Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PUSAT REHABILITASI PENDERITA HIV/AIDS DI MANADO Pengembangan Konsep ‘CONNECTED ISOLATION’ Dari Thom Mayne Untuk Strategi Desain Arsitektur Soleman, Petika P.; Erdiono, Deddy; Sembel, Amanda S.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 3, No 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ODHA adalah sebutan yang diberikan pada orang dengan HIV/AIDS. Dengan adanya stigma negatif hingga sikap diskriminatif dari masyarakat lain terhadap penyakitnya membuat ODHA mengalami perasaan tidak tenang karena ada rasa takut, malu, marah dan kecewa. Untuk merespon rasa tidak senang tersebut, maka ODHA harus dikenalkan terhadap perubahan, dimana untuk mencapainya perlu 3 aspek yaitu rasa percaya diri, rasa fleksibel dan rasa ingin tahu. Tema perancangan yang digunakan yaitu Pengembangan Konsep CONNECTED ISOLATION dari Thom Mayne Untuk Strategi Desain Arsitektur. Penerapan tema parancangan tersebut dapat dicapai melalui sebuah program rehabilitasi social merupakan wadah kegiatan pelayanan program rehabilitasi bagi ODHA.   Kata Kunci : ODHA, HIV/AIDS, Rehabilitasi, Connected Isolation, Manado
ANALISIS TINGKAT RESIKO BENCANA GUNUNG API LOKON DI KOTA TOMOHON Kading, Aldrin R.; Tungka, Aristotulus E.; Sembel, Amanda S.
MEDIA MATRASAIN Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resiko bencana merupakan potensi kerugian yang ditumbulkan akibat bencana pada suatu kawasan dalam kurun waktu waktu tertentu yang dapat berupa kematian , luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan, atau kehilangan harta benda, dan gangguan kegiatan masyarakat. Berdasarkan penelitian di belahan dunia terdapat 1500 gunung Merapi aktif, 127 diantaranya berada di Indonesia, hal ini karena Indonesia berada pada zona ring of fire, yaitu zona yang paling sering mengalami gempa bumi dan erupsi gunung api. gunung lokon merupakan salah satu gunung api tipe A berjenis Stratovulcano yang berada di antara kota tomohon dan minahasa selatan.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat resiko bencana erupsi gunung api lokon dikota tomohon serta menentukan jalur evakuasi, titik kumpul, dan titik pengungsian berdasarkan hasil analisis tingkat resiko sebagai upaya dalam mengurangi resiko erupsi gunung api lokon di kota tomohon. Metode yang digunakan untuk analisis resiko adalah analisis spasial (overlay), pembobotan dan skoring dengan indikator ancaman, kerentanan, kapasitas dan resiko, sedangkan untuk penentuan jalur evakuasi, titik kumpul, dan titik pengungsian adalah dengan menggunakan metode network analysis. Berdasarkan hasil analisis terdapat 7 kelurahan dengan tingkat resiko tinggi yang dipengaruhi oleh tingkat ancaman, indeks kerentanan, tingkat kerugian dan dan tingkat kapasitas, sedangkan untuk jalur evakuasi direncanakan sebanyak 22 titik kumpul, 32 titik pengungsian, dan 21 rute terpendek menuju pengungsian.
ANALISIS PENYEDIAAN LOKASI LAHAN TERBANGUN (PERMUKIMAN) BAGI MASYARAKAT YANG TERKENA TSUNAMI DI KABUPATEN DONGGALA KECAMATAN BANAWA Christabel J., Dewa P.; Takumansang, Esly D.; Sembel, Amanda S.
MEDIA MATRASAIN Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Housing and settlements are one of the basic human needs. Settlement is part of a residential environment consisting of more than one housing unit that has infrastructure, facilities, public utilities, and has supporting activities for other functions in urban areas or rural areas. The government is obliged to meet the housing needs of the Indonesian people.The earthquake and tsunami disaster in Donggala Regency, Banawa District has caused damage to community housing. As a result of this disaster, it is necessary to provide new residential land locations for disaster-affected communities in Banawa District. This study aims to provide an understanding in analyzing the suitability of residential land in Donggala Regency, Banawa District and to assist the government in determining a suitable location for a new residential area in Donggala Regency, Banawa District. To determine the right location in building regional residential areas, the unit analysis method of land capability and land suitability is used. The results of the research show that the land capability in Donggala Regency is still in the category that can be developed but still has to follow the appropriate directions and rules for the development category. Meanwhile, land suitability in Donggala Regency, the Agricultural area has the most dominating area. The right land location for the development of the new settlement area is located in Banawa District, Gunung Bale Village.
Ketersediaan Prasarana dan Sarana Permukiman di Kecamatan Remboken Sanger, Dennis C.H.; Malik, Andy A.M.; Sembel, Amanda S.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.59245

Abstract

AbstrakDalam RTRW Minahasa 2014-2034 dikatakan kecamatan yang termasuk sebagai pusat pertumbuhan kabupaten yaitu pusat kegiatan lokal salah satunya adalah Kecamatan Remboken. Pasal 5 ayat 2 huruf (g) mengatakan tentang meningkatkan ketersediaan dan kualitas peIayanan prasarana serta fasilitas pednukung kegiatan pedesaan atau perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisa tentang ketersediaan sarana dan prasarana di Kecamatan Remboken menggunakan SNI 03-1733-2004 dan Standar Pelayanan Minimal tentang Prasarana juga menganalisis kebutuhan sarana selama 20 tahun kedepan berdasarkan Proyeksi Pertumbuhan Penduduk. Pengumpulan data primer melalui pengamatan lapangan, teknik dokumentasi, dan wawancara dengan instansi terkait, sedangkan data sekunder didapatkan dari Badan Pusat Statistik Minahasa yang dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif, untuk menganalisis data digunakan metode deskriptif kuantitatif, untuk mengetahui persebaran prasarana dan sarana serta radius pelayanan sarana digunakan metode analisis spasial. Hasil dan pembahasan diketahui kualitas prasarana jalan dimana lebar jalan belum sesuai standar dan prasarana air bersih di desa Pulutan belum dikelola secara komunal, prasarana persampahan belum tersedianya Tempat Pembuangan Sementara. Dalam rentan waktu 20 tahun Sarana Pendidikan Taman Kanak Kanak perlu penambahan 11 unit, Sekolah Menengah Pertama perlu penambahan 2 unit dan Sekolah Menengah Atas perlu penambahan 4 unit. Sarana Kesehatan Posyandu perlu penambahan 7 unit dan Dokter Praktek perlu penambahan 3 unit.Kata-kunci: prasarana; sarana; permukiman AbstractIn the 2014-2034 Minahasa RTRW, it is said that the sub-district is included as the center of district growth, namely the center of local activities, one of which is Remboken District. Article 5 paragraph 2 letter (g) says about improving the availability and quality of infrastructure and facilities to support rural or urban activities. This study aims to identify and analyze the availability of facilities and infrastructure in Remboken District using SNI 03-1733-2004 and Minimum Service Standards on Infrastructure as well as analyze the need for facilities for the next 20 years based on Population Growth Projections. Primary data collection was through field observations, documentation techniques, and interviews with related agencies, while secondary data was obtained from the Central Statistics Agency of Minahasa which was analyzed using a qualitative descriptive method, to analyze the data was used a quantitative descriptive method, to find out the distribution of infrastructure and facilities as well as the radius of service facilities was used the spatial analysis method. The results and discussions were known to the quality of road infrastructure where the width of the road was not up to standard and the clean water infrastructure in Pulutan village had not been managed communally, and the waste infrastructure was not yet available for a Temporary Disposal Site. In the span of 20 years, the Children's Kindergarten Education Facility needs to add 11 units, Junior Secondary Schools need to add 2 units and Senior Secondary Schools need to add 4 units. Posyandu Health Facilities need an additional 7 units and Practicing Doctors need an additional 3 units.Keywords : infrastructure; facilities; settlement