Claim Missing Document
Check
Articles

PENYISIHAN Fe-ORGANIK PADA AIR TANAH DENGAN AOP (ADVANCED OXIDATION PROCESS) Siti Ainun Saleh; Mohamad Rangga Sururi; Kancitra Pharmawati; Indra Suryana
Reaktor Volume 15 No.4 Oktober 2015
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.573 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.15.4.218-223

Abstract

ORGANIC FERROUS REMOVAL IN GROUNDWATER USING ADVANCE OXIDATION PROCESS (AOP). Groundwater is usually contained a lot of iron concentration. Iron can bind organic materials which resulted in health and aesthetic problems, so it needs alternative technology to be applied for iron organic removal. The aim of the research is to gain the efficiency of iron organic (Fe2+) removal with ozone and UV light, known as advanced oxidation process (AOP). Groundwater samples were taken from Padasuka area in Bandung. Ozone was supplied continually into a semi-batch reactor with 1.5 liters of sample, then indigo colorimetric method was used to measure ozone residual concentration at contact time : 5, 10, 15, 25 and 30 minutes. Measurement of the concentration of iron and organic matter employed methods of penenthroline, followed by pemanganometri titration, consecutively. The initial concentration of iron (Fe2+) was 3.271 mg/L and the concentration of organic matter was 4.38 mg/L. The results showed that the removal efficiency was 90% for iron and 70% for organic material which gives an indication that the advanced oxidation process (AOP) with ozone and UV can remove the organic iron. Keywords: AOP; efficiency; Fe; groundwater; organic matter Abstrak Air tanah biasanya mengandung konsentrasi besi yang tinggi. Besi bisa berikatan dengan material organik yang bisa berdampak pada kesehatan dan masalah estetika sehingga perlu alternatif teknologi pengolahan untuk penyisihan besi organik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan tingkat efisiensi terbaik dari penyisihan besi organik (Fe2+) dengan menggunakan ozon dan sinar UV sebagai proses oksidasi lanjutan (AOP). Sampel penelitian in menggunakan air tanah dari daerah Padasuka Kota Bandung. Ozon dialirkan secara kontinyu ke dalam reaktor semi-batch  dengan volume 1,5 liter. Pengukuran konsentrasi sisa ozon menggunakan metode indigo colorimetric pada waktu kontak: 5, 10, 15, 25 dan 30 menit. Pengukuran konsentrasi besi dan materi organik berturut-turut menggunakan metoda penanthroline dan titrasi pemanganometri. Konsentrasi awal besi (Fe2+) sebesar 3,271 mg/L dan konsentrasi materi organik sebesar 4,38 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penyisihan konsentrasi keduanya berturut turut adalah sebesar 90% untuk besi dan 70% untuk materi organik yang memberikan indikasi bahwa proses oksidasi lanjutan (AOP) dengan ozon dan UV dapat menyisihkan kandungan besi organik. Kata kunci: proses oksidasi lanjutan (AOP); tingkat efisiensi; Fe; air tanah; materi organik  
Pengembangan Indikator untuk Penilaian Kategori Edukasi Green Campus Rininta Rolia Sita; Emma Akmalah; Siti Ainun
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.70

Abstract

ABSTRAKGreen campus  merupakan suatu konsep yang mengutamakan praktik dari upaya perlindungan, pengelolaan, dan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan pada institusi-institusi pendidikan. Salah satu penilaian green campus adalah penilaian kategori edukasi berbasis sustainable development yang dapat mengarahkan civitas akademica dalam mendukung pembangunan ekonomi yang seimbang dengan faktor lingkungan dan sosial. Penilaian edukasi perlu dilakukan untuk menilai sejauh mana pengetahuan dan penerapan konsep sustainable development dilakukan. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengintegrasikan indikator-indikator penilaian kategori edukasi UI GreenMetric dan STARS, yang didukung dengan hasil observasi lapangan seluruh aspek edukasi di Itenas. Hasil pengembangan kategori edukasi ini adalah penentuan indikator, penentuan sub-indikator, dan bobot penilaian dari setiap indikator dan sub-indikator. Bobot tertinggi dari seluruh indikator edukasi adalah indikator academic courses dengan nilai bobot 25%.Kata kunci: green campus, edukasi, sustainable development ABSTRACTGreen campus is a concept that prioritizes the practice of sustainable environmental protection, management and preservation of educational institutions. One aspect of green campus is the assessment of education-based sustainable development category that can direct the academic community in supporting economic development that is balanced with the environment and social factors. Educational assessments should be conducted to assess the extent to which knowledge and application of sustainable development concepts are carried out. The methodology used in this research is integrations the assessment indicators of education category from UI GreenMetric and STARS, supported by field observation of all aspects of education in Itenas. The results of this education category development are the determination of indicators, the determination of the sub-indicators, and the weight of the assessment of each indicator and sub-indicators. The highest weight of all educational indicators is the indicator of academic courses with a weighted value of 25%.Keywords: green campus, education, sustainable development
Pengembangan Indikator Waste (Sampah) pada Penerapan Konsep Green Campus di Itenas Satrio Triadi Agung Nugroho; Emma Akmalah; Siti Ainun
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 1: Maret 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i1.122

Abstract

ABSTRAKSampah merupakan salah satu faktor kerusakan lingkungan terutama di area kampus yang memiliki banyak timbulan sampah. Salah satu upaya untuk menyelamatkan lingkungan kampus adalah dengan menjalankan program green campus. Untuk menilai kegiatan green campus, Indonesia telah memiliki sistem penilaian yang dikeluarkan oleh Universitas Indonesia yaitu UI GreenMetric, dengan salah satu kategori yang dinilai adalah sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan indikator pada kategori sampah pada kampus Itenas, Bandung. Data yang diperlukan diperoleh melalui observasi dan studi literatur dan selanjutnya diolah dan dianalisis dengan metode pengembangan atau research and development. Hasil yang didapatkan adalah berupa perkembangan indikator dan sub-indikator yang dapat diterapkan di kampus Itenas yang juga dapat diterapkan di kampus lain.Kata kunci: sampah, green campus, Itenas, pengembangan indikator ABSTRACTWaste is one of the environmental damage factor, especially in campus areas that have a lot of waste generation. One of the efforts to save the campus environment is through the green campus program. To assess the green campus activities, Indonesia has a rating system issued by the University of Indonesia i.e UI GreenMetric, which has waste category. This study aims to develop indicators for waste category and applied at Itenas campus, Bandung. Data required for this research are obtained through observation and literature study and then processed and analyzed by research and development method. The results obtained are the development of indicators and sub-indicators that can be applied on the Itenas campus which can also be applied in other campuses. Keywords: waste, green campus, Itenas, indicators development.
Efektivitas Proses Ozonisasi Studi Kasus : IPA dan Miniplant Dago Pakar CHINDY CINTHYA; M. RANGGA SURURI; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v7i2.90-99

Abstract

AbstrakIPA dan Miniplant Dago Pakar merupakan salah satu Instalasi pengolahan air minum dengan sumber air baku berasal dari Sungai Cikapundung Hulu. Keberadaan kolam retensi yang berperan sebagai pre-treatment pada air baku Miniplant diperkirakan akan mempengaruhi karakteristik bahan organik pada air baku. Proses ozonisasi digunakan sebagai alternatif pengolahan bahan organik dengan menggunakan ozon yang berperan sebagai oksidator kuat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efisiensi penyisihan BOD dan kekeruhan pada air baku dengan proses ozonisasi. Parameter yang diukur meliputi pH, temperatur, kekeruhan, BOD dan KSO dengan metode pengukuran mengacu kepada  SNI dan SMWW. Penelitian dilakukan skala laboratorium menggunakan reaktor sistem batch selama 60 menit pada reaktor ozon kontaktor yang bervolume 1,5 L. Pengolahan dengan proses ozonisasi dapat mengoksidasi bahan organik menjadi senyawa yang lebih sederhana. Sampel air yang digunakan berasal dari air baku yang akan diolah di IPA dan Miniplant Dago Pakar. Efisiensi penyisihan kekeruhan pada IPA dan Miniplant secara berturut-turut adalah 77% dan 39%. Nilai BOD pada IPA lebih tinggi dibandingkan dengan Miniplant yang diduga disebabkan oleh keberadaan kolam retensi. Konsentrasi BOD pada IPA setelah dilakukan ozonisasi mengalami peningkatan sebanyak 9% sedangkan pada Miniplant peningkatan nilai BOD adalah 20%.Kata kunci: Air Baku, IPA dan Miniplant Dago Pakar, Ozonisasi, BOD, Kekeruhan
Pengembangan Penentuan Daerah Prioritas Terhadap Sistem Pengelolaan Sampah Berdasarkan SNI 19-2454-2002 (Studi Kasus: Wilayah Pelayanan Bandung Selatan) YUNITA RACHMAH HAFIDZAH; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.119-131

Abstract

AbstrakWilayah pelayanan sampah Kota Bandung yang saat ini dilakukan berdasarkan zonasi, berdasarkan jarak terdekat dengan pengelolaan yang sama. Dibutuhkan pembentukan daerah prioritas untuk meminimalisir permasalahan sampah. Penentuan daerah prioritas akan dilakukan di wilayah pelayanan Bandung Selatan menurut metode SNI 19-2454-2002. Tujuan dari studi ini yaitu mengembangkan skala kepentingan daerah pelayanan yang disesuaikan dengan ketersediaan data. Hasil kajian menunjukkan, terdapat 1 dari 6 parameter yang dirubah yaitu parameter kondisi lingkungan menjadi parameter area beresiko persampahan. Sementara itu, terjadi pengembangan di kriteria penilaian, bobot, nilai kerawanan sanitasi dan potensi ekonomi. Pengembangan kriteria penilaian terjadi pada parameter fungsi dan nilai daerah, kondisi lingkungan, topografi, dan tingkat pendapatan penduduk. Kata kunci: Daerah Prioritas, Pengembangan,parameter, SNIAbstractThe distribution of the Bandung City waste service area that is currently running based on zoning, thus, is needed to establish priority areas in the service area that has the lowest level of service in the hope of increasing the level of waste services in the city of Bandung. Based on this, the establishment of priority areas will be carried out in the area of Bandung South Bandung service by using the SNI 19-2454-2002 method. The purpose of this study is to develop the scale of interest in service areas that are adjusted to the availability of data. The results of the study show that there are 1 of 6 parameters that are changed, namely the parameters of environmental conditions into parameters of the area at risk of solid waste. Meanwhile, there are developments in the assessment criteria, weight, sanitation vulnerability and economic potential. Development of assessment criteria occurs in the parameters of function and value area, environmental conditions, topography, and population income level.Keywords: Priority area, development, parameters, SNI
Hubungan Partisipasi Masyarakat terhadap Sistem Pengelolaan Sampah di Kelurahan Sukaluyu FINKA AYU PRATIWI; JULI SOEMIRAT; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v6i1.%p

Abstract

AbstrakMeningkatnya timbulan sampah salah satunya dipengaruhi oleh semakin bertambahnya jumlah penduduk. Peningkatan timbulan sampah di Kota Bandung pada tahun 2014 yaitu sebesar 1.523 ton/hari sedangkan tahun 2015 sebesar 1.670 ton/hari. Meskipun demikian, tingkat pelayanan sampah di Kota Bandung pada tahun 2015 sebesar 51,85%. Artinya, sekitar 48,15% tidak terkelola, sehingga perlu adanya partisipasi dari masyarakat. Oleh karena itu, dalam upaya mengatasimasalah sampah, perlu dilakukan peningkatan peran serta masyarakat sejak dari sumber. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan partisipasi masyarakat terhadap sistem pengelolaan sampah di Kelurahan Sukaluyu. Pengukuran tingkat partisipasi masyarakat dengan menggunakan konsep 8 (delapan) tangga dari Arnstein. Data penelitian diperoleh melalui wawancara yang dianalisis dengan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil pengukuran partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat terbesar terdapat pada tingkat manipulasi sebesar 63% dan sebesar 77,9% adanya pengaruh dari sistem terhadap partisipasi masyarakat. Disarankan dengan adanya pendidikan lingkunganmaka akan meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah.Kata Kunci : Arnstein, Pengelolaan Sampah, Tingkat Partisipasi Masyarakat, Kelurahan Sukaluyu,
Identifikasi Timbulan Sampah di Pasar Induk Caringin Bandung JULINDA DJAFAR; SITI AINUN; MILA DIRGAWATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v2i1.%p

Abstract

AbstrakBesarnya timbulan sampah yang dihasilkan tidak sebanding dengan upaya pengelolaan yang oleh pihak KOPPAS (Koperasi Pasar) terlihat dari kondisi sampah yang berserakan di mana-mana. Untuk itu dilakukan penelitian ini agar dapat mengetahui besar timbulan sampah yang dihasilkan sehingga dapat digunakan sebagai dasar perencanaan pengelolaan sampah di Pasar Induk Caringin. Pengukuran timbulan sampah dilakukan sesuai dengan metode dalam SNI 19-3964-19914. Data yang diambil adalah berat sampah dan luas bangunan. Hasil penelitian menunjukan total timbulan sampah di Pasar Induk Caringin Bandung sebesar 1,64 kg/m2/ atau 7,44 liter/m2/hari. terdiri dari 16 pedagang seperti pedagang sayur, buah dan ikan basah. Kelompok kedua terdiri dari Sembilan pedagang terdiri dari pedagang  daging, beras kelontongan 2 lantai, kelontongan 3 lantai, grosir, elektronik, kosmetik pakaian jadi, kue dan plastik. Dan 3 area antara lain adalah area ruko, los dan kaki lima.Kata kunci: Timbulan sampah, Pasar, berat.
Pengaruh Karakteristik Lindi terhadap Ozonisasi Konvensional dan Advanced Oxidation Processes (Aop) Amalia Krisnawati; M. Rangga Sururi; Siti Ainun
Jurnal Reka Lingkungan Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v2i2.%p

Abstract

ABSTRAK Ozon merupakan oksidator kuat dalam air namun proses dekomposisinya dapat menghasilkan oksidator yang lebih kuat yaitu OH radikal. Penggunaan OH radikal sebagai pengolah air disebut Advanced Oxidation Processes (AOP) yang dapat digunakan pada limbah dengan bahan pencemar berat seperti lindi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan inisiator yaitu Hidrogen peroksida (H2O2) dan sinar UV-C pada dekomposisi ozon menjadi OH radikal. Proses ozonisasi dilakukan selama 180 menit pada ozon kontaktor berbentuk silinder bervolume 1,5 liter. Ozon dihasilkan dari oksigen murni yang melewati ozon generator. Hasil yang diperoleh yaitu ozonisasi dengan penambahan H2O2 mampu mengefektifkan pembentukkan OH radikal sebesar 50% sedangkan penambahan sinar UV mengefektifkan 37%. OH radikal tersebut menyebabkan perubahan karakteristik lindi sebesar  5-7% pada parameter pH, 21-33% pada parameter alkalinitas dan 18,7-29% pada parameter Chemical Oxygen Demand (COD). Kombinasi ozon/H2O2 memberikan perubahan yang paling tinggi dibandingkan dengan ozonisasi konvensional dan ozon/UV. Kata kunci : Lindi, Ozonisasi, AOP, Konsentrasi sisa ozon
Perancangan Alat Penilaian untuk Pengembangan TPS Menjadi TPS 3R Di Wilayah Perencanaan IV Kota Bogor ANTON ZACHARIA SUHERDY; SITI AINUN; NIKO HALOMOAN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v7i1.12-22

Abstract

AbstrakTahun 2016, Kota Bogor dibagi menjadi 4 Wilayah Perencanaan dalam pengelolaan sampah. Lokasi yang dipilih adalah Wilayah Perencanaan IV, karena kodisi pada lokasi tersebut merupakan permukiman kumuh yang pengelolaannya masih menggunakan sistem kumpul-angkut-buang. Oleh karena itu, agar sampah dapat dikelola dengan adanya pengurangan sampah maka diperlukan TPS berbasis 3R sehingga dapat mengurangi beban sampah di TPA. Perancangan alat penilaian disusun dengan tujuan untuk mengetahui kondisi eksisting TPS dan perilaku masyarakat dalam menangani sampah di sekitar TPS yang ada agar dapat dikembangkan menjadi TPS 3R di Wilayah Perencanaan IV. Tahapan perancangan alat penilaian mengacu pada Buku Pedoman Umum 3R Pemukiman, dan Permen PU Nomor 3 tahun 2013. Selanjutnya mengumpulkan data sekunder, penilaian terhadap TPS yang dikelompokkan menjadi 3 aspek. Adapun pembagian aspek tersebut yaitu aspek lokasi, aspek fasilitas, dan aspek kegiatan yang ada di TPS serta dibagi menjadi 5 sub aspek, 21 indikator dan 34 pertanyaan. Penilaian PSM ( Peran Serta Masyarakat ) dikelompokkan menjadi 3 aspek, yaitu aspek peran serta masyarakat, aspek pembiayaan, dan aspek kelembagaan serta dibagi menjadi 6 sub aspek dan 8 pertanyaan. Pada penilaian TPS pembobotan menggunakan skala Likert dengan skala pembobotan untuk TPS dari hasil penilaian adalah 76 – 100 kategori I (sudah menjadi TPS 3R), 51 – 75 kategori II (TPS berpotensi tinggi menjadi TPS 3R), 26 – 50 kategori III (TPS berpotensi sedang menjadi TPS 3R), 0 – 25 kategori IV (TPS berpotensi kecil menjadi TPS 3R). Sedangkan untuk penilaian PSM mempunyai range nilai tinggi (68 – 100), sedang (34 – 67), rendah (0 – 33). Jumlah responden untuk penilaian PSM yaitu 20 rumah dengan terdiri dari 8 pertanyaan, ditentukan dengan rumus Slovin dengan jumlah penduduk sebanyak 103.389 jiwa dan tingkat error sebesar 10%. Jumlah TPS yg ada di lokasi perencanaan berjumlah 10.Kata kunci: Alat penilaian, TPS, PSM, Wilayah Perencanaan IV, Kota Bogor.
Penyusunan Indeks Tingkat Pelayanan Sistem Pengelolaan Sampah Kota ABDUL ASIS RUMAKAT; IWAN JUWANA; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.23-33

Abstract

AbstrakData PD. Kebersihan Kota Bandung, menunjukkan persentase tingkat pelayanan sampah pada tahun 2017 sebesar 98,14%. Namun pada kenyataannya, masih banyak ditemukan tumpukan sampah di beberapa tempat yang bukan peruntukannya, hal ini menunjukkan angka tersebut belum dapat mewakili pelayanan sampah secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun indeks yang digunakan untuk menilai kinerja pelayanan sampah kota. Indeks ini disusun dengan cara mengidentifikasi komponen, indikator dan sub-indikator, menentukan kriteria penilaian, melakukan pembobotan, melakukan penggabungan serta menyusun interpretasi indeks. Terdapat 5 komponen, 26 indikator dan 21 sub-indikator yang teridentifikasi. Pembobotan dilakukan dengan pemberian nilai berbeda pada komponen, indikator dan sub-indikator dengan metode aritmatik. Interpretasi indeks dibuat kedalam 5 kategori dengan skala 0-100. Dari hasil penyusunan indeks ini, selanjutnya akan digunakan untuk menilai tingkat pelayanan persampahan di Kota Bandung.Kata kunci : tingkat pelayanan, komponen, indikator, sub-indikator. AbstractAccording to the data from PD Kebersihan Kota Bandung, in 2017 the percentage of the performance level of solid waste is 98.14%. However, it is visible that a large amount of solid waste dumped directly to the environment. This indicates that the existing service level performance value is unable to represent the overall solid waste service. Thus, this study aims to develop a solid waste service level index. This study was undertaken by selecting components, indicators and sub-indicators, determining the weights for the components, indicators and sub-indicators, as well as defining the aggregation and interpretation of the final index. Thorough this study, 5 components, 26 indicators and 21 sub-indicators were identified. The chosen weights for the index was the different weighting. Aggregation index using arithmetic method with the interpretation of the final index will be based on 5 categories of 0-100 scale. Keywords : service level, component, indicator, sub-indicator.