Asep Edi Sukmayadi
Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Analisa Cemaran Bakteri Staphylococcus Aureus pada Soto Banjar yang Dijual Dibeberapa Tempat di Kota Bandung Sukmayadi, Asep Edi; Faradiba, Faradiba
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i10.14802

Abstract

ABSTRACT Soto Banjar, an Indonesian culinary delight, is a traditional dish from South Kalimantan, predominantly served by the Banjar ethnic group. It is typically enjoyed with ketupat or rice and comprises various ingredients such as rice vermicelli, boiled eggs, free-range chicken, garnished with fried shallots, and accompanied by potato cakes, making it a complete and enticing dish to savor. Knowing the level of contamination of Staphylococcus aureus bacteria in Soto Banjar sold in several places in Bandung City, as well as assessing whether the food meets microbiological consumption standards according to the regulations of the Indonesian National Agency of Drug and Food Control Number HK.00.06.1.52.4011 of 2009. A quantitative descriptive approach was employed, conducted in June 2022. Two samples of Soto Banjar were taken for this study. The methodology involved bacterial isolation, gram staining, the use of selective media, and total plate count testing. It was found that in the tested Soto Banjar, Staphylococcus aureus bacteria were present based on total plate count testing, with sample A yielding 11 x 102 colonies/g and sample B yielding 20.5 x 102 colonies/g. Both sample A and sample B did not meet microbiological requirements according to the regulations of the Indonesian National Agency of Drug and Food Control Number HK.00.06.1.52.4011 of 2009. Keywords: Contamination, Staphylococcus Aureus Bacteria, Soto Banjar  ABSTRAK Soto Banjar, sebuah kuliner Indonesia, adalah makanan tradisional dari Kalimantan Selatan, terutama disajikan oleh etnis Banjar (Umbi-umbian 2021). Makanan ini disantap dengan ketupat atau nasi dan berisi berbagai bahan seperti bihun, telur rebus, ayam kampung, taburan bawang goreng, serta perkedel, menjadikannya sebuah sajian lengkap yang menarik untuk dinikmati (Muin 2020). Mengetahui tingkat cemaran bakteri Staphylococcus aureus pada Soto Banjar yang dijual di beberapa tempat di Kota Bandung, serta menilai apakah makanan tersebut memenuhi standar konsumsi secara mikrobiologis sesuai dengan peraturan Badan POM RI Nomor HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009. Pendekatan kuantitatif deskriptif dan dilaksanakan pada bulan Juni 2022. Dua sampel Soto Banjar diambil untuk penelitian ini. Pendekatan metodologi meliputi isolasi bakteri, pengecatan gram, penggunaan media selektif, dan pengujian angka lempeng total. Menunjukkan bahwa dalam Soto Banjar yang diuji, terdapat keberadaan bakteri Staphylococcus aureus berdasarkan pengujian angka lempeng total, dengan sampel A menghasilkan 11 x 102 koloni/g dan sampel B menghasilkan 20,5 x 102 koloni/g. Sampel A maupun sampel B tidak memenuhi persyaratan secara mikrobiologis sesuai dengan aturan Badan POM RI Nomor HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009. Kata Kunci: Cemaran, Bakteri Staphylococcus Aureus, Soto Banjar
Uji Efektivitas Antidiabetes Ekstrak Etanol Daun Kemangi (Ocimum Basilicum L.) Pada Mencit Jantan Putih (Mus Musculus L.) Yang Diinduksi Aloksan Asep Edi Sukmayadi; Dede Imas Delia Putri; Dinda Ayu Deliana
Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika) Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika)
Publisher : Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58550/jka.v11i2.338

Abstract

Daun kemangi (Ocimum sanctum L.) merupakan salah satu tanaman obat yang bermanfaat sebagai antidiabetes. Daun kemangi mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tanin yang dapat menghambat dan menurunkan kadar glukosa darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas antidiabetes ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum L.) terhadap mencit yang diinduksi aloksan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Mencit dibuat hiperglikemi dengan pemberian aloksan. Mencit dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (Na-CMC 1%), kelompok perlakuan ekstrak daun kemangi dosis 100, 200 dan 300 mg/kg BB, dan kelompok positif (glibenklamid 0,7472 mg/kg BB). Data yang diperoleh dianalisis dengan metode analisis deskriptif dengan melihat jumlah penurunan kadar glukosa darah mencit pada hari pertama (H1) dan hari ke (H8). Hasil rata-rata persentase penurunan glukosa darah pada kelompok kontrol negatif sebesar 4,95%, kelompok dosis ekstrak 100 mg/kg BB sebesar 27,24%, kelompok dosis ekstrak 200 mg/kg BB sebesar 32,31%, kelompok dosis ekstrak 300 mg/kg BB sebesar 34,36%, dan kelompok kontrol positif sebesar 53,90%. Berdasarkan hasil tersebut yang paling mendekati kontrol positif dengan persentase rata-rata sebanyak 34,36% yaitu kelompok dosis III (300 mg/kg BB) dengan nilai persentase rata-rata kontrol positif sebesar 53,90%
Studi Pengaruh Penggunaan Obat Antihistamin Untuk Mengatasi Motion Sickness Pada Penumpang Pesawat Jemaah Umrah di Provinsi Jawa Barat: A Study of the Effect of Antihistamine Drug Use to Overcome Motion Sickness in Umrah Pilgrims in West Java Province Ainur Saputri, Yasinta; Edi Sukmayadi, Asep; Subiakto, Yuli
Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika) Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika)
Publisher : Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58550/jka.v12i1.379

Abstract

  Motion sickness merupakan gangguan umum yang dialami sebagian jemaah umrah selama penerbangan. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti mual, muntah, pusing, dan keringat dingin, yang dapat mengganggu kenyamanan jemaah. .Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan obat antihistamin dalam mengatasi motion sickness pada penumpang pesawat jemaah umrah, gejala yang dialami, serta efek samping yang timbul. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional, melibatkan 34 responden jemaah umrah di Provinsi Jawa Barat. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung terhadap responden yang terbagi dari tiga biro umrah. Hasil menunjukkan bahwa 24% responden mengalami motion sickness dengan gejala seperti mual, muntah, pusing, dan keringat dingin. Dari 19% responden yang mengkonsumsi obat antimabuk, mayoritas menggunakan Dimenhydrinate, dengan rata-rata waktu kerja obat sekitar satu jam. Sebanyak 64,3% menyatakan obat sangat membantu, namun efek samping seperti kantuk disampaikan oleh responden sebanyak 35,3%. Selain penggunaan obat, untuk mengatasi motion sickness digunakan metode seperti konsumsi obat herbal, permen, aromaterapi, dan tidur selama perjalanan dilakukan responden sebagai upaya pencegahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa antihistamin generasi pertama cukup efektif dalam menangani motion sickness meskipun memiliki efek mengantuk. Diperlukan edukasi kepada jemaah mengenai penggunaan obat yang tepat serta metode alternatif yang aman dan efektif sebagai pencegahan tambahan. Motion sickness is a common condition experienced by some Umrah pilgrims during flights. This condition is characterized by symptoms such as nausea, vomiting, dizziness, and cold sweats, which can disrupt the comfort of the pilgrims. This study aims to determine the effectiveness of antihistamine use in overcoming motion sickness among Umrah airplane passengers, the symptoms experienced, and the side effects that arise. The research method used is descriptive with a cross-sectional approach, involving 34 Umrah pilgrims in West Java Province. Data were collected through direct interviews with respondents from three Umrah travel agencies. The results showed that 24% of respondents experienced motion sickness with symptoms such as nausea, vomiting, dizziness, and cold sweats. Among 19% of respondents who consumed anti-motion sickness drugs, the majority used Dimenhydrinate, with an average onset of action of about one hour. A total of 64.3% stated that the medication was very helpful, although side effects such as drowsiness were reported by 35.3% of respondents. In addition to medication use, respondents also used methods such as consuming herbal remedies, candies, aromatherapy, and sleeping during the flight as preventive measures. This study concludes that first-generation antihistamines are quite effective in managing motion sickness, although they have drowsiness as a side effect. Education is needed for pilgrims regarding the proper use of medication as well as safe and effective alternative preventive methods.