Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Literatur Review: Pengembangan Instrumen Uji Kompetensi Pada Mahasiswa Bidang Kesehatan Nuryati, Nuryati; Pramono, Angga Eko
Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Vol 8, No 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrmik.v8i1.12350

Abstract

Uji kompetensi wajib diikuti oleh mahasiswa bidang kesehatan pada akhir masa studi dengan metode exit exam. Maknanya wisuda mahasiswa setelah lulus uji kompetensi.  Sampai saat ini metode uji kompetensi secara nasional untuk mahasiswa D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) maupun Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) secara nasional dalam bentuk multiple-choice question dengan computer-based test (CBT). Sedangkan uji kompetensi metode Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dilaksanakan pada tingkat lokal beberapa perguruan tinggi.  Mengacu pada kelulusan uji kompetensi tahun 2023, prosentase kelulusan mahasiswa sarjana terapan belum mencapai 80%. Berdasarkan hasil penelitian tahun 2023 terkait evaluasi pelaksanaan uji kompetensi dari 116 dosen RMIK-MIK, perlu dilakukan pelatihan pembuatan soal uji kompetensi (94%). Selain menjadi kewajiban dalam akhir masa studi, uji kompetensi CBT maupun OSCE juga merupakan prasayarat dalam pencapaian status akreditasi Unggul Prodi RMIK dan MIK, sehingga perlu dilakukan pengembangan instrumen uji kompetensi yang secara obyektif menilai kemampuan, keterampilan dan sikap mahasiswa RMIK-MIK sesuai dengan kebutuhan profesi PMIK.Metode penelitian yang digunakan adalah literatur review dengan menggunakan pencarian melalui google scholar, pubmed, sciencedirect, Cochrane library dan portal garuda. Penelitian diawali dengan mencari artikel dengan menggunakan keyword pengembangan, instrumen, uji kompetensi, mahasiswa kesehatan. Kriteria inklusi yang diterapkan adalah artikel terbit 2017-2024, fulltext, dan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.Dari 22 literatur yang terpilih, terdapat lima langkah dalam pengembangan instrumen uji kompetensi mahasiswa bidang kesehatan: pengembangan awal instrumen dengan melakukan identifikasi pemangku kepentingan, identifikasi domain kompetensi dan kerangka kerja yang dilakukan melalui tinjauan literatur, wawancara, FGD, teknik delphi, brainstorming dengan melibatkan pakar atau ahli. Langkah kedua adalah pengembangan instrumen dan uji validitas melalui konsultasi dengan pakar atau ahli. Langkah ketiga adalah pengujian instrumen dan reliabilitas melalui uji coba dan uji statistik, selanjutnya dilakukan modifikasi dan penyempurnaan berdasarkan umpan balik uji coba. Langkah terakhir adalah implementasi instrumen untuk mengukur kompetensi mahasiswa bidang kesehatan. Pengembangan sistematis ini memastikan instrumen uji kompetensi yang dihasilkan relevan dan efektif, serta membekali lulusan dengan keterampilan yang diperlukan untuk peran profesional mereka.
Literatur Review: Pengembangan Instrumen Uji Kompetensi Pada Mahasiswa Bidang Kesehatan Nuryati, Nuryati; Pramono, Angga Eko
Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrmik.v8i1.12350

Abstract

Uji kompetensi wajib diikuti oleh mahasiswa bidang kesehatan pada akhir masa studi dengan metode exit exam. Maknanya wisuda mahasiswa setelah lulus uji kompetensi.  Sampai saat ini metode uji kompetensi secara nasional untuk mahasiswa D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) maupun Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) secara nasional dalam bentuk multiple-choice question dengan computer-based test (CBT). Sedangkan uji kompetensi metode Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dilaksanakan pada tingkat lokal beberapa perguruan tinggi.  Mengacu pada kelulusan uji kompetensi tahun 2023, prosentase kelulusan mahasiswa sarjana terapan belum mencapai 80%. Berdasarkan hasil penelitian tahun 2023 terkait evaluasi pelaksanaan uji kompetensi dari 116 dosen RMIK-MIK, perlu dilakukan pelatihan pembuatan soal uji kompetensi (94%). Selain menjadi kewajiban dalam akhir masa studi, uji kompetensi CBT maupun OSCE juga merupakan prasayarat dalam pencapaian status akreditasi Unggul Prodi RMIK dan MIK, sehingga perlu dilakukan pengembangan instrumen uji kompetensi yang secara obyektif menilai kemampuan, keterampilan dan sikap mahasiswa RMIK-MIK sesuai dengan kebutuhan profesi PMIK.Metode penelitian yang digunakan adalah literatur review dengan menggunakan pencarian melalui google scholar, pubmed, sciencedirect, Cochrane library dan portal garuda. Penelitian diawali dengan mencari artikel dengan menggunakan keyword pengembangan, instrumen, uji kompetensi, mahasiswa kesehatan. Kriteria inklusi yang diterapkan adalah artikel terbit 2017-2024, fulltext, dan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.Dari 22 literatur yang terpilih, terdapat lima langkah dalam pengembangan instrumen uji kompetensi mahasiswa bidang kesehatan: pengembangan awal instrumen dengan melakukan identifikasi pemangku kepentingan, identifikasi domain kompetensi dan kerangka kerja yang dilakukan melalui tinjauan literatur, wawancara, FGD, teknik delphi, brainstorming dengan melibatkan pakar atau ahli. Langkah kedua adalah pengembangan instrumen dan uji validitas melalui konsultasi dengan pakar atau ahli. Langkah ketiga adalah pengujian instrumen dan reliabilitas melalui uji coba dan uji statistik, selanjutnya dilakukan modifikasi dan penyempurnaan berdasarkan umpan balik uji coba. Langkah terakhir adalah implementasi instrumen untuk mengukur kompetensi mahasiswa bidang kesehatan. Pengembangan sistematis ini memastikan instrumen uji kompetensi yang dihasilkan relevan dan efektif, serta membekali lulusan dengan keterampilan yang diperlukan untuk peran profesional mereka.
Assessment of Data Quality in Hospital Reporting on Sumatra Island in 2023 through the RS Online Application Elfrida, Maura; Kusumaningrum, Panggih Dewi; Pramono, Angga Eko
Procedia of Engineering and Life Science Vol. 6 (2024): The 3rd International Scientific Meeting on Health Information Management (3rd ISMoHI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/pels.v6i1.1928

Abstract

One of the uses of technology in the healthcare sector is the implementation of health information systems (HIS). An example of HIS implementation in Indonesia is RS Online. RS Online is part of the hospital information system used for routine hospital reporting by adjusting data and information needs at the Ministry of Health. Data from health facilities, such as hospital data in RS Online, are the main data source for evaluating the performance of the health sector. Data urgency arises due to the importance of data quality and its resulting impacts. The aim of this research is to determine the level of hospital reporting data quality on Sumatra Island in 2023 on the RS Online application. This research was quantitative with a cross-sectional design. The sample consisted of 753 hospitals on Sumatra Island, which was determined by total sampling. The results of routine data quality assessment reached 100% in the uniqueness dimension, 94.59% in the completeness dimension, 98.71% in the accuracy dimension, and 99.52% in the validity dimension. The results show that the routine hospital reporting data quality on the RS Online application in 2023 on Sumatra Island is categorized as good.
Spatial analysis of tuberculosis based on geographic information systems in Sleman district, Special Region Yogyakarta Irmaningsih, Makhrum; Pramono, Angga Eko
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 14, No 4: December 2025
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v14i4.26826

Abstract

The number of tuberculosis cases continues to rise annually, with Sleman Regency recording 2,372 cases in 2024, making it one of the highest in the Special Region of Yogyakarta Province. This study aims to analyze spatial autocorrelation and spatial relationships of tuberculosis cases in Sleman Regency in 2024 using geographic information systems (GIS) and spatial analysis. A quantitative cross-sectional design was applied to 1,406 tuberculosis cases across 86 villages. Bivariate local indicators of spatial association (LISA) analysis were performed using GeoDa software, while geographically weighted regression (GWR) in R Studio examined local environmental influences. Bivariate LISA results showed no significant spatial autocorrelation for population density, air temperature, air humidity, precipitation, and altitude (p-values: 0.173, 0.265, 0.138, 0.312, and 0.401, respectively). GWR revealed negative correlations between these variables and tuberculosis cases. Findings highlight spatial patterns and inform targeted interventions, recommending enhanced tuberculosis awareness and treatment access in low-density, high-incidence areas, along with public education on ventilation and preventive measures during colder seasons, and strengthened prevention in high-risk lowland villages.
Early Warning System, Solusi Digital Mitigasi Risiko Dalam Transformasi Integrasi Layanan Kesehatan Primer Ningsih, Kori Puspita; Choerun Asnawi; Heri Hernawan; Pramono, Angga Eko; Nur Rokhman
Jurnal LINK Vol 21 No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v21i2.13907

Abstract

Integration of Primary Health Services is a priority program in primary health care facilities to support health transformation in Indonesia. The priority issues at community health centers (Puskesmas) within the Bantul Health Office area include a lack of understanding among health workers regarding health service risk management, and the use of manual forms for risk management reporting, which does not utilize information technology. Risk management plays a crucial role in preventing program failure, particularly in the implementation of Integration of Primary Health Services at Bantul Community Health Centers, which began in 2024. The Community Service (PKM) activities comprised risk management training and the dissemination of research results for a prototype risk mitigation calculator application based on an Early Warning System (EWS) dashboard, conducted through lectures, practical exercises, and discussions. Overall, the PKM implementation proceeded smoothly and in an orderly manner. The pre-test and post-test results of 27 participants showed an increase in the level of community empowerment in the knowledge aspect with an average score of 21, where the average initial score of 69.9 during the pre-test increased to 90.9 during the post-test. Participants were also able to simulate the use of the application, including installation, data input, output interpretation, and form printing, according to their respective access levels. Through this increased empowerment of partners, it is expected that Bantul community health centers will be able to properly document their risk management processes, which will enable the optimal implementation of the Integration of Primary Health Care program.