari wujud mendoa dan peduli kepada leluhur, sang Sunan.