- Ruswahyuni
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

STUDI HUBUNGAN SUBSTRAT DASAR DAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK DALAM SEDIMEN DENGAN KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTHOS DI MUARA SUNGAI SAYUNG KABUPATEN DEMAK Taqwa, Rella Nur; Muskananfola, Max Rudolf; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.93 KB)

Abstract

Muara sungai Sayung merupakan daerah yang telah mengalami perubahan kondisi ekologi perairan yang disebabkan karena pengaruh pasang tertinggi (rob). Daerah tersebut telah berubah menjadi daerah tergenang dan banyak didominasi oleh substrat berlumpur. Substrat lumpur kaya akan bahan organik dan akan menjadi cadangan makanan bagi hewan makrobenthos yang hidup di muara sungai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan substrat dasar dan kandungan bahan organik dalam sedimen dengan kelimpahan hewan makrobenthos, dan untuk mengetahui kondisi lingkungan Muara Sungai Sayung berdasarkan nilai keanekaragaman dan keseragaman hewan makrobenthos. Penelitian ini berdasarkan studi kasus dan menggunakan metode purposive sampling untuk pengambilan sampel. Hasil penelitian dari ketiga stasiun di Muara Sungai Sayung didapatkan kelimpahan hewan makrobenthos berkisar antara 363 – 4829 ind/m3. Hewan makrobenthos yang didapatkan selama penelitian terdiri dari 3 kelas yaitu Polychaeta, Gastropoda, dan Bivalvia. Hasil penelitian pada stasiun I nilai indeks keanekaragaman sebesar 0,63, indeks keseragaman sebesar 0,57, Stasiun II nilai indeks keanekaragaman sebesar 0,13, indeks keseragaman sebesar 0,19, dan Stasiun III diperoleh nilai indeks keanekaragaman sebesar 1,79 dan indeks keseragaman sebesar 0,78. Nilai keanekaragaman tergolong dalam kategori rendah sampai sedang yang menunjukkan bahwa kondisi lingkungan sudah tidak layak untuk kehidupan hewan makrobenthos di dalamnya dan nilai keseragaman termasuk dalam kategori kecil sampai tinggi yang menunjukkan bahwa komposisi jenis hewan makrobenthos tidak sama dan kondisi ekosistemnya tidak stabil sehingga rawan akan terjadinya penurunan pada fungsi ekosistemnya. Berdasarkan nilai uji regresi sederhana dan uji regresi berganda dimana nilai koefisien korelasi berkisar 0,9 < r ≤ 1,0 menunjukkan bahwa kelimpahan hewan makrobenthos memiliki hubungan yang sangat kuat dan memiliki korelasi yang sangat nyata dengan jenis substrat dasar dan kandungan bahan organik dalam sedimen.
HUBUNGAN KELIMPAHAN MEIOFAUNA PADA KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU PANJANG, JEPARA Assy, Dwi; Widyorini, Niniek; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.278 KB)

Abstract

Lamun merupakan salah satu sumberdaya laut yang sangat potensial dan dapat dimanfaatkan. Organisme benthos seperti meiofauna menepati posisi yang sangat penting dalam proses biodegradasi di ekosistem pantai. Meiofauna bersifat relatif menetap pada dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan meiofauna pada kerapatan lamun yang berbeda di Pantai Pulau Panjang, Jepara dan mengetahui hubungan antara kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan meiofauna. Metode pengambilan sampel dan pengamatan meiofauna adalah sampel diambil 7 titik dari setiap stasiun, pengambilan sampel meiofauna dengan menggunakan pralon 20 cm, sampel kemudian disaring dengan menggunakan saringan sampel 0,5 mm dan diberi formalin sebanyak 4% ,larutan rose bengale™ dan larutan ludox. Jenis lamun yang ditemukan di lokasi penelitian ini didapatkan 5 genera lamun yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhalus sp, Syringodium sp dan Halodule sp. Jumlah spesies individu meiofauna pada stasiun A yaitu 34.666 individu/m3 dari 22 spesies, pada stasiun B yaitu 42.666 individu/m3 dari 22 spesies dan pada stasiun C yaitu 54.000 individu/m3 dari 22 spesies. Uji korelasi pearson didapatkan nilai sebesar 0,565 ( ≥ 0,05 ) dengan kesimpulan H0 diterima dan H1 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara meiofauna dengan kerapatan lamun yang berbeda di Pulau Panjang Jepara. Nilai korelasi antara meiofauna dengan kerapatan lamun sebesar -0,632, hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan yang erat antara meiofauna dengan kerapatan lamun di Pulau Panjang, Jepara.
HUBUNGAN KELIMPAHAN IKAN DAN TUTUPAN KARANG LUNAK DENGAN KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PULAU MENJANGAN KECIL TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA, JAWA TENGAH Putra, Aryo Ganesha; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.067 KB)

Abstract

Kedalaman memberikan pengaruh terhadap biodiversitas secara vertikal dan berasosiasi dengan faktor abiotik yang membuat keanekaragaman biota laut memiliki spesialisasi masing-masing. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tutupan dan jenis karang lunak, mengetahui jenis serta kelimpahan ikan dan mengetahui hubungan kelimpahan ikan dan tutupan karang lunak dengan kedalaman yang berbeda. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2014, lokasi penelitian terbagi menjadi 2 lokasi, yaitu pengamatan lapangan di Pulau Menjangan Kecil dan pengamatan checklist karang lunak dan ikan di Pulau Karimunjawa. Metode penelitian menggunakan metode line intercept transect (LIT) dan sensus visual ikan. LIT dilakukan dengan menarik rol meter sepanjang 100 m sebagai lintasan pengamatan karang lunak dengan interval 1 m dan metode sensus visual ikan dengan batas luas pengamatan ke sisi kanan dan kiri line transect sepanjang 2,5 m hingga terbentuk kuadran seluas 5 x 5 meter, pengamatan dilakukan sepanjang 100 m dengan total luas pengamatan 500 m2. Analisis data yang digunakan yaitu perhitungan indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, Komposisi jenis dan analisis statistik korelasi berganda. Hasil pengamatan kelimpahan ikan terbesar pada kedalaman 3 dan 10 m berasal dari famili Pomacentridae sebesar 60,66 % dan 53,32 %. Indeks keanekaragaman dan keseragaman kelimpahan ikan di kedalaman 3 m sebesar 1,100 dan 0,793 terdiri dari 4 famili ikan, pada kedalaman 10 m yaitu 1,443 dan 0,694 terdiri dari 8 famili ikan. Hasil tutupan karang lunak terbesar di kedalaman 3 dan 10 m yaitu genus Lobophtyum sebesar 5,29 % dan 3,39 %. Indeks keanekaragaman dan keseragaman karang lunak sebesar 1,238 dan 0,893 pada kedalaman 3 m terdiri dari 4 genera dan di kedalaman 10 m tidak dapat dilakukan perhitungan, karena hanya terdapat 1 jenis. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kelimpahan ikan dan tutupan karang lunak memiliki hubungan dengan kedalaman yang berbeda. Influence of depth on biodiversity vertically associated with abiotic factors that make the diversity of marine life have their respective specialties. This study aims to determine the types and soft corals cover, know the type and abundance of fish and to determine correllations of different depths on the abundance of fish and soft coral cover. The study was conducted in June 2014, the location of study is divided into two locations, namely in the field observation Menjangan Kecil island and observation checklist soft corals and fish on the Karimunjawa island. The research method using line intercept transect (LIT) and visual census technique. LIT is done by pulling roll meters along 100 m as soft coral observation path with intervals of 1 m and visual census methods by a wide margin to the observation on the right and left side of the line transect along 2.5 m to form a quadrant area of 5 x 5 meters, observations were made along 100 m with a total area of 500 m2. Data analysis calculation used diversity index (H '), uniformity index (e), species composition (KJ) and statistical analysis multiple correlation. The observation of abundance of the biggest fish at a depth of 3 and 10 m comes from the family Pomacentridae with percentage of 60,66% and 53,32%. Diversity and uniformity index of fish abundance at a depth of 3 m is 1,100 and 0,793 consists of four families of fish, at a depth of 10 m is 1,443 and 0,694 consists of 8 fish families. The results of the largest soft coral cover in depth of 3 and 10 m from genus Lobophtyum with percentage 5,29% and 3,39%. Diversity and uniformity index of 1,238 and soft corals at a depth 3 m is 0,893 consists of 4 genera and at a depth of 10 m cannot be calculated, cause there is only one kind of soft coral. Based on these results, in conclusion, that the abundance of fish and soft coral cover correlated with difference of depth.
PENUTUPAN KARANG LUNAK (SOFT CORAL) PADA DAERAH RATAAN DAN DAERAH TUBIR DI PULAU CEMARA KECIL KEPULUAN KARIMUN JAWA Nababan, Sehat Martua Parulian; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.451 KB)

Abstract

 Komunitas karang daerah yang satu dengan daerah lainnya juga akan memiliki perbedaan, sehingga sebaran karang lunak yang terdapat di daerah rataan dan tubir memiliki perbedaan. Komposisi karang lunak yang terdapat pada daerah rataan terumbu yang merupakan perairan dangkal dan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan perairan kemungkinan akan memiliki perbedaan komposisi jenis karang pada daerah tubir, yang merupakan perairan yang cukup dalam, serta memiliki tingkat kemiringan yang bervariasi. Sebaran jenis suatu komunitas akan mengalami perubahan bila lingkungan berubah, baik karena tekanan fisik, biologi maupun aktifitas manusiaTujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui penutupan karang lunak pada zona rataan dan pada zona tubir di perairan Pulau Cemara Kecil, Karimun jawa. Dan mengetahui nilai indeks keanekaragaman karang lunak pada daerah rataan dan daerah tubir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Dimana metode yang digunakan tergolong dalam metode survei yang bersifat deskriptif. Metode yang digunakan pengambilan data adalah Line Intercept Transect (LIT). Penelitian dilakukan pada dua lokasi yaitu daerah rataan terumbu dan daerah tubir. Panjang line transek adalah 10 m, diletakkan sejajar garis pantai, transek yang digunakan di daerah rataan terumbu sebanyak 3 line dan daerah tubir sebanyak 3 line. Jarak antar line dimasing – masing lokasi sampling 5 m.Hasil penelitian jenis karang lunak yang ditemukan di daerah rataan dan daerah tubir Lobophytum, Sarcophyton, nepthea dan Xenia. Prosentase penutupan karang lunak tertinggi pada daerah tubir yaitu yaitu sebesar 26,13% sedangkan pada daerah rataan sebesar 24,03%. Nilai indeks keanekaragaman (H’) pada stasiun A dan B sama yaitu 0,96 yang termasuk keanekaragaman rendah. Terdapat 4 genera karang lunak yaitu Lobopyhtum, Sarcophyton, Nepthea dan Xenia. Coral reef community are different in several areas so that the distribution of soft coral in reef flat areas and reef slope areas has difference. Composition of coral reef found in the reef flat areas which is shallow waters and more influenced by environmental factors will has difference with coral reef found in reef slope areas which is deep waters and has variation of slope. The distribution of coral reefs will change when the environmental factors change either physical pressure, biological or human activity.The purpose of this research is to tell abudance soft coral on reef flat areas (reef flat) with the reef slope areas (reef slope) in Cemara Kecil island, Karimunjawa. And knowing the value of diversity index soft coral on reef flat areas and the reef slope areas. Methods used in this research method of surveying. Actually, methods used characterizes method of surveying that is descriptive. Methods used in taking data is Line Intercept Transect (LIT). Research carried on two spots was station A (Reef flat) and station B (Reef slope). The line’s long size is 10m, put in parallel along the coast, line used in the reef flat as much as three line and reef slope about three line. The distance between line each other location is 5m.Species of soft coral found in the reef flat and reef slope is Lobophytum, Sarcophyton, Nepthea and Xenia. Closure of the highest percentage soft coral in reef flat  areas is 24,03%. While closing of the highest percentage of soft coral in reef slope areas is 26,13%. The value of diversity index (H’) in station A and B is 0,96 includes categories low diversity. There are 4 of soft coral, Lobophytum, Sarcophyton, Nepthea and Xenia.
PENGARUH ARUS DAN SUBSTRAT TERHADAP DISTRIBUSI KERAPATAN RUMPUT LAUT DI PERAIRAN PULAU PANJANG SEBELAH BARAT DAN SELATAN Wulandari, Stephany Retna; Hutabarat, Sahala; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.475 KB)

Abstract

Pulau Panjang adalah salah satu pantai utara Jawa yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Salah satu ekosistem yang ditemukan di wilayah pesisir adalah ekosistem rumput laut. Rumput laut memiliki keanekaragaman spesies  yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh arus dan substrat terhadap distribusi kerapatan rumput laut di perairan Pulau Panjang sebelah barat dan selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2014. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengambilan data kerapatan rumput laut menggunakan metode line transect. Pengamatan dilakukan dengan menghitung kerapatan rumput laut pada 3 line di sebelah barat dan selatan Pulau Panjang. Panjang line transect yang digunakan adalah 100 meter, diletakkan tegak lurus garis pantai dan untuk memudahkan perhitungan kerapatan rumput kaut digunakan kuadran transect berukuran 1x1 m. Kemudian dilakukan pengukuran parameter oseanografi. Hasil penelitian dijumpai tujuh jenis rumput laut yaitu Padina crassa, Sargasum confusum, Turbinaria ornata, Sargassum crispitolium, Caulerpa racemosa, Caulerpa serrulata, dan Lenthesia difformis pada sebelah barat dan selatan Pulau Panjang. Nilai kecepatan arus Pulau Panjang di sebelah selatan adalah 0,10-0,12 m/detik dan arus Pulau Panjang di sebelah barat 0,09-0,01 m/detik. Substrat di Pulau Panjang sebelah barat adalah  karang hidup (26 m2), karang mati (83 m2), pasir (80 m2) dan pecahan karang (109 m2), sedangkan di Pulau Panjang sebelah selatan adalah karang hidup (31 m2), karang mati (93 m2), pasir (54 m2) dan pecahan karang (122 m2).  Kerapatan rumput laut tertinggi di Pulau Panjang sebelah barat dan selatan adalah jenis Padina crassa sebanyak  37,39% dan 31,26%. Panjang island is one of Java’s northern sea which located in Jepara, Central Java. One of ecosystem which found in coastal area is seaweed ecosystem. Seaweed has high species’s variety. This research is intended to acknowledge how current and subtrate affect the seaweed’s density distribution in Panjang Island’s west and south waters. This research was done in October 2014. This research uses descriptive research method. While Line Transect is used to intake the data of seaweed’s density. The observation is done by counting the seaweed’s density on three lines in Panjang Island’s south and west waters. Line Transect’s lenght which used is 100 meters, be placed perpendicular to coastal area and use 1x1 meter transect quadran to make the counting of seaweed’s density easier.  And then, the measuring of oceanography parameter is conducted. As the result, seven seaweed’s varietis are found, they are Padina crassa, Sargasum confusum, Turbinaria ornata, Sargassum crispitolium, Caulerpa racemosa, Caulerpa serrulata, and Lenthesia difformis in Panjang Island’s south and west waters. Speed value of Panjang Island’s current in south area is 0,10-0,12 m/second and Panjang Island’s west area is 0,09-0,01 m/second. The substrate in Panjang Island’s west area is alive coral (26 m2), dead coral (83 m2), sand (80 m2), and coral’s fraction (109 m2), while in Panjang island’s south area is alive coral (31 m2), dead coral (93 m2), sand (54 m2), and coral’s fraction (122 m2). The highest seaweed’s density in west and south’s area is Padina Crassa, that is 37,39% and 31,26%.
ANALISIS LAJU SEDIMENTASI DI DAERAH PADANG LAMUN DENGAN TINGKAT KERAPATAN BERBEDA DI PULAU PANJANG, JEPARA Hidayat, Moh; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.259 KB)

Abstract

Pulau Panjang merupakan salah satu wilayah di perairan Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragamanan ekosistem perairan, antara lain adalah ekosistem lamun yang merupakan habitat bagi biota-biota perairan. Secara ekologi, padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir yang salah satunya berfungsi untuk menstabilkan dasar-dasar lunak dimana kebanyakan spesies tumbuh, terutama dengan sistem akar yang padat dan saling menyilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju sedimentasi di daerah padang lamun dengan tingkat kerapatan berbeda dan mengetahui hubungan antara kerapatan  lamun dengan laju sedimentasi di Pulau Panjang. Metoda penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan pencarian fakta di interpretasikan dengan  tepat. Metode sampling dengan metode transek, sebaran lamun ditentukan 3 stasiun yaitu jarang, sedang, padat dan luasan yang sama (10 m x 10 m). Kuadran transect berukuran 1 m x 1 m digunakan untuk menghitung tegakan lamun dalam setiap meter persegi. Hasil penelitian menunjukkan 5 spesies lamun pada ketiga stasiun yaitu jenis Thalassia sp (65,292%), Cymodocea sp (18,539%), Enhallus sp (6,099%), Halodule sp (4,557%) dan Syringodium sp (5,512%). Laju sedimentasi di stasiun lamun jarang lebih besar dibanding pada stasiun lamun sedang dan padat. Laju sedimentasi sangat dipengaruhi oleh parameter kualitas air terutama kecepatan arus dan kedalaman. Hasil analisa uji Korelasi  Pearson sebesar menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara Laju sedimentasi pada kerapatan lamun yang berbeda di pulau Panjang Jepara.   Panjang island is one of the waters area in Jepara that have various aquatic ecosystems, such as seagrass which is habitat for aquatic biota. Ecologycally, seagrass has several important functions in the coastal areas, one of which serves to stabilize the soft bottom where more species grow, especially with it’s dense root system and crossing each other. The research aims to determine sedimentation rate in different seagrass density and to determine relation of seagrass density to sedimentation rate at the Panjang island. The research method used descriptive in whitc fact finding be interpreted correctly. Mapping os seagrass distribution method was done to classified 3 stations of namely ‘lisht’, ‘medium’, ‘dense’ in a same area (10m x 10m). 1m x 1m cuadrant transect was used to count the seagrass stands at each square meter. The result showed there are 5 species of seagrass in the third station ie Thalassia sp (65,292%), Cymodocea sp (18,539%), Enhallus sp (6,099%), Halodule sp (4,557%) dan Syringodium sp (5,512%). the sedimentation rate at the ‘lisht’ station of seagrass bed is bigger compared to the ‘medium’ and ‘dense’ stations. The sedimentation rate is strongly influenced by the water quality parameter,especially current and depth. The results of Pearson correlation analysis test shown a significant difference between the sedimentation rate at different seagrass density in the Panjang island of Jepara.
PENGARUH JARAK PANTAI DAN TIPE SUBSTRAT DASAR PERAIRAN TERHADAP KELIMPAHAN DAN JENIS EPIFAUNA DI PERAIRAN PULAU PANJANG SEBELAH BARAT DAN SELATAN JEPARA Setyaboma, Dyaning Betari; Supriharyono, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.718 KB)

Abstract

Perairan Pulau panjang sebelah selatan banyak dikunjugi oleh para wisatawan, karena banyak aktivitas yang terjadi termasuk lalu lalang kapal penangkapan ikan maupun kapal wisata. Berbeda dengan pantai yang berada di sebelah selatan, Pulau Panjang sebelah barat yang berbatasan dengan laut lepas dan letaknya jauh dari dermaga sehingga tidak banyak aktivitas. Potensi yang ada adalah karang dan rumput laut dimana dapat menyokong kelimpahan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis epifauna yang terdapat di Pulau Panjang sebelah barat dan selatan, pengaruh jarak pantai dan tipe substrat dasar perairan terhadap kelimpahan epifauna serta untuk mengetahui hubungan antara jarak dari pantai dan tipe substrat dasar perairan. Penelitian ini menggunakan metode eksplanatif. Aktivitas penelitian yang dilakukan meliputi survey lokasi penelitian, sampling, identifikasi dan analisis data. Hasil penelitian diperoleh sebelas jenis epifauna pada sebelah barat dan sepuluh jenis epifauna pada sebelah selatan. Kelimpahan tertinggi pada kedua lokasi adalah jenis Turbo sp. Berdasarkan uji regresi linier hubungan jarak dari pantai dengan kelimpahan epifauna diperoleh nilai signifikan 0,012 pada sebelah barat dan tidak signifikan 0,298 pada sebelah selatan. Hasil uji T one-sample test untuk tipe substrat di dapatkan hasil p> 0,05 menunjukkan adanya beda nyata antar tipe substrat dengan epifauna. Epifauna banyak ditemukan pada substrat pecahan karang, pasir dan rumput laut. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara tipe substrat dasar perairan terhadap kelimpahan epifauna serta adanya pengaruh jarak pantai dengan faktor tipe substrat dasar yang terdapat pada setiap meter jarak terhadap epifauna pada sebelah barat tetapi tidak ada pengaruh pada sebelah selatan. Panjang Island waters, mainly in the south coast is the destination area of the tourists to visit. Therefore many activities may occured, including passing fishing and tourism boats. Unlike in the south coast, in the west coast of Panjang Island which face to the sea is not a lot of activity, may due to far from the pier. Potential of this tourism area is coral and seaweed which very supporting of abundance epifauna. The purpose of this study is to determine the type of epifauna contained in both the west and the south Panjang Island waters, the influences of distance of the coast and the type substrate bottom waters on the abundance of epifauna and to investigate the relationship between the distance from the coast and the type of substrate. This study uses explanatory method.  Activities of the study include survey of study location, sampling, identification, and data analysis. The study resulted that there eleven types of epifauna on the west coast and ten types of epifauna in the south. The highest abundance in the both sites (the west and thes outh coast) is Turbo sp.. Based on linear regression of the distance from the coast with abundance of epifauna it is  obtained signicantly correlation (sig=0,012) in the west and not significant (sig= 0,298) in the south. T test results of one-sample test for the type of substrate indicates significant difference between the type of substrate with epifauna (P>0,05). Epifauna substrates majority were found in the rubble, sand and seaweed. Based on the results of this study concluded that there is a very strong influence of the type of substrate on the abundance of epifauna waters, as well the effect of distance on the coast to the west epifauna but no influence on the south.
KELIMPAHAN NUDIBRANCHIA PADA KARANG BERCABANG DAN KARANG BATU DI PANTAI PANCURAN BELAKANG PULAU KARIMUNJAWA JEPARA Kusuma, Rizky Chandra; Ruswahyuni, -; Subiyanto, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.153 KB)

Abstract

Nudibranchia adalah salah satu Moluska tidak bercangkang yang seringkali berwarna terang dan mencolok. Nudibranchia memanfaatkan karang sebagai feeding ground dan spawning ground, tanpa mengganggu kehidupan karang. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kelimpahan dan perbedaan Nudibranchia yang terdapat pada daerah karang bercabang dan karang batu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2013 di Pantai Pancuran Belakang, Pulau Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam pengambilan data menggunakan metode line transek sepanjang 50 meter sejajar garis pantai dan kuadran transek dengan ukuran 2 x 2 meter. Hasil penelitian didapatkan Penutupan substrat perairan dimasing-masing lokasi paling banyak tertutupi oleh karang hidup yaitu pada daerah karang bercabang 64,48% dengan jumlah Nudibranchia sebanyak 38 ind/300m2. Pada daerah karang batu sebesar 75,87% dengan jumlah Nudibranchia 50 ind/300m2. Terdapat 5 jenis Nudibranchia di lokasi penelitian yaitu Chromodoris lineolata, Phyllidia varicosa, Phyllidiella nigra, Thuridilla lineolata dan Thuridilla sp. Pada Uji Independent T-Test, rata-rata kelimpahan Nudibranchia pada karang bercabang dan batu adalah sama. Hal ini membuktikan bahwa kelimpahan Nudibranchia sangat dipengaruhi oleh adanya terumbu karang dan tidak berbeda antara karang bercabang (branching) dan karang batu (massive).
HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN EPIFAUNA DASAR DENGAN TINGKATAN KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU PANJANG DAN TELUK AWUR JEPARA Setyawati, Yolanda; Subiyanto, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.846 KB)

Abstract

Perairan Teluk Awur dan Pulau Panjang terletak di Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragaman ekosistem perairan, antara lain ekosistem lamun. Kondisi dari ekosistem lamun dikedua lokasi tersebut akan mempengaruhi tingkat kerapatan dan selanjutnya akan mempengaruhi epifauna yang hidup didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan epifauna dasardi kawasan Pulau Panjang dan Teluk Awur Jepara. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Maret 2014 di perairan pantai Pulau Panjang dan Teluk Awur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang bersifat deskriptif berdasarkan 3 kerapatan yang berbeda, yaitu kerapatan jarang, sedang dan padat. Pengambilan sampel epifauna dilakukan dengan pengambilan substrat dasar pada setiap tingkat kerapatan lamun pada 9 titik yang masing-masing 1m x 1m, selanjutnya sampel disaring dengan saringan ukuran mesh size 1mm x 1mm lalu disimpan dalam botol sampel dan diberi formalin 4% selanjutnya sampel epifauna dibawa ke laboraturium untuk diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 jenis lamun yang ditemukan di Pulau Panjang yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodulle sp dan Sryngodium sp. dan 4 jenis di Teluk Awur yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halophila sp. Kelimpahan epifauna dikerapatan lamun padat, sedang dan jarang 176, 193 dan 241 individu/m2 berturut-turut di Pulau Panjang. Sedangkan kelimpahan epifauna di Teluk Awur sebanyak 162, 177 dan 213 individu/m2 di Kerapatan jarang, sedang dan padat berturut-turut. Hasil analisa statistik menunjukkan hubungan positif antara kerapatan lamun dengan kelimpahan epifauna dengan r = 0,969 di Pulau Panjang dan 0,976 di Teluk Awur. Teluk Awur and Panjang Island which is located in Jepara, has a diversity of ecosystems such as seagrass. Conditions of seagrass ecosystems in both locations will affect the level of density epifauna who live there. The purpose of the research was to know the relationship between density level of different seagrass in Panjang Island and Teluk Awur, Jepara. The reseach has been done in March 2014. The method used was case study and the data will analyzed descriptive based on 3 different densities level  i.e : sparse, medium and dense. Epifauna was collected by taking substrate from 9 point from kuadrant transek 1mx1m at every level density of seagrass. The sample collected then was filtered with 1x1mm a filter mesh size and stored in 4 % formalin. Epifauna collected were brought to the laboratory to be identified. The results showed that there were 5 types of sea grass found on Panjang Island and 4 type in Teluk Awur were Thalassia sp., Cymodocea sp., Enhallus sp, Halodulle sp and Sryngodium sp, while in Teluk Awur were Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halophila sp. The abundance of epifauna in dense, medium, and sparse were 241, 193, and 176 ind/m2 respectively in Pulau Panjang. while the abundance of epifauna in Teluk Awur was 162, 177 and 213 individual/m2 were collected from sparse, medium and dense density, respectively. The statistical analysis showed that there were positive correlation between level densities of seagrass and the abundance of epifauna the higher, the density the more epifauna were obtained with r = 0.969 at Panjang Island and 0.976 at Teluk Awur. 
PERBEDAAN KELIMPAHAN BINTANG MENGULAR (Ophiuroidea) PADA DAERAH TELUK DAN DAERAH LEPAS PANTAI PADA PERAIRAN PANTAI KRAKAL, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA Aziz, Dhany Rosyid; Suryanti, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.025 KB)

Abstract

Bintang mengular (Ophiuroidea) merupakan Echinodermata yang banyak tersebar di seluruh belahan dunia. Bintang mengular memiliki peranan terhadap ekologi suatu perairan.Pantai Krakal pada daerah Teluk dan daerah Lepas Pantai merupakan deretan pantai di pesisir selatan pulau Jawa yang menjadi daerah obyek wisata. Di daerah tersebut terdapat rataan substrat mati yang merupakan habitat atau tempat hidup dari bintang mengular.Pada lokasi tersebut diestimasikan terdapat kelimpahan bintang mengular. Aktivitas manusia pada pantai tersebut diduga telah mempengaruhi perbedaan kelimpahan bintang mengular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan bintang mengular (Ophiuroidea) pada daerah Teluk dan Lepas Pantai pada perairan Pantai Krakal, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2014. Metode pengambilan data kelimpahan bintang mengular (Ophiuroide) dan data persentase penutupan substrat menggunakan metode line transek sepanjang 50 meter dan metode kuadran transek dengan luas 1 x 1 meter. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini pada daerah Teluk didapatkan kelimpahan individu bintang mengular sebanyak 979 individu / 150 meter2, sedangkan kelimpahan individu bintang mengular pada daerah Lepas Pantai sebanyak 464 individu / 150 meter2. Hasil yang didapatkan dari persentase penutupan substrat di daerah Teluk sebesar 89,12%. Sedangkan nilai persentase penutupan substrat di daerah Lepas Pantai sebesar 84,78%. Pada kedua stasiun didapatkan 3 jenis bintang mengular yaitu Ophiocoma erinaceus, Ophiocoma riseii, dan Ophiocoma scolopendrina. Kelimpahan jenis bintang mengular yang paling banyak ditemukan di daerah Teluk dan daerah Lepas Pantai adalah jenis Ophiocoma scolopendrina. Brittle Star (Ophiuroidea) is echinodermata which many scattered all around the world. Brittle Star having role against ecology a waters. Krakal the coast in the gulf and the regions off shore of is a row of a beach in the southern coast of java island which is to be the tourist attractions. In the area there are equivalent die which is coral habitats or place life from the brittle star. On the location being estimated there is an abundance of a brittle star. Human activity upon the shore was suspected to have influenced the difference abundance brittle star. Research is aimed to tell the difference abundance of brittle star (Ophiuroidea) in the gulf and coast off krakal, in coastal waters district Gunungkidul, Yogyakarta. This research done on November 2014. A method of data retrieval abundance brittle star (Ophiuroidea) and data coral the percentage of the closure using methods line transek along 50 meters and quadrant transek method with broad 1 x 1 meter. In the gulf was obtained abundance individual brittle star as many as 979 individu / 150 meter2, while abundance individual brittle star in the areas off the coast of as many as 464 individu / 150 meter2.The results obtained from this research and that is that the percentage of the substrat of the value of coralin the gulf as much as 89,12 %. While the value of the percentage of the substrat off shore of coralin the area of 84.78 %.At the second stations found 3 sets of the brittle stars are Ophiocoma erinaceus, Ophiocoma riseii, and Ophiocoma scolopendrina. A kind of brittle star abundance the most common to find in the gulf and the regions off shore of is the type Ophiocoma scolopendrina.