Claim Missing Document
Check
Articles

Penentuan Daerah Prioritas di Wilayah Pelayanan Bandung Utara Berdasarkan Parameter Fungsi dan Nilai Daerah SEPTIANI, PEPIN; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.396 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.58-70

Abstract

AbstrakWilayah Pelayanan (WP) Bandung Utara merupakan salah satu wilayah pelayanan sampah di Kota Bandung yang terdiri dari 7 kecamatan dan 31 kelurahan dengan karakteristik yang beragam. Tujuan studi ini menentukan daerah prioritas di WP Bandung Utara berdasarkan parameter fungsi dan nilai daerah pada SNI 19-2454-2002. Studi dilakukan dengan menentukan kriteria penilaian, identifikasi sumber dan jenis data yang tersedia, dan penentuan data yang digunakan, menyusun penilaian penentuan daerah prioritas dengan pembuatan standar kelas penilaian dan skoring, pembobotan nilai akhir dan pembuatan peta daerah prioritas. Daerah prioritas 1 yaitu Kelurahan Pasteur, Sukagalih, Citarum dan Tamansari. Daerah prioritas 2 yaitu Kelurahan Lebak Gede, Sadang Serang, Sekeloa, Gegerkalong, Sarijadi, Sukabungah, Cihaurgeulis, Sukaluyu, Cikutra dan Cihapit, daerah prioritas 3 yaitu Kelurahan Ciumbuleuit, Hegarmanah, Ledeng, Cipaganti, Dago, Lebak Siliwangi, Isola, Sukarasa, Cipedes, Sukawarna, Cigadung, Neglasari, Cicadas Padasuka, Pasirlayung, Sukamaju, dan Sukapada.Kata kunci: Wilayah pelayanan , Fungsi dan nilai daerahAbstractService Area North Bandung is one of the areas of waste management services in Bandung, which consists of 7 districts and includes 31 villages with various characteristics. The purpose of this study was to determine priority areas in North Bandung WP by parameter function and values based on SNI 19-2454-2002. The study was done by determination of the assessment criteria, identification of sources and types of data available, and the determination of the data used, then make assessment determining the priority areas to manufacture class standards of assessment and scoring, weighting the value of the final and mapping areas of priority. The priority area 1 of waste management services were the Village Pasteur, Sukagalih, Citarum and Tamansari. The priority area 2 comprised the Village Lebak Gede, Sadang Serang, Sekeloa, Gegerkalong, Sarijadi, Sukabungah, Cihaurgeulis, Sukaluyu, Cikutra and Cihapit. The priority area 3 consisted of the Village Ciumbuleuit, Hegarmanah, Ledeng, Cipaganti, Dago, Lebak Siliwangi, Isola, Sukarasa, Cipedes, Sukawarna, Cigadung, Neglasari, Cicadas Padasuka, Pasirlayung, Sukamaju, and Sukapada.Keywords: The area of services, functions and value of the area 
Penentuan Daerah Prioritas di Wilayah Pelayanan Bandung Utara Berdasarkan Parameter Fungsi dan Nilai Daerah SEPTIANI, PEPIN; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.396 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.58-70

Abstract

AbstrakWilayah Pelayanan (WP) Bandung Utara merupakan salah satu wilayah pelayanan sampah di Kota Bandung yang terdiri dari 7 kecamatan dan 31 kelurahan dengan karakteristik yang beragam. Tujuan studi ini menentukan daerah prioritas di WP Bandung Utara berdasarkan parameter fungsi dan nilai daerah pada SNI 19-2454-2002. Studi dilakukan dengan menentukan kriteria penilaian, identifikasi sumber dan jenis data yang tersedia, dan penentuan data yang digunakan, menyusun penilaian penentuan daerah prioritas dengan pembuatan standar kelas penilaian dan skoring, pembobotan nilai akhir dan pembuatan peta daerah prioritas. Daerah prioritas 1 yaitu Kelurahan Pasteur, Sukagalih, Citarum dan Tamansari. Daerah prioritas 2 yaitu Kelurahan Lebak Gede, Sadang Serang, Sekeloa, Gegerkalong, Sarijadi, Sukabungah, Cihaurgeulis, Sukaluyu, Cikutra dan Cihapit, daerah prioritas 3 yaitu Kelurahan Ciumbuleuit, Hegarmanah, Ledeng, Cipaganti, Dago, Lebak Siliwangi, Isola, Sukarasa, Cipedes, Sukawarna, Cigadung, Neglasari, Cicadas Padasuka, Pasirlayung, Sukamaju, dan Sukapada.Kata kunci: Wilayah pelayanan , Fungsi dan nilai daerahAbstractService Area North Bandung is one of the areas of waste management services in Bandung, which consists of 7 districts and includes 31 villages with various characteristics. The purpose of this study was to determine priority areas in North Bandung WP by parameter function and values based on SNI 19-2454-2002. The study was done by determination of the assessment criteria, identification of sources and types of data available, and the determination of the data used, then make assessment determining the priority areas to manufacture class standards of assessment and scoring, weighting the value of the final and mapping areas of priority. The priority area 1 of waste management services were the Village Pasteur, Sukagalih, Citarum and Tamansari. The priority area 2 comprised the Village Lebak Gede, Sadang Serang, Sekeloa, Gegerkalong, Sarijadi, Sukabungah, Cihaurgeulis, Sukaluyu, Cikutra and Cihapit. The priority area 3 consisted of the Village Ciumbuleuit, Hegarmanah, Ledeng, Cipaganti, Dago, Lebak Siliwangi, Isola, Sukarasa, Cipedes, Sukawarna, Cigadung, Neglasari, Cicadas Padasuka, Pasirlayung, Sukamaju, and Sukapada.Keywords: The area of services, functions and value of the area 
Pengembangan Penentuan Daerah Prioritas Terhadap Sistem Pengelolaan Sampah Berdasarkan SNI 19-2454-2002 (Studi Kasus: Wilayah Pelayanan Bandung Selatan) HAFIDZAH, YUNITA RACHMAH; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.58 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.119-131

Abstract

AbstrakWilayah pelayanan sampah Kota Bandung yang saat ini dilakukan berdasarkan zonasi, berdasarkan jarak terdekat dengan pengelolaan yang sama. Dibutuhkan pembentukan daerah prioritas untuk meminimalisir permasalahan sampah. Penentuan daerah prioritas akan dilakukan di wilayah pelayanan Bandung Selatan menurut metode SNI 19-2454-2002. Tujuan dari studi ini yaitu mengembangkan skala kepentingan daerah pelayanan yang disesuaikan dengan ketersediaan data. Hasil kajian menunjukkan, terdapat 1 dari 6 parameter yang dirubah yaitu parameter kondisi lingkungan menjadi parameter area beresiko persampahan. Sementara itu, terjadi pengembangan di kriteria penilaian, bobot, nilai kerawanan sanitasi dan potensi ekonomi. Pengembangan kriteria penilaian terjadi pada parameter fungsi dan nilai daerah, kondisi lingkungan, topografi, dan tingkat pendapatan penduduk. Kata kunci: Daerah Prioritas, Pengembangan,parameter, SNIAbstractThe distribution of the Bandung City waste service area that is currently running based on zoning, thus, is needed to establish priority areas in the service area that has the lowest level of service in the hope of increasing the level of waste services in the city of Bandung. Based on this, the establishment of priority areas will be carried out in the area of Bandung South Bandung service by using the SNI 19-2454-2002 method. The purpose of this study is to develop the scale of interest in service areas that are adjusted to the availability of data. The results of the study show that there are 1 of 6 parameters that are changed, namely the parameters of environmental conditions into parameters of the area at risk of solid waste. Meanwhile, there are developments in the assessment criteria, weight, sanitation vulnerability and economic potential. Development of assessment criteria occurs in the parameters of function and value area, environmental conditions, topography, and population income level.Keywords: Priority area, development, parameters, SNI
Pengembangan Penentuan Daerah Prioritas Terhadap Sistem Pengelolaan Sampah Berdasarkan SNI 19-2454-2002 (Studi Kasus: Wilayah Pelayanan Bandung Selatan) HAFIDZAH, YUNITA RACHMAH; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.58 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.119-131

Abstract

AbstrakWilayah pelayanan sampah Kota Bandung yang saat ini dilakukan berdasarkan zonasi, berdasarkan jarak terdekat dengan pengelolaan yang sama. Dibutuhkan pembentukan daerah prioritas untuk meminimalisir permasalahan sampah. Penentuan daerah prioritas akan dilakukan di wilayah pelayanan Bandung Selatan menurut metode SNI 19-2454-2002. Tujuan dari studi ini yaitu mengembangkan skala kepentingan daerah pelayanan yang disesuaikan dengan ketersediaan data. Hasil kajian menunjukkan, terdapat 1 dari 6 parameter yang dirubah yaitu parameter kondisi lingkungan menjadi parameter area beresiko persampahan. Sementara itu, terjadi pengembangan di kriteria penilaian, bobot, nilai kerawanan sanitasi dan potensi ekonomi. Pengembangan kriteria penilaian terjadi pada parameter fungsi dan nilai daerah, kondisi lingkungan, topografi, dan tingkat pendapatan penduduk. Kata kunci: Daerah Prioritas, Pengembangan,parameter, SNIAbstractThe distribution of the Bandung City waste service area that is currently running based on zoning, thus, is needed to establish priority areas in the service area that has the lowest level of service in the hope of increasing the level of waste services in the city of Bandung. Based on this, the establishment of priority areas will be carried out in the area of Bandung South Bandung service by using the SNI 19-2454-2002 method. The purpose of this study is to develop the scale of interest in service areas that are adjusted to the availability of data. The results of the study show that there are 1 of 6 parameters that are changed, namely the parameters of environmental conditions into parameters of the area at risk of solid waste. Meanwhile, there are developments in the assessment criteria, weight, sanitation vulnerability and economic potential. Development of assessment criteria occurs in the parameters of function and value area, environmental conditions, topography, and population income level.Keywords: Priority area, development, parameters, SNI
Identifikasi Timbulan Sampah di Pasar Induk Caringin Bandung DJAFAR, JULINDA; AINUN, SITI; DIRGAWATI, MILA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.64 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v2i1.%p

Abstract

AbstrakBesarnya timbulan sampah yang dihasilkan tidak sebanding dengan upaya pengelolaan yang oleh pihak KOPPAS (Koperasi Pasar) terlihat dari kondisi sampah yang berserakan di mana-mana. Untuk itu dilakukan penelitian ini agar dapat mengetahui besar timbulan sampah yang dihasilkan sehingga dapat digunakan sebagai dasar perencanaan pengelolaan sampah di Pasar Induk Caringin. Pengukuran timbulan sampah dilakukan sesuai dengan metode dalam SNI 19-3964-19914. Data yang diambil adalah berat sampah dan luas bangunan. Hasil penelitian menunjukan total timbulan sampah di Pasar Induk Caringin Bandung sebesar 1,64 kg/m2/ atau 7,44 liter/m2/hari. terdiri dari 16 pedagang seperti pedagang sayur, buah dan ikan basah. Kelompok kedua terdiri dari Sembilan pedagang terdiri dari pedagang  daging, beras kelontongan 2 lantai, kelontongan 3 lantai, grosir, elektronik, kosmetik pakaian jadi, kue dan plastik. Dan 3 area antara lain adalah area ruko, los dan kaki lima.Kata kunci: Timbulan sampah, Pasar, berat.
Kajian Timbulan dan Komposisi Sampah di Kampus Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas) Gumilar, Geany Sharah; Ainun, Siti
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.172 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.3956

Abstract

ABSTRACT Educational institutions are places to conduct research and innovation to improve the quality of an independent environment. This study aims to determine the amount of waste generation and composition of institutions, especially the Bandung National Institute of Technology (Itenas). The sampling method is based on SNI 19-3964-1994 by measuring the production and composition of waste for eight consecutive days. The study results obtained an average generation of Itenas waste of 0.015 kg/m2/day or 0.156 kg/person/day in units of weight and 0.242 liters/m2/day or 2.446 liters/person/day in units of volume. The composition of Itenas waste is dominated by organic waste by 50.78%, which consists of food scraps and leaves, while other waste compositions include 14.09% plastic; 4.54% cardboard; 2.33% paper; 1.93% fabric; 1.21% glass; 0.08% cans; 0.03% metal; and 24.99% residue or other waste. The highest activities that produce organic waste in Itenas are canteen activities, while the Student Center (SC) activities make the highest amount of recyclable waste. Keywords: institutional solid waste, solid waste generation, waste composition, Bandung National Institution of Technology (Itenas)   ABSTRAK Institusi pendidikan adalah tempat untuk melakukan penelitian dan inovasi untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan besaran timbulan dan komposisi sampah dari institusi khususnya Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas). Metode sampling yang dilakukan berdasarkan SNI 19-3964-1994 dengan cara melakukan pengukuran timbulan dan komposisi sampah selama 8 hari berturut-turut. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata timbulan sampah Itenas sebesar 0,015 kg/m2/hari atau 0,156 kg/orang/hari dalam satuan berat dan 0,242 liter/m2/hari atau 2,446 liter/orang/hari dalam satuan volume. Komposisi sampah Itenas didominasi oleh sampah organik sebesar 50,78% yang terdiri dari sisa makanan dan dedaunan, sedangkan komposisi sampah lainnya antara lain 14,09% plastik; 4,54% kardus; 2,33% kertas; 1,93% kain; 1,21% kaca; 0,08% kaleng; 0,03% logam; dan 24,99% residu atau sampah lainnya. Kegiatan yang paling tinggi menghasilkan sampah organik di Itenas adalah kegiatan kantin sedangkan kegiatan Student Center (SC) menghasilkan sampah daur ulang yang paling tinggi. Kata kunci: sampah institusi, timbulan sampah, komposisi sampah, Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas)
Pengaruh Laju Aliran Udara Terhadap Efisiensi Penyisihan Organik di dalam Air Lindi dengan Menggunakan Teknik Oksidasi Lanjut (O3/H2O2) Sururi, Mohamad Rangga; Fadiyah, Mayang Afi; Saleh, Siti Ainun; Dirgawati, Mila
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2852.641 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.4379

Abstract

ABSTRACT Leachate has complex characteristics, and it is commonly processed biologically in the Leachate Treatment Plant (IPL) in Indonesia. However, as the landfill ages, the leachate becomes less biodegradable. An appropriate technique is needed to treat leachate at IPL, and one of the promising methods is advanced oxidation with O3/H2O2. This study examined the effect of air flow rate on the concentration of residual ozone (KSO) and its efficiency to remove organic compounds using the O3/H2O2 process. Leachate samples were collected as grab samples from TPA Sarimukti Bandung. As much as 1 L of leachate samples were placed in an ozone contactor equipped with a filter disc with a pore size of 100-160 µm. The dose of H2O2 was continuously added to 1.197 g/L. Compressor was used to provide airflow with variations of 2, 3, and 4 L/min. Dissolved Oxygen (DO) was measured to determine the concentration of residual ozone (KSO) and validated by examining KSO measurements with the Indigo colorimetric method. A strong relationship between KSO and DO (R2 = 0.99) was observed at an airflow rate of 4 L/min. The highest ozone mass transfer coefficient (KLa,O3) was recorded at a 4 L/minute flow rate with 0.0022 min-1 at 27 °C.  The best removal efficiency has occurred at the fastest air flow rate (4 L/min) with COD, and UV254 removal was 88.89% and 14.87%, respectively. Keywords: DO, flow variation, KSO, leachate, O3/H2O2, organic, mass transfer   ABSTRAK Karakteristik lindi sangatlah kompleks dan di Indonesia, Instalasi Pengolahan Lindi (IPL) pada umumnya menggunakan sistem pengolahan biologis. Namun demikian, seiring dengan pertambahan umur urugan sampah, lindi semakin tidak biodegradable. Teknik pengolahan tepat diperlukan untuk mengolah lindi di IPL. Salah satu teknik yang sering digunakan adalah oksidasi lanjut dengan O3/H2O2 dengan mentransferkan gas ozon ke dalam air lindi yang diukur sebagai Konsentrasi Sisa Ozon (KSO) dan menambahkan H2O2 untuk meningkatkan pembentukan OH? di dalam air.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh laju aliran udara terhadap KSO serta pengaruhnya terhadap efisiensi penyisihan senyawa organik pada proses O3/H2O2. Sampel lindi diambil secara grab sampling dari TPA Sarimukti Bandung. Sebanyak 1 L sampel ditempatkan pada kontaktor ozon yang dilengkapi filter disc dengan pori berukuran 100-160µm. Dosis H2O2 yang diberikan tetap sebesar 1,197 g/L. Udara dialirkan dengan air compressor dengan variasi debit udara 2, 3, dan 4 L/menit. Pada penelitian ini, pengukuran Dissolved Oxygen (DO) digunakan sebagai pendekatan untuk mengukur KSO. Validasi dilakukan dengan meneliti hubungan antara KSO dan DO dan pengukuran KSO dilakukan dengan metode indigo colorimetric method.  Hasil penelitian menunjukkan KSO dan DO memiliki hubungan yang kuat (R2 = 0,99) pada variasi aliran udara 4 L/menit. Laju aliran udara tercepat terjadi ketika nilai koefisien transfer masa ozon (KLa,O3) mencapai nilai tertinggi (0,0022 menit-1) pada suhu 27 oC. Hasil penelitian membuktikan efisiensi penyisihan COD (88,89%) dan UV254 (14,87%) tertinggi terjadi pada laju aliran udara tercepat selama 180 menit. Kata kunci: DO, aliran udara KSO, lindi, O3/H2O2, organik, transfer masa
Kajian Timbulan dan Komposisi Sampah di Kampus Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas) Gumilar, Geany Sharah; Ainun, Siti
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.172 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.3956

Abstract

ABSTRACT Educational institutions are places to conduct research and innovation to improve the quality of an independent environment. This study aims to determine the amount of waste generation and composition of institutions, especially the Bandung National Institute of Technology (Itenas). The sampling method is based on SNI 19-3964-1994 by measuring the production and composition of waste for eight consecutive days. The study results obtained an average generation of Itenas waste of 0.015 kg/m2/day or 0.156 kg/person/day in units of weight and 0.242 liters/m2/day or 2.446 liters/person/day in units of volume. The composition of Itenas waste is dominated by organic waste by 50.78%, which consists of food scraps and leaves, while other waste compositions include 14.09% plastic; 4.54% cardboard; 2.33% paper; 1.93% fabric; 1.21% glass; 0.08% cans; 0.03% metal; and 24.99% residue or other waste. The highest activities that produce organic waste in Itenas are canteen activities, while the Student Center (SC) activities make the highest amount of recyclable waste. Keywords: institutional solid waste, solid waste generation, waste composition, Bandung National Institution of Technology (Itenas)   ABSTRAK Institusi pendidikan adalah tempat untuk melakukan penelitian dan inovasi untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan besaran timbulan dan komposisi sampah dari institusi khususnya Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas). Metode sampling yang dilakukan berdasarkan SNI 19-3964-1994 dengan cara melakukan pengukuran timbulan dan komposisi sampah selama 8 hari berturut-turut. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata timbulan sampah Itenas sebesar 0,015 kg/m2/hari atau 0,156 kg/orang/hari dalam satuan berat dan 0,242 liter/m2/hari atau 2,446 liter/orang/hari dalam satuan volume. Komposisi sampah Itenas didominasi oleh sampah organik sebesar 50,78% yang terdiri dari sisa makanan dan dedaunan, sedangkan komposisi sampah lainnya antara lain 14,09% plastik; 4,54% kardus; 2,33% kertas; 1,93% kain; 1,21% kaca; 0,08% kaleng; 0,03% logam; dan 24,99% residu atau sampah lainnya. Kegiatan yang paling tinggi menghasilkan sampah organik di Itenas adalah kegiatan kantin sedangkan kegiatan Student Center (SC) menghasilkan sampah daur ulang yang paling tinggi. Kata kunci: sampah institusi, timbulan sampah, komposisi sampah, Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas)
Pengaruh Laju Aliran Udara Terhadap Efisiensi Penyisihan Organik di dalam Air Lindi dengan Menggunakan Teknik Oksidasi Lanjut (O3/H2O2) Sururi, Mohamad Rangga; Fadiyah, Mayang Afi; Saleh, Siti Ainun; Dirgawati, Mila
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2852.641 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.4379

Abstract

ABSTRACT Leachate has complex characteristics, and it is commonly processed biologically in the Leachate Treatment Plant (IPL) in Indonesia. However, as the landfill ages, the leachate becomes less biodegradable. An appropriate technique is needed to treat leachate at IPL, and one of the promising methods is advanced oxidation with O3/H2O2. This study examined the effect of air flow rate on the concentration of residual ozone (KSO) and its efficiency to remove organic compounds using the O3/H2O2 process. Leachate samples were collected as grab samples from TPA Sarimukti Bandung. As much as 1 L of leachate samples were placed in an ozone contactor equipped with a filter disc with a pore size of 100-160 µm. The dose of H2O2 was continuously added to 1.197 g/L. Compressor was used to provide airflow with variations of 2, 3, and 4 L/min. Dissolved Oxygen (DO) was measured to determine the concentration of residual ozone (KSO) and validated by examining KSO measurements with the Indigo colorimetric method. A strong relationship between KSO and DO (R2 = 0.99) was observed at an airflow rate of 4 L/min. The highest ozone mass transfer coefficient (KLa,O3) was recorded at a 4 L/minute flow rate with 0.0022 min-1 at 27 °C.  The best removal efficiency has occurred at the fastest air flow rate (4 L/min) with COD, and UV254 removal was 88.89% and 14.87%, respectively. Keywords: DO, flow variation, KSO, leachate, O3/H2O2, organic, mass transfer   ABSTRAK Karakteristik lindi sangatlah kompleks dan di Indonesia, Instalasi Pengolahan Lindi (IPL) pada umumnya menggunakan sistem pengolahan biologis. Namun demikian, seiring dengan pertambahan umur urugan sampah, lindi semakin tidak biodegradable. Teknik pengolahan tepat diperlukan untuk mengolah lindi di IPL. Salah satu teknik yang sering digunakan adalah oksidasi lanjut dengan O3/H2O2 dengan mentransferkan gas ozon ke dalam air lindi yang diukur sebagai Konsentrasi Sisa Ozon (KSO) dan menambahkan H2O2 untuk meningkatkan pembentukan OH? di dalam air.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh laju aliran udara terhadap KSO serta pengaruhnya terhadap efisiensi penyisihan senyawa organik pada proses O3/H2O2. Sampel lindi diambil secara grab sampling dari TPA Sarimukti Bandung. Sebanyak 1 L sampel ditempatkan pada kontaktor ozon yang dilengkapi filter disc dengan pori berukuran 100-160µm. Dosis H2O2 yang diberikan tetap sebesar 1,197 g/L. Udara dialirkan dengan air compressor dengan variasi debit udara 2, 3, dan 4 L/menit. Pada penelitian ini, pengukuran Dissolved Oxygen (DO) digunakan sebagai pendekatan untuk mengukur KSO. Validasi dilakukan dengan meneliti hubungan antara KSO dan DO dan pengukuran KSO dilakukan dengan metode indigo colorimetric method.  Hasil penelitian menunjukkan KSO dan DO memiliki hubungan yang kuat (R2 = 0,99) pada variasi aliran udara 4 L/menit. Laju aliran udara tercepat terjadi ketika nilai koefisien transfer masa ozon (KLa,O3) mencapai nilai tertinggi (0,0022 menit-1) pada suhu 27 oC. Hasil penelitian membuktikan efisiensi penyisihan COD (88,89%) dan UV254 (14,87%) tertinggi terjadi pada laju aliran udara tercepat selama 180 menit. Kata kunci: DO, aliran udara KSO, lindi, O3/H2O2, organik, transfer masa
PENGOLAHAN LINDI DENGAN OZON DAN PROSES OKSIDASI LANJUT BERBASIS OZON Mohamad Rangga Sururi; Siti Ainun Saleh; Amalia Krisna
Reaktor Volume 15, No.1, APRIL 2014
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.556 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.15.1.20-26

Abstract

Limbah industri tekstil di area pinggir kota Surabaya mempunyai karakteristik perbandingan COD dan BOD = 5.57. Limbah jenis ini sulit untuk dibiodegradasi. Studi ini mempelajari tekonologi elektrokoagulasi untuk mengolah limbah tekstil dengan menurunkan intensitas warna, Total Suspended Solid (TSS) dan Chemical Oxygen Demand (COD). Percobaan batch pada suhu kamar dilakukan untuk mempelajari pengaruh pH, jarak elektroda terhadap penurunan warna,TSS dan COD dan membandingkan biaya operasinya jika menggunakan pengolahan kimia.Effisiensi penurunan tertinggi untuk warna (91.96%),  TSS (49.17%), dan COD (29.67%) terjadi pada pH awal 4.0 dan jarak elektroda 2 cm dengan  elektroda Al/Al. Waktu optimum penurunan intensitas warna dalah 10 menit. Laju penurunan COD adalah : -dC/dt = 0.0053 C +0.056 , dengan C adalah konsentrasi COD. Jumlah sludge yang dihasilkan daripengolahan elektrokoagulasi  3.4 % lebih kecil dibandingkan menggunakan bahan kimia. Biaya yang digunakan untuk pengolahan dengan elektrokoagulasi 52.35 % lebih murah dibandingkan jika menggunakan koagulasi dengan bahan kimia ( tawas). Kata kunci : elektrokoagulasi, penurunan warna, penurunan TSS, laju degradasi COD, imbah tekstil Abstract Waste water from textile industry which is located in one suburb of Surabaya city as characteristic which the ratio of COD to BOD was 5.57. This type of waste water is difficult to be biodegraded. This study investigated elektrokoagulasi technology to treat textile waste water by removing color, total suspended solid, and Chemical Oxygen Demand. Batch experiment at room temperature was carried out to study the effect of pH, electrode distance for color, TSS and COD removal. This study also tried to compare the operation cost between elektrokoagulasi and chemical processes. The best removal efficiencies by Al electrodes was 91.96 % for color, 49.17 % for TSS and 29.67 % for COD which were under initial pH 4.0 and electrodes distance 2 cm. The optimum operation time for color removal was  found 10 minutes.The COD degradation rate was - dC/dt = 0.0053 C +0.056, with C= COD concentration. Sludge result from elektrokoagulasi was 3.4 % less than that by chemical treatment.The operation cost for elektrokoagulasi is 52.35 % less than that for chemical coagulation.