p-Index From 2021 - 2026
7.147
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Hukum Progresif Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Jurnal Visi Ilmu Pendidikan ANTHROPOS: JURNAL ANTROPOLOGI SOSIAL DAN BUDAYA (JOURNAL OF SOCIAL AND CULTURAL ANTHROPOLOGY) Jurnal Sosiologi Reflektif Ulul Albab: Jurnal Studi Islam El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Analisis: Jurnal Studi Keislaman Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan YUDISIA : Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam Jurnal Dakwah Risalah Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender Sosial Budaya Auladuna Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial, dan Sains Intizar Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Jurnal Sejarah Citra Lekha Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman MUSLIM HERITAGE: JURNAL DIALOG ISLAM DENGAN REALITAS Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Journal of Islamic Studies and Humanities Sawwa: Jurnal Studi Gender Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Jurnal Politik Profetik MILLATI: Journal of Islamic Studies and Humanities Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Jurnal Orientasi Baru Jurnal ORTOPEDAGOGIA UMBARA Indonesian Journal of Anthropology Berkala Arkeologi SANGKHAKALA JURNAL WALENNAE Journal of Islamic Architecture Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Jurnal Pemikiran Sosiologi ALQALAM Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman community: Pengawas Dinamika Sosial Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender RELIGIA Jurnal Ilmu Dakwah Forum Tarbiyah Kebudayaan Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Politea : Jurnal Politik Islam Wacana Publik Islamic Management and Empowerment Journal Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Majalah Hukum Nasional Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Aceh Anthropological Journal Riwayah : Jurnal Studi Hadis ADDIN Jurnal Penelitian Agama Hindu Al-Adyan: Journal of Religious Studies Journal of Nahdlatul Ulama Studies Masyarakat Indonesia Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Kafa’ah: Journal of Gender Studies Proceedings of The International Conference on Social and Islamic Studies Tasamuh: Jurnal Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Islam Journal of ASEAN Dynamics and Beyond Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Prabayaksa: Journal of History Education Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Jurnal Islam Nusantara Pustakaloka: Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Balale' : Jurnal Antropologi Muslim Heritage Religia : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Community Development: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Equilibrium: Jurnal Ekonomi Syariah Journal of Demography, Etnography, and Social Transformation Jurnal Hukum dan Pembangunan Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman EDUKASI TILA (Tarbiyah Islamiyah Lil Athfaal) Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Muwazah: Jurnal Kajian Gender PALASTREN: Jurnal Studi Gender Khazanah Theologia ThufuLA: Jurnal Inovasi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal Quality
Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN BAHASA DI LINGKUNGAN PONDOK PESANTREN PUTRA AL ANWAR 3 SARANG REMBANG Anwar, Yusuf Khoiril; Rosyid, Moh
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2023): Language and Culture Studies
Publisher : LP2M IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v5i2.6258

Abstract

AbstrakBahasa merupakan salah satu alat komunikasi manusia. Melalui bahasa, manusia dapat menyampaiakn sesuatu yang dirasakan kepada lawan tutur. Penggunaan bahasa antara manusia satu dengan lainnya tidak dapat disamaratakan. Hal ini disebakan penggunaan bahasa dipengaruhi oleh bebrerapa faktor yang saling berkaitan. Untuk mengetahui ragam penggunaan bahasa dalam suatu lingkungan masyarakat maka diperlukan suatu kajian sosiolinguistik. Kajian sosiolinguitik mempunyai peranan sebagai bahan pertimbanagan dalam pemilihan bahasa yang akan digunakan dalam berkomunkasi dan berinteraksi dengan lawan tutur. Pondok pesantren merupakan salah satu lingkungan masyarakat yang memiliki kompleksitas berbahasa yang dibawa dan ditularkan oleh para santri dari berbagai macam daerah. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penggunaan bahasa di lingkungan Pondok Pesantren Putra Al Anwar 3 Sarang Rembang serta mengetahui faktor yang melatar belakangi penggunaan bahasa. Penelitian ini merupakan penelitian sosiolinguistik dengan menggunakan desain kualitatif-deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisi data dilakukan dengan merdeuksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah penggunaan bahasa dalam interaksi, komunikasi dan kegiatan sehari-hari di lingkungan Pondok Pesantren Putra Al Anwar 3 Sarang dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa jawa, bahasa daerah luar jawa dan bahasa campuran. Faktor yang melatarbelakangi penggunaan bahasa tersebut adalah status sosial dan latar belakang penutur serta kondisi lawan tutur.Kata Kunci: Bahasa, Sosiolinguistik, Pesantren  AbstractLanguage is one of the tools of human communication. Through language, humans can convey something they feel to the person they are speaking to. The use of language between humans cannot be generalized. This is because language use is influenced by several interrelated factors. To find out the variety of language uses in a society, a sociolinguistic study is needed. Sociolinguistic studies have a role as material for consideration in selecting the language to be used in communicating and interacting with interlocutors. Islamic boarding schools are a community environment that has complex languages brought and transmitted by students from various regions. This research aims to describe and analyze language use in the Putra Al Anwar 3 Sarang Rembang Islamic Boarding School environment and determine the factors behind language use. This research is sociolinguistic research using a qualitative-descriptive design. Data collection was carried out using observation, interview and documentation techniques. Data analysis is carried out by reducing data, presenting data and drawing conclusions. The results of this research are the use of language in interaction, communication and daily activities in the Putra Al Anwar 3 Sarang Islamic Boarding School environment using Indonesian, Javanese, regional languages outside Java and mixed languages. The factors behind the use of language are the social status and background of the speaker as well as the condition of the interlocutor.Keyword: Sociolinguistic, Language, Boarding School
Makna Sego Berkat Dalam Tradisi Buka Luwur Makam Sunan Kudus Perspektif Kebudayaan Rosyid, Moh; Kushidayati, Lina
Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sabda.20.1.13-28

Abstract

Artikel ini ditulis agar pembaca mengetahui makna ritual/tradisi sego berkat dalam acara Buka Luwur yang diadakan Pengurus Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus bersama warga se-Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus, Jateng. Lestarinya tradisi tiap bulan Muharram/Suro. Data riset dari observasi partisipan, mewawancarai warga dan panitia, dan mengkaji referensi. Terkumpulnya data dianalisa dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Sego Berkat merujuk UU No 5/2017 bermakna toleran, keragaman, lokalitas, lintas daerah, partisipan, kebermanfaatan, keberlanjutan, kebebasan ekspresi, kepaduan, sederajat, dan kegotongroyongan. Kandungan maknanya yakni material bahwa nasi bahan dikonsumsi dengan keyakinan bertuah bagi si penerima atau bermanfaat sesuai keyakinan, (2) nilai vital yaitu aspek guna hanya tiap bulan Sura/Muharam, (3) aspek rohani yaitu nilai guna sebagai pemantap tamu yang hadir untuk hormat pada Sunan Kudus. Nilai bermuatan religi yaitu kebutuhan Rohani/doa. Fungsi nilai dalam konteks tradisi (1) faktor berharap mendapat keberkahan dari Sunan Kudus dan (2) bertindak untuk melakukan penghormatan pada Sunan Kudus. Tradisi terlestari wujud mendoa dan peduli kepada leluhur, sang Sunan.
Peran UNESCO terhadap Kerusakan Situs Sejarah dan Budaya di Gaza Fiani, Destina Marta; Rosyid, Moh
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 11 No. 1 (2025): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v11i1.85301

Abstract

Konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza tidak hanya menimbulkan krisis kemanusiaan, tetapi juga menyebabkan kehancuran signifikan terhadap situs budaya dan sejarah. Situs-situs bersejarah seperti masjid, gereja, perpustakaan, dan museum di Gaza telah menjadi target serangan, mengancam identitas kolektif masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis peran UNESCO dalam melindungi dan memulihkan situs budaya serta sejarah yang rusak akibat konflik bersenjata di Gaza. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan memanfaatkan sumber terpercaya, seperti buku, jurnal ilmiah, dan berita online, untuk mendapatkan data yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UNESCO telah berperan aktif melalui berbagai mekanisme, seperti memberikan perlindungan sementara yang ditingkatkan berdasarkan Konvensi Den Haag 1954, memantau dampak konflik menggunakan teknologi satelit, serta meningkatkan kesadaran internasional terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya di wilayah konflik. Penelitian ini memberikan kontribusi keilmuan dalam memahami bagaimana instrumen hukum internasional dan diplomasi budaya dapat digunakan untuk melestarikan warisan budaya di tengah situasi konflik. Dengan mengangkat peran UNESCO, artikel ini menegaskan pentingnya kolaborasi global dalam melindungi identitas budaya masyarakat terdampak dan mendorong pengembangan regulasi internasional yang lebih adaptif terhadap tantangan modern.
Formula Metode Pembelajaran Materi Ajar Tradisi Lisan Bagi Anak Usia Dini: Learning Method Formula for Teaching Oral Traditions to Young Children Rosyid, Moh
JURNAL TILA ( Tarbiyah Islamiyah Lil Athfaal ) Vol. 1 No. 1 (2021): Pendidikan Islam Anak Usia Dini
Publisher : Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal- Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/tila.v1i1.430

Abstract

Karakter anak didik yang berusia anak-anak sangat mengandalkan pembelajaran yang berbasis cerita di antara memanfaatkan tradisi lisan. Dengan demikian, pendidik dituntut piawai dalam mengemas pembelajaran dengan bahan ajar yang bersumber dari tradisi lisan. Pendidik dapat memanfaatkan analisis SWOT dalam evaluasi metode pembelajaran. Hal yang penting dari pembelajaran berbasis tradisi adalah kreatifitas mengembangkan sumber tradisi lisan, menggali fakta yang dilisankan, dan mempersiapkan perangkat dukung dalam berkunjung atau menyaksikan tradisi lisan yang dipertunjukkan. Hal ini dilakukan agar anak didik meyakini kebenaran tradisi lisan dan tidak jenuh hanya bertahan di ruang kelas (monoton). Efek positif tradisi lisan yang dipertunjukkan anak mampu menyaksikan secara langsung akan terpancing kreatifitasnya membuat model tradisi lisan khas anak terimajinasi. Kreatifitas sangat penting untuk mengembangkan potensi daya nalar anak. Masa anak-anak adalah masa berimajinasi dengan dimotivasi.
PARADIGMA DAN STRATEGI DAKWAH HUMANIS PADA KOMUNITAS MINORITAS (Studi Kasus Kaum Waria di Kota Kudus) Rosyid, Moh
Analisis: Jurnal Studi Keislaman Vol 12 No 1 (2012): Analisis: Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsk.v12i1.632

Abstract

The existence  of a community,  wherever  it my be, if it were looked as  dissimilar  as  their  environment,  especially  those  of  minorities, has always had a minor response from the communities  of majority. This is exactly experienced by the transgender community. Those of transvestites are being viewed negatively due to  the irregularities in the way they live and behave. This article tries to formulate a model of humanistic  proseltizing  that is not against  the existence  of such transgender community as objects of the proselytizing (mad’u). Based on a research  on the portrait  of transvestites  in the city of Kudus, Central Java, the author suggests that if the  notion to proportionally placed transvestites is overlooked or that the transgender community is out of consideration for being targeted community (mad’u), then we basically have missed the humanistic character of the mission itself. The  existence  of  transgender  in a religious  observance  is,  indeed, indifference as those of non-transgender community that needs touches of religious  values by a preacher. Denial of human existence to those of transgender (the humanist character) is fundamentally at odds with the mandate of Law Number 39 Year 1999 on Human Rights. If  this is the case, then, it needs to takes  that of humanistic proselytizing approach which  humanize all human beings, including those of transvestites.
Polemik Manusia Perdana Antara Islam dan Barat Rosyid, Moh.
Analisis: Jurnal Studi Keislaman Vol 19 No 1 (2019): Analisis: Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsk.v19i1.3369

Abstract

Al Quran as a source of Muslim inspiration has not been exhumed for the benefit of life. It makes no difference to explore the polemic about early humans when juxtaposed with Western concepts that Charles Darwin revealed in the Theory of Evolution in 1859. The Qur'an does not provide complete data that Adam was the first human being on earth, predicted there were three previous people before Adam, namely Banul Jan, Banul Tires, and Ijajil from the last genie. It's just that the interpretation of the verse of the Qur'an states that Adam was the first man. Thus, this polemic requires deepening which includes cross-scientific knowledge as dialogue capital. The Qur'an emphasizes that the stages of the process of human creation have been fixed, the elements of events include the body (body), life (nafs), spirit (spirit), human events do not go through phases that develop form, as Darwin proposes that humans are allied to chimpanzees. This text uses the method of interpretation of bi ar-Ra'yi or al-'aqli with the type of interpretation of the maudhu'i and the study of the codification era, with the interpretation of muqorin in examining the theme. Dialogizing the contents of the Qur'an with Western theory is not a taboo matter, as Muslim scientists must be in principle that the shrewdness of human reason must submit to the truth of the message in the Qur'an
Islam dan Kearifan Lokal: Kajian Tradisi Khoul Sunan Kudus Rosyid, Moh
Analisis: Jurnal Studi Keislaman Vol 19 No 2 (2019): Anaisis: Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsk.v19i2.3370

Abstract

Naskah ini memotret tradisi di Desa Kauman, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Kampung ini  termasuk dalam kategori padat penduduk, dengan bangunan rumah yang rata-rata menggunakan pagar tembok yang tinggi, sehingga memunculkan anggapan publik jika kehidupan disini tertutup dan individualis. Fakta menunjukkan sebaliknya, mereka memiliki kegiatan rutin dalam forum temu warga dan jenis kegiatannya juga sangat islami. Kegiatan ini merupakan bentuk pelestarian budaya yang mereka namai dengan Khoul Sunan Kudus. Dalam artikel ini akan mengungkap bagaimana tradisi budaya khoul Sunan Kudus? Data riset ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2018 diperoleh dengan observasi dan wawancara dan data dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Rangkaian acara khoul ini berupa ritual, seremonial, dan budaya/seni islami tiap bulan Muharam/Sura. Acara ini juga sebagai media interaksi antar-warga Kauman lintas usia dan jenis kelamin yang difasilitasi Yayasan Menara Kudus.
Genosida Etnis Muslim Rohingya Dan Partisipasi Indonesia Dalam Bina Damai Rosyid, Moh
AL-ADYAN Vol 14 No 2 (2019): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ajsla.v14i2.5613

Abstract

This paper is based on writings that are genoside on ethnic Rohingya and newspaper coverage. Data were analyzed with a qualitative descriptive approach. Indonesia is a country that is independent but actively participates in global politics including in the case of state or majority oppression against minority ethnic or group, such as the case of Rohingya in Myanmar. Rohingya is a moslem minority ethnic living in Myanmar targeted in genocide and banished from the country under the military government. Meanwhile, the civil leader of Myanmar, Aung Sang Suu Kyi, remains silent despite her Peace Prize Nobel. On the other hand, the political stance of ASEAN needs to be strengthened to find the solution for Rohingya without intervening internal affairs of the country. Indonesia has supported Rohingya people both by delivering humanity aids, such as building school, hospital and providing basic needs, as well as persuading Myanmar government by means of diplomacy to protect Rohingya people. This kind of humanity acts should be maintained for the sake of human rights. Thus, Indonesia needs to ratify the Convention on Refugees of 1951.    
One Mosque Five Pillars: Diversity of Preaching and Social Cohesion in Central Java Kushidayati, Lina; Rosyid, Moh
Jurnal Dakwah Risalah Vol 36, No 1 (2025): June 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jdr.v36i1.34147

Abstract

This article explores social cohesion among Muslim groups in the village of Sragen, which is home to five distinct groups: NU, Muhammadiyah, MTA, LDII, and Salafi, as well as some individuals identified as abangan. Masjid Rohmat serves as the focal point for religious events, such as Eid al-Fitr and Eid al-Adha. This research is based on field research conducted in 2023. The data was then analyzed using a qualitative approach. This research has found, despite their differing interpretations and practices of faith, the residents of this village coexist peacefully and harmoniously. Key factors that contribute to this social cohesion include family ties and community activities. Many villagers share familial connections, even if they hold different religious affiliations. For instance, one mother regularly participates in Yaasin and tahlil gatherings, while her son is a member of LDII. In another household, the husband is affiliated with Muhammadiyah, while the wife attends MTA public congregations. Additionally, community members collaborate on various social activities, transcending their religious differences.
MENUNGGU KIPRAH NEGARA PADA SEKOLAH RUMAHAN ALA SAMIN: Studi Kasus di Kudus Rosyid, Moh
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 14 No 1 (2021)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v14i1.384

Abstract

This research was conducted to understand the home school model of Samin residents in Kudus, Central Java. Research data obtained through interviews, observations, and literature review. Data was analyzed using a qualitative descriptive approach. Samin’s home school was initially led by Ki Samin Surosentiko during the resistance against the Dutch colonial in Blora and has spread to Kudus until now. Samin residents do not go to formal schools, but form home schools with the aim of protecting their generation from being carried away by the current dynamics. The learning materials focus on the principles of life and to stay away from five taboos: bedok (accusing), colong (stealing), pethil; pinch; and nemu wae ora keno; taboo to find goods. Samin residents do not go to formal schools because they still maintain their ancestral teachings with speech traditions. The educators are parents and traditional leaders. The results of the evaluation are reflected in their behavior in life. The Samin people’s passions are to serve, care for, and protect Ki Samin’s teachings in terms of ordinances, manners, and dharma so that the roots of the noble tradition are maintained. The success of homeschooling is reflected when students behave according to the teachings of their parents and can be followed as examples. The state must be present to provide continuous enlightenment so that its curriculum leads to formal education or equality, while also maintaining that local wisdom is not uprooted from its cultural roots. The role of the state ideally is to explicate with a persuasive approach, so that the teaching material could integrate formal homeschooling. Penelitian ini dilakukan untuk memahami model sekolah rumahan warga Samin di Kudus Jawa Tengah. Data riset diperoleh melalui wawancara, observasi, dan kajian pustaka. Analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sekolah rumahan Samin awalnya dimotori oleh Ki Samin Surosentiko di masa perlawanan kolonial Belanda di Blora dan menyebar sampai Kudus hingga kini. Warga Samin tidak bersekolah formal, tetapi membentuk sekolah rumahan dengan tujuan memproteksi generasinya agar tidak terbawa dinamika kekinian. Materi pembelajarannya berfokus pada prinsip hidup dan menjauhi lima pantangan: bedok (menuduh), colong (mencuri), pethil; jumput; dan nemu wae ora keno; pantangan menemukan barang. Warga Samin tidak bersekolah formal karena masih mempertahankan ajaran leluhur dengan tradisi tutur. Pendidiknya adalah orang tua dan tokoh adat. Hasil evaluasi tercermin pada perilaku hidupnya. Obsesi orang Samin yaitu nglayani, ngrawat, nglindungi ajaran Ki Samin dalam hal tata cara, tata krama, dan tata darma agar akar tradisi adiluhung terawat. Keberhasilan sekolah rumahan tercermin ketika peserta didik berperilaku sebagaimana ajaran orang tua dan dapat diteladani. Negara harus hadir memberi pencerahan secara berkesinambungan agar kurikulumnya mengarah pada pendidikan formal atau kesetaraan dan kearifan lokalnya tak tercerabut dari akar budayanya. Peran negara idealnya menjelaskan agar materi ajarnya menjadi homeschooling formal dengan pendekatan persuasif.