- Ruswahyuni
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

HUBUNGAN KERAPATAN RUMPUT LAUT DENGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA PADA SUBSTRAT BERBEDA DI PANTAI TELUK AWUR JEPARA Sunarernanda, Yanuareza Putra; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.97 KB)

Abstract

Perairan Pantai Teluk Awur Jepara merupakan daerah teluk dengan ombak yang tidak begitu besar. Salah satu potensi yang ada di tempat tersebut adalah rumput laut dimana rumput laut dapat memengaruhi kelimpahan biota bentik yang termasuk di dalamnya adalah epifauna yang pergerakannya terbatas. Rumput laut dalam persebaran dan pertumbuhannya dipengaruhi oleh kesesuaiannya dengan substrat dasar, begitu pula dengan epifauna. Selain itu, kondisi perairan dilihat dari parameter fisika maupun kimia juga dapat berpengaruh terhadap persebaran dan pertumbuhan biota tersebut. Faktor-faktor seperti predator maupun kompetisi makanan antar sesama jenis juga dapat menyebabkan perubahan distribusi dari rumput laut dan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kerapatan rumput laut berdasarkan substrat perairan, kelimpahan epifauna berdasarkan substrat perairan, dan hubungan antara kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Langkah penelitian yang digunakan yaitu survey lokasi penelitian, sampling, identifikasi, analisis data, dan uji korelasi Spearman. Hasil yang diperoleh yaitu delapan jenis rumput laut dan sepuluh jenis epifauna. Kerapatan relatif tertinggi dari rumput laut di perairan Pantai Teluk Awur Jepara yaitu pada substrat pasir seluas 188,29 m² oleh jenis Padina crassa sebesar 44,38% (600 individu/300 m²). Kelimpahan relatif tertinggi dari epifauna di perairan Pantai Teluk Awur Jepara yaitu pada substrat pasir seluas 188,29 m² oleh jenis Cerithium kochi sebesar 30,144% (63 individu/300 m²). Berdasarkan uji korelasi Spearman kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan sangat kuat antara kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna. Coastal waters Teluk Awur Jepara is the bay area with the waves were not so big. One of the potential that exists in these places is a seaweed which can affect the abundance of benthic biota including epifauna which its movement is limited. Seaweed in the spread and growth are affected by suitability with the substrate, as well as epifauna. In addition, the condition of the waters seen from the parameters of physics and chemistry can also influence the spread and growth of such biota. Factors such as predators and food competition among the same species can also lead to changes in the distribution of sea grass and epifauna. The purpose of this study was to determine the seaweed density based on substrates, an epifauna abundance based on substrates, and the relationship between the seaweed density with epifauna abundance. This study was conducted in November 2013. This research uses descriptive method. Measures used in this study is a survey of study location, sampling, identification, data analysis, and the Spearman correlation test. The results obtained are eight species of seaweed and ten species of epifauna. The highest density of seaweed in the waters of the Coast Teluk Awur Jepara is on sand substrate area of 188,29 m² is a Padina crassa was 44,38% (600 individual/300 m²). The highest abundance of epifauna in the waters of the Coast Teluk Awur Jepara is on sand substrate area of 188,29 m² is a Cerithium kochi was 30,144% (63 individual/300 m²). Based on the Spearman correlation test the density of seaweed with an abundance of epifauna can be concluded that there is a very strong relationship between the seaweed density with epifauna abundance.
KELIMPAHAN UNDUR-UNDUR LAUT (HIPPIDAE) DAN SEBARAN SEDIMEN DI PANTAI PAGAK KECAMATAN NGOMBOL, PURWOREJO, JAWA TENGAH Darusman, Viki; Muskananfola, Max Rudolf; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.652 KB)

Abstract

Undur-undur laut (Hippidae) merupakan jenis Krustasea yang memiliki nilai ekonomis dan memiliki peran ekologis pada suatu perairan. Undur-undur laut banyak tersebar di seluruh belahan dunia, namun keberadaan Undur-undur laut di Indonesia masih belum banyak diketahui.  Pantai Pagak merupakan pantai berpasir di pesisir selatan pulau Jawa yang menjadi daerah obyek wisata dan area budidaya udang. Pantai Pagak memiliki gelombang yang kuat karena berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Sedimen di pantai Pagak memiliki ukuran diameter butiran yang bervariasi dan merupakan habitat bagi Undur-undur laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan Undur-undur laut (Hippidae) dan mengetahui hubungan ukuran diameter butiran sedimen dengan kelimpahan Undur-undur laut di pantai Pagak, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2014. Metode pengambilan data kelimpahan Undur-undur laut menggunakan line transek sepanjang 10 meter ke arah laut, dimana tiap meternya dilakukan pengambilan sampel Undur-undur laut dan sedimen dengan kuadran transek berukuran 1x1 meter. Hasil penelitian menunjukkan ada dua jenis Undur-undur laut di pantai Pagak, yaitu Emerita emeritus dan Hippa ovalis, dengan kelimpahan 684 individu/50m2. Kelimpahan Undur-undur laut berhubungan erat dengan ukuran diameter butiran sedimen, dimana Undur-undur laut lebih melimpah pada ukuran diameter butiran sedimen 0,25 – 1 mm. Mole Crab (Hippidae) is a type of Crustacean that has economic value and ecological role in marine environment. Mole crab widely spread around the world, however the presence of Mole crab in Indonesia is still not widely known. Pagak beach is a sandy beach on the South coast of Java island which be a tourist attraction and shrimp cultivation area. The Pagak beach has a strong waves due to direct connection to the Indian Ocean. Sediment in the Pagak beach have a varied grain size diameter, and be a mole crab habitat. This research aims to determine  abundance of Mole crab and relationship of sediment grain size diameter to the abundance of Mole crab in the Pagak beach, Purworejo, Central Java. This research was conducted on April 2014. The data collection method of Mole crab abundance using line transect along 10 meters toward the sea, and samples of Mole crab and sediment were taken in every meter using 1x1 quadrant transect. The research show that there are two kinds of Mole crab, i.e.  Emerita emeritus and Hippa ovalis with an abundance of 684 individual/50m2. The abundance of Mole crab has a close relationship to sediment  grain size diameter in which the Mole crab more abundent in the sediment  grain size diameter of 0,25-1 mm.
KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTHOS PADA DAERAH YANG TERKENA REKLAMASI DAN TIDAK TERKENA REKLAMASI DI PANTAI MARINA, SEMARANG Dewi, Tiara Surya; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.657 KB)

Abstract

Jumlah penduduk Indonesia yang besar tidak seimbang dengan luas lahan yang tersedia untuk berbagai kegiatan penduduk, membuat pemerintah menerapkan kebijakan untuk melakukan reklamasi pantai agar kebutuhan lahan penduduk terpenuhi. Reklamasi merupakan proses pembentukan lahan baru di daerah pesisir dengan tujuan menjadikan kawasan berair yang rusak atau tak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat. Kegiatan reklamasi memiliki dampak positif dan negatif bagi ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: kelimpahan hewan makrobenthos pada daerah yang terkena reklamasi (A) dan daerah yang tidak terkena reklamasi (B) dan dampak reklamasi terhadap kelimpahan hewan makrobenthos di Pantai Marina Semarang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2013 di Pantai Marina Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi. Metode sampling yang digunakan adalah metode sistematik sampling. Pengambilan sampel dilakukan di 2 lokasi, dimana pada masing-masing lokasi ditentukan 7 titik sampling dan setiap titik sampling dilakukan 3 kali ulangan. Jarak antara satu titik sampling ke titik sampling lainnya adalah 5 meter. Kelimpahan hewan makrobenthos yang diperoleh di lokasi A adalah 54 ind/m3 dan terdiri dari 10 genera dengan nilai indeks keanekaragaman (H’) sebesar 1,06 dan nilai indeks keseragaman (e) 0,65. Kelimpahan hewan makrobenthos di lokasi B adalah 125 ind/m3 terdiri dari 14 genera dengan nilai indeks keanekaragaman (H’) sebesar 2,55 dan nilai indeks keseragaman (e) 0,96. Kesimpulan dari penelitian ini adalah daerah yang tidak terkena reklamasi memiliki kelimpahan jenis, indeks keanekaragaman dan indeks keseragaman yang lebih tinggi daripada daerah yang terkena reklamasi. The population of Indonesia is disproportionate to the available land area for various activities of the population, making the government implemented a policy to conduct land reclamation population that needs are met. Reclamation is the process of formation of new land in the coastal strip with the aim of making a watery area damaged or useless for the better and beneficial. Reclamation activities have positive and negative impacts to the aquatic ecosystem. This study aims to determine: makrobenthos animal abundance in areas that have been reclaimed and areas that have not been reclaimed and the reclamation impact on abundance animal makrobenthos in Marina Semarang. The study was conducted in December 2013 at the Marina Beach in Semarang. The method used is the method of observation. The sampling method used is the method of systematic sampling. Sampling was conducted on animals makrobenthos 2 locations, where at each sampling point locations determined 7 and each sampling point 3 replications. The distance between the sampling point to another sampling point is 5 meters. Makrobenthos abundance of animals obtained at the location A is 54 ind / m3 0.05 and consists of 10 genera of the value of diversity index (H ') of 1.06 and uniformity index value (e) 0.65. Makrobenthos abundance of animals at the site B is 125 ind / 0.05 m3 consists of 14 genera of the value of diversity index (H ') of 2.55 and uniformity index value (e) 0.96.
ANALISIS HUBUNGAN TEKSTUR SEDIMEN DENGAN BAHAN ORGANIK, LOGAM BERAT (Pb dan Cd) DAN MAKROZOOBENTOS DI SUNGAI BETAHWALANG, DEMAK Kinasih, Amanah Raras Nawang; Purnomo, Pujiono Wahyu; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.291 KB)

Abstract

Sungai Betahwalang merupakan perairan yang mendapat masukan material dan nutrient yang berasal dari kegiatan-kegiatan seperti industri rumah tangga, pertambakan, jalur pelayaran serta kegiatan pariwisata berlangsung tanpa adanya pengelolaan. Kegiatan tersebut diperkirakan berpengaruh terhadap sebaran sedimen, kandungan bahan organik, logam berat, dan kelangsungan hidup organisme di sedimen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tekstur sedimen, bahan organik, logam berat (Pb dan Cd), dan kelimpahan makrozoobentos yang terdapat pada Sungai Betahwalang. Selain itu juga untuk mengetahui hubungan antara tekstur sedimen, bahan organik, logam berat (Pb dan Cd), dan kelimpahan makrozoobentos. Metode sampling yang digunakan adalah metode purposive sampling yang dilaksanakan pada lima stasiun yang diukur selama tiga kali waktu sampling. Stasiun 1 berada didaerah pelabuhan kapal, stasiun 2 berada dilokasi yang dilewati kapal, stasiun 3 berada di pertemuan antar sungai, stasiun 4 di persimpangan sungai, dan stasiun 5 terletak di muara sungai. Hasil rata-rata konsentrasi tekstur sedimen fraksi pasir 8,65-11,53, lumpur 74,67-78,62, liat 8,17-16,62. Tekstur sedimen yang mendominasi yaitu lumpur, bahan organik yang terkandung dalam kategori sedang, logam berat (Pb dan Cd) dengan kisaran di bawah batas maksimum, dan kelimpahan makrozoobentos sebesar 86,95 – 2565,21ind/grab. Dari hasil penelitian diperoleh hubungan tekstur sedimen dengan bahan organik diduga memiliki hubungan positive adalah fraksi lumpur dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,24. Hubungan antara tekstur sedimen dengan logam berat Pb diduga memiliki hubungan positive adalah fraksi lumpur dengan nilai korelasi sebesar r = 0.03. Hubungan antara tekstur sedimen dengan logam berat Cd diduga memiliki hubungan positive adalah fraksi lumpur nilai korelasi sebesar r = 0.21. Hubungan antara tekstur sedimen dengan  kelimpahan makrozoobentos diduga memilki hubungan positive adalah fraksi lumpur dengan nilai korelasi sebesar r = 0.41. Betahwalang river is a water area that receives material and nutrient from many activities of Betahwalang estuary. The activities are home industry, aquaculture, shipping line, and tourism that continuously without a proper management., The activities is expected to affect of sedimen distribution, organic matter content,  heavy metal, and the survival of organism in the sediment. The aim of this research is to explore sediment texture, organic material, heavy metal (Pb and Cd), and macrozoobenthic abundance. We use the purposive sampling method for data collecting  at five different stations with three times of sampling. Station 1 is located at ship harbour. Station 2 is located in the area of ship track. Station 3 is located in the confluence of rivers. Station 4 is located at the intersection of rivers. And Station 5 is located at river estuary. The average concentrated results of sand, mud, and clay are 8.65-11.53, 74.67-78.62, and 8.17-16.62, respectively. Sediment texture values dominated are silt.  Organics material are in the medium category. The value of heavy metal (Pb and Cd) is less than the maximum limit. And the value of the Macrozoobenthic is in the range of 86,95 – 2565,21 ind/grab. From the results, we conclude are obtained sediment texture relationship with organic matter are thought to have a positive relationship with the sludge fraction of the value of the correlation coefficient of r = 0.24. The relationship between the texture of the sediment with heavy metals Pb is thought to have a positive relationship with the sludge fraction of the value of a correlation of r = 0:03. The relationship between the texture of the sediment with heavy metals Cd is believed to have a positive relationship sludge fraction correlation value of r = 0:21. The relationship between sediment texture with macrozoobenthic abundance is thought to have the positive relationship with the sludge fraction of the value of a correlation of r = 0:41.