Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN USIA IBU BERISIKO DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA PADA IBU HAMIL Az-Zahra, Aura Fatimah; Sasmito, Lulut; Maryanti, Syiska Atik
Jurnal Pendidikan Kesehatan (e-Journal) Vol. 14 No. 1 (2025): Jurnal Pendidikan Kesehatan (E-Journal)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jpk.v14i1.4757

Abstract

Preeclampsia is one cause of MMR in the world. The preeclampsia incidence in Indonesia 2022 (22.42%), is the cause of maternal death. The preeclampsia incidence in East Java 2022 (14,128 peoples), while in Jember Regency (936 peoples). The purpose of this study to find out the relationship between the risk parity and age of at-risk mothers with the incidence of preeclampsia in pregnant women in the Sumbersari Public Health Center in 2023. The designs used correlation analysis with retrospective uses quota sampling technique. Data were obtained from the maternal cohort and observation sheet instruments using a statistical test of contingency coefficient. The test result using contingency coefficient obtained a weak relationship of 29% (p-value 0,038 < ? 0,05) is relationship between the risk parity with the preeclampsia incidence and a weak relationship of 35% (p-value 0,009 < ? 0,05) is relationship between the age of the at-risk mother with the preeclampsia incidence. Therefore, researchers suggest that cooperation between health workers and pregnant women can be carried out well because with ANC, preeclampsia screening can be routinely carried out.
PERBEDAAN PREVALENSI DIABETES MELITUS BERDASARKAN RIWAYAT PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL PADA WANITA PENDERITA DIABETES MELITUS DI UPTD PUSKESMAS BANGSALSARI Rahardiyantiningsih, Novika; Sasmito, Lulut; M, Syiska Atik
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.7043

Abstract

Weight gain is one of the side effects caused by the use of hormonal contraceptives. The use of hormonal contraceptives, both DMPA and combination used by women, has an influence on weight gain or obesity, this condition can trigger the occurrence of Diabetes Mellitus. The prevalence of DM in women of childbearing age in Indonesia reaches 1.3 - 3.6% of 19.47 million. This study used a quantitative method with a comparative design, the population of women with Type 2 DM was 126 people. Sampling using random sampling obtained as many as 96 people. Data analysis used univariate with frequency distribution and bivariate using the Chi Square statistical test. Most of the respondents used DMPA or Progestin contraception (77.1%), and a small portion used combination contraception (22.9%). The results of the statistical test Asymp. Sig value in the chi square test is 0.001, so the hypothesis is accepted that there is a difference in the prevalence of diabetes mellitus based on the history of use of Hormonal Contraception in Women with DM. Productive Age Women are expected to be more selective in choosing safe contraception, to prevent the risk of DM or prevent metabolic changes in the body, especially those related to hormones that can worsen blood sugar conditions in the body. Age and length of use of hormonal contraception are also related to increased blood glucose levels, because the longer the use of hormonal contraception can cause hormonal disorders in the body. ABSTRAKPeningkatan Berat badan merupakan salah satu efek samping diakibatkan pemakaian kontrasepsi hormonal. Penggunaan kontrasepsi Hormonal baik DMPA maupun kombinasi yang digunakan oleh wanita memiliki pengaruh terhadap kenaikan berat badan atau obesitas, kondisi tersebut dapat memicu kejadian Diabetes Melitus. Prevalensi DM pada wanita usia subur di Indonesia mencapai 1,3 – 3,6 % dari 19,47 juta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain komparatif, populasi wanita penyandang DM Tipe 2 sejumlah 126 orang. Pengambilan sampel menggunakan random sampling didapatkan sebanyak 96 orang. Analisis data menggunakan univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji statistik Chi Square. Sebagian besar dari responden menggunakan kontrsepsi DMPA atau Progestin (77,1%), dan sebagian kecil menggunakan menggunakan kontrasepsi kombinasi (22,9%). Hasil uji statistik nilai Asymp. Sig pada uji chi square adalah sebesar 0,001, sehingga hipotesis diterima yaitu terdapat perbedaan prevalensi diabetes melitus berdasarkan riwayat penggunaan Kontrasepsi Hormonal pada Wanita penderita DM. Wanita Usia Produktif diharapkan lebih selektif untuk memilih KB yang aman, Untuk mencegah resiko DM atau mencegah terjadinya perubahan metabolisme di dalam tubuh terutama yang berhubungan dengan hormon yang bisa memperburuk kondisi gula darah di dalam tubuh.Usia dan lama pemakaian kontrasepsi hormonal juga berkaitan dengan kenaikan kadar glukosa darah, sebab semakin lama pemakaian kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan gangguan hormon dalam tubuh.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) K4 DI DESA ROWOTENGAH PUSKESMAS ROWOTENGAH Supartiningsih, Supartiningsih; Palupi, Jenie; Restanty, Dian Aby; Sasmito, Lulut
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.7044

Abstract

The ANC K4 examination of pregnant women aims to recognize complications due to pregnancy, recognize the location of the fetus and presentation if there are risks accompanying the pregnancy so that a proper and adequate birth plan can be established. In 2023, 79.32% of pregnant women will undergo K4 ANC examinations in Jember Regency, 72.48% in the Rowotengah Community Health Center and 88.74% in Rowotengah Village. This research aims to determine the relationship between family support and ANC K4 visits in Rowotengah Village, Rowotengah Health Center. This research design uses correlation analytics with a crosssectional approach. The population in this study was the number of pregnant women in Trimester (TM) 3 in Rowotengah Village, a total of ± 51 people. The sample taken in this study used the Slovin formula with a simple random sampling technique, a total of 34 people. Data was collected using primary data and analyzed using the Lambda Correlation test. There is a relationship between family support and ANC K4 visits in Rowotengah Village, Rowotengah Health Center using the lambda correlation coefficient test ? = 0.3. There is a relationship between family support and ANC K4 visits in Rowotengah Village, Rowotengah Health Center with the strength of the relationship being low or weak but definite. Positive support from the family for pregnant women will make the mother feel that someone cares about the condition of her pregnancy, so that pregnant women will take better care of their pregnancy by regularly carrying out pregnancy checks at health service facilities. ABSTRAKPemeriksaan ANC K4 ibu hamil bertujuan untuk mengenali komplikasi akibat kehamilan, mengenali adanya letak janin dan presentasi serta bila terdapat risiko yang menyertai kehamilannya sehingga dapat memantapkan rencana persalinan secara tepat dan memadai. Pada tahun 2023 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan ANC K4 di Kabupaten Jember 79,32%, Puskesmas Rowotengah   72,48% sedang di Desa Rowotengah 88,74%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kunjungan ANC K4 di Desa Rowotengah Puskesmas Rowotengah. Desain penelitian ini menggunakan analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah jumlah ibu hamil Trimester (TM) 3 di Desa Rowotengah sejumlah ± 51 orang, pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin dengan teknik simple random sampling jumlah 34 orang. Pengumpulan data menggunakan data primer dan dianalisis menggunakan uji Correlation Lambda. Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kunjungan ANC K4 di Desa Rowotengah Puskesmas Rowotengah dengan uji koefisien korelasi lambda ? = 0,3. Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kunjungan ANC K4 di Desa Rowotengah Puskesmas Rowotengah dengan kekuatan hubungan rendah atau lemah tapi pasti. Dukungan yang positif dari keluarga terhadap ibu hamil akan membuat ibu merasa ada yang perduli terhadap kondisi kehamilannya, sehingga ibu hamil semakin menjaga kehamilan dengan rutin melakukan pemeriksaan kehamilan di fasilitas pelayanan kesehatan.
PERUBAHAN ANGKA KEJADIAN STUNTING PASCA PELAKSANAAN PEMBERIAN MAKAN BAYI DAN ANAK DI DESA MLOKOREJO KECAMATAN PUGER Mabruroh, Aimmatul; Sasmito, Lulut; Palupi, Jenie
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.7050

Abstract

Stunting is a major problem because it can affect children's cognitive development, which has long-term impacts on productivity and the quality of human resources. In Indonesia, the stunting rate in 2022 reached 21.6%, and in East Java it was recorded at 19.2%, with a prevalence in Jember Regency of 34.9%. Mlokorejo Village was recorded as having 9.6% of stunted toddlers in 2023. One of the government's efforts to reduce the stunting rate is through the PMBA program, which aims to improve community knowledge and skills in providing appropriate food to infants and children. This comparative descriptive study used two samples. The population was 65 toddlers, with a sample of 55 toddlers using the Isaac and Michael sampling table. The measurement tool was the independent sample t-test. Data analysis showed that the average z-score of toddlers before and after the PMBA implementation only differed by 0.05, indicating that there was no significant difference in the stunting rate. Before the implementation of PMBA, the average height of stunted toddlers was 82.7 cm with a standard deviation of -2.7 SD, while after the implementation of PMBA, the average height of stunted toddlers was 81.6 cm with a standard deviation of -2.7 SD. There was no significant change in the incidence of stunting after the implementation of Infant and Young Child Feeding in Mlokorejo Village. It is hoped that further evaluation of the effectiveness of the PMBA program and the community will develop businesses that can improve nutrition, such as fish farming. ABSTRAKKejadian stunting menjadi masalah utama karena dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak, yang berdampak jangka panjang pada produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, angka kejadian stunting pada tahun 2022 mencapai 21,6%, dan di Jawa Timur tercatat 19,2%, dengan prevalensi di Kabupaten Jember sebesar 34,9%. Desa Mlokorejo tercatat memiliki 9,6% balita stunting pada tahun 2023. Salah satu upaya pemerintah untuk menurunkan angka kejadian stunting adalah melalui program PMBA, yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memberikan makanan yang tepat kepada bayi dan anak. Penelitian deskriptif komparatif dengan dua sampel. Populasi sebanyak 65 balita, dengan sampel sebanyak 55 balita menggunakan tabel penentuan sampel Isaac dan Michael. Alat ukur dengan uji t sampel bebas. Analisis data menunjukkan bahwa rata-rata z-score balita sebelum dan sesudah pelaksanaan PMBA hanya berbeda 0,05, yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan dalam angka kejadian stunting. Sebelum pelaksanaan PMBA, rata-rata tinggi badan balita stunting adalah 82,7 cm dengan standar deviasi -2,7 SD, sedangkan setelah pelaksanaan PMBA, rata-rata tinggi badan balita stunting adalah 81,6 cm dengan standar deviasi -2,7 SD. Tidak terdapat perubahan signifikan pada angka kejadian stunting pasca pelaksanaan Pemberian Makan Bayi dan Anak di Desa Mlokorejo. Diharapkan untuk mengevaluasi lebih lanjut efektivitas program PMBA dan masyarakat mengembangkan usaha yang dapat meningkatkan gizi, seperti budidaya ikan.
PERBEDAAN RESIKO KEJADIAN PREEKLAMPSIA PADA USIA IBU HAMIL RESIKO TINGGI DI WILAYAH PUSKESMAS SUKOWONO KABUPATEN JEMBER Hidayati, Nur; Sugijati, Sugijati; Sasmito, Lulut; Palupi, Jenie
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.7057

Abstract

Preeclampsia is characterized by blood pressure of 140/90 mm Hg or more. The prevalence of preeclampsia in East Java in 2022 was 499 cases. In 2023 there were 498 cases, in Jember in 2022 there were 57 people and in 2023 there were 47 people. Age is one of the factors that influence preeclampsia. This study aims to determine the difference in the risk of preeclampsia at high-risk ages. The research design uses comparative. The study population of pregnant women aged ? 20 years and 2-35 years was 186 people, with a Random Sampling technique of 126 respondents. Data collection used a cohort of pregnant women in 2023. Data analysis used the Chi-Square and Odds Ratio tests. Results 41 people aged ?35 years are at risk of preeclampsia and 28 people aged ? 20 years are at risk of preeclampsia, 16 people aged 35 years are not at risk of preeclampsia, 41 people aged ? 20 years are not at risk of preeclampsia There is a difference in the risk of preeclampsia at high-risk ages with p-value = 0.001 < 0.05. Conclusion The older the age of the pregnant woman, the higher the risk of preeclampsia. KIE safe age for pregnancy use contraception first before the age of 20 years and over 35 years. Consider the risk again if pregnancy occurs at a high-risk age, do ANC regularly ABSTRAKPreeklamsia ditandai dengan tekanan darah 140/90 mm Hg atau lebih. Prevalensi preeclampsia di Jawa Timur tahun 2022 sebanyak 499 kasus. tahun 2023 sebanyak 498 kasus, di jember tahun 2022 sebanyak 57 orang dan tahun 2023 sebanyak 47 orang.usia merupakan salah satu factor yang empengaruhi preekamsi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan resiko kejadian preeklamsi pada usia resiko tinggi. Desain penelitian menggunakan komparatif. Populasi penelitian ibu hamil berusia ? 20 tahun dan 2 35 tahun sebanyak 186 orang, dengan teknik Random Sampling yaitu 126 responden. Pengumpulan data menggunakan kohord ibu hamil tahun 2023. Analisis data dengan uji Chi-Square dan Odds Ratio. Hasil 41 orang usia ?35 tahun beresiko preeklamsi dan usia ? 20 tahun 28 orang yang beresiko preeklamsi, 16 orang usia 35 tahun tidak beresiko preeklamsi, 41 orang usia ? 20 tahun tidak beresiko preeklamsi Terdapat perbedaan resiko preeklamsi pada usia resiko tinggi dengan p-value = 0,001 < 0,05. Kesimpulan semakin tua usia ibu hamil maka resiko preeklampsia juga tinggi. KIE usia aman untuk hamil gunakan kontrasepsi dulu sebelum usia mencapai 20 tahun dan usia lebih 35 tahun. Pertimbangkan lagi resiko jika terjadi kehamilan di usia resiko tinggi lakukan anc secara teratur
OPTIMALISASI PERAN KADER DALAM PENYULUHAN P4K SEBELUM DAN SETELAH PEMBERIAN PELATIHAN KADER DI KELURAHAN GEBANG UPTD PUSKESMAS PATRANG Widiarti, Tanti; Jamhariyah, Jamhariyah; Sasmito, Lulut
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.7058

Abstract

The role of cadres in P4K is still low, especially in educating pregnant women due to the lack of optimal programs that include the role of cadres. Cadres in Gebang Village were found that out of 20% of cadres who conducted P4K counseling both in and outside the posyandu. This is due to the lack of coaching and increasing the knowledge capacity of cadres. This study aims to determine the optimality of the role of cadres in P4K counseling before and after providing cadre training. Researchers conducted a rapid survey using a quantitative comparative study research design, Cluster random sampling technique and Simple random sampling using a One Group Pretest-Posttest research design with a sample of 100 respondents. Data analysis used the Wilcoxon Test. The results showed that the role of cadres before being given training was 54% inactive. While the role of cadres after being given training was 56% active. The results of the analysis obtained a p-value of 0.000 <? (0.05). The conclusion in this study is that there is an optimal role for cadres in P4K counseling before and after training was given in Gebang Village, UPTD Patrang Health Center. ABSTRAKPeran kader dalam P4K masih rendah, terutama dalam mengedukasi ibu hamil dikarenakan kurang maksimalnya program yang mengikut sertakan peran kader. Kader di Kelurahan Gebang ditemukan bahwa dari 20% kader yang melakukan penyuluhan P4K baik di dalam posyandu maupun di luar posyandu. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pembinaan dan peningkatan kapasitas pengetahuan kader. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Optimal tidaknya  Peran Kader Dalam Penyuluhan P4K dari Sebelum dan Setelah Pemberian Pelatihan Kader. Peneliti melakukan survei cepat menggunakan desain penelitian studi kuantitatif comparation, teknik Cluster random sampling dan Simple random sampling menggunakan desain penelitian One Group Pretest-Posttest dengan sampel 100 responden. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kader sebelum diberi pelatihan yaitu terdapat 54% kader tidak aktif. Sedangkan peran kader setelah diberikan pelatihan yaitu terdapat 56% kader berperan aktif. Hasil analisis di peroleh p-value 0.000 < ? (0.05). Kesimpulan dalam penelitian ini adanya Peran kader yang optimal dalam penyuluhan P4K dari sebelum dan setelah diberikan Pelatihan di Kelurahan Gebang UPTD Puskesmas Patrang.
POLA PERUBAHAN Z-SCORE PASKA PEMBERIAN PMT PEMULIHAN PADA BALITA STUNTING DI UPTD PUSKESMAS KEMUNINGSARI KIDUL Vitasari, Nilla Marolin Heny; Jamhariyah, Jamhariyah; Sasmito, Lulut
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.7059

Abstract

Stunting is a chronic malnutrition problem caused by insufficient nutritional intake over a long period due to the provision of food that does not meet nutritional needs. Indicators of stunting in toddlers can be seen through the Z-Score assessment, the measurement results are at the threshold (Z-Score) <-2 SD. One of the activities carried out to overcome the incidence of stunting is through the Provision of Supplementary Food (PMT). PMT is provided daily with a portion of 1 complete meal a week and 1 snack a week. The purpose of this study was to determine changes in the Z-score value after the provision of recovery PMT in stunted toddlers at the UPTD Kemuningsari Kidul Community Health Center. The research method used a comparative research design with a population of all stunted toddlers who received recovery PMT totaling 36 toddlers. The sampling technique used simple random sampling with Paired Sample T-Test analysis. The results of this study showed a p-value of 0.015 < ? 0.05, so it can be said that there was a change in the Z-score value before and after the provision of 60-day recovery PMT for stunted toddlers at the UPTD Kemuningsari Kidul Health Center. In conclusion, the recovery PMT program has great potential in reducing stunting rates in the region, with most toddlers showing positive improvements. ABSTRAKStunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan karena asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Indikator balita dikatakan stunting dapat dilihat melalui penilaian Z-Score, hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD. Kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi kejadian stunting salah satunya adalah melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Pemberian PMT dilakukan setiap hari dengan porsi 1 kali makanan lengkap dalam seminggu dan kudapan 1 kali dalam seminggu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya perubahan nilai Z-score paska pemberian PMT pemulihan pada balita stunting di UPTD Puskesmas Kemuningsari Kidul. Metode penelitian menggunakan desain penelitian komparatif dengan populasi semua balita stunting yang mendapatkan PMT pemulihan berjumlah 36 balita. Tehnik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan uji analisis Paired Sample T-Test. Hasil penelitian ini menunjukkan p value 0,015 < ? 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat perubahan nilai Z-score sebelum dan paska pemberian PMT pemulihan 60 hari makan pada balita stunting di UPTD Puskesmas Kemuningsari Kidul. Kesimpulan program PMT pemulihan memiliki potensi besar dalam mengurangi angka stunting di wilayah tersebut, dengan sebagian besar balita menunjukkan perbaikan yang positif.
Hubungan Anemia dengan Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil di RSD Balung Jember Nastiti Hayuningtyas, Bella; Lulut Sasmito; Gumiarti
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 3 No. 3 (2025): October : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v3i3.718

Abstract

Preeklampsia merupakan kondisi yang mengganggu kehamilan dimana terdapat hipertensi yang disertai adanya proteinuria dan edema, serta sering terjadi pada usia kehamilan diatas 20 minggu dan menjelang persalinan. Faktor resiko terjadinya preeklamsia salah satunya yaitu anemia. Riset ini dilakukan guna menilai korelasi antara anemia dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil. Data pendahuluan yang dikumpulkan di di RSD Balung, Jember diperoleh data ibu hamil pada bulan Oktober-Desember 2022 sebanyak 119 ibu hamil, dengan 35 diantaranya terdiagnosa preeklampsia. Ibu hamil yang terdiagnosa preeklampsia 62% mengalami anemia. Teknik pengambilan data secara retrospektif dengan menggunakan pendekatan crosssectional. Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah 1094 data ibu hamil tahun 2023. Sampel penelitian diperoleh menggunakan metode simple random sampling dengan total 292 rekam medis yang sesuai dengan kriteria inklusi. Analisis data dilakukan melalui uji Chi-Square , lalu dilanjutkan dengan uji korelasi lambda. Hasil pengolahan data menunjukkan 50,3% tidak anemia, 36,3% anemia ringan, 11,6% anemia sedang, 1,7% anemia berat, 65,4% tidak preeklampsia dan 34,6% preeklampsia. Tidak ditemukan korelasi antara kondisi anemia dengan munculnya kejadian preeklampsia dengan nilai ρ-value 0,604 > α 0,05. Meskipun Anemia dan preeklampsia tidak berhubungan, kedua kejadian tersebut merupakan komplikasi kehamilan yang harus dilakukan deteksi dini dengan melakukan pemeriksaan ANC (Antenatal Care). Preeclampsia is a pregnancy complication characterized by hypertension accompanied by proteinuria and edema, and it commonly occurs after 20 weeks of gestation or near delivery. One of the risk factors for preeclampsia is anemia. This study was conducted to assess the correlation between anemia and the incidence of preeclampsia among pregnant women. Preliminary data collected at RSD Balung, Jember, showed that from October to December 2022 there were 119 pregnant women, of whom 35 were diagnosed with preeclampsia. Among those diagnosed with preeclampsia, 62% also experienced anemia. The data were collected retrospectively using a cross-sectional approach. In this study, the population consisted of 1,094 medical records of pregnant women in 2023. The sample was obtained using a simple random sampling method, resulting in 292 medical records that met the inclusion criteria. Data analysis was carried out using the Chi-Square test, followed by the Lambda correlation test. The results showed that 50.3% of the participants were not anemic, 36.3% had mild anemia, 11.6% had moderate anemia, 1.7% had severe anemia, 65.4% did not experience preeclampsia, and 34.6% experienced preeclampsia. No correlation was found between anemia and the incidence of preeclampsia, with a p-value of 0.604 > α 0.05. Although anemia and preeclampsia were not significantly associated, both conditions are pregnancy complications that require early detection through Antenatal Care (ANC) examinations.