Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PUSAT REHABILITASI PENDERITA HIV/AIDS DI MANADO Pengembangan Konsep ‘CONNECTED ISOLATION’ Dari Thom Mayne Untuk Strategi Desain Arsitektur Soleman, Petika P.; Erdiono, Deddy; Sembel, Amanda S.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 3 No. 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v3i2.6056

Abstract

ODHA adalah sebutan yang diberikan pada orang dengan HIV/AIDS. Dengan adanya stigma negatif hingga sikap diskriminatif dari masyarakat lain terhadap penyakitnya membuat ODHA mengalami perasaan tidak tenang karena ada rasa takut, malu, marah dan kecewa. Untuk merespon rasa tidak senang tersebut, maka ODHA harus dikenalkan terhadap perubahan, dimana untuk mencapainya perlu 3 aspek yaitu rasa percaya diri, rasa fleksibel dan rasa ingin tahu. Tema perancangan yang digunakan yaitu Pengembangan Konsep CONNECTED ISOLATION dari Thom Mayne Untuk Strategi Desain Arsitektur. Penerapan tema parancangan tersebut dapat dicapai melalui sebuah program rehabilitasi social merupakan wadah kegiatan pelayanan program rehabilitasi bagi ODHA.   Kata Kunci : ODHA, HIV/AIDS, Rehabilitasi, Connected Isolation, Manado
ANALISIS TINGKAT RESIKO BENCANA GUNUNG API LOKON DI KOTA TOMOHON Kading, Aldrin R.; Tungka, Aristotulus E.; Sembel, Amanda S.
MEDIA MATRASAIN Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resiko bencana merupakan potensi kerugian yang ditumbulkan akibat bencana pada suatu kawasan dalam kurun waktu waktu tertentu yang dapat berupa kematian , luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan, atau kehilangan harta benda, dan gangguan kegiatan masyarakat. Berdasarkan penelitian di belahan dunia terdapat 1500 gunung Merapi aktif, 127 diantaranya berada di Indonesia, hal ini karena Indonesia berada pada zona ring of fire, yaitu zona yang paling sering mengalami gempa bumi dan erupsi gunung api. gunung lokon merupakan salah satu gunung api tipe A berjenis Stratovulcano yang berada di antara kota tomohon dan minahasa selatan.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat resiko bencana erupsi gunung api lokon dikota tomohon serta menentukan jalur evakuasi, titik kumpul, dan titik pengungsian berdasarkan hasil analisis tingkat resiko sebagai upaya dalam mengurangi resiko erupsi gunung api lokon di kota tomohon. Metode yang digunakan untuk analisis resiko adalah analisis spasial (overlay), pembobotan dan skoring dengan indikator ancaman, kerentanan, kapasitas dan resiko, sedangkan untuk penentuan jalur evakuasi, titik kumpul, dan titik pengungsian adalah dengan menggunakan metode network analysis. Berdasarkan hasil analisis terdapat 7 kelurahan dengan tingkat resiko tinggi yang dipengaruhi oleh tingkat ancaman, indeks kerentanan, tingkat kerugian dan dan tingkat kapasitas, sedangkan untuk jalur evakuasi direncanakan sebanyak 22 titik kumpul, 32 titik pengungsian, dan 21 rute terpendek menuju pengungsian.
ANALISIS PENYEDIAAN LOKASI LAHAN TERBANGUN (PERMUKIMAN) BAGI MASYARAKAT YANG TERKENA TSUNAMI DI KABUPATEN DONGGALA KECAMATAN BANAWA Christabel J., Dewa P.; Takumansang, Esly D.; Sembel, Amanda S.
MEDIA MATRASAIN Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Housing and settlements are one of the basic human needs. Settlement is part of a residential environment consisting of more than one housing unit that has infrastructure, facilities, public utilities, and has supporting activities for other functions in urban areas or rural areas. The government is obliged to meet the housing needs of the Indonesian people.The earthquake and tsunami disaster in Donggala Regency, Banawa District has caused damage to community housing. As a result of this disaster, it is necessary to provide new residential land locations for disaster-affected communities in Banawa District. This study aims to provide an understanding in analyzing the suitability of residential land in Donggala Regency, Banawa District and to assist the government in determining a suitable location for a new residential area in Donggala Regency, Banawa District. To determine the right location in building regional residential areas, the unit analysis method of land capability and land suitability is used. The results of the research show that the land capability in Donggala Regency is still in the category that can be developed but still has to follow the appropriate directions and rules for the development category. Meanwhile, land suitability in Donggala Regency, the Agricultural area has the most dominating area. The right land location for the development of the new settlement area is located in Banawa District, Gunung Bale Village.
Ketersediaan Prasarana dan Sarana Permukiman di Kecamatan Remboken Sanger, Dennis C.H.; Malik, Andy A.M.; Sembel, Amanda S.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.59245

Abstract

AbstrakDalam RTRW Minahasa 2014-2034 dikatakan kecamatan yang termasuk sebagai pusat pertumbuhan kabupaten yaitu pusat kegiatan lokal salah satunya adalah Kecamatan Remboken. Pasal 5 ayat 2 huruf (g) mengatakan tentang meningkatkan ketersediaan dan kualitas peIayanan prasarana serta fasilitas pednukung kegiatan pedesaan atau perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisa tentang ketersediaan sarana dan prasarana di Kecamatan Remboken menggunakan SNI 03-1733-2004 dan Standar Pelayanan Minimal tentang Prasarana juga menganalisis kebutuhan sarana selama 20 tahun kedepan berdasarkan Proyeksi Pertumbuhan Penduduk. Pengumpulan data primer melalui pengamatan lapangan, teknik dokumentasi, dan wawancara dengan instansi terkait, sedangkan data sekunder didapatkan dari Badan Pusat Statistik Minahasa yang dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif, untuk menganalisis data digunakan metode deskriptif kuantitatif, untuk mengetahui persebaran prasarana dan sarana serta radius pelayanan sarana digunakan metode analisis spasial. Hasil dan pembahasan diketahui kualitas prasarana jalan dimana lebar jalan belum sesuai standar dan prasarana air bersih di desa Pulutan belum dikelola secara komunal, prasarana persampahan belum tersedianya Tempat Pembuangan Sementara. Dalam rentan waktu 20 tahun Sarana Pendidikan Taman Kanak Kanak perlu penambahan 11 unit, Sekolah Menengah Pertama perlu penambahan 2 unit dan Sekolah Menengah Atas perlu penambahan 4 unit. Sarana Kesehatan Posyandu perlu penambahan 7 unit dan Dokter Praktek perlu penambahan 3 unit.Kata-kunci: prasarana; sarana; permukiman AbstractIn the 2014-2034 Minahasa RTRW, it is said that the sub-district is included as the center of district growth, namely the center of local activities, one of which is Remboken District. Article 5 paragraph 2 letter (g) says about improving the availability and quality of infrastructure and facilities to support rural or urban activities. This study aims to identify and analyze the availability of facilities and infrastructure in Remboken District using SNI 03-1733-2004 and Minimum Service Standards on Infrastructure as well as analyze the need for facilities for the next 20 years based on Population Growth Projections. Primary data collection was through field observations, documentation techniques, and interviews with related agencies, while secondary data was obtained from the Central Statistics Agency of Minahasa which was analyzed using a qualitative descriptive method, to analyze the data was used a quantitative descriptive method, to find out the distribution of infrastructure and facilities as well as the radius of service facilities was used the spatial analysis method. The results and discussions were known to the quality of road infrastructure where the width of the road was not up to standard and the clean water infrastructure in Pulutan village had not been managed communally, and the waste infrastructure was not yet available for a Temporary Disposal Site. In the span of 20 years, the Children's Kindergarten Education Facility needs to add 11 units, Junior Secondary Schools need to add 2 units and Senior Secondary Schools need to add 4 units. Posyandu Health Facilities need an additional 7 units and Practicing Doctors need an additional 3 units.Keywords : infrastructure; facilities; settlement
PUSAT HEWAN PELIHARAAN DI KOTA MANADO. Arsitektur Biomimetik Hartono, Gabrielle D. A.; Egam, Pingkan P.; Sembel, Amanda S.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20448

Abstract

Hewan peliharaan telah menjadi bagian dari hidup manusia sejak masa lampau. Masyarakat modern mulai menempatkan hewan peliharaan pada posisi yang hampir sama dengan manusia. Potensi dan manfaat yang dimiliki oleh hewan peliharaan dalam berbagai bidang dan aspek kehidupan membuat hewan peliharaan tidak lagi dipandang hanya sebatas sebagai peliharaan. Dalam beberapa tahun terakhir, di Kota Manado sendiri hewan peliharaan jenis anjing dan kucing sudah mulai menjadi hal yang diminati masyarakat luas. Sayangnya tingginya minat masyarakat terhadap hewan peliharaan tidak diimbangi oleh ketersediaan fasilitas yang mampu mewadahi aktivitas sekaligus memenuhi kebutuhan hewan peliharaan. Penyediaan fasilitas wadah aktivitas dan pemenuhan kebutuhan hewan peliharaan dan pemiliknya sangatlah penting. Perawatan hewan peliharaan harus dilakukan dengan penanganan khusus dan sesuai yang didukung oleh fasilitas yang memadai.Pusat Hewan Peliharaan di Kota Manado berupa kawasan rekreasi yang menghadirkan tiga fasilitas utama dengan fungsi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan menempatkan hubungan antara aktivitas manusia dan hewan peliharaan sebagai fokus utama, yaitu fungsi foster yang melingkupi fungsi perdagangan serta hunian dan perawatan fisik hewan peliharaan terlantar, fungsi care yang melingkupi pelayanan informasi dan kesehatan hewan peliharaan berpemilik, serta fungsi community yang mewadahi aktivitas outdoor hewan peliharaan, pemiliknya, dan masyarakat umum pengguna objek rancangan. Perancangan objek yang berkaitan dengan hewan peliharaan memiliki beberapa persyaratan dan batasan agar hewan peliharaan tidak hanya diberikan wadah begitu saja namun melalui wadah ini juga dapat meningkatkan kualitas aktivitas yang berlangsung di dalamnya.Alam sangat berpengaruh bagi kondisi fisik dan psikologis manusia maupun hewan peliharaan. Arsitektur Biomimetik adalah desain arsitektur yang menjadikan alam sebagai model dalam perancangannya; berfokus pada bentukan-bentukan alam dan proses yang terjadi di dalamnya. Perpaduan tema perancangan Arsitektur Biomimetik dengan objek rancangan melalui implementasi kriteria-kriteria biologis dapat menghasilkan pengaruh positif bagi pengguna, lingkungan sekitar, maupun objek rancangan itu sendiri dimana dapat menciptakan sebuah harmoni dan keseimbangan antara semua aspek dan pihak yang terlibat dengan keberadaan objek rancangan. Kata Kunci : Alam, Arsitektur Biomimetik, Hewan Peliharaan
RESORT DI KECAMATAN KEMA. Arsitektur Bambu Talise, Marchell P. G.; Rengkung, Joseph; Sembel, Amanda S.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20670

Abstract

Daerah wisata saat ini banyak di minati oleh wisatawan lokal maupun wisatawan luar untuk mengisi waktu luang dan menginginkan jeda pada padatnya rutinitas sehari-hari. Obyek wisata dapat berupa wisata alam seperti gunung, danau, sungai, pantai, laut atau berupa objek penginapan dengan berbagai fasilitas untuk mendukung objek wisata tersebut salah satu contohnya adalah resort. Metode perancangan yang digunakan adalah metode perancangan lima langkah dengan tahap permulaan, persiapan, pengajuan usul, evaluasi dan tindakan, dengan metode perancangan lima langkah ini maka di lakukanlah analisis tapak, analisis klimatologi, analisis view, dsb untuk hasil desain yang baik demi menciptakan kenyamanan terhadap pengguna resort. Tempat wisata di Kecamatan Kema Minahasa Utara dapat di katakan cukup banyak, kema sebagai daerah wisata. Desa kema memiliki banyak potensi pariwisata budaya diantaranya pantai pasir putih makalisung, pantai lilang, pantai waleo, pantai batu nona, pantai firdaus, pantai asparaga, pantai tasik oki, makam penginjil Lammers dan penjara tua peninggalan Portugis, namun minimnya fasilitas penginapan yang dapat menunjang membuat kurangnya minat pengunjung untuk datang ke kecamatan kema maka dibangunlah resort. Penerapan tema arsitektur bambu untuk menghadirkan suatu desain bangunan resort dengan pemikiran masa mendatang, dan lewat penerapan tema arsitektur bambu pada rancangan menambah kesan unik dan bersatu dengan alam sehingga menambah ciri khas pada resort. Melalui perancangan ini diharapkan dapat menciptakan fasilitas penginapan tambahan yang menjaga stabilitas keberlangsungan pengguna, dengan memberikan kenyamanan, keselamatan dan keamanan.Kata kunci : Objek wisata, Resort, Arsitektur bambu
INTERMODA BANDAR UDARA KASIGUNCU DI POSO SULAWESI TENGAH. Hypersurface Architecture Mamuaja, Shintya G.; Erdiono, Deddy; Sembel, Amanda S.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.21302

Abstract

Bandara Kasiguncu untuk 20 tahun ke depan dapat melayani 6 rute penerbangan seperti Makassar, Gorontalo, Manado, Samarinda, Kendari dan Balikpapan, dengan total pengguna Terminal Bandara yaitu, 912,17 orang/hari. Adapun Stasiun Kereta Api yang direncanakan akan dibuat di Kab. Poso yang berlokasi di desa Ratolene, untuk jumlah pengunjung Stasiun Ratolene pada 20 tahun ke depan yaitu 2.308,75 orang/hari dengan skala pelayanan adalah kota Manado, Gorontalo, Palu, Poso, Kendari, Mamuju dan Makassar. Pengintegritasian moda transportasi udara dan darat dilakukan pada Bandara Kasiguncu dan Stasiun Kereta Api Ratolene, untuk memberikan kemudahan bagi pengguna dalam melakukan perpindahan moda transportasi dari udara ke darat dan dari darat ke udara, hal ini disebut dengan Intermoda. Dalam perancangan Intermoda Bandar Udara Kasiguncu ini menerapkan tema Hypersurface Architecture karena penulis meyakini bahwa ke depannya Bandara Kasiguncu dapat menjadi Bandara Internasional. Oleh sebab itu, teori Hypersurface Architecture sangat mendukung perancangan tersebut karena dengan bentukan geometri yang dinamis. Teori Hypersurface Architecture merupakan sebuah teori yang mengutamakan tipologi bangunan sebagai dasar bentuknya, sifat lengkung juga tidak dapat dipisahkan dari penggunaan teori tersebut dan didukung dengan bantuan digital dapat mempermudah perancangan nantinya. Kata kunci : Intermoda, Bandar Udara, Kereta Api, Hypersurface Arcitecture.
PUSAT KEBUDAYAAN MINAHASA DI TONDANO. Arsitektur Organik Manoppo, Adrian T.; Kapugu, Herry; Sembel, Amanda S.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23672

Abstract

Kebudayaan merupakan warisan dari cara hidup, pola pikir serta hasil pekerjaan tangan secara turun temurun dari masyarakat suatu daerah. Maka dari itu Kebudayaan adalah hal yang harus dijaga dan dilestarikan serta dijunjung tinggi daerahnya masing-masing. Pariwisata merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan nasional. Peranan pariwisata di Indonesia sangat dirasakan manfaatnya, karena pembangunan dalam sektor pariwisata serta pendayagunaan sumber potensi kepariwisataan menjadi kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan. Minahasa merupakan suatu suku yang terletak di Sulawesi Utara yang telah ada dari zaman purbakala. Tondano merupakan Ibukota dari Kab.Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia.. Pusat Kebudayaan adalah sebuah wadah khusus dengan memadukan fungsi komersil dan kebudayaan secara terintegrasi untuk wisatawan yang bertujuan untuk berwisata serta mengenal lebih dalam tentang kebudayaan. Arsitektur Organik merupakan sebuah konsep arsitektur yang diilhami dari alam. Arsitektur Organik adalah sebuah istilah yang diaplikasikan pada bangunan atau bagian dari bangunan yang terorganisir berdasarkan analogi biologi atau yang dapat mengingatkan pada bentuk natural, baik itu meniru bentukan suatu organisme ataupun suatu bentukan yang  menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Kata Kunci :, Kebudayaan, , Pusat Kebudayaan, Minahasa, Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Organik Arsitektur.
REVITALISASI TERMINAL MALALAYANG. High Tech Architecture Manumpil, Greifanny G. E.; Lakat, Ricky S. M.; Sembel, Amanda S.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23694

Abstract

Perkembangan teknologi semakin pesat, membuat kehidupan masyarakat juga ikut terpengaruh oleh kecanggihannya. Serba praktis dan instan menjadi karakter yang sudah biasa ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Terutama dalam bidang infrastruktur, kehadiran kendaraan beriringan dengan tingginya kelancaran ilmu komunikasi dan teknologi, membuat masyarakat semakin mudah dalam mengaksesnya. Terminal mulai mengalami degradasi fungsi akibat mudahnya masyarakat mengakses kebutuhan akan transportasi dengan teknologi yang ada saat ini. Dengan menerapkan tema High-Tech Architecture pada proses revitalisasi Terminal Malalayang, bisa membantu terminal menjadi lebih hidup kembali dan berfungsi selayaknya fungsi terminal itu sendiri. Dengan kemudahan dan kecanggihan dari teknologi, maka terminal malalayang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat secara praktis dan efisiensi, baik pengaturan pola ruang, penggunan teknologi pada system dalam bangunan, serta pemanfaatan material ciri khas high-tech architecture pada terminal itu sendiri.            Kata kunci : Revitalisasi, Terminal, High-Tech Architecture, MalalayangÂ