Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Progress in Social Development

Changes in Production Modes and Intellectual Relations in Managing the Behavior of Oil and Gas Labors in Muara Badak District: Perubahan Mode Produksi dan Relasi Intelektual Dalam Pengaturan Prilaku Buruh Migas di Kecamatan Muara Badak Priambodo, Nalendro; Murlianti, Sri; Nanang, Martinus
Progress In Social Development Vol. 1 No. 1 (2020): January 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psd.v1i1.17

Abstract

ABSTRACT: This study aims to identify the pattern of changes in the mode of production of people who work as farmers and fishermen in Kutai Kartanegara Regency, especially Muara Badak District after the entry of the oil and gas industry in the region, and analyze how intellectual relations are in regulating the behavior of oil and gas workers along with the social, economic and political impacts. raised. This type of qualitative research uses the Grounded Theory approach. The results of this study indicate that changes in the way people produce from agriculture, plantations, and traditional fisheries in Muara Badak District have been accompanied by a mechanism for releasing social ties to land and sea through intermediary policies that are pro to the formation of industrial commodities for market interests and result in a decline in the domestic industry due to dependence. in the oil and gas industry. This dependence also gave birth to an intellectual layer and a working class that served the interests of the plantation, aquaculture and oil and gas-based industries. The process of its journey was accompanied by the emergence of various kinds of class conflicts, which gave rise to types of organic intellectuals who tried to fight back against the exploitation that occurred. ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasikan pola perubahan mode produksi masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan di Kabupaten Kutai Kartanegara, khususnya Kecamatan Muara Badak setelah masuknya industri migas di wilayah tersebut dan menganalisis bagaimana relasi intelektual dalam pengaturan prilaku buruh migas beserta dampak sosial, ekonomi dan politik yang ditimbulkan. Jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan Grounded Theory. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perubahan cara masyarakat berproduksi dari pertanian, perkebunan dan perikanan tradisional di Kecamatan Muara Badak ikut dibarengi dengan mekanisme pelepasan ikatan sosial dengan tanah dan laut melalui perantara kebijakan yang pro terhadap pembentukan komoditas industri untuk kepentingan pasar serta mengakibatkan kemunduran industri domestik akibat ketergantungan pada industri migas. Ketergantungan ini juga melahirkan lapisan intelektual dan kelas buruh yang mengabdi pada kepentingan industri berbasis perkebunan, pertambakan dan migas. Dalam proses perjalalanannya juga dibarengi dengan kemunculan berbagai macam konflik kelas sehingga memunculkan jenis intelektual organik yang berusaha melakukan perlawanan balik terhadap eksploitasi yang terjadi.
Reggae Music Community Practice in The City of Bontang (Descriptive Study of Bontang Reggae Community): Praktik Komunitas Musik Reggae di Kota Bontang (Studi Deskriptif Bontang Reggae Community) Syafa, Muhammad Fachmi; Murlianti, Sri
Progress In Social Development Vol. 1 No. 2 (2020): July 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psd.v1i2.21

Abstract

ABSTRACT: This study describes the practice of social life in the field of music in the city of Bontang, based on a sociological perspective using the generative formulation of the theory of Pierre Bourdieu (Habitus x Modal) + Ranah = Practice. This shows that the existence of the Bontang Reggae Community has produced several groups consisting of Reggae Grill, Slow Reggae, and Reggae Vibe groups as actors who practice in the realm of reggae music. This group was formed because of the different knowledge and understanding in the field of reggae music as a realm of space for social life, which then produced various habitus according to the realm of music in each group. Also, the existence of each group has been supported by the existence of a classification of capital which according to Bourdieu consists of four fundamental capitals including material capital, social capital, cultural capital, and symbolic capital. The three groups produce a practice resulting from dialectical relations through habitus-modal interactions in different and prominent domains of reggae music. The Reggae Grill group produces practices that come from symbolic capital, and circular habitus or the use of Cannabis, then the Slow Reggae group produces modern music practices that come from material capital and cultural capital, and the Reggae Vibe group produces solidarity practices that come from cultural capital and capital. symbolic, as well as group habitus. ABSTRAK: Penelitian ini menggambarkan praktik kehidupan sosial masyarakat pada bidang seni musik di kota Bontang, berdasarkan perspektif sosiologi dengan menggunakan rumusan generatif teori Pierre Bourdieu (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik. Menunjukkan bahwa keberadaan Bontang Reggae Community telah melahirkan beberapa kelompok yang terdiri dari kelompok Reggae Grill, Slow Reggae, dan Reggae Vibe sebagai aktor yang melakukan praktik dalam ranah kehidupan seni musik reggae. Kelompok ini terbentuk karna adanya pengetahuan dan pemahaman yang berbeda-beda di bidang seni musik reggae sebagai ranah atau ruang kehidupan sosial, yang kemudian menghasilkan berbagai habitus sesuai dengan ranah musik pada masing-masing kelompok. Selain itu, keberadaan setiap kelompok telah didukung dengan adanya klasifikasi modal yang menurut Bourdieu terdiri dari keempat modal fundamental diantaranya adalah, modal material, modal sosial, modal kultural, dan modal simbolik. Ketiga kelompok tersebut menghasilkan sebuah praktik yang dihasilkan dari hubungan dialektis melalui interaksi habitus-modal dalam ranah musik reggae yang berbeda dan menonjol. Kelompok Reggae Grill menghasilkan praktik yang bersumber dari modal simbolik, dan habitus melingkar atau penggunaan Cannabis, kemudian kelompok Slow Reggae menghasilkan praktik musik modern yang bersumber dari modal material dan modal budaya, serta kelompok Reggae Vibe menghasilkan praktik solidaritas yang bersumber dari modal budaya, dan modal simbolik, serta habitus berkelompok.
Social Hermeneutics Study On the Meaning of Jihad by Students of Mulawarman University: Studi Hermeneutika Sosial Tentang Makna Jihad Menurut Mahasiswa Universitas Mulawarman Saputra, Langgeng; Murlianti, Sri; Nanang, Martinus
Progress In Social Development Vol. 2 No. 1 (2021): January 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psd.v2i1.23

Abstract

ABSTRACT: Jihad has been an integral part of Islamic discourse from its early days until today. This research was conducted to determine variations in the meaning of jihad that developed in Mulawarman University students. I use Paul Ricoeur's theory of Social Hermeneutics to explain how the process of interpreting meaning from a text. Ricoeur views that text has a life of its own regardless of the author's intention or intent (text autonomy). In interpreting the text, Ricoeur also argues that understanding and explanation are not two contradictory methods of interpreting the text. The workings of Paul Ricoeur's social hermeneutics include three factors, namely the world of text, the world of presenters, and the world of readers, whereas in this paper there are only two factors, namely the world of text and the world of readers. Jihad in al-Qur'an is repeated 41 times in 23 verses and by Ibn Al-Qayyim it is divided into four meanings, namely jihad against lust, jihad against Satan, jihad against infidels, and hypocrites, and jihad against injustice and wickedness. Meanwhile, readers only divide jihad into two meanings, namely jihad against lust and war jihad. In the process of interpreting, readers are greatly influenced by the trajectories of life that they have been through. This can be seen from the many meanings of jihad they express, namely war, defending, doing good, effort/strength, being serious, preaching, and enthusiasm. ABSTRAK: Jihad merupakan bagian integral wacana Islam sejak masa awal kedatangannya hingga sampai saat ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variasi makna jihad yang berkembang pada Mahasiswa Universitas Mulawarman. Teori Paul Ricouer tentang Hermenutika Sosial saya gunakan untuk menjelaskan tentang bagaimana proses menafsir sebuah makna dari sebuah teks. Ricouer berpandangan bahwa teks memiliki kehidupannya sendiri terlepas dari intensi atau maksud pengarang (otonomi teks). Dalam menginterpretasi teks, Ricoeur juga berpendapat bahwa pemahaman dan penjelasan bukanlah dua metode yang bertentangan dalam menafsirkan teks. Cara kerja hermenutika sosial Paul Ricoeur mencakup tiga faktor yaitu dunia teks, dunia pemateri dan dunia pembaca sedangkan dalam tulisan ini hanya ada dua faktor yaitu dunia teks dan dunia pembaca. Jihad dalam al-Qur’an terulang 41 kali dalam 23 ayat dan oleh Ibn Al-Qayyim dibagi menjadi empat makna, yakni jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, jihad memerangi kaum kafir dan kaum munafik serta jihad melawan kezaliman dan kefasikan. Sedangkan pembaca hanya membagi jihad dalam dua makna yakni jihad melawan hawa nafsu dan jihad perang. Dalam proses penafsirannya, pembaca sangat dipengaruhi oleh trajektori kehidupan yang mereka pernah lalui. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya makna jihad yang mereka ungkapkan, yaitu perang, membela, melakukan kebaikan, usaha/kekuatan, bersungguh-sungguh, dakwah serta semangat.
EXPERIENCES OF PARENTS WITH AUTISM AT THE AUTISM SERVICE CENTER IN BONTANG CITY: PENGALAMAN-PENGALAMAN ORANG TUA PENYANDANG AUTISME DI PUSAT LAYANAN AUTIS KOTA BONTANG Tsania Rahmatina Alya; Sri Murlianti
Progress In Social Development Vol. 5 No. 1 (2024): January 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psd.v5i1.77

Abstract

Kota Bontang menjadi kota yang sangat kuat memperhatikan layanan terhadap anak-anak autis diantara kota-kota yang berada di Kalimantan Timur. Terdapat 5 Autis Center di Kota ini dengan layanan yang memadai. Tahun 2023, Dinas Kesehatan setempat mencatat ada 13 anak autis, akan tetapi diperkirakan kasus autisme di Bontang menyentuh angka 100-150 anak. Tingginya autisme di Bontang, diperkirakan akibat dari kepungan industri yang berpotensi menimbulkan dampak pada penurunan kualitas udara dan memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat, sehingga kasus ini perlu adanya perhatian khusus dari berbagai kalangan. Bagi orang tua dengan anak autis dihadapkan berbagai tantangan serta beban selama pengasuhan menghadapi tekanan-tekanan sosial baik dari lingkungan keluarga, sekolah anak dan lingkungan luar. Artikel ini menggambarkan pengalaman-pengalaman orang tua dalam merawat anak autis. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 5 orang tua anak penyandang autis dan beberapa terapis di sebuah pusat layanan anak autis di Bontang. Para orang tua penyandang Autis mendapatkan dukungan formal yang cukup kuat dinas terkait, terutama pada proses pendidikan dan layanan terapi di pusat layanan autis milik pemerintah. Namun di sisi lain, para orang tua mengalami berbagai tantangan saat merawat mereka di rumah, saat harus menghadapi tekanan keluarga maupun lingkungan luar.