Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Keanekaragaman Vegetasi Tumbuhan bawah pada tegakan Jati (Tectona grandis Linn.) di RPH Ciporos Ody Febri Widiyanto; Dwi Nugroho Wibowo; Hexa Apriliana Hidayah
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 3 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.2926

Abstract

Abstract: The undergrowth can be used to describe soil conditions that can be seen clearly in the field, because it can increase soil stability, soil fertility and increase land productivity. The purpose of this study was to determine diversity of undergrowth vegetation in teak stands (Tectona grandis Linn.) and environmental factors related to the diversity of undergrowth on teak stands at Ciporos RPH, BKPH Sidareja, KPH Banyumas Barat, Central Java. The research method used was a survey method by sampling using line transects. Data on vegetation diversity of undergrowth were analyzed using Shannon-Wiener diversity index (H ') while the vegetation evenness data was analyzed using Evenness Index (E'). To determine the relationship between environmental factors and undergrowth use Paleontological Statistics (PAST) software analysis. The results showed that the lower ground species found in the Ciporos RPH consisted of 8 species from 7 families. The undergrowth species that has the highest Importance Value Index (INP) is Paspalidium flavidum (Paspalum grass) of the Gramineae family (Poaceae) with 69.21% INP and the lowest is Arum maculatum (Arum flower) of the Araceae family with an INP of 1.38 %. The diversity of undergrowth vegetation in teak stands in RPH Ciporos has a Diversity Index (H ') including moderate and the pattern of distribution of undergrowth species is classified as low. The most environmental factor related to the diversity of u undergrowth vegetation is soil pH. Key Words: diversity; RPH Ciporos; undergrowth Abstrak: Tumbuhan bawah dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan tanah yang dapat dilihat secara nyata di lapangan, karena dapat meningkatkan kestabilan tanah, kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas lahan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui keanekaragaman vegetasi tumbuhan bawah pada tegakan jati (Tectona grandis Linn.) dan faktor lingkungan yang berkaitan dengan keanekaragaman tumbuhan bawah pada tegakan jati pada RPH Ciporos, BKPH Sidareja, KPH Banyumas Barat Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan cara pengambilan sampel menggunakan line transect. Data keanekaragaman vegetasi tumbuhan bawah dianalisis menggunakan Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) sedangkan data kemerataan tumbuhan bawah dianalisis menggunakan Indeks Kemerataan (E’). Untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan dan tumbuhan bawah digunakan analisis Software Paleontological Statistics (PAST). Hasil penelitian menunjukan bahwa spesies tumbahan bawah yang ditemukan di RPH Ciporos terdiri atas 8 spesies dari 7 famili. Spesies tumbuhan bawah yang memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi yaitu Paspalidium flavidum (Rumput Paspalum) dari familia Gramineae (Poaceae) dengan INP 69,21% dan yang terendah yaitu Arum maculatum (Bunga Arum) dari familia Areceae dengan INP Sebanyak 1,38%. Keanekaragaman vegetasi tumbuhan bawah pada tegakan jati di RPH Ciporos memiliki Indeks Keanekaragaman (H’) termasuk sedang dan pola penyebaran spesies tumbuhan bawah tergolong rendah. Faktor lingkungan paling berkaitan dengan keanekaragaman vegetasi tumbuhan bawah yaitu pH tanah. Kata kunci: keanekaragaman vegetasi; RPH Ciporos; tumbuhan bawah
Komposisi Vegetasi Gulma pada Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) di Perkebunan Tebu Puslitagro Jatitujuh Majalengka Annisa Mutiara Rizki; Dwi Nugroho Wibowo; Wiwik Herawati
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.77 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1822

Abstract

Perkebunan tebu Pusat Penelitian Agronomi (Puslitagro) Jatitujuh Majalengka merupakan salah satu perkebunan tebu yang ditanami tebu lahan kering. Gulma adalah masalah utama yang dihadapi pada budidaya tebu lahan kering. Kehadiran gulma akan mempersulit pemeliharaan dan panen serta menurunkan kualitas penebangan tebu, baik yang dilakukan secara manual maupun mekanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan keanekaragaman spesies gulma di daerah perkebunan tebu Puslitagro Jatitujuh Majalengka sebagai dasar dalam pengendalian gulma dan mengetahui faktor-faktor lingkungan abiotik di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, keanekaragaman spesies gulma di Perkebunan Tebu Pusitagro Jatitujuh Majalengka terdapat 46 spesies yang termasuk dalam 16 familia. Kemerataan gulma tergolong tinggi, dari data yang didapat masing-masing area lebih dari satu. Area Kidang Kencana Timur (1,94) tergolong tinggi, area Kidang Kencana Tengah (1,89) tergolong tinggi, dan area Rancabugang (1,83) tergolong tinggi. Keanekaragaman spesies gulma tertinggi terdapat pada area Kidang Kencana Timur (3,15) dengan suhu udara 32°C, kelembaban tanah 75%, dan pH tanah 7,1
Keberlanjutan Usahatani Kopi Arabika Pada Lahan Miring Di Kecamatan Pagentan Kabupaten Banjarnegara Makhmud Riyad; Dyah Ethika Noehdijati; Dwi Nugroho Wibowo
Jurnal READ (Research of Empowerment and Development) Vol 1 No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.read.2020.1.1.2387

Abstract

Sloping land in the highlands is dominated by annual crops, especially vegetables. The practice of vegetable cultivation by farmers has not fully paid attention to the principles of conservation so as to accelerate the process of land degradation. Arabica coffee farming is an alternative to seasonal crops on sloping land towards sustainable agriculture. Agroecological coffee farming can increase economic value while maintaining the environment. The development of Arabica coffee farming in Pagentan District, Banjarnegara Regency continues to increase from year to year. The sustainability of Arabica coffee farming is inseparable from the ecological, social and economic dimensions. The sustainability assessment of Arabica coffee farming is based on local characteristics. The sustainability of Arabica coffee farming in Pagentan District is currently in a fairly sustainable status with a sustainability index value of 66.07. The highest value of the sustainability index is the social dimension (74.58), followed by the ecological dimension (69.05) and the economic dimension (54.57).
Penguatan Moderasi Beragama melalui Forum Persaudaraan Lintas Iman (Forsa) Kabupaten Banyumas pada Masa Pandemi Covid 19 Muhamad Riza Chamadi; Dwi Nugroho Wibowo; A Ilalqisni Insan; Musmuallim Musmuallim; Ahmad Yusuf Prasetiawan
Solidaritas: Jurnal Pengabdian Vol. 1 No. 1 (2021): Solidaritas: Jurnal Pengabdian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.384 KB) | DOI: 10.24090/sjp.v1i1.4970

Abstract

Sebagian kelompok memanfaatkan ketertarikan remaja terhadap pendalaman agama di masa Pandemi Covid-19 untuk mendoktrin paham radikal dan intoleran. Moderasi beragama merupakan konsep ajaran yang memuat nilai-nilai toleransi beragama dan mereduksi maraknya intoleransi dan ekstremisme beragama. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman moderasi beragama bagiremaja lintas iman melalui Forum Persaudaraan Lintas Iman (Forsa)  Banyumas.  Pengabdian masyarakat dilakukan dengan metode edukasi masyarakat melalui metode workshop dan praktik lapangan.  Kegiatan pengabdian berlangsung dalam delapan sesi yang secara umum terdiri dari sesi pre-test dan perkenalan, sesi workshop, erta sesi praktik lapangan dan orasi media elektronik. Sesi workshop berisi pemberian materi tentang kebhinekaan, moderasi beragama, kasus-kasus intoleransi di Indonesia, dan cerdas dalam bermedia sosial. Sesi ketujuh berbentuk praktik moderasi dengan membagikan masker dan sembako untuk para pengelola tempat ibadah di Banyumas dan masyarakat kecil terdampak Covid-19. Sesi kedelapan berupa orasi pesan moderasi melalui radio Rama FM. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan peningkatan pemahaman moderasi beragama peserta dari skala medium menjadi skala tinggi. Praktik lapangan menunjukkan antusiasme peserta dalam merawat kebhinekaan melalui aksi nyata di lingkungan masyarakat yang majemuk.   The young generation of the millennial era is a generation that has the challenges of digital modernization, especially in maintaining religious harmony. The rise of the social media context tends to be intolerant, contains hate speech, and hoaxes that can be easily accessed by the younger generation can create a character of intolerance and radicalism in the Pandemic Covid-19 situations. To overcome this problem, the General Soedirman University Community Service team partnered with the Banyumas Interfaith Brotherhood Forum (Forsa) to organize digital media literacy workshops and religious moderation practices in the community. The method used is public education. The form of the activity consisted of eight sessions, namely pre-test, the material on diversity, the material on religious moderation, the material on religious phenomena on social media, training on digital literacy media content analysis, post-test, reflection on restraint through field practice, and moderation oration via on-air radio media. The result of this activity is an increase in participants' understanding and skills in understanding religious diversity and sorting good content on social media.