Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Kontribusi Self-Esteem dan Self-Determination terhadap Absenteeism pada Mahasiswa Universitas X Ade Lestari; Yohanes Budiarto; Sandi Kartasasmita
Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2010): Provitae
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/provitae.v4i1.282

Abstract

This research aimed an investigating the influence of self-esteem (Rosenberg, 1965) and self-determination (Sheldon & Deci, 1993) toward students’ absemnteeism. Absenteeism is the intention to leave the lecturers. Self-esteem is one’s evaluation about his/hers’ quality they perceive themselves as having. Self-determination is the act or power of making up one’s own mind about what to think or do, without outsife influence or compulsion. The hypothesis was that self-esteem and self-determination influenced the students’ absenteeism. This study involved 280 participants at X University using accidental sampling technique. Using logistic regression, the study showed that self-esteem and self-determination predicted student’ absenteeism for about 1.7%. In other words, self-esteem and self-determination in this study impacted students’ presence in class.Keywords: Absenteeism, self-esteem, self-determinatiomn. 
Gambaran Self-Disclosure Pada Wanita Dewasa Awal Yang Pernah Diselingkuhi Agoes Dariyo; Ingrid Hartanto; Sandy Kartasasmita
Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 1 (2019): Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/psi.v4i1.656

Abstract

Affair is one of the causes of divorce. Research conducted by Glass and Staeheli (2003) states that men tend to have affair more than women. This matter could arouse negative impact on all aspects of a woman's life as a wife. One of the impacts that is the wife becomes closed to others (Zalafi, 2015). The purpose of this study is to see a picture of self-disclosure in early adult women who have been cheated on. The study was conducted with qualitative methods and data collection was taken by observation and interview method for four subjects. The sampling technique used is criterion sampling. The subjects of this study were women aged 20-40 years, were married, and had been cheated by her husband. The results showed that the four subjects managed to do self-disclosure regarding the problem of affair committed by her husband. However, there is one subject that does not meet one dimension of self-disclosure
JEJAK PENGASUHAN: PERAN POLA ASUH DALAM PEMBENTUKAN GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDU DEWASA MUDA Angelica Liefianti; Sandi Kartasasmita
Journal of Social and Economics Research Vol 7 No 2 (2025): JSER, December 2025
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v7i2.1096

Abstract

Pola asuh orang tua memainkan peran krusial dalam membentuk cara anak berpikir dan menilai sesuatu. Hal ini kemudian akan terus terbawa hingga anak mencapai usia dewasa dan berdampak pada gaya pengambilan keputusannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pola asuh dan gaya pengambilan keputusan individu dewasa muda, khususnya di DKI Jakarta. Penelitian ini di desain dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Penelitian ini terdiri atas 356 partisipan yang dipilih melalui teknik stratified sampling dari 5 wilayah administratif di DKI Jakarta. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 27 melalui uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pola asuh dan gaya pengambilan keputusan (r = 0.753, p < 0.001). Lebih jauh, hasil studi menunjukkan bahwa pola asuh yang positif, seperti pola asuh demokratis berhubungan secara positif dengan gaya pengambilan keputusan yang adaptif, seperti gaya rasional. Temuan ini menegaskan bahwa pola asuh positif yang diterima anak sedari dini berkontribusi terhadap pembentukan gaya pengambilan keputusan yang adaptif di masa dewasa. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan bagi orang tua dan praktisi psikologi dalam mengembangkan pola pengasuhan yang mendukung kemandirian dan kematangan keputusan individu.
JEJAK PENGASUHAN: PERAN POLA ASUH DALAM PEMBENTUKAN GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDU DEWASA MUDA Angelica Liefianti; Sandi Kartasasmita
Journal of Social and Economics Research Vol 7 No 2 (2025): JSER, December 2025
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v7i2.1096

Abstract

Pola asuh orang tua memainkan peran krusial dalam membentuk cara anak berpikir dan menilai sesuatu. Hal ini kemudian akan terus terbawa hingga anak mencapai usia dewasa dan berdampak pada gaya pengambilan keputusannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pola asuh dan gaya pengambilan keputusan individu dewasa muda, khususnya di DKI Jakarta. Penelitian ini di desain dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Penelitian ini terdiri atas 356 partisipan yang dipilih melalui teknik stratified sampling dari 5 wilayah administratif di DKI Jakarta. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 27 melalui uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pola asuh dan gaya pengambilan keputusan (r = 0.753, p < 0.001). Lebih jauh, hasil studi menunjukkan bahwa pola asuh yang positif, seperti pola asuh demokratis berhubungan secara positif dengan gaya pengambilan keputusan yang adaptif, seperti gaya rasional. Temuan ini menegaskan bahwa pola asuh positif yang diterima anak sedari dini berkontribusi terhadap pembentukan gaya pengambilan keputusan yang adaptif di masa dewasa. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan bagi orang tua dan praktisi psikologi dalam mengembangkan pola pengasuhan yang mendukung kemandirian dan kematangan keputusan individu.
Hubungan antara Self-regulation terhadap Gaya Pengambilan Keputusan pada Mahasiswa Tingkat Akhir Pengonsumsi Kopi Sabrina Ayesha Fateema; Sandi Kartasasmita
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 In Progress
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.9687

Abstract

Konsumsi kopi merupakan kebiasaan umum di kalangan mahasiswa tingkat akhir yang menghadapi tekanan akademik seperti skripsi, ujian, dan tenggat tugas. Dalam kondisi tersebut, kemampuan mengatur diri dan cara mengambil keputusan menjadi faktor psikologis yang berpotensi memengaruhi pola konsumsi kopi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara self-regulation dengan lima gaya pengambilan keputusan rasional, intuitif, dependen, menghindar, dan spontan pada mahasiswa tingkat akhir yang rutin mengonsumsi kopi. Sebanyak 160 mahasiswa berusia 20–24 tahun yang mengonsumsi kopi minimal satu kali per hari berpartisipasi melalui survei daring. Self-regulation diukur menggunakan 17 item Short Self-Regulation Questionnaire, sementara gaya pengambilan keputusan dinilai melalui 25 item mencakup lima gaya keputusan tersebut. Analisis menggunakan korelasi Spearman menunjukkan bahwa self-regulation berhubungan positif dengan gaya rasional dan intuitif, serta berhubungan negatif dengan gaya dependen, menghindar, dan spontan. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin baik regulasi diri mahasiswa, semakin adaptif gaya pengambilan keputusan yang digunakan, sedangkan regulasi diri yang rendah berkaitan dengan kecenderungan keputusan yang kurang efektif. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan keterampilan regulasi diri dan strategi keputusan adaptif sebagai upaya mendukung pengelolaan tuntutan akademik dan konsumsi kafein yang lebih sehat.
PERAN MODERASI SELF-COMPASSION TERHADAP HUBUNGAN ANTARA SOCIAL ANXIETY DAN SOCIAL MEDIA ADDICTION PADA DEWASA AWAL PENGGUNA MEDIA SOSIAL Jason Dionnicius Young; Sandi Kartasasmita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8335

Abstract

Social media has become an integral part of life in the digital era, but its use may also lead to negative consequences, one of which is social media addiction. Social anxiety is one of the factors contributing to social media addiction, as individuals with social anxiety tend to use social media as an escape from negative experiences and social situations that create psychological distress. Self-compassion is assumed to play a role in this relationship because it is associated with an individual’s ability to accept personal shortcomings and respond to difficult experiences more adaptively. This study aimed to examine the moderating role of self-compassion in the relationship between social anxiety and social media addiction among young adult social media users. This study employed a quantitative approach using purposive sampling involving 419 young adult participants. Data were collected using the Indonesian Bergen Social Media Addiction Scale (α = .762), the Indonesian version of the Liebowitz Social Anxiety Scale–Self Report (α = .955), and the Self-Compassion Scale (α = .828), and were analyzed using moderated regression analysis. The results showed that self-compassion moderated the relationship between social anxiety and social media addiction. This finding may be explained by the presence of the negative dimensions of self-compassion, such as self-judgment, isolation, and overidentification, which may actually exacerbate social anxiety and increase the tendency toward social media addiction. ABSTRAK Media sosial telah menjadi bagian integral dalam kehidupan di era digital, tetapi penggunaannya juga dapat menimbulkan dampak negatif, salah satunya social media addiction. social anxiety merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap social media addiction, karena individu dengan kecemasan sosial cenderung menggunakan media sosial sebagai sarana pelarian dari pengalaman negatif dan situasi sosial yang menimbulkan tekanan psikologis. self-compassion diduga berperan dalam hubungan tersebut karena berkaitan dengan kemampuan individu untuk menerima kekurangan diri dan merespons pengalaman sulit secara lebih adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran moderasi self-compassion dalam hubungan antara social anxiety dan social media addiction pada dewasa awal pengguna media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling pada 419 partisipan dewasa awal. Data dikumpulkan menggunakan Indonesian Bergen Social Media Addiction Scale (α = .762), Liebowitz social anxiety scale–self report versi Bahasa Indonesia (α = .955), dan Skala Welas Diri (α = .828), kemudian dianalisis menggunakan moderated regression analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-compassion memoderasi hubungan antara social anxiety dan social media addiction. Penemuan ini dapat dijelaskan melalui adanya dimensi negatif self-compassion, seperti self-judgment, isolation, dan overidentification, yang justru dapat memperburuk kecemasan sosial dan meningkatkan kecenderungan social media addiction.
HUBUNGAN ANTARA SELF-CONFIDENCE DENGAN TINDAKAN ACADEMIC DISHONESTY PADA MAHASISWA PENGGUNA CHATGPT Tasya Viviana; Sandi Kartasasmita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8336

Abstract

This study aims to examine the relationship between self-confidence and academic dishonesty among university students who use ChatGPT. Amid the increasing use of Artificial Intelligence (AI) in academia, concerns have arisen regarding its potential misuse. Using a correlational quantitative approach, data were collected from 104 students through purposive sampling. Two standardized instruments were used to measure self-confidence and academic dishonesty. The results indicated that students had high levels of self-confidence and low tendencies toward academic dishonesty. A significant negative relationship was found between the two variables (r = -0.287, p = 0.003), particularly in the grades and studying dimensions. No gender differences were observed in self-confidence, but a significant difference was found in academic dishonesty between male and female students. This study offers important insights into the protective role of self-confidence against unethical behavior in AI usage and supports the need for implementing digital ethics policies in higher education. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara self-confidence dan academic dishonesty pada mahasiswa pengguna ChatGPT di perguruan tinggi. Di tengah meningkatnya pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik, muncul kekhawatiran terkait potensi penyalahgunaannya. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, data dikumpulkan dari 104 mahasiswa melalui teknik purposive sampling. Pengukuran dilakukan dengan dua skala terstandarisasi: skala self-confidence dan skala academic dishonesty. Hasil analisis menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki tingkat self-confidence yang tinggi dan kecenderungan academic dishonesty yang rendah. Terdapat hubungan negatif signifikan antara kedua variabel (r = -0.287, p = 0.003), terutama pada dimensi grades dan studying. Tidak ditemukan perbedaan self-confidence berdasarkan gender, namun terdapat perbedaan signifikan dalam academic dishonesty antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memahami peran self-confidence sebagai faktor pelindung terhadap perilaku tidak etis dalam penggunaan AI, serta mendorong penerapan kebijakan etika digital dalam pendidikan tinggi.
Korelasi antara Self-Regulation dengan Smartphone Addiction pada Mahasiswa DKI Jakarta Salsabila Zahrani Fatiha; Sandi Kartasasmita
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7409

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa dampak signifikan terhadap kehidupan mahasiswa, salah satunya melalui penggunaan smartphone yang berlebihan hingga memicu perilaku adiktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji korelasi antara self regulation dan kecanduan smartphone pada mahasiswa di DKI Jakarta. Self regulation didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengendalikan emosi, pikiran, dan perilaku agar selaras dengan tujuan yang ingin dicapai, sedangkan kecanduan smartphone menggambarkan pola penggunaan yang kompulsif dan sulit dikendalikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian adalah mahasiswa berusia 18–25 tahun yang berdomisili di DKI Jakarta, dengan jumlah responden sebanyak 240 responden dengan kritera yang telah di tentukan. Instrumen yang digunakan berupa skala Short Self-Regulation Questionnere (SSRQ) dan skala Smartphone Addiction Scale (SAS) yang telah diuji validitas serta reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman sesuai hasil uji asumsi normalitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self regulation dan kecanduan smartphone. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan regulasi diri mahasiswa, maka semakin rendah kecenderungan mereka mengalami kecanduan smartphone. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kemampuan self regulation sebagai strategi preventif dalam menghadapi perilaku adiktif terhadap teknologi di kalangan mahasiswa.
Kecerdasan Emosional dan Kepuasan Kerja: Studi pada Karyawan Generasi Z di Sektor Startup Felice Angela; Sandi Kartasasmita
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7410

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran Kecerdasan Emosional (EQ) terhadap Kepuasan Kerja (JK) pada angkatan kerja Generasi Z, khususnya yang bekerja di perusahaan startup yang dikenal dinamis dan menantang. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari 252 karyawan Generasi Z yang tersebar di berbagai startup melalui instrumen Schutte Self-Report Emotional Intelligence Test (SSEIT) dan Job Satisfaction Survey (JSS). Analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat Kepuasan Kerja yang cenderung tinggi (Mean JSS = 4.6321) dan Kecerdasan Emosional yang baik (Mean SSEIT = 3.3906). Hasil uji regresi linear sederhana menunjukkan bahwa Kecerdasan Emosional berperan signifikan dan positif dalam memprediksi Kepuasan Kerja (ρ < 0.05). Nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0.597 mengindikasikan bahwa 59.7% dari variasi Kepuasan Kerja secara substansial dijelaskan oleh Kecerdasan Emosional. Semakin tinggi kemampuan Gen Z dalam mengelola dan memanfaatkan emosi mereka, semakin tinggi pula tingkat kepuasan mereka terhadap pekerjaan. Temuan ini mengimplikasikan bahwa perusahaan startup perlu memprioritaskan pengembangan soft skill, terutama pelatihan Kecerdasan Emosional, sebagai strategi retensi kunci untuk memastikan kesejahteraan psikologis dan produktivitas karyawan Generasi Z.
Keterkaitan Ekspresi Emosi dan Toxic Masculinity pada Mahasiswa Laki Laki Edwin Tan; Sandi Kartasasmita
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7433

Abstract

Budaya patriarki yang masih melekat dalam masyarakat Indonesia membentuk pandangan bahwa laki-laki harus tampil kuat, tegas, dan mampu mengendalikan emosi. Pandangan ini sering menekan ekspresi emosi yang dianggap lemah, seperti kesedihan atau ketakutan, sehingga mendorong munculnya toxic masculinity. Tekanan tersebut dapat menghambat kemampuan individu mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat serta memengaruhi keseimbangan psikologis. Penelitian ini menganalisis keterkaitan antara ekspresi emosi dan toxic masculinity pada mahasiswa laki-laki. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional digunakan untuk melihat arah dan kekuatan hubungan kedua variabel. Partisipan merupakan mahasiswa laki-laki aktif yang dipilih melalui teknik purposive sampling, dengan data dikumpulkan secara daring menggunakan Emotional Expressivity Scale (EES) dan Toxic Masculinity Scale-28 (TMS-28). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson melalui SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara ekspresi emosi dan toxic masculinity, yang berarti semakin tinggi kemampuan mengekspresikan emosi, semakin rendah kecenderungan terhadap nilai-nilai maskulinitas yang kaku. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan ekspresi emosional untuk mendukung kesehatan psikologis dan membangun pola maskulinitas yang lebih adaptif di kalangan mahasiswa laki-laki.