Lili Sarmili
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Jl. DR. Junjunan No. 236, Telp. 022 603 2020, 603 2201, Faksimile 022 601 7887, Bandung

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

INDIKASI PEMBENTUKAN DELTA PASANG SURUT EBB DI MULUT OUTLET SEGARA ANAKAN BAGIAN BARAT, TELUK PANGANDARAN, JAWA BARAT Lili Sarmili; Faturachman Faturachman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.137 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.1.2004.104

Abstract

Laguna Segara Anakan terletak di sebelah timur teluk Pangandaran dimana terdapat outlet Nusakambangan bagian barat yang menghubungkan laguna Segara Anakan ke laut terbuka (Samudera Hindia). Pada saat ini, laguna Segara Anakan sedang mengalami ancaman dari tingginya tingkat pengendapan sedimen. Beberapa sungai besar seperti Citanduy, Cibeureum dan Cikonde bertanggung jawab atas terjadinya penyempitan dan pendangkalan laguna. Pada waktu susut laut, energi yang tinggi dari sungai akan membawa sedimen ke laut terbuka dimana butiran yang kasar akan diendapkan di dekat muara sungai-sungai tersebut. Butiran halus akan diendapkan jauh dari sungai-sungai tersebut. Keterdapatan pulau-pulau didepan muara-muara sungai tersebut dapat disebut sebagai endapan delta. Endapan delta yang terdapat di dalam laguna disebut sebagai "Flood Tidal Delta", sedangkan yang di luar laguna Segara Anakan yaitu ke arah laut lepas disebut sebagai "Ebb Tidal Delta" . Peta sebaran sedimen permukaan yang diperkuat oleh peta isopach Kuarter dan peta batimetri menunjukkan adanya sedimen yang diendapkan di luar sistim laguna Segara Anakan sebagai indikasi pembentukan delta pasang-surut Ebb di dalam teluk Pangandaran. The Segara Anakan lagoon is located in the eastern part of Pangandaran Bay where West Segara Anakan outlets which is connecting the Segara Anakan Lagoon to the open sea (Indian Ocean). At present, the Segara Anakan lagoon is being threatened by high rates of sedimentation. Some big rivers such as Citanduy, Cibeureum and Cikonde are responsible for reducing the open water due to their sedimentation in the lagoon. During low sea level, high energy from the river bring the sediment to the open sea where the coarser grains are deposited closely to the mouth of those rivers. The finer grains as a suspended sediments are deposited far away from rivers. The occurrence of islands in front of rivers are called as deltas. These deltas which are located inside the lagoon called as a flood tidal delta, on the other hand, if they are located outside the lagoon called as an ebb tidal delta. The submarine surficial sediment distribution map that strongly modified by a Quaternary isopach map and a bathymetric map indicate that there are sediments that have been deposited outside the system of Segara Anakan lagoon which indicate formation of an Ebb tidal delta in Pangandaran bay.
KEBERADAAN SESAR DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMBENTUKAN GUNUNG BAWAH LAUT DI BUSUR BELAKANG PERAIRAN KOMBA, NUSA TENGGARA Lili Sarmili; Rainer Arief Troa
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1852.668 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.1.2014.246

Abstract

Lokasi penelitian terletak di busur belakang perairan timurlaut pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di daerah ini terdapat gunung api Komba (Batutara) yang masih aktif yang letaknya agak ke utara dari jajaran gunung api aktif yang berada di sepanjang pulau-pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Pantar dan lainnya. Ke arah tenggara dari gunung api Komba ini ditemukan beberapa gunung bawahlaut. Gunung bawahlaut tersebut adalah Baruna, Abang dan Ibu Komba. Gunung bawah laut ini telah dipetakan dengan batimetri multibeam mulai dari tahun 2003 hingga tahun 2013 dan pada tahun 2010 dilengkapi dengan seismik refleksi. Berdasarkan kerangka tektonik, gunung bawah laut ini terletak di cekungan busur belakang dan sekitar 200 sampai 300 km dalamnya dari bidang penunjaman. Munculnya gunung bawah laut ini diduga disebabkan oleh sistim sesar yang dalam yang berarah barat laut – tenggara. Data seismik juga mengindikasikan bahwa gunung bawah laut tersebut terpotong oleh sesar yang lebih muda yang berarah timurlaut-baratdaya. Akibat dari sesar yang berarah barat daya – timur laut ini juga merubah arah dari sesar naik busur belakang yang umumnya berarah barat-timur. Kata Kunci : gunung bawah laut Baruna, Abang dan Ibu Komba, cekungan busur belakang, sesar-sesar dalam, Flores timur laut Nusa Tenggara Timur. The study area is located on the back arc basin of northeast Flores island, East Nusa Tenggara. The area that is an active volcano of Batutara (Komba) situated. The Komba volcano is located far to the north of normal volcanoes belt of Java, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Pantar, and others. To southeast of the Komba volcano, we found three submarine ridges. They are Baruna, Abang and Ibu Komba. These submarine ridges were mapped by multi beam bathymetry since 2003 and 2013 and at 2010 was completed by single and multi channel seismic reflection. According to their tectonic setting these ridges belong to the back arc basin and they are about 200 – 300 km depth of to the subduction slab. We interpret from the data of seismic reflection, these ridges are formed by a deeply NW-SE fault. Data from the seismic profiles also indicate that all the submarine ridges are cut by younger SW-NE faults. Inconsequently, the NE-SW faults have changed the direction of back arc thrusts those are normally E-W in direction. Keywords : Baruna, Abang and Ibu Komba submarine ridge, back arc basin, deep faults, North East Flores
PENGARUH SEDIMENTASI TERHADAP PENYEBARAN TERUMBU KARANG DI TELUK WONDAMA, PAPUA Yani Permanawati; Lili Sarmili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 3 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2767.07 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.3.2008.164

Abstract

Endapan lumpur yang terdapat di bagian barat teluk Wondama sebarannya sangat sedikit jika dibandingkan di bagian timurnya. Endapan lumpur ini tidak berhubungan langsung dengan hasil erosi sungai baik di bagian barat maupun teluk Wondama tetapi berasal dari bagian selatan teluk yang dibawa oleh arus ke arah utara. Batugamping mendominasi bagian barat teluk Wondama, sedangkan sungai-sungai yang melewati batugamping ini, airnya tentunya akan banyak mengandung unsur karbonat sehingga menjadikan terumbu karang lebih mudah tumbuh di sepanjang pantai bagian Barat dibandingkan bagian Timur teluk Terjaganya kehidupan terumbu karang ini karena lingkungan yang bersih yang juga ditunjang oleh pola kehidupan masyarakat pesisir teluk Wondama yang sadar menjaga keseimbangan alam termasuk para nelayan yang masih menggunakan alat penangkapan ikan tradisional. Kata kunci : Terumbu karang, endapan lumpur, Teluk Wondama The distribution of mud on westernpart of Wondama Bay is very limited compared to its easternpart. The existence of mud is not directly related to the erosion of rivers along its west or east of the bay but it is originated from the south of the bay where current brought the sediment to the north. The limestone is dominated on its westernpart of Wondama bay, whereas rivers those cut the limestone will contain carbonate element and will support the coral reef grows better on its westernpart rather than on its easterpart of the bay. The good reservation of the coral reef is clearly related to clean environment and also supported by human lifes whose can keep and preserve the natural balance, for example, the fisheries are still using a traditional equipment. Keyword : Cora reef, deposition of mud, Wondama Bay
PROSES AKRASI DAN ABRASI BERDASARKAN PEMETAAN KARAKTERISTIK PANTAI DAN DATA GELOMBANG DI TELUK PELABUHAN RATU DAN CILETUH, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT Deny Setiady; Lili Sarmili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2353.877 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.1.2015.260

Abstract

Lokasi Penelitian dilakukan di teluk Pelabuhan Ratu dan Teluk Ciletuh, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik pantai dan hubungannya dengan akrasi dan abrasi berdasarkan energi flux. Metode penelitian terdiri dari penentuan posisi, karakteristik pantai, pengambilan sampel sedimen pantai, dan analisis gelombang. Proses abrasi dan akrasi di daerah penelitian erat kaitannya dengan besar kecilnya energi gelombang. Energi gelombang merupakan salah satu komponen dari arus sejajar pantai. Berdasarkan karakteristik pantai, tipe pantai terdiri dari : (1) Daerah perbukitan terjal, (2) Daerah perbukitan bergelombang, dan (3) Daerah dataran rendah. Analisis energi flux gelombang menunjukkan bahwa proses abrasi terjadi dititik tinjau 2 ke 3, 4 ke 5, 6 ke 8, 10 ke 11, 14 ke 15, dan 16 ke 17, sedangkan proses akrasi terjadi di titik tinjau 3 ke 4, 5 ke 6, 8 ke 10, 11 ke 13, 15 ke 16, 17 ke 18, dan 20 ke 21.Kata Kunci: Akrasi, abrasi, karakteristik pantai, energi flux, Pantai Pelabuhan Ratu. Location of the study at Pelabuhan Ratu and Ciletuh bays, Sukabumi of West Java Province. The aim of study is to map the coastal charectristics in relation to accretion and abrasion processes based on wave energy flux. The method consists of navigation, coastal characteristics, coastal sediments samples and wave analyses. The abrasion and accresion processes are closely related to how big the wave energy. Wave energy is one of longshore current components. Based on the coastal characteristics, the coastal types can be divided into : (1) steep hills (2) undulating hills, and (3) lowland. Wave energy flux shows that abrasion processes occur from the point of 2 to 3, 4 to 5, 6 to 8, 10 to 11, 14 to 15, and 16 to 17, while for accretion processes occur from the point of 3 to 4, 5 to 6, 8 to 10, 11 to 13, 15 to 16, 17 to 18, and 20 to 21. Keywords: acrasion, abrasion, coastal characteristic, flux energy, Pelabuhan Ratu coast