Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Analisis Volume Sedimen yang Mengendap Setelah T-Tahun Waduk Beroperasi (Studi Kasus: Waduk Cirata) Welstien Herma Tatipata; Indratmo Soekarno; Arwin Sabar; Sri Legowo
Jurnal Teknik Sipil Vol 22 No 3 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2015.22.3.7

Abstract

Abstrak. Indonesia mempunyai dua musim dalam satu tahun yaitu musim hujan dan musim kemarau, Agar persediaan air dapat dimanfaatkan secara optimal baik di musim penghujan maupun di musim kemarau, dilakukan sistem pengoperasian waduk, Waduk dapat juga dimanfaatkan untuk pengairan, pembangkit tenaga listrik, pariwisata, pengendali sungai dan banjir, Dalam melestarikan waduk, masalah erosi dan sedimentasi yang akan memenuhinya, dikhawatirkan tidak akan mencapai umur waduk yang direncanakan.Penelitian dilakukan di Waduk Cirata yang berada pada dalam Wilayah Sungai Citarum, Provinsi Jawa Barat yang meliputi sebagian dari tiga wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Bandung, Purwakarta dan Cianjur. Metode pengumpulan data meliputi data Primer dan data sekunder yang dikumpulkan dari PT Pembangkitan Jawa Bali Badan Pengelola Waduk Cirata Cirata, Hasil Kesimpulan adalah dengan masuknya sedimentasi ke dalam waduk akan mengakibatkan pengendapan dan pendangkalan yang akan mempengaruhi kapasitas tampung waduk juga semakin lama waduk beroperasi, maka semakin banyak sedimen yang mengendap didalam waduk, perbandingan antara volume sedimen yang mengendap setelah 10 tahun dan setelah 200 tahun adalah 10215287,18 m3 dan 193953499,6 m3, setelah menganalisis volume sedimen yang mengendap setelah T-tahun pada waduk yang beroperasi maka akan dipikirkan rencana umur wadukselanjutnya.Abstract. Indonesia has two seasons of the year: the rainy season and the dry season, So that the water supply can be optimally used both in the rainy season and dry season, made the operating system of reservoirs. Reservoirs can also be used for irrigation, power generation, tourism, controllers rivers and floods, in preserving the reservoir, the problem of erosion and sedimentation will comply, it is feared will not reach the age of the planned reservoir. The study was conducted in Cirata located on the CRB, West Java Province that covers most of the three districts namely Regency Bandung, Purwakarta and Cianjur. Methods of data collection includes data Primary and secondary data collected from PT Generation Java Bali Cirata Cirata Basin Management Board, Results The conclusion is by the entry of sediment into the reservoir will result in sedimentation and silting that would affect the capacities of reservoirs also the longer the dam operates, the more sediment that settles in the reservoir, the ratio between the volume of sediment that settles after 10 years and after 200 years was 10215287,18 m3 and 193953499,6 m3, after analyzing the volume of sediment that settles after T years at the reservoir operating plan will be considered next dam age.
Model Penerapan Drainase Berwawasan Lingkungan Skala Individu di Lahan Permukiman Kawasan Bandung Utara Hary Pradiko; Arwin Sabar; Prayatni Soewondo; Yadi Suryadi; Indragiri Jatikusuma
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.1.10

Abstract

AbstrakPerubahan luas lahan terbangun dapat mempengaruhi ekstremitas debit air yang menimbulkan ancaman banjir dan kekeringan di wilayah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS). Penanganan limpasan air hujan dengan drainase lingkungan sudah diterapkan. Akan tetapi lahan permukiman di perkotaan sangat terbatas, sehingga membutuhkan solusi pengendalian dari limpasan air hujan yang efektif dan efisien. Teknik peresapan air yang dikaji dalam penelitian ini adalah penerapan sumur resapan dalam suatu persil permukiman di Kawasan Konservasi Bandung Utara untuk mendapatkan model penerapan sumur resapan yang efektif untuk penerapan konsep zero runoff. Metode perhitungan yang digunakan adalah metode rasional untuk limpasan permukaan dan Metode Sunjoto untuk peresapan air. Lokasi penelitian adalah suatu persil di kawasan permukiman Bandung Utara. Hasil perhitungan limpasan pada periode ulang hujan 20 tahun drain 1 sebesar 0,0182 m3/det dan drain 2-3 sebesar 0,0104 m3/det. Dibuat sumur resapan A berdiameter 0,8 m dan kedalaman 15 m berkemampuan resap 0,0244 m3/dt untuk meresapkan limpasan drain 1 dan sumur resapan B berdiameter 1,2 m dan kedalaman 10 m berkemampuan resap 0,0181 m3/dt untuk meresapkan limpasan drain 2-3. Sumur resapan yang dibuat dapat menampung limpasan air hujan pada periode ulang hujan 20 tahun, sehingga konsep zero runoff dapat diterapkan di persil-persil lain yang ada di Kawasan Bandung Utara.Abstract The increasing of land use can affect an extreme waterflow posed a threat of flooding and drought in downstream watershed. Handling runoff using the drainage system has been implemented. But the urban settlement land is very limits, so it's necessary to control runoff effectively and efficiently. The objective of this research is to apply zero runoff concept using infiltration wells in a small part of settlement in North Bandung. The used methods are a rational method and Sunjoto method. The research location is a part of settlement area in North Bandung. The results show that on 20-year rainfall return period, the runoff from drain 1 is about 0.0182 m3/s and from drain 2-3 is about 0.0104 m3/s. The first infiltration wells (A) (diameter of 0.8 m and a depth of 15 m) can infiltrate 0.0244 m3/s to absorb from drain 1 and the second one (B) (diameter of 1.2 m and a depth of 10 m) can infiltrate 0.0181 m3/s to absorb from drain 2-3. The infiltration wells can accommodate runoff in the 20-year rainfall return period, so the zero runoff concept can be applied in other settlement parts that exist in North Bandung area.
Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Rezim Hidrologi DAS (Studi Kasus : DAS Komering) Rosmalinda Permatasari; Arwin Sabar; Dantje Kardana Natakusumah
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.1.11

Abstract

Abstrak Daerah tangkapan sungai Komering Hulu memberi kontribusi nyata terhadap daerah aliran sungai Komering Sumatera Selatan. Perubahan penggunaan lahan memberi dampak pada pengurangan kapasitas resapan, akibatnya terjadi ekstrimitas debit seperti banjir dan kekeringan wilayah hilir sungai. Adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan penggunaan lahan merupakan upaya untuk mengantissipasi terjadinya kerusakan fungsi hidrologi daerah aliran sungai. Tujuan penulisan adalah mengevaluasi perubahan penggunaan lahan di DAS Hulu terhadap hidrologi daerah aliran sungai. Terjadi perubahan debit rencana 5 tahun kering 126,38 m3/det menjadi 135,88 m3/det (1971-1991 dan 1992-2010). Kenaikan penggunaan lahan terbesar untuk lahan sawah pertanian, tegalan dan kebun sebesar 80,516% yang mengurangi luas hutan menjadi 28%. Perubahan tutupan lahan terutama hutan mengindikasikan kemampuan DAS Komering Hulu untuk menyimpan air. Nilai koefesien limpasan c = 0,399 dan nilai base flow 43,262 didapat trend kenaikkan nilai c dan penurunan nilai b sepanjang tahun 1971-2010. Berdasarkan peta sebaran erosi tahun 1980 dan 2005 menggambarkan DAS Komering Hulu termasuk klasifikasi erosi berat.Abstract Upper Komering catchment areas has contribute substantially to Komering basin , South Sumatera. Land use changing has an impact on reducing the infiltration capacity, lead to extremely flow such as floods and droughts in downstream. Adaptation and mitigation to land use changes is an attempt to anticipate malfunctions watershed hydrology. The purpose of writing is to evaluate land use changing affecting hydrology regime at the watershed. The analysis showed land use changing in several period. There is a changing of design discharge from 126.38 m3 / sec to 135.88 m3 / sec (1971-1991 and 1992-2010). The increase in the use of land for farming paddy fields, moors and yields is 80.516%, which reduces the forest area to 28%. Land cover changing especially forest can be as indicator the capacity of watershed retaining water. Runoff coefficient c = 0.399 and base flow values is 43.262 obtained a trend increase in the value of c and b values decrease during 1971-2010. Based on the distribution maps of erosion in 1980 and 2005 represent Upper Komering watershed including poor classification.
Model Prakiraan Debit Air dalam Rangka Optimalisasi Pengelolaan Waduk Saguling – Kaskade Citarum Mariana Marselina; Arwin Sabar; Indah Rachmatiah Siti Salami; Dyah Marganingrum
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.1.12

Abstract

Abstrak Peningkatan laju pertumbuhan penduduk dan industri mendorong peningkatan kebutuhan air baku dan energi listrik. Salah satu penyedia kebutuhan energi listrik di wilayah Jawa, Madura, Bali adalah Waduk Saguling. Asupan air bagi Waduk Saguling adalah Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu dengan luas daerah tangkapan sebesar 2.340,88 km2. Waduk Saguling juga merupakan salah satu waduk yang membentuk waduk kaskade Citarum yang terdiri dari Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Data debit aliran mempunyai peranan penting dalam pengelolaan dan pengembangan sumberdaya air suatu DAS. Dalam penelitian ini dilakukan perbandingan model bangkitan debit inflow Waduk Saguling menggunakan metode korelasi spasial (hujan dan debit) atau metode kontinu serta dengan metode diskrit Markov yang menggunakan prinsip model stokastik Markov 3 kelas. Data debit inflow Waduk Saguling yang digunakan adalah data debit dari tahun 1986-2013. Pada metode korelasi spasial diperoleh kombinasi tipe PPPQt-1 memiliki nilai korelasi sebesar 0,86 sedangkan untuk metode diskrit Markov diperoleh nilai korelasi sebesar 0,804. Dalam rangka optimasi pengelolaan waduk ditemukan bahwa pengelolaan waduk dengan model kontinu memberikan nilai korelasi lebih tinggi antara lintasan pedoman dan lintasan aktual di Waduk Saguling yakni sebesar 0,940 jika dibandingkan dengan metode diskrit Markov yang memberikan korelasi antara lintasan pedoman dan lintasan aktual Waduk Saguling sebesar 0,852.Asbtract Enhancement of population and industry have lead to an enhancement demand for raw water and electrical energy. One of the electricity provider in Java-Madura-Bali is Saguling Reservoir. The water intake of Saguling is upstream Citarum watershed with an area of 2340.88 km2. Saguling is also one of the reservoirs that form Citarum Cascade consisting of Saguling, Cirata and Jatiluhur. Data of reservoir discharge has an important role in the management of water resources. Discharge forecasting approach taken in this research was the spatial correlation method (rainfall and discharge) and discrete Markov method that used the principle of stochastic Markov model of 3 classes. Saguling inflow discharge that used in this research was data from 1986 to 2013. In the spatial correlation method, combination type of PPPQt obtained a correlation value of 0.86 while for discrete Markov method obtained the correlation value of 0.804. In order to optimization of reservoir management, this research found that the reservoir management with continuous model provides a higher correlation values between the actual trajectory and the guidelines trajectory in Saguling which amounted to 0,940 compared to discrete Markov method that provides a correlation between the actual trajectory and the trajectory guidelines Saguling at 0.852.
Potensi Sumber Daya Air Dalam Rangka Ketersediaan Sumber Air Baku Kota Sungai Penuh, Bangko dan Sarolangun di Subdas Batang Tembesi, DAS Batanghari, Provinsi Jambi - Zona Iklim Equatorial Freddy Ilfan; Arwin Arwin
Jurnal Engineering Vol. 1 No. 1 (2019): Volume 1, Nomor 1, Januari 2019
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.058 KB) | DOI: 10.22437/jurnalengineering.v1i1.6285

Abstract

Abstrak - Data curah hujan dan data aliran sungai digunakan dalam meneliti perubahan potensi sumber daya air di Sub DAS Batang Tembesi di Provinsi Jambi. Trend curah hujan di 9 (sembilan) pos hujan dan trend aliran sungai di 8 (delapan) pos debit telah ditentukan untuk melihat baseflow tahunan, koefisien runoff, dan kecenderungan perubahan debit rata-rata. Regresi linier ganda 4 (empat) variabel digunakan untuk mengisi data yang kosong, baik pada pos hujan maupun debit. Untuk menentukan baseflow dan koefisien runoff tahunan digunakan model hidrologi statistik, sedangkan untuk menentukan debit rencana kering dan basah digunakan distribusi frekuensi normal, lognormal dan log pearson III, dengan pengujian nonparametrik menggunakan chi-kuadrat dan kolmogorov-smirnov. Moving average 5 tahunan digunakan untuk meminimalisir keacakan terjadinya hujan dan debit sehingga dapat terlihat trend yang terjadi. Trend curah hujan yang terjadi pada hampir semua pos hujan cenderung menurun, kecuali pada pos hujan yang berada di bagian barat sub DAS. Hal ini terjadi karena dipengaruhi kondisi morfologi yang bergelombang dan elevasi tinggi. Perubahan land use juga mempengaruhi debit rata-rata dan curah hujan. Dari segi keandalan sumber air baku SPAM, secara kuantitas melimpah. Namun, tingginya curah hujan akan menimbulkan daya rusak yang lebih tinggi dibandingkan di pulau jawa yang memiliki pola hujan monsoon.
Model Prakiraan Debit Air Dalam Rangka Optimalisasi Pengelolaan Waduk Saguling – Kaskade Citarum Mariana Marselina; Arwin Sabar
Purifikasi Vol 17 No 1 (2017): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Environmental and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25983806.v17.i1.47

Abstract

Peningkatan laju pertumbuhan penduduk dan industri mendorong peningkatan kebutuhan akan energi listrik. Salah satu penyedia kebutuhan energi listrik di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) adalah Waduk Saguling. Rata-rata produksi listrik Waduk Saguling dari tahun 1986-2014 adalah 2.334.318,138 MWh/tahun. Asupan air bagi Waduk Saguling adalah Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu dengan luas 2.340,88 km2. Waduk Saguling juga merupakan salah satu waduk yang membentuk waduk series di kaskade Citarum yang terdiri dari Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Pemanfaatan Waduk Jatiluhur sebagai waduk multiguna untuk sumber air baku, irigasi, dan PLTA pun masih belum optimal, hal ini ditandai dengan terjadinya kekurangan air di hilir pada musim kering dan air melimpas pada musim hujan. Tujuan optimasi Waduk Saguling pada penelitian ini adalah memaksimalkan penggunaan air sehingga dapat memenuhi kebutuhan bagi pembangkit listrik dan memenuhi kebutuhan air di downstream dengan mempertimbangkan prakiraan debit masa depan. Pendekatan prakiraan debit yang dilakukan dalam pengelolaan waduk adalah dengan metode korelasi spasial (hujan dan debit) atau metode kontinu serta dengan metode diskrit markov yang menggunakan prinsip model stokastik markov 3 kelas. Data debit inflow Waduk Saguling yang digunakan adalah data debit dari tahun 1986-2013. Pada metode korelasi spasial diperoleh kombinasi tipe PPPQt-1memiliki nilai korelasi sebesar 0,86 sedangkan untuk metode diskrit markov diperoleh nilai korelasi sebesar 0,804.
REVITALISASI SPAM TANJUNG DALAM I PDAM TIRTA PRABUJAYA DI KOTA PRABUMULIH DALAM RANGKA MENCAPAI TARGET MDGs 2015 Merri Jayanti; Arwin Sabar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.7

Abstract

Abstrak: Adanya peningkatan status Kota Prabumulih dari Kota Administratif Kabupaten Muara Enim, menjadi Kota Tingkat II merupakan salah satu indikator utama meningkatnya permintaan akan kebutuhan air minum. Selain itu, terjadi ancaman keberlanjutan air dari segi kualitas akibat adanya pengaruh ekstrimitas debit pada zona hujan mooson sehingga tingkat kekeruhan air semakin tinggi. Hal ini secara langsung mempengaruhi produksi air minum (baik kualitas, kuantitas dan kontinuitas) yang disediakan oleh SPAM, PDAM Tirta Prabujaya Kota Prabumulih. Saat ini, cakupan Layanan PDAM baru mencapai 18% dari total  penduduk  158.304 jiwa (2011). Pendistribusiaan air PDAM kepada masyarakat juga kurang merata dikarenakan kekurangan sarana dan prasarana terutama sarana pengambilan air baku dari Intake dengan kapasitas terpasang 60 liter/detik, hanya dapat berproduksi 32 liter/detik. Padahal air minum sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan Rencana Induk Pengembangan SPAM yang didasarkan pada kriteria desain dan proyeksi kebutuhan air minum pada satu periode yang dibagi beberapa tahapan. Penelitian ini membahas mengenai RIP-SPAM untuk jangka pendek dalam rangka pencapaian target MDGs 2015 yakni 70% penduduk terlayani. Hasil penelitian menunjukkan pada 2015, Kota Prabumulih akan memiliki penduduk sebesar 175.942 jiwa dengan kebutuhan air minum rata-rata 327,10 liter/detik. Arahan RIP-SPAM jangka pendek dilakukan dengan revitalisasi SPAM Tanjung Dalam I, yaitu dengan transmisi air baku dan revitalisasi prasedimentasi. Adapun revitalisasi transmisi air baku dapat dilaksanakan dengan dua alternatif yaitu dengan penambahan booster pada jalur transmisi atau penambahan pompa yang dipasang paralel (Q 60 liter/detik). Sedangkan revitalisasi prasedimentasi sangat diperlukan untuk menjamin kualitas air akibat tingkat kekeruhan yang tinggi terutama pada musim penghujan dengan penambahan kompartemen prasedimentasi. Dengan skenario pengembangan SPAM, penduduk Prabumulih dilayani sebanyak 71,25% pada 2015 (melebihi target MDGs). 
KAJIAN REZIM HIDROLOGI DAN SALINITAS DAS LANDAK- KAPUAS DALAM RANGKA PENGEMBANGAN SUMBER AIR BAKU SPAM REGIONAL PONTIANAK - ZONA HUJAN EQUATORIAL Ricka Aprillia; Arwin Sabar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.9

Abstract

Abstrak: Adanya rencana pembangunan berkelanjutan di kawasan pesisir kapuas menuju Kota Metropolitan Pontianak, memerlukan sumber air baku yang layak dari segi kualitas, kuantitas dan kontinuitas sesuai standar nasional. Dari segi kuantitas, ketersediaan air baku cukup berlimpah, namun dari segi kualitas, sumber air baku Kota Pontianak terancam interusi air laut pada tahun normal dan tahun kering di musim kemarau. Saat ini, cakupan layanan PDAM di wilayah Regional Pontianak baru mencapai 45% dari total   penduduk 1.022.269 jiwa (2010). Kualitas air hasil produksi PDAM juga kurang stabil dampak dari kualitas air baku tidak memadai (warna tinggi dan kadar klorida diatas ambang  batas  saat  kemarau)  sehingga  kualitas  air  yang  diterima  pelanggan  tidak  layak  minum. Penelitian ini membahas mengenai rezim hidrologi untuk keandalan sumber air baku (kualitas dan kuantitas) dari Sungai Ambawang interbasin Sungai Landak (Biyung) yang terpilih dijadikan sumber air baku yang barudalam pengembangan infrastruktur air minum Regional Pontianak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Ambawang secara periodik terpengaruh pasang surut yang  berpoten si terinterusi air laut, sehingga dibangun bendungan untuk memutus salinitas. Sedangkan Sungai Landak (Biyung) memiliki debit yang acak dan dipengaruhi oleh curah hujan. Hasil pembagian debit Discrit Markov terhadap nilai salinitas menunjukkan bahwa, salinitas tertinggi terjadi pada iklim kering, bulan kering dan debit harian kering dimana amplitudo pasut di muara sungai maksimum. Debit harian minimum Sungai Landak tercatat pada tahun 1997 sebesar 21 m3/detik analog dengan debit rencana R20 1 harian sebesar 23,38 m3/detik.  Kebutuhan air baku Regional Pontianak sampai dengan tahun 2030 sebesar 4,6 m3/det sedangkan debit untuk alokasi air minum enggunakan debit 20 tahun kering, R20 kering pada Sungai Ambawang sebesar 12,05 m3/det, sehingga sampai dengan tahun 2030 kebutuhan air baku Regional Pontianak dapat terpenuhi. Kata kunci: air baku, air minum, Regional Pontianak, salinitas, Sungai Ambawang, Sungai Landak. Abstract :  The  existence of  sustainable development plan  inkapuas coastal areas  towardPontianak Metropolitan Cities, requires a decent source of raw water in terms of quality, quantity and continuity according to national standards. In terms of quantity, availability of raw water is quite abundant, but in terms of quality, raw water source is threatened sea water interution in normal and dry years in the dry season. Currently, the services coverageof PDAM in the area of Regional Pontianak only reached 45% of the total population of 1,022,269soul (2010). Water quality output PDAM is also unstable, impact of inadequate water quality (high color and chloride levels above the threshold when dry) so that customers receive quality water unfit to drink. This study discusses the hydrological regime for the reliability of raw water source (quality and quantity) of interbasin Ambawang River Landak River (Biyung) were selected as new raw water source for drinking water infrastructure development Regional Pontianak. The results showed that Ambawang River periodically affected by tidal and seawater interution, so the dam was built to break salinity. While the Landak River (Biyung) has a random discharge and is influenced by rainfall. The result of the division of discharge Discrit Markov against salinity values showed that, the highest salinity occurs in dry climates, dry month and daily discharge dry where the amplitude tidal estuary maximum. The minimum daily discharge Landak River recorded in 1997 at 21 m3 / sec analog with R20 daily discharge plan of 23.38 m3/ sec. Pontianak Regional raw water needs of 4.6 m3 / sec in the 2030, while the used discharge for the allocation of drinking water a debit 20 years of dry, dry R20 on the River Ambawang of 12.05 m3/sec, so the 2030 needs raw water Regional Pontianak can be met. Key words: raw water, drinking water, Regional Pontianak, salinity, Ambawang River, Landak River
MODEL PRAKIRAAN DEBIT AIR DALAM RANGKA OPTIMALISASI PENGELOLAAN WADUK KEDUNG OMBO Shanty Elizabeth Maretina Hutagalung; Arwin Sabar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 1 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.1.9

Abstract

Abstrak: Pemanfaatan Waduk Kedung Ombo (WKO) sebagai waduk multiguna ternyata masih belum optimal. Hal ini ditandai dengan terjadinya kekurangan air di hilir pada musim kering, dan air melimpas pada musim hujan. Padahal bila dikelola dengan optimal, WKO bisa sebagai sumber air baku dalam pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM) karena hingga saat ini WKO hanya digunakan terbatas untuk irigasi dan PLTA. Adanya permasalahan terhadap ketidakpastian masa depan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian pola pengusahaan waduk Kedung Ombo optimal  untuk  standar operasional Waduk.  Pendekatan yang dilakukan dalam pengelolaan waduk adalah dengan metode korelasi spasial (hujan dan debit dan metode diskrit markov yang menggunakan prinsip model stokastik markov 3 kelas. Dengan menggunakan data debit inflow WKO dari tahun 1991-2011 didapatkan beberapa hasil prakiran debit masa depan dengan menggunakan dua komponen hidrologi yaitu hujan dan debit. Pada metode korelasi spasial hujan dan debit dilakukan dengan menguji 5 kombinasi komponen hujan dan debit untuk kemudian dipilih yang mempunyai hasil korelasi tertinggi terhadap debit aktualnya. Dari perhitungan diketahui bahwa kombinasi tipe PQQQ yang mempunyai nilai korelasi tertinggi, yaitu 0,87 sedangkan untuk metode markov didapatkan hasil yang sangat baik dengan koefisien korelasi 0,958. Kemudian nantinya metode markov ini akan digunakan dalam perhitungan manajemen waduk optimal dalam rangka melihat potensi WKO sebagai sumber air baku bagi SPAM di wilayah sekitarnya. Kata kunci: waduk kedung ombo, korelasi spasial, hujan, debit prakiraan Abstract: The utilization of Kedung Ombo Reservoir (WKO) as a multipurpose reservoir was considered suboptimum. It is clearly shown by the water shortages at the downstream in the dry season, and an overflown water during the rainy season. If it is managed optimally, WKO can be utilized as a raw water source in the development of drinking water supply system (SPAM) albeit it is only limited to be used for irrigation and hydropower plant today. The uncertainty of the future draws the urgency for a proper study on how to optimize the operational of Kedung Ombo reservoir as standardized operational procedure. The approach taken in the management of the reservoir is the spatial correlation method (rainfall "“ discharge, and Markov discrete method which uses a model that applies the principal of Markov stochastic model 3 classes. By using the inflow discharge data of WKO, taken from the years of 1991-2011, the forecasted discharge value for the future can be obtained through two hydrological components which is rainfall and discharge. The method of the spatial correlation of rain-discharge has five sets of combinations between rain and discharge, where the results with the highest correlation number to its actual value will be opted. From the calculation it is known that the combination of PQQQ type has the highest correlation value, which is 0.87, whereas for the Markov method it obtained a very good results with a correlation coefficient of 0.958. Later on, the Markov method will be used in the optimal reservoir management calculation in order to see the potential of WKO  as a source of raw water for SPAM in the surrounding region. Keywords: Kedung Ombo dam, spatial correlation, presipitation, forecasted water discharge
DRAINASE WAWASAN LINGKUNGAN DI KAWASAN KONSERVASI AIR BOPUNCUR Princenvo Tigana; Arwin Sabar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 25 No. 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2019.25.1.5

Abstract

 Abstrak: Perubahan tutupan lahan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung hulu memberikan pengaruh yang cukup dominan terhadap debit banjir di wilayah hilirnya yaitu Jakarta. Fenomena tersebut terjadi di DAS Ciliwung hulu dikarenakan oleh daerah Bogor, Puncak, Cianjur (BOPUNCUR) dan sekitarnya banyak mengalami perubahan tutupan lahan, dari kawasan hutan menjadi kawasan pertanian. Tahap penelitian mencakup analisis hidrologi dan analisis spasial. Analisis hidrologi dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu melihat hubungan hujan dan debit, ekstrimitas debit, dan debit rencana kering dan banjir. Hubungan hujan dan debit dapat dilihat dengan persamaan regresi linear sederhana yang menunjukkan kecenderungan nilai koefisien limpasan yang meningkat dan nilai baseflow yang menurun. Ekstrimitas debit didapatkan menggunakan metode moving average lima tahunan yang menunjukkan terjadinya ekstrimitas debit. Debit rencana kering dan banjir dapat ditentukan dengan menggunakan analisis distribusi frekuensi dan uji kesesuaian distribusi. Analisis spasial dilakukan dengan cara meng-overlay peta-peta spasial guna mendapatkan nilai indeks konservasi. Peta spasial yang digunakan mencakup peta kelerengan, peta jenis tanah, dan peta tutupan lahan. Nilai indeks konservasi alami (IKa) DAS Ciliwung hulu yang diperoleh sebesar 0,75, sedangkan nilai indeks konservasi aktual (IKc) yang diperoleh untuk periode 2001 "“ 2007 berada dibawah nilai IKA. Hal ini menunjukkan terjadi degradasi lahan yang mengakibatkan kondisi kawasan DAS Ciliwung hulu un-sustainable. Konsep drainase wawasan lingkungan dan aplikasi rekayasa teknis diterapkan di Perumahan My Residence 1 Bogor untuk dapat mencapai zero limpasan. Penerapan sumur resapan skala individu dengan diameter 0,8 m dan kedalaman minimum 1,3 m dapat mengurangi debit air yang masuk ke dalam saluran hingga lebih dari 50%. Hal ini menunjukkan penerapan konsep drainase wawasan lingkungan dan aplikasi rekayasa teknis dapat mewujudkan tercapainya zero limpasan. Kata kunci: perubahan tutupan lahan, DAS Ciliwung hulu, indeks konservasi, sumur resapan Abstract: Changes in the land cover of the Ciliwung watershed have a dominant influence on the flood discharge in the downstream region, namely Jakarta. This phenomenon occurs in the upstream Ciliwung watershed because the Bogor, Puncak, Cianjur (BOPUNCUR) and surrounding areas increasingly change land cover, from forest areas to agricultural areas. The research phase includes hydrological analysis and spatial analysis. Hydrological analysis was carried out in several places, namely looking at the relationship of rain and discharge, extreme discharge, and discharge of dry and flood plans. The relationship of rain and discharge can be seen with a simple linear regression equation that shows increased runoff coefficient value and baseflow value decreases. Extreme discharge uses a five-year moving average method that shows extreme discharge. Dry and flood discharge plans can be determined using distribution analysis and distribution conformity tests. Spatial analysis is done by overlaying spatial maps to get the conservation index value. Spatial maps used include slope maps, soil type maps, and land cover maps. The natural conservation index (IKa) value of the upstream Ciliwung watershed is 0.75, while the actual approval index value (IKc) obtained for the period 2001 - 2007 is below the IKA value. This shows that land degradation occurred in the area of the upstream Ciliwung watershed. The environmental drainage concept and technical engineering applications is applied in My Residence 1 Bogor Housing to be able to achieve zero runoff. The application of infiltration wells with an individual scale with a diameter of 0.8 m and a minimum depth of 1.3 m can reduce the water discharge entering the drainage by more than 50%. This shows the application of environmental drainage concept and technical engineering can realize the achievement of zero runoff. Keywords: land use change, upper Ciliwung river basin, conservation index, infiltration well