Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Pengaruh Perubahan Tutupan Lahan Terhadap Karakteristik Hidrograf Banjir (Studi Kasus Bendungan Jragung) Wahyuni, Indah Tri; Sachro, Sri Sangkawati
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 29, Nomor 2 (2023)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkts.v29i2.59877

Abstract

Kabupaten Demak dan Grobogan merupakan wilayah yang sering mengalami banjir saat musim penghujan. Salah satu upaya untuk mengatasi banjir pada daerah tersebut, Kementerian PUPR membangun Bendungan Jragung yang direncanakan dengan menggunakan data series Tahun 1998 – 2017. Debit Sungai Jragung cenderung mengalami peningkatan dalam kurun waktu 10 tahun, yang salah satu kemungkinan penyebabnya adalah perubahan tutupan lahan. Maka, untuk mengetahui pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap karakteristik hidrograf banjir Waduk Jragung, perlu dilakukan analisis penelusuran banjir di Waduk Jragung. Studi ini menggunakan program HEC-HMS dengan metode Soil Conservation Service (SCS – CN). Indeks perubahan tutupan lahan yang digunakan adalah curve number dan impervious. Hasil analisis menunjukkan adanya perubahan tutupan lahan pada DTA Waduk Jragung sebesar 2,5% yang didominasi oleh peningkatan luasan pemukiman sebesar 55,6%. Akibat dari perubahan tutupan lahan tersebut, debit banjir daerah tangkapan air Waduk Jragung mengalami kenaikan untuk semua kala ulang n-tahun. Besaran QPMF meningkat dari 1586,1 m3/dt menjadi 1689,6 m3/dt yang mengakibatkan peningkatan elevasi muka air banjir waduk dari +118,6 m menjadi +118,7 m.
Analysis of The Level of Erosion Hazard in The Walanae Watershed and Land Conservation Directions to Reduce The Erosion Rate in The Walanae Watershed Firdazam, Firdazam; Sangkawati, Sri; Wulandari, Dyah Ari
International Journal of Social Service and Research Vol. 3 No. 12 (2023): International Journal of Social Service and Research (IJSSR)
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/ijssr.v3i12.650

Abstract

The Walanae Watershed (DAS) is one of the Walanae – Cenranae Sub Watersheds in several districts, including Wajo, Soppeng, Bone, and Maros regencies. The river flow in the Walanae watershed flows from south to north and empties into Lake Tempe, Wajo Regency. The condition of Lake Tempe, which continues to experience silting due to erosion and sedimentation, is still happening. This siltation resulted in sediment discharges reaching 519,000 m3/year. This siltation can cause a narrowing of the lake area and flooding around Lake Tempe. The purpose of this study is to model erosion control in the Walanae watershed to reduce the level of siltation that occurs in Lake Tempe. Analysis of the erosion rate of the Walanae watershed using the USLE method. The analysis results show that the erosion rate that occurred in 2000 was 187.52 Tons / Ha / Yr, while in 2022, it was 253.336 Tons / Ha / Yr. Scenarios based on land conservation actions can reduce the erosion rate by 149,034 tons/ha / Year. The scenario was carried out by considering slope classes and land cover in the Walanae watershed.  In flat to gentle slope conditions, ground cover crops and livestock grazing are needed; in rice fields and dryland agriculture, rural and annuals and mulch reinforcement are needed. Conservation measures are needed in steep to very steep slope classes, such as bench terraces and plant cover crops for agricultural land cover. As for forest areas, permanent vegetation or agroforestry is needed.
Risk Analysis of the Prijetan Dam in Lamongan Regency Pakpahan, Samuel Seprian; Sangkawati, Sri; Suharyanto, Suharyanto
Journal La Multiapp Vol. 5 No. 6 (2024): Journal La Multiapp
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallamultiapp.v5i6.1736

Abstract

The Prijetan Dam in Lamongan, East Java, has been in operation for over a century, making it one of the oldest dams in Indonesia. This study aims to assess the risks associated with the aging structure of the dam, including potential failures and safety concerns. The analysis was conducted using the ICOLD modified risk scoring system and the Failure Mode Effects Analysis (FMEA) method, taking into account physical deterioration, climate change impacts, and possible failure modes. The results provide insights into the current physical condition, risk levels, and necessary mitigation strategies to enhance the dam's safety and functionality. The study also prioritizes maintenance and rehabilitation actions based on risk levels, ensuring long-term operational safety and security for the surrounding areas.
Safety Evaluation of Rockfill Dam Based on Seepage Discharge Data Sulistya, Krisna; Sachro, Sri Sangkawati; Sukamta, Sukamta
Reka Buana : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil dan Teknik Kimia Vol 8, No 1 (2023): EDISI MARET 2023
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rekabuana.v8i1.3730

Abstract

The leading cause of failure of an embankment dam is the occurrence of excessive seepage, which triggers piping that can disrupt the stability and safety of the dam. This study discusses the dam's safety against the danger of seepage with a case study of the Jatibarang Dam. The safety evaluation uses V-notch monitoring data during the operational period from 2018 to 2021. The highest seepage discharge recorded during that period was 2,232 lt/sec/m, where the unsafe threshold for seepage based on the dam's height was 0,56 lt/sec/m, so seepage is unsafe. Meanwhile, based on the seepage discharge index (QI) calculation, the QI value is less than one, so the seepage discharge is still safe. Evaluating dam safety against excessive seepage discharge for dams of the same type as the Jatibarang Dam is more appropriate to use the seepage discharge index (QI) threshold because the parameters in the equation are complete.ABSTRAKPenyebab utama kegagalan suatu bendungan tipe urugan adalah terjadinya rembesan berlebih yang memicu piping yang dapat mengganggu kestabilan dan keamanan bendungan. Penelitian ini membahas keamanan bendungan terhadap bahaya rembesan dengan studi kasus Bendungan Jatibarang.  Evaluasi keamanan menggunakan data pemantauan V-notch selama masa operasional tahun 2018 sampai dengan 2021. Debit rembesan tertinggi yang tercatat pada kurun waktu tersebut sebesar 2,232 lt/dt/m, dimana ambang batas tidak aman terhadap rembesan berdasarkan ketinggian bendungan adalah 0,56 lt/dt/m sehingga rembesan dalam kondisi tidak aman. Sedangkan berdasarkan perhitungan indeks debit rembesan (QI) menghasilkan nilai QI kurang dari satu sehingga debit rembesan masih dalam kondisi aman. Evaluasi keamanan bendungan terhadap debit rembesan berlebih terhadap bendungan yang se-tipe Bendungan Jatibarang lebih tepat menggunakan ambang batas indeks debit rembesan (QI) karena parameter pada persamaannya lebih lengkap.
Limit Equilibrium Analysis of Slope Reinforcement Under Varying Pore Pressure: A Case Study of Cabean Dam Conduit Channel Rachman, Muhammad Perwira; Sangkawati, Sri; Sriyana, Ignatius
Jurnal Teknik Sipil Vol 26, No 1 (2026): Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jts.v26i1.104448

Abstract

Slope instability induced by rainfall infiltration and increasing pore-water pressure is a common geotechnical problem in tropical regions. This study evaluates the effectiveness of slope-reinforcement methods applied to the conduit channel slope at Cabean Dam, Central Java, Indonesia. Stability analysis was conducted using three limit-equilibrium methods—Ordinary, Bishop Simplified, and Morgenstern–Price—implemented in SLOPE/W. Three slope conditions were analyzed: the original slope configuration, slope flattening combined with soil nail reinforcement, and slope flattening combined with shotcrete treatment. A sensitivity analysis was performed by varying the pore pressure ratio (Ru) from 0.0 to 0.7 to represent different rainfall infiltration conditions. The results indicate that the initial slope condition is unstable, with safety factors below acceptable engineering standards. Soil nail reinforcement significantly improves slope stability but remains sensitive to increasing pore pressure. The combination of slope flattening and shotcrete treatment provides the highest safety factors and the lowest sensitivity to pore-pressure variations, indicating better performance for slope stabilization in high-rainfall environments.
Potensi Erosi Buluh Akibat Mata Air Pada Bendungan (Studi Kasus : Bendungan Titab) Anggara, I Putu Hariawan; Sachro, Sri Sangkawati; Putranto, Thomas Triadi
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 27, Nomor 2 (2021)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.077 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v27i2.40192

Abstract

Bendungan merupakan salah satu infrastruktur keairan yang dapat difungsikan sebagai konservasi,pemanfaatan, dan pengendalian daya rusak air. Bendungan Titab merupakan salah satu bendungan diIndonesia yang memiliki multifungsi sebagai air irigasi, air baku dan PLTA. Bendungan ini merupakan tipebendungan urugan batu dengan inti tegak yang memiliki panjang puncak 210 m, lebar 12 m, dan tinggi 78 mdari pondasi terdalam. Bendungan ini dibangun dengan kondisi geologi yang relatif kompleks dan terjadilongsoran pada dinding pelimpah dan ditemukan mata air pada longsoran sehingga perlu dilakukan analisisterhadap potensi piping akibat adanya mata air. Penelitian ini mengkaji potensi terjadinya erosi buluh (piping)akibat pengaruh mata air yang ada di dekat bendungan. Kajian dilakukan berdasarkan pengamatan instrumenselama masa penggenangan Tahun 2016 hingga Tahun 2019. Analisis dilakukan dengan menghitung kriteriapenerimaan (KP) rembesan dan indeks rembesan (Qi) untuk mengetahui perilaku rembesan pada tubuhbendungan dan dilakukan analisis faktor keamanan (FK) terhadap bahaya piping dengan membandingkangradien hidrolik berdasarkan pembacaan instrumen pisometer dan gradien hidrolik material inti tubuhbendungan. Berdasarkan hasil perhitungan kriteria penerimaan rembesan dan indeks rembesan menunjukkanrembesan yang terjadi pada Bendungan Titab tidak aman karena melebihi persyaratan, rembesan rata-rataterjadi sebesar 6,350 > 0,56 liter/menit/m dan Qi > 1. Namun analisis terhadap FK bahaya piping masih amanyaitu sebesar 8,390 > 4.