Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Kajian Kapasitas Pelimpah dan Terowongan Konduit Bendungan Sawangan dalam Mereduksi Debit Puncak Banjir Wibowo, Agus Aris; Sangkawati, Sri; Nugroho, Hari
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 18, No. 3 : Al Qalam (Mei 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v18i3.3313

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan banjir desain dan kapasitas bangunan pelimpah serta untuk mengetahui efektivitas bangunan keluaran waduk (pelimpah dan Konduit) terhadap reduksi banjir secara maksimal. Lokasi wilayah penelitian adalah rencana pembangunan Bendungan Sawangan Kota Manado. Data penelitian ini berdasarkan data hidro-klimatologi, , data teknis bendungan dan waduk. Selain itu terdapat data penunjang untuk melakukan perhitungan dan analisis, seperti data debit banjir, kurva elevasi – volume waduk dan tata letak bendungan serta bangunan pelengkapnya.  Metode yang digunakan adalah melakukan perhitungan penelusuran banjir (flood routing) terhadap keluaran waduk (outlet) melalui pelimpah dan terowongan konduit (bottom outlet).Penelusuran banjir  dilakukan dengan menggunakan hidrograf inflow banjir rancangan PMF Probable Maximum Flood (PMF) sehingga reduksi banjir maksimal dapat ditentukan pada rencana pola operasinya bila konduit dilengkapi dengan pintu. Optimalisasi reduksi debit puncak banjir dilakukan dengan skenario pelimpah tanpa konduit dan skenario pelimpah dengan konduit. Paramater yang dipergunakan adalah dengan menggunakan parameter lebar pelimpah, tinggi / elevasi pelimpah dan dimensi konduit, sedangkan ukuran / kontrol scenario optimalisasi adalah tinggi sisa jagaan banjir di pelimpah, rasio kapasitas pelimpah dan reduksi debit puncak banjir inflow-outflow Bendungan Sawangan. Hasilnya kajian dan analisis  adalah perbandingan optimalisasi skenario 1 pelimpah tanpa konduit dan skenario 3 pelimpah dengan konduit diperoleh hasil reduksi debit puncak banjir PMF cukup signifikan yaitu scenario 1 reduksinya sebesar 19,0 % dan skenario 2 sebesar 36,6 %. Konfigurasi yang diperoleh adalah elevasi puncak pelimpah pada elevasi +35,0 m, lebar pelimpah 20,0 m,  dan 2 buah konduit diameter 5,0 m terbuka penuh (open fully).  Reduksi debit puncak banjir PMF dihasilkan dari inflow sebesar 1260,8 m3/det menjadi  outflow sebesar 798,98 m3/det atau sebesar 36,6 % dengan tinggi jagaan sisa 1,79 m dan rasio kapasitas pelimpah 63,4 %.
Pengaruh Perubahan Tutupan Lahan Terhadap Karakteristik Hidrograf Banjir (Studi Kasus Bendungan Jragung) Wahyuni, Indah Tri; Sachro, Sri Sangkawati
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 29, Nomor 2 (2023)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkts.v29i2.59877

Abstract

Kabupaten Demak dan Grobogan merupakan wilayah yang sering mengalami banjir saat musim penghujan. Salah satu upaya untuk mengatasi banjir pada daerah tersebut, Kementerian PUPR membangun Bendungan Jragung yang direncanakan dengan menggunakan data series Tahun 1998 – 2017. Debit Sungai Jragung cenderung mengalami peningkatan dalam kurun waktu 10 tahun, yang salah satu kemungkinan penyebabnya adalah perubahan tutupan lahan. Maka, untuk mengetahui pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap karakteristik hidrograf banjir Waduk Jragung, perlu dilakukan analisis penelusuran banjir di Waduk Jragung. Studi ini menggunakan program HEC-HMS dengan metode Soil Conservation Service (SCS – CN). Indeks perubahan tutupan lahan yang digunakan adalah curve number dan impervious. Hasil analisis menunjukkan adanya perubahan tutupan lahan pada DTA Waduk Jragung sebesar 2,5% yang didominasi oleh peningkatan luasan pemukiman sebesar 55,6%. Akibat dari perubahan tutupan lahan tersebut, debit banjir daerah tangkapan air Waduk Jragung mengalami kenaikan untuk semua kala ulang n-tahun. Besaran QPMF meningkat dari 1586,1 m3/dt menjadi 1689,6 m3/dt yang mengakibatkan peningkatan elevasi muka air banjir waduk dari +118,6 m menjadi +118,7 m.
Pengelolaan DAS Mikro: Best Practice Penanganan Potensi Konflik Akibat Semburan Gas di Lahan Pertanian Desa Nglobo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah Sriyana, Ignatius; Sangkawati, Sri; Roselyn, Melfina; Kusmiyati, Florentina; Ramadan, Bimastyaji Surya
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 30, Nomor 1 (2024)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkts.v30i1.60034

Abstract

Semburan gas di lahan pertanian Desa Nglobo, Kabupaten Blora, Indonesia, menyebabkan kontamisasi lahan, sehingga kesehatan Daerah Aliran Sungai (DAS) mengalami penurunan. Penurunan kesehatan DAS terlihat pada air dan tanah yang melebihi baku mutu Hal ini menyebabkan terjadinya konflik di masyarakat karena produktivitas tanaman padi dan jagung mengalami gagal panen. Penelitian ini bertujuan mengembalikan kesehatan daerah aliran sungai yang terkontaminasi baik lahan pertanian dan kualitas air. Metode yang digunakan adalah dengan pendekatan pengelolaan DAS mikro yang meliputi kegiatan berdiskusi dengan masyarakat dan para pihak lainnya,  usaha remediasi, sekolah lapangan dan monitoring evaluasi. Hasil kajian menunjukkan penambahan pupuk organik untuk mengembalikan kesuburan tanah terutama meningkatkan kandungan C-Organik sangat diperlukan yaitu dengan memberikan 29,58 ton/ha – 30,14 ton/ha pupuk pada lahan tersebut. Kualitas air setelah remediasi menunjukkan nilai di bawah ambang batas. Hasil evaluasi uji tanam menunjukkan padi dan jagung dalam kondisi baik, dibuktikan dengan tidak terjadinya kegagalan panen, kondisi kesuburan  lahan pertanian dapat pulih kembali. Pendekatan pengelolaan  DAS mikro, yang terukur, dengan aksi nyata  bersama masyarakat  terkena dampak dan para pihka yang terkait, dapat menyelesaikan konflik sosial yang terjadi akibat pencemaran pada lahan pertanian masyarakat.
Analysis of The Level of Erosion Hazard in The Walanae Watershed and Land Conservation Directions to Reduce The Erosion Rate in The Walanae Watershed Firdazam, Firdazam; Sangkawati, Sri; Wulandari, Dyah Ari
International Journal of Social Service and Research Vol. 3 No. 12 (2023): International Journal of Social Service and Research (IJSSR)
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/ijssr.v3i12.650

Abstract

The Walanae Watershed (DAS) is one of the Walanae – Cenranae Sub Watersheds in several districts, including Wajo, Soppeng, Bone, and Maros regencies. The river flow in the Walanae watershed flows from south to north and empties into Lake Tempe, Wajo Regency. The condition of Lake Tempe, which continues to experience silting due to erosion and sedimentation, is still happening. This siltation resulted in sediment discharges reaching 519,000 m3/year. This siltation can cause a narrowing of the lake area and flooding around Lake Tempe. The purpose of this study is to model erosion control in the Walanae watershed to reduce the level of siltation that occurs in Lake Tempe. Analysis of the erosion rate of the Walanae watershed using the USLE method. The analysis results show that the erosion rate that occurred in 2000 was 187.52 Tons / Ha / Yr, while in 2022, it was 253.336 Tons / Ha / Yr. Scenarios based on land conservation actions can reduce the erosion rate by 149,034 tons/ha / Year. The scenario was carried out by considering slope classes and land cover in the Walanae watershed.  In flat to gentle slope conditions, ground cover crops and livestock grazing are needed; in rice fields and dryland agriculture, rural and annuals and mulch reinforcement are needed. Conservation measures are needed in steep to very steep slope classes, such as bench terraces and plant cover crops for agricultural land cover. As for forest areas, permanent vegetation or agroforestry is needed.
Risk Analysis of the Prijetan Dam in Lamongan Regency Pakpahan, Samuel Seprian; Sangkawati, Sri; Suharyanto, Suharyanto
Journal La Multiapp Vol. 5 No. 6 (2024): Journal La Multiapp
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallamultiapp.v5i6.1736

Abstract

The Prijetan Dam in Lamongan, East Java, has been in operation for over a century, making it one of the oldest dams in Indonesia. This study aims to assess the risks associated with the aging structure of the dam, including potential failures and safety concerns. The analysis was conducted using the ICOLD modified risk scoring system and the Failure Mode Effects Analysis (FMEA) method, taking into account physical deterioration, climate change impacts, and possible failure modes. The results provide insights into the current physical condition, risk levels, and necessary mitigation strategies to enhance the dam's safety and functionality. The study also prioritizes maintenance and rehabilitation actions based on risk levels, ensuring long-term operational safety and security for the surrounding areas.
Safety Evaluation of Rockfill Dam Based on Seepage Discharge Data Sulistya, Krisna; Sachro, Sri Sangkawati; Sukamta, Sukamta
Reka Buana : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil dan Teknik Kimia Vol 8, No 1 (2023): EDISI MARET 2023
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rekabuana.v8i1.3730

Abstract

The leading cause of failure of an embankment dam is the occurrence of excessive seepage, which triggers piping that can disrupt the stability and safety of the dam. This study discusses the dam's safety against the danger of seepage with a case study of the Jatibarang Dam. The safety evaluation uses V-notch monitoring data during the operational period from 2018 to 2021. The highest seepage discharge recorded during that period was 2,232 lt/sec/m, where the unsafe threshold for seepage based on the dam's height was 0,56 lt/sec/m, so seepage is unsafe. Meanwhile, based on the seepage discharge index (QI) calculation, the QI value is less than one, so the seepage discharge is still safe. Evaluating dam safety against excessive seepage discharge for dams of the same type as the Jatibarang Dam is more appropriate to use the seepage discharge index (QI) threshold because the parameters in the equation are complete.ABSTRAKPenyebab utama kegagalan suatu bendungan tipe urugan adalah terjadinya rembesan berlebih yang memicu piping yang dapat mengganggu kestabilan dan keamanan bendungan. Penelitian ini membahas keamanan bendungan terhadap bahaya rembesan dengan studi kasus Bendungan Jatibarang.  Evaluasi keamanan menggunakan data pemantauan V-notch selama masa operasional tahun 2018 sampai dengan 2021. Debit rembesan tertinggi yang tercatat pada kurun waktu tersebut sebesar 2,232 lt/dt/m, dimana ambang batas tidak aman terhadap rembesan berdasarkan ketinggian bendungan adalah 0,56 lt/dt/m sehingga rembesan dalam kondisi tidak aman. Sedangkan berdasarkan perhitungan indeks debit rembesan (QI) menghasilkan nilai QI kurang dari satu sehingga debit rembesan masih dalam kondisi aman. Evaluasi keamanan bendungan terhadap debit rembesan berlebih terhadap bendungan yang se-tipe Bendungan Jatibarang lebih tepat menggunakan ambang batas indeks debit rembesan (QI) karena parameter pada persamaannya lebih lengkap.
Analisa Sebaran Genangan Banjir Akibat Keruntuhan Bendungan Tempuran Waryani, Retno Sri; Sachro, Sri Sangkawati; Edhisono, Sutarto
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 31, Nomor 1 (2025)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkts.v31i1.68548

Abstract

The Tempuran Dam is one of the oldest dams in Indonesia and is currently experiencing a lot of damage, which could potentially lead to dam failure such as a dam collapse. To reduce the impact of losses resulting from dam collapses, it is necessary to analyze flood inundation patterns in the context of disaster mitigation. The dam failure analysis was modeled using HEC-RAS software with failure conditions due to overtopping and due to piping. The input in this modeling is the PMF plan discharge which is generated using HEC-HMS modeling with the HSS SCS method. The data required for HEC-HMS modeling are raster maps, land use maps, soil type maps and Hersfield method PMP rainfall plans. From the analysis results, it was found that the PMF planned flood was 115.54 m3/sec. The area of the flood inundation due to the collapse of the Tempuran Dam, the bottom piping condition was 2.61 km2 and the depth of the flood varied between 0 m to 3 m, where the area most deeply affected by the inundation was Purwosari Village, Blora Kota District. From the mapping results, the areas affected by flood inundation due to the collapse of the Tempuran Dam are Tempuran Village, Sendangharjo Village, Ngadipurwo Village, Purwosari Village, Patalan Village and Tempurejo Village. Where the fastest flood travel time is 48 minutes to Tempuran Village and the longest flood travel time is 5.25 hours to Tempurejo Village.
Limit Equilibrium Analysis of Slope Reinforcement Under Varying Pore Pressure: A Case Study of Cabean Dam Conduit Channel Rachman, Muhammad Perwira; Sangkawati, Sri; Sriyana, Ignatius
Jurnal Teknik Sipil Vol 26, No 1 (2026): Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jts.v26i1.104448

Abstract

Slope instability induced by rainfall infiltration and increasing pore-water pressure is a common geotechnical problem in tropical regions. This study evaluates the effectiveness of slope-reinforcement methods applied to the conduit channel slope at Cabean Dam, Central Java, Indonesia. Stability analysis was conducted using three limit-equilibrium methods—Ordinary, Bishop Simplified, and Morgenstern–Price—implemented in SLOPE/W. Three slope conditions were analyzed: the original slope configuration, slope flattening combined with soil nail reinforcement, and slope flattening combined with shotcrete treatment. A sensitivity analysis was performed by varying the pore pressure ratio (Ru) from 0.0 to 0.7 to represent different rainfall infiltration conditions. The results indicate that the initial slope condition is unstable, with safety factors below acceptable engineering standards. Soil nail reinforcement significantly improves slope stability but remains sensitive to increasing pore pressure. The combination of slope flattening and shotcrete treatment provides the highest safety factors and the lowest sensitivity to pore-pressure variations, indicating better performance for slope stabilization in high-rainfall environments.
Potensi Erosi Buluh Akibat Mata Air Pada Bendungan (Studi Kasus : Bendungan Titab) Anggara, I Putu Hariawan; Sachro, Sri Sangkawati; Putranto, Thomas Triadi
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 27, Nomor 2 (2021)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.077 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v27i2.40192

Abstract

Bendungan merupakan salah satu infrastruktur keairan yang dapat difungsikan sebagai konservasi,pemanfaatan, dan pengendalian daya rusak air. Bendungan Titab merupakan salah satu bendungan diIndonesia yang memiliki multifungsi sebagai air irigasi, air baku dan PLTA. Bendungan ini merupakan tipebendungan urugan batu dengan inti tegak yang memiliki panjang puncak 210 m, lebar 12 m, dan tinggi 78 mdari pondasi terdalam. Bendungan ini dibangun dengan kondisi geologi yang relatif kompleks dan terjadilongsoran pada dinding pelimpah dan ditemukan mata air pada longsoran sehingga perlu dilakukan analisisterhadap potensi piping akibat adanya mata air. Penelitian ini mengkaji potensi terjadinya erosi buluh (piping)akibat pengaruh mata air yang ada di dekat bendungan. Kajian dilakukan berdasarkan pengamatan instrumenselama masa penggenangan Tahun 2016 hingga Tahun 2019. Analisis dilakukan dengan menghitung kriteriapenerimaan (KP) rembesan dan indeks rembesan (Qi) untuk mengetahui perilaku rembesan pada tubuhbendungan dan dilakukan analisis faktor keamanan (FK) terhadap bahaya piping dengan membandingkangradien hidrolik berdasarkan pembacaan instrumen pisometer dan gradien hidrolik material inti tubuhbendungan. Berdasarkan hasil perhitungan kriteria penerimaan rembesan dan indeks rembesan menunjukkanrembesan yang terjadi pada Bendungan Titab tidak aman karena melebihi persyaratan, rembesan rata-rataterjadi sebesar 6,350 > 0,56 liter/menit/m dan Qi > 1. Namun analisis terhadap FK bahaya piping masih amanyaitu sebesar 8,390 > 4.