Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

ISTRI BEKERJA SEBAGAI PENCARI NAFKAH DITINJAU DARI PERSPEKTIF FEMINIS Suryati; Prosawita Ririh Kusumasari; Ferryani Krisnawati
Collegium Studiosum Journal Vol 6 No 1 (2023): Collegium Studiosum Journal
Publisher : LPPM STIH Awang Long

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56301/csj.v6i1.761

Abstract

Articles 31 to 34 explain that the responsibility for providing maintenance for the wife lies with the husband, and it is also explained in Article 31 that each party has the same rights before the law, then the husband is the head of the family and the wife is the housewife, then Article 34 explained that the husband is obliged to protect his wife and the wife is obliged to manage the household as well as possible. According to feminists, it defines marriage for women and men equally, so that the division of research between women and men causes women's rights to be unequal in society. Because women are not considered the main breadwinners, these provisions also place the wife economically and emotionally dependent on her husband. The purpose of this research is to find out the feminist view of the wife's work as the breadwinner for the family. This research method uses normative juridical. The data used in this study are secondary data as the main data consisting of primary legal materials, secondary legal materials and tertiary legal materials. The data obtained was then analyzed qualitatively. The conclusion is that the views of feminists on the role of the wife as breadwinner, in this case men are responsible for earning a living in order to meet the needs of the household or family. This division of roles between women and men causes women's rights to be unequal in society. Because women are not considered the main breadwinners, the affirmation of the husband as the head of the family and the wife as a housewife in Law Number 1 of 1974 which was revised by Law Number 16 of 2019 concerning Marriage according to feminists is a tightening/restriction of the wife's functions and husband strictly. This provision also places the wife economically and emotionally dependent on her husband.
BEKERJA KELUAR NEGERI SECARA LEGAL DAN AMAN Wahyu Hariadi; Prosawita Ririh Kusumasari; Ferryani Krisnawati
PARADIGMA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2024): PARADIGMA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Department of Public Administration, University Wijaykusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The demands of an increasingly modern era make the needs move very quickly to affect income and employment. There are some Indonesians who choose to work abroad to meet their needs and help their families. This legal counseling aims to provide understanding to students, parents, teachers, the elderly, candidates for employment with disabilities and all other levels of society who may be vulnerable to crime in prospective workers abroad so as to gain a legal understanding of working abroad legally and safely. It is hoped that the community can participate in developing and maintaining what is good and realize that goodness in daily life wholeheartedly, becoming a habit that is continuously practiced and carried out every day. Ease of legal understanding of working abroad legally and safely.
PENGUATAN UMKM SEBAGAI PENGGERAK PEMULIHAN EKONOMI KECAMATAN ALIAN KABUPATEN KEBUMEN Prosawita Ririh Kusumasari; Ferryani Krisnawati; Eti Mul Erowati
PARADIGMA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2024): PARADIGMA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Department of Public Administration, University Wijaykusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Covid-19 pandemic had a significant impact on the decline in the national and global economy. The third quarter of 2020 is an important and challenging momentum to restore the national economy. This legal counseling aims to provide understanding to students, parents, teachers, the elderly, people with disabilities and all other levels of society who act as implementers of Micro, Small and Medium Enterprises in the Alian District, Kebumen Regency, so as to gain an understanding of strengthening Micro, Small and Medium Enterprises as a driver of economic recovery. It is hoped that the community can participate in developing and maintaining what is good and realize that goodness in daily life wholeheartedly, becoming a habit that is continuously practiced and carried out every day. Hopefully people can get ease of understanding Micro, Small and Medium Enterprises implementers in Alian District, Kebumen Regency.
Perlindungan Hukum bagi Istri dalam Pembagian Harta Bersama Pasca Kepailitan Suami Ferryani Krisnawati
Amicus Curiae: Journal of Law and Justice Dialogue Vol. 1 No. 1 (2025): Amicus Curiae
Publisher : Amicus Curiae: Journal of Law and Justice Dialogue

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66229/amcu.7

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pemahaman masyarakat mengenai perjanjian perkawinan yang mengatur pemisahan harta, khususnya bagi pasangan yang berhubungan dengan perjanjian timbal balik antara kreditur dan debitur. Banyak debitur yang telah menikah tidak memiliki perjanjian pemisahan harta, sehingga ketika terjadi pailit, aset dalam perkawinan dapat terdampak. Kepailitan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari aspek individu maupun bisnis. Berdasarkan putusan pengadilan niaga, status pailit membawa konsekuensi hukum, termasuk terhadap harta bersama dalam perkawinan. Masalah muncul karena sistem hukum perkawinan di Indonesia pada dasarnya menganut konsep harta bersama, kecuali jika pasangan telah membuat perjanjian pisah harta sebelum menikah melalui perjanjian pranikah (prenuptial agreement). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi hukum putusan pailit terhadap harta suami-istri serta menelaah perlindungan hukum bagi pasangan yang tidak memiliki perjanjian pemisahan harta. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan studi kasus terhadap putusan pengadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanpa adanya perjanjian pemisahan harta, harta bersama dalam perkawinan dapat disita untuk menyelesaikan utang debitur pailit. Namun, Mahkamah Konstitusi melalui Putusan No. 69/PUU-XIII/2015 telah merevisi Pasal 29 Undang-Undang Perkawinan, yang kini memungkinkan perjanjian pisah harta dibuat setelah perkawinan berlangsung. Perubahan ini memberikan perlindungan lebih bagi pasangan suami-istri dalam menghadapi risiko finansial akibat kepailitan.
Analisis Hukum terhadap Kasus Penyalahgunaan Fungsi Perbankan: Studi Kasus dan Implikasinya bagi Perlindungan Konsumen di Indonesia Wiwin Muchtar Wiyono; Aris Priyadi; Ferryani Krisnawati
Referendum : Jurnal Hukum Perdata dan Pidana Vol. 3 No. 2 (2026): Juni : Referendum : Jurnal Hukum Perdata dan Pidana
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/referendum.v3i2.1932

Abstract

This study aims to analyze the forms of banking abuse, examine the legal accountability of perpetrators of banking abuse, and analyze its implications for consumer protection in Indonesia. The study uses a normative legal research method with a statute approach, a conceptual approach, and a case approach. The legal materials used consist of primary, secondary, and tertiary legal materials obtained through literature studies, then analyzed qualitatively using normative juridical analysis methods. The results of the study indicate that banking abuse generally occurs in the form of misuse of customer funds, misuse of personal data, violations of the prudential banking principle, abuse of authority by bank officials, and the provision of non-transparent information to consumers. Although Indonesia has various legal instruments regulating consumer protection in the banking sector, the implementation of legal protection still faces obstacles such as weak internal supervision, low legal and financial literacy among the public, and the increasing complexity of digital banking services. Therefore, it is necessary to strengthen the implementation of the prudential principle, good corporate governance, supervision by the Financial Services Authority (OJK), and improve the effectiveness of dispute resolution mechanisms to provide optimal legal protection to banking consumers.
Tinjauan Yuridis Terhadap Hak Ahli Waris Pengganti Ditinjau dari Kompilasi Hukum Islam dan Fiqih Islam: Ferryani Krisnawati*, Suryati, Prosawita Ririh Kusumasari Ferryani Krisnawati; Suryati; Prosawita Ririh Kusumasari
JISOSEPOL: Jurnal Ilmu Sosial Ekonomi dan Politik Vol. 1 No. 2 (2023): JISOSEPOL : Jurnal Ilmu Sosial Ekonomi dan Politik
Publisher : Samudra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61787/a3ba5441

Abstract

Hukum Fara’idh merupakan seperangkat ketentuan yang mengatur cara-cara peralihan hak dari seseorang yang telah meninggal dunia kepada orang yang masihhidup dengan ketentuan-ketentuan berdasarkan pada al-Qur’an dan hadits. Hukumkewarisan Islam pada dasarnya berlaku wajib untuk umat Islam di mana saja di dunia ini, kendati demikian, corak suatu Negara Islam dan kehidupan masyarakat di suatu negara atau daerah tersebut memiliki pengaruh atas hukum kewarisan tersebut. Permasalahan yang terjadi dalam penerapan sistem kewarisan Islam salah satunya ialah meninggalnya terlebih dahulu ahli waris sebelum pewaris meninggal dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kedudukan dan hak bagi keturunan ahli waris yang meninggal terlebih dahulu ditinjau dari Kompilasi Hukum Islam dan Fiqih Islam di Indonesia. Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif diambil dari data primer dan data sekunder dengan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Hasil penelitian yang didapatkan adalah kedudukan dan hak dari keturunan ahli waris yang meninggal terlebih dahulu ialah dapat menggantikan posisi orang tuanya berdasarkan Kompilasi Hukum Islam dan Fiqih Islam.
HUKUM WARIS MENURUT KUHPERDATA, ISLAM DAN ADAT DI DESA KUTASARIKECAMATAN BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS Ferryani Krisnawati; Wiwin Muchtar Wiyono; Doni Adi Supriyo; Nabila Khairunnisa Azizia
WIKUACITYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2026): WIKUACITYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63859/wikuacitya.v5i3.561

Abstract

Hukum waris merupakan salah satu bidang hukum yang memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat karena setiap individu pada akhirnya akan mengalami peristiwa kematian yang menimbulkan akibat hukum berupa peralihan hak dan kewajiban kepada ahli waris. Di Indonesia, keberadaan sistem hukum yang pluralistik menyebabkan penyelesaian kewarisan didasarkan pada tiga sistem hukum, yaitu hukum waris berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), hukum waris Islam, dan hukum waris adat. Perbedaan dasar hukum, subjek hukum, serta mekanisme pembagian warisan pada masing-masing sistem sering menimbulkan kebingungan di masyarakat, termasuk di Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, yang sebagian besar belum memahami pentingnya penentuan sistem hukum waris yang tepat. Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi secara interaktif, diskusi, serta tanya jawab untuk menggali permasalahan kewarisan yang dihadapi peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai perbedaan karakteristik, dasar hukum, dan penerapan ketiga sistem hukum waris. Selain itu, perlu ditingkatkannya literasi hukum masyarakat sehingga diharapkan mampu meminimalkan sengketa waris dan mewujudkan penyelesaian kewarisan yang adil sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Tinjauan Yuridis Terhadap Konstruksi Hukum Perjanjian Terapeutik yang Termuat dalam Informed Consent Dihubungkan dengan UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Ferryani Krisnawati
Kosmik Hukum Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/kosmikhukum.v18i2.3501

Abstract

Perjanjian antara dokter dan pasien termuat dalam suatu surat persetujuan tindakan medik, sehingga hubungan hukum antara dokter dan pasien mengandung konsekuensi apabila pasien dalam hal ini sebagai konsumen penerima jasa pelayanan medik dirugikan maka dapat melakukan tindakan hukum berupa penuntutan ganti rugi atau tuntutan hukum yang lain. Hal ini dimungkinkan apabila benar-benar terbukti bahwa dokter sebagai pemberi pelayanan medik telah melakukan kelalaian bahkan kesalahan terhadap tindakan medik yang dilakukannya. Dengan adanya konsekuensi tersebut maka dokter dalam menjalankan profesinya akan lebih berhati-hati dan waspada serta pasien dalam hal ini sebagai konsumen akan lebih mendapatkan jaminan perlindungan hukum khususnya dalam pemberian jasa pelayanan medik. Informed consent akan lebih memberikan jaminan perlindungan hukum baik bagi dokter maupun pasien, walaupun informed consent biasanya dalam bentuk yang tertulis berupa formulir yang disediakan oleh dokter atau rumah sakit. Adanya formulir tersebut diharapkan tidak lagi pasien yang dirugikan karena kelalaian atau kesalahan dokter karena pasien dalam hal ini sebagai konsumen jasa pelayanan medik yang mempunyai hak dan kewajiban yang harus dihormati. Selain itu, pasien sebagai konsumen juga memiliki perlindungan hukum seperti yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Kata kunci: Perjanjian Terapeutik, Informed Consent, Perlindungan Konsumen