Claim Missing Document
Check
Articles

PEMANFAATAN UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L. Poir) SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN TEPUNG TERIGU DAN SUMBER ANTIOKSIDAN PADA ROTI TAWAR [Purple Sweet Potato (Ipomoea batatas L. Poir) as a Partial Subtitute of Wheat flour and Source of Antioxidant on Pla . Hardoko; Liana Hendarto; Tagor Marsillam Siregar
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 21 No. 1 (2010): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.143 KB)

Abstract

       Purple sweet potato (Ipomoea batatas L. Poir) is potential for functional food, especially as antioxidant source due to its purple color and other nutrient content. The objective of this research was  to produce plain bread containing antioxidant by partial substitution of wheat flour with purple sweet potato flour. The result showed that the best plain bread was produced by a maximum substitution of 20% purple sweet potato flour to wheat flour. The hedonic characteristics of the resulting bread including aroma, taste, and texture were not significantly different from bread without substitution. Nevertheless, the crust was harder and darker. Addition of 1.0% GMS emulsifier and reduction of purple potato flour to 15% increased the score of softness, hedonic  texture, acceptance level, as well as the volume of the bread. The substituted bread had  antioxidant activity of 55833.78 ppm DPPH as shown by the IC50 value and contained  4.30% of dietary fiber.
PENGARUH PENAMBAHAN LAKASE DARI JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN TEH HIJAU [Effect of The Addition of Laccase from White Oyster Mushroom (Pleurotus ostreatus) Towards Antioxidant Activity of Green Tea] Tagor M. Siregar; A. Herry Cahyana; Natalia ,
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 23 No. 1 (2012): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.654 KB)

Abstract

      Laccase is one of the enzymes that can be used in organic synthesis using aromatic compounds (polyphenols and aminofenol) as substrates. Polyphenol compound in green tea is flavan-3-ols or catechin which are susceptible to enzymatic reaction with laccase. In this research laccase isolated from white oyster mushroom was added into the green tea extract. Addition of laccase is expected to yield products with a higher antioxidant activity. Prior to it’s use, laccase activity was determined and had a specific activity of 0.54 Unit/mg. The green tea extract was prepared using methanol and water as solvents. The antioxidant activity was evaluated using 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) radical-scavenging activity method and the total flavonoid content was assayed by spectrophotometry. Antioxidant compounds are identified by using UV-Vis spectrophotometry and GC-MS. Addition of laccase into green tea extract resulted in precipitates showing a significant increase in flavonoid content and antioxidant activity. Use of methanol as solvent resulted in extract with higher antioxidant activity and total flavonoid than that extracted with water. Qualitative analysis with spectrophotometer UV-Vis and GC-MS showed that the new components in the precipitates were a variety of dimeric products with increased molecular weight and antioxidant activity. Addition of laccase into green tea extract has yielded products with higher antioxidant activity. 
Characteristics and Free Radical Scavenging Activity of Zinc Oxide (ZnO) Nanoparticles Derived from Extract of Coriander (Coriandrum sativum L.) Tagor Marsillam Siregar; Antonius Herry Cahyana; Regina Jessilia Gunawan
Reaktor Volume 17 No. 3 September 2017
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.072 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.17.3.145-151

Abstract

Abstract Zinc Oxide (ZnO) nanoparticles were recently studied for its free radical scavenging activity.                     The formation of ZnO nanoparticles by means of biological method was known to be a simpler and more environmental friendly method. One of the biological methods used for the formation of ZnO nanoparticles was by utilizing the phytochemicals that were present in a plant extract.                                       The phytochemicals such as phenolic and flavonoid compound was able to reduce bulk metal Zinc into Zinc nanoparticles. Coriander (Coriandrum sativum L.) seeds and leaves were known to contain high amounts of phenolic compounds and flavonoid compounds. The aim of this study was to investigate the effect of different solvent polarities used to extract Coriander leaves and seeds towards the reducing power of plant extract and the free radical scavenging capacity of ZnO nanoparticles. The different solvents that were used to extract Coriander were deionized water, ethyl acetate, and hexane. The different solvent polarities affected the weight of the derived ZnO nanoparticles due to the different types of the extracted phenolic and flavonoid compounds. The different solvent polarities also affected the free radical scavenging capacity of ZnO nanoparticles. Ethyl acetate based extract of Coriander leaf resulted in the most weight of ZnO nanoparticles, 0.7907 g and the highest free radical scavenging capacity, 11.16%/mg ZnO nanoparticles. The free radical scavenging activity of ZnO nanoparticles decreased to 3.67%/mg ZnO nanoparticles after the process of calcination at 100°C and decreases to 0 %/mg ZnO nanoparticles after the process of calcination at 300 and 500°C. The diameter of ZnO particles increases from 128.1±33.5 nm to 552.3±61.1 nm after calcination. Kata kunci: calcination; free radical scavenging capacity; polarities; zinc oxide nanoparticles  Abstrak KARAKTERISTIK DAN AKTIVITAS PENANGKAL RADIKAL BEBAS NANOPARTIKEL SENG OKSIDA (ZnO) YANG DIBENTUK MENGGUNAKAN EKSTRAK KETUMBAR (Coriandrum sativum L.). Nanopartikel Seng Oksida (ZnO) saat ini tengah diteliti sehubungan dengan kapasitasnya dalam menangkal radikal bebas. Metode biologis merupakan metode sederhana dan ramah lingkungan yang dapat digunakan pada pembentukan nanopartikel ZnO. Pemanfaatan senyawa fitokimia dari ekstrak tanaman merupakan salah satu metode biologis yang dapat digunakan pada pembentukan nanopartikel ZnO. Senyawa fitokimia seperti senyawa fenolik dan flavonoid dapat mereduksi logam Seng menjadi nanopartikel Seng. Biji dan daun dari tanaman ketumbar (Coriandrum sativum L.) telah diketahui memiliki kandungan senyawa fenolik dan flavonoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan polaritas pelarut yang digunakan untuk ekstraksi biji dan daun ketumbar terhadap kapasitas reduksi ekstrak dan penangkal radikal bebas dari nanopartikel ZnO. Pelarut yang digunakan pada ekstraksi biji dan daun ketumbar adalah air deionisasi, etil asetat dan heksana. Perbedaan polaritas pelarut mempengaruhi berat nanopartikel ZnO yang diperoleh, hal ini disebabkan oleh perbedaan jenis senyawa fenolik dan flavonoid yang terekstrak. Perbedaan polaritas pelarut juga mempengaruhi kapasitas penangkal radikal bebas  dari nanopartikel ZnO. Ekstrak etil asetat daun ketumbar menghasilkan nanopartikel ZnO dengan berat 0,7907 g   dan aktivitas penangkal radikal bebas sebesar 11,16%/mg nanopartikel ZnO. Aktivitas penangkal radikal bebas nanopartikel ZnO menurun menjadi 3,67%/mg nanopartikel ZnO setelah dikalsinasi pada suhu 100oC dan menurun menjadi 0%/mg nanopartikel ZnO setelah dikalsinasi pada suhu 300oC, 500oC. Diameter nanopartikel ZnO meningkat dari 128,1±33,5 nm menjadi  552,3±61,1 nm setelah dikalsinasi Keywords: elektrokoagulasi, penurunan warna, penurunan TSS, laju degradasi COD, imbah tekstil
KAJIAN AKTIVITAS DAN STABILITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KASAR BAWANG DAUN (Allium fistulosum L.) Tagor Marsillam Siregar; Eveline Eveline; Felita Anthony Jaya
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bawang  daun(Allium  fistulosum  L.)telah  diketahui memiliki potensi  sebagai sumber antioksidan alami namun penelitian tentang aktivitas antioksidan bawang daun  masih jarang  dilakukan. Pada penelitian ini bawang daun diekstraksi melalui metodemaserasi menggunakan tiga jenis pelarut dengan polaritas berbeda yaitu etanol (polar), etil asetat (semi polar) dan heksan (non polar) selama 4, 8 dan 12 jam.  Penentuan ekstrak kasar bawang daun terpilih dilakukan  berdasarkan hasil analisis aktivitas antioksidan, total fenolik dan total flavonoid dengan metode spektrofotometri. Selanjutnya ekstrak kasar bawang daun terpilih diuji stabilitasnya terhadap pH (4, 5, 6 dan 7) dan temperatur  (70,  80,  and  90ᴼC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar bawang daun terpilih diperoleh dengan cara maserasi menggunakan pelarut etil asetat selama 12 jam.Ekstrak bawang daun tidak stabil terhadap perlakuan panas dan perubahan pH.Ekstrak bawang daun lebih stabil ketika berada pada kondisi suhu 70ᴼC dan pH 4-5. Uji  fitokimia  menunjukkan  bahwa bawang  daun  mengandung  senyawa golongan  tanin,  alkaloid,  fenolik,  flavonoid, dan  steroid. Hasil  analisis GC-MS terhadap ekstrak kasar bawang daun  terpilih  memperlihatkan adanya senyawa golongan fenolik, yaitu 2-methoxy-4-vinylphenol, golongan hidrokarbon seperti         2-tetradecene  dan  eicosane,  golongan asam lemak seperti asam linoleat dan asam linolenat,  golongan  diterpenoid  seperti neophytadiene,  dan  golongan  vitamin seperti vitamin E. Kata Kunci:Allium fistulosum L., antioksidan, maserasi, pH, stabilitas, temperatur
OPTIMASI PENAMBAHAN TEPUNG LIDAH BUAYA (Aloe vera (L.) Burm.f.) TERHADAP KARAKTERISTIK KWETIAU Tagor M. Siregar; Ruth Debora; Jeremia Manuel
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2014): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 5 2014
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lidah buaya (Aloe vera) merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki kandungan serat pangan yang tinggi. Serat pangan telah diketahui memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan manusia. Kwetiau merupakan produk pangan yang cukup digemari oleh masyarakat Indonesia namun memiliki kandungan serat pangan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis tepung dan konsentrasi substitusi tepung tapioka, maizena dan lidah buaya terbaik dalam meningkatkan kandungan serat dan karakteristik kwetiau.  Tepung lidah buaya dibuat dengan metode pengeringan cabinet dry pada suhu 600C. Penentuan formula kwetiau terbaik dilakukan dengan metode mixture experiment menggunakan software Design Expert 7.0 D-Optimal. Kwetiau yang dibuat dengan menggunakan tepung lidah buaya tanpa kulit (20%) menghasilkan karakteristik terbaik dan kadar serat pangan sebesar 6,7% sehingga digunakan sebagai dasar dalam optimasi pembuatan kwetiau. Hasil penelitian menunjukkan penambahan tepung tapioka (25,580%), maizena (64,233%), dan lidah buaya (10,187%) menghasilkan kwetiau dengan karakteristik terbaik serta memiliki kandungan serat pangan sebesar 5,54% Kata Kunci : Aloe vera, kwetiau, mixture experiment, serat pangan
STUDI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA TOMAT (Lycopersicon esculentum) KONVENSIONAL DAN ORGANIK SELAMA PENYIMPANAN Eveline Eveline; Tagor Marsillam Siregar; Sanny Sanny
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2014): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 5 2014
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tomat (Lycopersicon esculentum) adalah buah yang banyak mengandung senyawa antioksidan (fenolik, flavonoid, vitamin C, dan likopen). Pada produk holtikultura, metode penanaman (konvensional dan organik) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi aktivitas antioksidan selain faktor masa simpan (0, 3, 6, 9, 12, dan 15 hari). Penelitian ini dirancang untuk mempelajari aktivitas antioksidan dan pengaruh masa simpan terhadap aktivitas antioksidan tomat konvensional dan tomat organik. Awal penelitian dilakukan penentuan pelarut ekstraksi terbaik (etanol dan aseton, 80%). Aseton 80% merupakan pelarut terpilih untuk mengekstrak komponen antioksidan tomat (rendemen 3,39%; IC50 1405,85 mg/100 g buah; total fenolik 11,53 mg GAE/100 g buah; flavonoid 1,81 mg QE/100 g buah; dan vitamin C 8,37 mg asam askorbat/100 g buah). Kandungan fenolik (masa simpan 3 hari) dan likopen didapati lebih tinggi pada tomat organik, sedangkan vitamin C lebih tinggi pada tomat konvensional (masa simpan 9 dan 15 hari). Aktivitas antioksidan tomat menurun pada penyimpanan hari ke-3, naik pada hari ke-6, kemudian kembali turun pada hari ke-9. Total fenolik tomat organik menurun pada hari ke-6, sedangkan tomat konvensional cenderung stabil selama penyimpanan. Kandungan flavonoid tomat menurun sejak penyimpanan hari ke-12. Vitamin C cenderung stabil selama penyimpanan (terutama tomat konvensional). Likopen meningkat selama 9 hari penyimpanan, setelah itu menurun. Kata kunci: antioksidan, konvensional, organik, penyimpanan, tomat
PELATIHAN PEMBUATAN BISKUIT DAN COOKIES BERBASIS PAKCOY DI KELOMPOK WANITA TANI DUMAY, TANGERANG SELATAN Yuniwaty Halim; Lucia Crysanthy Soedirga; Ratna Handayani; Tagor Marsillam Siregar
Jurnal PkM Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2021): Jurnal PkM : Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jurnalpkm.v4i2.6363

Abstract

Kelompok Wanita Tani (KWT) Dumay merupakan salah satu UMKM di Tangerang Selatan yang salah satu kegiatannya adalah membudidayakan tanaman hidroponik. Beberapa tanaman telah aktif dibudidayakan dengan pakcoy sebagai komoditas utamanya, tetapi kelompok ini belum mendapatkan pengetahuan mengenai cara mengolah pakcoy menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi. Pakcoy merupakan sayuran yang banyak dibudidayakan secara hidroponik karena permintaan pasar yang tinggi serta kandungan nutrisinya yang tinggi, walaupun umur simpannya cukup singkat dalam kondisi segar. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pelatihan mengenai teknologi pengolahan yang dapat diaplikasikan oleh KWT Dumay, yaitu pemanfaatan pakcoy untuk diolah menjadi biskuit dan cookies. Metode yang digunakan adalah metode PALS (Participatory Active Learning System), yang terdiri dari presentasi dan praktik pelatihan. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa para anggota KWT Dumay dapat membuat produk biskuit dan cookies berbasis pakcoy untuk meningkatkan umur simpan dan nilai ekonomi pakcoy.
PENGARUH JENIS DAUN DAN KONSENTRASI ETANOL TERHADAP AKTIVITAS INHIBISI α-GLUKOSIDASE DAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN BELIMBING Tagor Marsillam Siregar
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol 5, No 1 (2021): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun belimbing memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti alkaloid, fenolik, dan flavonoid yang memiliki fungsi sebagai antioksidan dan inhibitor α-glukosidase. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memanfaatkan ekstrak daun belimbing sebagai antioksidan dan inhibitor α-glukosidase. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui karakteristik daun belimbing dengan uji kadar air. Pada penelitian utama dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi pada 2 jenis daun belimbing (A. carambola L. dan A. bilimbi L.) menggunakan pelarut etanol dengan konsentrasi berbeda (50%, 70%, 96%). Pada seluruh ekstrak yang dihasilkan dilakukan analisis rendemen, total fenolik, total flavonoid, aktivitas antioksidan, dan aktivitas inhibisi α-glukosidase. Ekstrak daun belimbing manis (A. carambola L.) dengan pelarut etanol 96% memiliki nilai rendemen tertinggi, yaitu sebesar 11,38±0,90%. Ekstrak etanol 96% daun belimbing manis (A. carambola L.) dan daun belimbing wuluh (A. bilimbi L.), serta ekstrak etanol 70% daun belimbing manis (A. carambola L,) memiliki nilai total fenolik tertinggi, yaitu sebesar 142,07±4,50 mg GAE/g, 134,81±4,08 mg GAE/g ekstrak, dan 139,52±6,38 mg GAE/g ekstrak secara berurutan. Ekstrak daun belimbing wuluh (A. bilimbi L.) dengan pelarut etanol 96% memiliki nilai total flavonoid tertinggi sebesar 48,22±0,95 mg QE/g ekstrak. Daun belimbing manis (A. carambola L.) dan daun belimbing wuluh (A. bilimbi L.) yang diekstraksi dengan etanol 96% menghasilkan ekstrak daun belimbing dengan aktivitas antioksidan dan inhibisi α-glukosidase terbaik. Ekstrak etanol 96% daun belimbing manis (A. carambola L.) dan daun belimbing wuluh (A. bilimbi L.) memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 111,07±5,98 ppm dan 123,49±4,52 ppm secara berurutan, serta memiliki aktivitas inhibisi α-glukosidase dengan nilai IC50 sebesar 180,72±8,43 ppm dan 205,45±10,42 ppm secara berurutan.
Pengaruh Konsentrasi Minyak Atsiri Daun Kari (Murraya koenigii (L.) Spreng) dan Madu Terhadap Karakteristik Minuman Fungsional [The Effect of Curry Leaves (Murraya koenigii (L.) Spreng) Essential Oil and Honey Concentration on Characteristics of Functional Drink] Tagor M Siregar
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol 6, No 1 (2022): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v6i1.5216

Abstract

Curry leaves have high content of flavonoids, alkaloids, terpenoids, and essential oils that have potential as antioxidants. The purpose of this study was to utilize the essential oil of curry leaves in the production of functional drink. In the preliminary stage, the hydrodistillation process, analysis of the physicochemical characteristics and antioxidant activity of the curry leaf essential oil were carried out. The main research was carried out by producing functional drinks with different concentrations of the essential oils of curry leaves (0.05%; 0.10%; 0.15%) and honey (5%; 10%; 15%). All formulations were tested for their sensory attributes (scoring and hedonic) and physicochemical properties (pH, total soluble solids, and color test). Based on GC-MS analysis, the chemical composition of the essential oils of curry leaves were Humulene (7.56%) and β-Phellandrene (3.80%) as antibacterial agents, whereas caryophyllene (20.45%), phytol (1.99%), Copaene (0.80%), and α-cubebene (0.29%) as antioxidants. Curry leaves produced essential oil with a yield of 0.44%, density of 0.9596 g/mL, clear yellow color, total phenolic content of 2.21±0.09 mg GAE/g, and antioxidant activity (RSA) of 77.95% at the concentration of 90000 ppm. The best formulation of functional drink was by the addition of essential oil of curry leaves at 0.05% and honey at 15% with resulted pH value of 6.03, total soluble solids of 12.03°Brix, Lightness of 53.91, °Hue of 87.98, and with overall acceptance at moderately like. The best functional drink had a total phenolic content of 4.13 mg GAE/L and antioxidant activity (RSA) of 79.41% at the concentration of 700000 ppm.Bahasa Indonesia Abstract:Daun kari (Murraya koenigii (L.) Spreng) memiliki kandungan flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan minyak atsiri yang dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memanfaatkan minyak atsiri daun kari pada pembuatan minuman fungsional. Pada tahap pendahuluan dilakukan proses hidrodestilasi, analisis karakteristik fisikokimia dan aktivitas antioksidan minyak atsiri daun kari yang diperoleh. Pada tahap penelitian utama dilakukan pembuatan minuman fungsional dengan menggunakan konsentrasi minyak atsiri daun kari (0,05%; 0,10%; 0,15%) serta konsentrasi madu (5%; 10%; 15%). Seluruh formulasi minuman fungsional diuji sensori (skoring dan hedonik) dan fisikokimia (pH, uji total padatan terlarut, dan uji warna). Berdasarkan hasil analisis GC-MS, komposisi kimia minyak atsiri daun kari meliputi senyawa Humulene (7,56%) dan β-Phellandrene (3,80%) yang berfungsi sebagai antibakteri, sedangkan caryophyllene (20,45%), phytol (1,99%), Copaene (0,80%), dan α-cubebene (0,29%) berfungsi sebagai antioksidan. Minyak atsiri daun kari yang diperoleh memiliki rendemen 0,44%, berat jenis 0,9596 g/mL, warna kuning jernih, total fenolik 2,21±0,09 mg GAE/g, dan aktivitas antioksidan (RSA) 77,95% pada konsentrasi 90000 ppm. Minuman fungsional terpilih adalah minuman dengan konsentrasi minyak atsiri daun kari sebesar 0,05% dan konsentrasi madu sebesar 15% dengan pH 6,03, total padatan terlarut 12,03°Brix, Lightness 53,91, °Hue 87,98, nilai penerimaan keseluruhan agak suka. Minuman fungsional terpilih memiliki total fenolik sebesar 4,13 mg GAE/L dan aktivitas antioksidan (RSA) sebesar 79,41% pada konsentrasi 700.000 ppm.
AKTIVITAS PENGHAMBATAN α-GLUCOSIDASE PADA MINUMAN JELI KULIT MELINJO KUNING [ACTIVITY OF α-GLUCOSIDASE INHIBITION ON JELLY DRINK OF YELLOW MELINJO PEELS (Gnetum gnemon L.)] Titri Siratantri Mastuti; Aurelia Clara Lausane; Tagor M. Siregar
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol 2, No 2 (2018): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melinjo peel has a high content of polyphenol compounds, is expected to inhibit the activity of the enzyme α-glucosidase. The activity of α-glucosidase is related to the absorption of glucose and blood sugar. The content of polyphenols in the melinjo peel can be utilized more optimally by making the juice of melinjo fruit peel and processed as a jelly drink. Making jelly drinks requires hydrocolloids as a gelling material. The objective of the research are to determine the type of melinjo peel juice that has the best α-glucosidase inhibition activity and determine the ratio of melinjo peel juice  and the best percentage of hydrocoloid in the making of jelly drinks. The first stage of research is to determine the type of melinjo peel  red, yellow, and green that will be selected into the best melinjo skin juice that has inhibitory activity αglucosidase and also has the best antioxidant activity. The second stage of research is making the best jelly drinks with treatment ratio between water and melinjo peel juice and percentage of the amount of hydrocoloid used. IC 50 of α-glucosidase inhibition activity yellow melinjo peels juice is 22,393 ppm as the highest activity. Based on organoleptic, color, texture, pH, total soluble solid, and syneresis tests that were done to all samples of jelly drink, the selected jelly drink is the one with 50:50 ratio of yellow melinjo peels juice to water and concentration of hydrocoloid of 0.20%. The jelly drink has IC 50  α-glucosidase inhibition of 30,974 ppm, antioxidant activity of 12.4054 mg VCE/100mL, phenolic total of 0.4037 mg GAE/g, flavonoid total of 0.0173 mg QE/g. ABSTRAKKulit melinjo memiliki kandungan senyawa polifenol yang tinggi, diharapkan dapat menghambat aktivitas enzim α-glukosidase. Aktivitas α-glukosidase berhubungan dengan penyerapan glukosa dan kadar gula di dalam darah. Kandungan polifenol pada kulit melinjo dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dengan cara mengambil sari kulit buah melinjo dan diolah sebagai minuman jeli. Pembuatan minuman jeli memerlukan hidrokoloid sebagai bahan pembentuk jel. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis sari kulit melinjo yang memiliki aktivitas penghambatan α-glukosidase terbaik serta menentukan rasio sari kulit melinjo dan persentase hidrokoloid terbaik dalam pembuatan minuman jeli. Tahap pertama penelitian adalah menentukan jenis kulit melinjo merah, kuning, dan hijau yang akan dipilih menjadi sari kulit melinjo yang memiliki aktivitas penghambatan α-glukosidase dan juga memiliki aktivitas antioksidan terbaik. Tahap kedua penelitian adalah pembuatan minuman jeli dengan perlakuan rasio antara sari kulit melinjo dan air serta konsentrasi  hirokoloid  yang dipakai. Aktivitas penghambatan α-glukosidase tertinggi diperoleh dari sari kulit melinjo kuning d engan nilai IC50 sebesar 22.393 ppm. Berdasarkan uji organoleptik, warna, tekstur, pH, total padatan terlarut, dan sineresis, minuman jeli terpilih dengan rasio sari kulit melinjo kuning:air 50:50 dan konsentrasi hidrokoloid  0,20%. Minuman jeli sari kulit melinjo kuning memiliki nilai IC50 penghambatan  α-glukosidase 30974 ppm, aktivitas antioksidan 12,4054 mg VCE/100mL, total fenolik  0,4037 mg GAE/g, total flavonoid 0,0173 mg QE/g.Kata kunci : aktivitas antioksidan, α-glukosidase, hidrokoloid, kulit melinjo, minuman jeli