Djatnika Setiabudi
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Perbandingan Efektivitas Reduksi Risiko Komprehensif dengan Edukasi Abstinensia dalam Meningkatkan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Mencegah Kehamilan Remaja Devi Andarwati Roboth; Djatnika Setiabudi; Meita Dhamayanti
Sari Pediatri Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.43 KB) | DOI: 10.14238/sp19.1.2017.14-9

Abstract

Latar belakang. Insidens kehamilan remaja terus meningkat. Reduksi risiko komprehensif terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku mencegah kehamilan remaja. Beberapa penelitian membuktikan edukasi abstinensia efektif mencegah kehamilan remaja, namun sebagian lagi tidak.Tujuan. Membandingkan dan menganalisis efektivitas reduksi risiko komprehensif dan edukasi abstinensia dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku mencegah kehamilan remaja.Metode. Randomized controlled trial dilakukan sejak Maret sampai April 2017 pada 179 remaja usia 13−18 tahun, di dua sekolah menengah Kabupaten Bandung yang diberikan intervensi reduksi risiko komprehensif dan edukasi abstinensia. Kkuesioner pre dan post test digunakan untuk mengukur efektivitas kedua intervensi. Wilcoxon signed rank test digunakan untuk melihat efektivitas intervensi pada masing-masing kelompok. Mann-Withney U digunakan untuk membandingkan efektivitas kedua intervensi.Hasil. Intevensi reduksi risiko komprehensif bermakna lebih efektif meningkatkan komponen pengetahuan nilai KAP sebesar 19,03% (p<0,001), komponen sikap 8,11% (p<0,001), komponen perilaku 33,33% (p=0,012), serta12,50% (p<0,001) nilai KAP keseluruhan. Edukasi abstinensia meningkatkan komponen pengetahuan 4,55%, sikap 0,00%, perilaku 16,67%, serta nilai KAP keseluruhan 3,077%.Kesimpulan. Intervensi reduksi risiko komprehensif lebih efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan mencegah kehamilan remaja dibandingkan intervensi edukasi abstinensia.
Faktor Risiko Kecurigaan Infeksi Saluran Kemih pada Anak Laki-Laki Usia Sekolah Dasar Triasta Triasta; Djatnika Setiabudi; Dedi Rachmadi
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.137-41

Abstract

Latar belakang. Faktor risiko infeksi saluran kemih (ISK) di antaranya usia, gizi buruk, kebersihan diri, dan pada anak laki-laki belum sirkumsisi. Parameter analisis urin adalah leukosituria, leukosit esterase, dan uji nitrit dapat digunakan untuk kecurigaan ISK.Tujuan. Mengetahui faktor risiko kecurigaan ISK pada anak laki-laki usia sekolah dasar(SD).Metode. Penelitian potong lintang, dilaksanakan bulan Mei 2016 di SDN 4 Sejahtera Bandung. Subjek memenuhi kriteria inklusi (tidak minum antibiotik selama 2 hari terakhir dan tidak ada kelainan genitalia eksternal) dilakukan pencatatan data meliputi usia, status gizi, higiene, dan status sirkumsisi, dilanjutkan pemeriksaan leukosit, leukosit esterase, serta uji nitrit urin. Analisis statistik dilakukan 2 tahap, pertama dengan uji bivariat yang kemaknaannya pada p<0,25 dilanjutkan uji multivariat. Kemaknaan uji ditetapkan pada nilai p<0,05.Hasil. Diperoleh 120 subjek dengan kecurigaan ISK 7 (5,8%) anak. Pada uji bivariat, usia, dan status sirkumsisi dihubungkan dengan kecurigaan ISK mempunyai nilai p=0,940 dan p=0,340. Status gizi dan higiene mempunyai nilai p=0,176 dan p=0,029 sehingga dilanjutkan dengan uji regresi logistik menghasilkan nilai p=0,045 dan p=0,049.Kesimpulan. Status gizi dan higiene merupakan faktor risiko kecurigaan ISK pada anak laki-laki SD.
Hubungan Antara Kadar Feritin dan Kadar 25-Hidroksikolekalsiferol {25(OH)D} Serum Pasien Thalassemia Mayor Anak Tubagus Ferdi Fadilah; Sri Endah Rahayuningsih; Djatnika Setiabudi
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.246-50

Abstract

Latar belakang. Pasien thalassemia mayor secara progresif akan mengalami keadaan kelebihan besi akibattransfusi darah berulang dan menyebabkan hidroksilasi vitamin D 25-hidroksikolekalsiferol {25(OH)D}terganggu akibat deposisi besi di parenkim hati.Tujuan. Mengetahui korelasi antara kadar feritin dan kadar 25(OH)D pada pasien thalassemia mayor anak.Metode. Desain penelitian rancangan potong lintang dilakukan pada bulan Desember 2010–Januari 2011di poli Thalassemia anak RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sejumlah 64 subjek diambil secara consecutivesampling. Data diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan penunjang, dan catatan medis.Pemeriksaan kadar feritin serum menggunakan metode enhanced chemiluminescence immunoassay (ECLIA).Pemeriksaan kadar 25(OH)D serum menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dandilakukan di Laboratory Research and Esoteric Testing Laboratorium Klinik Prodia Jakarta. Analisis statistikdigunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk distribusi data dan transformasi log terhadap distribusi datatidak normal. Untuk mengetahui hubungan antara kadar feritin dan kadar 25(OH)D serum digunakan ujikorelasi Spearman. Hubungan dinyatakan bermakna bila p<0,05.Hasil. Dari 64 subjek berusia 2–14 tahun, didapatkan kadar feritin serum rerata (SB) 3.525 (2.356,784) ng/mL,serta kadar vitamin D 25(OH)D serum rerata (SB) 37 (10,067)nmol/L Enam puluh/enam puluh empat(94%) subjek memiliki kadar feritin serum >1.000 ng/dL, 55/64 (86%) subjek memiliki kadar 25(OH)D serum <50 nmol/L dan dianggap defisiensi vitamin D. Kadar feritin berkorelasi negatif dengan kadar25(OH)D serum (􀁕=-0,368; p<0,01).Kesimpulan. Peningkatan kadar feritin serum diikuti penurunan kadar 25(OH)D serum pada pasienthalassemia mayor anak yang berusia 2–14 tahun.
Korelasi Positif antara Neutrophil Lymphocyte Count Ratio dan C-Reactive Protein pada Pasien Sepsis Anak Adri Zamany Anwary; Dzulfikar Djalil Lukmanul Hakim; Djatnika Setiabudi
Sari Pediatri Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.1.2021.1-5

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas utama pada anak di seluruh dunia. C-reactive protein (CRP) merupakan penanda infeksi yang paling banyak digunakan, tetapi parameter tersebut terkendala tingkat sensitivitas, spesifisitas, ketersediaan alat, dan biaya. Neutrophil-lymphocyte Count Ratio (NLCR) merupakan pemeriksaan yang mudah dan murah, serta banyak digunakan sebagai penanda diagnostik pada berbagai proses inflamasi.Tujuan. Menganalisis korelasi antara NLCR dan CRP pada pasien sepsis anak.Metode. Studi analitik observasional menggunakan data sekunder dari register sepsis anak di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2019–Desember 2019. Pengambilan data berupa karakteristik pasien, nilai NLCR, dan CRP, didapatkan data tidak berdistribusi normal( uji Kolmogorov-Smirnov) maka analisis korelasi dilakukan menggunakan uji Rank Spearman dengan nilai kemaknaan p<0,05.Hasil. Sebanyak 80 subjek memenuhi kriteria inklusi. Median nilai NLCR subjek 2,98 (rentang 0,12-19,38) dan nilai median CRP subjek 2,44 (rentang 0,01-34,04) Nilai NLCR memiliki korelasi bermakna dengan CRP (r=0,310; p=0,005). Kesimpulan. Terdapat korelasi positif yang bermakna antara neutrophil-lymphocyte count ratio dengan CRP pada pasien sepsis anak.
Hubungan Status Imunisasi dengan Kejadian Difteri Berat pada Pasien Anak yang Dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2015 – Juli 2019 Elsa Aliyya Harsanti; Djatnika Setiabudi; Merry Wijaya
Sari Pediatri Vol 21, No 5 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.5.2020.317-21

Abstract

Latar belakang. Jawa Barat menjadi provinsi kedua dengan insiden difteri terbanyak di Indonesia pada tahun 2016 dan 2018. Infeksi difteri berat ditandai oleh bull neck dan komplikasi seperti miokarditis, neuritis, dan obstruksi saluran napas atas (OSNA). Status imunisasi merupakan faktor yang memengaruhi infeksi difteri. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status imunisasi dengan kejadian difteri berat.Metode. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang. Populasi penelitian adalah data rekam medis pasien difteri anak rawat inap RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2015 – Juli 2019 dengan metode total sampling. Kriteria inklusi adalah rekam medis yang terdapat data mengenai jenis kelamin, usia, status imunisasi, manifestasi klinis, durasi, serta keluaran. Hubungan status imunisasi dengan kejadian difteri berat dianalisis menggunakan uji eksak Fisher.Hasil. 42 pasien terdiri dari 29 (69 %) laki-laki dan 13 (31 %) perempuan, usia terbanyak 5-9 tahun. Terdapat 20 (47,6%) pasien dengan bull neck, 13 (31,0%) pasien OSNA, 1 (2,4%) pasien neuritis. Satu orang meninggal, yaitu pasien difteri berat dengan OSNA dan sepsis. Hasil analisis uji eksak Fisher diperoleh hubungan antara status imunisasi dengan kejadian difteri berat dengan nilai p=0,036. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara status imunisasi dengan kejadian difteri berat.
Hubungan Jenis Kelamin, Usia Gestasi, dan Berat Badan Lahir dengan Sindrom Rubela Kongenital Lily Cahyani Tandililing; Djatnika Setiabudi; Nelly Amalia Risan
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.598 KB) | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.302-6

Abstract

Latar belakang. Sindrom rubela kongenital (SRK) masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Berdasarkan penelitian terdahulu. faktor usia gestasi, berat badan lahir, dan jenis kelamin berhubungan dengan kasus confirmed sindrom rubela kongenital.Tujuan. Menentukan hubungan jenis kelamin, usia gestasi, dan berat badan lahir dengan kasus probable SRK.Metode. Penelitian observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Data retrospektif diperoleh dari rekam medis pasien rawat inap dan rawat jalan usia <1 tahun periode 1 Januari 2008-31 Desember 2014, dengan kode diagnosis (ICD-10) meliputi congenital rubella syndrome, congenital heart disease, congenital cataract, sensorineural hearing loss, cerebral palsy, dan neonatal jaundice. Klasifikasi kasus SRK berdasarkan CDC 2009, yaitu suspected, probable, confirmed, dan infection only. Pemilihan subjek secara purposive sampling. Analisis statistik dilakukan dengan analisis bivariat dan regresi logistik untuk faktor dengan p<0,25 dengan Rasio Odds (RO) dan Interval Kepercayaan (IK) 95%.Hasil. Didapat 133 subjek klasifikasi SRK suspected (96), terdiri atas probable (29) dan confirmed (8). Mayoritas subjek laki-laki (58,6%), usia ibu 25-29 (48,9%) tahun, multipara (54,1%), dan tanpa riwayat vaksinasi rubela (100%). Hubungan bermakna didapatkan dalam analisis regresi logistik pada faktor jenis kelamin (p=0,002; OR 6,656; IK95% 2,046–21,657) dan berat badan lahir (p<0,001; OR 10,365; IK95% 2,839–37,834).Kesimpulan. Jenis kelamin dan berat badan lahir berhubungan dengan kasus probable SRK. Diperlukan penelitian prospektif untuk menentukan hubungan usia gestasi dengan kasus probable SRK.
High ESAT-6 Expression in Granuloma Necrosis Type of Tuberculous Lymphadenitis Wida Purbaningsih; Djatnika Setiabudi; Herri S. Sastramihardja; Ida Parwati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.992 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i2.3987

Abstract

A granuloma is one of host cellular immune response form to intracellular and persistent pathogens, and result in the aggregation of several activated immune cells. Intracellular pathogens manipulate host immune responses to avoid immune reactions. M. tuberculosis is the intracellular and persister pathogen, which can stimulate granuloma formation. The formation this granulomas still have different opinions, whether it is the host's way to isolate M. tuberculosis, or how these pathogens are to escape immune responses. Early secretory antigenic target (ESAT)-6 is a typical secretory protein produced by the locus of the gene region of difference (RD)-1 M. tuberculosis. ESAT-6 plays a role in the immunopathogenesis of tuberculosis. This study aims to compare ESAT-6 antigen expression from M. tuberculosis between granulomas with necrosis and granulomas without necrosis. This study was an analytic observation study with a cross-sectional design. Forty-six lymph node paraffin blocks from tuberculous lymphadenitis patients in Department of Anatomical Pathology, Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung in 2017 were made in preparations and stained by hematoxylin eosin to assess the presence of necrosis in granulomas, immunohistochemical using ESAT-6 antibodies, then it was quantified using histoscore. Histoscore for ESAT-6 not normally distributed, so it uses Mann-Whitney test used. The results showed that there were 31 granulomas with necrosis (histoscore mean=27.6%) and 15 granulomas without necrosis (histoscore mean=15.1%), there was a significant difference with p<0.05 (p=0.03). The conclusion of this study there is a high histoscore ESAT-6 expression in granuloma type of necrosis tuberculous lymphadenitis. EKPRESI ESAT-6 TINGGI PADA GRANULOMA LIMFADENITIS TUBERKULOSIS TIPE NEKROSISGranuloma merupakan salah satu bentuk respons imun seluler pejamu terhadap patogen intraseluler. Patogen intraseluler memanipulasi respons imun pejamu untuk menghindari reaksi imun. M. tuberculosis adalah patogen intraseluler dan persister yang dapat menstimulasi pembentukan granuloma. Terbentuknya granuloma masih memberikan pendapat yang berbeda, apakah merupakan cara tubuh untuk mengisolasi M. tuberculosis atau cara patogen ini untuk menghindari respons imun. Early secretory antigenic target (ESAT)-6 adalah protein sekretori khas yang dihasilkan oleh lokus gen region of difference (RD)-1 M. tuberculosis. ESAT-6 berperan dalam imunopatogenesis tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan ekspresi antigen ESAT-6 M. tuberculosis antara granuloma dengan nekrosis dan granuloma tanpa nekrosis. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan desain cross sectional. Blok parafin kelenjar getah bening didapat dari pasien yang didiagnosis limfadenitis tuberkulosis di Departemen Patologi Anatomi, RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2017. Blok parafin tersebut dibuat blangko preparat dan diwarnai dengan hematoksilin eosin untuk menilai nekrosis pada granuloma serta imunohistokimia menggunakan antibodi ESAT-6. Kemudian, sediaan preparat imunohistokimia tersebut dikuantifikasi menggunakan metode histoscore sehingga didapatkan data berupa nilai skor dari pewarnaan ESAT-6. Selanjutnya, dilakukan uji beda antara histoscore granuloma dengan nekrosis dan granuloma tanpa nekrosis tersebut dianalisis karena nilai skor ESAT-6 berdistribusi tidak normal sehingga menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 31 granuloma dengan nekrosis (histoscore rerata=27,6%) dan 15 granuloma tanpa nekrosis (histoscore rerata=15,1%), serta terdapat perbedaan signifikan dengan p<0,05 (p=0,03). Simpulan, ekspresi ESAT-6 tinggi pada granuloma limfadenitis tuberkulosis dengan nekrosis.
Clinical risk factors for dengue shock syndrome in children Jujun Junia; Herry Garna; Djatnika Setiabudi
Paediatrica Indonesiana Vol 47 No 1 (2007): January 2007
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.26 KB) | DOI: 10.14238/pi47.1.2007.7-11

Abstract

Background Dengue shock syndrome (DSS) is a seriouscomplication of dengue hemorrhagic fever (DHF) which maycause death in more than 50% cases if not treated properly andpromptly. Clinical, viral, and epidemiological risk factorsdetermine the occurrence of DSS. Identifying risk factors for thedevelopment of shock in patients with DHF can increase theawareness of clinicians to perform a close monitoring.Objective To determine the clinical risk factors for DSS.Methods This case control study was conducted on DHF andDSS patients admitted to the Department of Child Health,Medical School, University of Padjadjaran, Dr. Hasan SadikinHospital Bandung from January 2004 to December 2005. Thesubjects were patients aged less than 14 years who fulfilled WHOcriteria (1997). The exclusion criteria were history of asthma,diabetes mellitus, sickle cell anemia, typhoid, sepsis, and measles.The risk factors for DSS were analyzed using chi-square test,calculation of odds ratio, and logistic regression analysis.Results Of 1,404 patients with suspected DHF, 600 met the studycriteria; 200 patients of DSS and 400 patients of DHF as controlgroup were identified. Univariate analysis showed that there wasassociation between DSS and age 5-9 years (OR=1.67, 95%CI1.08;2.58), overweight (OR=1.88, 95%CI 1.22;2.90), vomiting(OR=1.44, 95%CI 1.02;2.04), abdominal pain (OR=2.07,95%CI 1.46;2.92), and severe bleeding (OR=13.6, 95%CI5.96;31.03). By logistic regression analysis, it was found that age5-9 years (OR=1.62, 95%CI=1.03–2.53), overweight (OR=1.97,95%CI=1.29–3.08), and persistent abdominal pain (OR=2.08,95%CI =1.44–2.99) were independent risk factors for DSS.Conclusion Age 5-9 years, overweight, and persistent abdominalpain are the risk factors for DSS.
Comparison of bone age in small-for-gestationalage children vs appropriate-for-getational-age children Lionardus Edward; Sjarif Hidajat Effendi; Djatnika Setiabudi
Paediatrica Indonesiana Vol 50 No 2 (2010): March 2010
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.18 KB) | DOI: 10.14238/pi50.2.2010.73-9

Abstract

BackgroundAbout 10-15% small-for-gestational-age children are in higher risk for having linear growth retardation due to growth hormone-insulin like growth factor 1 axis defect (GH-IGF 1) which causes bone age delay.ObjectivesTo compare bone age in 24-36 month old children born small-for-gestational-age (SGA) to that in children born appropriate-for-gestational-age (AGA).MethodsA cross-sectional study was conducted in Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from January to April 2009.Subjects consisted of50 healthy children of 24-36 months old (25 children born at term, SGA, 25 children born at term, AGA). We compared the appropriateness and delay of bone age between the two groups. ResultsMean bone age in the SGA group was 20.8 (SD 7.7) months, and in the AGA group was 25.7 (SD 7.1) months (P=0.022). Mean bone age deficit was -10.5 (6.5) months in the SGA group and -5.5 (SD 5.7) months in the AGA group (P=0.009). The prevalence ratio was 1.77 (95% CI: 1.19–2.62). Bone age delay was found to be higher in children born SGA than that in children of the other group (23 vs 13). On the contrary, appropriate bone age was found more in children born AGA (12 vs 2) (P=0.002).Conclusion Bone age delay in 24-36 months old children born small-for-gestational-age was found to be higher than in those born appropriate-for-gestational-age.
Case report of a COVID-19 family cluster originating from a boarding school Citra Cesilia; Silvia Sudarmaji; Djatnika Setiabudi; Heda Melinda Nataprawira
Paediatrica Indonesiana Vol 61 No 1 (2021): January 2021
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi61.1.2021.53-60

Abstract

Since it was first identified in Wuhan City, Hubei Province, China in December 2019, SARS-CoV-2 has spread to 195 countries and infected more than 8 million people globally. Indonesia, an archipelago consisting of thousands of islands and 34 provinces, has the largest number of confirmed cases and mortality in Southeast Asia. A total of 464 districts/cities in Indonesia have been affected by COVID-19, of which 189 districts/cities are considered to be local transmission areas. Riau Province, located in Sumatra Island, consists of 12 districts/cities with a population of more than 6.8 million. This province has the 1st largest number of COVID-19 cases on Sumatra Island. Currently, more than 3000 childrens have been infected with case fatality rate <0.3% and recovery rate >90%. In May 2020, the public health office of Riau reported that just 34 children were confirmed to have COVID-19, with symptoms varying from asymptomatic to moderate with only a few family clusters identified. During the pandemic, contact tracing is the main approach to detect and isolate sources of infection in order to reduce viral transmission. This method has also been used to control transmission of other respiratory diseases such as tuberculosis (TB), MERS, and SARS. We report here on a familial cluster of COVID-19 in the Meranti Island Regency, which is located 145 km from the city of Pekanbaru (Riau Province). The island can only be reached in four hours by speed boat.