Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

KENALI FAKTOR RESIKO INFEKSI BAKTERI TERHADAP WANITA DENGAN OBESITAS Imasari, Triffit; Erawati; Ermawati, Nita; Nela, Frieti Vega
Journal of Community Engagement and Empowerment Vol. 8 No. 1 (2026): .
Publisher : Institut Ilmu Kesehatah Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas telah menjadi masalah kesehatan global yang semakin meningkat, didefinisikan sebagai akumulasi lemak tubuh berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan risiko penyakit kronis seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker, tetapi juga memiliki implikasi serius terhadap sistem kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap infeksi. Disfungsi imun ini menjadikan individu dengan obesitas lebih rentan terhadap infeksi bakteri, baik yang didapat dari komunitas maupun nosokomial. Obesitas meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK). Selain itu, individu dengan obesitas juga lebih berisiko mengalami infeksi kulit dan jaringan lunak (seperti selulitis dan abses), pneumonia, serta infeksi luka pascaoperasi. Peningkatan risiko ini tidak hanya disebabkan oleh gangguan imunologis, tetapi juga faktor mekanis seperti lipatan kulit yang lembap dan kurangnya ventilasi di area intertriginosa, yang menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri. Tantangan dalam menjaga kebersihan pribadi secara optimal pada individu dengan obesitas juga dapat berkontribusi pada kerentanan ini. Tujuan sosialisasi adalah memberikan pengetahuan wanita obesitas dengan informasi yang relevan dan memberdayakan Masyarakat untuk lebih proaktif dalam menjaga Kesehatan. Metode sosialisasi dihadiri 18 warga, dari hasil kuisioner yang dilakukan 15 warga masih kurang mengetahui dan 3 warga yang sudah baik pengetahuan tentang penyebab Faktor Resiko Infeksi Bakteri Terhadap Wanita Dengan Obesitas. Setelah dilakukan sosialisasi pengetahuan masyarakat Dusun Bajang Desa Semen Kabupaten Kediri mengalami peningkatan, yaitu 100%, dengan jumlah total warga 18 warga dan masyarakat dapat secara mandiri mengimplementasikan langkah-langkah pencegahan yang efektif, seperti menjaga kebersihan diri, mengelola berat badan secara sehat.
UJI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK CIPROFLOXACIN DENGAN CEFIXIME PADA Escherichia coli : STUDI KASUS INFEKSI SALURAN KEMIH : ANTIBIOTIC SENSITIVITY TEST OF CIPROFLOXACIN AND CEFIXIME AGAINST Escherichia coli: A CASE STUDY OF URINARY TRACT INFECTION Triffit Imasari; Nita Ermawati; Frieti Vega Nela; Salwa Fitri Senjani
GEMA KESEHATAN Vol. 17 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v17i1.486

Abstract

Keberadaan mikroorganisme dalam urin menjadi indikator utama infeksi saluran kemih (ISK). ISK disebabkan oleh berbagai macam bakteri seperti Eschericia coli, Klebsiella sp, Proteus sp, Providensia, Citrobacter, Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter, Enterococcus faecali, dan Staphylococcus saprophyticus. Lonjakan kasus resistensi antibiotik dan kemunculan patogen multidrug-resistant (MDR) pada ISK berkorelasi erat dengan tingginya insiden pemberian terapi antibiotik empiris yang kurang tepat. Praktik peresepan antibiotik tanpa diawali uji mengakibatkan  inefektivitas penanganan ISK. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bakteri E. coli sebagai penyebab ISK pada urin pasien penderita ISK serta membandingkan tingkat sensitivitas E. coli terhadap dua jenis antibiotik, yaitu Ciprofloxacin dan Cefixime.Metode yang digunakan adalah metode kultur dengan media Eosin Methilen Blue dan disk cakram. Sampel diperoleh sebanyak 13 sampel ISK dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada 9 sampel positif E. coli dan dengan tingkat sensitivitas pada antibiotik Ciprofloxacin sebanyak lima sampel (58%) sensitif, Intermediet satu sampel (11%), Resisten tiga sampel (33%) dan uji sensitivitas antibiotik Cefixime resisten sembilan sampel (100%). Penelitian ini disimpulkan pada penderita ISK ditemukan bakteri E. coli dan terdapatnya  perbandingan antara hasil uji sensitivitas antibiotik Ciprofloxacin dan antibiotik Cefixim terhadap bakteri E. coli. Kata kunci: Eschericia coli, Cefixime, Ciprofloxacin, Infeksi Saluran Kemih   The presence of microorganisms in urine is a primary indicator of a Urinary Tract Infection (UTI). UTIs are caused by various bacteria such as Escherichia coli, Klebsiella sp., Proteus sp., Providencia, Citrobacter, Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter, Enterococcus faecalis, and Staphylococcus saprophyticus. The surge in antibiotic resistance cases and the emergence of multidrug-resistant (MDR) pathogens in UTIs are closely correlated with the high incidence of inappropriate empirical antibiotic therapy. The practice of prescribing antibiotics without prior testing leads to the ineffectiveness of UTI management. This research aimed to identify E. coli bacteria as a cause of UTIs in the urine of patients suffering from UTIs and to compare the sensitivity levels of E. coli to two types of antibiotics: Ciprofloxacin and Cefixime. The method was culture with Eosin Methylene Blue media and disk diffusion. A total of 13 UTI samples were obtained using an accidental sampling technique. The research results showed that nine samples were positive for E. coli. For Ciprofloxacin, five samples (58%) were sensitive, 1 sample (11%) was intermediate, and three samples (33%) were resistant. For Cefixime, all nine samples (100%) were resistant. This research concluded that E. coli bacteria were found in UTI patients, and there was a comparison between the sensitivity test results of Ciprofloxacin and Cefixime antibiotics against E. coli bacteria. Keywords : Eschericia coli, Cefixime, Ciprofloxacin, Urinary Tract Infection
Analisis Korelasi Tingkat Timbal (Pb) dan Kreatinin dalam Darah pada Kelompok Manusia Silver di Wilayah Kediri Mardiana Prasetyani Putri; Arshy Prodyanatasari M.Pd.; Mely Purnadianty; Novia Agustina; Nita Ermawati
Jurnal Sintesis: Penelitian Sains, Terapan dan Analisisnya Vol 7 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Sains, Teknologi, dan Analsisi Institut ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jst.v7i1.395

Abstract

Heavy metal exposure, such as lead (Pb), poses a severe threat to human health due to its toxic nature, which can trigger vital organ damage, particularly in the kidneys. The 'silver human' group is at high risk of Pb exposure due to the routine application of metallic paint over their entire bodies. This research aimed to evaluate the correlation between blood lead concentrations and serum creatinine levels as an indicator of kidney function among silver humans in Kediri City. This observational study, utilizing a cross-sectional design, involved six silver human subjects selected through total sampling. Pb analysis was performed using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), while creatinine levels were assessed using standard laboratory methods. All respondents (100%) exhibited Pb levels within the normal range, with an average of 7.000 µg/dL. However, regarding the creatinine parameter, 50% of the respondents were found to have levels exceeding the normal threshold. Pearson statistical analysis indicated a p-value of 0.785 (p > 0.05). Consequently, no significant correlation was observed between blood lead levels and creatinine concentrations among the research subjects in Kediri City.
KORELASI KADAR KREATININ DAN INDEKS ERITROSIT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK SETELAH HEMODIALISA DI RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI Nita Ermawati; Shalu Dila Pramiswati; Freti Vega Nela; Mardiana Prasetyani Putri
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/judika.v10i1.28660

Abstract

Gagal ginjal kronik adalah kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) atau penurunan fungsi ginjal yang berlangsung dalam jangka waktu lama dan menetap sehingga menyebabkan penumpukan sisa metabolik (kadar BUN dan kreatinin meningkat), serta kerusakan kronis ginjal yang mengakibatkan penurunan produksi EPO sehingga menimbulkan anemia. Tujuan penelitian untuk menegakkan diagnosis anemia tersebut, salah satunya dilakukan pemeriksaan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai korelasi antara kadar kreatinin dan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) pada pasien gagal ginjal kronik setelah hemodialisa di RSUD Gambiran Kota Kediri. Metode: Jenis penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel sebanyak 7 pasien GGK setelah hemodialisa yang telah mendapatkan terapi eritropoetin. Variabel bebas adalah kadar kreatinin dan variabel terikat yaitu nilai indeks eritrosit. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kadar kreatinin dengan nilai mean 3,7314 mg/dL, nilai MCV 93,914 fL, nilai MCH 31,986 pg, dan nilai MCHC 33,443%. Uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk diperoleh p > 0,05 sehingga data berdistribusi normal, maka uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi Pearson. Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat korelasi antara kadar kreatinin dengan nilai MCV (p value 0,935), kadar kreatinin dengan nilai MCH (p value 0,509), dan kadar kreatinin dengan nilai MCHC (p value 0,678).
EARLY DETECTION AND PREVENTION OF DEGENERATIVE DISEASES TO IMPROVE THE QUALITY OF LIFE OF ELDERLY IN MOJOROTO: DETEKSI DINI PENYAKIT DEGENERATIF DAN PENCEGAHANNYA GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP LANSIA MOJOROTO Mardiana Prasetyani Putri; Frieti Vega Nela; Anik Andayani; Nita Ermawati; Hartati Tuna; Arshy Prodyanatasari; Asih Imulda
WISDOM : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Wisdom Vol. 3 No. 2 (2026): JPKM WISDOM 6, 2026
Publisher : PT. ROCE WISDOM ACEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71275/wisdom.v3i2.204

Abstract

The increasing elderly population in Mojoroto District, Kediri City, elevates the risk of degenerative diseases such as diabetes mellitus, gout, and hypercholesterolemia, which can significantly decrease their  quality of life. This community service program aimed to empower the elderly through interactive education on early detection, free health screenings, and the introduction of Caesalpinia sappan L. (secang) herbal drinks as a preventive measure. The method involved a planning phase, interactive educational sessions, free medical tests for blood glucose, uric acid, and cholesterol, and a short-term evaluation phase. The results showed that 90% of the participants experienced an increase in post-educational knowledge scores. Health screenings covered 85% of the total elderly population in the community, successfully identifying that 30% of participants had blood parameter values above the normal threshold without prior awareness. Furthermore, 65% of the elderly showed high interest in routinely consuming secang herbal tea. This program effectively established a community-based preventive health framework, demonstrating that an integrated screening approach combined with local traditional wisdom can substantially enhance the quality of life and health independence of urban elderly groups.