Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

FAKTOR STATUS PEMBUDIDAYA, KONDISI, DAN PENGELOLAAN TAMBAK YANG BERPENGARUH TERHADAP PRODUKSI RUMPUT LAUT (Gracilaria verrucosa) DI TAMBAK TANAH SULFAT MASAM KABUPATEN LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN Erna Ratnawati; Akhmad Mustafa; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1080.303 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.275-287

Abstract

Tambak di Kabupaten Luwu Utara umumnya tergolong tanah sulfat masam dan banyak digunakan untuk budidaya rumput laut (Gracilaria verrucosa) dengan produksi yang tinggi. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui faktor status pembudidaya, kondisi, dan pengelolaan tambak yang mempengaruhi produksi rumput laut. Metode penelitian yang diaplikasikan adalah metode survai untuk mendapatkan data primer dari produksi, status pembudidaya, dan pengelolaan tambak yang dilakukan melalui pengajuan kuisioner kepada responden secara terstruktur, sedangkan kondisi tambak ditentukan melalui pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan. Sebagai peubah tidak bebas adalah produksi dan peubah bebas adalah faktor status pembudidaya yang terdiri atas 10 peubah, kondisi tambak yang terdiri atas 12 peubah, dan pengelolaan tambak yang terdiri atas 26 peubah. Analisis regresi berganda dengan peubah boneka digunakan untuk memprediksi produksi rumput laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi aktual rata-rata rumput laut di tambak tanah sulfat masam sebesar 7.821 kg/ha/tahun dengan prediksi produksi sebesar 23.563 kg kering/ha/tahun. Produksi rumput laut dapat ditingkatkan melalui: peningkatan pengalaman pembudidaya tambak, penambahan jumlah pintu air, tambak dibuat dengan bentuk bujur sangkar atau empat persegi panjang dengan luasan tambak tidak terlalu luas serta peningkatan lama pengeringan tanah dasar tambak, padat penebaran ikan bandeng, dosis kapur dan dosis pupuk Urea, SP-36, KCl, dan Za sebagai pupuk dasar.Brackishwater pond in North Luwu Regency, generally as classified as acid sulfate soils and most of them was used for culturing seaweed (Gracilaria verrucosa) with high productivity. Hence, it was conduct research that aim to know the effect of farmer status, condition, and management of pond on the seaweed production. Survey method was applied to find primary data of seaweed production, farmer status and pond management, while pond condition was determined through observation or measurement in the field. As a dependent variable in this research is seaweed production. Independent variable was grouped into: (a) farmer status factor, consist of 10 variables; (b) pond condition factor, consist of 12 variables; and (c) pond management factor, consist of 26 variables. Multiple regression with dummy variable was used to analyse the data in prediction dependent variable. Results show that average of seaweed actual production in ASS-affected pond of Luwu Utara Regency is 7,821 kg dry/ha/year with prediction product is 23,563 kg dry/ha/year. Seaweed production can be increased through: (a) increasing the experience of farmers pond, (b) increasing number of water gate and pond was make in rectangle or rectangular shape with it is not large of area, (c) increasing duration of bottom drying and stocking density of milkfish, and (d) increasing dosage of lime and Urea, SP-36, KCl and ZA as initiating fertilizer.
PEMILIHAN LOKASI BUDI DAYA IKAN, RUMPUT LAUT, DAN TIRAM MUTIARA YANG RAMAH LINGKUNGAN DI KEPULAUAN TOGEAN, SULAWESI TENGAH Utojo Utojo; Abdul Mansyur; Akhmad Mustafa; Hasnawi Hasnawi; Abdul Malik Tangko
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.964 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.3.2007.303-318

Abstract

Sumber daya lahan perikanan pesisir di Sulawesi Tengah yang potensial untuk pengembangan budi daya laut berada di Teluk Tomini, namun demikian belum diperoleh data secara rinci kelayakannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kelayakan lokasi bagi pengembangan budi daya di perairan Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah dan penelitiannya dilaksanakan dengan metode survai. Pengumpulan data sekunder meliputi data iklim, pasang surut, produksi perikanan, peta rupa bumi Indonesia kawasan Tojo Una-Una skala 1:25.000, peta citra landsat7ETM digital, dan peta navigasi (batimetri) skala 1:200.000 yang dilakukan sebelum pelaksanaan survai. Data primer diperoleh melalui pengukuran langsung di lapang yang meliputi topografi pantai, keterlindungan, oseanografi, dan biologi. Seluruh lokasi pengambilan contoh ditentukan posisinya dengan Global Positioning System (GPS) dan data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Dari hasil penelitian ini telah diidentifikasi sumber daya lahan perikanan pesisir yang potensial dikembangkan dan dinilai layak untuk kegiatan budi daya laut yaitu seluas 1.601,3 hektar. Lokasi yang potensial dikembangkan untuk budi daya ikan dalam keramba jaring apung (KJA) terdapat di sekitar Kepulauan Siatu 365,2 hektar; Kepulauan Salaka 385,8 hektar; dan Pulau Kadidiri 270,9 hektar. Sedangkan lokasi yang potensial dikembangkan untuk budi daya rumput laut dan tiram mutiara terdapat di sekitar Pulau Huo dan Bungin 579,4 hektar. Seluruh lokasi tersebut ditampilkan dalam peta prospektif skala 1:50.000.Central Sulawesi had coastal resources which are potential to be developed for mariculture i.e Tomini Bay, however the scientific data support was unavailable. This study was conducted by survey method to find out suitable location to be developed for mariculture in Togean Archipelago, Tojo Una-Una Regency, Central Sulawesi. Secondary data such as wheather, tidal plate, coastal fisheries production, Indonesia earth surface map of scale 1:50,000, citra land sat-7ETM digital product, and navigation map of scale 1:200,000 were collected before the study. The primary data was collected from each study areas and interpreted as mariculture requirement for several domesticated species i.e. fish, seaweed, and mollusca. Tematic map of area, suitability as the main expected out put of the study was made through spatial analysis and GIS as suggested by reference. The total potential areas which were suitable for mariculture development  are 1,601.3 hectares, namely either for fish culture in floating net cage (1,021.9 hectares), seaweed and pearl oysters (579.4 hectares) were distribution in the sea waters of Siatu, Salaka, Kadidiri, Huo, and Bungin island.
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG DI PERAIRAN PESISIR KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT Hasnawi Hasnawi; Akhmad Mustafa; Mudian Paena
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.017 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.157-167

Abstract

Perairan pesisir Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat merupakan perairan yang potensial untuk budidaya laut. Namun demikian belum ada data dan informasi kesesuaian lahan untuk budidaya laut termasuk budidaya ikan dalam keramba jaring apung (KJA) di perairan tersebut. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan kesesuaian lahan di perairan pesisir Kabupaten Mamuju untuk budidaya ikan dalam KJA yang diharapkan juga dapat menjadi acuan dalam penentuan tata ruang wilayah pesisir. Metode survai diaplikasi pada wilayah pesisir Kabupaten Mamuju, mulai dari perbatasan Kabupaten Majene di bagian selatan sampai perbatasan Kabupaten Mamuju Utara di utara. Kualitas air perairan yang diukur adalah: pH, salinitas, kecepatan arus, arah arus, kecerahan, kedalaman, nitrat, fosfat, dan besi. Data lainnya diperoleh dari hasil ekstrak citra ALOS AVNIR-2 akuisisi 28 Juli 2009. Analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografis digunakan dalam penentuan kesesuaian lahan untuk budidaya ikan dalam KJA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi yang sesuai untuk budidaya ikan dalam KJA di Kabupaten Mamuju tersebar di Pulau Karampuang, Perairan Kalukku, Pulau Bakengkeng, Perairan Papalang, Pulau Kambunong, dan Tanjung Dapurang. Untuk pengembangan kegiatan budidaya ikan dalam KJA yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, hanya sekitar 10% dari potensi perairan pesisir yang secara efektif dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya ikan dalam KJA di perairan Kabupaten Mamuju yaitu 698,18 ha yang terdiri atas sangat sesuai seluas 133,18 ha; cukup sesuai 512,41 ha dan kurang sesuai 52,59 ha
VALIDASI DATA LUAS LAHAN BUDIDAYA TAMBAK DI KABUPATEN MAROS DAN PANGKEP PROVINSI SULAWESI SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Akhmad Mustafa; Utojo Utojo; Hasnawi Hasnawi; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1910.577 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.3.2006.419-430

Abstract

keberhasilan budidaya tambak udang windu di awal tahun 1990-an menyebabkan terjadinya pertambahan luas tambak yang cukup besar di Sulawesi Selatan termasuk Kabupaten Maros dan Pangkep
DESAIN, TATA LETAK, DAN KONSTRUKSI TAMBAK Akhmad Mustafa
Media Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1124.947 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.2.2008.166-174

Abstract

Komoditas yang umum dibudidayakan di tambak Indonesia adalah udang dan ikan bandeng yang menjadi komoditas unggulan untuk dikembangkan. Salah satu faktor penting yang sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya tambak adalah rekayasa tambak yang mencakup disain, tata letak, dan konstruksi tambak. Secara umum, desain petakan tambak merupakan perencanaan bentuk tambak yang meliputi: ukuran panjang dan lebar petakan, kedalaman, ukuran pematang, ukuran berm, dan ukuran saluran keliling, serta ukuran dan letak pintu air. Tata letak suatu unit tambak harus memenuhi tujuan seperti: menjamin kelancaran mobilitas operasional sehari-hari, menjamin kelancaran dan keamanan pasok air, serta pembuangannya, dapat menekan biaya konstruksi tanpa mengurangi fungsi teknis dari unit tambak yang dibangun dan mempertahankan kelestarian lingkungan. Konstruksi tambak yang menggambarkan proses pengerjaan tambak harus disesuaikan dengan desain dan tata letak yang telah ada. Rekayasa tambak diarahkan pada kemampuan untuk menciptakan kondisi yang sesuai dengan keadaan alami yang dituntut oleh organisme akuatik yang dibudidayakan sehingga produktivitas tambak meningkat, efisien secara ekonomis, dan berkelanjutan.
PENENTUAN LUAS, POTENSI DAN KESESUAIAN LAHAN TAMBAK DI SULAWESI SELATAN MELALUI PEMANFAATAN DATA SATELIT PENGINDERAAN JAUH Akhmad Mustafa; Tarunamulia Tarunamulia
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.576 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.93-103

Abstract

Sulawesi Selatan merupakan salah satu sentra produksi budidaya tambak dan memiliki tambak terluas di Indonesia. Selain itu, Sulawesi Selatan juga masih memiliki potensi lahan untuk pengembangannya. Sejak beberapa tahun terakhir, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau telah melaksanakan berbagai kegiatan yang terkait dengan sumberdaya lahan tambak dalam upaya peningkatan produktivitas tambak yang berkelanjutan. Hasil analisis data citra satelit penginderaan jauh (inderaja) dan atau radar yang dikombinasikan dengan sistem informasi geografis telah dimanfaatkan dalam kegiatan yang berhubungan dengan sumberdaya lahan untuk budidaya tambak. Data ini dimanfaatkan dalam penentuan luas lahan tambak yang ada, potensial lahan tambak dan kesesuaiannya di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan.
HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN PRODUKTIVITAS TAMBAK UNTUK RUMPUT LAUT (Gracilaria verrucosa) DI PANTAI TIMUR PROVINSI SULAWESI SELATAN Akhmad Mustafa
Media Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (Juni 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1093.966 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.1.2010.38-46

Abstract

Di pantai Timur Provinsi Sulawesi Selatan dijumpai tambak yang lebih luas dibandingkan dengan tambak di pantai Barat dan pantai Selatan. Tambak di pantai timur Sulawesi Selatan umumnya digunakan untuk budidaya rumput laut (Gracilaria verrucosa) dengan kualitas dan kuantitas produksi yang tergolong tinggi. Informasi mengenai hubungan antara faktor lingkungan tambak (kualitas tanah dan kualitas air) dengan produktivitas tambak untuk budidaya rumput laut di pantai Timur Sulawesi Selatan menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini. Produktivitas tambak untuk rumput laut di pantai Timur Sulawesi Selatan berkisar antara 150 dan 40.909 dengan rata-rata 7.187 kg kering/ha/tahun. Produktivitas tambak untuk rumput laut yang lebih tinggi di pantai Timur Sulawesi Selatan didapatkan pada tanah dengan pHF lebih besar 6,5; pHFOX lebih besar 4,0; pHF-pHFOX kurang dari 2,5; dan SPOS kurang dari 1,00%. Kandungan Fe tanah yang melebihi 5.000 mg/L dan Al yang melebihi 490 mg/L menyebabkan penurunan produktivitas tambak untuk rumput laut. Peningkatan kandungan PO4 tanah lebih besar dari 6,0 mg/L dapat meningkatkan produktivitas tambak untuk rumput laut secara nyata. Produktivitas tambak untuk rumput laut tertinggi didapatkan pada salinitas 25,6 ppt dan oksigen terlarut 8,39 mg/L dan tumbuh baik pada kisaran pH antara 6,00 dan 9,32; suhu antara 26,00°C dan 37,86°C; fosfat lebih besar 0,1000 mg/L; dan besi kurang dari 0,1000 mg/L di pantai Timur Sulawesi Selatan.
KERAGAAN BUDIDAYA TAMBAK DI SULAWESI SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA SENSUS Akhmad Mustafa; Irmawati Sapo; Mudian Paena
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1726.134 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.153-161

Abstract

Data sensus yang runut waktu dari perikanan budidaya tambak telah tersedia yang diharapkan dapat digunakan semaksimal mungkin agar dapat memberikan informasi yang maksimal pula. Oleh karena itu, dilakukan suatu kegiatan yang memanfaatkan data runut waktu dari perikanan budidaya tambak di Sulawesi Selatan untuk menginformasikan keragaan budidaya tambak termasuk daya dukung ekonomis tambak. Data yang digunakan adalah data yang berasal dari Laporan Statistik Perikanan Sulawesi Selatan dari tahun 1985 sampai 2004. Keragaan budidaya tambak yang diinformasikan meliputi: perubahan luas, produksi dan produktivitas tambak pada tiga pantai yang berbeda di Sulawesi Selatan serta produksi berdasarkan kelompok komoditas. Analisis daya dukung ekonomis tambak ditentukan dengan metode analisis regresi polinomial. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa luas tambak di Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat) meningkat dari 64.741 ha pada tahun 1985 menjadi 111.425 ha pada tahun 2004. Produksi total tambak tertinggi pada tahun 1985 didapatkan di pantai barat yang mencapai 26.323,9 ton yang didominasi oleh ikan dan pada tahun 2004 didapatkan di pantai timur yang mencapai 66.294,1 ton yang didominasi oleh rumput laut. Produktivitas tambak tertinggi pada tahun 1985 didapatkan di pantai barat yaitu 772,2 kg/ha/tahun dan pada tahun 2004 didapatkan di pantai timur yaitu 7.127,6 kg/ha/tahun. Lahan Kabupaten Pinrang yang merupakan sentra produksi tambak di Sulawesi Selatan, hanya bisa mendukung luas total tambak sekitar 13.136 ha dan daya dukung ekonomis tambak hanya bisa memproduksi udang dan ikan sekitar 1.286 kg/ha/tahun.
PELESTARIAN SUMBER DAYA TERIPANG MELALUI RESTOCKING DAN BUDI DAYA DI SULAWESI SELATAN Abdul Malik Tangko; Akhmad Mustafa
Media Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (Juni 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (953.728 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.1.2008.70-76

Abstract

Teripang pasir (Holothuria scabra) merupakan salah satu komoditas ekspor dari sektor perikanan yang sudah menurun produksi dan kelestarian sumber dayanya. Hal ini ditandai semakin kurangnya hasil tangkapan dan semakin kecilnya ukuran teripang yang tertangkap. Untuk meningkatkan produksi dan mempertahankan kelestariannya, perlu dilakukan upaya restocking dan budidaya di tambak. Restocking dilakukan dengan menebar benih teripang dari panti benih ke perairan dengan tujuan untuk memperkaya stok populasi teripang tersebut, sedangkan budidaya teripang di tambak, seperti di tambak tanah sulfat masam yang berasosiasi tanah gambut adalah selain bertujuan untuk meningkatkan produksi teripang, juga untuk meningkatkan produktivitas tambak tersebut yang selama ini kurang dimanfaatkan oleh pemiliknya oleh karena tingkat produktivitasnya sangat rendah bila digunakan untuk budidaya udang. Padahal jenis tambak semacam ini cukup luas di Sulawesi Selatan. Dasar pertimbangan untuk pengembangan budidaya teripang pasir di tambak sulfat masam yang berasosiasi tanah gambut adalah hasil temuan di lapangan di mana teripang pasir yang terikut pada saat panen ikan bandeng dan rumput laut mencapai bobot 300--500 g/ekor. Untuk keberhasilan budidaya teripang pasir di tambak tersebut teknik budidaya yang diaplikasikan antara lain padat penebaran 3--5 ekor/m2, pemberian pakan berupa klekap, dedak halus dicampur kotoran ayam dengan dosis dari bobot total biomassa di samping melakukan pemupukan awal dan susulan untuk menumbuhkan pakan alami berupa klekap dan plankton yang merupakan makanan utama bagi teripang. Untuk menjaga kestabilan kualitas air selama pemeliharan dilakukan penggantian air secara teratur mengikuti pola pasang surut.
KARAKTERISTIK DAN KELAYAKAN LAHAN BUDI DAYATAMBAK DI KECAMATAN SAMPARA, KABUPATEN KENDARI, PROVINSI SULAWESI TENGGARA Akhmad Mustafa; Tarunamulia Tarunamulia; Adi Hanafi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9725.529 KB) | DOI: 10.15578/jppi.10.2.2004.1-13

Abstract

Tujuan studi ini adalah untuk karakteristik dan kelayakan lahan Sampara, Kabupaten Kendari, Provinsi Sulawesi tenggara. Karakteristik lahan yang di amati meliputi kualitas tanah dan air serta vegetasi dominan. Peubah yang digunakan adalah peubah kualitas tanah yang merupakan peubah penting untuk tanah suliat masam dan melalui aplikasi sistem Informasi Geografis (slG) untuk menentukan kelayakan lahan untuk budi daya tambak.