Claim Missing Document
Check
Articles

Kelarutan Ozon pada Proses Ozonisasi Konvensional dan Advanced Oxidation Process (O3/H2O2) pada Lindi Effluent Pengolahan Sandi Gelardiansyah; Mohamad Rangga Sururi; Siti Ainun
Jurnal Reka Lingkungan Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v3i2.%p

Abstract

AbstrakLindi merupakan limbah cair yang dihasilkan dari proses pengurugan. Proses dengan ozon maupun AOP (O3/H2O2) dapat diterapkan sebagai pengolahan lanjutan mengingat efisiensi IPAL (Instalasi Pengolahan Air Lindi) eksisting hanya menyisihkan COD sebesar 13,94%. Transfer gas dipengaruhi oleh variasi perlakuan, dalam hal ini pengukuran KLaO3bertujuan untuk mengetahui kelarutan ozon yang ada di setiap variasi. Variasi perlakuan diantaranyadengan ozonisasi konvensional dan AOP (ozon/H2O2 dengan dosis 1,197 g/L dan 1,795 g/L). Ozon dihasilkan dari generator yang dialiri oksigen murni dengan debit 3 L/menit dan dikontakkan dengan lindi pada kondisi suhu ruang (25±3ºC) dengan sistem semi batch. Proses dengan AOP melalui penambahan H2O2 dapat meningkatkan pembentukan OH●,hal ini ditandai dengan kecilnya nilai Kla O3 pada variasi ozon/H2O21,795 g/L yaitu sebesar0,0023 dibandingkan variasi lainnya seperti ozon konvensional dan ozon/H2O21,197 g/L(0,0047 dan 0,0026). Proses dengan AOP (ozon/H2O21,795 g/L) menunjukkan hasil yang terbaik, kecilnya kelarutan ozon pada proses AOP mengindikasikan banyaknya ozon yang terdekomposisi menjadi OH●dan proses didominasi oleh reaksi tidak langsung melalui OH●.Kata kunci: Lindi, Kla O3 ,Ozon dan H2O2, OH●
Perancangan Reaktor Kontinu pada Pengolahan Lindi Berbasis Ozon DEWI KOMALASARI; M. RANGGA SURURI; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v6i2.%p

Abstract

ABSTRAK Pengolahan lindi TPA Sarimukti dengan metode Advanced Oxidation Process (ozon/H2O2) 1,197 gr/L menyisihkan kekeruhan 1 liter lindi sebesar 91,59% selama 3 jam dengan reaktor semi-batch.Sistem semi batch ini memiliki keterbatasan karena hanya mampu mengolah lindi sebanyak 1 liter selama 180 menit.Penelitian ini merancang reaktor kontinu agar dapat diaplikasikan ke skala sebenarnya dengan merancang dua jenis reaktor, yaitu static mixer dan ozone contactor. Static mixer berfungsi sebagai pencampur ozon dan lindi secara statis, dan dilakukan uji visual terhadap gelembung yang terbentuk. Kemudian dilakukan penentuan debit aliran lindi di dalam reaktor pada berbagai kemiringan sudut.Selain itu perancangan ozone contactor, dilakukan dengan memodifikasi reaktor semi batch dengan volume 1,5 liter dengan dimensi; diameter 9,5 cm dan tinggi 30 cm, menjadi reaktor kontinu jenis counter co-current contactor. Modifikasi dilakukan dengan memasang baffle pada reaktor semi batch. Dimensi baffle ditentukan dengan metode pendekatan perhitungan vertical baffled flocullation. Berdasarkan hasil uji visual gelembung static mixer, dimensi static mixer adalah sebagai berikut: diameter 0,8 cm, jarak antar baffle sebesar 0,5 cm, dan adanya gelembung berdiameter ±1 mm dengan kecepatan pengadukan ±0.049 detik/cm. Kemiringan sudut yang terbentuk pada uji visual static mixer adalah 900 dan menjadikan penentuan debit terpilih adalah 102,67 mL/detik.Dimensi pada ozone contactor:jarak antara baffle dan dasar reaktor; jarak antara baffle dan bagian tutup reaktor adalah 2 mm. Selain itu waktu detensi lindi di dalam ozone contactor adalah 6,25 menit.Kata Kunci : Lindi, ozone contactor,Static mixer, Reaktor Kontinu
Penyusunan Alat Ukur Partisipasi Birokrat dalam Program Pengurangan Sampah di Kota Bandung AFIFAH TRI LARASATY; JULI SOEMIRAT; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.84-94

Abstract

AbstrakProgram pengurangan sampah diwujudkan dengan keterlibatan aktif masyarakat maupun pihak pengelola sampah. Dalam mewujudkan keberhasilan suatu program pengurangan sampah di dalam implementasinya juga melibatkan pihak birokrat yang seringkali berperan baik sebagai inisiator, penyelenggara, maupun pengawas program. Terkait hal tersebut, diperlukan adanya sebuah penelitian untuk mengukur tingkat partisipasi birokrat dalam program-program yang diselenggarakan dengan menggunakan teori Arnstein (A Ladder Of Citizen Participation).Teknik stratified sampling diterapkan untuk menentukan sampel. Penilaian dilakukan dengan skoring dan ranking. Hasil penelitian didapat sebuah alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat partisipasi birokrat dalam pengelolaan sampah, yaitu berupa daftar pertanyaan, yang terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian identitas, umum, dan khusus. Alat ukur utama adalah di bagian khusus yang memiliki 13 pertanyaan yang sudah mencakup pertanyaan terkait tiga tahapan partisipasi, dengan parameter sarana dan prasarana, aturan, kerjasama, pendampingan, dana, serta monitoring dan evaluasi.Kata kunci : Birokrat, Partisipasi, Pengurangan sampahAbstractWaste reduction programs is realized with the active involvement of the community as well as waste management. A waste reduction program in its implementation will also involve bureaucrats who often acts as initiator, organizer, as well as program supervisor. It is therefore important to measure the level of participation of bureaucrats in waste reduction programs using the Arnstein theory (A Ladder Of Citizen Participation). Stratified sampling technique was used to determine the sample size. Assessment was done by scoring and ranking. The result a of this study is a measurement tool that can be used to measure the level of participation of bureaucrats in waste management, namely in the form of a questionnaire, which consists of three parts, namely the identity part, the general, and the special part, i.e., the part on participation. The main measuring tool was in the special section, which  has 13 questions related to the three stages of participation, including infrastructure parameters, rules/regulations, teamwork, mentoring, funding, monitoring , and evaluation.Keywords: Bureaucrats, Participation, Waste reduction
Efektifitas Proses Ozonisasi Studi Kasus: Sungai Cikapundung Dwinda Maudila; M. RANGGA SURURI; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v7i2.100-110

Abstract

ABSTRAK Kualitas air permukaan biasanya didominasi oleh kandungan bahan organik. Hal yang dapat mempengaruhi kandungan bahan organik salah satunya adalah perubahan tata guna lahan. Apabila kandungan bahan organik tinggi maka DO akan menurun, sehingga memungkinkan adanya degradasi bahan organik oleh bakteri anaerob pada sungai. Ozon merupakan oksidator kuat yang dapat mengoksidasi bahan organik dan anorganik dalam air, hasil dekomposisinya dapat menghasilkan OH radikal yang bersifat tidak selektif. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik bahan organik di Sungai Cikapundung serta mengetahui penyisihan kekeruhan dan BOD dengan menggunakan proses ozonisasi. Proses ozonisasi dilakukan pada reaktor batch selama 60 menit dengan interval kontak waktu 10 menit pada ozon kontaktor yang bervolume 1,5 liter. Parameter yang diukur meliputi pH, suhu, DHL, kekeruhan, COD, BOD, alkalinitas, UV254 dan KSO yang didasarkan pada SNI dan SMWW. Hasil yang didapatkan pada karakteristik yaitu dengan adanya perubahan tata guna lahan dari daerah yang belum terbangun menjadi daerah terbangun menyebabkan kualitas air Sungai Cikapundung mengalami penurunan dari Hulu menuju Hilir, hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan kekeruhan pada Sungai Cikapundung Hulu, Tengah Hilir berturut-turut adalah 1,97 NTU, 19,33 NTU dan 20 NTU. Peningkatan BOD pada Sungai Cikapundung Hulu, Tengah dan Hilir adalah 2,38 mg/L, 26,72 mg/L dan 35,68 mg/L. Proses ozonisasi menyebabkan penurunan nilai kekeruhan pada Sungai Cikapundung Hulu, Tengah, Hilir sebesar 35,02%, 38,84% dan 34,16% serta peningkatan nilai BOD sebesar 57,97%, 63,53% dan 60,23%. Karakteristik bahan organik pada Sungai Cikapundung semakin hilir semakin meningkat, dengan adanya proses ozonisasi dapat menurunkan nilai kekeruhan dan meningkatkan konsentrasi BOD yang menunjukkan adanya perubahan senyawa organik komplek menjadi senyawa organik sederhana. Kata kunci : Sungai Cikapundung, kualitas air, proses ozonisasi
Analisis Tingkat Ekonomi untuk Jenis Penutup Harian Alternatif di TPPAS Regional Sarimukti PANDU ARJASA; ETIH HARTATI; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v6i2.%p

Abstract

ABSTRAK TPPAS Regional Sarimukti saat ini masih menerapkan sistem control landfill dengan periode penutupan sampah dua kali dalam satu tahun. Penerapan sistem control landfill dengan periode operasi ini disebabkan oleh adanya kendala berupa biaya operasional, pemeliharaan dan investasi, serta dari segi ketersediaan bahan penutup tanah urug.Selain itu, kondisi tersebutmasih menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Perlu dilakukan pengoptimalan TPPAS Regional Sarimukti. Pada penelitian ini dilakukan metode penimbunan sampah dengan sistem sanitary landfill, dan pemilihan jenis penutup harian alternatif yang mampu menekan biaya operasional penutupan harian. Data primer didapatkan dengan metode observasi lapangan dan wawancara, sementara data sekunder dengan memperhitungkan aspek biaya operasional, ketersediaan bahan dan kemudahan operasional. Selanjutnya dilakukan analisis menggunakan metode weight ranking technique untuk menentukan alternatif terpilih. Didapat hasil jenis penutup harian terpilih yaitu jenis plastik biodegradable, dengan biaya operasional penutupan harian sebesar Rp1.897.729,02, dan dapat dioperasikan tanpa bantuan alat berat.Pemakaian jenis penutup harian alternatif plastik biodegradable Ecoplas untuk penutupan harian sampah perlu terlebih dahulu dilakukan kajian, agar pihak pengelola TPA di Indonesia mulai tertarik untuk menerapkannya. Kata Kunci: penutup harian, biaya operasional, TPA, Sarimukti 
Pengembangan Indeks Penilaian Bank Sampah Skala Kota Studi Kasus Kota Bandung dan Kota Cimahi MEGA PRANADITYA; IWAN JUWANA; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v8i2.121-133

Abstract

AbstrakBank sampah skala kota adalah aplikasi pengelolaan sampah untuk mengurangi sampah suatu kota yang akan dibuang ke TPA. Penelitian ini bertujuan untuk menyempurnakan indeks sebelumnya. Dengan meninjau indikator sebelumnya melalui tinjauan pustaka, yang kemudian akan divalidasi dengan metode AHP untuk menentukan pembobotan. Terdapat 4 kategori responden yaitu, professional expert, akademisi, instansi dan pihak bank sampah. Kajian ini menghasilkan tiga komponen, tiga belas indikator dan enam puluh satu sub-indikator teridentifikasi. Berdasarkan hasil AHP, bobot dari masing-masing komponen adalah Sistem Manajemen (40%), Sistem Operasional  (30%) dan Fasilitas Bank Sampah (30%). Jumlah indikator dari masing-masing komponen berkisar 4-5 indikator dengan bobot 15%-35%. Adapun sub indikator memiliki jumlah berkisar 2-8 dengan bobot 10%-50%.  Kata Kunci : Bank Sampah, Indeks, Metode AHP, Komponen, Indikator, Sub-IndikatorAbstractWaste bank is one application of waste management by utilizing waste that is considered having re-sellvalues, which at the end can be used to reduce the waste dumped into landfill. Thus, a tool to assess the readiness of a waste bank to function at a city-scale is needed.This study aims to refine the previous index. This was done by first, reviewing previous indicator through literature review, which was then verified by the application of the AHP method which was usedwas also used to determine the weights for each indicator. The respondents for AHP applications were selected from four categories which were garbage expert, academics, intitutions and management representatives of waste bank. At the end of the study, three components, thirteen indicators and sixty one sub-indicators were identified. The name of the components and their respective weights are Management System (55%), Operating System (25%) and Waste Bank Facility (20%). The number of indicators from each components ranged from 4 to 5 indicators with the weights range from 15% to 35%. As for the sub indicators, they range from 2 to 8 sub indicators with the weights between 10% to 50%.  Kata Kunci : Waste Bank, Index, AHP Method, Components, Indicators, Sub-Indicators
Identifikasi Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Air Bersih di Kelurahan Cihaurgeulis CITRA PERMATASARI; JULI SOEMIRAT; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v6i1.%p

Abstract

AbstrakPartisipasi masyarakat dalam pengelolaan air bersih didefinisikan sebagai keterlibatan langsung masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan ketersediaan air bersih secara kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Keterlibatan masyarakat dapat menimbulkan adanya rasa memiliki serta bertanggungjawab akan pentingnya air bersih yang akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan air bersih di Kelurahan Cihaurgeulis. Pengukuran tingkat partisipasi masyarakat menggunakan konsep Arnstein (A Ladder of Citizen Participation). Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Hasil yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Untuk menentukan jumlah responden menggunakan teknik stratified sistematis sampling. Hasil pengukuran menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat terbesar terdapat pada tingkat informing (32%). Disarankan adanya pendidikan lingkungan yang formal dan memberikan pelayanan pengelolaan air bersih yang dapat meningkatkan ketersediaan air bersih.Kata kunci: Tingkat partisipasi, masyarakat, air bersih.
Penentuan Daerah Prioritas di Wilayah Pelayanan Bandung Utara Berdasarkan Parameter Fungsi dan Nilai Daerah PEPIN SEPTIANI; SITI AINUN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.58-70

Abstract

AbstrakWilayah Pelayanan (WP) Bandung Utara merupakan salah satu wilayah pelayanan sampah di Kota Bandung yang terdiri dari 7 kecamatan dan 31 kelurahan dengan karakteristik yang beragam. Tujuan studi ini menentukan daerah prioritas di WP Bandung Utara berdasarkan parameter fungsi dan nilai daerah pada SNI 19-2454-2002. Studi dilakukan dengan menentukan kriteria penilaian, identifikasi sumber dan jenis data yang tersedia, dan penentuan data yang digunakan, menyusun penilaian penentuan daerah prioritas dengan pembuatan standar kelas penilaian dan skoring, pembobotan nilai akhir dan pembuatan peta daerah prioritas. Daerah prioritas 1 yaitu Kelurahan Pasteur, Sukagalih, Citarum dan Tamansari. Daerah prioritas 2 yaitu Kelurahan Lebak Gede, Sadang Serang, Sekeloa, Gegerkalong, Sarijadi, Sukabungah, Cihaurgeulis, Sukaluyu, Cikutra dan Cihapit, daerah prioritas 3 yaitu Kelurahan Ciumbuleuit, Hegarmanah, Ledeng, Cipaganti, Dago, Lebak Siliwangi, Isola, Sukarasa, Cipedes, Sukawarna, Cigadung, Neglasari, Cicadas Padasuka, Pasirlayung, Sukamaju, dan Sukapada.Kata kunci: Wilayah pelayanan , Fungsi dan nilai daerahAbstractService Area North Bandung is one of the areas of waste management services in Bandung, which consists of 7 districts and includes 31 villages with various characteristics. The purpose of this study was to determine priority areas in North Bandung WP by parameter function and values based on SNI 19-2454-2002. The study was done by determination of the assessment criteria, identification of sources and types of data available, and the determination of the data used, then make assessment determining the priority areas to manufacture class standards of assessment and scoring, weighting the value of the final and mapping areas of priority. The priority area 1 of waste management services were the Village Pasteur, Sukagalih, Citarum and Tamansari. The priority area 2 comprised the Village Lebak Gede, Sadang Serang, Sekeloa, Gegerkalong, Sarijadi, Sukabungah, Cihaurgeulis, Sukaluyu, Cikutra and Cihapit. The priority area 3 consisted of the Village Ciumbuleuit, Hegarmanah, Ledeng, Cipaganti, Dago, Lebak Siliwangi, Isola, Sukarasa, Cipedes, Sukawarna, Cigadung, Neglasari, Cicadas Padasuka, Pasirlayung, Sukamaju, and Sukapada.Keywords: The area of services, functions and value of the area 
Wastewater Collection Performance on Communal Sanitation System in Cimahi Indonesia Mohamad Rangga Sururi; Siti Ainun; Fikri Abdillah
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2017): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol9.iss1.art6

Abstract

In dense population cities, the effectiveness of the communal system in handling municipal domestic wastewater is important. This research aimed to evaluate the effectiveness of pipe dimensioning process and determine it as a wastewater collector to be served as a reactor through a tracer test. Thus, this work may give some inputs for a reliable design criteria for communal system in Indonesia. The reaserch area was at communal system on Tegal Kawung RT 05 RW 08. It served 37 household which was identified using built drawings and field checking. The number of communal septic tank user was 150 people who approximately use water of 134.33 L/person/day and more than 75% (107.46 L/persons/day )was discharged to the system. The tracer test was done between the control box with the distance of 27.94 m and diameter of 150 mm. Based on the mathematical model that was used, the diameter of the pipe should be 100 mm. The tracer test showed that the piping system is the Plug Flow Reactor but it is not yet effective, shown by the MDI value of 3.36.
Methane Emission Estimation and Dispersion Modeling for a Landfill in West Java, Indonesia Soni Pratamayudha Wijaya; Siti Ainun; Didin Agustian Permadi
Journal of the Civil Engineering Forum Vol. 7 No. 3 (September 2021)
Publisher : Department of Civil and Environmental Engineering, Faculty of Engineering, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jcef.62824

Abstract

Methane gas (CH4) is a greenhouse gas that can potentially induce global warming and it is known as surface ozone precursor. CH4 is generally produced from biological process occurred at the landfill which is not equipped with CH4 recovery and treatment system. Note that, very few of landfills in Indonesia have been operated as sanitary landfill but rather most of them act as dumping site. One landfill in West Java Province is Sarimukti Landfill which receives nearly 604,674 ton of solid waste annually. Existing studies have been using the first tier of the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) guideline for the emission estimation which provides high uncertainty due to the international default data. In addition, there are uncertainties for the multi years estimation because the kinetic rate of biological processes was not involved in the calculation. To fill in this gap, this research was conducted to use an alternative of methodology for estimating CH4 from landfill using a well known software of the Landfill Gas Emissions Model (LandGEM) which facilitates biological reaction in the calculation. We will also perform calculations using the traditional IPCC method for the Sarimukti landfill as a case study. To quantify the impact of CH4 emission, its dispersion was calculated using the AMS/EPA Regulatory Model (AERMOD). Potential impact on surface ozone formation was assessed using ozone formation potential (OFP) metric. The results of this study indicate that methane gas emissions have increased every year, where the highest emissions occurred in 2025 of 14,810.41 Mg/year (LandGEM) and 11,462.66 Mg/year (IPCC). Likewise, the potential for OFP from methane gas concentrations has increased every year where the highest concentration of surface ozone formation is in 2025 of 183,40 Mg/year. Meanwhile, the methane emission (CH4) has a dispersion pattern which is influenced by meteorological factors around the Sarimukti landfill.