p-Index From 2021 - 2026
7.136
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Hukum Progresif Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Jurnal Visi Ilmu Pendidikan ANTHROPOS: JURNAL ANTROPOLOGI SOSIAL DAN BUDAYA (JOURNAL OF SOCIAL AND CULTURAL ANTHROPOLOGY) Jurnal Sosiologi Reflektif Ulul Albab: Jurnal Studi Islam El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Analisis: Jurnal Studi Keislaman Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan INFERENSI YUDISIA : Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender Sosial Budaya Auladuna Jurnal Sosioteknologi Analisa Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial, dan Sains Intizar Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Jurnal Sejarah Citra Lekha Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman MUSLIM HERITAGE: JURNAL DIALOG ISLAM DENGAN REALITAS Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Journal of Islamic Studies and Humanities Sawwa: Jurnal Studi Gender Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Jurnal Politik Profetik MILLATI: Journal of Islamic Studies and Humanities Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Jurnal Orientasi Baru Jurnal ORTOPEDAGOGIA UMBARA Indonesian Journal of Anthropology Berkala Arkeologi SANGKHAKALA JURNAL WALENNAE Journal of Islamic Architecture Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Jurnal Pemikiran Sosiologi ALQALAM Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman community: Pengawas Dinamika Sosial Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Islamic Review : Jurnal Riset dan Kajian Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender RELIGIA Jurnal Ilmu Dakwah Forum Tarbiyah Kebudayaan Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Politea : Jurnal Politik Islam Wacana Publik Islamic Management and Empowerment Journal Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Majalah Hukum Nasional Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Aceh Anthropological Journal Riwayah : Jurnal Studi Hadis ADDIN Jurnal Penelitian Agama Hindu Al-Adyan: Journal of Religious Studies Masyarakat Indonesia Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Kafa’ah: Journal of Gender Studies Proceedings of The International Conference on Social and Islamic Studies Tasamuh: Jurnal Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Islam Journal of ASEAN Dynamics and Beyond Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Prabayaksa: Journal of History Education Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Jurnal Islam Nusantara Analisa: Journal of Social Science and Religion Nalar: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Pustakaloka: Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Balale' : Jurnal Antropologi Muslim Heritage Religia : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Community Development: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Equilibrium: Jurnal Ekonomi Syariah Journal of Demography, Etnography, and Social Transformation Jurnal Hukum dan Pembangunan Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman EDUKASI TILA (Tarbiyah Islamiyah Lil Athfaal) Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Muwazah: Jurnal Kajian Gender PALASTREN: Jurnal Studi Gender Khazanah Theologia ThufuLA: Jurnal Inovasi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal Quality BISNIS : Jurnal Bisnis dan Manajemen Islam
Claim Missing Document
Check
Articles

AKSIOLOGI ILMUWAN MODAL BAGI GENERASI BERJATI DIRI: Belajar Dari Sejarah Rosyid, Moh
FIKRAH Vol 3, No 1 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.114 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v3i1.1824

Abstract

KESELARASAN HIDUP BEDA AGAMA DAN ALIRAN: Interaksi Nahdliyin, Kristiani, Buddhis, dan Ahmadi Di Kudus Rosyid, Moh.
FIKRAH Vol 2, No 1 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.351 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v2i1.557

Abstract

PEMBERDAYAAN MADRASAH DINIYAH:BELAJAR PADA SEABAD MADIN MUAWANATUL MUSLIMIN DI KUDUS Rosyid, Moh.
QUALITY Vol 2, No 1 (2014): QUALITY
Publisher : Pascasarjana IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/quality.v2i1.2093

Abstract

In 1915 ulama of Kudus founded the Madin Muawanatul Muslimin (MDMM) originally this Madin studied the Quran in mosque of Abyadl. This research is aimed to know about the history of the MDMM, What constraint is it faced, and  how is the empowerment of its management. Research goals are to understand the history of MDMM, its constraint, and shape of empowerment. Benefits of research are as a contribution to Madin’s management when dealing with constraints, to learn from the uniqueness MDMM and to enrich research about Madin. The data is taken from end of 2012 until mid of 2013. Informants are managements and foundation staff of Madin. Objects of research: students, teachers and administration staff in random. Data is collected through observation, interviews, documentation, and triangulation. Data analysis is descriptive qualitative. The uniqueness of MDMM: its subjects, only male students, affordable cost, holiday, and evaluation. The obstacles are: no graduate certificate, minimum sources of funds; increasing number of TPQ, minimum learning tools, extracurricular and additional hours of formal education. Similarities with other Madin are teachers and students wear sarong, peci, slippers, ad few wear trousers but forbid to wear t-shirt. Learning hours start from 2 p.m. to 5 p.m., in which from 7 a.m. to 1 am students go to formal education. Strength lies on charisma of the teachers; uniqueness of learning subjects; afternoon learning hours; affordable cost; parents and students expect teachers blessing; expect success as graduates MDMM, and teachers struggle in the name of religion. In 2013, MDMM reaches anticlimactic, with no student in first level of Wustho .  
MEWUJUDKAN PENDIDIKAN TOLERANSI ANTAR-UMAT BERAGAMA DI KUDUS: BELAJAR DARI KONFLIK TOLIKARA PAPUA 1 SYAWAL 1436 H / 2015 M Rosyid, Moh.
QUALITY Vol 3, No 2 (2015): QUALITY
Publisher : Pascasarjana IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/quality.v3i2.1915

Abstract

Combustion Masjid Al-Muttaqin in Karubaga, Tolikara, Papua on 1 Syawal 1436 H / July 17, 2015 when Muslims perform prayers Eid is a barbaric act. The trigger for the riots are (1) the implementation of the seminar Day Spiritual Awakening (KKR) by the Evangelical Church in Indonesia (GIDI) which invited thousands of guests including from Israel intentional simultaneously on Eid al-Fitr. The activity was disturbed when local Muslims to worship in the open space and the use of loudspeakers, (2) Regulation Regency Tolikara which prohibits the establishment of places of worship in Tolikara besides group GIDI, although legislation is never informed the central government, (3) indicated their efforts to transfer issue that criminal acts (corruption) that local officials do not expose it to be examined thoroughly. Efforts must be realized that the same thing does not happen again in this country is to realize education tolerant in educational institutions of formal and informal, to optimize the role of communication forum of religious (FKUB), which is usually monopolized by the religious majority, to accommodate the aspirations of people across religions in one container interfaith dialogue with the capital despite awareness bersesama different creed.Pembakaran Masjid al-Muttaqin  di karubaga, kabupaten  Tolikara, Papua pada 1 Syawal 1436 h/ 17 juli 2015 tatkala umat islam melaksanakan salat idul fitri merupakan tindakan biadab. Pemicu kerusuhan tersebut adalah (1) pelaksanaan seminar kebaktian kebangkitan Ruhani (kkR) oleh Gereja injili di indonesia (GiDi) yang mengundang ribuan tamu termasuk dari israel disengaja bersamaan pada hari Raya idul fitri. kegiatan tersebut merasa terganggu bila muslim setempat beribadah di ruang terbuka dan menggunakan pengeras suara, (2) Perda Pemkab Tolikara yang melarang pendirian tempat ibadah di Tolikara selain kelompok GiDi, meski Perda tidak pernah diinformasikan pada pemerintah pusat, (3) terindikasi adanya upaya pengalihan isuagar tindakan kriminal (korupsi) yang dilakukan pejabat setempat tak terekspos untuk ditelisik secara tuntas. upaya yang harus diwujudkan agar hal serupa tidak terjadi lagi di negeri ini adalah mewujudkan pendidikan toleran di lembaga pendidikan formal dan informal, men- goptimalkan peran forum komunikasi umat beragama (fkub) yang selama ini lazimnya dimonopoli umat agama mayoritas, mewadahi aspirasi umat lintas agama dalam satu wadah dialog lintas agama dengan modal kesadaran bersesama meski beda akidah.
Negotiating Difference: Sunni–Shia Relations and Grassroots Religious Moderation in Jepara, Indonesia Rosyid, Moh; Kushidayati, Lina
Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 23 No. 1 (2026): Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan (AJAIP)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/ajaip.2026.vol23(1).26741

Abstract

This study examines the dynamics of religious moderation between Sunni and Shia Muslims in Jepara City, Central Java, highlighting the unique context of Shia as a minority facing significant challenges in Indonesia. The research addresses four primary questions: the nature of Sunni resistance to Shia, the manifestations of religious moderation in Jepara, the teachings that threaten Sunni-Shia coexistence, and the impact of Sunni understanding on their attitudes towards Shia across Indonesia. Data gathered through interviews, observations, and literature reviews in 2024 reveal a historical backdrop of Sunni resistance to Shia, including political struggles, persecution, and the issuing of fatwas. Despite this, the study underscores a notable absence of conflict in Jepara since the 1980s, when a culture of moderation emerged. However, concerns remain regarding the potential for immoderation due to doctrinal differences. Initial findings indicate that, while Sunni citizens may refrain from attending Shia activities involving internal Shia doctrine, they are open to participating in non-doctrinal events, suggesting a complex interplay of acceptance and resistance within the community.
PEREMPUAN SAMIN DALAM TANTANGAN POLITIK LOKAL DI KUDUS JAWA TENGAH Rosyid, Moh
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i2.1027

Abstract

Penelitian ini mencakup bagaimana kehidupan politik perempuan Samin. Tulisan ini mencoba untuk menjawab apa faktor yang mempengaruhi mereka untuk melaksanakan kepercayaan tradisional dalam kehidupan politik mereka. peneliti menggunakan beberapa model alternatif untuk melakukan penelitian ini, seperti ethnomethodology, etnografi, membumi, dan fenomenologi. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami kegiatan sosial perempuan Samin di Kudus dalam hal pemilihan umum.Hasil dari penelitian ini adalah bahwa wanita Saminsangat aktif dalam kehidupan politik mereka. Keaktifanmereka dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: daridiri mereka sendiri, dari suami mereka dan dari para pemimpin Samin.kata kunci: Tindakan Politik, Perempuan Samin, Pemilu. This research covers how is the political life of Saminwomen. It tries to answer what are factors which influence them to implement the traditional beliefs in theirpolitical life. The researcher uses some alternative modelsto undertake this research, such as ethnomethodology,ethnography, grounded, and phenomenology. The data are analyzed by using qualitative approach to understandthe social activities of Samin women in Kudus in terms ofgeneral election. It is found that Samin women are veryactive in their political life. Their activeness are influencedby some factors such as: from theirselves, from their husbands and from the Samin leaders.Keywords: Political act, Samin’s women, Election.
HARMONI KEHIDUPAN SOSIAL BEDA AGAMA DAN ALIRAN DI KUDUS Rosyid, Moh
ADDIN Vol 7, No 1 (2013): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v7i1.569

Abstract

KONSEP DEMOKRASI POLITIK DALAM ISLAM Rosyid, Moh.
ADDIN Vol 9, No 1 (2015): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v9i1.605

Abstract

Polemik Manusia Perdana antara Tafsir al-Qur’an al-’Aqli dengan Teori Barat Rosyid, Moh
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i2.6333

Abstract

Al Quran, as the source of inspiration for Muslims, and the concept of the first person according to Charles Darwin’s Evolution Theory, 1859, is worth a discussion. Al Qur’an does not present firm statement about Adam as the first person in the world. Presumably, there are three communities prior Adam: Banul Jan, Banul Ban and Ijajil. Confirmation of Adam as the first person was given by mufassir. According to Al Qur’an, human beings are flawless creations consist of body (jasad) and soul (ruh) from the beginning. It contradicts to Darwin’s theory saying that human beings have the same origin with simphanse. This paper presents three methods of Quranic interpretation concerning the first human being: tafsir bi ar-ra’yi, tafsir maudhu’i and tafsir muqorin.
Local Wisdom Modal Toleransi: Studi Kasus di Kudus rosyid, moh
FIKRAH Vol 4, No 2 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.29 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v4i2.1633

Abstract

Membincangkan interaksi sosial yang positif antar-umat beragama dan umat seagama dari aspek faktor penyebab menarik didalami. Pendalaman dengan melakukan riset faktawi, tak berdasarkan statement pejabat yang hanya ‘berangan-angan’ agar dipandang mampu melaksanakan tugas melayani, mengayomi, dan memfasilitasi terutama pada umat minoritas. Riset ini bagian dari upaya mencari fakta yang benar, apakah local wisdom yang diwariskan oleh Sunan Kudus (pelarangan menyembelih sapi) hingga kini tertanam di benak warga Kudus Jateng dapat menyebabkan terwujudnya toleransi di Kudus? Realitasnya perlu digali karena tak terbukti bahwa local wisdom tak selalu dijadikan tempat berpijak dalam mewujudkan toleransi oleh mayoritas terhadap minoritas, baik seagama maupun antar-umat beragama. Riset tahun 2015 ini diperoleh dengan wawancara, dokumentasi, observasi, forum group discussion (FGD) dengan umat minoritas dan mayoritas dengan analisis deskriptif kualitatif. Local wisdom (LW) dimaknai sebagai warisan non-bendawi (oral tradition) yang dituturkan antar-generasi bermuatan pelajaran hidup yang bijak dari leluhur. Peran LW sebagai penyuluh dan tempat bertanya warga agar berperilaku toleran, sopan-santun, dan bijaksana dalam konteks kini sebatas pelipur lara atau lahan mendongeng. Fakta yang tergali penulis, konflik terbuka dan terselubung ibarat api dalam sekam di Kudus. Sebagaimana penutupan tempat ibadah yang juga rumah hunian/lahan bisnis dengan dalih tak menaati aturan dalam SKB Menag dan Mendagri (padahal, makin dilarang, makin militan dalam beragama), pelarangan tempat ibadah dan diizini bila sebagai balai pertemuan, pemisahan makam yang semula searea (akan) dipisahkan -di tengah tolerannya mayoritas awam dengan minoritas Buddhis-, penggeseran hak bersama yang semula makam umum menjadi makam Islam yang tanpa kesepakatan. Di sisi lain (1) penggunaan pengeras suara di tempat ibadah yang melebihi jam tayang dan melanggar peraturan mentradisi seakan tanpa kendali, padahal bukan wujud syiar, tapi ampreh pamrih sesami, (2) penghentian khalwatan karena sentimen dan rebutan santri, hanya karena si kiai ‘baru’ tidak pernah nyantri (Majelis Dzikrussalikin), (3) pembubaran louncing Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) yang tak ada follow up, dan (4) keberadaan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI Lahore) di Colo, Dawe ibarat api dalam sekam. Fakta itu semua sebagai penanda bahwa local wisdom tak selalu menjadi urat nadi kehidupan bermasyarakat seagama, apalagi lintas agama.            Solusi bijaknya adalah belajar dengan kunjungan Imam Besar Al-Azhar, Mesir, Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb di Vatikan bertemu dengan Paus Franciscus Senin 23/5/2016 setelah lima tahun keduanya berhubungan dingin. Hal ini akibat lontaran Paus Benekdiktus XVI yang meminta perlindungan lebih bagi umat Nasrani yang berada di Mesir. Hal ini dipicu kerusuhan malam Tahun Baru 2010 di gereja Kristen Coptic di Kota Alexandria, Mesir, umat Nasrani tewas 21 orang. Dengan bertemunya tokoh utama dan diikuti warga awam di arus bawah diawali dengan dialog antaragama, srawung secara alami, saling percaya, saling menghormati dengan kerendahan hati dan difasilitasi pemerintah maka toleransi sejati berpijak dari karya nyata mampu mengurangi tensi ketegangan pemicu konflik.