Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

SOSIALISASI GIZI DALAM PENCEGAHAN GAGAL GINJAL AKUT PADA REMAJA BAGI SISWA PMR DI SMA NEGERI 1 PAPAR KABUPATEN KEDIRI: NUTRITION SOCIALIZATION IN PREVENTION OF ACUTE KIDNEY FAILURE IN ADOLESCENTS FOR PMR STUDENTS AT STATE SENIOR HIGH SCHOOL 1 PAPAR, KEDIRI DISTRICT Nurin Fauziyah; Ratna Feti Wulandari; Dwi Rahayu
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.504

Abstract

Abstrak Kesehatan merupakan salah satu aspek penting yang menjadi sendi kokohnya suatu bangsa serta menjadi modal dasar untuk penguatan kualitas sumber daya manusia. Penguatan derajat kesehatan menjadi salah satu pilar utama untuk keberlanjutan pembangunan suatu masyarakat, termasuk masyarakat di Kabupaten Kediri. Penyakit gagal ginjal merupakan penyebab kematian ke-10 di Indonesia yaitu 42.000 per tahun. Data medis terbaru menunjukkan lonjakan kasus gangguan fungsi ginjal yang signifikan pada kelompok usia remaja. Remaja memiliki perilaku jajanan yang berisiko, yaitu jajanan yang tinggi gula, garam dan lemak yang mempengaruhi status gizi dan menjadi faktor resiko penyakit tidak menular di masa depan. Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan mulai pada tanggal 22 – 29 Mei 2026, yang diawali dengan tahapan persiapan (survey lapangan sampai perizinan), dan diakhiri dengan kegiatan evaluasi (monitoring dan evaluasi kinerja). Adapun pelaksanaan kegiatan bersama siswa ini dilaksanakan satu hari ditanggal 28 mei 2026.   Kegiatan ini memiliki tujuan untuk membekali anggota PMR di SMA Negeri I Papar Kabupaten Kediri, dengan pengetahuan komprehensif mengenai hubungan antara pola makan (gizi) dengan kesehatan ginjal. Pendekatan yang digunakan adalah partisipasif dengan sasaran sejumlah 27 siswa. Dari 27 siswa yang hadir, semuanya memperhatikan dan aktif dalam kegiatan. Metode yang digunakan dengan cara memberikan materi terkait bahaya penyakit gagal ginjal serta pencegahannya. Hasil akhir yang didapatkan adalah peningkatan pengetahuan remaja tentang perubahan perilaku jajanan yang berisiko, yaitu jajanan yang tinggi gula, garam dan lemak sebagai pemicu penyakit gagal ginjal. Melalui kegiatan ini, siswa PMR diharapkan mampu mengidentifikasi, menerapkan dan menyebarluaskan kepada teman-teman sebaya. Dengan kegiatan ini, didapatkan pengetahuan siswa yang meningkat dalam penerapan pola makan yang sehat dan bergizi seimbang untuk mencegah penyakit ginjal kronis dikemudian hari, sehingga remaja Indonesia menjadi remaja yang berkualitas. Kata kunci: Sosialisasi, Gizi, Gagal ginjal, Remaja.   Abstract Health is a crucial aspect that underpins the strength of a nation and serves as the foundation for strengthening the quality of human resources. Improving health is a key pillar for the sustainable development of any community, including those in Kediri Regency. Kidney failure is the tenth leading cause of death in Indonesia, with 42,000 deaths per year. Recent medical data shows a significant surge in cases of impaired kidney function among adolescents. Adolescents engage in risky snacking behaviors, particularly those high in sugar, salt, and fat, which impact nutritional status and pose a risk factor for non-communicable diseases in the future. This series of activities took place from May 22 to May 29, 2026, beginning with a preparatory phase (ranging from field surveys to obtaining permits) and concluding with an evaluation phase (performance monitoring and assessment). The specific session involving students was held on May 28, 2026. The activity aimed to equip members of the Red Cross Youth (PMR) at SMA Negeri 1 Papar, Kediri Regency, with comprehensive knowledge regarding the link between dietary habits (nutrition) and kidney health. A participatory approach was employed, targeting a group of 27 students; all attendees paid close attention and actively participated in the proceedings. The method involved presenting information on the dangers of kidney failure and strategies for its prevention. The outcome was an increase in the adolescents' knowledge regarding the need to change risky snacking habits—specifically, the consumption of snacks high in sugar, salt, and fat, which are known triggers for kidney failure. Through this initiative, PMR students are expected to be able to identify healthy practices, adopt them, and share this knowledge with their peers. Ultimately, the activity fostered greater student understanding of how to maintain a healthy, balanced diet to prevent chronic kidney disease later in life, thereby helping to cultivate high-quality Indonesian youth.  Keywords: Socialization, Nutrition, Kidney failure, Adolescents.
Peningkatan Kualitas Kader Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) Dalam Rangka Menumbuhkan Motivasi dan Kesertaan dalam Keluarga Berencana MKJP Menuju Bonus Demografi di Kecamatan Badas Kabupaten Kediri Ratna Feti Wulandari; Luluk Susiloningtyas; Nurin Fauziyah
Journal of Community Engagement in Health Vol. 3 No. 1 (2020): Maret
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jceh.v3i1.42

Abstract

Masih rendahnya penggunaan MKJP (metode kontrasepsi jangka panjang), yang mana dari keseluruhan data didapatkan 17,8% dari jumlah peserta KB modern yang menggunakan KB MKJP, dan dari pengguna KB non MKJP didapatkan sebesar 82,19%. Salah satu faktor yang berperan penting dalam keberhasilan ber KB MKJP adalah salah satunya dari peran serta kader Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), dimana peran dari PPKBD ini sebagai penyedia fasilitas khusunya tentang fasilitas KB di masyarakat dengan melakukan sosialisai tentang alat kontrasepsi kepada masyarakat. PPKBD terdiri dari seseorang atau beberapa orang kader yang bekerja secara sukarela serta berperan aktif dalam melaksanakan juga mengelola program KB Nasional ditingkat dusun. Tujuan pengabdian masyarakat ini meningkatkan pengetahuan tentang Metode kontrasepsi jangka panjang dan dapat memotivasi masyarakat untuk ikut serta dalam penggunaan metode kontrasepsi jangka panjangdi wilayah kecamatan Badas Kabupaten Kediri. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan ini terdiri dari 1) Pre test 2) Penyampaian materi dan kelompok diskusi serta kuis 3) Post test. Hasil dari Pengabdian ini setelah diberikan edukasi kader PPKBD berpengetahuan Baik sebanyak (90%) serta motivasi kategori baik (83,33%). Peningkatan pengetahuan dan motivasi pada kader PPKBD ini dikarenakan beberapa faktor yaitu adanya dukungan dari tenaga kesehatan dengan memberikan edukasi, dukungan dari tokoh masyarakat dan juga tokoh agama. Diharapkan kerjasama tetap berjalan antara tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat dan tokoh agama demi terlaksananya program kampung Keluarga Berencana serta tercapainya target kesertaan KB MKJP
Pendidikan Kesehatan Penguatan P4K Pada Kader Posyandu Ibu Hamil Nurin Fauziyah; Ratna Feti Wulandari; Luluk Susiloningtyas
Journal of Community Engagement in Health Vol. 3 No. 2 (2020): September
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jceh.v3i2.73

Abstract

Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) merupakan salah satu upaya percepatan penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir melalui peningkatan akses dan mutu pelayanan antenatal, pertolongan persalinan, pencegahan komplikasi dan keluarga berencana oleh bidan. Pelayanan bidan sangat berperan dalam keberhasilan suatu program pemerintah dalam rangka meningkatkan pembangunan kesehatan. Kerjasama bidan dengan pihak-pihak terkait pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Pihak-pihak yang dimaksud disini salah satunya yaitu kader posyandu. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan kader posyandu tentang pentingnya P4K. Metode yang diberikan menggunakan media LCD, buku KIA dan Leaft let. Hasil akhir dari pengabdian ini didapatkan pada kader posyandu memiliki pengetahuan baik tentang P4K (100%). Peningkatan pengetahuan ini bertujuan agar kader posyandu mendapatkan informasi tentang pentingnya Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), sehingga masyarakat mendapatkan penanganan/ pendampingan yang baik dalam kehamilannya. Diharapkan program ini terus berlanjut sehingga turut serta mensukseskan program pemerintah dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)
Pendidikan Kesehatan Untuk Meningkatkan Stimulasi Psikososial Pada Keluarga Anak Dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) Luluk Susiloningtyas; Nurin Fauziyah; Ratih Kusuma Wardhani
Journal of Community Engagement in Health Vol. 4 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jceh.v4i1.128

Abstract

Pengetahuan keluarga tentang Stimulasi psikososial sangat penting dalam memberikan konstribusi dalam upaya peningkatan perkembangan psikososial anak dengan gangguan Autism Sprectrum Disorder (ASD). Peningkatan pengetahuan keluarga sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan perkembangan psikososial anak dengan ASD. Keluarga sangat berperan memberikan pengasuhan yang tepat sehingga perkembangan psikososial anak menjadi lebih optimal. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang kebutuhan anak merupakan salah satu penyebab keterlambatan perkembangan sosial anak. Stimulasi psikososial berfungsi sebagai penguat yang bermanfaat bagi perkembangan psikososial anak dan memberikan dampak positif pada perkembangan psikososial anak Autism Spectrum Disorder (ASD). Tujuan dari pengabdian masyarakat ini untuk memberikan edukasi dan meningkatkan pengetahuan keluarga tentang stimulasi psikososial anak dengan Autism Spectrum Dosorder (ASD). Kegiatan ini berupa edukasi yang dilakukan pada keluarga anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Metode yang diberikan menggunakan media LCD, dan leaflet. Hasil pengabdian masyarakat ini didapatkan pada akhir pengabdian seluruh keluarga memiliki pengetahuan baik tentang stimulasi psikososial anak sebanyak 20 orang (100 %). Peningkatan Pengetahuan ini karena keluarga didampingi secara intensif selama pelaksanaan kegiatan edukasi, keluarga saat diberikan edukasi lebih fokus dan dapat menerapkan stimulasi psikososial anak. Diharapkan stimulasi psikososial anak ASD ini terus berlanjut sehingga dapat memaksimalkan perkembangan sosial anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dan dapat membantu upaya program peningkatkan derajat kesehatan anak
Pendidikan Kesehatan Untuk Meningkatkan Asi Eksklusif Ratih Kusuma Wardhani; VIde Bahtera Dinastiti; Nurin Fauziyah
Journal of Community Engagement in Health Vol. 4 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jceh.v4i1.129

Abstract

Desa Ringinpitu, Kecamatan Pelemahan, Kabupaten Kediri terdapat 1 bidan desa dan 10 kader kesehatan yang aktif dalam kegiatan posyandu dan 10 ibu yang memiliki bayi. Jumlah persalinan di Desa Ringinpitu pada Bulan Januari – Desember 2019 mencapai 38 persalinan dan cakupan ASI Eksklusif hanya mencapai 23 orang (60,5%). Permasalahan mitra cakupan pemberian ASI Eksklusif masih mencapai 60,5% hal ini berkaitan dengan masalah, antara lain : (1) banyak ibu yang bekerja, (3) ibu kurang percaya diri sehingga mengatakan ASInya keluar sedikit/tidak keluar, (4) kurangnya pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif, (5) ibu terpengaruh produk susu formula, (5) ibu dan keluarga masih percaya tentang pemberian ASI saja pada bayi masih kurang (dukungan keluarga kurang). Solusi Pendidikan kesehatan pada kader kesehatan dan ibu dengan memberikan edukasi tentang ASI Eksklusif, pijat oksitosin, tehnik menyusui yang benar, dan nutrisi masa menyusui. Proses pemberian edukasi ini melibatkan kader dan ibu sebagai sosial support. Luaran kegiatan pengabdian masyarakat ini antara lain : Publikasi jurnal pengabdian masyarakat di jurnal nasional, Peningkatan pemahaman dan ketrampilan masyarakat. Untuk mewujudkan upaya tersebut maka perlu ditingkatkan pengetahuan dan ketrampilan para kader kesehatan dan ibu terutama ASI Eksklusif