Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Cytological Characteristics of Pleural Effusion with Variations in 96% Alcohol Fixation Time Using Papanicolaou Staining Priska Alicia Vansugisti; Ary Nurmalasari; Euis Tia Istianah; Rahayu Nirmatul Mutmainah
Laboratory Journal of Infectious Diseases Vol. 2 No. 1 (2026): Laboratory Journal of Infectious Diseases
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pleural effusion is a clinical condition that may indicate serious underlying diseases, including infection, malignancy, and systemic disorders. Cytological examination of pleural fluid plays an important role in determining the possible etiology of pleural effusion and requires proper fixation to preserve cellular morphology and staining quality. This study aimed to evaluate the cytological characteristics and preparation quality of pleural fluid specimens fixed in 96% alcohol for 15 minutes and 30 minutes using the Papanicolaou staining method. This quasi-experimental study included 16 pleural fluid samples obtained from routine laboratory examinations. Each sample was processed into four cytological smears, consisting of two duplicate smears fixed in 96% alcohol for 15 minutes and two duplicate smears fixed in 96% alcohol for 30 minutes. A total of 64 smears were evaluated, with 32 smears in each fixation group. All smears were stained using the Papanicolaou method and assessed microscopically based on background appearance, cellular morphology, nuclear characteristics, and overall staining quality. Of the 32 smears fixed for 15 minutes, 20 smears (62,5%) were classified as poor quality and 12 smears (37,5%) as good quality. In contrast, among the 32 smears fixed for 30 minutes, 3 smears (9,4%) were classified as poor quality and 29 smears (90,6%) as good quality. These findings indicate that fixation using 96% alcohol for 30 minutes produces better cytological preparation quality than fixation for 15 minutes. Therefore, a 30-minute fixation period is recommended to support optimal cytological evaluation and diagnostic accuracy.
Hubungan Faktor Risiko dan Efektivitas Kombinasi Minyak Aloe vera dan Ocimum sanctum sebagai Pedikulosida Alami terhadap Pediculus humanus capitis pada Anak Santri di Kabupaten Ciamis Rahayu Nirmatul Mutmainah; Anggi Septiana Hanggara; Najwa Novanna Lestari; Ary Nurmalasari; Undang Ruhimat
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 9 No 1 (2026): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v9i1.33532

Abstract

Pediculosis capitis merupakan penyakit akibat infestasi Pediculus humanus capitis yang masih menjadi masalah kesehatan pada anak, terutama santri di pondok pesantren. Tingginya kepadatan hunian, interaksi antarsantri, perilaku personal hygiene yang kurang baik, serta penggunaan barang pribadi secara bersama meningkatkan risiko penularan. Selain menyebabkan pruritus, infestasi kutu kepala dapat menimbulkan dermatitis, infeksi sekunder, gangguan tidur, hingga anemia sehingga diperlukan upaya pengendalian yang tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga pengobatan yang efektif dan aman. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor risiko dengan kejadian infestasi Pediculus humanus capitis pada santri di Kabupaten Ciamis serta mengevaluasi aktivitas pedikulosida kombinasi minyak lidah buaya (Aloe vera) dan minyak daun kemangi (Ocimum sanctum). Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional untuk menganalisis faktor risiko melalui kuesioner dan pemeriksaan langsung, serta penelitian eksperimental menggunakan lima kelompok perlakuan, yaitu T1 (1:3), T2 (1:1), T3 (3:1), T4 (kontrol positif), dan T5 (kontrol negatif) dengan lima kali pengulangan. Analisis hubungan faktor risiko menggunakan uji Chi-square, sedangkan data waktu mortalitas dianalisis menggunakan One-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi infestasi sebesar 54,3%. Faktor yang berhubungan secara signifikan dengan infestasi meliputi jenis kelamin, panjang rambut, frekuensi mencuci rambut, penggunaan aksesoris kepala bersama, dan penggunaan alas tidur bersama. Kombinasi minyak lidah buaya dan minyak daun kemangi menunjukkan aktivitas pedikulosida, dengan perlakuan T1 menghasilkan waktu mortalitas tercepat, yaitu 115,0 ± 13,77 detik. Disimpulkan bahwa pengendalian Pediculosis capitis pada santri memerlukan pendekatan terpadu melalui pengendalian faktor risiko dan pemanfaatan kombinasi minyak lidah buaya serta minyak daun kemangi sebagai alternatif pedikulosida alami