Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Keragaan Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Lokal Srowot Banyumas Karena Pengaruh Selfing Pada Generasi F2 Selfing Nugroho, Bambang; Budi, Gayuh Prasetyo
Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014 2014: Proceeding Seminar Hasil Penelitian LPPM 2014, 6 September 2014
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dengan judul: “Keragaan Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Lokal Srowot Banyumas Karena Pengaruh Selfing Pada Generasi F2” bertujuan melihat penampilan progeni F2 selfing varietas jagung lokal Srowot Banyumas. Penelitian dilaksanakan di Lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto.  Tempat penelitian terletak pada ketinggian kurang lebih 146 m dpl.  berlangsung selama 8 bulan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yang terdiri atas 9 genotip dengan empat ulangan. Hasil penelitian diuji dengan uji t (uji progenitas). Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Terjadi depresi tangkar pada generasi F2 varietas lokal Srowot terhadap komponen pertumbuhan vegetatif tanaman, berupa penurunan tinggi tanaman sebesar 25,47 cm (10,47 %). (2) Depresi tangkar terhadap komponen hasil terjadi pada semua komponen hasil yaitu pada jumlah biji per tongkol sebesar 81,45 biji (27,17 %), pada bobot biji per tongkol sebesar 35,99 g  (32,17 %), dan produksi biji kering per tanaman 31, 63 g  (36,86 %) Kata kunci:       keragaan progeni kedua (F2), selfing, varietas jagung lokal srowot banyumas
Uji Aplikasi Pupuk Lengkap Bioorganik Cair untuk Meningkatkan Hasil Tanaman Jagung Manis Budi, Gayuh Prasetyo; Hajoeningtijas, Oetami Dwi
Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014 2014: Proceeding Seminar Hasil Penelitian LPPM 2014, 6 September 2014
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas pupuk bioorganik cair terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis. Penelitian dilaksanakan mulai bulan April 2014 sampai dengan Juli 2014.  Penelitian dilaksanakan di Desa Dukuhwaluh, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas menggunakan Rancangan Acak Lengkap 2 faktor dengan ulangan 3 kali.  Faktor 1. konsentrasi pupuk bioorganik cair, terdiri atas : 0, 2, 4, 6 ml/l. Faktor 2. frekuensi pemberian pupuk bioorganik cair, terdiri atas : 1, 2, dan 3 kali.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi dan frekuensi aplikasi pupuk bioorganik cair berpengaruh nyata terhadap hasil jagung manis, namun di antara kedua faktor perlakuan tidak terjadi interaksi nyata.  Pemberian pupuk bioorganik cair konsentrasi 4 ml/l meningkatkan secara nyata berat tongkol tanpa kelobot/tanaman 230.28 g dan frekuensi aplikasi pupuk bioorganik cair 3 kali meningkatkan secara nyata berat tongkol tanpa kelobot/tanaman 237.03 g. Kata kunci : Konsentrasi, Frekuensi, Pupuk Bioorganik, Jagung Manis.
Efektifitas Solarisasi Tanah Terhadap Penekanan Perkembangan Jamur Fusarium Pada Lahan Tanaman Pisang Yang Terinfeksi Shofiyani, Anis; Budi, Gayuh Prasetyo
Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014 2014: Proceeding Seminar Nasional LPPM 2014, 20 Desember 2014
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas perlakuan solarisasi terhadap penekanan perkembangan jamur Fusarium pada  lahan tanaman pisang mas yang terinfeksi di Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas.  Penelitian dilaksanakan dilahan endemi penyakit layu Fussarium yang berlokasi di Desa Pamijen, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Dengan  ketinggian tempat 175-200 m diatas permukaan laut. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Terbagi dengan faktor perlakuan tunggal yaitu  perlakuan solarisasi yang terdiri dari perlakuan solarisasi dengan plastik transparn dan tanpa solarisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan solarisasi tanah yang diberikan dimungkinkan berpengaruh dalam penghambatan perkembangan penyakit layu Fussarium pada bibit tanaman pisang mas selama penelitian, terbukti belum munculnya gejala serangan penyakit layu Fusarium pada tanaman pisang  hingga akhir pengamatan.   Perlakuan solarisasi menyebabkan terjadinya peningkatan suhu tanah hingga 45,8 oC dengan kisaran  suhu permukan tanah pada waktu pengamatan pukul 12.00 yaitu berkisar antara  39,5 oC – 45,8 oC dengan lama perlakuan selama 8 minggu. Sedangkan rerata suhu harian tertinggi mencapai 35,45 oC dengan kisaran rerata suhu harian pada permukaan tanah antara 32,13 oC – 35,45 oC, terbukti mampu meningkatkan suhu permukan tanah hingga 8,8 oC dibandingkan tanpa perlakun solarisasi dan berdampak pada penurunan jumlah populasi Fussarium di permukaan tanah hingga mencapai 53,61 %, sedangkan tanpa solarisasi penuruan populasi Fussarium sebesar 22,33 %. Key word : Solarisasi, tanaman pisang mas , lahan terinfeksi Fusarium
KETAHANAN VARIETAS KEDELAI TERHADAP HAMA BELALANG PADA PERLAKUAN INSEKTISIDA HAYATI BEAUVERIA BASSIANA Budi, Gayuh Prasetyo; Pribadi, Teguh; Nururrahmah, Dyatri
AGRITROP Vol 17, No 2 (2019): Agritrop: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.717 KB) | DOI: 10.32528/agritrop.v17i2.2333

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui intensitas serangan belalang, pertumbuhan dan hasil beberapa varietas kedelai pada perlakuan agens hayati Beauveria bassiana.  Penelitian dilakukan pada media tanah dalam polybag bertempat di Green House FP UMP di Desa Karangsari, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas dengan ketinggian tempat 90 m dpl.  Menggunakan Rancangan Acak Lengkap 2 faktor dengan 4 ulangan.  Faktor 1. Varietas kedelai terdiri atas : V1 :Argomulyo, V2 : Baluran, V3 :Ijen, V4 : Kaba. Faktor 2. Agens Hayati B. bassiana terdiri atas : K0 : tanpa diberi B. bassiana, K1 : diberi B. bassiana 6g/l aquades. Hasil penelitian menunjukkan Perlakuan B. bassiana berpengaruh nyata terhadap intensitas serangan belalang. Tanaman kedelai yang diaplikasi B. bassiana (K1) menunjukkan intensitas serangan belalang : 8,66% sedangkan yang tidak diaplikasikan B. bassiana (K0) menunjukkan intensitas serangan belalang : 17,53%.  Perlakuan varietas kedelai berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 70 hst, jumlah polong total/tanaman, jumlah polong isi/tanaman, jumlah biji/tanaman dan berat biji/tanaman. Varietas Kaba (V2) menunjukkan berat biji/tanaman yang paling berat : 5,89 g/tanaman. Interaksi antara perlakuan varietas kedelai dan B. bassiana tidak berpangaruh nyata terhadap semua variabel yang diamati.
KEMAMPUAN KOMPETISI BEBERAPA VARIETAS KEDELAI (GLYCINE MAX) TERHADAP GULMA ALANG-ALANG (IMPERATA CYLINDRICA) DAN TEKI (CYPERUS ROTUNDUS) Gayuh Prasetyo Budi; Oetami Dwi Hajoeningtijas
JURNAL LITBANG PROVINSI JAWA TENGAH Vol 7 No 2 (2009): Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36762/jurnaljateng.v7i2.219

Abstract

The objective of this research was to study response of the growth and yield on soybean varieties against Imperata cylindrica and Cyperus rotundus competition and to study competitive ability of soybean varieties against Imperata cylindrica and Cyperus rotundus. The experimental research was conducted at Karangsari Village, Kembaran, Banyumas. The experiment used a Randomized Completely Block Design with 2 factors and 4 replications. Factor 1. Soybean Variety, consisted of Grobogan, Ijen and Sinabung, Factor 2. Weed, consisted of clean weeding, Imperata cylindrica 50 weeds/m2 and Cyperus rotundus 50 weeds/m2. The result showed that Ijen and Sinabung caused the better growth than Grobogan. Sinabung caused the highest for the amount of polong per plant : 285.5 and the seed weight per plant : 46.6667 g. Sinabung caused the best competitive ability than Grobogan and Ijen, its showed that the highest competition value. The competition of Sinabung-Cyperus rotundus caused competition value : 15.0075, whereas the competition of Sinabung-Imperata cylindrica caused competition value : 7.9913.
KOMPETISI GULMA DENGAN TANAMAN BUDIDAYA DALAM SISTEM PERTANAMAN MULTIPLE CROPPING Gayuh Prasetyo Budi
Sainteks Vol 8, No 1 (2011): SAINTEKS
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/sainteks.v8i1.303

Abstract

Multiple cropping is a way of expanding various plants in an area.. This multiple cropping system will give a various agriculture products or various yields, so it can reduce the disadvantageous risk because of the harvest failures in one of the commodity. Besides, the multiple cropping system is based on natural ecosystem where the biodiversity level is higher so it can guarantee the natural equilibrium. One of the obstacles for the farmers in this multiple cropping system is the weed as a growth factor competitor in particular nutrition. It happens especially when the canopy in multiple cropping system does not cover perfectly, so that the weeds problem can be more complex. To reduce the disadvantages are to give the nutrition in an exact dosage, to choose the various plants which can make canopy fast, to arrange the planting distance exactly and multiple cropping system with legume. Keywords: weed competition, plant, multiple cropping.
PERIODE KRITIS TANAMAN BAWANG MERAH VARIETAS BIMA (Allium ascalonicum L.) TERHADAP PERSAINGAN GULMA Muhammad Ghufron Abdillah; Agus Mulyadi Purnawanto; Gayuh Prasetyo Budi
Agritech: Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto Vol 18, No 1 (2016): AGRITECH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/agritech.v18i1.1735

Abstract

The weed throughout the life cycle of crops doesn’t give negative impact as always. The survival period of crops which is very sensitive toward weeds is called by critical period. This study aims to determine the critical period of Bima onion (Allium ascalonicum L.) towardweeds. The research was conducted in Dukuhwaluh, Kembaran, Banyumas regency, from February to June 2016.Research compiled in a randomized completely block design. Factors studied were eight treatment levels namely G0 : clean weeding on 0–60 dap, G1 : clean weeding on 0–20 dap, G2 : clean weeding on 20–40 dap, G3 : clean weeding on 40–60 dap, G4 : clean weedingon 0–20 dap and 40–60 dap, G5 : clean weeding on 0–40 dap, G6 : clean weeding on 20–60 dap, dan G7 : clean weeding on 0–60 dap was repeated 4 times. The variables measured were leaf length, leaf number, the number of bulbs, tubers fresh weight per hill, tuber dry weightper hill, tuber diameter, and the total dominance of weeds.The results showed the competition period of weeds affect the growth and yield of Bima Onion (Allium ascalonicum L.), a critical period of this onion occurred on 20-40 dap. The dominant weeds grew in onion during this study was Cyperus imbricatus, Cyperus kyllingia,and Cyperus rotundus. Weeding session of this Bima onion will be efficiently implemented at age 20-40 dap to prevent yield loss.
PENERAPAN HERBISIDA ORGANIK EKSTRAK ALANG-ALANG UNTUK MENGENDALIKAN GULMA PADA MENTIMUN Gayuh Prasetyo Budi; Oetami Dwi Hajoeningtijas
Agritech: Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto Vol 15, No 1 (2013): AGRITECH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/agritech.v15i1.998

Abstract

This research was conducted to study the application of thatch grass extract to weed control, to study the growth and yield of cucumber. The experiment was carried out from January 2013 to April 2013 and was conducted in Dukuhwaluh village, Kembaran District in Banyumas Regency. The research was arranged in a Complete Randomized Design with 1 factor and 5 replications. The factor was application concentration of thatch grass extract consisted of: without application, 100 g/l, 200 g/l, 300 g/l and clean weeding. The results showed that the application concentration of thatch grass extract (200 g/l) can reduce weed population in cucumber crops. Concentration’s application of thatch grass extract (200 g/l) effective to increase fruit number/plant and fruit weight/plant of cucumber. Key words: thatch grass extract, weed populatio and cucumber.
PENGARUH JENIS BAHAN PEMBENAH TANAH TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS TANAMAN KUMIS KUCING (Orthosiphon arisatus (BI.) Miq.) DENGAN BUDIDAYA ORGANIK Oetami Dwi Hajoeningtijas; Gayuh Prasetyo Budi
Agritech: Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto Vol 10, No 1 (2008): AGRITECH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/agritech.v10i1.962

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bahan pembenah tanah terhadap kuantitas dan kualitas produksi tanaman kumis kucing dengan budidaya organik. Selain itu juga untuk memperoleh jenis bahan pembenah tanah yang paling optimum bagi kuantitas dan kualitas produksi tanaman kumis kucing dengan budidaya organik. Percobaan pot dilaksanakan di Desa Karangsoka, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, dengan ketinggian tempat 68 m dpl, selama ± 8 bulan. Penelitian ini menggunakan faktor tunggal, yaitu empat taraf perlakuan pemupukan : M0 = tanpa pemupukan, M1 = pemupukan mikoriza, M2 = pemupukan arang sekam, dan M3 = pemupukan arang sekam dan mikoriza. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 ulangan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis bahan pembenah tanah tidak berpengaruh nyata terhadap kuantitas produksi tanaman kumis kucing dengan budidaya organik, yaitu bobot basah daun tanaman. Selain itu jenis bahan pembenah tanah juga tidak berpengaruh nyata pada kadar abu dan kadar air daun tanaman kumis kucing dengan budidaya organik. Penambahan bahan pembenah tanah arang sekam dan mikoriza mampu menghasilkan daun tanaman kumis kucing dengan kandungan Kalium 1,984 % yang termasuk dalam kisaran memenuhi syarat sebagai bahan obat. Oleh karena itu disarankan adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui lebih dalam tentang budidaya tanaman kumis kucing secara organik, terutama yang mengkaji penggunaan bahan pembenah tanah arang sekam dan mikoriza. Selain itu perlu dilakukan pula tinjauan kualitas kandungan senyawa bioaktif selain Kalium.
PENGUJIAN BEBERAPA METODE PEMBUATAN BIOAKTIVATOR GUNA PENINGKATAN KUALITAS PUPUK ORGANIK CAIR Aminah Sarwa Endah; Aman Suyadi; Gayuh Prasetyo Budi
Agritech: Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto Vol 17, No 2 (2015): AGRITECH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/agritech.v17i2.1727

Abstract

This research is aimed to find out the method of bio activator process and the best basic material used to produce a good qualified POC. This research was done in integrated laboratory of Muhammadiyah University of Purwokerto from April 2013 to August 2013.This research used A Complete Randomized Design with two factors. The first factor was the three kinds of bio activator like decayed banana leg method (A1), bio activator method of fruit and red onion (A2) and bio activator method of stratified water rice (A3). The second factor was three kids of organic waste as the basic material to make the Liquid Organic Fertilizer such as organic waste (B1) manure (B2). Every treatment was done for three times.The result of the research showed that bio activator, organic waste, and bio activator interaction as well as organic waste in fermentation process did not really affect on the weather variable and the pH of Liquid Organic Fertilizer. The result also showed that LiquidOrganic Fertilizer, based on the standard quality by the minister of agriculture regulation Number.28/Permentan/OT.140/2/2009, contained of total N, total P2O5, total K2O in every treatment, and the content of ratio C/N and organic C did not meet the standard quality by the minister of agriculture regulation Number. 28/Permentan/OT.140/2/2009.